cover
Contact Name
Agustina Engry
Contact Email
agustina-engry@ukwms.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalexperientia@ukwms.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Kalisari Selatan 1, Surabaya
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Experientia : Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : -     EISSN : 26859963     DOI : 10.33508/exp
Core Subject :
Experientia is an open-access, scientifically sound peer-reviewed journal that considers manuscripts from all domains of psychology and also encourages interdisciplinary studies pertaining to the human mind and behaviors. The journal welcomes quantitative and qualitative methods, and also considers non-empirical research (i.e literature reviews, metanalysis). Replication studies and negative results are welcomed.
Arjuna Subject : -
Articles 148 Documents
PENGARUH INTENSITAS PENGGUNAAN KOSMETIK TERHADAP KEPERCAYAAN DIRI PADA WANITA PEKERJA FRONTLINER DI KOTA SURABAYA Agnes Nathania Wilbert; Nurlaila Effendy
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v11i1.4482

Abstract

Wanita pekerja frontliner penting untuk memiliki kepercayaan diri terutama untuk berinteraksi dengan customer.  Namun seringkali, sebagian besar dari frontliner tidak percaya diri karena penampilan fisik terutama pada wajahnya. Hal ini membuat individu memperbaiki penampilan fisiknya agar terlihat lebih cantik dan menawan dengan menggunakan bantuan kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh intensitas penggunaan kosmetik terhadap kepercayaan diri pada wanita pekerja frontliner di kota Surabaya. Teknik sampling yang dilakukan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dan snowball sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala intensitas penggunaan kosmetik berdasarkan empat aspek, yakni perhatian atau daya konsentrasi, durasi, frekuensi, dan penghayatan atau pemahaman. Pada skala kepercayaan diri berdasarkan lima aspek, yakni keyakinan akan kemampuan diri, optimis, obyektif, bertanggungjawab, dan rasional. Responden yang didapatkan dalam penelitian ini sebanyak 164 dan kemudian dilakukan analisis menggunakan teknik statistika uji analisis regresi sederhana dengan bantuan SPSS for windows 16.0. Hasil dari analisis tersebut menunjukkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, yang artinya ada pengaruh yang signifikan dan memiliki nilai positif antara intensitas penggunaan kosmetik dengan kepercayaan diri pada wanita pekerja frontliner di Kota Surabaya. Hal ini berarti dengan menggunakan kosmetik mampu meningkatkan kepercayaan diri oleh para frontliner. Penggunaan kosmetik menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari responden dalam pekerjaannya. Pengaruh yang signifikan berarti nilai positif, berarti semakin tinggi intensitas penggunaan kosmetik, maka semakin tinggi pula kepercayaan diri yang dimilikinya. Selain itu, terdapat sumbangan efektif pengaruh intensitas penggunaan kosmetik terhadap kepercayaan diri sebesar 11,5%.
PENGARUH GRATITUDE TERHADAP KECENDERUNGAN DEPRESI PADA MAHASISWA DI SURABAYA Ariel Benny Priyantono; Dicky Susilo; Happy Cahaya Mulya
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v11i1.4494

Abstract

Kecenderungan depresi didefinisikan sebagai suatu pengalaman yang menyakitkan dengan perasaan kebahagiaan yang hilang dan dapat ditunjukan dengan gejala tertentu. Salah satu penyebab kecenderungan depresi adalah menurunnya gratitude atau rasa syukur yang dimiliki oleh seorang individu yang terdiri dari intencity, frequency, span dan dencity. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetauhi pengaruh dari gratitude terhadap kecenderungan depresi pada mahasiswa Surabaya. Peneliti menggunakan metode kuantitif dengan menyebarkan skala gratitude questionnaire 6 (GQ-6) dan depression anxiety stress scale 21 (DASS-21) yang peneliti susun dengan bantuan Google Form. Subjek yang menjadi penelitian ini adalah mahasiswa strata satu berumur 18-25 tahun di Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan teknik analisa regresi sederhana dengan memakai bantuan aplikasi SPSS for Windows versi 25. Penelitian ini mendapatkan hasil adanya pengaruh signifikan antar variabel. Uji pengaruh pada penelitian ini digambarkan dengan sumbangan efektif sebesar 12.6% dan nilai sig, sebesar 0.000 (p < 0.05) dan nilai persamaan Y=41,274 – 0,449X. Berdasarkan persamaan regresi tersebut memperoleh arti bahwa setiap kenaikan 0,449 poin pada poin gratitude maka akan menurunkan 1 poin kecenderungan depresinya. Sebaliknya, setiap terdapat penurunan poin gratitude sebesar 0,449 poin maka akan menambahkan kenaikan 1 poin pada kecenderungan depresinya.
HUBUNGAN ANTARA PENYESUAIAN DIRI DENGAN SCHOOL WELL-BEING PADA SISWA SMP NEGERI 1 SILAEN Sernita Marpaung; Elisabet Widyaning Hapsari
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v11i1.4502

