cover
Contact Name
Agustina Engry
Contact Email
agustina-engry@ukwms.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalexperientia@ukwms.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Kalisari Selatan 1, Surabaya
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Experientia : Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : -     EISSN : 26859963     DOI : 10.33508/exp
Core Subject :
Experientia is an open-access, scientifically sound peer-reviewed journal that considers manuscripts from all domains of psychology and also encourages interdisciplinary studies pertaining to the human mind and behaviors. The journal welcomes quantitative and qualitative methods, and also considers non-empirical research (i.e literature reviews, metanalysis). Replication studies and negative results are welcomed.
Arjuna Subject : -
Articles 148 Documents
DINAMIKA SELF-ESTEEM PADA EMERGING ADULTHOOD YANG FATHERLESS Abdiel Serafino Iskandar; Eli Prasetyo; Happy Cahaya Mulya
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v11i2.5122

Abstract

Fatherless adalah kondisi anak tumbuh dengan tanpa keterlibatan ayah kandung (fisik, emosional dan spiritual) dikarenakan meninggal, perceraian, ataupun permasalahan pernikahan. Kurangnya secure attachment dari ayah berdampak pada perkembangan self-esteem ke arah negatif, khususnya anak laki-laki. Self-esteem adalah evaluasi diri secara positif maupun negatif. Rendahnya self-esteem dari masa kanak-kanak akan mempengaruhi hingga fase perkembangan berikutnya (Emerging adulthood). Tujuan penelitian ini untuk melihat dinamika self­-esteem (positif dan negatif) emerging adulthood fatherless (perceraian). Metode kualitatif fenomenologi dan analisis tematik induktif. Informan penelitian ini adalah 2 laki-laki emerging adulthood fatherless sejak usia 3-11 tahun. Peneliti menggolongkan dinamika self-esteem dalam 3 fase, yaitu 1) fase anak-anak (3-11 tahun), 2) fase remaja (12-18 tahun), 3) fase emerging adulthood (18-25 tahun), juga faktor pembentuk self-esteem. Hasil penelitian menyatakan ada penilaian diri negatif yaitu kurang percaya diri, tetapi juga ada penilaian diri positif yaitu pribadi yang adaptif dan resilient. Penerimaan dari individu sebaya, relasi keluarga, pemaknaan pribadi pada kondisi fatherless-nya, menjadi faktor yang membentuk self-esteem. Jadi tidak selalu, individu fatherless akan menilai diri negatif lalu terpuruk. Penilaian diri positif membuat individu semakin kuat menjalani tantangan hidup.
WANITA DEWASA AWAL CHILDFREE: TINJAUAN PSIKOKULTURAL Allison Carol Karana; Fransisca Dessi Christanti
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v11i2.5172

Abstract

Pilihan seseorang untuk tidak memiliki anak dikenal dengan istilah childfree. Individu yang mengakui dirinya sebagai childfree memilih secara sadar bahwa tidak ingin memiliki anak. Berbeda dengan asumsi kebanyakan orang, ketidak beradaan anak dalam kehidupan wanita childfree tidak diakibatkan oleh keterbatasan biologis. Dalam berbagai budaya di Indonesia, wanita diharapkan memenuhi ekspektasi tertentu seperti memiliki anak. Wanita akan semakin tertekan untuk memiliki anak apabila ia telah menikah dikarenakan anggapan umum bahwa tujuan dari penikahan sebagai memiliki anak dengan pasangannya. Selain itu, peran wanita dewasa awal yang berkaitan dengan tugas perkembangan adalah menjadi seorang istri dan orang tua. Adanya kontradiksi antara padangan budaya dengan pilihan childfree wanita menjadi pembahasan dalam penelitian. Metode penelitian kualitatif, pendekatan fenomenologis dan teknik induktif yang digunakan peneliti dilaksanakan dengan wawancara pada empat wanita dewasa awal childfree. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian adalah purposive sampling terhadap wanita dewasa awal berusia 19 hingga 40 tahun childfree yang sudah menikah. Ditemukan tema dominan dalam penelitian berupa pengalaman hidup, kondisi lingkungan dan budaya, sikap terhadap budaya, proses keputusan childfree, hubungan pernikahan, kondisi psikologis, kondisi spiritual serta  resolusi kontradiksi antara budaya dengan childfree. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya berperan penting dalam tendensi wanita untuk menjadi childfree, namun bukan menjadi penggerak utama. Di sisi lain, pengalaman hidup menjadi faktor pengaruh utama dalam membentuk persepsi negatif wanita terhadap budaya. Wanita dewasa awal childfree membuat prinsip hidup baru untuk mempertahankan pilihannya yang berkontradiksi dengan budaya.
ACADEMIC BURNOUT DAN SELF-REGULATED LEARNING PADA MAHASISWA YANG BEKERJA DI MASA PANDEMI COVID-19 Andrey Akira Adityaputra; Ermida Simanjuntak
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v11i2.5192

