cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285221282902
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) d.a Prodi Pengembangan Kurikulum FIP UPI Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : https://doi.org/10.64014/jik
Core Subject :
Inovasi Kurikulum journal (Jurnal Inovasi Kurikulum/JIK) is an open access and peer-reviewed journal published by Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) in collaboration with Curriculum Development Study Program, Faculty of Education, Universitas Pendidikan Indonesia. The journal includes particular interests in issues related to curriculum development, including curriculum design, implementation, evaluation, and learning development (resources, models, media, and assessment). Inovasi Kurikulum aims to publish research conducted by researcher, teachers, lecturers, and others focusing on research at the levels of Early Childhood, Elementary, Junior High, or Senior High Schools, as well as Higher-Education.
Arjuna Subject : -
Articles 537 Documents
Development of learning videos through the problem-based learning model to improve learning outcomes and creativity of Grade V students Fajar Solidman Larosa; Asmin Asmin; Wildansyah Lubis
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.68590

Abstract

This study assessed the feasibility and effectiveness of developing Problem-Based Learning (PBL) learning videos related to fractional lesson content for fifth-grade students at SDN 101764 Bandar Klippa. This research is related to implementing the ADDIE development model (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) in the research and development of learning videos. This study involved twenty-five students in Class V of SDN 101764 Bandar Klippa. The instruments used by researchers for data acquisition include observation, interviews, validation questionnaires, and tests. The developed Problem-Based Learning model is validated by expert validators based on the findings of learning research videos. From the results of the validity test by validators, the percentage of material expert eligibility of 95.2 percent of the criteria is very valid, the design expert's feasibility percentage of 96.19 percent is considered very valid, the media expert produces a validity level of 90 percent of the very valid criteria. The small group trial resulted in an efficient criteria percentage of 89.89 percent. The percentage of practicality of field test results of 91.48 percent is an efficient criterion. Effectiveness was achieved at the field trial stage, with 22 students (approximately 88 percent) passing the post-test. A gain score of 0.615 meets the criteria of moderate effectiveness. Based on empirical observations that show an increase in learning outcomes by 84 percent and an increase in student creativity by 100 percent, it is determined that Problem-Based Learning learning videos can effectively perfect the mathematics curriculum of grade V students of SDN 101764 Bandar Klippa.   Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai kelayakan dan efektivitas pengembangan video pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) yang berkaitan dengan isi pelajaran pecahan untuk peserta didik kelas lima di SDN 101764 Bandar Klippa. Penelitian ini berkaitan dengan implementasi model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) dalam konteks penelitian dan pengembangan video pembelajaran. Penelitian ini melibatkan dua puluh lima peserta didik yang terdaftar di Kelas V SDN 101764 Bandar Klippa. Instrumen yang digunakan peneliti untuk perolehan data meliputi observasi, wawancara, angket validasi, dan tes. Model Problem Based Learning yang dikembangkan divalidasi oleh validator ahli berdasarkan temuan video penelitian pembelajaran. Dari hasil uji validitas oleh validator persentase kelayakan ahli materi sebesar 95,2 persen kriteria sangat valid, ahli desain persentase kelayakan sebesar 96,19 persen dinilai sangat valid, ahli media menghasilkan tingkat validitas 90 persen kriteria sangat valid. Hasil uji coba kelompok kecil menghasilkan persentase kriteria sangat praktis sebesar 89,89 persen. Persentase kepraktisan hasil uji lapangan sebesar 91,48 persen merupakan kriteria sangat praktis. Efektivitas dicapai pada tahap uji coba lapangan dengan 22 peserta didik (sekitar 88 persen) yang lulus post-test; skor gain sebesar 0,615 memenuhi kriteria efektivitas sedang. Berdasarkan observasi empiris yang menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar sebesar 84 persen dan peningkatan kreativitas peserta didik sebesar 100 persen, ditetapkan bahwa video pembelajaran Problem Based Learning dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyempurnakan kurikulum matematika peserta didik kelas V SDN 101764 Bandar Klippa. Kata Kunci: hasil belajar; kreativitas; pembelajaran berbasis masalah; video pembelajaran
Family educational patterns in strengthening teenager's character generation z: A literature review Fransiskus Markus Pereto Keraf; Marsianus Falo; Ody Wolfrit Matoneng; Fredik Lambertus Kollo Kollo; Nurlailah Nurlailah
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.68978