Abstract

Peralihan dari pembelajaran daring ke luring membutuhkan adaptasi. Adaptasi ialah kemampuan untuk membangun keharmonisan antara individu dan lingkungan. Kualitas sekolah berdampak pada perkembangan penyesuaian pribadi. Penelitian berikut ini mencoba untuk melihat apakah ada korelasi antara self-efficacy dengan kesejahteraan sekolah pada peserta didik SMP Negeri 1 Ceylon. Responden survei ini mencapai 259 peserta didik berusia 11–16 tahun. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini memakai metode sampling yakni random sampling. Penelitian berikut ini memakai metode penelitian kuantitatif dengan memakai skala mutu sekolah dan swakelola. Penelitian selanjutnya memakai metode analisis data Kendall Tau-B dan koefisien korelasi sebesar 0,000 (p < 0,05) dengan nilai signifikan r = 0,255. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara penyesuaian diri dengan kualitas sekolah, artinya penyesuaian diri mempunyai karunia bagi peserta didik untuk mencapai keharmonisan antara dirinya dan sekolahnya sehingga faktor-faktor yang mempengaruhi sekolah Untuk meningkatkan sikap peserta didik. Kamu baik. Tingkat penyesuaian diri peserta didik yang tinggi, tingkat kesejahteraan sekolah peserta didik SMP Negeri 1 Sailen yang tinggi. Sebaliknya, menurunkan tingkat pengembangan diri peserta didik, menurunkan kualitas sekolah peserta didik SMP Negeri 1 Silen.
GAMBARAN STRATEGI COPING PADA PEREMPUAN EMERGING ADULTHOOD YANG MENGALAMI TOXIC RELATIONSHIP NAMUN MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN Daniella Audrey; Fransisca Dessi Christanti; Detricia Tedjawidjaja
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v11i2.4582

Abstract

Coping merupakan suatu proses dimana individu berusaha untuk mengelola kesenjangan antara tuntutan (baik dari individu itu sendiri maupun lingkungannya) dengan kemampuan mereka dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan. Strategi coping banyak dilakukan oleh perempuan emerging adulthood yang mengalami toxic relationship dalam usaha mempertahankan hubungannya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan strategi coping pada perempuan emerging adulthood yang mengalami toxic relationship dan berusaha mempertahankan hubungannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi kasus dan menggunakan analisis tematik deduktif. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Informan dalam penelitian ini terdiri dari tiga informan dengan kriteria pernah mengalami toxic relationship dan berusaha mempertahankan hubungannya. Hasil dari penelitian ini menunjukan terdapat empat tema pokok yaitu bentuk kekerasan selama berpacaran, dampak negative mengalami kekerasan selama berpacaran, alasan mempertahankan hubungan, dan strategi coping. Ketiga informan menggunakan baik problem-focused coping maupun emotion-focused coping dan kekerasan balik pada pasangan.
HUBUNGAN FAMILY FUNCTIONING DAN KESEPIAN PADA MAHASISWA PERANTAU Shinta Maria Magdalena; Jaka Santosa Sudagijono; Happy Cahaya Mulya
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v11i1.4604

