cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Animal Agricultural Journal
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
FACTORS AFFECTING MILK PRICE IN GETASAN DISTRICT, SEMARANG REGENCY, CENTRAL JAVA PROVINCE, INDONESIA (NUMBER OF CATTLES, COST OF PRODUCTION, QUALITY OF MILK) AT THE FARMER LEVEL Lepo, Ian Aine; Setiadi, Agus; Sudjadmogo, Sudjadmogo
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.785 KB)

Abstract

This research was done in(October-September) 2012 at Kopeng and Tekelang village, District of Getasan. The method used in this research was survey which interviews to 60 farmers. Questionnaiers are in Appendics I. The studys primary objective was to examine the factors {No. Of cattle (X1), cost of feed (X2), Quality of Milk (X3)} that affects over the price of the milk (Y). The (independent) variables observed had significant effects over the (dependent) price of the milk. The research results have indicated that the constant (milk price) 65.863 sig. P ≤ 0.000 (99.99%). Which gives the linear equation Y = 3.082 + 0.042 (X1) – 2.9E10 (X2) + 0.003 (X3). The feed cost almost exceeds the income for some of the farmers. It did affects the price of the milk by increasing also the milk price. Analysis tools used in this study is quantitative discriptive (Multiple Linear Regression) with F-test (F=9.843 p ≤ 0.0001) R Square (R2) = 0.345 p ≤ 0.05), t-Test (X1 = 2.469 p ≤ 0.05, X2 = 2.797 p ≤ 0.05, X3 = 4.268 P ≤ 0.05. The model of the study is being matched 35 % for the price of the milk but 65 % depends on other factors, such as education, farmers strength, motivational attitude, labor force, time figured, level of education, farmers age, animal hausbandry management practices, and government policies et. cetera. The study explored also the role of cooperativism in dairy cattle farming in those Getasan villages (Kopeng and Tekelang),Semarang Regency, Central Java Province.. There were significant relationships among sharing of knowledge and information, sharing of resources, and participation in decision making and milk production in Getasan Village. Interestingly noted that the milk is paid for on the basis of compositional and hygienic quality, assessed according to the fat, protein, lactose, total bacterial count (TBC), somatic cell count (SCC) content of milk. Improving milk compositonal quality will generate additional income. Under tropical conditions the lactating animals maintain higher body condition which results in lower feed intake and milk yield. In nutshell, the suggestion for milk of desirable composition may be produced for special purposes through selection of appropriate physiological states coupled with special feed ingredients, in the dairy production system.Key words: multiple linear regression, dairy cooporatives, husbandry management
RESPON FISIOLOGIS DOMBA LOKAL JANTAN YANG DIBERI PAKAN DENGAN WAKTU YANG BERBEDA (Physiological Responseon Local Ram Fed at Different Feeding Time) Prasojo, Imam Hakim; Sukarno, Sularno Darto; Purnomoadi, Agung
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 3 (2014): Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.939 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kondisi fisiologis domba lokal jantan yang diberian pakan pada siang dan malam hari.Materi penelitian berupa 12 ekor dombalokal dengan bobot badan rata-rata 24,12+ 2,5 kg (CV=10,51%) dan umur ± 1 tahun. Pakan yang diberikan berupa complete feedberbentuk pelet dengan PK 16,6%dan TDN 67,36%.Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan (T1: pemberian pakan jam 6 pagi sampai jam 6 sore, T2: jam 6 sore sampai jam 6 pagi dan T3: selama 24 jam) dan 4 ulangan.Parameter yang diamati adalah konsumsi bahan kering(BK), pertambahan bobot badan harian (PBBH), dan fisiologis domba.