cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Animal Agricultural Journal
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
PENGARUH PENAMBAHAN BANGLE (Zingiber cassumunar) DALAM RANSUM TERHADAP BOBOT BURSA FABRICIUS DAN RASIO HETEROFIL LIMFOSIT AYAM BROILER Rokhmana, Listyana Dwi; Estiningdriati, Ismari; Murningsih, Wisnu
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.289 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bangle (Zingiber cassumunar) dalam ransum ayam broiler terhadap bobot bursa fabricius dan rasio heterofil limfosit. Materi yang digunakan adalah ayam broiler “unsex” strain Lohmann dari PT. Multibreeder Adirama Indonesia, Tbk. umur 14 hari dengan bobot badan 405,25 ± 38,30 g sebanyak 200 ekor. Penelitian dilakukan menggunakan ransum yang tersusun berdasarkan kandungan energi metabolis 3067,56 kkal/kg, protein kasar 21,00%, dan lemak kasar 9,1% dengan bahan pakan meliputi jagung kuning, dedak halus, bungkil kedelai, Poultry Meat Meal (PMM), premix, minyak kelapa dan bangle. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan (T0, T1, T2, T3) dan 5 ulangan (U1, U2, U3, U4, U5) setiap ulangan terdiri dari 10 ekor ternak. Ransum perlakuan yang diberikan adalah T0 (ransum basal), T1 (ransum basal + tepung bangle 1,5%), T2 (ransum basal + tepung bangle 3%), T3 (ransum basal + tepung bangle 4,5%). Parameter yang diukur adalah konsumsi ransum, bobot bursa fabricius, rasio heretofil limfosit (Rasio H/L) serta pertambahan bobot badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ransum tidak berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap konsumsi ransum, bobot bursa fabricius, rasio H/L dan pertambahan bobot badan ayam broiler. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penambahan tepung bangle sampai level 4,5% pada ransum ayam broiler menghasilkan konsumsi ransum, bobot bursa fabricius, rasio heterofil limfosit, dan pertambahan bobot badan yang sama. Perlu dikaji lebih lanjut level penambahan bangle dalam ransum ayam broiler. Penelitian selanjutnya perlu dilakukan analisis kandungan zat aktif pada bangle untuk mengetahui batas pemberian bangle, terkait dengan kandungan antinutrisi dari bangle.Kata kunci : ayam broiler, bangle, bursa fabricius, heterofil, limfosit.ABSTRACT The study aim to determine the effect of addition Bangle (Zingiber cassumunar) in broiler ration to bursa fabricius weight and heterophile lymphocyte ratio. The material used are 200 broiler "unsex" Lohmann strain from PT. Multibreeder Adirama Indonesia, Tbk. age of 14 days with weight 405,25 ± 38,30 g. The study used ration based on 3067.56 kcal/kg metabolic energy, 21.00% crude protein, 9.1% extract ether with ration ingredients yellow corn, fine bran, soybean meal, Poultry Meat Meal (PMM), premix, coconut oil and bangle (Zingiber cassumunar). The research used completely randomize design (CRD) with 4 treatments and 5 replicates each replication consisted of 10 broiler. Ration treatment given is T0 (control ration), T1 (ration + 1.5% bangle), T2 (ration + 3% bangle), T3 (ration + 4.5% bangle). Parameters measured were ration intake, weight of bursa fabricius, heretophile lymphocyte ratio (H/L ratio), and body weight gain. The results showed that the treatment had no significant effect (P<0.05) to ration intake, weight of bursa fabricius, H/L ratio and body weight gain. Based on the results of the study concluded that ration intake, weight of bursa fabricius, H/L ratio, and body weight gain are same at the addition of bangle meal up to 4.5% in broiler ration. This study needs more experiment of addition level in broiler ration and analysis of active material in bangle, including antinutrition, to discover the limit of addition level.Key word: broiler : broiler, bangle, bursa fabricius, heterophile, lymphocyte.
PENGARUH PEMBERIAN DAUN UBI JALAR (Ipomea batatas) DALAM RANSUM TERHADAP PERBANDINGAN DAGING TULANG DAN MASSA PROTEIN DAGING PADA AYAM BROILER (Influence The Granting of Leaves Of Sweet Potato (Ipomea Batatas) in Comparison to Ration Meat Bones and The Me Iqbal, Feriyan Cesarudin; Sarengat, Warsono; Mahfudz, Luthfi D.