Abstract

Abstrak- Mahasiswa yang bekerja akan rentan mengalami kelelahan berlebih baik dari segi fisik dan juga emosional. Kelelahan berlebih dari segi fisik dan emosional pada perkuliahan berhubungan dengan konsep academic burnout. Academic burnout ditandai dengan rasa lelah yang muncul karena beban pembelajaran, pandangan sinis pada tugas-tugas kewajiban perkuliahan dan juga adanya rasa kurang kompeten yang dirasakan oleh mahasiswa. Salah satu cara agar mahasiswa dapat mengurangi tingkat academic burnout yang dimilikinya akibat bekerja adalah melakukan pengaturan diri untuk belajar yang disebut sebagai self-regulated learning. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji hubungan self-regulated learning dan academic burnout pada mahasiswa yang bekerja di masa pandemi Covid-19. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa di Surabaya dengan metode incidental sampling dan terdapat sebanyak 149 responden mahasiswa yang bekerja di Surabaya. Responden dalam penelitian ini meliputi 64 mahasiswa dan 85 mahasiswi. Variabel academic burnout diukur memakai skala yang disusun oleh peneliti sendiri dengan didasari oleh aspek-aspek skala dari Salmela-Aro et al. (2009). Self-regulated learning diukur menggunakan aspek dari alat ukur Kadioǧlu et al. (2011). Uji hipotesa korelasi menunjukkan nilai r = -0.468 (p = 0.00; p < 0.05) sehingga dapat disimpulkan bahwa self-regulated learning memiliki hubungan yang signifikan dengan academic burnout pada mahasiwa yang bekerja di masa pandemi Covid-19. Arah hubungan yang bersifat negatif menunjukkan bahwa semakin tinggi self-regulated learning yang dimiliki mahasiswa yang bekerja maka semakin rendah academic burnout yang dirasakannya. Tingkat academic burnout mahasiswa dengan jumlah terbanyak adalah kategori sedang (59.6%) sedangkan jumlah responden terbanyak pada self-regulated learning adalah self-regulated learning dengan kategori tinggi (66.2%). Kata kunci: academic burnout, self-regulated learning, mahasiswa yang bekerja Abstract- Students who work are prone to excessive fatigue both physically and emotionally. Physical and emotional overexertion in lectures is related to academic burnout. Academic burnout characteristics are fatigue caused by the burden of learning, a cynical attitude toward lecture assignments, and a feeling of incompetence as a student. One way that students can reduce their academic burnout due to work is to self-regulate their learning, or what is known as self-regulated learning. This study examines the relationship between self-regulated learning and academic burnout in students who work during the Covid-19 pandemic. This research was conducted on 149 students who work in Surabaya using the incidental sampling method. Respondents in this study included 64 male students and 85 female students. The academic burnout variable was measured by an academic burnout scale made by the researcher based on some aspects of the academic burnout scale by Salmela-Aro et al. (2009). Self-regulated learning was measured using aspects from the measuring instrument of Kadioǧlu et al. (2011). The results showed r = -0.468 (p = 0.00; p < 0.05), indicating a significant relationship between self-regulated learning and academic burnout in students working during the Covid-19 pandemic. The direction of the negative relationship shows that the higher the level of self-regulated learning of working students, the lower their academic burnout. The level of academic burnout students feel is mostly in the moderate category (59.6%), and the highest level of self-regulated learning is in the high category (66.2%). Keywords: academic burnout, self-regulated learning, working students.
DINAMIKA FORGIVENESS PADA WANITA EMERGING ADULTHOOD YANG FATHERLESS AKIBAT PERPISAHAN ORANG TUA Dita Lavienda; Gratianus Edwi Nugrohadi; Detricia Tedjawidjaja
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v12i1.5253

