cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285221282902
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) d.a Prodi Pengembangan Kurikulum FIP UPI Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : https://doi.org/10.64014/jik
Core Subject :
Inovasi Kurikulum journal (Jurnal Inovasi Kurikulum/JIK) is an open access and peer-reviewed journal published by Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) in collaboration with Curriculum Development Study Program, Faculty of Education, Universitas Pendidikan Indonesia. The journal includes particular interests in issues related to curriculum development, including curriculum design, implementation, evaluation, and learning development (resources, models, media, and assessment). Inovasi Kurikulum aims to publish research conducted by researcher, teachers, lecturers, and others focusing on research at the levels of Early Childhood, Elementary, Junior High, or Senior High Schools, as well as Higher-Education.
Arjuna Subject : -
Articles 537 Documents
Agricultural literacy among junior high school students in Indramayu Syahrul Bachtiar; Rusman Rusman; Dwi Ajni Shafarwati
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 3 (2025): Inovasi Kurikulum, August 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v22i3.113

Abstract

Indramayu Regency as one of the leading agrarian regions in West Java with the highest rice production, demonstrates a strong interconnection between its community and the agricultural sector. However, challenges related to farmer regeneration and negative perceptions of agriculture pose a threat to the sector's sustainability. Agricultural literacy is a crucial factor in enhancing junior high school students’ understanding of agriculture’s roles in social, economic, and environmental contexts. This research aims to examine the urgency of agricultural literacy among junior high school students in Indramayu Regency. A descriptive quantitative method was employed, utilizing a survey with a standardized test adapted from the Judd-Murray Agricultural Literacy Instrument (JMALI). The research was conducted at a junior high school in Indramayu, which was selected for its representation of the local farming community, as most students come from farming families and the school is situated in an agricultural area. Purposive random sampling was used to select participants. The results indicate that students’ agricultural literacy is generally low, with most students lacking knowledge, particularly regarding the connections between agriculture and economic, social, health, cultural, and environmental aspects. The study also discusses approaches to improve students’ agricultural literacy by integrating agricultural concepts into curriculum development.   Abstrak Kabupaten Indramayu merupakan salah satu daerah agraris dengan produksi padi tertinggi di Jawa Barat, memiliki keterkaitan erat antara masyarakat dan sektor pertanian. Namun, tantangan regenerasi petani dan persepsi negatif terhadap pertanian mengancam keberlanjutan sektor ini. Literasi pertanian menjadi kunci penting untuk meningkatkan pemahaman siswa SMP tentang peran pertanian dalam aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat urgensi literasi pertanian pada siswa sekolah menengah pertama di kabupaten Indramayu. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan menggunakan survey. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah tes standar yang diadaptasi dari Instrumen Literasi Pertanian Judd-Murray (JMALI). Lokasi penelitian ini disalah satu SMP di Indramayu. Sekolah ini dipilih karena dianggap merepresentasikan masyarakat Indramayu yang bermata pencaharian sebagai petani, karena letak geografisnya berada di wilayah pertanian dan mayoritas peserta didik adalah keluarga petani (family farmer). Teknik sampeling penelitian ini menggunakan purposive random sampling. Hasil uji pemahaman siswa terkait literasi pertanian menunjukan dikategori Rendah, Mayoritas siswa belum mengenal literasi pertanian terutama yang berkenaan dengan hubungan pertanian dengan ekonomi, sosial, kesehatan, budaya dan lingkungan. Dalam penelitian ini juga membahas terkait pendekatan untuk meningkatkan pemahaman siswa terkait literasi pertanian dengan mengintegrasikannya ke dalam pengembangan kurikulum. Keywords: kurikulum integrasi; literasi pertanian; pembangunan berkelanjutan 
Project-based learning for Arabic instruction as an innovation of the Kurikulum Merdeka development Yuliasari Yuliasari; Moch. Wahib Dariyadi; Laily Maziyah; Muhammad Alfan
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 3 (2025): Inovasi Kurikulum, August 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v22i3.114

