cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
Gagasan Perlawanan Pramoedya Ananta Toer terhadap Revolusi: Analisis Fakta Kemanusiaan dalam Novel Larasati Farah Syahida Rosda; Dinda Tri Puspita Sari; Dwi Susanto
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 2 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i2.7686

Abstract

This research aims to reveal Pramoedya Ananta Toer's ideas of resistance to the revolution through the novel Larasati. To achieve this goal, this research uses a qualitative descriptive method with a genetic structuralism approach emphasizing human facts. The object and data source of this research is the novel Larasati by Pramoedya Ananta Toer. The data collection technique used in this research is the library technique. Genetic structuralism research is considered a dialectical method. This method is based on a circular hermeneutic circle, meaning that research can be conducted anywhere. The results of this research show that the formation of literary works is strongly influenced by the social structure and ideas of the author. The humanitarian facts obtained from the author are social humanitarian facts, Pramoedya's role as part of the Badan Keamanan Rakyat (BKR), and humanitarian facts in the form of political activities, Pramoedya represents groups of people who were oppressed by the corruption that occurred during the revolution. Pramoedya represents a group of artists and community groups in fighting for revolution in Indonesia, which is demonstrated through his work, Larasati. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan gagasan perlawanan Pramoedya Ananta Toer terhadap revolusi melalui novel Larasati. Untuk mencapai tujuan ini, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan strukturalisme genetik yang menekankan pada fakta kemanusiaan. Objek dan sumber data dari penelitian ini adalah novel Larasati karya Pramoedya Ananta Toer. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pustaka. Penelitian strukturalisme genetik dianggap sebagai metode dialektik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pembentukan karya sastra sangat dipengaruhi oleh struktur sosial dan gagasan pengarang. Fakta kemanusian yang didapatkan dari pengarang adalah fakta kemanusiaan bersifat sosial, peran Pramoedya sebagai bagian dari Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan fakta kemanusiaan berupa aktivitas politik, Pramoedya mewakili kelompok masyarakat yang tertindas atas korupsi yang terjadi pada masa revolusi. Hal yang menjadi temuan dalam penelitian ini adalah, peran pengarang Pramoedya mewakili kelompok seniman dan kelompok masyarakatnya dalam memperjuangkan revolusi di Indonesia, yang mana ditunjukkan melalui karyanya yaitu Larasati. Pengarang memiliki pengaruh terhadap gagasan atau ideologi yang menjadi representasi karya sastranya. Pada novel Larasati, Pram menjadikannya alat gagasan perlawanan terhadap penjajah di masa revolusi Indonesia.
Simbol Semiotik dalam Novel Anomie Karya Rilda A. Oe. Taneko Erwin Wibowo
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v6i2.472

Abstract

The aim of the research is to describe semiotic meanings in the Rilda A.Oe. Taneko’s novel, Anomie. The method used is decriptive method with semiotic approach by Pierce which includes icons, indexes, and symbols. The data source used in this research is the novel Anomie written by Rilda A.Oe. Taneko by investigating the data of symbols reflected in the quotations, and some books which are treated as references in this research. The collecting data technique is conducted by using literary review. The problems which are elaborated in this research are 1)identifying icons, indexes, and symbols semiotic in the novel Anomie written by Rilda A.Oe. Taneko, 2) describing icons, indexes, and symbols semiotic in the Rilda A.Oe. Taneko’s novel, Anomie. The results of this study show the novel Anomie by Rilda A.Oe. Taneko there is a semiotic symbol that includes the icon of educational institutions, social institutions, and entertainment venues. This novel index belongs to the strength, greed, pride and character figures. The symbols of this novel include symbols of wealth, sacrificial symbols, and symbols of love.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna semiotik yang terdapat dalam novel Anomie karya Rilda A.Oe. Taneko. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, dengan pendekatan semiotic Pierce yang meliputi ikon, indeks dan simbol. Sumber data yang dipakai dalam penelitian ini adalah novel Anomie karya Rilda A.Oe. Taneko dengan mengamati data-data ikon, indeks dan simbol yang tercermin dalam kutipan-kutipan tersebut, dan beberapa buku yang dijadikan referensi dalam penelitian ini. Teknik pengambilan data menggunakan teknik studi pustaka. Permasalahan yang akan dipecahkan dalam penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi ikon, indeks dan simbol semiotik yang terdapat dalam novel Anomie karya Rilda A.Oe. Taneko, dan (2) mendeskripsikan ikon, indeks dan simbol semiotik yang terdapat dalam novel Anomie karya Rilda A.Oe. Taneko. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa novel Anomie karya Rilda A.Oe. Taneko terdapat simbol semiotik yang meliputi ikon berupa lembaga pendidikan, lembaga sosial, dan tempat hiburan. Indeks dalam novel ini berupa kekuasaan, keserakahan, kesombongan dan kekhawatiran tokoh-tokohnya. Simbol pada novel ini meliputi simbol kekayaan, simbol pengorbanan, dan simbol cinta kasih. 
Diskriminasi Ras dalam Cerita Pendek Skin Karya Emily Bernard Dhitya Faradilla
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.4975