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pakan dengan waktu yang berbedatidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap konsumsi BK, PBBH, frekuensi nafas dan temperatur rektal dengan rataan 1.058,23 g/hari,73 g/hari, 82 kali/menit dan 38,90C. Akan tetapi denyut nadi mengalami perbedaan yang nyata(P<0,05) antara T2 (93 kali/menit) dengan (T1 103 kali/menit) dan T3 (111 kali/menit).Simpulan penelitian ini adalah pemberian pakan siang, malam, dan siang malam hari pada domba lokaljantan terhadap konsumsi BK, PBBH, frekuensi nafas dan temperatur rektal relatif sama, tetapi  T2 memiliki rataan denyut nadi yang lebih rendah dari pada T1 dan T3. Kata kunci : Domba lokal jantan;konsumsi BK; PBBH; fisiologis domba ABSTRACT This study was aimed to evaluate the physiological response of local ram fed at day and night time. Material used was 12 one year old rams with average body weight of 24.12 ±2.5 kg. The feed was given in form of pelleted complete feeding formulated to give 16.6% CP and 67.36% TDN. This study was done based on completely randomized design with 3 treatments were feed given at 06.00-18.00 (12 hours; day feeding = T1), feed given at 18.00-06.00 (12 hours; night feeding = T2) and feed given at 06.00-06.00 (24 hours; day and night feeding = T3) and 4 replications.The feeding time treatments Parameters observed were dry matter intake (DMI), average daily again (ADG) and animal physiological responses. The result showed that feeding time among day, night and day-night was similar (P>0.05) for DMI, ADG, breathing frequency and rectal temperature with average 1.058,23 g/day,73 g/day, 82 time per minute and 38,90C, but significantly different (P<0.05) between T2 93time per minute with T1 103 time per minuteand T3 111time per minuteon pulse.The conclusion could be drawn from this study was feeding time (day, night and day-night) hadno effect on DMI, ADG and physiological responses, except T2 had the average pulse rate lower that T1 and T3.   Key words :   Local ram; DMI; ADG;physiological response
KADAR AIR, KEKENYALAN, KADAR LEMAK DAN CITARASA BAKSO DAGING SAPI DENGAN PENAMBAHAN IKAN BANDENG PRESTO (Channos Channos Forsk) Untoro, Noviadi Setyo; Kusrahayu, Kusrahayu; Setiani, Bhakti Etza
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.076 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar air, kekenyalan, kadar lemak dan citarasa baksodaging sapi dengan penambahan ikan daging presto. Data yang terkumpul di analisis menggunakan rancangan acak lengkap. Perlakuan yang dilakukan adalah dengan memberikan penambahan ikan bandeng presto sebanyak 0%, 5%, 10% dan 15% pada bakso daging sapi. Hasil yang didapat menunjukan penambahan ikan bandeng presto memperikan pengaruh pada kekenyalan, kadar lemak dan citarasa bakso sehingga dapat menambah nilai fungsional produk bakso ini tanpa mempengaruhi nilai kadar airnya.Kata Kunci : Bakso, kadar lemak, kekenyalan dan citarasaABSTRACTThe experiment was conducted to determine the water content, elasticity, fat content and flavour of Beef Meatballs with Addition of Milkfish Presto. Data of chemical composition and phisycal properties were analysed using analysis of variance from completly randomized design. Treatment used in this experiment by Addition of Milkfish Presto during the making of beef meatballs of 0%, 5%, 10% and 15%. The result showed that the milkfish Presto can affecting the elasticity, fat content and flavour in the nugget so as to provide a better functional value to the product without affecting the water content.Keywords : Meatball, fat content, elasticity and flavour
PERUBAHAN TOTAL GULA, SERAT KASAR DAN ANGKA IOD PADA ES KRIM DENGAN KONSENTRASI SUBSTITUSI JAGUNG MANIS (Zea mays) YANG BERBEDA Putri, Yuni Maharani; Mulyani, Sri; Pramono, Yoyok Budi
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 3 (2013): Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.409 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh subsitusi gula dengan jagung manis terhadap total gula, serat kasar dan angka iod. Penelitian telah dilaksanakan pada tanggal 03 November – 09 Desember 2010 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah whipping cream, calci skim, kuning telur, gula, Carboxyl Methyl Cellulose/CMC (penstabil), jagung manis dan air. Peralatan yang digunakan adalah ice cream maker, mixer, refrigerator, timbangan, alumunium foil, oven, eksikator, cawan porselin, gelas cup, dan kertas label. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan dengan T0 subsitusi jagung manis sebesar 0% (tanpa jagung manis/kontrol), T1 subsitusi jagung manis sebesar 25%, T2 subsitusi jagung manis sebesar 50%, T3 subsitusi jagung manis sebesar 75%, dan T4 subsitusi jagung manis sebesar 100%. Parameter yang diamati meliputi total gula, serat kasar dan angka iod. Hasil penelitian menunjukkan, subsitusi gula dengan jagung manis memberikan pengaruh pada total gula, serat kasar dan angka iod  (P  < 0,05). Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa subsitusi gula dengan jagung manis meningkatkan kandungan total gula jagung yang aman, serat kasar dan angka iod.
