cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Animal Agricultural Journal
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
PENGARUH PENAMBAHAN ENZIM FITASE DALAM RANSUM TERHADAP PRODUKSI KARKAS AYAM BROILER (The effect of supplementation phytase enzyme in broiler’s diet on carcass production) Maulana, Dedy; Atmomarsono, Umiyati; Suprijatna, Edjeng
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 4 (2014): Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.906 KB)

Abstract

ABSTRAK           Fitase sebagai bahan aditif diharapkan mampu melepaskan ikatan fitat dengan kalsium, fosfor, tembaga, seng dan mangan, serta meningkatkan relaksasi usus dan absorbsi nutrien. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh penambahan enzim fitase dalam ransum terhadap kualitas karkas ayam broiler.Penelitian ini menggunakan 128 ekor DOC broiler strain New Lohman MB 202 umur 3 hari dengan rata-rata bobot awal 104,16 ± 13,17g. Ransum perlakuan dibagi menjadi 4 jenis ransum, yaitu protein 23% dan tanpa menggunakan enzim fitase (T0), protein 21% + enzim fitase 1.000 FTU (T1), protein 23% + enzim fitase 1.000 FTU (T2), dan Protein 23% + Mineral 1%. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan masing-masing unit percobaan berisi 8 ekor ayam broiler. Ransum dan air minum diberikan ad libitum. Parameter yang diamati meliputi bobot hidup, bobot karkas, dan persentase karkas. Hasil penelitian menunjukkan penambahan enzim fitase dalam ransum ayam broiler tidak berbeda nyata (P>0,05) pada bobot hidup, bobot karkas dan persentase karkas. Bobot hidup pada T0, T1, T2, dan T3 masing-masing sebesar 856,50; 995,50; 919,25; dan 924,50g. Bobot karkas pada T0, T1, T2, dan T3 masing-masing sebesar 422,25; 505,25; 442,25; dan 503,73g. Rataan persentase karkar berkisar 51,06 sampai 56,77%. Berdasarkan hasil penelitian, simpulan yang diperoleh adalah penambahan enzim fitase tidak signifikan terhadap bobot hidup, bobot karsas dan persentase karkas ayam broiler.Kata kunci : ayam broiler, enzim fitase, karkas ABSTRACT Phytase as an additive material was expected to break the bonds of phytate with calcium, phosphorus, copper, zinc and manganese, as well as increasing the intestinal relaxation and absorption of nutrients. This study aimed to determine the effect of the enzyme phytase in the diet on the production of broiler chicken carcasses and determine the level of addition phytase enzyme in the most optimal diet for the production of broiler chicken carcass. the were used in this study128 Day Old Chick (DOC) broilers strain MB 202 New Lohmann. Treatment diet was divided into 4 types of diets, 23% protein without enzyme phytase (T0), protein 21% + 1,000 FTU phytase enzyme (T1), protein 23% + 1,000 FTU phytase enzyme (T2), and Protein 23% + 1% minerals. The experimental design using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 4 replicates each experimental unit contains 8 broiler chickens. Diets and water were given ad libitum. The parameters observed live weight, carcass weight, and carcass percentage. The results showed the addition of the enzyme phytase in broiler diets were not significantly different (P>0.05) on live weight, carcass weight and carcass percentage. Live weight at T0, T1, T2, and T3 respectively 856.50; 995.50; 919.25; and 924,50g. Carcass weight at T0, T1, T2, and T3 respectively amounted to 422.25; 505.25; 442.25; and 503,73g. Mean of carcass percentage was 51.06 and 56.77%. Results of the study concluded that the addition of phytase enzyme was not significant effect on body weight, carcass weight and the carcass percentage of broiler.Keywords : broilers, the enzyme phytase, carcass
KUALITAS SERAT LIMBAH PERTANIAN DAN HASIL SAMPING PERTANIAN YANG DIFERMENTASI DENGAN Aspergilus Niger PADA ARAS DAN LAMA PEMERAMAN YANG BERBEDA Sukarti, Enik; Sulistiyanto, Bambang; Mukodiningsih, Sri
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.344 KB)

Abstract