Abstract

Generation Z teenagers were born in the internet and technological automation era. The negative impact of technological developments causes violations of applicable norms. Teenagers who are involved in juvenile delinquency are caused by a lack of assistance and family control. This study aims to identify appropriate educational patterns for integrating positive moral habits and norms in the family. The writing method uses a literature review. The data collection process through a literature review is supported by a comprehensive analysis of publications from academic journals in the last 5 (five) years, focusing on educational patterns in the family to strengthen the character of Generation Z teenagers. The study results show that there are 3 (three) patterns of education in the family to develop the character of Generation Z teenagers. The three education patterns are family education patterns based on example, monitoring, and understanding psychology. Parents must integrate these three educational patterns in the family to create a golden generation with positive, quality characters. Character development formed through family educational patterns can be collaborated with other character education models, such as in the school or community environment.   Abstrak Remaja generasi Z lahir di era internet serta otomatisasi teknologi. Dampak negatif perkembangan teknologi menyebabkan terjadinya pelangaran norma yang berlaku. Remaja yang terlibat kenakalan remaja disebabkan kurangnya pendampingan serta kontrol keluarga. Kajian ini bertujuan mengidentifikasi pola pendidikan yang tepat dalam mengintegrasikan pembiasaan moral dan norma yang positif dalam keluarga. Adapun metode penulisan menggunakan kajian pustaka. Proses pengumpulan data melalui tinjauan literatur ini didukung oleh analisis publikasi yang komprehensif dari jurnal akademik pada 5 (lima) tahun terakhir, berfokus pada pola pendidikan dalam keluarga untuk menguatkan karakter remaja generasi z. Hasil kajian menunjukan bahwa terdapat 3 (tiga) pola pendidikan dalam keluarga untuk mengembangkan karakter remaja generasi z. Ketiga pola pendidikan tersebut yakni pola pendidikan keluarga melalui keteladanan, pemantauan dan pemahaman psikologi. Orangtua harus mampu mengintegrasikan ketiga pola pendidikan dalam keluarga tersebut untuk mewujudkan generasi emas yang memiliki karakter positif berkualitas. Pengembangan karakter yang dibentuk melalui pola pendidikan dalam keluarga dapat dikolaborasikan dengan model pendidikan karakter lainnya, seperti di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Kata Kunci: generasi z; karakter remaja; pendidikan keluarga
The technique of listening, asking, and problem-solving on the application of Indonesian language teaching materials Diah Latifah; Suci Sundusiah; Nuny Sulistiani Idris; Yulianeta Yulianeta; Yeti Mulyati; Isah Cahyani
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.64107