JUMLAH TOTAL LEUKOSIT DAN DIFERENSIAL LEUKOSIT AYAM BROILER SETELAH PENAMBAHAN PAPAIN KASAR DALAM RANSUM (The Total Leucocytes Count and Leucocytes Differential of Broiler After Addition of Crude Papain in Diet) Wulandari, Saftia; Kusumanti, Endang; Isroli, Isroli
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 4 (2014): Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.929 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh penambahan papain kasar dalam ransum terhadap jumlah total leukosit dan diferensial leukosit ayam broiler. Materi yang digunakan adalah ayam broiler  strain Lohman unsex, sebanyak 100 ekor umur 14 hari dengan rata-rata bobot badan 384±0,14 g, papain kasar, ransum basal  fase starter  dan  ransum basal fase finisher. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan diberikan selama 3 minggu, dengan penambahan papain kasar sebagai berikut: T0 (ransum basal tanpa papain kasar), T1 (0,25 g papain kasar dalam 1 kg ransum basal), T2 (0,50 g papain kasar dalam 1 kg ransum basal), T3 (0,75 g papain kasar dalam 1 kg ransum basal). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik  ragam. Parameter yang diamati adalah jumlah total leukosit dan diferensial leukosit. Hasil penelitian menunjukkan penambahan papain kasar memberikan pengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap jumlah total leukosit dan diferensiasi leukosit. Rata-rata jumlah total leukosit adalah T0 (6,65 x103 sel/mm3), T1 (4,92 x103 sel/mm3), T2 (6,02 x103 sel/mm3) dan T3 (6,24 x103 sel/mm3). Rata-rata persentase heterofil adalah 54,8% (T0); 60,8% (T1); 67,0% (T2); 62,6% (T3). Rata-rata persentase eosinofil adalah 1% (T0); 0,2% (T1); 0,4% (T2); 0,6% (T3). Rata-rata persentase monosit adalah 13% (T0); 6,6% (T1); 6,2% (T2); 5,8% (T3). Rata-rata persentase limfosit adalah 31,2% (T0); 32,4% (T1); 26,4% (T2); 31% (T3). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan papain kasar sampai level 0,75 g/kg tidak berpengaruh terhadap jumlah total leukosit dan diferensial leukosit. Kata kunci: papain kasar; leukosit; diferensial leukosit; broiler.  ABSTRACT The research was aimed to study the effect of crude papain which were  added in the diet upon  the total leucocytes count and leucocytes differential of broiler. One hundred of 14 days old broiler of unsex Lohman strain with average body weight of 384±0,14 g, crude papain, basal diet for starter and  finisher. The design of the research was a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replications. Dietary treatments were offered for 3 weeks, which were added with crude papain, namely T0 (diet without crude papain), T1 (0,25 g crude papain in basal diet), T2 (0,50 g crude papain in basal diet) and T3 (0,75 g crude papain in basal diet). Parameters observed were total leucocytes count and leucocytes differential. Data were analyzed according to analysis of variance to determine the effect of treatment. The result showed that crude papain fed to the broiler was not significantly affected  (P>0,05) the total leucocytes count and leucocytes differential. Total leucocytes count based on the given treatment were T0 (6,65 x103 cells/mm3), T1 (4,92 x103 cells/mm3), T2 (6,02 x103 cells/mm3) and T3  (6,24 x103 cells/mm3). Each mean heterophile were 54,8% (T0); 60,8% (T1); 67,0% (T2); 62,6% (T3). Each mean eosinophils were 1% (T0); 0,2% (T1); 0,4% (T2); 0,6% (T3). Each mean monocytes were 13%  (T0); 6,6% (T1); 6,2% (T2); 5,8% (T3). Each mean  lymphocytes were 31,2% (T0); 32,4% (T1); 26,4% (T2); 31% (T3). It could be concluded that the addition of crude papain in the diet until level 0,75 g/kg did not affect the total leucocytes count and leucocytes differential of broiler. Keyword: crude papain; leucocytes; leucocytes differential; broiler.
