cover
Contact Name
M. RIYAN HIDAYAT
Contact Email
m.riyanhidayat@uqi.ac.id
Phone
+6282245839804
Journal Mail Official
m.riyanhidayat@uqi.ac.id
Editorial Address
Jln. Lintas Timur Km. 36 Indaralaya Ogan Ilir, Sumatera Selatan
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
At Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : -     EISSN : 27747425     DOI : https://doi.org/10.53649/at-tahfidz
Core Subject :
The Journal At Tahfidz concentrates on publishing scientific papers with the theme of Quranic studies with the following coverage Study of Quran Science Quran Translation Study of Quranic Tafsir Research on the Quran Living Quran
Arjuna Subject : -
Articles 106 Documents
Penerapan Metode An-Nahdliyah Dalam Pemahaman Membaca Al-Qur'an Santri TPQ Miftahul Ulum Lamongan Ika Salamah; Muhammad Badrus Sholeh; Afifah; Rohmatullah Hadi Negoro
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 01 (2025): Desember 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v7i01.1377

Abstract

Kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar merupakan keterampilan dasar yang wajib dimiliki setiap muslim, namun kenyataannya masih banyak santri TPQ yang belum fasih meskipun telah belajar bertahun-tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang digunakan belum sepenuhnya efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan metode An-Nahdliyah dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an di TPQ Miftahul Ulum Lamongan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, sedangkan validitas data diuji dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode An-Nahdliyah, yang menekankan talaqqi, musyafahah, dan pengulangan berjenjang, terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an santri sesuai kaidah tajwid. Selain itu, metode ini juga menumbuhkan kedisiplinan, kemandirian, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Keberhasilan penerapan metode ini didukung oleh kompetensi guru, dukungan masyarakat, serta kesesuaian metode dengan tradisi pesantren, meskipun masih ditemui kendala seperti keterbatasan waktu belajar dan sarana pembelajaran  
Analisis Komparatif Metode Harfiyyah dalam Terjemah Al-Qur'an Kemenag 2019 dan Metode Tafsiriyyah Dalam Tafsir Al-Misbah Azmil Iman Hartafan; Moh. Abdul Kholiq Hasan
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 01 (2025): Desember 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v7i01.1379

Abstract

Studi ini membandingkan metode literal yang digunakan dalam terjemahan Al-Qur'an oleh Kementerian Agama Republik Indonesia tahun 2019 dengan metode interpretatif yang digunakan dalam Tafsir Al-Mishbah karya Quraish Shihab melalui analisis kualitatif komparatif terhadap ayat-ayat tertentu. Terjemahan harfiah unggul dalam akurasi leksikal-gramatikal dan kesetiaan terhadap teks sumber, menjadikannya ideal untuk studi teologis akademis, tetapi kaku dan oleh karena itu kurang jelas bagi pembaca umum. Sebaliknya, tafsiriyyah memprioritaskan makna kontekstual dengan bahasa yang mengalir, meningkatkan pemahaman publik, meskipun rentan terhadap subjektivitas interpretatif. Kedua metode saling melengkapi; model hibrida direkomendasikan: terjemahan harfiyyah dasar ditambah catatan tafsiriyyah untuk ayat-ayat kompleks. Pendekatan ini menyeimbangkan ketepatan ilmiah dan keterjangkauan untuk dakwah di Indonesia kontemporer.
Tumbuhan dalam Al-Qur'an: Telaah Botani terhadap QS. Yasin Ayat 33-35 dalam Tafsir al-Azhar Ami Juwita Arnella
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 01 (2025): Desember 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v7i01.1381