Abstract

This study is grounded in the need for a more contextual and participatory approach to Arabic language instruction that aligns with the characteristics of the Pancasila Student Profile, particularly in non-urban madrasahs. Conventional methods have been deemed insufficient in effectively fostering students' communicative competencies. The objective of this study is to examine the implementation of the Project-Based Learning (PjBL) model in Arabic language education at Madrasah Ibtidaiyah (MI) as part of the ongoing innovation within the Kurikulum Merdeka. A descriptive qualitative method was employed, utilizing participatory observation, in-depth interviews, and document analysis for data collection. The findings reveal that PjBL successfully integrates Arabic language content into real-world activities, such as creating family introduction videos and creating vocabulary posters. This approach significantly enhances students' speaking skills (maharah kalām), collaboration abilities, and self-confidence. Moreover, it promotes a shift in the teacher’s role from instructor to facilitator, supporting differentiated learning practices. Despite challenges related to limited resources and the need for teacher training, PjBL proves to be a flexible and effective strategy for teaching the Arabic language. This study presents a replicable model for enhancing curriculum and developing 21st-century competencies, grounded in Islamic values.   Abstrak Penelitian ini didasarkan pada kebutuhan akan pendekatan pembelajaran bahasa Arab yang lebih kontekstual, partisipatif, dan selaras dengan profil pelajar Pancasila, terutama di madrasah non-perkotaan. Pendekatan konvensional dinilai belum mampu mengembangkan keterampilan komunikasi siswa secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan model pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning/PjBL) dalam pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebagai bagian dari inovasi pengembangan Kurikulum Merdeka. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan PjBL mampu mengintegrasikan materi bahasa Arab ke dalam aktivitas nyata seperti video perkenalan keluarga dan pembuatan poster kosa kata. Pendekatan ini secara signifikan meningkatkan keterampilan berbicara (maharah kalām), kemampuan kerja sama, dan rasa percaya diri siswa. Guru juga mengalami pergeseran peran menjadi fasilitator pembelajaran yang mendukung pembelajaran terdiferensiasi. Meskipun terdapat keterbatasan fasilitas dan kebutuhan pelatihan guru, PjBL terbukti sebagai strategi yang fleksibel dan efektif dalam pembelajaran bahasa Arab. Penelitian ini memberikan model inovasi yang dapat direplikasi dalam penguatan kurikulum dan pengembangan kompetensi abad ke-21 berbasis nilai-nilai Islam. Kata Kunci: inovasi kurikulum; literasi bahasa Arab; Kurikulum Merdeka; pembelajaran berbasis proyek
MEA learning model impact on Pancasila education outcomes based on motivation level Khairunnisa Rizka; Daulat Saragi; Abdul Murad
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 3 (2025): Inovasi Kurikulum, August 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v22i3.115