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 3 (2014): Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.85 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh pemberian tepung daun ubi jalar terhadap perbandingan daging tulang dan masa protein daging pada ayam broiler. Penelitian menggunakan 112 ayam broiler jantan umur 20 hari dengan bobot badan rata-rata 845,20 ± 39,73 gram dan CV = 4,68%. Ransum perlakuan terdiri dari 7 jenis ransum, yaitu tanpa menggunakan tepung daun ubi jalar (T0), penggunaan 1% tepung daun ubi jalar hijau (T1), 2 % tepung daun ubi jalar hijau (T2), 3 % tepung daun ubi jalar hijau (T3), 1% tepung daun ubi jalar ungu (T4), 2 % tepung daun ubi jalar ungu (T5), 3 % tepung daun ubi jalar ungu (T6). Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan masing-masing unit percobaan berisi 4 ekor ayam broiler. Parameter yang diamati meliputi bobot karkas, bobot daging, bobot tulang, perbandingan daging tulang, dan masa protein daging ayam broiler yang diambil pada akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan tepung daun ubi jalar hijau dan ungu dalam ransum ayam broiler tidak berbeda nyata (P>0,05) pada bobot karkas, bobot daging, bobot tulang, perbandingan daging tulang, dan masa protein daging.Kata kunci : ayam broiler; daun ubi jalar hijau dan ungu; karkas; daging; tulang; perbandingan daging tulang; massa protein daging ABSTRACT Research was aimed to know the influence of leaves of sweet potato meal in the diet on the meat and bones ratio and mass protein meat on the broiler. Research using one hundred twelve chicken male, 20 days of age with average weights 845.20 ± 39.73 gram and cv = 4.68 %. Treatment ratio was is consist of 7 types of rations, i.e. without using the leaves of the sweet potato meal (T0), using 1% of green leaf sweet potato meal (T1), 2% of green leaf sweet potato meal (T2), 3% of green leaf sweet potato meal (T3), 1% of purple leaf sweet potato meal (T4), 2% of purple leaf sweet potato meal (T5), 3% of purple leaf sweet potato meal (T6). Experimental design using a Completely Randomized Design (CRD) with 7 treatments and four replicates of each experimental unit contains 4 broiler chickens. The parameters were use weights, carcass weights, bone weights, meat bone ratio, mass protein meat. The results showed the use of sweet potato green leaves and purple leaves sweet potatoes in chicken broiler rations do not differ markedly (P>0.05) on carcass weights, weights of meat, bone weights, bone, and flesh of the comparison of the protein meat.Keyword : broiler chicken; sweet potato leaves are green and purple; carcass; meat; bones; meat bone ratio; meat is the comparison of protein meat
PENGARUH PROPORSI PEMBERIAN PAKAN PADA SIANG MALAM HARI DAN PENCAHAYAAN PADA MALAM HARI TERHADAP PRODUKSI KARKAS AYAM BROILER Fijana, Martha Ferwad; Suprijatna, Edjeng; Atmomarsono, Umiyati
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.286 KB)

Abstract

Adverse effects of feeding at high ambient temperatures during the day needs to be addressed. One of them is to reduce the proportion of feeding during the day and optimize feeding at night with cooler temperatures and cold environments. Giving light on broiler chickens depending on the management of maintenance depends on the intensity, duration of administration. The material used in this study was 300 chickens weighing 45.01 ± 4.67 g day old chicks (DOC) stain Ross CP 707 from PT. Charoen Pokphan. Chicken research is divided over the treatment of feed with two treatments and light treatments with three treatments each performed 5 replicates, each experimental unit consisted of 10 cows. The parameters observed were broiler feed intake, final body weight, carcass weight, carcass percentage. The data were processed and analyzed with an analysis of the range and tested by F-test, there was a significant effect (p <0.05) between treatments done Ganda Duncan Regional Test level 5%. The results of statistical analysis showed that the proportion of feeding during the evening and at night the lighting program, had no effect (P <0.05) for consumption, final body weight and carcass weight, and there are interactions on carcass percentage. The conclusions obtained in this study is the effect of the proportion of the feed with the old lighting at night had no effect on feed intake, final body weight and carcass weight but there are interactions on carcass percentage, increasing the proportion of feeding at night will increase the percentage of carcasses in line with the increase light at night.Key words : Broier, Lighting, Feeding ProportionABSTRAKDampak buruk pemberian pakan pada suhu lingkungan yang tinggi di siang hari perlu diatasi. Pemberian cahaya pada ayam broiler tergantung pada menajemen pemeliharaan tergantung pada intensitas, lama pemberian. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah 300 ekor ayam dengan bobot badan 45,01 ± 4,67 gram day old chicks (DOC) stain Ross CP 707 dari PT. Charoen Pokphan. Ayam penelitian dibagi atas perlakuan pakan dengan dua perlakuan dan perlakuan cahaya dengan tiga perlakuan yang masing-masing dilakukan 5 ulangan, setiap unit percobaan terdiri dari 10 ekor. Parameter yang diamati meliputi konsumsi pakan ayam broiler, bobot badan akhir, bobot karkas, persentase karkas. Data hasil penelitian diolah dan dianalisis dengan analisis ragam dan diuji dengan uji-F, ada pengaruh nyata (p<0,05) antar perlakuan dilakukan Uji Wilayah Ganda Duncan pada taraf 5%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa proporsi pemberian pakan siang malam hari dan program pencahayaan pada malam hari,tidak berpengaruh (P<0,05) terhadap konsumsi, bobot badan akhir dan bobot karkas, dan terdapat interaksi pada persentase karkas. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian adalah pengaruh proporsi pemberian pakan dengan lama pencahayaan di malam hari tidak berpengaruh terhadap konsumsi pakan, bobot badan akhir dan bobot karkas tapi terdapat interaksi pada persentase karkas, semakin meningkat proporsi pemberian pakan pada malam hari akan meningkatkan persentase karkas sejalan dengan meningkatkan cahaya pada malam hari.Kata kunci : Broiler, Pencahayaan, Proporsi Pakan
PENGARUH SISTEM KANDANG BERTINGKAT DAN PENGGUNAAN AMPAS TEH DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMAN PUYUH PETELUR (Coturnix coturnix japonica) The Effect Of Tier Cage System And Diet Tea’s Waste On The Performance Of Layer Quail (Coturnix coturnix japonica) Mahmudah, Nina; Sarengat, Warsono; Suprijatna, Edjeng
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.212 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan mengetahui interaksi antara sistem kandang bertingkat dan penggunaan ampas teh dalam ransum terhadap performan puyuh  petelur. Materi yang digunakan adalah 225 ekor puyuh petelur Coturnix coturnix japonica dengan bobot badan rata-rata 122 + 8,56 g (CV = 7,03%).  Bahan ransum terdiri dari bekatul, jagung kuning, bungkil kedelai, Poultry Meat Meal, tepung kerang dan ampas teh.  Kandang yang digunakan adalah kandang sistem koloni sebanyak 45 unit.  Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah rancangan RAL dengan pola Split Plot terdiri dari tiga ulangan. Tingkat kandang (L) sebagai petak utama terdiri dari tingkat kandang 1 (L1), tingkat kandang 2 (L2), tingkat kandang 3 (L3), tingkat kandang 4 (L4), tingkat kandang 5 (L5) dan level penggunaan ampas teh (T) sebagai anak petak terdiri dari T1: 1,5%, T2: 3%, dan T3: 4,5%.  Hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi (P>0,05) antara sistem kandang bertingkat dan penggunaan ampas teh dalam ransum terhadap performan puyuh petelur.  Perlakuan lantai kandang menunjukkan tidak adanya pengaruh nyata (P>0,05) dan perlakuan level ampas teh juga tidak berpengaruh nyata (P>0,05).  Kesimpulan penelitian adalah ampas teh mengandung antioksidan namun belum mampu meredam cekaman panas yang disebabkan oleh suhu iklim tropis dan penggunaan kandang bertingkat sehingga performan yang ditunjukkan puyuh belum optimal. Kata kunci: puyuh petelur; tingkat kandang; ampas teh; performan ABSTRACT This study aims to determined interaction of tier cage system and diet tea’s waste on the performance of layer quail.  The material used was 225 layer quail with an average weight  122 + 8,56 g (CV=7,03%).  Feed used in the formulation of diet is rice bran, yellow corn, soybean meal, poultry meat meal, shells meal and tea’s waste.  The experimental design used was completely randomized design with split plot consisting of three replicates.  Tier cage system (L) as the main plot consists is 5 level oftier. L1: level one of the cage, L2: level two, L3: level three, L4: level four, L5: level five and tea’s waste level (T) as the sub plot consists of T1:1,5%, T2:3%, dan T3:4,5%.  The results showed that there were no interaction effect between tier cage system and diet tea’s waste on the performance of layer quail (P>0,05). The treatment of tier cage system not significantly different (P>0,05) and the treatment of tea’s waste levels showed not significantly different on the performance of layer quail (P>0,05). The conclution is tea’s waste consist antioksidan but that have not been able to reduce heat stress so that quail performance is not optimal.Keyword : layer quail; tier cage system; tea’s waste; performance. 