Abstract

Artikel ini membahas keterkaitan antara teks al-Qur'an dan ilmu botani modern melalui kajian terhadap QS. Yasin ayat 33-35, dengan menekankan penafsiran Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar. Fokus utama penelitian ini adalah mengungkap bagaimana al-Qur'an tidak hanya menyampaikan ajaran teologis, tetapi juga menyimpan narasi biologis yang dapat dipahami dalam kerangka ilmu pengetahuan modern, khususnya botani. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka (library research) dan metode analisis isi untuk menggali pesan-pesan tematik dari ayat yang dikaji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Qur'an secara naratif menggambarkan proses biologis tumbuhan seperti hidupnya tanah mati, tumbuhnya biji-bijian, serta terbentuknya kebun dan sumber air yang sejalan dengan prinsip dasar botani seperti fotosintesis, perkecambahan, dan ekologi pertanian. Dalam Tafsir al-Azhar, Hamka tidak hanya menekankan makna spiritual dari ayat-ayat tersebut, tetapi juga mengaitkannya dengan realitas pertanian dan teknologi lokal, sekaligus menyuarakan pentingnya kesadaran ekologis dan rasa syukur. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tumbuhan dalam al-Qur'an tidak hanya berfungsi sebagai entitas biologis, tetapi juga sebagai simbol ketuhanan, rezeki, dan pengingat atas kekuasaan Ilahi. Kajian ini menunjukkan bahwa pendekatan integratif antara ilmu sains dan tafsir dapat memperkaya pemahaman umat terhadap wahyu serta mendorong kesadaran ekologis yang berbasis spiritualitas. Dengan demikian, al-Qur'an dapat dibaca sebagai teks suci sekaligus sumber inspirasi ekologis yang relevan dalam konteks krisis lingkungan saat ini.
Etika Berpendapat di Media Sosial: Analisis Pendekatan Ma'na Cum Maghza Pada QS. Al-Hujurat 49:11 Yoga Pratama; Mukri Mulyadi; Nurul Haliza
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 01 (2025): Desember 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v7i01.1429

Abstract

Kebebasan berpendapat merupakan hak asasi manusia yang dijamin secara eksplisit oleh konstitusi Nasional maupun Internasional. Namun, kebebasan bukan berarti tanpa batas, dalam konteks berkomunikasi di ruang publik kebebasan berpendapat harus dibatasi oleh etika. Q.S al-Hujurat 49:11 merupakan ayat yang relevan untuk membahas etika berpendapat. Ayat ini mengajarkan kepada umat Islam untuk saling menghormati dan menghargai pendapat orang lain, meskipun pendapat tersebut berbeda dengan pendapat kita. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji Q.S Al-Hujurat 49:11 melalui pendekatan ma???na cum magzha guna mencari kerangka ideal etika berpendapat di media sosial yang relevan dengan tantangan komunikasi digital kontemporer seperti fenomena ujaran kebencian, hoaks dan polarisasi di ruang digital. Melalui analisis linguistik terhdapa term yaskhasru, al-lamz dan tanabuz bi al-alqab serta rekonstruksi konteks historis mikro dan makro, penelitian ini menemukan empat perinsip etika Qur???ani yang bisa diaplikasikan yakni: prinsip anti peremehan atau larangan merendahkan atau mengejek dalam bentuk verbal paupun non-verbal, prinsip anti lamz atau larangan menyindir, mengisyaratkan cela atau mengekspresikan penghinaan secara terselubung, kemudian prinsip anti stigmatisasi atau larangan memberi label negatif dan julukan yang merusak martabat dan terkahir prinsip restorasi moral atau kewajiban memperbaiki hunguna sosial yang bermartabat. Novelty dalam penelitian ini terletak pada upaya reintrepetasi dan tranformasi makna ayat menjadi prinsip etika yang bisa digunakan dalam komunikasi berbasis digital yang bertumpu pada nilai-nilai al-Qur???an untuk mereduksi degradasi moral di ruang media sosial.
Eksplorasi Akal (‘Aql) dalam Al-Qur’an: Pendekatan Tafsir Tematik terhadap Linguistik dan Ayat-Ayatnya Nurul Hidayah Andarini; Achmad Khudori Soleh; Muhammad Nurullah Erfany
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/gwpecg29

