cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Animal Agricultural Journal
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
KADAR HEMOGLOBIN, HEMATOKRIT, DAN ERITOSIT BURUNG PUYUH JANTAN UMUR 0-5 MINGGU YANG DIBERI TAMBAHAN KOTORAN WALET DALAM RANSUM Hidayat, Wahyu; Isroli, Isroli; Widiastuti, RR Endang
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.605 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit burung puyuh jantan umur 0-5 minggu yang diberi tambahan kotoran walet dalam ransum. Materi yang digunakan dalam Penelitian ini adalah 200 ekor burung puyuh jantan umur 1 hari dengan bobot hidup rata-rata 7 gram. Pakan yang digunakan disusun pakan setandar dan ditambah kotoran walet sebanyak 3%, 6%, 9%, dan 12%. Kandang yang digunakan pada penelitian ini adalah kandang ”koloni” , terbagi menjadi 20 unit dengan ukuran 40×34×26 cm3 per unit untuk 10 ekor puyuh. Rancangan percobaan yang dipergunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah T0= ransum tanpa kotoran walet; T1= ransum mengandung 3% kotoran walet; T2= ransum mengandung 6% kotoran walet; T3= ransum mengandung 9% kotoran walet; T4= ransum mengandung 12% kotoran walet. Parameter yang diamati adalah kadar hemoglobin, hematokrit dan eritrosit. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan kotoran walet dalam ransum tidak berpengaruh terhadap rataan parameter yang diukur, dimana rata-rata yang diperoleh T0, T1, T2, T3 dan T4 berturut-turut untuk hemoglobin masing-masing adalah 9; 9,825; 8,825; 7,325; 6,625 (mg/dl) . hematokrit adalah 23,5; 23,5; 23,25; 24 dan 22,75 (%). Eritrosit adalah 3,013; 3,275; 2,900; 2,513 dan 2,210 (j/ml). Simpulan dari penelitian ini, penggunaan kotoran welet dalam ransum sampai tingkat 12% tidak berpengaruh nyata terhadap kadar hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit.Kata kunci : Burung puyuh; Kotoran walet; Status kesehatanABSTRACTThis research was obtained to investigate the level of hemoglobin, hematokrit, and eritrosit of male quails of 0 – 5 weeks old which is supplemented by swallow filth on ration. Materiall were used on this research are 200 1 day old of male quails (average body weight is 7 gram). The ratiatia used standard ra as feed and swallow filth as supplementation. The quails are kept on “colony” cage, which is separate into 20 units (the size is 40×34×26 cm). Each unit is consistay 10 quails. This research used completely random design with 5 treatments and 4 replications. The treatments were arranged below: T0 = control (ration without supplementation) T1 = ration + 3% of swallow filth T2 = ration + 6% of swallow filth T3 = ration + 9% of swallow filth T4 = ration + 12% of swallow filth Parameter were observed are level of hemoglobin, hematokrit and eritrosit. The rescelt shown that suplementation of swallon fith didn’t inflected the parameters. The average of hemoglobin level for T0, T1, T2, T3 and T4 respectively is 9; 9,825; 8,825; 7,325; 6,625 (g/dl). The average of hematokrit level is 23,5; 23,5; 23,25; 24 and 22,75 (%). The average of eritrosit level is 3,013; 3,275; 2,900; 2,513 and 2,210 (j/ml). The conclusion of this research show that the used of swallow filth supplementation on ration up to 12% didn’t affect on hemoglobin, hematokrit, and eritosit level of male quails.Keywords : Quails; Swallow filth; Lead state
KAJIAN KUALITAS SUSU SEGAR DARI TINGKAT PETERNAK SAPI PERAH, TEMPAT PENGUMPULAN SUSU DAN KOPERASI UNIT DESA JATINOM DI KABUPATEN KLATEN (Quality of Raw Milk From Dairy Farm, Milk Collection Center and Dairy Cooperative Jatinom Kabupaten Klaten) Yudonegoro, Ridho Julio; Nurwantoro, Nurwantoro; Harjanti, Dian Wahyu