Penelitian untuk mengkaji pengaruh fermentasi limbah Pertanian dan hasil samping pertanian dengan A. niger pada berbagai aras dan lama pemeraman yang berbeda terhadap komponen serat kaitannya dengan pemanfaatan limbah lokal telah dilaksanakan Januari-Maret 2012 di Laboratorium Teknologi Makanan Ternak Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang. Materi penelitian adalah jerami jagung, jerami padi, dedak padi, onggok, ampas brem, ampas tahu, A. niger. Bahan kimia yang digunakan antara lain larutan deterjen netral, larutan deterjen asam, Natriumsulfit (Na2SO3), aseton, asam asetat dan air panas. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 4x4 masing-masing terdiri dari 3 kali. Parameter yang diukur adalah komponen serat acid detergent fiber (ADF) dan neutral detergent fiber (NDF) . Pengolahan data menggunakan analisis ragam untuk mengetahui pengaruh perlakuan dan jika terdapat pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan untuk mengetahui perbedaan dan pengaruh perlakuan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi pengaruh peningkatan aras starter dan lama waktu pemeraman terhadap kandungan NDF dan ADF. Namun, secara parsial berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap penurunan kandungan NDF dan ADF. Disimpulkan bahwa perlakuan peningkatan aras starter hingga 6% dan lama pemeraman hingga 21 hari secara parsial menurunkan kadar ADF dan NDF. Penambahan Aras A. niger sampai 4% dan lama pemeraman selama 14 hari masing-masing menghasilkan kadar NDF dan ADF terendah.Kata kunci : limbah pertanian dan hasil samping pertanian, fermentasi, A. niger, komponen seratABSTRACTResearch to assess the effect of fermentation waste Agriculture and agricultural byproducts by A. niger on various old cedars and different curing the fiber components related to the use of local waste has been carried out from January to March 2012 in the Department of Laboratory Animal Food Technology and Nutrition Faculty of Animal Science, Diponegoro University Semarang. Material research is corn straw, rice straw, rice bran, cassava, pulp brem, tofu, A. niger. Chemicals used include neutral detergent, acid detergent, Natriumsulfit (Na2SO3), acetone, acetic acid and hot water. Experimental design used was completely randomized factorial design 4x4 each consisting of 3 times. Parameters measured were acid detergent fiber component fiber (ADF) and neutral detergent fiber (NDF). Data processing using various analysis to determine the effect of treatment and if there is a real effect followed by Duncan multiple test area to determine the differences and the effect of treatment on the level of 5%. The results showed that there was no interaction effect of elevated cedar and long curing time starter for the content of NDF and ADF. However, partially significant (p <0.05) to decrease the content of NDF and ADF. It was concluded that the treatment increased the cedar starter up to 6% and up to 21 days curing time partially reduce levels of ADF and NDF. The addition of A. niger Aras to 4% and the long curing for 14 days each produce the lowest levels of NDF and ADF.Keywords: agricultural waste and agricultural byproducts, fermentation, A. niger, fiber components
REDUKSI BAKTERI DAN BIRU METILEN, SERTA PERUBAHAN INTENSITAS PENCOKLATAN DAN pH SUSU AKIBAT PEMANASAN PADA SUHU 80°C DALAM PERIODE YANG BERVARIASI Susilawati, Tati; Abduh, Setya Budi M.; Mulyani, Sri
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 3 (2013): Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.595 KB)

Abstract

Serangkain percobaan pemanasan dengan suhu 80 °C dan periode yang bervariasi telah dilakukan pada sampel susu sapi untuk menganalisa reduksi bakteri, reduksi biru metilen, perubahan intensitas pencoklatan, dan perubahan pHnya. Pemanasan sampel dilakukan dalam botol 100 ml yang dibenamkan dalam penangas air. Pada setiap kombinasi suhu dan periode pemanasan, dilakukan 3 ulangan percobaan. Total bakteri dihitung secara cawan cuang, reduksi biru metilen diamati pada beberapa volume 10, 20, 30, 40, 50 dan 250 µL dalam 10,25 mL campuran dengan susu, intensitas pencoklatan diamati secara spektrofotometri dengan panjang gelombang 420 nm dan pH ditera dengan elektroda. Pengolahan data menggunakan analisa regresi dan deskriptif. Percobaan menghasilkan nilai D sebesar 5.789,26 detik, periode reduksi biru metilen 10 µL (R2=0,910) memenuhi persamaan y = -0,031x + 476,9, konstanta laju perubahan intensitas pencoklatan (k) sebesar 015, dan pH susu dalam rentang normal: 6,77 hingga 6,76.
