cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Animal Agricultural Journal
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
PERTUMBUHAN DAN BOBOT BAHAN KERING RUMPUT GAJAH DAN RUMPUT RAJA PADA PERLAKUAN ARAS AUKSIN YANG BERBEDA Mufarihin, Ahmad; Lukiwati, Dwi Retno; Sutarno, Sutarno
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.239 KB)

Abstract

ABSTRAK   Urine sapi terdapat kandungan hormon auksin untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Rumput gajah dan rumput raja adalah tanaman berkualitas unggul. Penelitian ini bertujuan pemanfaatan urine sapi betina sebagai sumber zat pengatur tumbuh pada tanaman, mengetahui kecepatan tumbuh, daya tumbuh, rasio tajuk dan akar, mengetahui titik optimal pertumbuhan kedua tanaman dari perlakuan aras urin sapi dan auksin sintetik. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Maret – Mei 2012 di lahan tanaman pakan Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang dan analisis bahan kering dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanaman Makanan Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dosis urine sapi yang berbeda pada kedua tanaman tidak berpengaruh nyata terhadap kecepatan tumbuh, pertambahan tinggi, (P>0,01). Perlakuan jenis tanaman (R) berpengaruh sangat nyata terhadap perlakuan yang diujikan, kecuali pada uji rasio tajuk dan akar. Interaksi antar perlakuan (RxTy) tidak berpengaruh nyata pada uji kecepatan tumbuh, tetapi berpengaruh nyata terhadap daya tumbuh, tinggi tanaman (P<0,05) dan berpengaruh sangat nyata terhadap rasio tajuk dan akar (P<0,01). Daya tumbuh dan kecepatan tumbuh rumput gajah lebih tinggi dibandingkan rumput raja. Hasil penelitian disimpulkan perlakuan urine sapi berpengaruh terhadap pertumbuhan dan bobot bahan kering dengan hasil sesuai dengan hipotesis pada parameter tinggi tanaman.
PERFORMANS DARAH KAMBING PERANAKAN ETTAWA DARA YANG DIBERI RANSUM DENGAN TAMBAHAN UREA YANG BERBEDA Yanti, Elisa Gebi; Isroli, Isroli; Suprayogi, Teguh Hari
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.904 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui kegunaan pemberian tambahan urea dalam ransum terhadap performans darah yaitu eritrosit, hemoglobin serta hematokrit. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober sampai 30 Desember 2013 di UPTD Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak Singosari Malang. Materi yang digunakan adalah kambing PE fase dara sebanyak 12 ekor dengan bobot badan 15-17 kg; ransum berupa pakan hijauan dan konsentrat. Perlakuan dalam penelitian ini menggunakan tiga ransum dengan tambahan urea yang berbeda, sebagai 3 perlakuan dan 4 kali ulangan : 1) ransum ditambah urea 0,9% (T1); 2) ransum ditambah urea 2,16% (T2); 3) ransum ditambah urea 3,42% (T3). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap. Parameter yang diamati adalah konsumsi data BK, kadar Hemoglobin, jumlah eritrosit dan kadar eritrosit darah diuji dengan menggunakan uji analisis varians dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukan rataan konsumsi BK ransum harian masing-masing adalah T1 622,7 g/ekor/hari; T2 655,3 g/ekor/hari dan T3 569,2 g/ekor/hari (P<0,05). Rataan jumlah eritrosit masing-masing adalah T1 2,9 sel/µl; T2 2,54 sel/µl dan T3 2,3 sel/µl (P<0,05). Rataan kadar hemoglobin masing-masing adalah T1 10,2 g/dl; T2 9,6 g/dl; dan T3 9,1 g/dl. Rataan`nilai hematokrit masing-masing T1 31,1%; T2 24,1%; dan T3 22,6%. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa pemberian ransum dengan tambahan urea yang berbeda pada kambing PE fase dara ternyata mempengaruhi konsumsi Bahan Kering ransum dan jumlah eritrosit. Penambahan urea tidak mempengaruhi kadar hemoglobin dan nilai hematokrit darah.Kata Kunci : Kambing , urea , hemoglobin, eritrosit, hematokritABSTRACT This experiment was conducted to study the effect of differences of urea level of ration on performance in particular blood erythrocytes, hemoglobin and hematocrit of Ettawa grade ewes. The experiment was carried out in October 1st – December 30th 2012 in Singosari, Malang