Abstract

This research examines the power of listening, asking, and solving problems in training in using Indonesian language teaching materials for Indonesian language teachers for foreign speaker military officers. The problem identified is that Indonesian language teachers for foreign-speaker military officers must update their teaching materials according to student characteristics. Teaching materials need to be updated because there have been many changes in vocabulary, including the addition of several words in everyday life, including slang. The training participants are Indonesian language teachers who teach foreign-speaker military officers at Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. The number of training participants was twenty people. Data analysis was carried out qualitatively and quantitatively. Qualitative research was carried out by interpreting the results of questions from training participants and quantitative quasi-experimental analysis to measure the influence of teaching materials training on understanding the use of Indonesian language teaching materials for foreign-speaker military officers. The research results showed that listening, asking, and solving problems succeeded in helping Indonesian language teachers who taught foreign-speaker military officers understand conceptually how to convey Indonesian language teaching materials to students.   Abstrak Penelitian ini mengkaji tentang kekuatan mendengarkan, bertanya dan memecahkan masalah dalam pelatihan penggunaan bahan ajar bahasa Indonesia bagi guru bahasa Indonesia bagi perwira militer penutur asing. Permasalahan yang teridentifikasi adalah guru bahasa Indonesia bagi perwira militer penutur asing harus memperbarui bahan ajarnya sesuai dengan karakteristik siswa. Bahan ajar perlu diperbarui karena banyak terjadi perubahan kosa kata, termasuk penambahan beberapa kata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bahasa gaul. Peserta pelatihan adalah guru bahasa Indonesia yang mengajar perwira militer penutur asing di Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Jumlah peserta pelatihan sebanyak dua puluh orang. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan dengan interpretasi hasil pertanyaan peserta pelatihan dan analisis kuasi eksperimen kuantitatif untuk mengukur pengaruh pelatihan bahan ajar terhadap pemahaman penggunaan bahan ajar bahasa Indonesia bagi perwira militer penutur asing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mendengarkan, bertanya, dan memecahkan masalah berhasil membantu guru bahasa Indonesia yang mengajar perwira militer penutur asing memahami secara konseptual cara menyampaikan bahan ajar bahasa Indonesia kepada siswa. Kata Kunci: bahan ajar; pelatihan bahasa; pembelajaran berbasis masalah
School readiness analysis in implementing differentiated learning in Kurikulum Merdeka Sisworo Hadi; Dinn Wahyudin
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.68994

Abstract

The principle of differentiated learning is fundamental to the implementation of the Merdeka curriculum. Organizational readiness analysis became crucial before the implementation of differentiated instruction. This research aims to determine the school's readiness as an institution or organization to implement Differentiated Learning in Kurikulum Merdeka. This research was conducted at SMP Penggerak in Bogor City. The research is quantitative research with a survey method. The level of school readiness will be measured using the Readiness Framework Thinking Tool from Scaccia et al. R=MC2 readiness framework is the framework for the instrument adopted. (R: Readiness; C: Innovation Specific Capacity; C: General Capacity). Based on research on School Readiness Levels), the percentage of readiness levels for the three elements of readiness levels is 80.1 percent for motivation elements, 83.7 percent for general capacity elements, and 87.4 percent for particular capacity elements. Using an Interactive System Framework (ISF) and Quality Implementation Framework (QIF), the implementation is divided into 4 phases. In phase 1, all processes are related to internal preparation. In phase 2, schools can develop teams under learning committees. In phase 3, the development of a sustainable strategy, and in phase 4, it is necessary to develop a pattern for the future.   Abstrak Prinsip pembelajaran berdiferensiasi menjadi sangat penting pada implementasi kurikulum merdeka. Sebelum implementasi sebuah inovasi seperti pembelajaran berdiferensiasi, sangat perlu dilakukan analisis bagaimana tingkat kesiapan sekolah untuk mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kesiapan sekolah sebagai lembaga atau organisasi dalam menerapkan Pembelajaran Diferensiasi di Kurikulum Merdeka. Penelitian ini menganalisis kesiapan SMP Penggerak di Kota Bogor dalam menerapkan pembelajaran Diferensiasi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode survei. Tingkat kesiapan sekolah akan diukur dengan menggunakan Readiness Framework Thinking Tool dari Scaccia, et. Kerangka kesiapan R=MC2 merupakan kerangka instrumen yang diadopsi. (R: Kesiapan; C: Kapasitas Khusus Inovasi; C: Kapasitas Umum). Berdasarkan hasil penelitian Tingkat Kesiapan Sekolah), persentase tingkat kesiapan ketiga unsur tingkat kesiapan adalah 80,1 persen unsur motivasi, 83,7 persen unsur kapasitas umum, dan 87,4 persen unsur kapasitas khusus. Dengan menggunakan Interactive System Framework (ISF) dan Quality Implementation Framework (QIF), proses pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi di SMP Penggerak Kota Bogor dapat dibagi menjadi 4 tahap. Pada tahap 1 semua proses yang berkaitan dengan persiapan internal harus dilakukan. Pada fase 2, sekolah dapat mengembangkan tim di bawah komite pembelajaran. Pada fase 3 pengembangan strategi berkelanjutan dan pada fase 4 perlu dikembangkan pola implementasi untuk masa depan. Kata Kunci: kurikulum merdeka; pembelajaran berdiferensiasi; SMP penggerak
Analysis of needs for the development of BIPA teaching materials: Listening skills Merlin Yupitasari; Diah Latifah; Halimah Halimah
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.66444