Abstract

Abstrak - Remaja akhir adalah remaja dengan rentang usia 18 – 21 tahun. Ketika merantau untuk keperluan melanjutkan pendidikan tinggi, banyak remaja yang mengalami kesulitan penyesuaian diri karena adanya perbedaan seperti misalnya perbedaan budaya di tempat asal SMA dengan budaya di kota tempat kuliah, sifat pendidikan dari SMA ke perkuliahan, dan perbedaan pola komunikasi serta norma sosial yang ada. Apabila remaja tidak dapat beradaptasi dengan semua perubahan tersebut maka remaja yang merantau akan cenderung mengalami perasaan terasing dan kesepian. Kesepian adalah perasaan ketika hubungan sosial yang diinginkan tidak tercapai, termasuk muncul perasaan kurang nyaman, gelisah, tertekan, dan kesusahan. Saat mengalami kesepian inilah, remaja yang merantau jauh dari keluarga sangat membutuhkan dukungan keluarga. Jika remaja memiliki fungsi keluarga yang baik maka remaja tidak akan merasa sendiri dan tidak terlalu merasa kesepian. Penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling dalam pengambilan data dan didapatkan 146 partisipan. Kesepian diukur menggunakan skala dari Russell yaitu UCLA loneliness version 3 dan skala family functioning yang dibuat oleh peneliti sendiri. Data dianalisis menggunakan statistik non-parametrik yaitu Kendall’s Tau B karena ada uji asumsi yang tidak terpenuhi. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara kesepian dan family functioning pada remaja akhir yang merantau dengan nilai korelasi sebesar -0,355 dengan p = 0,000 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi family functioning, maka semakin rendah kesepian yang dirasakan individu dan begitu pula sebaliknya. Didapatkan juga bahwa variabel family functioning memberikan sumbangan efektif sebesar 12,6% terhadap variabel kesepian. Walaupun jauh dari keluarga namun anak ternyata masih membutuhkan dukungan, perhatian, dan kasih sayang dari keluarga. 
STRATEGI REGULASI EMOSI SECARA KOGNITIF PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PSIKOLOGI YANG SEDANG MENYELESAIKAN SKRIPSI Hario Bimo Sakti; Yettie Wandansari
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v11i1.4659

Abstract

Skripsi merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar S1. Dalam proses penyelesaian skripsi, mahasiswa seringkali mengalami emosi negatif. Salah satu cara untuk mengatasi emosi negatif ialah dengan menggunakan strategi regulasi emosi secara kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi regulasi emosi secara kognitif pada mahasiswa Prodi Psikologi dalam menyelesaikan skripsi, melalui metode kuantitatif deskriptif. Pengumpulan data menggunakan Cognitive Emotion Regulation Questionnaire (CERQ) versi bahasa Indonesia yang ditranslasi oleh penulis melalui tahapan forward translation dan back translation. Kuesioner disebarkan secara luring dan daring melalui media sosial. Partisipan penelitian (N=97) adalah mahasiswa Prodi Psikologi di Surabaya yang sedang menyelesaikan skripsi. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi regulasi emosi secara kognitif pada partisipan sebagian besar bersifat adaptif. Strategi regulasi emosi secara kognitif yang paling sering digunakan partisipan adalah positive reappraisal dan refocusing on planning. Strategi regulasi emosi secara kognitif yang paling jarang digunakan yaitu blaming others. Selain itu, partisipan perempuan lebih sering melakukan positive refocusing dan catastrophizing daripada partisipan laki-laki. Hasil penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut pada partisipan dari bidang ilmu dan tingkat pendidikan yang berbeda, serta dieksplorasi untuk penyusunan model teoritik regulasi emosi secara kognitif pada konteks Indonesia.
PSYCHOSOCIAL ADJUSTMENT INDIVIDU DALAM HUBUNGAN PACARAN BEDA RAS Belicia Griselda Talahaturusun; Chairein Christy Limantara; Amadea Regine Tan; Velissia Lakaseng; Nathania Amabel Sangjaya; David Marchellino Tjiptowidjojo
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v11i2.4687