EFEK PEMANFAATAN KARAGINAN SEBAGAI EDIBLE COATING TERHADAP pH, TOTAL MIKROBA DAN H2S PADA BAKSO SELAMA PENYIMPANAN 16 JAM Chrismanuel, Adinur; Pramono, Yoyok Budi; Setiani, Bhakti Etza
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.879 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan karaginan sebagai kemasan edible coating terhadap kadar pH, total mikroba dan H2S bakso sapi selama masa penyimpanan 16 jam. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah pencelupan edible coating konsentrasi berbeda yang meliputi: T0 = tanpa pencelupan, T1, T2, T3 dan T4 = pencelupan pada edible coating konsentrasi 0,5%, 1%, 1,5% dan 2%. Variabel yang diuji adalah kadar pH, total mikroba, dan H2S. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada bakso sapi selama masa penyimpanan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pH dan total mikroba. Sedangkan analisa H2S pada kertas saring belum menunjukan bercak warna cokelat yang artinya bakso dengan perlakuan belum mengalami kebusukan. Kadar pH bakso sapi yang dihasilkan berturut-turut yaitu: 6,51, 6,4, 6,44, 6,54 dan 6,48. Total Mikroba yang dihasilkan berturut-turut yaitu 4,78, 4,63, 4,40, 4,23, dan 4,15 (CFU/Ml). H2S yang dihasilkan bahwa bakso tanpa perlakuan (TO) sudah mengalami kebusukan, sedangkan bakso semua perlakuan belum mengalami kebusukan. Kadar pH terbaik pada perlakuan edible coating konsentrasi 0,5% sedangkan total mikroba terbaik pada edible coating konsentrasi 0,5% dan H2S belum mengalami kebusukan.Kata kunci: Bakso sapi, edible coatingABSTRAK The aim of this experiment was to know the influence of carreginan used as cover edible coating to pH, count of microbia and H2S in beaf meatballs keeped in 16 hours. The treatments were arranged used randomized design with 5 treatments and 4 replication. The edible coating treatment were used in difference consentration include: T0 = without covering, T1, T2, T3, and T4 = covering used edible coating with 0,5%, 1%, 1,5%, and 2% concentration. The variables were tested was pH, count of microbia and H2S. The result of this experiment was showed that beef meatballs on the keeping time was significant affected (P<0,05) to pH, count of microbia, and H2S. The pH of beef meat balls was: 6,51; 6,4; 6,44; 6,54 and 6,48. The count of microbia was: 4,78, 4,63, 4,40 4,23, and 4,15 (CFU/M1). The meatballs without treatment (T0) was produced H2S, beside all meatballs with treatment did not produced H2S. The best pH was in treatment edible coating with 0,5% concentration, the best result of the count of microbia was in treatment edible coating with 0,5% concentration and H2S did not produced.Key words: Beef meatball, edible coating
PENGARUH KUALITAS RANSUM TERHADAP KECERNAAN DAN RETENSI PROTEIN RANSUM PADA KAMBING KACANG JANTAN Laksana, Agusta Ari; Rianto, Edy; Arifin, Mukh.