Abstract

Perkembangan kehidupan modern yang ditandai oleh arus globalisasi dan derasnya informasi telah memunculkan berbagai persoalan dalam pemahaman keagamaan, terutama terkait lemahnya penggunaan akal secara kritis dan reflektif. Kondisi ini berdampak pada munculnya pola pikir tekstual, penyederhanaan makna ajaran, serta rendahnya kemampuan analisis dalam memahami Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep akal (‘aql) dalam Al-Qur’an secara komprehensif, khususnya dari aspek linguistik, ruang lingkup objek pemikiran, dan fungsinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) melalui metode tafsir tematik (maudhu’i) yang dipadukan dengan analisis linguistik terhadap ayat-ayat yang mengandung lafadz ‘aql. Sumber data utama adalah Tafsir Al-Mishbah, didukung oleh literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan 1) lafadz ‘aql dalam Al-Qur’an muncul dalam bentuk kata kerja sebanyak 49 kali, yang menegaskan bahwa akal merupakan aktivitas dinamis. 2) objek pemikiran akal mencakup dimensi empiris, historis, psikis, metafisik, eskatologis, serta moral-keagamaan. 3) dan akal juga berfungsi sebagai instrumen yang menggunakan potensi intelektualnya untuk pengenalan dan pengesaan Allah, pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an, serta kesadaran diri dan pertanggungjawaban. Dengan demikian, akal dalam Al-Qur’an merupakan instrumen integratif yang menghubungkan rasionalitas dan spiritualitas guna membentuk kesadaran keagamaan yang utuh dan relevan dengan tantangan zaman.
Musyawarah dan Relevansinya bagi Demokrasi di Indonesia (Studi Analisis terhadap Q.S. asy-Syūrā/42: 38 dan Q.S. Āli-Imrān/3: 159) Andi Tenrileleang; Dahlia; Hasyim Haddade; Muh. Irham
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v7i2.2091

Abstract

Musyawarah merupakan prinsip fundamental Islam yang berakar dari perintah langsung Allah swt demi mencapai keputusan yang berkeadilan dan penuh maslahat. Musyawarah bukan sekadar anjuran moral, melainkan instrumen krusial dan pilar vital yang wajib diimplementasikan umat Islam dalam seluruh aspek kehidupan demi menjaga stabilitas dan keberlangsungan tatanan sosial. Penelitian ini secara mendalam mengkaji hakikat musyawarah dalam Al-Qur’an, menganalisis pemikiran para mufassir secara komparatif, serta menelaah implementasinya sebagai bagian dari konteks demokrasi modern Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan studi kepustakaan kualitatif, penelitian ini melakukan penafsiran tematik terhadap Q.S. asy-Syūrā/42: 38 dan Q.S. Ā li-Imrān/3: 159 untuk mengeksplorasi relevansi doktrinal dan praktisnya. Hasil penelitian menegaskan bahwa Al-Qur’an menetapkan musyawarah sebagai identitas utama orang beriman, yang memberikan landasan teologis kokoh bagi mekanisme pengambilan keputusan kolektif dalam kehidupan umat. Para mufassir secara konsensus menyepakati bahwa musyawarah merupakan instrumen yang menjaga kemaslahatan bersama. Implementasi nilai ini merupakan wujud nyata dari prinsip keadilan, kesetaraan derajat, dan kebebasan berpendapat di tengah masyarakat yang heterogen. Lebih jauh, nilai-nilai syariat ini terintegrasi secara harmonis dalam konstitusi Indonesia dan menjadi fondasi utama kehidupan berbangsa serta bernegara melalui sila keempat Pancasila. Dengan demikian, musyawarah berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan nilai-nilai Islam dengan praktik kenegaraan yang demokratis, memastikan bahwa setiap pengambilan keputusan mencerminkan kearifan kolektif dan tanggung jawab teologis yang mendalam bagi seluruh warga negara.
Nilai-Nilai Etos Kerja Qur'ani dalam Perspektif Tafsir Tematik: Landasan Profesionalisme Laela Safriani; Muhammad Agus; Hasyim Haddade; Muhammad Irham
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/0n9yen50