HUBUNGAN ANTARA UKURAN-UKURAN TUBUH DENGAN BOBOT BADAN KAMBING JAWARANDU BETINA PADA KELOMPOK UMUR MUDA DAN DEWASA DI KABUPATEN BLORA JAWA TENGAH (The CorrelationbetweenBody Measurements and Body Weightof Young and Adult Female Jawarandu Goatsin Blora Reg Nurhayati, Rida; Dilaga, I Wayan Sukarya; Lestari, C.M. Sri
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 4 (2014): Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.021 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui korelasi atau hubungan antara bobot badan dengan ukuran-ukuran tubuh kambing Jawarandu betina pada kelompok umur muda dan dewasa di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Materi 164 ekor kambing Jawarandu betina yang dibedakan menjadi 83 ekor untuk kelompok muda dan 81 ekor untuk kelompok dewasa. Metode penelitian survei dan pemilihan lokasi menggunakan teknik purposive sampling. Ukuran tubuh yang diukur lingkar dada (LD), lebar dada (LbDd), dalam dada (DlDd), panjang badan (PB), tinggi pundak (TP), lebar pinggul (LbPg), tinggi pinggul (TgPg) dan bobot badan (BB). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata bobot badan dan semua variabel ukuran tubuh pada semua kelompok umur berbeda sangat nyata (P<0,01). Hasil perhitungan uji korelasi menunjukkan nilai korelasi yang sangat nyata (P<0,01) baik pada kelompok umur muda dan dewasa. Pada kelompok umur muda semua variabel tubuh mempunyai nilai korelasi yang sangat kuat terhadap bobot badan yakni berkisar 0,847-0,954. Namun, kelompok umur dewasa hanya lingkar dada dan panjang badan yang mempunyai korelasi yang sangat kuat dengan bobot badan (0,876) dan (0,818). Korelasi antara bobot badan dengan ukuran tubuh yang lain seperti dalam dada, tinggi pundak, lebar pinggul serta tinggi pinggul pada kelompok umur dewasa mempunyai korelasi yang kuat yaitu 0,653-0,736, sedangkan lebar dada mempunyai korelasi yang sedang (0,532). Kesimpulan dari penelitian semua variabel ukuran tubuh kelompok umur muda dapat digunakan untuk menduga bobot badan, sedangkan pada kelompok umur dewasa hanya variabel lingkar dada dan panjang badan yang dapat digunakan sebagai penduga bobot badan.Kata kunci:   Angka korelasi;  Bobot badan;  Kambing Jawarandu betina; Ukuran-ukuran tubuh. ABSTRACT This research was aimedto analyze the correlation between body measurements and body weight of young and adult female Jawarandu goats in Blora Regency. The goats used in this research were 164 females Jawarandu goats divided into two groups. The number of young aged group were 83heads while the adult group was 81 heads. The research used survey andpurposive sampling methods. The parameters measured were the chest girth,chest width, chest depth,body length, shoulder height,hip width, hip height and body weight of Jawarandu goats females. The result showed that the body measurement of all age groups were highly significant (P<0.01). The correlation between body measurement and body weight all age groups showed highly significant(P<0.01). Correlation of body weight and body measurements of female Jawarandu goats in the young group had the highest value of 0.847-0.954. However, in the adult age group chest girth and body length were highly correlated with body weight, being 0.818 and 0.876 respectives.The correlation between another body measurement and body weight such as chest depth, shoulder height, hip width, and hip height at adult age group had a strong correlation (0.653 to 0.736), except the chest width had a moderate correlation (0.532). The conclusion of this study were all body measurements at young age group could be used to estimate body weight of female Jawa randu goats, where as on the adult age group only chest girth and body length that could be used for estimate the body weight.Keywords: Correlations;Body weight; Body measurements;  Female Jawarandu goats.
PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK TERHADAP TRIGLISERIDA DARAH, LEMAK ABDOMINAL, BOBOT DAN PANJANG SALURAN PENCERNAAN AYAM KAMPUNG Sarwono, Satria Rizki; Yudiarti, Turrini; Suprijatna, Edjeng
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.563 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh pemberian probiotik dalam ransum terhadap kadar trigliserida darah, berat lemak abdominal, serta bobot dan panjang organ pencernaan ayam kampung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2011 di kandang unggas di Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang.  Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah Day Old Chick (DOC) ayam kampung sebanyak 200 ekor dengan bobot badan awal rata-rata 33,58 ± 0,8 gram. Probiotik yang digunakan yaitu jenis kapang dengan dosis masing-masing 0,25 g dan 0,50 g, dan 0.75 g per 100 g ransum. Pakan yang digunakan memiliki kandungan energi termetabolit 2750,000 kkal, protein kasar 20,900 %, lemak 6,260 %. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 5 ulangan, masing-masing unit percobaan 20 ekor. Perlakuan yang diterapkan pada penelitian ini adalah penambahan 0,25 g probiotik / 100 g ransum untuk T1, penambahan 0,50 g probiotik / 100 g ransum untuk T2, penambahan 0,75 g probiotik / 100 g ransum untuk T3, dan T0 tanpa penambahan probiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian probiotik dalam ransum berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar trigliserida darah. Pada perlakuan T3 didapati bahwa kadar trigliserida darah paling rendah dan berbeda nyata dengan T0, T1, maupun T2. Berat lemak abdominal pada perlakuan T1, T2, T3 tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap kontrol (T0). Bobot organ pencernaan pada perlakuan T0 berbeda nyata (P<0,05) terhadap T2, namun tidak berbeda nyata dengan T1 dan T3. Panjang organ pencernaan pada T0 tidak berbeda nyata terhadap T1, T2, maupun T3. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian probiotik dalam ransum ayam kampung mampu menurunkan kadar trigliserida darah, namun tidak mempengaruhi berat lemak abdominal. Pemberian probiotik dalam ransum ayam kampung mampu menaikkan berat organ pencernaan, namun tidak pada panjang organ. Kadar trigliserida darah paling rendah diperoleh pada pemberian probiotik taraf 0,75 g/100 g (T3). Bobot organ pencernaan paling tinggi diperoleh pada pemberian probiotik taraf 0,50 g/100 g (T2).Kata kunci: probiotik, perlemakan, organ pencernaan, ayam kampung ABSTRACTThe objectives of this study were to evaluate the effects of probiotics in the ration on levels of serum triglycerides, abdominal fat weight, the weight and length of chicken digestive organs. The research was conducted in October through December 2011 in the poultry cage of Faculty of Animal Husbandry and Agriculture, Diponegoro University, Semarang.The material used in this study is Day Old Chick (DOC) of 200 chicken with initial body weight of an average of 33.58 ± 0.8 grams. Probiotics used are type of mold with each dose of 0.25 g, 0.50 g, and 0.75 g per 100 g ration. The feed used in this study has metabolizable energy (ME) 2750 kcal, 20.9% crude protein, 6.260% fat. Experimental design used was completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments with 5 replicates, each experimental unit 20. Treatment applied in this study is the addition of 0.25 g probiotic / 100 g ration for T1, the addition of 0.50 g probiotic / 100 g ration for T2, the addition of 0.75 g probiotic / 100 g ration for T3, and T0 without probiotics addition.The results showed that addition of probiotics in the ration significantly affected (P <0.05) the levels of serum triglycerides. In treatment T3 was the lowest levels of serum triglycerides and significantly different from T0, T1, and T2. Abdominal fat weight in treatment T1, T2, T3 was not significantly different (P> 0.05) to the control (T0). Digestive organ weights in treatment T0 significantly different (P <0.05) for T2, but not significantly different from T1 and T3. The length of the digestive organs are not significantly different at T0 to T1, T2, and T3. The conclusion of this research is the use of probiotics in chicken rations is capable in lowering serum triglyceride levels but did not affect the weight of abdominal fat. Adding probiotics in chicken rations can increase the digestive organ weight, but not on the length of the organ. The lowest serum triglyceride levels obtained at the level probiotics 0.75 g/100 g (T3). Digestive organ weights obtained at the highest level of probiotics 0.50 g/100 g (T2).Key words: probiotics, fatty, digestive organs, kampong chicken