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 4 (2013): Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.208 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbedaan kecernaan dan retensi protein ransum pada kambing Kacang jantan dengan pemberian kualitas ransum yang berbeda. Materi yang digunakan dalam penelitian ini berupa 15 ekor kambing Kacang jantan dengan bobot badan awal rata-rata 15,49 ± 3,39 kg (CV = 21,95%). Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok, dengan 3 perlakuan pakan dan 5 kelompok bobot badan. Perlakuan pakan yang diterapkan adalah kandungan protein kasar (PK) dan total digestible nutrient (TDN), yaitu T1 (PK 9,20% : TDN 54,67%), T2 (PK 11,67% : 58,61%), dan T3 (PK 18,33% : TDN 65,23%). Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah konsumsi BK, konsumsi PK, kecernaan PK, dan retensi PK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kualitas ransum yang berbeda menghasilkan konsumsi PK, kecernaan PK, dan retensi PK yang berbeda sangat nyata (P<0,01). Pengelompokan kambing Kacang berdasarkan bobot badan menghasilkan konsumsi BK dan konsumsi PK yang berbeda nyata (P<0,05). Simpulan penelitian ini adalah, semakin tinggi kualitas ransum semakin tinggi pula nilai kecernaan dan retensi protein ransum pada kambing Kacang jantan.
PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG KERABANG TELUR AYAM RAS DALAM RANSUM BURUNG PUYUH TERHADAP TULANG TIBIA DAN TARSUS Suprapto, Wahyu; Kismiyati, Sri; Suprijatna, Edjeng
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.969 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan kerabang telur ayam ras dalam ransum terhadap berat, panjang dan volume tulang tibia burung puyuh. Manfaat penelitian ini adalah untuk mengetahui informasi mengenai proporsi penggunaan tepung kerabang telur ayam ras dalam ransum terhadap berat dan panjang tulang tibia burung puyuh. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Desember 2010 dilaboratorium Ilmu Ternak Unggas Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.Materi yang digunakan dalam penelitian adalah burung puyuh betina sebanyak 128 ekor berumur 3 minggu dengan bobot badan 33,99 ± 3,75 gram, dan pakan penyusun ransum yang digunakan adalah jagung, bungkil kedelai, PMM ( Poultry Meat Meal ), Top mix, CaCO3, NaCl dan kerabang telur ayam ras. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah berat, panjang dan volume tulang tibia. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 4 ulangan,masing-masing petak 8 ekor. Perlakuan yang diterapkan pada penelitian ini adalah penggunaan kerabang telur ayam ras dalam ransum burung puyuh pada periode grower; T0: tanpa kerabang telur, T1:0,2%, T2:0,4%, T3:0,6% dan pada periode layer; T0:tanpa kerabang telur, T1:2%, T2:4%, T3:6%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kerabang telur ayam ras berpengaruh (P<0,05) terhadap berat, panjang, dan volume tulang tibia. Berat tulang tibia T1 dan T2 lebih tinggi secara nyata (P<0,05) dibandingkan dengan T0 dan T3, sedangkan pada tulang tarsus menunjukkan bahwa T2 