cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Animal Agricultural Journal
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
PENGARUH JUMLAH PAKAN YANG BERBEDA TERHADAP KONDISI FISIOLOGI KAMBING KACANG (The Effect of Different Feeding Level on Physiological Condition of Kacang Goat) Dhuhitta, Aryya Mulya; Sukarno, Sularno Darto; Purnomoadi, Agung
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 4 (2014): Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.29 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruhjumlah pakan yang berbeda terhadap fisiologi kambing Kacang. Materi yang digunakan adalah kambing kacang jantan dengan umur muda dan dewasa. Bahan pakan yang diberikan berupa complete feed (bentuk pelet) dengan kandungan protein kasar(PK) sebesar 18,8% dantotal digestible nutrients (TDN) sebesar 76,29% yang tersusun dari tangkai gandum, molases, bekatul dan bungkil kedelai. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap pola tersarang (nested design) dengan 2 kelompok umur dan 2 level pemberian pakan yang tersarang pada setiap kelompok umur. Parameter yang diamati pertambahan bobot badan harian(PBBH), kosumsi bahan kering(BK), suhu rektal, denyut nadi, frekuensi nafas. Pakan diberikan 2x sehari pada pukul 08.00 dan 17.00. Pengambilan data fisiologis dilakukan pada pukul 05.00, 10.00, 14.00 dan 19.00 seminggu 2x. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bobot badan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) pada kondisi fisiologis kambing Kacang,tetapi berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi BK dan PBBH.  Levelpakan menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) pada denyut nadi dan frekuensi nafas, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap PBBH dan suhu rektal kambing Kacang. Simpulan hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan konsumsi BK menyebabkan peningkatan denyut nadi dan frekuensi napas untuk menjaga agar suhu tubuh tetap normal.Kata Kunci : Denyut nadi; Frekuensi nafas; Kambing Kacang;  Suhu rektal ABSTRACT The aim of this research was to knowthe effect of different feeding level on physiologicalcondition of Kacang goat. Animal used were16 heads of Kacang goat divided into 2 groups young and old age (8 heads) each. The goats were fed a complete feed (pellets) composed of wheat stalk, molasses, rice bran and soybean meal formulated to contain 18.8% crude protein (CP) and 76.29% total digestible nutrients (TDN). A nested design of completely randomized design was appllied in this study for two age groups and two levels of feeding that nested in each age group. Parameters observed were daily gain, feed intake, rectal temperature, pulse, and breathing frequency. Feed was given twice daily at 08:00 and 17:00, and on the following day therest of feed was weighed to calculate feed intake. Physiological data was done at 05:00, 10:00, 14:00 and 19:00 twice a week. The results of this study showed that body weight was not significantly (P>0.05) affect the physiological oscilation of the Kacang goat but significantly (P<0.01) affect the feed intake and daily body weight gain. Feed intake showed a significantly effect (P<0.01) on the pulse and breathing frequency, but not significantly effect (P>0.05) on the rectal temperature PBBH and Kacang goats. The conclusion of this study showed that the differentiation of Dry Matter (DM) consumption affected the increasing of pulse and breathing frequency to kept a normal rectal temperature.Key words: pulse; breathing frequency; rectal temperature;Kacang goat.