PENAMPILAN BERAHI SAPI JAWA BERDASARKAN POEL 1, POEL 2, DAN POEL 3 Abidin, Zaenal; Ondho, Yon Soepri; Sutiyono, Barep
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.647 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penampilan berahi sapi Jawa yang meliputi lama berahi, perubahan vulva, keberadaan lendir yang serviks, dan tingkah laku yang ditunjukkan sapi Jawa yang mempunyai umur berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 18 Juli 2011 sampai tanggal 11 Agustus 2011 di KTT Cikoneng Sejahtera Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 11 ekor sapi Jawa yang telah poel 1 (1½ - 2 tahun) 4 ekor, poel 2 (diatas 2 – 3 tahun) 3 ekor, dan poel 3 (diatas 3 - 3½ tahun) 4 ekor. Parameter yang diamati adalah penampilan vulva, kelimpahan lendir serviks, tingkah laku, dan lama berahi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor penampilan vulva untuk sapi Jawa betina poel 1, poel 2, dan poel 3 secara berturut-turut adalah 1; 1; 1,5. Kelimpahan lendir serviks untuk sapi Jawa poel 1, poel 2, dan poel 3 secara berturut-turut adalah 1; 1; 2,5. Skor tingkah laku untuk poel 1, poel 2, dan poel 3 secara berturut-turut adalah 1; 1; 1,5. Lama berahi sapi Jawa betina poel 1, 2, dan 3 secara berurutan adalah 10 jam, 12 jam, dan 13,5 jam. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sapi Jawa betina poel 3 menunjukkan penampilan berahi yang relatif lebih jelas dan lebih lama daripada sapi Jawa betina poel 1 dan poel 2.Kata kunci: sapi Jawa betina; Poel; penampilan berahi.ABSTRACTThe purpose of this study was to determine the performance of Java cattle estrus that includes length of estrous, changes in the vulva, the presence of cervical mucus, and the behavior on different ages Java cattle. The study was conducted on July 18, 2011 until August 11, 2011 in KTT Cikoneng Sejahtera, Sub Banjarharjo, Brebes regency, Central Java. Materials used in this study were 11 cows Java has Poel 1 (1 ½ - 2 years) 4 heads, Poel 2 (over 2-3 years) 3 heads, and Poel 3 (above 3-3 ½ years) 4 heads. The parameters measured were the appearance of the vulva, cervix mucus abundance, behavior, and estrous length. The results showed that vulva performance scores of Java cattle Poel 1, Poel 2, and Poel 3 respectively are 1; 1; 1.5. The cervical mucus of Java cattle Poel 1, Poel 2, and Poel 3 respectively are 1; 1; and 2,5. Behavior score for Poel 1, Poel 2, and Poel 3 respectively are 1, 1; 1.5. Estrous length of Java cattle poel 1, 2, and 3 respectively is 10 hours, 12 hours, and 13.5 hours. The conclusion of this research is a female cow Java Poel 3 shows the appearance of a relatively more obvious passion and longer than females Java cows Poel Poel 1 and 2.Keywords: Java female cattle; Poel; the estrous performance.