lebih tinggi secara nyata (P<0,05) dibandingkan dengan T0, T1, dan T3. Panjang tulang tibia burung T1 dan T2 lebih tinggi secara nyata (P<0,05) dibandingkan dengan T0 dan T3, sedangkan pada tulang tarsus menunjukkan bahwa T1, T2 dan T3 lebih tinggi secara nyata (P<0,05) dibandingkan dengan T0. Volume tulang tibia burung puyuh T2 lebih tinggi secara nyata (P<0,05) dibandingkan dengan T0, T1 dan T3, sedangkan volume tulang tarsus menunjukkan T1, T2 dan T3 lebih tinggi secara nyata (P<0,05) dibandingkan dengan T0. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan tepung kerabang telur ayam ras periode grower 0,4% dan layer 4%, dengan imbangan Ca:P, (4,46:1) pada ransum burung puyuh mampu meningkatkan panjang, berat, volume tulang tibia dan tarsus.Kata kunci : kerabang telur, tibia, tarsus, Ca, P
EVALUASI KUALITAS SEMEN SEGAR SAPI JAWA BREBES BERDASARKAN LAMA WAKTU PENYIMPANAN Varasofiari, Lucy Nurika; Setiatin, Eny Tantini; Sutopo, Sutopo
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.542 KB)

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to determine the correlation between semen storageduration and fresh semen quality (sperm motility, mass movement, abnormality and live sperm percentage) of the Java cattle (n=5 ejaculates). This study was divided into three groups with interval observation on 15 minutes namely 15(T1); 30 (T2) and 45 (T3). Simple linear regression was applied to analyse correlation between semen storage duration (Xi) and fresh semen quality (Yi). The result showed that linear model of sperm motility was Ŷ = 69,90-0,76XL; r2 = 0,568, mass movement was Ŷ = 2,55-0,034X;r2 = 0,779, sperm abnormality was Ŷ = 9,41+0,291X; r2 = 0,821 and live sperm percentage was Ŷ = 81,88-0,603X; r2 = 0,836. It could be concluded that the longer of storage duration will decrease of fresh semen quality.Keywords : Java cattle; semen quality; storage durationABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara lama waktu penyimpanan dengan kualitas semen segar sapi Jawa Brebes (n= 5 ejakulat). Pengamatan dibagi dalam tiga grup dimulai sejak semen masuk ke laboratorium 0 menit, kemudian diikuti pengamatan dengan selang waktu 15 menit yaitu 15; 30 dan 45 menit. Analisis regresi linier sederhana digunakan dalam penelitian ini, yaitu hasil pengamatan terhadap lama waktu penyimpanan (Xi) dan nilai rata-rata motilitas, gerak massa, persentase abnormalitas dan persentase hidup spermatozoa (Yi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa motilitas spermatozoa membentuk persamaan regresiŶ = 69,90-0,76X dengan koefisien determinasi r2 = 0,568, gerak massa spermatozoa membentuk persamaan Ŷ = 2,55-0,034X dengan koefisien determinasi r2 = 0,779, abnormalitas spermatozoa membentuk persamaan Ŷ = 9,41+0,291X dengan koefisien determinasi r2 = 0,821, persentase hidup spermatozoa membentuk persamaan Ŷ = 81,88-0,603X dengan koefisien determinasi r2 = 0,836. Dapat diperoleh kesimpulan bahwa lama waktu penyimpanan akan menurunkan kualitas semen segar.Kata kunci: sapi jawa; kualitas semen; waktu penyimpanan.