Abstract

Abstrak—Pacaran beda ras memiliki banyak perbedaan yang menimbulkan konflik, sehingga dibutuhkan psychosocial adjustment, yaitukemampuan untuk menyesuaikan dengan diri (psychological adjustment) dan lingkungannya (social adjustment). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tantangan dalam relasi pacaran beda ras serta bentuk psychosocial adjustment individu terhadap tantangan yang muncul. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk memahami secara mendalam fenomena yang terjadi dalam pacaran beda ras. Teknik purposive sampling digunakan untuk memperoleh partisipan yang sedang atau pernah pacaran beda ras. Data penelitian diperoleh melalui wawancara semi terstruktur dengan 5 partisipan dan dianalisis menggunakan metode analisis tematik. Upaya meningkatkan kredibilitas penelitian dilakukan dengan menerapkan metode triangulasi berupa member checking. Hasil penelitian menemukan bahwa tantangan yang paling menonjol adalah restu dari pihak keluarga, yang secara langsung dapat mempengaruhi keberlangsungan relasi. Bentuk dari psychological adjustment adalah mampu mengekspresikan perasaan, memiliki coping mechanism dalam menghadapi tekanan, dan mendapatkan dukungan dari orang lain. Bentuk dari social adjustment adalah mengikuti tradisi/budaya pasangan, membangun citra pasangan yang positif, serta meningkatkan kualitas diri sendiri. Penelitian ini juga menemukan psychosocial adjustment dinyatakan berhasil apabila dapat mengatasi konflik pacaran beda ras. Namun beberapa bentuk penyesuaian tersebut dapat menyebabkan hubungan berakhir atau berjalan. Keterbatasan dalam penelitian terdapat pada karakteristik partisipan yang hanya berasal dari salah satu pihak dalam suatu hubungan, kurangnya keberagaman ras, dan guideline wawancara yang kurang spesifik. Penelitian ini memberikan perspektif baru terkait tantangan berpacaran beda ras di Indonesia serta penggunaan teori psychosocial adjustment dalam konteks relasi pacaran beda ras. 
IDENTIFIKASI TAHAPAN SELF-SILENCING DALAM HUBUNGAN BERPACARAN EMERGING ADULTHOOD Kezia Kevina Harmoko; Felicia Angie Hosea; Richelleen Widjaja; Putu Erika Valentina; Nicholas Oswald Poniman; Jeanie Sindayani Tandra; Cicilia Larasati Rembulan; Mopheta Audiola Dorkas; Putri Ayu Puspieta Wardhani
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v11i2.4688

Abstract

Self-silencing adalah ketidakhadiran komunikasi efektif dalam hubungan sehingga individu tidak mengekspresikan pemikiran, perasaan serta keinginan yang sebenarnya kepada pasangan. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan desain studi kasus.  Tujuan penelitian adalah memperkaya eksplorasi mengenai tahapan yang mencangkup penyebab, bentuk, dan dampak self-silencing dalam hubungan berpacaran emerging adulthood. Peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara terhadap dua pasangan yang memiliki indikasi self-silencing berdasarkan open-ended questionnaire yang disusun. Data dari kedua pasangan melalui tahap triangulasi dan dianalisis dengan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam penyebab, tahapan, dan dampak self-silencing bagi laki-laki dan perempuan. Temuan ini merupakan kebaruan dalam penelitian tentang self-silencing. Terdapat beberapa persamaan di faktor internal penyebab self-silencing, tetapi seluruh faktor eksternal dalam laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan. Self-silencing perempuan cenderung berdampak terhadap relasi sedangkan laki-laki berdampak pada dirinya sendiri. Untuk tahapan, perempuan bisa keluar dari self-silencing akibat dorongan internal. Sementara pada laki-laki, walaupun memiliki motivasi internal, mereka cenderung butuh dorongan eksternal dari pasangan. Bentuk self-silencing antara laki-laki dan perempuan memiliki kemiripan, mereka sama-sama menunjukkan self-silencing dengan diam untuk menghindari konflik dan menunda komunikasi. Penelitian ini bermanfaat bagi emerging adult untuk meningkatkan kesadaran pentingnya berkomunikasi efektif dalam hubungan berpacaran. Keterbatasan penelitian ini adalah latar belakang budaya partisipan yang serupa sehingga informasi yang disampaikan menjadi terbatas pada konteks tertentu. Penelitian selanjutnya dapat mencari partisipan dengan latar belakang budaya yang lebih beragam untuk memperkaya informasi.
SELF REGULATED LEARNING DENGAN STUDENT ENGAGEMENT PADA SISWA SMA ST. CAROLUS SURABAYA Elisabet Widyaning Hapsari; Renaldy Sutedjo
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v12i1.4901