Abstract

Learning outcomes in Pancasila and Citizenship Education (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan or PPKn) among elementary students still face challenges, particularly due to the use of less innovative learning models and low student motivation. This study aims to examine the differences in PPKn learning outcomes between students taught using the Means-Ends Analysis (MEA) model and those taught using the expository model, as well as the differences based on learning motivation levels and the interaction between learning models and motivation on learning outcomes. The study employed a quasi-experimental method with a two-by-two factorial design, involving fourth-grade students at SD Swasta Tunas Harapan Islam Medan. The results showed that students taught with the MEA model achieved better learning outcomes than those using the expository model. Students with high motivation also performed better than those with low motivation. Furthermore, a significant interaction was found between learning models and motivation levels, with the combination of the MEA model and high motivation yielding the most optimal outcomes. In conclusion, the MEA model is more effective in improving PPKn learning outcomes, especially for students with high motivation. These findings highlight the importance of selecting suitable learning models and taking into account students’ internal factors to support learning success.   Abstrak Hasil belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) pada peserta didik sekolah dasar masih menghadapi tantangan, terutama karena penggunaan model pembelajaran yang kurang inovatif dan rendahnya motivasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan hasil belajar PPKn antara peserta didik yang menggunakan model pembelajaran Means Ends Analysis (MEA) dan peserta didik dengan model ekspositori, perbedaan berdasarkan tingkat motivasi belajar, serta interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap hasil belajar. Penelitian menggunakan metode eksperimen semu dengan desain faktorial dua kali dua, melibatkan peserta didik kelas IV SD Swasta Tunas Harapan Islam Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan model MEA memiliki hasil belajar lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik yang menggunakan model ekspositori. Peserta didik dengan motivasi belajar tinggi juga menunjukkan pencapaian lebih baik dibandingkan peserta didik yang bermotivasi rendah. Selain itu, terdapat interaksi signifikan antara model pembelajaran dan motivasi belajar, di mana kombinasi model MEA dan motivasi tinggi menghasilkan capaian belajar paling optimal. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa model MEA efektif dalam meningkatkan hasil belajar PPKn, terutama pada peserta didik dengan motivasi belajar tinggi. Temuan ini menyoroti pentingnya pemilihan model pembelajaran yang tepat dan perhatian terhadap faktor internal peserta didik dalam mendukung keberhasilan pembelajaran. Kata kunci: hasil belajar PPKn; model pembelajaran MEA; motivasi belajar; pendidikan Pancasila; sekolah dasar  
Enhancing problem-solving and critical thinking through contextual learning and TAI integration Farisman Ziliwu; Ali Mahmudi
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 3 (2025): Inovasi Kurikulum, August 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v22i3.116

Abstract

Problem solving and critical thinking are essential skills in 21st-century mathematics education. The Team Assisted Individualization (TAI) model promotes both collaborative learning and individual responsibility, while contextual teaching links mathematical concepts to real life, making learning more meaningful. However, combining these two approaches has received limited attention, particularly in enhancing students’ problem-solving and critical thinking skills. This study aims to examine the enhancement of these skills through the implementation of the TAI model integrated with a contextual learning approach. A pre-experimental method with a one-group pretest-posttest design was employed. Participants were Grade XI students at a senior high school in Yogyakarta, focusing on the topic of algebraic derivatives. Data were collected using a test designed to assess problem-solving and critical thinking skills, before and after the intervention. Paired sample t-tests were used to analyze the score differences. The findings revealed a significant improvement in students’ problem-solving and critical thinking skills following the intervention. This suggests that combining TAI and contextual learning is effective in fostering mathematical thinking competencies. Further research is recommended to explore the roles of group collaboration and individual learning in supporting the development of key 21st-century skills.   Abstrak Kemampuan pemecahan masalah dan berpikir kritis merupakan keterampilan esensial dalam pembelajaran matematika abad ke 21. Model Team Assisted Individualization (TAI) diketahui dapat mendorong kolaborasi dalam kelompok sekaligus mendukung pembelajaran individu, sedangkan pendekatan kontekstual mengaitkan materi dengan situasi nyata untuk meningkatkan relevansi dan makna pembelajaran. Namun, integrasi keduanya masih jarang dikaji secara mendalam, khususnya dalam konteks pengembangan kemampuan pemecahan masalah dan berpikir kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kedua kemampuan tersebut melalui penerapan model TAI yang terintegrasi dengan pendekatan pembelajaran kontekstual. Metode yang digunakan adalah pra eksperimen dengan desain satu kelompok pretest posttest. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI di salah satu SMA di Yogyakarta dengan topik turunan fungsi aljabar. Instrumen yang digunakan berupa tes pemecahan masalah dan berpikir kritis yang diberikan sebelum dan sesudah perlakuan. Analisis data dilakukan dengan uji t berpasangan untuk mengetahui signifikansi perbedaan skor pretest dan posttest. Hasil menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan pemecahan masalah dan berpikir kritis siswa. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengevaluasi kontribusi kerja sama kelompok dan peran individu dalam mendukung pencapaian keterampilan abad ke 21 secara lebih mendalam. Kata Kunci: kemampuan berpikir kritis; kemampuan pemecahan masalah; model pembelajaran kooperatif; pendekatan pembelajaran kontekstual; team-assisted individualization
The role of the habituation curriculum in encouraging the improvement of students’ social skills in the digital era Kartika Dwi Hartini; Mustajab Mustajab; Mas’ud Mas’ud
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 3 (2025): Inovasi Kurikulum, August 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v22i3.117