Abstract

Artikel ini mengkaji nilai-nilai etos kerja dalam perspektif Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir tematik (tafsir maudhu‘i). Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penguatan etos kerja di tengah dinamika kehidupan modern yang ditandai oleh meningkatnya tuntutan profesionalisme, produktivitas, dan kompetisi kerja. Al-Qur’an tidak hanya memberikan dorongan untuk bekerja dan berusaha, tetapi juga menawarkan landasan moral dan spiritual yang membentuk karakter kerja seorang muslim. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengonstruksi nilai-nilai serta prinsip-prinsip etos kerja yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an, sekaligus menjelaskan kontribusinya terhadap pembentukan produktivitas dan profesionalisme Islami. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Data diperoleh melalui pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kerja, usaha, amanah, tanggung jawab, kualitas amal, disiplin waktu, dan pengembangan diri. Analisis dilakukan secara tematik dengan mengidentifikasi tema-tema utama, menelaah konteks ayat, serta menghubungkannya dengan konsep etos kerja dalam Islam berdasarkan penafsiran para mufasir klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an memandang kerja sebagai bagian integral dari ibadah, pengabdian kepada Allah Swt., dan manifestasi tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Ditemukan sejumlah nilai utama etos kerja Qur’ani, yaitu ikhlas, amanah dan kejujuran, tanggung jawab, disiplin dan penghargaan terhadap waktu, kerja keras (mujāhadah), profesionalisme dan kualitas kerja (itqān dan ihsān), orientasi masa depan, serta keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Nilai-nilai tersebut membentuk kerangka etos kerja Islami yang mengintegrasikan dimensi spiritual, moral, dan sosial dalam aktivitas profesional. Dengan demikian, etos kerja Qur’ani berfungsi sebagai landasan normatif dalam membangun sumber daya manusia yang produktif, berintegritas, profesional, dan berorientasi pada kemaslahatan individu maupun masyarakat.
Kitab Suci Al-Qur’an-Hadis: Refrensi Resepsi, Performasi dan Aktualisasi Budaya Masyarakat Sosio-Kultural Indonesia M. Riyan Hidayat; Aghnia Faradits; Retno Yuliati; Tapaul Habdin; Amilin Agustin
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/vp42dy67

Abstract

Artikel ini membahas gagasan Saifuddin Zuhri Qudsy mengenai relasi antara teks Al-Qur’an dan hadis dengan praktik sosial-budaya masyarakat Indonesia. Berangkat dari asumsi bahwa teks keagamaan sering mengalami kesenjangan konteks kultural dengan masyarakat-Arab, Saifuddin menawarkan pendekatan yang mengintegrasikan studi Al-Qur’an-hadis dengan disiplin sosial-antropologis. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengelaborasi prinsip-prinsip pemikiran Saifuddin dalam melihat resepsi, performasi, dan aktualisasi budaya masyarakat berbasis teks normatif. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif terhadap karya-karya Saifuddin sebagai sumber primer. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Saifuddin membangun tiga prinsip utama: pertama, keterpengaruhan budaya terhadap teks Al-Qur’an-hadis; kedua, performasi variatif antara praktik sosial dan teks; ketiga, integrasi dan interkoneksi antara teks dengan teori sosial-antropologis. Ketiga prinsip ini mempertegas bahwa tradisi, ritual, dan praktik keagamaan yang hidup di masyarakat merupakan bentuk legitimasi dan aktualisasi pemaknaan teks yang bersifat dinamis. Kontribusi Saifuddin terletak pada upaya mempromosikan wajah baru kajian living Qur’an dan living hadis yang kontekstual, lintas budaya, dan relevan dengan perkembangan masyarakat modern, termasuk di ruang digital. Artikel ini menyimpulkan bahwa pemikiran Saifuddin memberikan landasan bagi peneliti dalam mengkaji fenomena keagamaan dengan mempertimbangkan teks, konteks sosial, dan partisipan secara simultan.
Resepsi Masyarakat terhadap Hadis Ujian Sebagai Penggugur Dosa: Studi Living Hadis Pada Korban Banjir di Meureudu Aceh Yuna Ulfah Maulina
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v7i2.2137