POTONGAN KOMERSIAL DAN KOMPONEN KARKAS KAMBING KACANG JANTAN UMUR 1-1,5 TAHUN DENGAN PEMELIHARAAN TRADISIONAL ( STUDI KASUS DI KECAMATAN WIROSARI KABUPATEN GROBOGAN ) Commercial Cuts and Carcass Components of Kacang Bucks Aged 1-1.5 Years Old Reared Tradi TIKA SARI, RIFA
Animal Agriculture Journal Vol 5, No 2 (2016): Vol 5, No 2 (2016): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2016
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.684 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji produksi karkas kambing Kacang yang dipelihara peternak secara tradisional di Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan. Materi yang digunakan adalah 10 ekor kambing Kacang jantan umur berkisar 1-1,5 tahun, dengan bobot potong antara 10,18-19,11 kg. Ternak didapatkan dari peternak di Kecamatan Wirosari, dengan latar belakang pakan yang sama. Penelitian menggunakan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kambing Kacang jantan umur berkisar 1-1,5 tahun, dengan bobot potong antara 10,18-19,11 kg (14,60 + 2,84 kg) menghasilkan bobot karkas panas 5,66 + 1,16 kg (38,79 + 2,41%), dengan potongan komersial yaitu neck 7,11%; shoulder 19,45%; rib 7,60%; loin 8,86%; breast 10,26%; leg 31,61%; flank 1,79% dan fore shank 13,32%.Simpulan penelitian ini adalah karkas kambing Kacang jantan umur 1-1,5 tahun yang dipelihara peternak secara tradisional di Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan memiliki produksi rendah, yang dapat dilihat dari potongan komersial dan komponen karkas kambing Kacang jantan. 
NISBAH DAUN BATANG, NISBAH TAJUK AKAR DAN KADAR SERAT KASAR ALFALFA (Medicago sativa) PADA PEMUPUKAN NITROGEN DAN TINGGI DEFOLIASI BERBEDA Rahmawati, Viata; Sumarsono, Sumarsono; Slamet, Widyati
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.282 KB)

Abstract

ABSTRACTThe study aimed to determine the effect of nitrogen fertilization and defoliation of different height to the leaf stem ratio, shot root ratio and crude fiber content in alfalfa plants (Medicago sativa). This research used factorial randomized block design (FRBD) 4x2 with 3 replicate. The main factor is the dose of nitrogen fertilization (0, 30, 60, 90 kg N/ha), the second factor is the heigth of the defoliation (5 and 10 cm). Parameters measured were leaf stem ratio, shot root ratio and crude fiber content of alfalfa. The results showed that there was no effect of nitrogen fertilization and defoliation high contrast ratio of leaf to stem, shot root ratio and crude fiber content of alfalfa. Data were analyzed with the results of research based on the F test of variance procedure and Duncan's multiple range test. The results showed that there was no effect of nitrogen fertilization and different defoliation height to leaf stem ratio, shoot root ratio and crude fiber of alfalfa. There are indication that leaf stem ratio and shoot root ratio obtained the best results in the treatment of nitrogen fertilization of 30 kg N/ha and defoliation height of 5 cm.Keywords: alfalfa, nitrogen fertilization, high defoliation, leaf stem ratio, shot root ratio, crude fiberABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan nitrogen dan tinggi defoliasi yang berbeda terhadap nisbah daun batang, nisbah tajuk akar dan kadar serat kasar pada tanaman alfalfa (Medicago sativa). Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial 4x2 dengan 3 ulangan. Faktor utama adalah dosis pemupukan nitrogen (0, 30, 60, 90 kg N/ha), faktor kedua adalah tinggi defoliasi (5 dan 10 cm). Parameter yang diamati adalah nisbah daun batang, nisbah tajuk akar dan kadar serat kasar alfalfa. Data diolah dengan menggunakan analisis ragam dan uji wilayah ganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh pemberian pemupukan nitrogen dan tinggi defoliasi berbeda terhadap nisbah daun batang, nisbah tajuk akar dan kadar serat kasar alfalfa. Ada indikasi nisbah daun batang dan nisbah tajuk akar hasil terbaik diperoleh pada perlakuan pemupukan nitrogen 30 kg N/ha dan tinggi defoliasi 5 cm.Kata kunci: alfalfa, pemupukan nitrogen, tinggi defoliasi, nisbah daun batang, nisbah tajuk akar, serat kasar