regency. The material used was 12 heads of ettawa ewe weight 15-17 kg, feed of ration forage and concentrates. The treatment in this study were three rations with different levels of urea ; 1) ration plus urea 0,9%; 2) ration plus urea 2,16%); 3) ration plus urea 3,42%. This study used experimental design CRD (completely randomized design) with LSD. Parameters observed were feed intake, hemoglobin, number of erythrocytes and hematocrit levels. The results of the analysis of a variety shows, that addition urea in the ration significally affect feed intake consumption and the number of erythrocytes, but did not affect the levels of hemoglobin and hematocrit. The conclusion that can be drawn from the above study is that administration of rations with different addition of urea in ettawa ewe has affect the average of consumption and the number of erythrocytes.Keywords : goat, urea, hemoglobin, eritrosit, hematokrit
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG JAHE MERAH (Zingiber officinale var Rubrum) DALAM RANSUM TERHADAP PEFORMANS AYAM KAMPUNG PERIODE LAYER Arifin, Ridlwan; Suprijatna, Edjeng; Sunarti, Dwi
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 3 (2013): Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.9 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung jahe merah dalam ransum terhadap performans ayam kampung periode layer. Pada penelitian ini menggunakan ayam kampung betina umur 26 minggu sebanyak 100 ekor. Pemeliharan ayam kampung dilakukan pada kandang baterai dari kawat. Susunan ransum yang digunakan terdiri dari T0: ransum basal; T1: ransum basal + 0,25% tepung jahe merah; T2: ransum basal + 0,5% tepung jahe merah; T3: ransum basal + 0,75% tepung jahe merah; T4: ransum basal + 1% tepung jahe merah. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 5 perlakuan dan 4 kelompok sebagai ulangan. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah Konsumsi Ransum, Massa Telur, dan Konversi Ransum. Data terkumpul diolah dengan menggunakan analisis ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung jahe merah dalam ransum ayam kampung tidak berpengaruh terhadap konsumsi ransum, massa telur, dan konversi ransum (P>0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan tepung jahe merah dalam ransum ayam kampung periode layer umur (26-32) dari level 0,25-1% tidak memberikan pengaruh terhadap performans ayam kampung pada periode layer.
SERAPAN NITROGEN DAN FOSFOR TANAMAN ECENG GONDOK SEBAGAI SUMBER DAYA PAKAN PADA “PERAIRAN“ YANG MENDAPATKAN KOTORAN ITIK Usman, Moch Arif; Anwar, Syaiful; Purbajanti, Endang Dwi
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.332 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji serapan nitrogen dan fosfor tanaman eceng gondok pada “perairan” yang mendapatkan kotoran itik. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuannya adalah T0 = limbah kotoran itik 0 gram/liter air, dan digunakan sebagai kontrol, T1 = limbah kotoran itik 5 gram/liter air, T2 = limbah kotoran itik 10 gram/liter air, T3 = limbah kotoran itik 15 gram/liter air, dan T4 = limbah kotoran itik 20 gram/liter air. Parameter penelitian adalah serapan nitrogen dan serapan fosfor eceng gondok. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam dilanjutkan dengan perbandingan nilai tengah BNJ untuk melihat uji beda dan uji Polinomial Ortogonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kotoran itik berpengaruh terhadap serapan nitrogen dan fosfor (P<0,05). Serapan N tertinggi sebesar 319,8159 mg dicapai pada perlakuan 20,00 g/l air, sedangkan serapan P tertinggi sebesar 607,9949 mg dicapai pada perlakuan 20,00 g/l air.Kata kunci: eceng gondok, kotoran itik, serapan nitrogen, serapan fosforABSTRACTThe study aims to examine nitrogen and phosphor uptake of water hyacinth as forage resources in “water” by addition of duck manure. Experimental design used was Completely Randomized Design (CRD) with 5 treatments and 4 replications. Treatment applied were T0 = control, no duck manure addition; T1 = addition of 5 g/l of duck manure; T2 = addition of 10 g/l of duck manure; T3 = addition of 15 g/l of duck manure; T4 = addition of 20 g/l duck manure. Parameters observed are nitrogen uptake and phosphor uptake. Data were analyzed with Analysis of Variance and if there was a significant treatment effect data were continue analyzed by Tukey’s Honestly Significance Difference Test and Orthogonal Polynomial test. The results showed that the addition of duck manure affect uptake of nitrogen and phosphor (P <0.05). The uptake of N and P of water hyacinth with maximum levels occurred in 319,8159 mg the treatment of 20.00 g / l for the uptake of N and 607,9949 mg the treatment 20.00 g / l for the uptake of P. Key words: water hyacinth, duck manure, nitrogen uptake, phosphor uptake
PENGARUH RASIO ENERGI PROTEIN RANSUM BERBASIS LIMBAH PERKEBUNAN KELAPA SAWIT TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING, BAHAN ORGANIK DAN SERAT KASAR SECARA IN VITRO (The Influence of Energy Protein Ratio on Complete Feed Palm Oil Plantations Wasted Based to In Vi Andini, Widya; Subrata, Agung; Nuswantara, Limbang K.
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.531 KB)

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh rasio energi-proteincomplete feed berbasis limbah perkebunan kelapa sawit terhadap kecernaan bahan kering (KcBK), kecernaan bahan organik (KcBO) dan kecernaan serat kasar (KcSK) secara in vitro. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 5 ulangan yaitu T1 (rasio energi-protein 5; TDN 60% dan PK 12%), T2 (rasio energi-protein 5,25; TDN 63% dan PK 12%) dan T3 (rasio energi-protein 5,5; TDN 66% dan PK 12%). Data diolah dengan analisis ragam (ANOVA), jika menunjukkan pengaruh nyata (p<0,05) maka dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwarasio energi-proteincomplete feed berbasis limbah perkebunan kelapa sawit berpengaruh nyata (p<0,05) meningkatkan KcBK, KcBO dan KcSK. Nilai KcBK T1 (51,22%) berbeda nyata(p<0,05) lebih rendah daripada T2 (53,97%) dan T3 (55,03%), namun T2 tidak berbeda nyata (p>0,05) dengan T3.  Nilai KcBO T1 (50,09%) berbeda nyata (p<0,05) lebih rendah daripada T2 (53,03%) dan T3 (54,24%), namun T2 tidak berbeda nyata (p>0,05) dengan T3 . Semakin tinggi rasio energi-protein complete feed berpengaruh nyata (p<0,05) meningkatkan KcSK. Kesimpulanpenelitian ini adalahcomplete feedberbasis limbah perkebunan kelapa sawit dengan rasio energi-protein 5,5 atau mengandung TDN 66 dan PK 12% menghasilkan kecernaan bahan kering, bahan organik dan serat kasar terbaik. Kata kunci : complete feed, limbah perkebunan kelapa sawit, kecernaan in vitro. ABSTRACT Thepurposeof this research was to determine the influence of energy-protein ratio of complete feed palm oil waste based to in-vitro digestibility of dry matter, organic matter and crude fiber. The design of the research used Complete Random Design (CRD) with 3 treatments and 5 replications. The data would processed with ANOVA test. If the results of data was significant, it would be continued with Duncan test. T1 (energy-protein ratio 5; TDN 60% and CP 12%), T2 (energy-protein ratio 5,25; TDN 63% and CP 12%) and T3 (energy-protein ratio 5,5; TDN 66% and CP 12%). The results showed that the energy-protein ratio of complete feed palm oil waste based significantly affected (p<0,05) increase dry matter, organic matter and crude fiber digestibility. The dry matter digestibility of T1 (51,22%) significantly different (p<0,05) lower than T2 (53,97%) and T3 (55,03%), but T2 did not significant (p>0,05) with T3. The organic matter digestibiity of T1 (50,09%) significantly different (p<0,05) lower than T2 (53,03%) and T3 (54,24%), but T2 did not significant (p>0,05) with T3. The higher energy-protein ratio significantly affected (p<0,05) increase the crude fiber digestibility.  The conclusion was that the complete feed palm oil waste based with 5,5 energy-protein ratio or its contained 66%TDN and 12% CP had the best digestibility.                                                 Key notes : complete feed; palm oil waste; in vitro digestibility.