STATUS MINERAL Fe DAN Mn PADA KAMBING DI DATARAN RENDAH DAN DATARAN TINGGI KABUPATEN KENDAL (Fe and Mn Status of the Goats in the Upland and Lowland Areas of Kendal Regency) Prasetyo, Eko; Purnomoadi, Agung; Achmadi, Joelal
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 1 (2014): Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.29 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengkaji perbedaan produksi pada kambing yang dipelihara pada ketinggian yang berbeda di Kabupaten Kendal berdasarkan dari status mineral Fe dan Mn dengan mengamati kandungan pada tanah, air, pakan dan serum darah kambing. Pengambilan sampel tanah, air minum, pakan dan serum kambing dilakukan di kedua kecamatan yaitu Kecamatan Patebon dengan ketinggian + 4 m dpl dan Kecamatan Sukorejo + 1000 m dpl. Sampel darah berasal 30 ekor kambing dengan umur + 1 tahun yang tiap wilayahnya masing – masing 15 ekor. Pengambilan sampel pakan, tanah dan air minum dilakukan di daerah pemeliharaan kambing. Kadar mineral Fe dan Mn  dianalisis dengan menggunakan alat atomic absorbance spectrophotometer (AAS). Data data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji-t untuk mengatahui perbedaan yang terdapat pada dataran tinggi dan dataran rendah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan Fe dan Mn pada serum kambing di dataran tinggi dengan dataran rendah tidak berbeda nyata (P>0,05). Status mineral Fe kambing di dataran tinggi lebih tinggi dan dataran rendah mengalami defiseinsi. Status mineral Mn di kedua wilayah sudah tercukupi.Kata kunci : zat besi; mangan; kambing; dataran tinggi; dataran rendah  ABSTRACT             The aim of this research was to study the mineral Fe and Mn status of the goats in the upland and lowland areas of Kendal Regency, by observing the Fe and Mn contents in soil, water, feed, and goats blood serum. Samples of soil, water, and feeds were taken in the upland area in District of Sukorejo (+ 1000 m above sea level) and lowland area in District of Patebon (+ 4 m above sea level). Samples of blood serum were taken from 30 goats (+ 1 year old) namely 15 goats in the upland and 15 goats in the lowland area. Mineral Fe and Mn concentrations of samples were analysed using atomic absorbance spectrophotometer (AAS). The data were analysed using t-test. The result of this research showed that there were no difference between Fe and Mn concentration of goat serum in the upland and lowland area. Mineral Fe status of the goats in upland area and lowland area were deficient. Mn status in both area was enough for daily needs of goatKeyword : iron; manganese; goats; upland; lowland
KUALITAS HIJAUAN GAMAL (Gliricidia sepium) YANG DIBERI PUPUK ORGANIK CAIR (POC) DENGAN DOSIS BERBEDA Mayasari, Dita; Purbajanti, Endang Dwi; Sutarno, Sutarno
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.408 KB)

Abstract

Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik cair dengan dosis berbeda terhadap kualitas hijauan gamal (Gliricidia sepium). Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Pemberian dosis pupuk organik cair pada perlakuan T0, T1, T2 dan T3 masing-masing adalah 0, 1, 3 dan 5%. Parameter yang diamati adalah kadar protein dan serat kasar hijauan gamal. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh pemberian pupuk organik cair yang paling baik terhadap kualitas hijauan gamal (G. sepium) yaitu pada perlakuan T2 (3% POC) yang memiliki nilai kualitas paling tinggi dari perlakuan T0, T1 dan T3. Nilai kadar protein dan serat kasar perlakuan T2 adalah 19,64% dan 42,29%.Kata kunci : Gliricidia sepium; pupuk organik cair; protein kasar; serat kasarABSTRACT The study was conducted aimed to determine the effect of liquid organic fertilizer with different doses of the forage quality gamal (G. sepium). Experimental design used in the study was completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replications. Liquid organic fertilizer dosing in treatments T0, T1, T2 and T3, respectively 0, 1, 3 and 5%. Parameters measured were protein and crude fiber content of forage gamal. The results showed the influence of liquid organic fertilizer on forage quality gamal is the treatment T2 (3% POC) that have the highest-quality value of treatments T0, T1 and T3. Value protein and crude fiber treatment T2 was 19,64% and 42,29%.Keyword : Gliricidia sepium; liquid organic fertilizer; crude protein; crude fiber
KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK RUMPUT BENGGALA (Panicum maximum) SECARA IN VITRO PADA BERBAGAI UPAYA PERBAIKAN TANAH SALIN Pinasih, Catur
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 4 (2013): Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.723 KB)

Abstract

Potensi lahan salin di Indonesia sebagai pengembangan tanaman pakan sangat besar, tetapi kadar garam yang tinggi dapat membatasi hasil dan kualitas tanaman. Penelitian ini mengkaji kecernaan bahan kering (KcBK) dan bahan organik (KcBO) rumput benggala (Panicum maximum) secara in vitro pada berbagai upaya perbaikan tanah salin. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 7 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari penambahan gypsum (P1), abu sekam padi (P2), pupuk kandang (P3), penggunaan secara bersamaan gypsum dengan abu sekam padi (P4), gypsum dengan pupuk kandang (P5), abu sekam padi dengan pupuk kandang (P6), dan kontrol (P0). Data diolah menggunakan analisis ragam dan uji wilayah ganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P1, P2, P3, dan P4 tidak meningkatkan KcBK dan KcBO rumput benggala. Perlakuan P4 dapat meningkatkan KcBK tetapi tidak meningkatkan KcBO. Perlakuan P5 menghasilkan KcBK dan KcBO tertinggi yaitu 46,22 dan 45,26%.
PENGARUH PENAMBAHAN ECENG GONDOK (Eichornia crassipes) FERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP PRODUKSI TELUR ITIK TEGAL Nugraha, Deni; Atmomarsono, Umiyati; Mahfudz, Luthfi Djauhari
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.784 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan eceng gondok fermentasi dalam ransum terhadap produksi telur itik Tegal. Materi yang digunakan adalah 100 ekor itik betina umur 24 minggu dimasukkan dalam kandang sebanyak 20 masing-masing berisi 5 ekor itik. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap terdiri dari 5 perlakuan dengan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah adalah T1 (2,5% eceng gondok tanpa fermentasi), T2 (2,5% eceng gondok fermentasi), T3 (5% eceng gondok fermentasi), T4 (7,5% eceng gondok fermentasi), T5 (10% eceng gondok fermentasi). Parameter yang diamati meliputi konsumsi ransum, produksi telur, berat telur dan konversi ransum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan eceng gondok fermentasi dalam ransum berpengaruh terhadap konsumsi ransum, tetapi tidak berpengaruh terhadap produksi telur, berat telur dan konversi ransum. Konsumsi ransum untuk T1, T2, T3, T4 dan T5 berturut turut adalah 131,12; 132,68; 133,05; 138,01 dan 140,13 g. Produksi telur 6,70; 4,78; 6,63; 7,27 dan 9,06 %. Berat telur adalah 53,85; 51,87; 59,33; 55,99 dan 56,72 g. Konversi ransum 5,02; 9,51; 5,60; 5,18 dan 5,60. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tepung eceng gondok fermentasi dapat digunakan dalam ransum itik tegal sampai taraf 10%.Kata kunci : Eceng Gondok Fermentasi, Produksi Telur, Itik Tegal