Kecernaan Lemak Kasar dan Energi Metabolis pada Itik Magelang jantan yang Diberi Ransum dengan Level Protein dan Probiotik Berbeda Pramudia, Arista; Mangisah, Istna; Sukamto, Bambang
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 4 (2013): Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.016 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh level protein dan probiotik pada ransum itik magelang jantan periode grower terhadap kecernaan lemak kasar dan energi metabolis ransum.Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai informasi dalam penggunaan level protein dan probiotik yang tepat dalam ransum itik. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 2x3 dengan 6 perlakuan dan 5 ulangan. Faktor pertama adalah level protein ransum yaitu ransum standar dengan PK 18% (T1) dan ransum sub optimal dengan PK 16% (T2), faktor kedua adalah level penambahan probiotik yaitu 0% (V0), 1,5% (V1) dan 2% (V2). Parameter yang diamati adalah konsumsi ransum, kecernaan lemak kasar, energi metabolis serta pertambahan bobot badan harian (PBBH).  Materi penelitian adalah 150 ekor Itik Magelang jantan yang berumur 2 minggu dengan bobot badan awal rata-rata 191,63±3,65 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada interaksi nyata (p<0,05) antara level protein dan probiotik terhadap semua parameter penelitian. Level protein ransum tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap konsumsi ransum. Level protein tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap kecernaan lemak kasar dengan T1 dan T2 secara berturut-turut sebesar 69,69% dan 67,62%. Level protein nyata (p<0,05) meningkatkan energi metabolis dengan T1 2858,39 kkal/kg lebih tinggi dibandingkan T2 2570,31 kkal/kg dan pertambahan bobot badan harian T1 19,01 g/ekor lebih tinggi daripada T2 16,07 g/ekor. Level probiotik memberikan pengaruh nyata (p<0,05) terhadap semua parameter.
KADAR PROTEIN KASAR DAN SERAT KASAR ECENG GONDOK SEBAGAI SUMBER DAYA PAKAN DI PERAIRAN YANG MENDAPAT LIMBAH KOTORAN ITIK Wati, Risna; Sumarsono, Sumarsono; Surahmanto, Surahmanto
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.063 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan mengkaji pengaruh penambahan limbah kotoran itikterhadap protein kasar dan serat kasar eceng gondok. Penelitian dilaksanakan dirumah kaca (Glasshouse) Laboratorium Ilmu Tanaman Makanan Ternak, FakultasPeternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang. Analisis proteinkasar dan serat kasar eceng gondok dilakukan di Universitas KatolikSoegijapranata, Semarang. Rancangan percobaan yang digunakan RancanganAcak Lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, dengan persentase limbahkotoran itik yang berbeda pada setiap media tanam. P1 0 g/l, P2 5 g/l, P3 10 g/l,P4 15 g/l, dan P5 20 g/l. Parameter yang diamati adalah protein kasar dan seratkasar eceng gondok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan limbahkotoran itik yang berbeda pada media tanam memberikan pengaruh secara nyata(P≤0,05) terhadap kandungan protein kasar. Kadar protein kasar eceng gondoktertinggi adalah 12,99% dan tidak berpengaruh secara nyata (P≥0,05) terhadapkadar serat kasar. Rata-rata kadar serat kasar eceng gondok adalah 21,22%. Hasiltersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis limbah kotoran itik yangdiberikan maka akan meningkatkan kadar protein kasar dan tidak berpengaruhterhadap kadar serat kasar.Kata kunci : eceng gondok, protein kasar, dan serat kasar.