PENGARUH PENAMBAHAN BERBAGAI LEVEL POLLARD BERPROBIOTIK TERHADAP BIOMASSA MIKROBIADAN KUALITAS PROTEIN DALAM PELLET (Effect of Addition Various Level Pollard Containing Probiotics of Biomass Microbial and Quality Protein in Pellet) Fahmi, Aulia Imroatul; Pujaningsih, Retno Iswarin; Utama, Cahya Setya
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.997 KB)

Abstract

ABSTRAK            Penelitian bertujuan mengkaji kualitas pellet yang dievaluasi dari kandungan protein kasar, protein murni serta biomassa mikrobia.  Penelitian dirancang dengan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan  4 ulangan. T0 sebagai perlakuan kontrol tidak terdapat penambahan pollard berprobiotik, T1 terdapat penambahan pollard berprobiotik sebanyak 10%, T2 terdapat penambahan pollard berprobiotik sebanyak 20%, dan T3 terdapat penambahan pollard berprobiotik sebanyak 30%.  Kadar protein kasar dianalisis dengan menggunakan metode Kjeldahl, biomassa mikrobia dianalisis dengan spektrofotometer serta kadar protein murni dianalisis dengan cara di inkubasi dan dianalisis dengan metode Kjedahl, hasilnya diuji dengan Anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan pollard berprobiotik tidak berbeda  nyata (P>5%) terhadap kandungan protein kasar pellet T0 (15,32%), T1 (16,21%), T2 (16,28%) dan T3 (16,42%). Penambahan pollard berprobiotik berpengaruh nyata dengan taraf signifikasi 5% (P<5%) terhadap kandungan biomassa mikrobia dan protein murni dalam pellet. Level biomassa mikrobia masing-masing  perlakuan T0 (1,89), T1 (2,040), T2 (2,068) dan T3 (2,217). Kandungan protein murni pada masing-masing perlakuan adalah T0 (10,23%) T1 (12,40%), T2 (13,48%) dan T3 (13,94%). Simpulan penelitian adalah penambahan pollard berprobiotik dapat meningkatkan biomassa mikroba sehingga menyebabkan kadar protein kasar dan protein murni dalam pellet meningkat. Level kandungan protein kasar, protein murni dan biomassa mikrobia tertinggi pada perlakuan T3 masing-masing adalah16,42% ; 13,94% dan 2,217.Kata kunci :   pollard berprobiotik; pellet; protein kasar; protein murni; biomassa mikrobia. ABSTRACTThe research aimed to assess the quality of the pellets that was evaluated from the microbial biomass content, crude protein and pure protein. The research was designed with a completely randomized design with 4 treatments and 4 replications. T0 as control there was no treatments containing probiotics pollard addition; T1, the addition pollard containing probiotics as much as 10%; T2, the addition pollard containing probiotics as much as 20%; and T3, additions pollard containing probiotics as much as 30%. Crude protein levels were analyzed using the Kjeldahl method, pure protein levels were analyzed by means of incubation and analyzed by the method Kjedahl and biomass were analyzed with a spectrophotometer and the results were tested by Anova. The results showed that the addition pollard containing probiotics are not significantly different (P> 5%) of the crude protein pellet T0 (15.32%), T1 (16.21%), T2 (16.28%) and T3 (16.42%). Addition pollard containing probiotics significantly with the level of significance of 5% (P <5%) of the microbial biomass content and pure protein in the pellet. Pure protein content in each treatment were T0 (10.23%), T1 (12.40%), T2 (13.48%) and T3 (13.94%). Microbial biomass levels respectively T0 (1.890), T1 (2.040), T2 (2.068) and T3 (2.217). The conclusions of this research is the addition pollard containing probiotics could enhance microbial biomass, causing levels of crude protein and purified protein in the pellet increases. The level of crude protein, purified protein and the best microbial biomass in the treatment T3 was 16.42% respectively; 13.94% and 2.217.Keywords: pollard containing probiotics; pellets; crude protein; purified protein; microbial biomass.