Abstract

Skin’s short story tells how the social life of the black race in the United States is disturbed by the white race which dominates the social life of society. This research will reveal the impact of black race disorders who experience various forms of white race disorders. This research was conducted in line with the views of Newman’s critique. The research method used in this study is a qualitative descriptive method. The material object in this study is the short story Skin by Emily Bernard. The results of this study found several forms of harassment in the form of physical abuse and verbal expression. Discrimination that occurs also has an impact on the victim, as in the short story Skin, it affects the psychology of the victim, which causes the victim to experience excessive anxiety within herself over things that threaten her in the real world. AbstrakCerita pendek Skin menceritakan bagaimana kehidupan sosial ras kulit hitam di Amerika Serikat yang mengalami diskriminasi oleh ras kulit putih yang mendominasi kehidupan sosial masyarakat. Penelitian ini akan mengungkap dampak dari diskriminasi ras kulit hitam yang mengalami berbagai macam bentuk diskriminasi dari ras kulit putih. Penelitian ini dilakukan sejalan dengan pandangan diskriminasi oleh Newman. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Objek material dalam penelitian ini adalah cerita pendek Skin karya Emily Bernard. Hasil penelitian ini ditemukan beberapa bentuk diskriminasi berupa diskriminasi fisik (physical abuse) dan diskriminasi verbal (verbal expression). Diskriminasi yang terjadi juga memberikan dampak bagi korbannya, seperti, dalam cerpen Skin, memberikan pengaruh terhadap psikologi korban yang menyebabkan korban mengalami ganggaun kecemasan (anxiety) berlebih dalam dirinya atas hal yang mengancamnya di dunia nyata.
Cerita Rakyat Asal-Usul Situ Sukarame Kabupaten Sukabumi: Analisis Nilai Moral Nurgiyantoro Arif Firmansyah; Faiz Karim Fatkhullah; Nurul Anisa Rubila; Ryesta Septiarini
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 2 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i2.8389

Abstract

This study aims to analyze the moral values in the folktale of the Origin of Situ Sukarame which developed in Parakansalak District, Sukabumi Regency. The study used a qualitative descriptive method with an approach to Nurgiyantoro's moral value theory. The research data source was the text of the folktale of the Origin of Situ Sukarame, which was analyzed through story excerpts as well as the story's structure and intrinsic elements. The results of the analysis showed that there were 23 data excerpts reflecting moral values, which were classified based on Nurgiyantoro's theory, namely: six data on the moral value of human relationships with oneself, eleven data on the moral value of human relationships with other humans, and six data on the moral value of human relationships with God. These findings indicate that the folktale is full of moral values that are relevant to be used as a medium for character education in the context of the Independent Curriculum. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai moral dalam cerita rakyat Asal-usul Situ Sukarame yang berkembang di Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan teori nilai moral Nurgiyantoro. Sumber data penelitian berupa teks cerita rakyat Asal-Usul Situ Sukarame, yang dianalisis melalui kutipan cerita serta struktur dan unsur intrinsik cerita. Hasil analisis menunjukkan terdapat 23 kutipan data yang mencerminkan nilai-nilai moral, yang diklasifikasikan berdasarkan teori Nurgiyantoro, yaitu: enam data pada nilai moral hubungan manusia dengan diri sendiri, sebelas data pada nilai moral hubungan manusia dengan manusia lain, dan enam data pada nilai moral hubungan manusia dengan Tuhan. Temuan ini menunjukkan bahwa cerita rakyat tersebut sarat dengan nilai moral yang relevan untuk digunakan sebagai media pendidikan karakter dalam konteks Kurikulum Merdeka.
PANDANGAN LIMA TOKOH PEREMPUAN TERHADAP PERNIKAHAN DALAM NOVEL MENIKAH KARYA JANE MARYAM Mamad Ahmad
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 2 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i2.1412