KECERNAAN DAN PRODUKSI VOLATILE FATTY ACID PAKAN KOMPLIT YANG MENGANDUNG TEPUNG KEDELAI DENGAN PERLAKUAN PEMANASAN SECARA IN VITRO Pujowati, Ayu; Sutrisno, Sutrisno; Pangestu, Eko
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.861 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui kecernaan dan produksi VFA pakan komplit yang mengandung tepung kedelai dengan perlakuan pemanasan secara in vitro. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Makanan Ternak, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan terdiri dari T0: pakan komplit dengan kandungan kedelai tanpa pemanasan, T1: pakan komplit dengan kandungan kedelai (pemanasan suhu 50oC), T2: pakan komplit dengan kandungan kedelai (pemanasan suhu 60oC), T3: pakan komplit dengan kandungan kedelai (pemanasan suhu 70oC). Parameter yang diamati adalah kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik dan produksi volatile fatty acid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemanasan tepung kedelai berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap nilai KcBK dan KcBO tetapi tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap nilai produksi VFA. Adapun rataan KcBK masing-masing 58,75; 57,93; 60,71; 64,55%. Rataan KcBO masing-masing 63,94; 62,98; 63,60; 68,73%. Produksi VFA masing-masing 94, 144, 198, 92 mM. Disimpulkan bahwa pakan komplit yang mengandung kedelai dengan perlakuan pemanasan pada suhu 70oC mempunyai pengaruh terbaik terhadap kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik tetapi tidak berpengaruh terhadap produksi VFA.Kata kunci : kecernaan, VFA, pemanasan, tepung kedelaiABSTRACTThe aim of this experiment to determine digestibility and volatile fatty acid production the complete feed that content by soybean meal with heating treatment in vitro, and was conducted at the Laboratory of Food Animal Science, Faculty of Animal Agriculture and Agronomy, Diponegoro University, Semarang. The experiment used completely randomized design with 4 treatment and 5 replications. The treatments applied were as follow T0 : complete feed with soybean meal without a warm-up, T1 : complete feed with soybean meal (heating 50oC), T2 : complete feed with soybean meal (heating 60oC), T3 : complete feed with soybean meal (heating 70oC). Parameters of the study is digestibility and production of volatile fatty acid. The results showed that the heating treatments of soy flour significantly (p<0,05) of digestibility of dry matter and digestibility of organic material but not significant (p> 0.05) to the value of VFA production. In daily intake rate: DDM each for 58.75; 57.93; 60.71; 64.55%, DOM each for 63.94; 62.98; 63.60; 68.73%. VFA production each for 94, 144, 198, 92 mM. It was concluded that complete feed that content by soybean meal with heating treatment at 70oC have the best effect of DDM and DOM but not significantly affect VFA production.Key words : digestibility, VFA, the heating, soybean meal
PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN B KOMPLEKS TERHADAP PENYUSUTAN BOBOT BADAN AKIBAT TRANSPORTASI PADA KAMBING KACANG UMUR MUDA DAN DEWASA (Effect of Vitamin B Complex on Body Weight Shrinkage as a Result of Transportation at Young and Mature Kacang Goa Hadad Gibran, Edo Muhamad; Sukarno, Sularno Darto; Purnomoadi, Agung
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.242 KB)

Abstract

ABSTRAK           Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian vitamin B kompleks terhadap penyusutan bobot badan akibat transportasi selama 7 jam pada kambing Kacang umur muda dan dewasa. Materi yang digunakan adalah 16 ekor kambing Kacang jantan dengan kisaran bobot 13,04 ± 2,31 kg (CV = 17,6825),dan vitamin B kompleks injeksi. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola tersarang (nested design) untuk 2 kelompok, 2 perlakuan dan 4 ulangan. Kelompok percobaan dalam penelitian ini adalah kelompok muda (bobot 11,14 ± 1,63) kg dan kelompok dewasa (bobot 14,943 ± 0,71 kg) yang masing-masing mendapat perlakuan berupa tanpa pemberian vitamin B kompleks (T0) dan dengan pemberian vitamin B kompleks (T1). Transportasi dilakukan dari jam 9.00-16.00 dengan jarak tempuh ±300 km. Parameter yang diamat adalah bobot awal dan bobot akhir untuk menghitung penyusutan bobot badan dan bobot feses. Hasi lpenelitian menunjukkan bahwa penyusutan bobot badan kambing pada T0 dan T1 pada umur muda maupun dewasa tidak berbeda nyata (p>0,05), begitu juga dengan keluaran bobot fesesnya. Simpulan dari penelitian ini adalah vitamin B kompleks tidak mempengaruhi penyusutan bobot badan akibat transportasi pada kambing Kacang umur muda dan dewasa.Kata kunci: kambing Kacang; penyusutan; transportasi; vitamin B kompleks ABSTRACT           This study aimed to assessthe effect of vitamin B complex to the shrinkage of body weight due to 7 hours transportation at a young and mature age of Kacang goats. The materials used were16 male Kacang goats at average body weight (BW)  of13.04 ± 2.31 kg (CV = 17.6825) and vitamin B complex injection were used in this study.  