Abstract

This study examines the impact of the habituation curriculum on enhancing students’ social skills in the digital era. With the increasing reliance on digital technology, students face challenges in developing interpersonal communication and empathy. Therefore, examining how a habituation-based curriculum can bridge this gap is essential. The primary aim of this research is to evaluate the effectiveness of the habituation curriculum in promoting more effective social interactions among students within the context of modern educational environments. The study employs a mixed-methods approach, combining qualitative and quantitative data collection techniques. To gain insight into the impact of the habituation curriculum, researchers conducted surveys and interviews with educators to gather their perspectives on the topic. The findings indicate that habituation practices significantly improve students’ ability to engage in meaningful offline and online social interactions. The research emphasizes the importance of incorporating habituation strategies into the curriculum to address the challenges posed by digital communication platforms. It supports the development of well-rounded, socially competent individuals. This study offers valuable implications for educators seeking to adapt teaching methods to contemporary needs.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi peran kurikulum habituasi dalam meningkatkan keterampilan sosial siswa di era digital. Dengan semakin meningkatnya ketergantungan pada teknologi digital, siswa menghadapi tantangan dalam mengembangkan komunikasi interpersonal dan empati. Oleh karena itu, penting untuk meneliti bagaimana kurikulum berbasis habituasi dapat menjembatani kesenjangan ini. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menilai efektivitas kurikulum habituasi dalam mendorong interaksi sosial yang lebih baik di kalangan siswa dalam konteks lingkungan pendidikan modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran, menggabungkan teknik pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif. Untuk menggali wawasan mengenai dampak kurikulum habituasi, peneliti melakukan survei dan wawancara kepada pendidik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa praktik habituasi secara signifikan meningkatkan kemampuan siswa untuk terlibat dalam interaksi sosial yang bermakna, baik secara offline maupun online. Penelitian ini menyoroti pentingnya mengintegrasikan strategi habituasi dalam kurikulum untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh platform komunikasi digital dan mendukung pengembangan individu yang terampil secara sosial. Penelitian ini memberikan implikasi yang berharga bagi pendidik yang berusaha menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan kontemporer. Kata Kunci: era digital; kurikulum habituasi; keterampilan sosial
Islamic religious education teachers' parenting in developing children's religious character at Randublatung Lathifatul Ismi Fauziah; Ridwan Ridwan; Agus Sutiyono; Nazih Sadatul Kahfi
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 3 (2025): Inovasi Kurikulum, August 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v22i3.118

Abstract

The decline in children's religious character is a pressing social issue that warrants serious attention. Parents, especially those who work as Islamic Religious Education (PAI) teachers, have a strategic role in shaping children's religious character. This study aims to explore the parenting patterns of PAI teachers in instilling religious values in the Randublatung District, Blora Regency. The method employed was qualitative, with a phenomenological approach, utilizing interview techniques, observation, and documentation. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that parents who are also PAI teachers apply authoritative and authoritarian parenting, with an emphasis on role modelling, open communication, and disciplinary supervision. They serve as moral and spiritual figures who can positively influence children's religious awareness. The application of the habituation method in daily life has proven effective in shaping children's religious character, particularly in terms of discipline in worship and the internalization of moral values. This study recommends further development with a broader sample coverage and consideration of socio-economic variables in the context of religious parenting.   Abstrak Menurunnya karakter religius anak menjadi isu sosial yang memerlukan perhatian serius. Orang tua, khususnya yang berprofesi sebagai guru Pendidikan Agama Islam (PAI), memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter religius anak. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pola asuh guru PAI dalam menanamkan nilai religius di Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang juga guru PAI menerapkan pola asuh otoritatif dan otoriter, dengan penekanan pada keteladanan, komunikasi terbuka, serta pengawasan disiplin. Mereka berperan sebagai figur moral dan spiritual yang mampu memberikan pengaruh positif terhadap kesadaran beragama anak. Penerapan metode pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari terbukti efektif membentuk karakter religius anak, terutama dalam hal kedisiplinan beribadah dan internalisasi nilai-nilai moral. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan studi lebih lanjut dengan cakupan sampel yang lebih luas serta mempertimbangkan variabel sosial-ekonomi dalam pola asuh religius. Kata Kunci: gaya pengasuhan; guru PAI; karakter religius
The role of makerspaces in advancing STEAM pedagogy: A systematic review Tri Nurdiyanso; Hari Wahyono; Endang Sri Andayani
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 3 (2025): Inovasi Kurikulum, August 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v22i3.119