Abstract

AbstrakPernikahan adalah sebuah perbuatan  sakral yang dilakukan oleh dua insan berlainan jenis kelamin untuk hidup bersama secara sah dalam sebuah ikatan batin yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Namun, pada kenyataan banyak diantara kita yang berpandangan bahwa pernikahan dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa harus berlawanan jenis kelamin. Penelitian ini akan membahas pandangan lima tokoh perempuan dalam menyikapi dan memaknai sebuah pernikahan dalam novel “menikah” karya Jane Maryam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pandangan lima tokoh utama perempuan terhadap arti sebuah pernikahan. Penelitian ini menggunakan teori feminisme radikal untuk mengungkapkan pandangan lima tokoh perempuan melalui identifikasi dan interprestasi watak dan karakter lima tokoh perempuan. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan studi pustaka dan teknik baca catat sebagai metode pengumpulan datanya. Adapun analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan teknik interpretatif. Hasil intertpretasi menunjukkan bahwa ada perbedaan yang mendasar tentang arti dan makna sebuah pernikahan dari kelima tokoh perempuan, antara lain pandangan seorang tokoh utama perempuan yang menyatakan bahwa pernikahan itu sebuah hubungan dua insan yang dilakukan dalam sebuah ikatan yang sah tetapi tidak harus berlainan jenis.Kata kunci:pernikahan;pandangan;kritik feminis
Air yang Kultural dan Ideologis: Konstruksi Naratologis Kuala dalam Hikayat Parang Puting Riqko Nur Ardi Windayanto
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.7149

Abstract

This research aims to reveal the narratological construction of kuala in the Hikayat Parang Puting so that its cultural and ideological values can be identified. By amalgamating the narratological theory of Mieke Bal and Ansgar Nünning, this research moves dialectically between literary works and Malay culture to reveal this construction. The Hikayat Parang Puting MSS Malay D 3 as the British Library collection that has been transliterated is the data source for gathering linguistic units representing kuala constructions. Methodologically, this data is textually analyzed with attention to its context in literary works and the narratology theories employed. The analysis is further reinforced with literature reviews to correlate the literary data with cultural data beyond the text. This research found that kuala is a geographical element that is spread out, one of which is in Penang. In Penang, Hikayat Parang Puting was produced by Ibrahim. The presence of kuala in the text, thus, cannot be separated from that fact. Similar to the cultural idea of kuala, kuala in the text is perceived by the characters and narrator as a space of power (Hall-Airriess) and a liminal space (Andaya). However, this power does not mean a force; liminal space does not contain spiritual potential, but rather myth. Kuala tends to be constructed as an intermediate location that is connected to a dangerous world as well as a space that is safe from these dangers. Narratively, kuala is also a location that conveys land and sea as two opposing locations in the story. This research ultimately concludes that the cultural and ideological kuala is a geographical object that articulates animistic energies, which can bring both security and danger as well as disasters and safety. This becomes the reality of the meaning and culture offered by the tale. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menguraikan konstruksi naratologis kuala dalam Hikayat Parang Puting sehingga dapat diketahui nilai kultural dan ideologisnya. Penggunaan teori naratologi dari Mieke Bal dan Ansgar Nünning menjadikan penelitian ini bergerak secara dialektal antara karya sastra dan budaya Melayu untuk mengungkapkan konstruksi itu. Hikayat Parang Puting MSS Malay D 3 koleksi British Library yang telah dialihaksarakan menjadi sumber data untuk menghimpun data satuan-satuan lingual yang merepresentasikan konstruksi kuala. Secara metodologis, data ini dianalisis secara tekstual dengan memperhatikan konteksnya dalam karya sastra dan teori naratologi yang digunakan. Analisis diperkuat pula dengan studi pustaka sehingga data karya sastra dikorelasikan dengan data budaya di luar teks. Penelitian ini menemukan bahwa kuala merupakan elemen geografis yang tersebar, salah satunya, di Penang. Di Penang inilah Hikayat Parang Puting diproduksi oleh Ibrahim. Kehadiran kuala dalam teks, dengan demikian, tidak terlepas dari kenyataan itu. Mirip dengan gagasan budaya tentang kuala, kuala dalam teks dipersepsikan oleh karakter dan narator sebagai ruang kekuasaan (Hall-Airriess) dan ruang liminal (Andaya). Namun, kekuasaan ini tidak berarti kekuatan; ruang antara tidak mengandung potensi spiritual, tetapi mitologis. Kuala cenderung dikonstruksi sebagai ruang antara yang terhubung dengan dunia yang berbahaya sekaligus ruang aman dari bahaya tersebut. Secara naratif, kuala juga menjadi lokasi yang mengantarai daratan dan lautan sebagai dua lokasi yang beroposisi dalam cerita. Penelitian ini pada akhirnya menyimpulkan bahwa kuala yang kultural dan ideologis adalah objek geografis yang mengartikulasikan energi animisme, yang bisa mendatangkan rasa aman dan bahaya juga bencana dan keselamatan. Hal itu menjadi kenyataan makna dan budaya yang ditawarkan oleh hikayat.
FOLKLOR DEWI RENGGANIS SEBAGAI MOTIF DASAR NOVEL CANTIK ITU LUKA KARYA EKA KURIAWAN Teddi Muhtadin
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.3589