The experimental design used was a completely randomized design nested design for 2 groups, 2 treatments and 4 replications. Experimental groups in this study were young group (BW of 11.14 ± 1.63 kg) and adult group (BW of 14.94 ± 0.71 kg) in which each group were treated without(T0) and with giving vitamin B complex (T1). Transportation was conducted from 9:00 to 16:00 at a distance of ± 300 km. Parameters observed include the initial BW and final BW to calculate BW shrinkage and fecal weight. The results showed that the shrinkage of BW at T0 and T1 goats at young age and mature were not significantly different (p> 0.05), as well as the weight of feces excreted. The conclusion of this study was vitamin B complex did not affect body weight shrinkage as a result of transportation at young and mature Kacang goats.Key word :Kacang goat; shrinkage; transportation; vitamin B complex
MASSA KALSIUM DAN PROTEIN DAGING PADA AYAM ARAB PETELUR YANG DIBERI RANSUM MENGGUNAKAN Azolla microphylla Maharani, Putri; Suthama, Nyoman; Wahyuni, Hanny Indrat
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.894 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Azolla microphylla dalam ransum ayam Arab petelur terhadap massa kalsium dan protein daging. Manfaat penelitian dapat memberikan informasi mengenai pemanfaatan A. microphylla sebagai bahan ransum ayam Arab petelur. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian A. microphylla level berbeda (0%, 3%, 6% dan 9%). Parameter yang diamati adalah massa kalsium daging, massa protein daging, dan produksi telur. Materi yang digunakan adalah 80 ekor ayam Arab petelur (umur ± 9 bulan) dengan rata-rata bobot badan 1125±124,52g. Penyusunan ransum perlakuan menggunakan prinsip iso protein dan iso energi. Massa kalsium dan protein daging diukur dari sampel daging yang diambil dua kali yaitu penyembelihan setelah 4 dan 8 minggu perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian A. microphylla sampai level 6% setelah 8 minggu perlakuan dapat memperbaiki kemampuan deposisi protein yang dinyatakan sebagai massa protein daging.Kata kunci : ayam Arab petelur, A. microphylla, massa kalsium daging, massa protein daging. ABSTRACT The study aims to determine the effect of A. microphylla in Arabic layer rations on meat calcium mass and meat protein mass. The benefits of research can provide information on the utilization of A. microphylla as a Arabic layer. This research used completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replications. The treatment given is the gift of A. microphylla different levels (0%, 3%, 6% and 9%). Parameters measured were meat calcium mass, meat protein mass, and hen day production. The materials used are 80 Arabic layers (age ± 9 months) with average weight at 1125±124,52g. The making of ration is based on iso protein and iso energy principle. Meat calcium mass and meat protein mass was measured from meat sample which is taken twice at 4 and 8 weeks after the treatment has been implemented. The results showed that combining the A. microphylla into the ration up to level 6% after 8 weeks of treatment could improve protein deposition ability which stated at meat protein mass.Keywords: Arabic layer, Azolla microphylla, meat calcium mass, meat protein mass.
EFISIENSI PAKAN KOMPLIT BERBASIS AMPAS TEBU DENGAN LEVEL YANG BERBEDA PADA KAMBING LOKAL Saputra, Ferindra Fajar; Achmadi, Joelal; Pangestu, Eko
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 4 (2013): Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.882 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji efisiensi penggunaan pakan komplit dengan berbagai level ampas tebu sehingga mendapatkan hasil imbangan terbaik. Materi yang digunakan adalah bahan pakan penyusun pakan komplit dengan ampas tebu sebagai pakan sumber serat dengan persentase penggunaan dalam ransum sebesar 15, 25, dan 35%. Kambing berumur 8 bulan sejumlah 15 ekor digunakan sebagai ternak percobaan pakan. Data dianalisis menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 perlakuan level ampas tebu dan masing-masing perlakuan dengan ulangan 5 ekor kambing. Hasil penelitian dengan pemberian pakan berbasis ampas tebu pada kambing lokal, untuk konsumsi pakan tidak ada beda nyata antara perlakuan. Pertambahan bobot badan tidak ada beda nyata antara perlakuan. Efisiensi pakan juga tidak ada beda nyata antara perlakuan. konsumsi pakan tertinggi terjadi pada perlakuan 15%, pertambahan bobot badan tertinggi pada perlakuan 25% dan efisiensi pakan tertinggi terjadi pada perlakuan 35%. Kesimpulan yang didapat adalah porsi ampas tebu dalam pakan sampai 35% tidak mempengaruhi konsumsi BK, pertambahan bobot badan harian dan efisiensi pakan secara nyata.