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 2 (2014): Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (723.387 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini membandingkan tingkat kontaminasi bakteri pada susu segar yang dianalisis dengan uji reduktase, uji alkohol, kadar asam, dan standard plate count (SPC). Susu segar didapatkan dari lokasi peternakan, tempat pengumpulan susu (TPS) dan Koperasi Unit Desa (KUD). Hasil dari seluruh sampel susu yang didapat jumlah bakteri dalam susu melebihi SNI  3141.1: 2011. Sampel susu milik KUD adalah yang paling tinggi ( P < 0,05) diantara sampel susu yang lain dan tidak terdapat perbedaan antara jumlah bakteri antara peternak dan TPS. Meskipun jumlah bakteri melebihi standar SNI, rata – rata waktu reduktase diatas 8 jam, yang diindikasikan bahwa susu tersebut dalam kualitas yang baik. Jumlah bakteri akan meningkat ketika dibawa dari peternakan sampai ke KUD. Meskipun beberapa sampel terdapat hasil positif dalam uji alkohol, kadar asam dalam semua sampel masih dalam standar SNI. Kesimpulannya adalah peternak dan pemerintah harus memperhatikan higiene pemerahan, penanganan dan perlunya rantai dingin untuk memperlambat pertumbuhan bakteri. Kata kunci: jumlah bakteri; kontaminasi; susu segar; kualitas ABSTRACT This research was conducted to determine the level of bacterial contamination in raw milk as analyzed by the reductation test, alcohol test, total acid and standard plate count. The raw milk samples were collected from dairy farm, milk collection centre (MCC) and dairy cooperative. Results indicated that the bacterial count in all of milk samples were higher than SNI 3141.1:2001 standard. The dairy cooperative milk sample had the highest (P<0.05) bacterial count among the samples and there is no different (P>0.05) in the bacterial count between the dairy farm and MCC . Although the bacterial counts were above the SNI standard, however, the average of reductation time were above 8 hours, indicating good quality of raw milk. The number of bacteria increase when the shipping time from farm to dairy cooperative increased. Although some of the samples were positive in the alcohol test, the acid concentrations in all samples were in the range of SNI standard. In conclution, farmers and government should pay attention to milking hygiene, handling and cold chain to prevent the bacterial contamination in raw milk.Keywords: bacterial count; contamination; raw milk; quality
DAYA IKAT AIR, pH DAN SIFAT ORGANOLEPTIK CHICKEN NUGGET YANG DISUBSTITUSI DENGAN TELUR REBUS Laksmi, Restuning Tri; Legowo, Anang Mohamad; Kusrahayu, Kusrahayu
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.398 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui Daya Ikat Air (DIA), nilai pH, dan sifat organoleptik nugget ayam yang disubstitusi telur rebus. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Data diolah menggunakan analisis ragam pada taraf signifikasi 5%, jika berbeda nyata dilanjutkan dengan Uji Wilayah Ganda Duncan. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa substitusi telur rebus berbeda nyata (P>0,05) terhadap sifat organoleptik. Substitusi telur rebus tidak berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap DIA dan pH. Nilai warna agak coklat-coklat tua dengan skor 2,00 - 3,16; tekstur tidak kasar-kasar dengan skor 1,96 - 2,28; dan kesukaan suka-sangat suka dengan skor 3,16 - 3,36. Substitusi telur rebus pada chicken nugget berpengaruh pada warna, tekstur dan kesukaan. Substitusi 20% sampai 40% merupakan substitusi paling optimal sebagai diversifikasi nugget.   Kata Kunci : chicken nugget, telur rebus, DIA, pH, sifat organoleptik
PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG RUMPUT LAUT (Gracilaria verrucosa) DALAM RANSUM AYAM BROILER TERHADAP BERAT DAN UKURAN TULANG TIBIA DAN TARSOMETATARSUS Bangun, Gustina Dwi Debora; Mahfuds, Luthfi Djauhari; Sunarti, Dwi