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis resepsi masyarakat terhadap hadis tentang ujian sebagai penggugur dosa pada korban banjir di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research) dan paradigma living hadis. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap masyarakat korban banjir, tokoh agama, serta aparatur desa. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman dengan pendekatan teori resepsi, konstruksi sosial Berger dan Luckmann, serta fenomenologi sosial Alfred Schutz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Meureudu memahami hadis tentang musibah sebagai penggugur dosa sebagai sumber penguatan spiritual dalam menghadapi bencana. Pemahaman tersebut diperoleh melalui proses transmisi keagamaan yang berlangsung dalam pengajian, ceramah, dan interaksi dengan tokoh agama setempat. Resepsi masyarakat terhadap hadis tersebut terbagi ke dalam dua kecenderungan, yaitu resepsi aktif yang mendorong optimisme dan semangat bangkit pascabencana, serta resepsi fatalistik yang lebih menekankan sikap pasrah terhadap takdir. Hadis tentang ujian sebagai penggugur dosa tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi juga diinternalisasi dalam berbagai praktik keagamaan dan sosial, seperti peningkatan ibadah, zikir, pengajian, serta solidaritas antarwarga. Dalam perspektif fenomenologi Schutz, pemaknaan tersebut dibentuk oleh pengalaman religius masa lalu (because motives) dan harapan memperoleh ketenangan batin serta pahala dari Allah (in-order-to motives). Penelitian ini menunjukkan bahwa hadis berfungsi sebagai mekanisme coping religius yang membantu masyarakat membangun ketahanan mental dan spiritual dalam menghadapi bencana. Temuan ini memperkuat argumentasi bahwa hadis hidup dan beroperasi secara dinamis dalam realitas sosial masyarakat Aceh melalui proses interpretasi, internalisasi, dan aktualisasi dalam kehidupan sehari-hari.
Pemahaman Jamaah Majelis Taklim Sema'an ‎Al-Qur'an Al-Hawa Tanggungharjo Grobogan Terhadap Tafsir Ayat Nafkah Istri Maharati Marfuah
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i2.2228

Abstract

Majelis Taklim Sema'an Al-Qur'an al-Hawa Tanggungharjo Grobogan adalah ‎salah satu majelis taklim yang secara rutin seminggu sekali menggelar sema'an ‎pembacaan Al-Qur'an dan juga kajian. Semua jamaahnya adalah ibu-ibu. Kebanyakan ‎mereka ikut andil bekerja untuk memenuhi nafkah keluarga. Bahkan sebagian ada yang ‎menjadi tulang punggung keluarga. Padahal dalam Islam, suami adalah pihak yang ‎berkewajiban untuk memenuhi nafkah keluarga sekaligus menjadi hak dari istri. Selain ‎itu nafkah juga bernilai pahala suami karena dihitung sebagai sedekah.‎ Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman jamaah Sema'an Al-Qur'an ‎al-Hawa terhadap ayat-ayat hak istri dalam rumah tangga serta menganalisis implikasi ‎dari pemahaman dan respon ibu-ibu jamaah al-Hawa terhadap hak nafkah istri dalam ‎Al-Qur'an.‎Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode studi lapangan. Teknik ‎pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, observasi dan ‎dokumentasi. Analisis data penelitian ini menggunakan teknik analisis data, reduksi ‎data dan simpulan. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam keluarga yang berkewajiban memberikan ‎nafkah adalah suami. Meski demikian, seorang perempuan yang menjadi istri tak ‎dilarang untuk bekerja dalam mencari nafkah, selama dalam batas yang diperbolehkan ‎dalam syariat. Mayoritas para jamaah Sema'an Al-Qur'an al-Hawa Tanggungharjo tahu ‎akan hal itu, meski tak bisa menyebutkan secara spesifik landasan ayat dalam Al-Qur'an. ‎Mereka bekerja karena menganggap bahwa istri punya tanggungjawab juga untuk ‎membantu suami. Terlebih dalam pandangan mereka, seorang perempuan itu menikah ‎cukup sekali seumur hidupnya, maka mereka mempersiapkan diri jika nantinya suami ‎telah tiada, para istri tetap bisa melanjutkan mencari nafkah untuk keluarga.

Page 10 of 11 | Total Record : 106