KECERNAAN NUTRIEN DAN FERMENTABILITAS PAKAN KOMPLIT DENGAN LEVEL AMPAS TEBU YANG BERBEDA SECARA IN VITRO Wijayanti, Eka; Wahyono, Fajar; Surono, Surono
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.017 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan formulasi pakankomplit dengan penggunaan ampas tebu sebagai sumber serat yang berbeda terhadapKecernaan Bahan Kering (KcBK), Kecernaan Bahan Organik (KcBO), produksivolatille fatty acids (VFA) dan produksi amonia (NH3) secara in vitro. Rancanganyang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4ulangan yaitu R1 (Pakan komplit dengan kandungan ampas tebu 25%, R2 (Pakankomplit dengan kandungan ampas tebu 30%, R3 (Pakan komplit dengan kandunganampas tebu 35%) dan R4 (Pakan komplit dengan kandungan ampas tebu 40%). Hasilpenelitian menunjukkan bahwa pakan komplit dengan penggunaan level ampas tebu(25%, 30%, 35% dan 40%) secara in vitro memberikan pengaruh nyata (P<0,05)terhadap KcBK dan KcBO, tetapi tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyataterhadap produksi VFA dan NH3. Rata-rata KcBK pada perlakuan R1, R2, R3 danR4 berturut-turut adalah 50,68; 49,46; 46,46 dan 45,62%. Rata-rata KcBO berturutturut56,06; 54,42; 51,76 dan 51,38%. Rata-rata VFA berturut-turut 154,50; 152,00;149,50 dan 143,25 mM. Rata-rata NH3 berturut-turut 3,99; 4,26; 4,08 dan 3,82 mM.Simpulan dari penelitian ini adalah semakin tinggi penggunaan level ampas tebudalam pakan komplit sebagai sumber serat, memberikan efek menurunkan kecernaanbaik BK, BO, VFA dan NH3. Pilihan terbaik dari keempat perlakuan yang diamatiadalah penggunaan ampas tebu sebagai sumber serat dalam pakan komplit sebanyak25%.Kata kunci: ampas tebu, KcBK, KcBO, produksi VFA, NH3, in vitro
KERAGAMAN PROTEIN PLASMA DARAH PADA KAMBING KEJOBONG DAN KAMBING PERANAKAN ETTAWA Dewanti, Dyah Retno; Kurnianto, Edi; Sutopo, Sutopo
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.011 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi keragaman protein plasma darah pada kambing Kejobong dan kambing Peranakan Ettawa (PE) dengan menggunakan metode elektroforesis gel poliakrilamida (PAGE). Materi yang digunakan adalah 24 sampel darah kambing Kejobong di Kabupaten Purbalingga dan 24 sampel darah kambing PE di Kabupaten Purworejo. Analisis data meliputi frekuensi gen, heterosigositas individual dan rataan heterosigositas pada enam lokus protein plasma darah. Analisis statistik menggunakan t-tes independent untuk mengetahui ada atau tidak perbedaan frekuensi gen, jumlah genotip dan rataan heterosigositas enam lokus antara kambing Kejobong dan kambing PE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokus protein plasma darah yang meliputi pre albumin (P-alb), albumin (Alb), ceruloplasmin (Cp), transferrin (Tf), post transferrin (P-tf) dan amylase-I (Amy-I) pada kambing Kejobong dan kambing PE bersifat polimorfik. Hasil t-tes independent menunjukkan bahwa jumlah genotip, frekuensi gen dan rataan heterosigositas dari enam lokus protein plasma darah antara kambing Kejobong dan kambing Peranakan Ettawa tidak berbeda nyata. Rataan heterosigositas kambing Kejobong sebesar 0,423 dan kambing PE sebesar 0,435.Kata kunci : kambing, frekuensi gen, heterosigositasABSTRACTThe objective of this study was to evaluate the genotype variations of Kejobong and Ettawa Grade (EG) goats based on the blood plasm protein using gel polyacrilamide electrophoresis (PAGE). Twenty four of blood samples taken from Kejobong goat in Purbalingga regency and twenty four of blood samples taken from Ettawa Grade (EG) goat in Purworejo regency were used as materials. Data were analyzed to calculate gene frequency, individual heterozygosity and average