cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
NOVEL SUKRENI GADIS BALI CERMIN KEHIDUPAN ETNIS ZAMANNYA I Nyoman Weda Kusuma
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v2i2.403

Abstract

Karya sastra tidak dapat dilepaskan dari lingkungan sosialnya. Karya sastra menampilkan gambaran kehidupan; dan kehidupan itu adalah suatu kenyataan sosial. Tulisan ini membahas novel Anak Agung Panji Tisna Sukreni Gadis Bali (SGB) dengan menggunakan pendekatan sosiologis. Tulisan ini memperlihatkan bahwa SGB merupakan sebuah karya yang banyak merefleksikan kehidupan masyarakat Bali pada tahun tiga puluhan.
Budaya Dayak dan Unsur-Unsur Magis dalam Novel Kembang Gunung Purei Karya Lan Fang Cahyaningrum Dewojati; Ine Wulandari
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5239

Abstract

This study analyzes the dialectics and negotiation process between elements contained in the narrative mode of magical realism by Wendy B. Faris. The material object is Kembang Gunung Purei novel by Lang Fang. The novel raises the issue of friction between two different cultures. The character of Nanang is described as a modern and logical cultural agent of a big city, while Bua is described as a figure who comes from the traditional Dayak community who believes in local cultural customs and magical things to solve various problems in life. This cultural background difference causes the emergence of dialectical and negotiation processes which can be explained by the five elements of Wendy B. Faris’ magical realism, such as irreducible elements, phenomenal world, unsettling doubts, disruptions of time, space, and identity. The five elements seek to equate the dominant subject with the marginalized subject. The results of the study show that the dialectic and negotiation process paved the way for the possibility of heterogeneity, not only from the dominant discourse (Nanang-modern), but also the marginalized discourse (Bua-traditional), not only from the subject called ‘West’ (immigrants-foreigners-city), but also the subject of the so-called ‘Timur’ (Dayak tribe). AbstrakPenelitian ini membahas dialektika dan proses negoisiasi antarelemen yang terdapat dalam mode naratif realisme magis yang digagas oleh Wendy B. Faris. Objek material yang digunakan adalah novel Kembang Gunung Purei karya Lang Fang. Novel tersebut mengangkat isu gesekan antara dua budaya berbeda. Tokoh Nanang digambarkan sebagai agen budaya kota besar yang modern dan logis, sementara Bua digambarkan sebagai tokoh yang berasal dari masyarakat tradisional Dayak yang banyak meyakini adat budaya lokal dan hal-hal magis sebagai solusi berbagai masalah dalam kehidupan. Latar belakang budaya yang berbeda itulah penyebab munculnya proses dialektika dan negosiasi yang dapat dijelaskan dengan lima elemen realime magis Wendy B. Faris, seperti irreducible element, phenomenal world, unsettling doubts, disruptions of time, space, dan identity. Kelima elemen tersebut berupaya untuk menyetarakan subjek yang dominan dengan subjek yang termaginalkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses dialektika dan negosiasi membuka jalan bagi kemungkinan heterogenitas tidak hanya dari wacana yang dominan (Nanang-modern), melainkan juga wacana yang termaginalkan (Bua-tradisional), tidak hanya dari subjek yang disebut ‘Barat’ (pendatang-orang asing-kota), melainkan juga subjek yang disebut ‘Timur’ (suku Dayak).
Africanfuturism and Magical Realism In Okorafor’s ‘Hello Moto’ M. Daffa Aufa Rifqi Amran; Irana Astutiningsih; Dina Dyah Kusumayanti; Dewianti Khazanah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 2 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i2.7765