PROFIL PERLEMAKANDARAH DAN PERSENTASE LEMAK ABDOMINAL AYAM BROILER YANG DIBERI TEPUNG TEMU KUNCI (Boesenbergia pandurata ROXB)DALAM RANSUM (Fat Content in Blood and Percentage of Abdominal Fat of Broiler Supplementation fingerroot (Boesenbergia pandura Prasetyo, Aji; Isroli, Isroli; Atmomarsono, Umiyati
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 1 (2014): Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.725 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pangaruh penggunaan tepung temukunci (Boesenbergia pandurata ROXB)dalam ransum terhadap kadar kolesterol, trigliserida, high density lipoprotein darah dan persentase lemak abdominal ayam broiler. Materi penelitian adalah ayam broiler sebanyak 120 ekor unsex mulai umur 7 hari dengan bobot rata-rata 137,5 ± 16,04 g  (CV 6,36 %). Ransum perlakuan terdiri dari 4 jenis ransum, yaitu ransum T0 : Ransum tanpa menggunakan tepung temukunci T1 : Ransum menggunakan tepung temukunci 0,8%, T2 : Ransum menggunakan tepung temukunci 1,2%, T3 : Ransum menggunakan tepung temukunci 1,6%, T4 : Ransum menggunakan tepung temukunci 2,0%.Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan jumlah 5perlakuandan4 ulangan masing-masing unit percobaan berisi 6 ekor ayam broiler. Ransum dan air minum diberikan ad libitum. Hasil penelitian menunjukkan rataan kolesterol tidak berbeda T0 =101,02, T1 = 102,02, T2 = 1012,30, T3 = 143,43, T4 = 130,05 mg/dl, rataan high density lipoproteintidak berbeda T0 =123,78, T1 = 152,70, T2 = 119,80, T3 = 129,18, T4 = 149,05 mg/dl, rataan trigliserida berbeda (P<0,01) T0 = 55,50, T1 = 22,19, T2 = 61,82, T3 = 24,30, T4 = 19,18 mg/dl dan rataan persentase lemak abdominal tidak berbeda T0 =1,29, T1 = 1,62, T2 = 1,98, T3 = 1,39, T4 = 1,36%. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penggunaan tepung temu kunci (Boesenbergia pandurata ROXB) dalam ransum tidak menurunkan lemak abdominal dan kolesterol serta tidak menaikkan high density lipoprotein namun dapat menurunkan kadar trigliserida darah ayam broiler.Kata Kunci: temukunci; lemak abdominal; trigliserida; kolesterol; broiler ABSTRACTThis studi aimed to determine the effect offingerroot (Boesenbergiapandurata ROXB) powder in the diet on broiler chicken of cholesterol, high density lipoprotein, triglyceride levels of blood and percentage of abdominal fat. The material used in the study were 120 broilers chick unsex, aged 7 days, mean weight 137,5 ± 16,04 g  (CV 6,36 %). Diet was divided into four, T0:was diet without fingerroot powder, T1 : diet with fingerroot powder 0,8%, T2 :diet with fingerroot powder1,2%, T3 :diet with fingerroot powder 1,6% and T4 :diet with fingerroot powder. The experimental was conducted using the completely randomized design (CRD) with 5 treatments and one 4 replications and each research unit consist of 6 chickens. Diet and water given ad libitum. The result shownthat means not defernt means of cholesterol (T0 =101,02, T1 = 102,02, T2 = 1012,30, T3 = 143,43, T4 = 130,05 mg/dl), meanshigh density lipoprotein(T0 = 123,78, T1 = 152,70, T2 = 119,80, T3 = 129,18, T4 = 149,05 mg/dl), defernt (P<0,01) meansof triglyceride(T0 = 55,50, T1 = 22,19, T2 = 61,82, T3 = 24,30, T4 = 19,18 mg/dl)and percentage of abdominal fat(T0 = 1,29, T1 = 1,62, T2 = 1,98, T3 = 1,39, T4 = 1,36%).Conclusions the use of fingerroot powder in the diet ration had no decreased abdominal fat and blood cholesterol and not increased HDL, but decreased blood triglyceride of broiler chickens.Keyword : fingerroot; triglyceride; cholesterol; abdominal fat; broiler