Abstract

Sebagian besar anak yang mengalami fenomena fatherless sejak masa kecil akan tumbuh dengan luka batin yang menyebabkan konflik intrapsikis dan interpersonal. Saat dewasa, wanita emerging adulthood yang mengalami fatherless cenderung mendendam dan menyimpan dampak negatif dari fatherless sendirian. Forgiveness merupakan salah satu cara untuk mengatasi konflik tersebut. Maka penelitian ini mengkaji mengenai dinamika forgiveness pada wanita emerging adulthood yang mengalami fatherless akibat perpisahan orang tua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan melakukan wawancara pada dua informan wanita emerging adulthood (18-25 tahun) yang mengalami fatherless. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan teknik analisis data menggunakan induktif tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika forgiveness wanita emerging adulthood yang fatherless berupa siklus yang berulang dan tidak linear. Terdapat enam fase, diawali dengan unforgiveness phase yang ditandai munculnya kondisi intrapsikis dan interpersonal negatif terhadap ayah. Dilanjutkan decision phase, yakni mempertimbangkan keputusan forgiveness melalui sebuah pemikiran akan suatu nilai agama/moral. Selanjutnya, work phase menandakan usaha forgiveness untuk mengubah keadaan menjadi positif. Ketika berada di forgiveness phase, terjadi perubahan positif secara intrapsikis dan interpersonal. Setelah itu, muncul hasil forgiveness berupa pemaknaan akan luka dan proses yang dilalui. Adapun relapse phase ditandai dengan hadirnya kembali keadaan negatif secara intrapsikis ataupun interpersonal dengan intensitas tidak begitu parah. Wanita emerging adulthood dapat berada di relapse phase kapanpun apabila dipicu oleh stimulus tertentu. Adapun faktor forgiveness antara lain usaha, kepercayaan ajaran agama, dukungan dari lingkungan, dan konten media sosial.
GAMBARAN KONSEP DIRI PADA EMERGING ADULTHOOD YANG PERNAH MENGALAMI CHILD MALTREATMENT Jihan Syarifah Prijonggo; Happy Cahaya Mulya
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v12i1.5314

Abstract

Child maltreatment merupakan berbagai bentuk kekerasan oleh orang tua terhadap anak mereka terlebih yang berada pada usia di bawah 18 tahun, tindakan tersebut terdiri dari kekerasan secara fisik maupun emosional, kekerasan seksual, serta penelantaran secara fisik maupun penelantaran secara emosional. Tindakan maltreatment yang diberikan oleh orang tua ketika masa kecil menyebabkan terbentuknya gambaran konsep diri pada individu. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran konsep diri pada emerging adulthood yang pernah mengalami child maltreatment. Konsep diri terbagi menjadi dua yaitu konsep diri positif dan negatif yang dapat dilihat melalui sudut pandang fisik, psikis, sosial, dan moral. Ketika individu memiliki konsep diri yang positif, ia akan selalu memiliki pandangan optimis terhadap kehidupan. Sebaliknya apabila individu memiliki konsep diri negatif dirinya akan cenderung memiliki pandangan yang pesimis. Metode kualitatif dipilih untuk menjelaskan fenomena secara lebih mendalam, yaitu wawancara kepada tiga perempuan emerging adulthood yang pernah mengalami child maltreatment. Peneliti mendapatkan informan dengan menyebar pertanyaan terbuka di sosial media. Teknik analisis data yang digunakan adalah secara deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan child maltreatment yang dilakukan oleh orang tua dapat menghasilkan konsep diri yang berbeda-beda, yaitu positif dan negatif. Terdapat tindakan child maltreatment yang membentuk konsep diri positif pada salah satu informan penelitian, meskipun kedua informan lainnya mendapatkan tindakan yang serupa. Saran penelitian ini ditujukan bagi informan penelitian, orang tua, lembaga ranah anak, dan juga bagi penelitian selanjutnya.
LITERATURE REVIEW: EFEK MENULIS EKSPRESIF TERHADAP PASIEN KANKER Kadek Dwi Jayanti
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v12i1.5327