Abstract

The development of Indonesian language teaching materials requires the application of technology to make it easier for students to receive lessons. This research analyzes the need to develop teaching materials for Indonesian listening skills for foreign speakers (BIPA). The research method used is quantitative with a descriptive approach. Data was collected by filling out questionnaires by 10 BIPA teachers from various institutions and observing relevant teaching manuals. The analysis results show that most respondents have taught BIPA for over five years and use audio and video media in listening learning. They stated that they needed interactive listening media and used materials from the institutions where they taught more often, even though they found several areas for improvement in the quality and suitability of the materials. Most respondents also expressed their readiness to be contacted further regarding this research. Data analysis also revealed respondents' preferences for using digital based media to learn to listen to BIPA, with most respondents using platforms such as YouTube and Zoom Meet. These findings provide in-depth insight into teachers' preferences and needs in developing BIPA listening teaching materials and the importance of adapting learning materials to students' needs.   Abstrak Pengembangan bahan ajar Bahasa Indonesia perlu mengaplikasikan perkembangan teknologi supaya memudahkan pemelajar menerima pelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan pengembangan bahan ajar keterampilan menyimak Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner oleh 10 guru BIPA dari berbagai institusi dan observasi terhadap buku pedoman pengajaran yang relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas responden telah mengajar BIPA selama lebih dari 5 tahun dan menggunakan baik media audio maupun video dalam pembelajaran menyimak. Mereka mengatakan membutuhkan media menyimak interaktif dan lebih sering menggunakan materi dari instansi tempat mereka mengajar, meskipun menemukan beberapa kekurangan dalam kualitas dan kesesuaian materi. Sebagian besar responden juga menyatakan kesiapannya untuk dihubungi lebih lanjut terkait penelitian ini. Analisis data juga mengungkapkan preferensi responden terhadap penggunaan media berbasis digital dalam pembelajaran menyimak BIPA, dengan mayoritas responden menggunakan platform seperti YouTube dan Zoom Meet. Temuan ini memberikan wawasan mendalam tentang preferensi dan kebutuhan pengajar dalam pengembangan bahan ajar menyimak BIPA, serta pentingnya penyesuaian materi pembelajaran dengan kebutuhan pemelajar. Kata Kunci: BIPA; menyimak; pengembangan bahan ajar
Implementation of Kurikulum Merdeka at SMA Negeri 1 Pontianak Iwan Ramadhan; Imran Imran; Suriyanisa Suriyanisa
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v21i2.68857