Abstract

The 21st century demands high-quality human resources equipped with critical, analytical, and creative thinking skills. In response to these needs, educational institutions have initiated and developed the Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM) learning approach, which emphasizes interdisciplinary learning. In parallel, several schools have implemented makerspaces to support interdisciplinary learning. This study aims to systematically review the existing scholarly literature on the potential and challenges associated with implementing makerspaces in STEAM education. This study employs a literature review method, analyzing 13 Scopus-indexed articles published between 2014 and 2024, based on established inclusion criteria. The findings reveal that makerspaces function as constructivist learning environments that support learning through a STEAM-based approach. Furthermore, makerspaces are recognized for their potential to promote inclusive and equitable education by offering culturally relevant, student-centered opportunities that reflect the diversity of learners. However, several challenges remain, including limited access to tools and infrastructure, rigid curricular frameworks, insufficient teacher training, and the absence of assessment tools capable of capturing complex and multimodal learning outcomes. In conclusion, while makerspaces hold significant potential for enriching STEAM pedagogy, their successful integration relies heavily on systemic support, inclusive design practices, and continuous professional development for educators.   Abstrak Abad ke-21 membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas seperti keterampilan berpikir kritis, analitik, dan kreatif. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, lembaga pendidikan memulai dan mengembangkan pendekatan pembelajaran Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM), dimana fokus pembelajaran interdisplinary diutamakan. Di sisi lain, beberapa sekolah menerapkan makerspace dalam mendukung pembelajaran interdisplinary. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan tinjauan sistematis terhadap potensi dan tantangan implementasi makerspace dalam pembelajaran STEAM berdasarkan literatur ilmiah. Metode penelitian ini menggunakan studi literatur review dengan menggunakan 13 artikel terindeks Scopus dan diterbitkan antara tahun 2014 hingga 2024, berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Temuan menunjukkan bahwa makerspace berperan sebagai lingkungan belajar konstruktivis yang mendorong pembelajaran berbasis pendekatan STEAM. Selain itu, makerspace juga dinilai memiliki potensi untuk mendorong pembelajaran yang inklusif dan berkeadilan melalui penyediaan peluang yang relevan secara budaya dan berpusat pada siswa, sesuai dengan keragaman peserta didik. Namun demikian, terdapat tantangan seperti keterbatasan akses terhadap alat dan infrastruktur, kerangka kurikulum yang kaku, kurangnya pelatihan bagi pendidik, serta belum tersedianya alat asesmen yang mampu mengukur hasil belajar kompleks dan multimodal. Kesimpulannya adalah makerspace memiliki potensi besar dalam memperkaya pedagogi STEAM, keberhasilan integrasinya bergantung pada dukungan sistemik, praktik desain yang inklusif, dan pengembangan profesional yang berkelanjutan bagi pendidik. Kata Kunci: inovasi; kompetensi; makerspaces; pendidikan STEAM; tantangan
Augmented reality media Assemblr Edu in Biology learning of the excretory system to increase student learning interest Annisa Rezki Samosir; Kartika Manalu
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 3 (2025): Inovasi Kurikulum, August 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v22i3.120