Abstract

This article uses the concepts of Magical Realism by Wendy B. Faris (2004) and Africanfuturism by Okorafor (2019) to analyze ‘Hello Moto’ by Nnedi Okorafor (2011). We analyzed the magical elements and concepts of African futurism in Okorafor's short stories to explain the author's intention in writing her works, which mostly use similar themes such as postcolonialism. After analyzing these two concepts, it was found that Nnedi Okorafor, through her work 'Hello Moto' reflects a postcolonial perspective on cultural hybridity by presenting advanced technology in the form of wigs and combining it with the power of black magic which can release powers such as transmission and mind control. There is a blend of Eastern and Western culture in 'Hello Moto' based on the above explanation. The contribution of this study lies in its exploration of Africanfuturism uniquely represented in Okorafor’s ‘Hello Moto’ as a medium for postcolonial discourse, showcasing how her work reimagines technological advancement through an African cultural lens while bridging traditional and modern worlds. AbstrakArtikel ini menggunakan konsep Realisme Magis oleh Wendy B. Faris (2004) dan Africanfuturisme (2019) untuk menganalisis ‘Hello Moto’ karya Nnedi Okorafor (2011). Kami menganalisis elemen magis dan konsep africanfuturisme yang terdapat di dalam cerita pendek karya Okorafor untuk menjelaskan niat penulis menulis karya-karyanya yang kebanyakan menggunakan tema yang serupa yakni tentang poskolonialisme Setelah menganalisis kedua konsep tersebut, ditemukan bahwa Nnedi Okorafor melalui karyanya ‘Hello Moto’ mencerminkan perspektif postkolonial tentang hibriditas budaya dengan menghadirkan teknologi canggih berupa wig dan memadukannya dengan kekuatan ilmu hitam yang dapat melepaskan kekuatan seperti teleportasi dan pengendalian pikiran. Terdapat perpaduan budaya Timur dan Barat dalam ‘Hello Moto’ berdasarkan penjelasan di atas. Kontribusi penelitian ini terkait dengan eksplorasi Afrofuturism sebagaimana direpresentasi dalam ‘Hello Moto’ sebagai media wacana pascakolonial, dimana kemajuan teknologi di kultur Afrika digambarkan dengan cara menjembatani dunia tradisional dan modern.
MAGICAL REALISM-LIKE IN SHAKESPEARE'S A MIDSUMMER NIGHT'S DREAM Dio Catur Prasetyohadi; Hat Pujiati; Irana Astutiningsih
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v7i1.508

Abstract

This article uses concepts of magical realism by Wendy B. Faris to analyze Shakespeare's A Midsummer Night's Dream. We analyze elements of magical realism of the work in mapping discourses between the text and the real life. The chosen material object that published earlier than the theory we chose make this work contributes to describe the trace of the civilization development; event of in-betweeness of human consciousness. However, we have found that A Midsummer Night’s Dream is only a magical realism-like mode, since realism is dominant in the text as the trace of modernity. Meanwhile, the characteristics of Magical Realism that is postulated by Faris is in-between realism and fantasy as a trace of transition era; modern to postmodern.Abstrak: Artikel ini menggunakan konsep-konsep realism magis oleh Wendy B. Faris untuk menganalisis “A Midsummer Night’s Dream” karya Shakespeare.  Kami menganalisis elemen-elemen realism magis yang ada dalam karya untuk memetakan wacana-wacana yang ada antara teks dan kenyataan. Pemilihan objek materi yang telah dipublikasi lebih awal dari kelahiran teori yangkami pilih ini berkontribusi untuk menjelaskan jejak perkembanan peradaban Kebudayaan; peristiwa keberantaraan pada kesadaran manusia. Namun demikian, kami menemukan bahwa “A Midsummer Night’s Dream” hanyalah moda tulisan Serupa Realisme Magis, karena dominan teks lebih pada realisme yang merupakan jejak dari modernitas. Sementara syarat realism magis yang ditawarkan Faris adalah keberantaraan realisme dan fantasi sebagai jejak era transisi modern menuju postmodern.
Aktualisasi Diri Tokoh Utama pada Novel Merindu Cahaya De Amstel Karya Arumi E. Nur Hanifa; Sugiarti Sugiarti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.5774