Abstract

Abstrak —Menulis ekspresif dapat dilakukan oleh pasien kanker dan memberikan manfaat dalam beberapa aspek penting. Terapi menulis ekspresif sebagai salah satu bentuk katarsis melalui kegiatan menulis pengalaman emosional yang dialami oleh individu. Terapi ini dilakukan sebagai teknik yang “berdiri sendiri” selain digunakan sebagai terapi pendukung pada terapi lainnya. Penerapan terapi ini dilakukan dengan mudah dan sederhana. Kajian literatur ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana efek menulis ekspresif terhadap pasien kanker. Pada hasil literatur yang dikaji, menulis ekspresif memberikan manfaat terkait penurunan gejala kanker dan gejala depresi, mengeksplorasi kondisi pengambilan keputusan, pengaruh keluarga, dan budaya, peningkatan kualitas hidup, penurunan gejala PTSD, dan kecemasan pada pasien kanker. Hal lainnya ditemukan mengenai efek variabel yang memoderasi dari keberhasilan terapi ini diantaranya dukungan sosial, rentang waktu diagnosis penyakit, pemrosesan kognitif, dan kendala sosial dari pasien kanker.Kata Kunci: kajian literatur; menulis ekspresif; pasien kanker Abstrak —Menulis ekspresif dapat dipraktekkan oleh pasien kanker dan memberikan manfaat dalam beberapa aspek penting. Terapi menulis ekspresif adalah bentuk katarsis melalui tulisan tentang pengalaman emosional yang dialami oleh individu. Ini dipraktekkan sebagai teknik "berdiri sendiri" selain digunakan sebagai terapi pendukung untuk terapi lain. Penerapan terapi ini mudah dan sederhana. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana efek penulisan ekspresif pada pasien kanker. Dalam hasil literature reviewed, tulisan ekspresif memberikan manfaat terkait penurunan gejala kanker dan gejala depresi, eksplorasi kondisi pengambilan keputusan, pengaruh dan budaya keluarga, peningkatan kualitas hidup, penurunan gejala PTSD, dan kecemasan pada pasien kanker. Juga ditemukan bahwa efek moderat dari variabel pada keberhasilan terapi ini termasuk dukungan sosial, rentang waktu diagnosis penyakit, pemrosesan kognitif, dan kendala sosial pasien kanker.Kata kunci: tinjauan pustaka; tulisan ekspresif; pasien kanker
EFEKTIVITAS PELATIHAN SELF-AWARENESS UNTUK MENINGKATKAN HARGA DIRI REMAJA PANTI ASUHAN Nuke Elok Suhariyanto; Dicky Susilo; Detricia Tedjawidjaja
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v12i1.5355