Abstract

This study aims to develop and implement Augmented Reality (AR)-based learning media using the Assemblr Edu application in the context of Biology learning, especially on the excretory system material. The method used is Research and Development (RnD) with a 4D development model, which consists of four stages: Define, Design, Develop, and Disseminate. In the Define stage, needs analysis is conducted through interviews with teachers and questionnaires to students to identify challenges in learning. The Design stage includes making storyboards and developing interactive 3D organ excretory models. In the Develop stage, AR media is validated by material and media experts, and tested in class XI F1F, consisting of 36 students. The validation results show that the AR Assemblr Edu media achieved a score of 95.29 precent, which is considered "Very Valid". Teacher responses to the media reached 96.25 precent, and student responses showed a score of 95,63 precent, which is included in the "Very Practical" category. The student learning interest survey showed a score of 94.44 precent (4.78), which is included in the "Very High" category. These findings indicate that the AR Assemblr Edu media is not only effective in increasing students' interest and understanding of the excretory system but also provides an interactive and enjoyable learning experience. This study recommends the application of AR media in other Biology learning materials to increase student learning interest, especially in dealing with complex and abstract material.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi media pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) menggunakan aplikasi Assemblr Edu dalam konteks pembelajaran Biologi, khususnya pada materi sistem ekskresi. Metode yang digunakan adalah Research and Development (RnD) dengan model pengembangan 4D, yang terdiri dari empat tahap: Define, Design, Develop, dan Disseminate. Pada tahap define, analisis kebutuhan dilakukan melalui wawancara dengan guru dan kuesioner kepada peserta didik untuk mengidentifikasi tantangan dalam pembelajaran. Tahap Design meliputi pembuatan storyboard dan pengembangan model 3D organ ekskresi yang interaktif. Pada tahap develop, media AR divalidasi oleh ahli materi dan media, serta diuji coba di kelas XI F1F yang terdiri dari 36 peserta didik. Hasil validasi menunjukkan bahwa media AR Assemblr Edu mencapai skor 95,29 persen, yang dikategorikan sebagai "Sangat Valid". Respons guru terhadap media mencapai 96,25 persen, dan respon peserta didik menunjukkan nilai 95,63 persen, yang termasuk dalam kategori "Sangat Praktis". Survei minat belajar peserta didik menunjukkan nilaim 94,44 persen (4,78) yang termasuk dalam kategori "Sangat Tinggi". Temuan ini mengindikasikan bahwa media AR Assemblr Edu tidak hanya efektif dalam meningkatkan minat dan pemahaman peserta didik terhadap materi sistem ekskresi, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang interaktif dan menyenangkan. Penelitian ini merekomendasikan penerapan media AR dalam pembelajaran materi Biologi yang lainnya untuk meningkatkan minat belajar peserta didik dalam pembelajaran, terutama dalam mengatasi materi yang bersifat kompleks dan abstrak. Kata kunci: Assemblr Edu; Augmented Reality; minat belajar; sistem ekskresi
Development of science literacy-based animated video media for IPAS Clara Lapebridinsi; Dea Mustika
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 3 (2025): Inovasi Kurikulum, August 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v22i3.121

Abstract

The lack of engaging learning media is one of the obstacles in the teaching and learning process, which affects students' low learning outcomes. This study aims to develop a science literacy-based animated video media for the Natural and Social Sciences (IPAS) subject in Grade IV at SDN 006 Pangkalan Indarung, Kuantan Singingi Regency. This research is a type of Research and Development (RnD) using the ADDIE development model. The research subjects included six validators consisting of two material experts, two language experts, and two design experts, as well as one teacher and six fourth-grade students. Data collection techniques involved validation sheets and response questionnaires, which were then analyzed using qualitative and quantitative methods. The validation results from all six validators indicated that the science literacy-based animated video media is highly valid in terms of content, language use, and visual design. In addition, responses from the teacher and students showed that the media is engaging, easy to understand, communicative, and relevant to the IPAS subject matter. Therefore, it can be concluded that this media is feasible to be used as a learning support tool that can enhance student engagement and understanding.   Abstrak Kurangnya media pembelajaran yang menarik menjadi salah satu kendala dalam proses belajar mengajar, yang berdampak pada rendahnya hasil belajar peserta didik. Penelitian ini bertujuan mengembangkan media video animasi berbasis literasi sains pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) kelas IV SDN 006 Pangkalan Indarung, Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini merupakan penelitian Research and Development (RnD) dengan menggunakan model pengembangan ADDIE. Subjek dalam penelitian ini meliputi enam validator yang terdiri atas dua ahli materi, dua ahli bahasa, dan dua ahli desain, serta satu guru dan enam peserta didik kelas IV. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar validasi dan angket respon, yang kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil validasi dari keenam validator menunjukkan bahwa media video animasi berbasis literasi sains dinyatakan sangat valid dari segi isi materi, penggunaan bahasa, dan desain visual. Selain itu, respon guru dan peserta didik menunjukkan bahwa media ini menarik, mudah dipahami, komunikatif, dan relevan dengan materi IPAS. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa media ini dinilai layak digunakan sebagai sarana pendukung pembelajaran yang mampu meningkatkan keterlibatan dan pemahaman peserta didik. Kata Kunci: media video animasi; literasi sains; IPAS
A new paradigm in curriculum development: integrating local and global values Lukman Lukman
Inovasi Kurikulum Vol. 23 No. 2 (2026): Inovasi Kurikulum, May 2026
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v23i2.122