TINGKAT KEKENYALAN, DAYA MENGIKAT AIR, KADAR AIR, DAN KESUKAAN PADA BAKSO DAGING SAPI DENGAN SUBSTITUSI JANTUNG SAPI Chakim, Luqman; Dwiloka, Bambang; Kusrahayu, Kusrahayu
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.328 KB)

Abstract

ABSTRACT Research to determine water content, water holding capacity, tenderness and preference that substituted beef meatballs with beef heart has been done at in the Laboratory of Livestock Product Technology Faculty of Animal and Agricultural Science, Diponegoro University Semarang. Experimental design used is completely randomized design (CRD). Treatment applied is T0 = Meatballs with 100% beef, T1 = Meatballs with 90% beef and 10% beef heart; T2 = meatballs with 80% beef and 20% beef heart; T3 = 70% Meatballs with beef and 30% of beef heart. Variable that watched water content, water holding capacity, tenderness, and preference of beef meatballs were substituted with beef heart. The data obtained were processed using the analysis of the error range of 5% to determine the effect of treatment. If there is any difference in the test water content and water holding capacity then proceed to test Dual Duncan area whereas if there is a significant effect for the determination of elasticity and a fondness for beef meatballs with beef heart substitution then proceed with Test Honestly Significant Difference (HSD). The results showed that the substitution of beef meatballs with beef heart up to 30% effect on the water capacity holding, and does not affect water content, tenderness and preference for the meatballs. Conclusion of the study was 30% beef heart can be used to substitute manufacture meatballs.Keywords: meatball; beef’s heart; and water holding capacityABSTRAKPenelitian untuk mengetahui kadar air, daya mengikat air, kekenyalan dan kesukaan bakso daging sapi yang disubstitusi dengan jantung sapi telah dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diterapkan adalah T0 = Bakso dengan 100% daging sapi, T1 = Bakso dengan 90% daging sapi dan 10% jantung sapi, T2 = Bakso dengan 80% daging sapi dan 20% jantung sapi, T3 = Bakso dengan 70% daging sapi dan 30% jantung sapi. Variabel yang diamati adalah kadar air, daya mengikat air, kekenyalan dan kesukaan bakso daging sapi yang disubstitusi dengan jantung sapi. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan analisis ragam pada galat 5% untuk mengetahui pengaruh perlakuan. Apabila ada perbedaan pada uji kadar air dan daya mengikat air maka dilanjutkan dengan Uji Wilayah Ganda Duncan sedangkan apabila ada pengaruh nyata untuk penentuan kekenyalan dan kesukaan pada bakso sapi dengan substitusi jantung sapi maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi bakso daging sapi dengan jantung sapi sampai dengan 30% berpengaruh terhadap daya mengikat air, dan tidak berpengaruh terhadap kadar air, kekenyalan dan kesukaan terhadap bakso. Kesimpulan penelitian adalah 30% jantung sapi dapat dipakai untuk substitusi pembuatan bakso.Kata kunci: bakso; jantung sapi ;dan daya mengikat air
KECERNAAN LEMAK DAN MASSA LEMAK DAGING PADA AYAM KAMPUNG PERSILANGAN YANG MENDAPAT RANSUM DENGAN PENAMBAHAN UMBI BUNGA DAHLIA (Dahlia variabilis) SEBAGAI SUMBER INULIN (Fat Digestibility and Meat Fat Mass in Crossbred Native Chicken Fed Dietary Dahlia T Cholis, Muchamad Abdul; Suprijatna, Edjeng; Suthama, Nyoman