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.731 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk menggambarkan pengaruh dari penggunaan tepung rumput laut pada ayam broiler terhadap berat dan ukuran tulang tibia dan tarsometatarsus yang dipelihara selama 42 hari. Sebanyak 120 ekor ayam broiler unsex umur 17 hari dengan bobot badan 475 ± 0,98 g ditempatkan dalam kandang dengan ukuran 1 x 0.8 x 0.6 m yang disekat menjadi 24 unit percobaan dan diisi 5 ekor ayam broiler per unit. Bahan pakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jagung, bekatul, tepung ikan, tepung rumput laut, white pollard, bungkil kedelai dan poultry meat meal (PMM). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan yaitu T0 (kontrol) = ransum perlakuan tanpa tepung rumput laut; T1 = ransum perlakuan dengan penggunaan 2,5% tepung rumput laut; T2 = ransum perlakuan dengan penggunaan 5% tepung rumput laut; T3 = ransum perlakuan dengan penggunaan 7,5% tepung rumput laut. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan prosedur analisis ragam (Analysis of Variance / ANOVA) derngan uji F pada taraf 5 % dan apabila hasil analisis menunjukkan pengaruh perlakuan yang nyata akan dilanjutkan dengan uji wilayah Ganda Duncan dengan program SAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung rumput laut (Gracilaria verrucosa) pada level 5% menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (P<0,05) terhadap berat dan panjang tulang tarsometatarsus.Kata Kunci : Ayam broiler, ransum, rumput laut, tibia, tarsometatarsusABSTRACT This study was aimed to determined effect of seaweed meal (Gracilaria verrucosa) utilization in broiler’s diet on weight and size ot tibia andn tarsometatarsus. One hundred and twenty broiler chickens at 17 days old unsex with average weight 475 ± 0,98 g was placed in a sealed enclosure with a siza 1 x 0.8 x 0.6 m to 24 units and each unit consist of five broiler chickens. Feedstuffs used in this study were corn, rice bran, fishmeal, seaweed meal Gracilaria verrucosa, white pollard, soybean meal and poultry meat meal. Experimantal design used completely randomized design (CRD) withh 4 treatments and 6 replications: T0 (control) = ration treatment without seaweed meal; T1 = ration treatment with seaweed meal 2,5%; T2 = ration treatment with seaweed meal 5%; T3 = ration treatment with seaweed meal 7,5%. The data obtained were analyzed using various analytical procedures (Analysis of Variance / ANOVA) F-test with level 5% and if result of the analysis show that real effect of treatment will be followed by Duncan’s test with SAS program. The result showed that treatment with seaweed mel 5% up to 7% in diet significantly (P<0,05) decreased weight and lenght of tarsometatarsus.Key word: broiler, ration, seaweed, tibia, tarsometatarsus
PENGARUH KANDUNGANTOTAL DIGESTIBLE NUTRIENTS RANSUM TERHADAP KELUARAN KREATININ PADA SAPI MADURA JANTAN Akbar, Ilham; Rianto, Edy; Purnomoadi, Agung
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 3 (2013): Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.855 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji jumlah kreatinin pada sapi Madura yang diberi pakan dengan kandungantotal digestible nutrients(TDN) yang berbeda.Penelitian dilakukan di kandang Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro. Penelitian menggunakan sapi Madura jantan 12 ekor dengan bobot 153,75kg (CV= 7,78%). Jumlah bahan kering pakan diberikan 3% dari bobot badan sapi dengan pakan kasar menggunakan rumput gajah yang dikeringkan (hay) dan konsentrat terdiri dari bahan pakan dedak, pollard, bungkil kedelai dan gaplek.Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL).Perlakuan pakan yang diberikan memiliki protein kasar 14% dengan variasi TDN antara 50%; 60% dan 70%.Keluaran kreatinin pada pengambilan urin ke Itidak berbeda nyata (P>0,05) sebesar 202,83 mg/hari, pada pengambilan urin ke II tidak berbeda nyata (P>0,05) sebesar 369,67 mg/hari dan pada pengambilan ke III tidak berbeda nyata (P>0,05) sebesar 415,31 mg/hari.Keluaran kreatinin berhubungan positif dengan bobot badan ternak.Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kandungan TDN pakan tidak berpengaruh terhadap keluaran kreatinin sapi Madura jantan.Semakin tinggi bobot badan ternak, semakin tinggi keluaran kreatininnya.