Abstract

Remaja panti asuhan adalah remaja yang rentan dengan permasalahan psikologis, salah satunya harga diri yang rendah. Rendahnya harga diri berkaitan dengan kurangnya pemahaman terhadap diri sendiri sehingga pelatihan self awareness diduga efektif dapat meningkatkan harga diri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan harga diri pada remaja panti asuhan yang diberikan pelatihan self-awareness dengan yang tidak diberi pelatihan. Desain penelitian ini adalah quasi experiment dengan pre test-post test control group design non randomized. Jumlah subjek 28 remaja panti asuhan dengan rentang usia 12-18 tahun yang dibagi ke dalam kelompok eksperimen dan kontrol dengan menggunakan matching method. Penelitian ini mengukur tiga aspek, yaitu aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku. Pengukuran pengetahuan menggunakan soal pilihan ganda berdasarkan materi self-awareness. Pengetahuan sikap menggunakan Rosenberg Self-Esteem Scale yang diadaptasi dalam Bahasa Indonesia. Alat ukur aspek perilaku menggunakan indikator harga diri positif dan negatif dari Santrock (2007). Hasil dari penelitian ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan dan sikap pada kelompok eksperimen, sedangkan tidak ada peningkatan pada kelompok kontrol. Pengukuran perilaku masing-masing kelompok mengalami peningkatan perilaku indikator positif dan mengalami penurunan indikator negatif. Analisis data menggunakan uji non parametrik Mann Whitney U-test dengan membandingkan nilai gain score pre-test dan post-test dengan signifikansi 0.000 < 0.05 artinya ada perbedaan harga diri antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Penelitian ini memiliki eta square sebesar ɳ2= 0,62. Artinya, pelatihan self-awareness memiliki efek yang besar terhadap harga diri remaja panti asuhan. Penelitian ini memberikan implikasi pentingnya pelatihan mengenal diri sendiri demi meningkatkan self-esteem.
PENGARUH OCCUPATIONAL SELF-EFFICACY TERHADAP EMOTIONAL LABOR PADA PRAMUSAJI RESTORAN DI SURABAYA Stephanie Michelle Anastasia Tahalele; Desak Nyoman Arista Retno Dewi
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v12i1.5360

Abstract

Emotional labor adalah keadaan dimana individu mengelola emosi sebagai respon terhadap tuntutan pekerjaan untuk menghasilkan atau membangkitkan emosi demi mencapai tujuan organisasi. Pramusaji merupakan profesi yang sebaiknya mengaplikasikan emotional labor. Nyatanya, masih terdapat pramusaji yang kurang mampu mengaplikasikan emotional labor. Faktor yang mempengaruhi hal ini adalah occupational self-efficacy, yaitu keyakinan atas kompetensi diri untuk berhasil menyelesaikan tugas yang berhubungan dengan pekerjaan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh occupational self-efficacy terhadap emotional labor pada pramusaji restoran di Surabaya. Penelitian ini adalah kuantitatif dengan teknik analisis regresi sederhana dan purposive sampling sebagai teknik pengambilan sampelnya dan mengumpulkan 202 responden. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh positif occupational self-efficacy terhadap emotional labor, berarti apabila individu memiliki keyakinan tinggi terhadap kemampuan dirinya dalam bekerja, maka kemampuan untuk mengaplikasikan emotional labor juga akan tinggi karena individu memaksimalkan skill yang dimiliki diikuti dengan emosi positif sehingga tidak merasa terbebani. Uji pengaruh menunjukkan sumbangan efektif sebesar 44,3% dengan nilai sig sebesar 0,000 dan nilai persamaan Y=20,260+1,528x. Hal ini berarti emotional labor akan mengalami peningkatan skor sebanyak 1,528 setiap terjadi kenaikan 1 skor dari occupational self-efficacy. Kesimpulannya, pramusaji diharapkan meningkatkan occupational self-efficacy agar kemampuan mengaplikasikan emotional labor juga tinggi.
SOCIAL ANXIETY DAN ONLINE SELF-DISCLOSURE PADA MAHASISWA PENGGUNA TWITTER/X Thierry Massaro; Ermida Simanjuntak
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v12i1.5546