Abstract

Adanya pandemi covid-19 memberikan perubahan yang mendalam terhadap sektor pendidikan terutama dalam metode pembelajaran. Pembelajaran tatap muka yang merupakan proses terencana antara pengajar dan siswa didalam kelas yang berkaitan dengan interaksi guru-siswa, materi pelajaran, guru, serta lingkungan menjadi tidak efektif. Student engagement yang merupakan indikator keberhasilan siswa dalam belajar, mengalami tantangan signifikan akibat perubahan metode pembelajaran yang dipengaruhi oleh pandemi covid-19. Self regulated learning yang merupakan faktor pendukung menjadi sangat penting ketika siswa dihadapkan dengan perubahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self regulated learning dan student engagement pada siswa SMA St. Carolus Surabaya. Responden dalam penelitian ini sebanyak 274 siswa aktif. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu total population sampling dengan metode penelitian kuantitatif. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala self regulated learning dan student engagement. Uji hipotesis yang digunakan yaitu uji non parametric Kendall Tau-B dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,372 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara self regulated learning dengan student engagement pada siswa SMA St. Carolus Surabaya. Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi self regulated learning sisws, semakin tinggi juga student engagement yang dimiliki oleh siswa. Sebaliknya, semakin rendah self regulated learning pada siswa maka semakin rendah pula student engagement yang dimiliki oleh siswa SMA St. Carolus Surabaya.
GRIT DAN RELIGIOSITAS TERHADAP WORK ENGAGEMENT PADA PENGURUS ORMAWA YANG BERAGAMA KRISTIANI DI SURABAYA Jessica Lydia Manoach; Dicky Susilo
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v11i2.5106

Abstract

Pengurus Ormawa membutuhkan work engagement untuk mendukung proses kerjanya. Work Engagement merupakan kondisi pikiran yang positif dan adanya pemenuhan diri pada pekerjaan dengan timbulnya rasa puas sehingga melibatkan afeksi dan perasaan termotivasi untuk mencapai kesejahteraan individu melawan timbulnya burnout saat bekerja. Dalam JD-R model, individu dengan job demands dan job resources memerlukan personal resources untuk dapat menunjukkan work engagement dan salah satu bentuknya adalah konsistensi minat dan daya tahan individu dalam melaksanakan tugas dalam organisasi yang disebut juga dengan grit. Faktor personal resources juga berkaitan dengan konstruk religiositas pada individu yang merupakan tata cara individu dalam menjalankan ajaran keagamaannya. Tujuan penelitian ini adalah peneliti ingin menguji pengaruh antara grit dan religiositas terhadap work engagement pada pengurus Ormawa beragama Kristiani di Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner Google form dengan menyebarkan skala Utrecht Work Engagement Scale–9 (UWES-9), 12-Item Grit Scale, dan skala Religiositas dengan menurunkan berdasarkan aspek-aspek. Partisipan penelitian ini merupakan pengurus Ormawa beragama Kristiani (Kristen Protestan & Katolik) di periode 2022/2023. Penelitian ini memperoleh hasil adanya pengaruh yang signifikan antara Grit & Religiositas terhadap Work Engagement pada pengurus Ormawa beragama Kristiani di kota Surabaya. Sumbangan efektif yang diberikan pada penelitian ini sebesar 11,5% dan nilai sig. 0,002 (p<0,05) dengan persamaan garis linier y= 18,267 + 0,298x1 +0,083x2. Arti dari persamaan garis linier tersebut adalah setiap penambahan 1 poin Grit dan Religiositas akan menambah pula poin Work Engagement sebesar 0,381

Page 11 of 15 | Total Record : 148