PENGARUH BERBAGAI METODE PENGASINAN TERHADAP KADAR NaCl, KEKENYALAN DAN TINGKAT KESUKAAN KONSUMEN PADA TELUR PUYUH ASIN Lukito, Galuh Angga; Suwarastuti, Agustini; Hintono, Antonius
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.182 KB)

Abstract

Watchfulness to detect effect of salting method on NaCl, tenderness, and consumer’s preference towards quill egg with various marinating method has been done at Laboratory Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang. That used random plan (RAL) to effort. Treatment that applied T1 = daubing with salt batter and ash scrubs with comparison 2:1(b/b), T2 = daubing with salt batter and red brick powder with comparison 2:1(b/b), T3 = daubing with salt batter, red brick powder and ash scrubs with comparison 3:1:1(b/b), T4 = soaking into satisfied salt solution with comparison 30% (b/v). Variable that watched degree NaCl white and egg yolk, tenderness, and consumer’s preference. Data is analyzed by using Sidik Ragam and continued with Uji Beda Nyata Terkecil when found difference. Watchfulness result shows that marinating method haves degree NaCl protein, but not have an in with degree NaCl egg yolk, also favorite towards egg. Conclusion quill egg that salted by using satisfied salt solution has degree NaCl higher protein than that is salt with other method.Keywords: quill egg; degree NaCl; tenderness and consumer’s preferenceABSTRAKPenelitian untuk mengetahui kadar NaCl, tingkat kekenyalan, serta kesukaan konsumen terhadap telur puyuh asin yang dibuat dengan berbagai metode pengasinan telah dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diterapkan adalah T1 = pelumuran dengan adonan garam dan abu gosok dengan perbandingan 2:1(b/b), T2 = pelumuran dengan adonan garam dan serbuk bata merah dengan perbandingan 2:1(b/b), T3 = pelumuran dengan adonan garam, serbuk bata merah dan abu gosok dengan perbandingan 3:1:1(b/b), T4 = perendaman ke dalam larutan garam jenuh dengan perbandingan 30% (b/v). Variabel yang diamati adalah kadar NaCl putih dan kuning telur, kekenyalan dan tingkat kesukaan. Data dianalisis dengan menggunakan Sidik Ragam dan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil bila terdapat perbedaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengasinan berpengaruh pada kadar NaCl putih telur, tapi tidak berpengaruh pada kadar NaCl kuning telur, kekenyalan putih telur maupun kesukaan terhadap telur. Kesimpulan penelitian adalah telur puyuh yang diasinkan dengan menggunakan larutan garam jenuh mempunyai kadar NaCl putih telur lebih tinggi daripada yang diasinkan dengan metode yang lain.Kata kunci: telur puyuh, kadar NaCl, kekenyalan dan kesukaan
FERMENTABILITAS PAKAN BERBASIS AMONIASI JERAMI PADI DENGAN SUMBER PROTEIN YANG DIPROTEKSI DI DALAM RUMEN SECARA IN VITRO (In Vitro Ruminal Fermentability of Ammoniated Rice Straw Based Feed with Supplementation of Protected Protein) Harahap, M Ainsyar; Subrata, Agung; Achmadi, Joelal
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.944 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh tingkat suplementasi protein yang diproteksi dalam pakan berbasis jerami padi amoniasi terhadap fermentabilitas pakan secara in vitro. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap pola faktorial 2 x 5 dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama, jerami padi tanpa amoniasi (J0) dan jerami padi dengan perlakuan amoniasi (J1). Faktor kedua 5 level suplementasi protein diproteksi 0% (P0), 5% (P1), 10% (P2), 15% (P3), dan 20% (P4). Data hasil penelitian diuji dengan ANOVA taraf 5%, apabila terdapat pengaruh perlakuan (p<0,05) dilanjutkan uji wilayah Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi (p<0,05) antara perlakuan amoniasi dan suplementasi protein diproteksi dalam meningkatkan produksi NH3 dan produksi protein total, sedangkan terhadap konsentrasi VFA dan degBO tidak terdapat interaksi (p>0,05). Rerata konsentrasi VFA 81,33 – 151,67 mM, rerata produksi NH3 8,19 – 14,65mg/dl, rerata produksi protein total 173,11 – 237 mg/g, rerata degBK 41,59 – 61,03 %, dan rerata degBO 45,81 – 67,48 %. Simpulan penelitian ini adalah perlakuan amoniasi pada jerami padi dan perlakuan pemberian level suplementasi protein diproteksi mampu berinteraksi dalam meningkatkan produksi NH3 dan produksi protein total pakan. Kata kunci : jerami padi; amoniasi; protein diproteksi; fermentabilitas; in vitroABSTRACTThe research aimed to examine in vitro ruminal fermentability of ammoniated rice straw based feed with supplementation