Abstract

Abstrak - Mahasiswa berada dalam tahapan usia emerging adulthood yang memiliki tugas perkembangan untuk menjalin relasi. Dalam usahanya menjalin relasi, mahasiswa menggunakan aplikasi media sosial seperti Twitter/X. Selain untuk menjalin relasi, mahasiswa juga melakukan pengungkapan diri berupa curhatan, mengungkapkan emosi dan opini yang ada pada dirinya di Twitter/X. Perilaku pengungkapan diri mahasiswa di media sosial disebut online self-disclosure. Mahasiswa menggunakan Twitter/X dikarenakan terdapat fitur untuk mengunggah tulisan, foto atau video, maka penggunaannya oleh mahasiswa juga dapat memfasilitasi proses keterbukaan dirinya. Seseorang melakukan SD dapat dipengaruhi rasa cemas dan takut ketika mendapat evaluasi negatif dari orang lain yang disebut sebagai social anxiety. Perasaan takut ditolak akan muncul ketika hal yang diungkapkan tidak disukai oleh orang lain yang merupakan gambaran dari social anxiety. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara social anxiety dengan online self-disclosure pada mahasiswa pengguna Twitter/X. Pengambilan data menggunakan metode incidental sampling dan didapatkan sebanyak 165 mahasiswa pengguna Twitter/X. Variabel online self-disclosure diukur menggunakan General Disclosiveness Scale milik Gibbs et al. (2006) dan variabel social anxiety diukur menggunakan Interaction Anxiousness Scale milik Leary (1983). Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara social anxiety dengan online self-disclosure pada mahasiswa pengguna Twitter/X (r = 0.035; p = 0.519; p > 0.05). Sebagian besar responden memiliki tingkat online self-disclosure pada kategori sedang (51.5%) sedangkan pada variabel social anxiety sebagian besar responden berada pada kategori sedang-tinggi (40.6%). Kata Kunci: online self-disclosure, social anxiety, mahasiswa, Twitter/X, emerging adulthoodAbstract – University students who are in the emerging adulthood stage is a critical period where individuals focus on developing social connections and forming significant relationships. In their effort to establish relationships, students use social media platforms like Twitter/X. Students engage in self-disclosure by sharing personal stories, expressing emotions, and sharing opinions on Twitter/X. This behavior of students disclosing personal information on social media is known as online self-disclosure. Students use Twitter/X because it has features that allow users to upload text, photos, or videos, which can facilitate their self-expression. The act of self-disclosure can be influenced by feelings of anxiety and fear of negative evaluation from others, known as social anxiety. The fear of rejection may arise when the content shared is not well-received by others, indicating the presence of social anxiety. This study aims to examine the relationship between social anxiety and online self-disclosure among students who use Twitter/X. Data was collected using incidental sampling and there were 165 respondents who use Twitter/X. The online self-disclosure variable was measured using the General Disclosiveness Scale by Gibbs et al. (2006), while the social anxiety variable was measured using the Interaction Anxiousness Scale by Leary (1983). The results revealed no significant correlation between social anxiety and online self-disclosure among college students using Twitter/X (r = 0.035; p = 0.519; p > 0.05). Most respondents had a moderate level of online self-disclosure (51.5%), while for the social anxiety variable, most respondents were in the moderate-high category (40.6%).Keywords: online self-disclosure, social anxiety, university student, Twitter/X, emerging adulthood
GAMBARAN KUALITAS HIDUP PASIEN KANKER DENGAN STOMA PERMANEN: KUALITAS HIDUP PASIEN KANKER KOLOREKTAL Michael Ivan Riyanto Mawuntu; Elisabet Widyaning Hapsari; Detricia Tedjawidjaja
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v12i2.5574

Abstract

The life of a colorectal cancer patient with a permanent stoma is not easy. The condition of the disease is uncertain and can get worse every day, the pain that continues to be felt and limitations in life perceived by cancer patients forever, especially with the presence of a stoma which is a limitation for patients in their daily lives. To be able to live their life to the fullest, cancer patients need to improve their quality of life so that it can become meaningful. The purpose of this study is to describe the quality of life in colorectal cancer patients with permanent stomas. This research was conducted using qualitative research methods with a phenomenological approach. This study was conducted using 3 research informants who were colorectal cancer patients with permanent stomas. The data analysis technique used is deductive analysis technique. The data collection method used was semi-structured interviews. The results of the study show that there are four aspects in quality of life, namely, physical health such as pain perceived, psychological such as negative or positive feelings, social relations such as relationships with the social environment, environment such as perceptions of housing or finances. The findings of a new theme, namely self-acceptance, selfacceptance see how the patient accepts his condition and illness. Factors that affect quality of life are cancer stage, length of time diagnosed with cancer, age, education and occupation.