Abstract

Abstrak:Ditulis isi berisi pembacaan novel Cantik itu Luka (2002) karya Eka Kurniawan dengan perspektif folklor. Hal itu dilakukan karena, menurut hemat kami, dunia folklor melandasi keseluruhan novel tersebut. Dengan menggunakan teori folklor dan semiotika Charles Sander Peirce akan dijelaskan ciri folklor, kedudukan folklor dalam struktur novel, serta makna dan ideologi novel. Hasilnya menunjukkan bahwa folklor Dewi Rengganis yang ada di dalam novel merupakan motif dasar atau la mise en abyme ‘tanda kecil yang memiliki acuan besar’ bagi keseluruhan novel. Oleh karena itu, keseluruhan novel dapat diinterpretasikan berdasarkan motif folklor tersebut dan ideologi novel dapat diinterpretasikan berdasarkan sifat-sifat folklor. Dengan mengacu pada motif dasar tersebut maka novel Cantik itu Luka menunjukkan adanya upaya penggabungan dan penjajaran dari hal-hal yang berbeda bahkan bertentangan, serta pengulangan dengan variasi yang berbeda dari motif dasar.
ADA APA DENGAN AYAT-AYAT CINTA MEMBONGKAR KEPOPULERAN NOVEL KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY VIA FORMULA PEMENUHAN SELERA Mashuri Mashuri
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v4i1.382

Abstract

Kajian terhadap novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) karya Habiburrahman El Shirazy ini dirancang sebagai penelitian sastra populer. Pendekatannya dengan menggunakan formula pemenuhan selera. Ternyata AAC tak bisa menghindar dari takdir sastra populer, karena sastra populer memang lekat dengan selera dan nilai-nilai masyarakat. Hal itu karena penopang kepopuleran AAC adalah unsur-unsur pembentuknya berupa formula terkait dengan segmen pembaca yang Islami. Dalam konteks genre yang bermain dalam relasi antara konvensi dan invensi, novel tersebut termasuk kategori genre roman, tetapi diramu dengan dengan hal lain yang populis dan kontekstual yaitu nilai-nilai agama. Hal itu terdapat hampir dalam sekujur novel, mulai dari judul, penokohan, latar, hubungan laki-perempuan, dan sebagainya. Dengan demikian, formula-formula atau unsur pembentuk karya dalam AAC yang menekankan pada tokoh hero-agamis, tempat eksotis dan romantis-islami mampu menyantuni atau memenuhi selera masyarakat pembaca yang segmentatif sehingga novel tersebut populer.
Perbandingan Cerita Rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih, Cinderella, dan Si Cantik Vasilisa Rosma Kadir; Riman Kasim; Yusrilsyah Limbanadi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.4799