of protected protein. This research used completely randomized design with pattern of  factorial 2 x 5 and three replications. The first factor was rice straw without ammoniation (J0) and rice straw ammoniated (J1). The second factor was supplementation of tannin protected protein at 0% (P0), 5% (P1), 10% (P2), 15% (P3), and 20% (P4) in feed. Collected data were statistically tested by analysis of variance with factorial pattern in completly randomized design, followed by Duncan's multiple range test. The result showed, interactive effect of ammoniation treatment and supplementation protected protein was able to increase NH3 production dan total protein production. The average of parameters were VFA concentration : 81.33–151.67 mM; NH3 production :8.19 – 14.65mg/dl; total protein production: 173.11–237 mg/g; and organik matter degradability: 45.81–67.48 %. Conclusion of this research was ammoniation treatment on rice straw and supplementation of tannin protected protein treatment were able to interact to increase NH3 production and total protein production in feed.   Key word : rice straw; ammoniation; protected protein; fermentability; in vitro
EFISIENSI DAN PERSISTENSI PRODUKSI SUSU PADA SAPI FRIESIAN HOLSTEIN AKIBAT IMBANGAN HIJAUAN DAN KONSENTRAT BERBEDA (The Efficiency and Persistency of Milk Production on Friesian Holstein Dairy Cows Fed at Different Forage and Concentrate Feeding Ratio) Anggiati, Gita Tri; Sudjatmogo, Sudjatmogo; Suprayogi, Teguh Hari
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.146 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi dan persistensi produksi susu akibat imbangan pakan hijauan dan konsentrat berbeda.  Materi yang digunakan adalah 12 ekor sapi perah Friesian Holstein bulan laktasi II dan III dengan bobot badan rata-rata 456,21 ± 20,83 kg (CV = 4,95%) dan produksi susu rata-rata 10,05 ± 1,24 liter (CV = 12,83%).  Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan.  Perlakuan yang diujikan yaitu pemberian ransum dengan imbangan hijauan dan konsentrat : T0 = 50:50; T1 = 55:45 dan T2 = 60:40.  Data dianalisis ragam menggunakan uji F dan apabila terdapat perbedaan dilakukan uji lanjut menggunakan uji Duncan.  Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan imbangan pakan hijauan dan konsentrat tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap kecernaan energi ransum (T0= 88,27; T1= 88,02 dan T3= 87,91 %), energi susu (T0=921,60; T1=1.174,53 dan T2=1.132,68 kkal/liter) dan persistensi produksi susu (T0=93,50; T1=100,26 dan T2=84,21%).  Perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap energi tercerna (T0=16,05; T1= 13,66 dan T2= 8,34 Mkal/hari) dan efisiensi produksi susu (T0=27,84; T1=37,69 dan T2=39,62%. Kesimpulan penelitian ini adalah imbangan hijauan dan konsentrat yang berbeda dalam ransum sapi perah friesian holstein tidak mengubah persistensi produksi susu tetapi meningkatkan efisiensi produksi susu. Kata kunci : Imbangan Pakan; Efisiensi Produksi Susu; Persistensi Susu. ABSTRACT The aim of this experiment was to determine the efficiency and persistency of milk production as a result of forage and concentrates rations.  The materials used were twelve Friesian Holstein lactating cows in lactation II and III month at averaged body weight of 456.21±20.83 kg (CV=4.95%) and the averaged milk production of 10.05±1.24 liters (CV =12.83%).  The experimental design used was a completely randomized design for 3 treatments and 4 replications.  The treatments were rations of forage and concentrate at 50:50 (T0); 55:45 (T1) and 60:40 (T2).  Data were analyzed using ANOVA and further test using Duncan Multiple Range Test were used at any significant differences.  The results showed that the forage and concentrate ratio on the ration of Friesian Holstein dairy cows was not significantly different (P>0.05) the digestibility of energy (T0= 88.27; T1=88.02 and T2=87.91%), milk energy (T0=921.60; T1= 1,174.53 and T2=1,132.68 kcal/liter), persistencies of milk (T0=93.50; T1=100.26 and T2=84.21%) respectively.  There was high significantly different (P<0.01) to the digestible energy (T0=16.05; T1=13.66 and T2=8.34 Mcal/day) and milk production efficiencies (T0= 27.84; T1=37.69 and T2=39.62%). This study concluded that the ratio of forage and concentrate in Friesian Holstein dairy cows feeding was failed to change the persistencies of milk production but increase the milk production efficiencies. Key words : Ration Balance; Efficiency Milk Production; Persistency of Milk.