Abstract

The determination of the independent curriculum to become the national curriculum reflects the determination to adopt innovative approaches in teaching and adapt the curriculum to the changing needs of the times, as measured by assessment results, changes in student character, and competence in recent years. This research aims to determine the success of schools in adopting an independent curriculum. The research method used is a descriptive qualitative type to explore the curriculum implementation in the school environment and the intracurricular and co-curricular processes of SMA Negeri 1 Pontianak. Data collection techniques include observation of lessons and assessments, interviews with one sociology teacher and two teaching staff, and documentation. The research results on intracurricular and co-curricular intracurriculars regarding learning differentiation, and assessment were well conducted—measurable learning process activities from start to finish and assessment. Meanwhile, P5 activities are planned and carried out in detail to trigger students to develop their talents and potential in work and future challenges. Implementing differentiated learning and assessment and P5 went according to plan, and students at all levels achieved the P5 strengthening project.   Abstrak Penetapan Kurikulum Merdeka, menjadi kurikulum nasional mencerminkan tekad untuk mengadopsi pendekatan inovatif dalam pengajaran, serta menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan zaman yang terus berubah, terukur dari hasil asesmen, perubahan karakter dan kompetensi peserta didik beberapa tahun ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan sekolah mengadopsi Kurikulum Merdeka. Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif jenis deskriptif untuk mendalami penerapan kurikulum di lingkungan sekolah dan proses intrakurikuler dan kokurikuler SMA Negeri 1 Pontianak. Teknik pengumpulan data melalui observasi pada pembelajaran dan asesmen, wawancara 1 guru Sosiologi dan 2 tenaga pendidik, serta dokumentasi. Hasil penelitian pada intrakurikuler dan kokurikuler, Intrakurikuler menyangkut diferensiasi pembelajaran dan asesmen terlaksana sangat baik. Terukur dari aktivitas proses pembelajaran dari awal hingga akhir dan asesmen. Sedangkan kegiatan P5, terencana dan terlaksana secara detail sehingga memicu peserta didik mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki dalam dunia kerja dan tantangan ke depannya. Penerapan pembelajaran serta asesmen berdiferensiasi dan P5 berjalan sesuai rancangan dan peserta didik semua jenjang mampu mencapai ketercapaian projek penguatan P5. Kata Kunci: Implementasi kurikulum; intrakuriler; kokurikuler; Kurikulum Merdeka
Efforts to foster student creativity in elementary schools through environmental education Dwi Handayani; Minsih Minsih
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.68873

Abstract

The implementation of environmental education at SD N 2 Klambu is motivated by the weak creative character of students. Environmental education can be the right solution to the problem. Environmental education covers various topics about improving individuals' awareness, knowledge, attitudes, and skills in understanding and acting on environmental issues. The study aimed to describe efforts to improve the creative character of elementary school students through environmental education. This type of research uses qualitative research with a phenomenological design. Data collection techniques using observation, documentation, and interviews. Validity using triangulation of sources and methods. Interactive data analysis of data reduction steps, data presentation, and conclusion making. The results showed that SDN 2 Klambu Purwodadi has tried to foster students' creativity by conducting environmental education in their schools. This can be seen from ecological education activities at SDN 2 Klambu Purwodadi, such as clean Friday activities, class pickets, using used goods, and watering plants in the schoolyard.  These activities give students a high sense of curiosity, have a spirit of cooperation to carry out highly creative ideas, and are willing to try new dal and express themselves creatively.   Abstrak Pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup di SD N 2 Klambu dilatarbelakangi oleh karakter kreatif peserta didik yang masih lemah. Pendidikan lingkungan hidup dapat menjadi solusi yang tepat atas masalah tersebut. Pendidikan lingkungan hidup mencakup beragam topik yang berhubungan dengan cara-cara untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, sikap, dan keterampilan individu dalam memahami dan bertindak terhadap isu-isu lingkungan. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan upaya peningkatan karakter kreatif peserta didik sekolah dasar melalui pendidikan lingkungan hidup. Jenis penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan desain fenomenologis. Teknik pengumpulan data dengan observasi, dokumentasi, dan wawancara. Validitas menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Analisis data interaktif langkah-langkah reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SDN 2 Klambu Purwodadi telah berupaya menumbuhkan kreativitas peserta didik dengan melakukan pendidikan lingkungan hidup di sekolahnya. Hal tersebut bisa dilihat dari kegiatan pendidikan lingkungan hidup di SDN 2 Klambu Purwodadi seperti kegiatan Jumat Bersih, piket kelas, pemanfaatan barang bekas, dan penyiraman tanaman di halaman sekolah. Kegiatan-kegiatan tersebut menjadikan peserta didik memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, memiliki jiwa kerja sama untuk melakukan ide kreatif yang tinggi, serta berani mencoba hal baru dan mengekspresikan diri secara kreatif. Kata Kunci: kreatif; lingkungan hidup; pendidikan karakter; sekolah dasar
Development of Digital Research-Based Learning (D-RBL) strategy in instructional media course Dian Olifia Talaksoru; Dedi Kuswandi; Saida Ulfa
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.69059