Abstract

This research was conducted to describe (1) the forms of the main character's self-actualization in the novel Merindu Cahaya de Amstel by Arumi E. and (2) the factors that cause the main character's self-actualization in the novel Merindu Cahaya de Amstel by Arumi E. The approach used in this research is a humanist psychology approach. The research method used is descriptive qualitative. The results of the study show that (1) the forms of self-actualization possessed by the main character in the novel Merindu Cahaya de Amstel by Arumi E. are acceptance of self, other people, and natural things, simplicity, discrimination between ways and goals, constantly new rewards, and strong interpersonal relationships. (2) the factors that cause self-actualization of the main character in the novel Merindu Cahaya de Amstel by Arumi E, namely environmental factors, the need for a high sense of security, and habits. The conclusion of the main character's self-actualization in the novel Merindu Cahaya de Amstel by Arumi E, is formed because of the main character's awareness which is influenced by several factors. AbstrakPenelitian ini mendeskripsikan (1) bentuk-bentuk aktualisasi diri tokoh utama dalam novel Merindu Cahaya de Amstel karya Arumi E., dan (2) faktor-faktor penyebab aktualisasi diri tokoh utama dalam novel Merindu Cahaya de Amstel  karya Arumi E. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologi humanisme. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) bentuk-bentuk aktualisasi diri yang dimiliki tokoh utama dalam novel Merindu Cahaya de Amstel karya Arumi E. yaitu penerimaan akan diri, orang lain, dan hal-hal alamiah, kesederhanaan, diskriminasi antara cara dan tujuan, penghargaan yang selalu baru, dan hubungan interpersonal yang kuat. Adapun, (2) faktor-faktor penyebab aktualisasi diri tokoh utama dalam novel Merindu Cahaya de Amstel karya Arumi E, terdiri dari faktor lingkungan, kebutuhan akan rasa aman yang tinggi, dan kebiasaan-kebiasaan. Kesimpulan aktualisasi diri tokoh utama dalam novel Merindu Cahaya de Amstel karya Arumi E, terbentuk karena kesadaran tokoh utama yang dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Reconstruction of Pesantren Literature Through A. Mustofa Bisri’s Short Story Collection Lamri Lamri; Bilqis Salsabila Safa; Leonita Leonita; Moh. Khalid Hasan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 2 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i2.8436

Abstract

The term "Pesantren Literature" remains entangled in a definitional ambiguity that tends to focus only on local aspects or religious labels. This study aims to reconstruct the definition, characteristics, and traits of pesantren literature ontologically and epistemologically through a structural analysis of short stories. Using a qualitative descriptive method with a sociological-structural dialectic approach, this study analyzes short-story anthologies by A. Mustofa Bisri. The analysis was conducted by combining the analysis of intrinsic (text) and extrinsic (authorial context) elements. Data analysis technique using the theory of Miles and Huberman. The results of the study indicate that Islamic boarding school literature is a manifestation of prophetic aesthetics built on traditional Islamic epistemology. Intrinsically, the narrative structure accommodates the logic of karomah, transcendental themes, and hybrid characters. Extrinsically, this work is validated by the author's dual authority (Double Legitimacy) as a kiai and a pesantren writer, as well as the psychology of tuma'ninah which makes the work a therapeutic literature. This study concludes the model of prophetic structural realism, namely a literary genre that not only portrays the social reality of Islamic boarding schools, but transcends it into a religious humanist life ethic. Abstrak Istilah "Sastra Pesantren" tetap terjerat dalam ambiguitas definisi yang cenderung hanya berfokus pada aspek lokal atau label agama. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi definisi, karakteristik, dan ciri-ciri sastra pesantren secara ontologis dan epistemologis melalui analisis struktural cerpen. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan dialektika sosiologis-struktural, penelitian ini menganalisis antologi cerpen karya A. Mustofa Bisri. Analisis dilakukan dengan menggabungkan analisis unsur intrinsik (teks) dan ekstrinsik (konteks penulis). Teknik analisis data menggunakan teori Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literatur pondok pesantren merupakan wujud estetika profetik yang dibangun di atas epistemologi Islam tradisional. Secara intrinsik, struktur naratif mengakomodasi logika karomah, tema transendental, dan karakter hibrida. Secara ekstrinsik, karya ini divalidasi oleh otoritas ganda penulis (Legitimasi Ganda) sebagai penulis kiai dan pesantren, serta psikologi tuma'ninah yang menjadikan karya tersebut sebagai literatur terapeutik. Penelitian ini menyimpulkan model realisme struktural profetik, yaitu genre sastra yang tidak hanya menggambarkan realitas sosial pondok pesantren, tetapi melampauikannya menjadi etos hidup humanis religius.
Kappa: Makhluk Mitologis Penjaga Sungai dalam Cerita Rakyat Jepang Ida Ayu Laksmita Sari
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 1 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i1.1956