Abstract

Contemporary education faces the dual challenge of preparing students for a globally interconnected world while preserving their unique cultural heritage. This study proposes a new curriculum paradigm that synergistically integrates local wisdom, specifically the Tata Tuhu Trasna values from West Nusa Tenggara (NTB), with global values such as the Sustainable Development Goals (SDGs) and 21st-century skills within Indonesia's Kurikulum Merdeka framework. Using a descriptive qualitative methodology, this research identifies glocalization and culturally responsive pedagogy as key theoretical foundations. The study reveals that local wisdom inherently aligns with global imperatives through shared emphasis on sustainability, character development, and community engagement. A comparative analysis of Finnish, Singaporean, and Japanese curriculum models provides insights into implementation strategies. The proposed paradigm demonstrates practical feasibility through a conceptual application at SMPN 15 Mataram, offering concrete strategies for subject integration, project-based learning, and community partnerships. Key recommendations include adopting glocalization frameworks in policy, investing in teacher professional development, developing localized resources, and reforming assessment methods to evaluate holistic outcomes beyond cognitive measures.   Abstrak Pendidikan kontemporer menghadapi tantangan ganda, yaitu mempersiapkan murid untuk menghadapi dunia yang saling terhubung secara global sekaligus melestarikan warisan budaya mereka yang unik. Penelitian ini mengusulkan paradigma kurikulum baru yang secara sinergis mengintegrasikan kearifan lokal, khususnya nilai-nilai Tata Tuhu Trasna dari Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan nilai-nilai global seperti Sustainable Development Goals (SDGs) dan keterampilan abad ke-21 dalam kerangka Kurikulum Merdeka Indonesia. Menggunakan metodologi kualitatif deskriptif melalui tinjauan pustaka komprehensif dan refleksi teoretis, penelitian ini mengidentifikasi glokalisasi dan pedagogi yang responsif terhadap budaya sebagai landasan teoretis utama. Studi ini menemukan bahwa kearifan lokal secara inheren selaras dengan keharusan global melalui penekanan bersama pada keberlanjutan, pengembangan karakter, dan keterlibatan masyarakat. Analisis komparatif dengan model kurikulum Finlandia, Singapura, dan Jepang memberikan wawasan strategi implementasi. Paradigma yang diusulkan menunjukkan kelayakan praktis melalui penerapan konseptual di SMPN 15 Mataram, yang menawarkan strategi konkret untuk integrasi mata pelajaran, pembelajaran berbasis proyek, dan kemitraan masyarakat. Rekomendasi utama meliputi adopsi kerangka kerja glokalisasi dalam kebijakan, investasi dalam pengembangan profesional guru, pengembangan sumber daya lokal, serta reformasi metode penilaian untuk mengevaluasi hasil holistik di luar ukuran kognitif. Kata Kunci: glokalisasi; kearifan lokal; Kurikulum Merdeka; pendidikan global; Tata Tuhu Trasna

Page 6 of 54 | Total Record : 537