KOMPOSISI KIMIA DAGING KAMBING KACANG JANTAN YANG DIBERI PAKAN DENGAN KUALITAS BERBEDA Imam, Khairul; Purbowati, Endang; Adiwinarti, Retno
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 4 (2013): Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.562 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi kimia daging setelah diberi perlakuan pakan dengan kualitas yang berbeda. Materi penelitian menggunakan 15 ekor kambing Kacang jantan dengan bobot badan awal rata-rata 14,28 ± 3,36 kg (CV = 23,55%). Metode penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), dengan 3 perlakuan pakan dan 5 kelompok ternak berdasar bobot badan awal. Perlakuan pakan tersebut adalah T1 (Protein Kasar (PK) 9,20% : Total Digestible Nutrients (TDN) 54,67%), T2 (PK 11,67% : 58,61%), dan T3 (PK 18,33%: TDN 65,23%). Parameter yang diamati adalah komposisi kimia daging yang terdiri atas kadar air, abu, protein, lemak, dan kolesterol yang diambil dari otot Longissimus dorsi (LD) dan Biceps femoris (BF) kemudian dirata-rata. Data hasil penelitian dianalisis dengan analisis variansi, dan dilanjutkan dengan uji wilayah berganda duncan apabila ada perbedaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kambing Kacang yang diberi pakan dengan kualitas berbeda, menghasilkan komposisi kimia daging yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Rata-rata kadar air, abu, protein, lemak, dan kolesterol daging kambing Kacang pada penelitian ini adalah 76,01%; 0,66%; 19,40%; 2,57%; dan 81,38 mg/100 g daging. Simpulan penelitian ini adalah komposisi kimia daging kambing Kacang dengan kualitas pakan protein dan energi yang berbeda relatif sama.
KERAGAMAN PROTEIN PLASMA DARAH KAMBING JAWARANDU DI KABUPATEN PEMALANG Brata, Galih Dewa; Sutopo, Sutopo; Kurnianto, Edy
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.397 KB)

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to evaluate the variability of blood proteins plasma from Jawarandu goat at six loci by simultaneously. A total of 24 samples of blood protein plasm of Jawarandu goat from Pemalang District was taken. Vertical polyacrylamide gel electrophoresis system used to analyze blood plasma samples. The parameters observed were pre-albumin, albumin, ceruloplasmin, transferrin, post-transferrin and amylase-1 based interpretation bands appear from the results of electrophoresis. The results showed that each of 6 loci observed are controlled by two alleles. Individual heterozygosity values of each locus as follow pre-albumin (0.444), albumin (0.492), ceruloplasmin (0.500), transferrin (0.444), post-transferrin (0.486) and amylase-1 (0.486). The average heterozygosity of Jawarandu goat at Pemalang District was 0.475.Keywords: genetic variability, jawarandu goat, heterozygosityABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi keragaman protein plasma darah dari kambing Jawarandu pada enam lokus secara simultan. Materi penelitian berupa 24 sampel plasma darah kambing Jawarandu yang terdapat di Kabupaten Pemalang. Teknik elektroforesis dengan gel poliakrilamid sistem vertikal digunakan untuk menganalisis sampel plasma darah. Parameter yang diamati meliputi pre-albumin, albumin, ceruloplasmin, transferin, post-transferin dan amylase-1 berdasarkan interpretasi pita-pita yang nampak dari hasil elektroforesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 6 lokus tersebut masing-masing dikontrol oleh 2 alel. Nilai heterozigositas individual masing-masing lokus adalah pre-albumin (0,444), albumin (0,492), ceruloplasmin (0,500), transferin (0,444), post-transferin (0,486) dan amylase-1 (0,486). Rata-rata heterozigositas kambing Jawarandu di Kabupaten Pemalang sebesar 0,475.Kata kunci : keragaman genetik, kambing Jawarandu, heterozigositas