Abstract

Proper selection and utilization of learning media facilitate information delivery to improve the learning experience. This research develops a Digital Research Based Learning (D-RBL) learning strategy to improve the quality of learning in learning media courses. D-RBL integrates flipped classrooms with research-based learning in a learning syntax consisting of three phases: pre-class, in-class, and post-class. The method used in this research is the research and development (R&D) method of the Dick and Carey model, which consists of 10 systematic stages. The validation results showed positive results where the D-RBL strategy was feasible. The results showed that D-RBL effectively improved student learning outcomes and developed interaction, collaboration, and procedural skills. This strategy encourages students to learn and actively take responsibility for their learning, allowing them to apply their knowledge in a real context. D-RBL is considered an innovative step in improving the quality of learning in learning media courses.   Abstrak Pemilihan dan pemanfaatan media pembelajaran secara tepat memfasilitasi penyampaian informasi sehingga dapat meningkatkan pengalaman belajar. Penelitian ini mengembangkan strategi pembelajaran Digital Research Based Learning (D-RBL) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di mata kuliah media pembelajaran. D-RBL mengintegrasikan flipped classroom dengan pembelajaran berbasis penelitian dalam sebuah sintaks pembelajaran yang terdiri dari tiga fase: pra-kelas, di kelas, dan pasca-kelas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian dan pengembangan (R&D) model Dick and Carey yang terdiri dari 10 tahapan sistematis. Hasil validasi menunjukkan hasil yang positif dimana strategi D-RBL layak untuk diimplementasikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa D-RBL efektif dalam meningkatkan hasil belajar mahasiswa dan mengembangkan interaksi serta keterampilan kolaborasi, dan prosedural. Strategi ini mendorong mahasiswa didik untuk aktif belajar dan bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri, serta memungkinkan mereka menerapkan pengetahuannya dalam konteks yang nyata. D-RBL dianggap sebagai langkah inovatif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di mata kuliah media pembelajaran. Kata Kunci: digital research-based learning; pembelajaran terbalik; research-based learning; strategi pembelajaran
Analyze the impact of curriculum development on ten-finger typing learning in office administration vocational high school Anis Susanti; Aulia Prima Kharismaputra; Mar’atus Sholikah
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.69024

Abstract

Dynamic curriculum changes challenge Indonesia's Vocational High School or Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) education. Curriculum changes in vocational schools also impact improving the learning process that must be implemented in the subject areas of expertise. One of the skill competencies that requires the ability to type as a skill that students must master is Office Administration, which is currently known as Office Management and Business Services. This research aims to analyze the impact of the transformation of the Office Administration Vocational School curriculum on typing learning. This research was conducted by applying a mixed-method research design. Qualitative data in this research was collected from a literature study of documents related to curriculum changes and previous research articles. Quantitative data was obtained from vocational school students using a questionnaire. The object of this research is typing learning, which is affected by curriculum changes. The results showed that curriculum development starting from KTSP, 2013 Curriculum, and Merdeka Curriculum had an impact on reducing the allocation of learning time for fast typing exercises, changing the name of competencies, and adjusting learning materials.   Abstrak Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia saat ini dihadapkan pada tantangan perubahan kurikulum yang dinamis. Perubahan atau transformasi kurikulum di SMK juga berdampak pada perbaikan proses pembelajaran yang harus dilaksanakan dan juga berdampak pada perubahan bidang keahlian. Salah satu kompetensi keterampilan yang memerlukan kemampuan mengetik sebagai keterampilan yang harus dikuasai siswa adalah Administrasi Perkantoran yang saat ini dikenal dengan sebutan Manajemen Perkantoran dan Pelayanan Bisnis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak transformasi kurikulum SMK Administrasi Perkantoran terhadap pembelajaran mengetik. Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan desain penelitian metode campuran. Data kualitatif dalam penelitian ini dikumpulkan melalui studi literatur dokumen-dokumen yang berkaitan dengan perubahan kurikulum dan artikel penelitian sebelumnya. Data kuantitatif diperoleh dari siswa SMK dengan menggunakan kuesioner. Objek penelitian ini adalah pembelajaran mengetik yang terkena dampak perubahan kurikulum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum mulai dari KTSP, Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka berdampak pada berkurangnya alokasi waktu pembelajaran untuk latihan mengetik cepat, perubahan nama kompetensi serta terdapat peyesuaian materi pembelajaran. Kata Kunci: pembelajaran mengetik dengan sepuluh jari; pengembangan kurikulum; sekolah menengah kejuruan
Character-building training curriculum activity based on the perspective of a humanistic curriculum and existentialism philosophy Taopik Barkah; Babang Robandi
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.66450