PENGARUH PENGGUNAAN WHEY SEBAGAI PELARUT FESES SAPI MADURA SEBAGAI SUBSTRAT BIOGAS TERHADAP PRODUKSI METAN, KECERNAAN NITROGEN DAN TOTAL AMONIA NITROGEN (The Effect of Whey as Solvent of Madura Cattle Manure as Substrate in the Biogas Digesteron the Metha Lipiyanto, Ony; Sutaryo, Sutaryo; Purnomoadi, Agung
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 2 (2014): Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.765 KB)

Abstract

ABSTRAK           Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh penggunaan whey dalam substrat biogas dengan bahan baku feses sapi Madura terhadap produksi metan, kecernaan nitrogen dan total ammonia nitrogen (TAN). Penelitian ini menggunakan 2perlakuan yaitu dengan bahan isian feses sapi Madura dicairkan dengan air (FA) dan dengan bahan isian feses sapi Madura dicairkan dengan whey (FW), kesemuanyadengan perbandingan 1:1. Pengambilan data dilakukan selama 2 kali hydraulic retention time. Analisis data menggunakan t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata (P<0,05) dari perlakuan penggunaan whey terhadap produksi metan,produksi metan FW dibandingkan dengan FA (1465 vs 613 ml/l volume digester aktif).Kecernaan nitrogen antara FA dan FW (12,64% vs 37,35%) dan TAN antara FA dan FW (907 mg/l vs 657 mg/l) menunjukkan hasil tidak berbeda nyata (P>0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah whey dapat meningkatkan produksi metan.Kata kunci : Feses; whey; metan; kecernaan nitrogen; TAN ABSTRACT The purpose of this research was to determine the effect of utilization of whey as solvent of madura cattle feces as a substrat in digester biogas on  methane production, nitrogen digestibility and total ammonia nitrogen (TAN). This research was used two treatments namely digester treating Madura cattle manure and water (FA) and digester treating Madura cattle manure  and whey (FW) at ratio of 1:1. Data retrieval for 2 times thehy draulic retention time. Was statistically analysed usingt-test. The results showed that there were significant effect (P<0.05) beetwen the treatment on the methane production. The methane production of FW and FA  were 1465 and 613 ml/l digester volume. Nitrogen digesbility between FA and FW (12.64% vs.37.35%) and TAN between FA and FW (907 mg/lvs.657mg/l) were not significantly different(P>0.05). This study concluced that the use of whey could increase methane production.Key words: Feces; whey; methane; nitrogen digestibility; TAN
KADAR PROTEIN DAN UREA DARAH KAMBING PERAH PERANAKAN ETAWA YANG DIBERI WAFER PAKAN KOMPLIT BERBASIS LIMBAH AGROINDUSTRI DENGAN SUPLEMENTASI PROTEIN TERPROTEKSI Fachiroh, Latiful; Prasetiyono, Bambang Waluyo Hadi Eko; Subrata, Agung
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.56 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengevaluasi level suplementasi protein terproteksi pada wafer pakan komplit berbasis limbah agroindustri terhadap kadar protein dan urea darah kambing perah Peranakan Ettawa. Ketersediaan pakan secara kontinyu perlu untuk meningkatkan produktivitas ternak. Penggunaan bahan pakan yang berasal dari limbah agroindustri merupakan salah satu upaya untuk mencukupi kebutuhan pakan, namun penggunaan bahan ini mempunyai kendala yaitu kadar protein yang rendah karena itu suplementasi protein perlu dilakukan. Kambing mempunyai mikroba dalam rumen, mikroba tersebut mendegradasi protein pakan menjadi NH3, sehingga suplementasi protein penting untuk diproteksi. Penelitian ini menggunakan pakan komplit yang dibentuk wafer dengan pemberian level suplementasi protein terproteksi. Pembentukan wafer berfungsi untuk meningkatkan daya simpan dan mengurangi keambaan pakan. Penelitian dilaksanakan dengan rancangan acak kelompok (RAK) menggunakan 3 perlakuan level suplementasi protein terproteksi 0%, 4% dan 8% dan 5 kelompok berdasarkan bulan laktasi, kelompok sebagai ulangan. Penelitian dilaksanakan selama 12 minggu dengan perincian 4 minggu produksi wafer, 2 minggu adaptasi, 2 minggu preliminary dan 4 minggu perlakuan. Pengambilan data dilakuakan pada minggu terakhir dari perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan suplementasi protein terproteksi dalam wafer pakan komplit berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar protein darah dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar urea darah kambing perah Peranakan Ettawa. Wafer pakan komplit berbasis limbah agroindustri terbaik adalah level suplementasi 4% dilihat dari kadar protein dan urea darah.   Kata kunci:  Protein terproteksi, pakan komplit, kambing PE, protein darah dan urea darah.   