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 2 (2014): Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecernaan lemak, massa lemak daging dan pertambahan bobot badan ayam kampung persilangan yang diberi umbi bunga dahlia sebagai sumber inulin. Ternak penelitian yang digunakan adalah 280 ekor ayam yang dipelihara selama 10 minggu dengan rata-rata bobot badan 180,46±1,21 g.  Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL), dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Setiap ulangan terdiri dari 10 ekor ayam. Perlakuan menggunakan umbi bunga dahlia dalam bentuk tepung (0,4%, 0,8%, 1,2%)  dan ekstrak (0,39%, 0,78%, 1,17%). Parameter yang diukur meliputi kecernaan lemak,  massa lemak daging dan pertambahan bobot badan.  Hasil penelitian dianalisis ragam dandilanjutkan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecernaan lemak dan massa lemak daging nyata (P<0,05) dipengaruhi oleh perlakuan.  Kecernaan lemak dan pertambahan bobot badan tertinggi pada perlakuan T6 dan terendah T0 serta massa lemak daging terendah pada perlakuan T6 dan tertinggi T0. Simpulan penelitian adalah pemberian umbi bunga dahlia bentuk ekstrak pada level tertinggi  (0,78% and 1,17%) meningkatkkan kecernaan lemak dan keduanya dalam bentuk tepung maupun ekstrak menurunkkan massa lemak daging.Kata kunci : inulin; umbi bunga dahlia; kecernaan lemak; massa lemak daging ABSTRACT The purpose of the study was to determine the effect of dahlia tuber as inulin source in crossbred native chicken on fat digestibility, meat fat mass and growth. The experimental animals used were 280 birds of crossbred native chickens (10 weeks old) with initial body weight was 180.46±1.21 g. The present study was arranged in a completely randomized design (CRD) with 7 treatments and 4 replications (10 birds each). The treatments applied were level of dahlia tuber in the form of powder ( 0.4%, 0.8%, 1.2%)and extract (0.39%, 0.78%, 1.17%).  Parameters measured were fat digestibility, meat fat mass and growth.  Data were statically analyzed by anova and continued to Duncan test when the treatment effect was significant.  The result showed that fat digestibility, meat fat mass and growth was significantly affected by treatments (P<0.05).  The highest fat digestibility and growth was found in T6 and the lowest in T0.  In contrast, the highest meat fat mass was found in T0 and the lowest in T6. The conclusion is that feeding dahlia tuber at highest level (0.78% and 1.17%) increase fat digestibility, but in the form of both powder and extract decrease meat fat mass.Keyword : inulin, dahlia tuber, fat digestibility, meat fat mass
PEMANFAATAN SISA TANAMAN SAYURAN SEBAGAI KOMPONEN COMPLETE FEED TERFERMENTASI TERHADAP UREA DARAH DAN RETENSI NITROGEN DOMBA Murniastuti, Hikmah Yuli; Sutrisno, Sutrisno; Pangestu, Eko
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.782 KB)

Abstract

Vegetable plant residues (VPR) potential as a source of feed for ruminants.The study was conducted to the utilization of vegetable plant residues as a grassfor component complete feed fermentation on the blood urea and nitrogenretention in sheep. This research was conducted in a randomized block design(body weight as a blok) with 5 treatment, 4 replication. This study used 20 head ofsheep with an average body weight 10,5 ± 1,73 kg, which is divided into 5treatment rations, namely T1 : 50% VPR + 50% concentrate, T2 : 37,5% VPR +12,5% grass + 50% concentrate, T3 : 25% VPR + 25% grass + 50% concentrate,T4 : 12,5% VPR + 37,5% grass + 50% concentrate, T5 : 50% grass + 50%concentrate. The result showed no significant effect of replacing grass withvegetable plant residues on the blood urea and nitrogen retention in sheep. Theresult can be concluded that VPR can be given and subtitute grass in completefeed to offer level 50%.Keywords: vegetable plant residues, blood urea, nitrogen retention

Page 11 of 34 | Total Record : 340