Abstract

Folklore has several similarities and differences, especially in the folklore of Bawang Merah and Bawang Putih with the folklore of Cinderella and Si Cantik Vasilisa. These three stories have a similar structure even though they are in different countries. In revealing the similarities and differences between the two folklores, the researcher uses a structural approach and comparative literature. This study aims to describe the similarities and differences in the three folklores. The method used in this research is descriptive method. The data were analyzed using a qualitative approach with more emphasis on content analysis techniques. The approach used to analyze the three folklores is a structural approach and a comparative study. The results showed that the folk tales of Bawang Merah and Bawang Putih, Cinderella, and Si Cantik Vasilisa had different settings and storylines, but had similar conflicts through the role of the stepmother which was represented through an evil character. AbstrakCerita rakyat memilki beberapa persamaan dan perbedaan terutama pada cerita rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih dengan cerita rakyat Cinderella dan Si Cantik Vasilisa. Ketiga cerita ini memiliki kemiripan struktur meskipun berbeda negara.Dalam mengungkap persamaan dan perbedaan kedua cerita rakyat tersebut, maka peneliti menggunakan pendekatan struktur dan sastra bandingan.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan persamaan dan perbedaan pada ketiga cerita rakyat tersebut.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.Data dianalisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang lebih ditekankan pada teknik analisis isi.Pendekatan yang digunakan untuk menganalisis ketiga cerita rakyat tersebut adalah pendekatan struktural dan kajian bandingan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih, Cinderella, dan Si Cantik Vasilisa memiliki perbedaan latar dan alur cerita, namun memiliki persamaan konflik melalui peran ibu tiri yang terepresentasikan melalui karakter yang jahat.
PERANAN SASTRA DAN BAHASA MELAYU DALAM MEMBANGUN KARAKTER BANGSA Chairil Effendy
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v3i2.443

Abstract

Literature and language play important role in forming the character of a country. Language that is delicate, neatly arranged, and expressed with good manner in various occasions creates lovely, beautiful, well-mannered, civilized impressions either for the speaker or the listener. Therefore in a long time, whether when it is in the position as lingua franca for the Nusantara people or when it is in the position as regional language, Malay, and Malay literature, has played important role in forming Malay country’s character. Speaking and doing literature using Malay that is based on the ethical and aesthetic values not only colour the life of the noblemen in the kingdom palace, but also among the people. The delivery of certain messages orally through pantun or literary texts such as poem and gurindam that contain a lot of moral values, really contributes to the forming of Nusantara people’s personality and character. The problem is that country’s character is not the destiny or fate, not something that has been available on its own; it is a “course” or “duty”. It must be planted, internalized, built, formed, and kept ground inside the country’s children selves. In this context, language plays important role. Language is the symbolic system that with it men can form, raise, and develop their culture. In relation to it, the position and function of Indonesian and regional (Malay) languages must be reinforced: “schools oblige to develop Indonesian and regional languages to become the part of country’s character building.”AbstrakSastra dan bahasa memainkan peranan penting dalam membentuk karakter suatu bangsa. Bahasa yang halus, tertata rapi, dan disampaikan dengan tatakrama yang baik dalam berbagai kesempatan menimbulkan kesan elok, indah, santun, terhormat, beradab, baik bagi pembicara maupun pendengarnya. Demikianlah dalam waktu yang lama, baik tatkala berkedudukan sebagai lingua franca bagi masyarakat Nusantara maupun ketika berkedudukan sebagai bahasa daerah, bahasa Melayu, pun sastra Melayu, telah memainkan peran penting dalam membentuk karakter bangsa Melayu. Berbahasa dan bersastra dengan bahasa Melayu yang berlandaskan pada nilai-nilai etika dan estetika itu tidak hanya mewarnai kehidupan para bangsawan di istana kerajaan, melainkan juga di tengah rakyat jelata. Penyampaian pesan-pesan tertentu secara lisan melalui pantun atau melalui teks sastra seperti syair dan gurindam yang banyak mengandung nilai-nilai moral, sangat kontributif bagi pembentukan kepribadian dan karakter masyarakat Nusantara. Masalahnya adalah karakter bangsa itu bukanlah nasib bukan pula takdir, bukan sesuatu yang telah tersedia dengan sendirinya; ia adalah “ikhtiar” atau “tugas”. Ia harus ditanamkan, diinternalisasikan, dibangun, dibentuk, dan terus diasah di dalam diri anak-anak bangsa. Dalam konteks ini bahasa memainkan peranan penting. Bahasa adalah sistem simbol yang dengannya manusia dapat membentuk, memelihara, dan mengembangkan kebudayaannya. Berkaitan dengan hal tersebut, kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia dan daerah (Melayu) harus diperkuat: “sekolah-sekolah wajib mengembangkan bahasa Indonesia dan bahasa daerah menjadi bagian dari pembangunan karakter bangsa.”