ABSTRACT The objectives of the research were to evaluate level of supplementation protected protein on complete feed wafer based on agroindustrial by-product to blood protein and urea concentration in Ettawa Crossbreed lactation goat. The availability of feed continously was needed to increase productivity of livestock. The using agroindustrial by-product was one of requirement feedstuff for the goat but, the using of the matter had a problem that less protein so, needed protein suplementation. Goat had microbe in the rumen and the microbe degraded feed protein become NH3 so, protein suplementation was important to protect. This research used complete feed that formed wafer with suplementation level of protected protein. The function form of wafer was to increase long live of storage and decrease of feed voluminus. This research was done with block randomize design with three of treatments suplementation level of protected protein 0%, 4% and 8% and five of blocks to lactation month, group as repetition. This research was done during 12 weeks with detail 4 weeks  of wafer production, 2 weeks of adaptation, 2 weeks of prelimiary and 4 weeks of treatment. The collecting data were taken on the last week of treatment. The result of the research showed that the blood protein was significantly (P<0,05) affected by the protected protein supplementation level in complete feed wafer based on agroindustrial by-product. Whereas, blood urea was not significantly (P>0,05) affected by the protected protein supplementation level in complete feed wafer based on agroindustrial by-product. Level of 4% was the good suplementation in complete feed wafer based on agroindustrial by-product was seen of  blood protein and urea. Key words:  protected protein, complete feed, Ettawa Crossbreed goat, blood protein and blood urea.
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG JAHE MERAH (Zingiber officinale var. Rubrum) DALAM RANSUM TERHADAP LAJU BOBOT BADAN DAN PRODUKSI TELUR AYAM KAMPUNG PERIODE LAYER Siahaan, Nicodemus Bonardo; Suprijatna, Edjeng; Mahfudz, Luthfi Djauhari
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.386 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui taraf penambahan dari tepung jahe merah pada ayam kampung periode layer terhadap laju bobot badan dan produksi telur yang dipelihara selama 6 minggu. Sebanyak 100 ekor ayam kampung umur 24 minggu dengan bobot badan 1532,25 + 175,92 g ditempatkan dalam kandang battrey dibagi menjadi 20 unit percobaan dan diisi 5 ekor ayam broiler per unit. Bahan pakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jagung giling, bekatul, tepung ikan, tepung jahe merah, white pollard, bungkil kedelai dan premix. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 4 kelompok yaitu T0 (kontrol) = ransum perlakuan tanpa tepung jahe merah; T1 = ransum perlakuan dengan penggunaan 0,25% tepung jahe merah; T2 = ransum perlakuan dengan penggunaan 0,5% tepung jahe merah; T3 = ransum perlakuan dengan penggunaan 0,75% tepung jahe merah, T4 = ransum perlakuan dengan penggunaan 1% tepung jahe merah. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan prosedur analisis ragam dengan uji F pada taraf 5 %. Hasil penelitian nenunjukkan bahwa penggunaan tepung jahe merah tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (P>0,05) terhadap laju bobot badan dan produksi telur. KataKunci : Ayam Kampung, jahe merah, laju bobot badan, produksi telur.ABSTRACT This study was aimed to determined effect of red ginger meal in kampung chicken’s diet on body weight and egg production maintained 6 weeks. Around 100 of kampung chicken at 24 weeks old with average weight 1532,25 + 175,92 g was placed in battrey cage were divide into 20 units and each unit consist of five kampung chickens. Feedstuffs used in this study were corn, rice bran, fishmeal, red ginger, white pollard, soybean meal and premix. Experimantal design used randomized block design (RBD) withh 5 treatments and 4 group: T0 (control) = ration treatment without red ginger; T1 = ration treatment with red ginger 0,25%; T2 = ration treatment with red ginger 0,5%; T3 = ration treatment with red ginger 0,75%, T4 = ration treatment with red ginger 1%. The data obtained were analyzed using various analytical procedures F-test with level 5%. The result showed that treatment with red ginger in diet not significantly (P>0,05) againts weight rate and egg production.Key word: Kampung chickens, red ginger , body weight rate, egg production.

Page 6 of 34 | Total Record : 340