Abstract

This article discusses one of the Japanese mythological creatures in the youkai category, the kappa which is believed to be river guardians. Data is taken from the anthology of Japanese folklore Mangga Nippon Mukashi Banashi 101 edited by Sayumi Kawauchi. Folklore used as the object of research are two titles that were chosen selectively which are "Kasa Uri Ohana" (Ohana the Umbrella Seller) and "Kappa no Amagoi " (Rain Calling Prayer from Kappa). Data were analyzed with Peirce's semiotic trichotomy theory, namely icons, indices and symbols, and literary anthropological theory. This article concluded three things related to the form of a kappa, where they are believed to be present and the status of kappa in the Japanese belief system. Kappa in Japanese mythology resembles a frog's shape but has scales and has a weakness in its skull. Kappa is believed to live in rivers in Japan. Kappa is present and has a special place in Japanese society's trust, evidenced by the existence of kappa temples. Unlike other Japanese youkai, the kappa is believed that before the form of the kappa he was a god whose rank was demoted, therefore it was believed that he could be begged for rain. The existence of kappa, thus, not only has negative attributes but also positive ones. AbstrakArtikel ini mengkaji sosok kappa, salah satu makhluk mitologis dan gaib Jepang yang masuk kategori youkai (hantu) dan dipercaya sebagai makhluk penjaga sungai. Data diambil dari antologi cerita rakyat Jepang Mangga Nippon Mukashi Banashi 101 dengan editor Sayumi Kawauchi. Cerita rakyat yang digunakan sebagai objek penelitian ada dua judul yang dipilih secara selektif, yaitu “Kasa Uri Ohana” (Ohana si Penjual Payung) dan “Kappa no Amagoi” (‘Doa Pemanggil Hujan dari Kappa). Data dianalisis dengan teori trikotomi semiotika Peirce, yaitu ikon, indeks, dan simbol, serta teori antropologi sastra. Artikel ini menyimpulkan tiga hal, yaitu wujud kappa, tempat mereka dipercaya hadir, dan eksistensi kappa dalam sistem kepercayaan Jepang. Kappa dalam mitologi Jepang menyerupai wujud katak, tetapi bersisik dan memiliki kelemahan di tempurung kepalanya. Makhluk gaib ini dipercaya tinggal dan sekaligus menjadi penjaga sungai-sungai di Jepang. Kappa hadir dan memiliki tempat yang khusus dalam kepercayaan masyarakat Jepang, yang dibuktikan dengan terdapatnya kuil kappa. Tidak seperti youkai Jepang lainnya, kappa dipercaya bahwa sebelum berwujud kappa dia adalah dewa yang derajatnya diturunkan. Oleh karena itu, kappa diyakini bisa dimohon untuk mendatangkan hujan. Dengan demikian, eksistensi kappa tidak saja memiliki atribut negatif, tetapi juga positif.
SASTRA LOKAL DAN MEDIA MASSA DIALEKTIKA LOKAL-GLOBAL DALAM SASTRA USING-BANYUWANGI Sunarti Mustamar; Sudartomo Macaryus
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 1, No 2 (2012): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v1i2.275

Abstract

Kajian kesusastraan Indonesia dalam media massa hampir didominasi ulasan dan apresiasi kesusastraan modern. Bagaimana dengan sastra Indonesia, tetapimenyuarakan lokalitas tertentu, dan bagaimana pula dengan sastra berbahasa daerah, tetapi mengartikulasikan keindonesiaan? Serangkaian pertanyaan klasik tidak menemukan jawaban. Tulisan ini membahas perkembangan karya sastra puisi dan prosa dalam kaitannya dengan media massa dan dialektika keduanya dalam menghadapi globalitas.Multikulturalisme di Indonesia yang merebak pada akhir tahun 1990-an sebagai respons terhadap penyeragaman budaya sejak Orde Baru mampu bergerak menuju keragaman. Proses lintas budaya yang dinamis merupakan salah satu ciri perubahan kebudayaan di Indonesia yang tampak pada perkembangan bahasa, sastra, dan tradisi lisan Using Banyuwangi. Munculnya hibriditas kesusastraan lokal Using merupakan salah satu respons dalam menanggapi budaya lintas batas (nasional dan global). Hibriditasmenunjukkan bahwa setiap proses budaya mengandung percampuran dan interaksi lintas batas. Tidak ada kebudayaan yang sepenuhnya asli dan murni (Hall, 1993). Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam kontak dengan budaya modern yang nasional dan global, sastra Using bertransformasi ke sastra tulis dan dipublikasi melalui media massa (cetak, elektronik, dan digital). Hibriditas sastra muncul dalam corak modifikasi bentuk, modifikasi wadah bahasa dengan menggunakan bahasa Indonesia, serta memanfaatkan industri kreatif dalam bentuk multimedia dan memublikasikannya melalui media cetak, elektronik, dan digital. Hibriditas lainnya berupa kolaborai seni, menuliskan yang lisan, dan melisankan yang tulis.
CITRA TOKOH PEREMPUAN DALAM CERITA RAKYAT JAWA TIMUR Hidayah Budi Qur'ani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 2 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i2.1468