Abstract

Character building is part of developing soft skills, which is an activity that needs to be done to realize superior human resources. In contrast, soft skills are non-academic competencies that become a person's capital to succeed in his career and function in community life. The character-building training curriculum will create a more harmonious, productive, and ethical work environment. The purpose of writing this article is to describe the relationship between the character-building curriculum based on the perspective of the humanistic curriculum model, describe the relationship between the character-building curriculum based on existentialism philosophy, and decrypt the form of activities in the character-building training curriculum. Researchers use descriptive methods to provide an overview of the phenomena and thoughts being studied through documentation and literature studies using relevant data sources from the research topic to conclude. Activities in the character-building training curriculum based on the humanistic curriculum perspective have a role in developing human potential holistically, involving emotional, social, and spiritual aspects, by the parameters that have been in the character-building curriculum consisting of four competencies, namely intrapersonal abilities, interpersonal abilities, organizational abilities, and spiritual abilities. Meanwhile, according to the existentialist perspective, the activities of the character-building curriculum emphasize individual freedom, personal responsibility, and the search for the meaning of life, emphasizing existentialist concepts such as freedom, responsibility, independence, and authenticity.   Abstrak Pembangunan karakter bagian dari pengembangan soft skills yang menjadi suatu aktivitas yang perlu dilakukan agar terwujudnya sumber daya manusia yang unggul, di mana soft skills merupakan kompetensi non akademik yang menjadi modal seseorang agar dapat mencapai kesuksesan dalam kehidupan kariernya serta berfungsi dalam kehidupan bermasyarakat. Kurikulum pelatihan pembangunan karakter diharapkan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih harmonis, produktif, dan beretika. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan hubungan kurikulum pembangunan karakter berdasarkan perspektif model kurikulum humanistik, mendeskripsikan hubungan kurikulum pembangunan karakter berdasarkan perspektif filsafat eksistensialisme, dan mendeskripsikan bentuk aktivitas dalam kurikulum pelatihan pembangunan karakter. Peneliti menggunakan metode deskriptif yang bertujuan memberikan gambaran tentang fenomena dan pemikiran yang sedang dikaji melalui studi dokumentasi dan kepustakaan menggunakan oleh sumber-sumber data yang relevan sesuai dengan topik penelitian untuk dapat kemudian ditarik kesimpulan. Aktivitas dalam kurikulum pelatihan pembangunan karakter berdasarkan perspektif kurikulum humanistik memiliki peran pada pengembangan potensi manusia secara holistik, melibatkan aspek-aspek emosional, sosial, dan spiritual, sesuai dengan parameter yang selama ini ada dalam kurikulum pembangunan karakter yang terdiri dari empat kompetensi yaitu kemampuan intrapersonal, kemampuan interpersonal, kemampuan organisasional, dan kemampuan spiritual. Sedangkan menurut perspektif eksistensialisme aktivitas dari kurikulum pembangunan karakter menekankan pada kebebasan individu, tanggung jawab pribadi, dan pencarian makna hidup, yang menyangkut konsep eksistensialis, seperti kebebasan, tanggung jawab, mandiri, dan otentik. Kata Kunci: eksistensialisme; kurikulum humanistik; pelatihan; pembangunan karakter