heterozygosity. The independent t-test was performed to analyzed the significance of gene frequency, total genotype and average heterozygosity from six locus of blood plasm protein between Kejobong and Ettawa Grade (EG) goats. Result showed that locus of pre albumin (P-alb), albumin (Alb), ceruloplasmin (Cp), transferrin (Tf), post transferrin (P-tf) and amylase-I (Amy-I) on Kejobong and Ettawa Grade (EG) goats were polymorphic. The total genotype, gene frequency and average heterozygosity of six locus blood plasm protein between Kejobong and Ettawa Grade (EG) goats were not different. Average heterozygosity of Kejobong and Ettawa Grade (EG) goats was 0.423 and 0.435, respectively.Key words : goat gene, frequency, heterozygosity
KELUARAN KREATININ PADA DOMBA LOKAL JANTAN AKIBAT PEMBERIAN PAKAN SIANG DAN MALAM HARI (Creatinine Excretionin Indigenous Ramswith Day and Night Feeding) Komariyah, Siti; Rianto, Edy; Lestari, C.M. Sri
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 3 (2014): Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.307 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah kreatinin padadomba lokal jantan dengan pemberian pakan siang dan malam hari. Materi yang digunakan dalam penelitian ini berupa 11 ekor domba lokal jantan dengan bobot badan awal rata-rata 24,12+ 2,54 kg (CV=10,53%)dan umurberkisar 1 tahun. Pakan yang diberikan berupa pakan komplit berbentuk pelet, dengan kandungan protein kasar (PK) 12,01% dan total digestible nutrients (TDN) 66,73%.Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan ulangan yang berbeda.Perlakuan yang diterapkan yaitu;  T1: pemberian pakan siang hari, T2: pemberian pakanmalam hari,dan T3: pemberian pakan siang dan malam hari. Parameter yang diamati adalah konsumsi bahan kering (BK), pertambahan bobot badan harian (PBBH), dan keluaran kreatinin. Data dianalisis menggunakan analisis variansi. Hasil penelitian menunjukkan,perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi BK, PBBH dan keluaran kreatinin pengambilan kedua (minggu ke 5) dan ketiga (minggu ke 9), rata–ratanya sebesar1.070g/hari; 95 g;29 dan 36 mg/hari. Perlakuan iniberpengaruh nyata (P<0,05) terhadap keluaran kreatinin pengambilan pertama (minggu ke 2) pada masing-masing perlakuan T1, T2, dan T3 sebesar 39; 88; dan 4 mg/hari.Simpulan penelitian ini adalah pemberian pakan siang dan malam hari tidak berpengaruh terhadap kreatinin yang dikeluarkan.Kata kunci:Domba lokal;pakan siang dan malam hari;kreatinin. ABSTRACT Aim of study wasto determinethe amount ofcreatininein indigenousrams under day and night feeding. The materialsusedinthis study were 11 indigenousrams of 1 year old, average weighing 24.12+2.54kg(CV=10.53%). They were fed completefeed in form of pellet, containing crude protein (CP) 12.01% and total digestible nutrients (TDN) 66.73%. This study used a completely randomized design (CRD) with 3 treatments and unequal replications. The treatments applied were time of feeding,namely: day time feeding (T1); night time feeding (T2); and day and night time feeding. Parameters measured were dry matter intake (DMI), average daily gain (ADG), and creatinine excretion. Dry matter intake, ADG and creatinine excretion of the second (fifth week) and third (ninth week) had an average number of 1,070 g/day; 95 g; 29 mg/day and 36 mg/day, respectively.However, treatment gained significantly different (P<0.05) on first creatinine excretion (second week) the creatinine excretion of T1, T2, and T3 were 39; 88; and 4 mg/day, respectively. It could be concluded that feeding during the day and night had no effect on creatinine excretionof indigenous rams.Key words:Indigenousrams;day and night feeding;creatinine.