Abstract

Sastra lisan merupakan salah satu bentuk karya sastra yang mempunyai peran penting dalam perekembangan kesusastraan Indonesia. Salah satu bentuk sastra lisan adalah cerita rakyat. Cerita rakyat merupakan cerita atau cipta sastra yang hidup atau pernah hidup dalam se-buah masyarakat. Cerita itu tersebar, berkembang, atau diturunkan secara lisan dari suatu generasi ke generasi yang lebih muda. Salah satu bentuk cerita rakyat yaitu cerita rakyat Jawa Timur. Penelitian ini membahas tentang bentuk-bentuk citra tokoh perempuan yang ada di dalam cerita rakyat Jawa Timur. Tokoh perempuan yang dibahas adalah tokoh utama dalam cerita. Pendekatan penelitian ini menggunakan feminisme dengan sumber data sepuluh cerita rakyat dari Jawa Timur. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada enam cerita rakyat Jawa Timur yang menggambarkan citra perempuan. Keenam cerita rakyat tersebut menggambarkan dua bentuk citra tokoh perempuan yaitu citra fisik dan tingkah laku atau psikis. Citra fisik digambarkan melalui kecantikan tokoh perempuan dan citra tingkah laku atau psikis digambarkan melalui kebaikan hati, kesetiaan, penurut, berani mengambil keputusan, dan kesabaran. 
Kepercayaan terhadap Berbagai Larangan pada Wanita Hamil di Dusun Tlogorejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang Sindy Ardina Ayu Firnanda; Eggy Fajar Andalas
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.3405

Abstract

The belief of the prohibitions on pregnant women in Tlogorejo, Lawang District, Malang Regency, is considered as one of the oral literary works. The community has various kinds of cultural traditions that still going on to this day, especially Javanese culture which is still preserved until now. This study aims to determine the community beliefs of the prohibitions on pregnant women and uses qualitative methods with data collection techniques using secondary and primary data. The data were obtained by conducting interviews with informants from the village and were analyzed using Roland Barthes semiotic theory. The results showed that the community believe that pregnant women (1) cannot go out at sunset, (2) cannot eat at the door, (3) cannot put a towel around their neck, (4) cannot kick the water, and (5) are not allowed to sleepover from place to place.  AbstrakKepercayaan terhadap larangan wanita hamil di Dusun Tlogorejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, merupakan salah satu karya sastra lisan. Masyarakat memiliki berbagai macam tradisi kebudayaan yang melekat sampai saat ini, khususnya kebudayaan Jawa, dan masih dilestarikan, salah satunya kepercayaan terhadap larangan wanita hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepercayaan masyarakat terhadap larangan-larangan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan data sekunder dan data primer. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dengan melakukan wawancara terhadap narasumber yang berasal dari dusun tersebut. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes, yaitu analisis dengan menggunakan unsur tanda atau simbol dan terdapat dua makna, yaitu makna denotasi dan makna konotasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Tlogorejo memercayai jika wanita hamil (1) tidak boleh keluar pada saat magrib, (2) tidak boleh makan di depan pintu, (3) tidak boleh mengalungkan handuk di leher, (4) tidak boleh menendang-nendang air, dan (5) tidak boleh tidur berpindah-pindah tempat.