PERBANYAKAN VEGETATIF CARA STEK Desmodium cinereum DAN Hibiscus rosa sinensis L. DENGAN PEMBERIAN ZAT PENGATUR TUMBUH ALAMI DAN AUKSIN SINTETIS Kusumah, Yayi Sonia Anggar; Karno, Karno; Sutarno, Sutarno
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.027 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan meningkatkan keberhasilan stek tanaman D. cinereum dan H. rosa sinensil L, membandingkan tingkat efesiensi pemakaian antara zat pengatur tumbuh alami yang bersumber dari urine dan ZPT sintetis. Percobaan disusun dalam rancangan acak lengkap pola faktorial dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah jenis tanaman yaitu tanaman D. cinereum dan H. rosa sinensis L. dan faktor kedua adalah perlakuan zat pengatur tumbuh (0% urin, 25% urin, 50% urin dan 1% auksin sintetis). Parameter yang diamati adalah daya tumbuh, panjang tunas, jumlah tunas, jumlah daun, panjang akar, jumlah akar, bahan kering akar dan bahan kering daun. Hasil penelitian menunjukan Pemberian ZPT alami 25% urin, ZPT 50% urin tidak memberikan pengaruh terhadap Pertumbuhnan bahkan menurunkan pertumbuhan terutama pada tanaman D. cinereum. Pemberian ZPT 1% Auksin Sintetis memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap Daya tumbuh, pada tanaman D. cinereum dan H. rosa sinensis L dibanding pemberian ZPT 25% urin, ZPT 50% urin dan Kontrol.ABSTRACTThe study was conducted with the aim to improve the success of plant cuttings D. cinereum and H. rosa sinensil L. comparing the level of efficiency The use of the natural growth hormone from urine and synthetic auxin. The treatments were allotted to completely randomized design with 2x4 factorial pattern and 3 replications in each treament. The first factor is the type of plant is D. cinereum and H. rosa sinensis L. and the second factor is the growth hormone treatments (0% urine, 25% urine, 50% of urine and 1% synthetic auxin). Parameters measured were growing power, shoot length, number of shoot, number og leaves, root length, number of roots, root dry matter and leaf dry matter. The results showed 25%, 50 % Provision of natural growth hormone of the urine does not give effect to growth even lower growth mainly on the plant D. cinereum. Giving 1% Synthetic Auxin give better effect to the Power grows, the plant D.cinereum and H.rosa sinensis L compared with 25% giving urine, 50% urine and Control.
PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG RUMPUT LAUT (Gracilaria verrucosa) DALAM RANSUM TERHADAP EFISIENSI PENGGUNAAN PROTEIN AYAM BROILER Situmorang, Nur Adiva; Mahfuds, Luthfi Djauhari; Atmomarsono, Umiyati
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 2 (2013): Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.393 KB)

Abstract

ABSTRACTThis research was aimed to determaine the influence of seaweed meal in the diet on protein utilization of broiler chicken. The experiment used 120 broiler chickens at 17 days old unsex with average body weight 475 ± 0,98 g. Feed rations were consist of 20% crude protein; 2900 kcal/kg metabolizable energy. Completely randomized design with 4 treatments and 6 replication was used in this experiment which T0 (control): rations without seaweed meal, T1: ration with seaweed meal 2,5%, T2: ration with seaweed meal 5%, T3: ration with seaweed meal 7,5%. Feed provided ad libitum until this research until from 17-42 day old. The data obtained were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) F-test with level 5% and if the result of the analysis showed significant effect of treatment will be followed by Duncan's test. The results showed that treatment seaweed meal with 2,5%; 5%; 7,5% significantly decreased protein consumption but not effect on body weight, crude protein digestibility and protein utilization.Key words: seaweed meal, broiler, protein efficiency.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung rumput laut dalam ransum terhadap efisiensi penggunaan protein pada ayam broiler. Penelitian menggunakan ayam broiler umur 17 hari sebanyak 120 ekor dengan bobot badan rata-rata 475±0,98 g. Ransum yang digunakan mengandung PK 20% dan EM 2900 kkal/kg. Penelitian menggunakan rancangan percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), 4 perlakuan dan 6 ulangan yang diterapkan sebagai berikut : T0: Pemberian ransum + 0% tepung rumput laut; T1: Pemberian ransum + 2,5% tepung rumput laut; T2: Pemberian ransum + 5% tepung rumput laut; T3: Pemberian ransum + 7,5% tepung rumput laut. Pakan diberikan ad libitum sampai dari umur 17-42 hari. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan prosedur analisis ragam (Analysis of Variance / ANOVA) dengan uji F pada taraf 5 % dan apabila hasil analisis menunjukkan pengaruh perlakuan yang nyata akan dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan penggunaan tepung rumput laut dengan level 2,5%; 5% dan 7,5% secara nyata berpengaruh menurunkan konsumsi protein, namun tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan bobot badan, kecernaan protein kasar dan rasio efisiensi protein.Kata kunci: rumput laut, ayam broiler, efisiensi protein.

Page 5 of 34 | Total Record : 340