cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
DIMENSIA: Jurnal Kajian Sosiologi
ISSN : 1978192X     EISSN : 26549344     DOI : 10.21831
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 174 Documents
Dari Tradisi ke Pariwisata: Modal Sosial dan Dinamika Pelestarian Tenun Ikat di Kediri Putri, Nathifa Azzarandra Kartika; Apriadi, Deny Wahyu
Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi Vol. 14 No. 2 (2025): Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi
Publisher : Departemen Pendidikan Sosiologi FISHIPOL UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/dimensia.v14i2.81754

Abstract

Pelestarian budaya lokal tidak hanya bergantung pada warisan material, tetapi juga pada kekuatan relasi sosial dalam komunitas. Studi ini menganalisis peran modal sosial dalam pengembangan dan pelestarian tenun ikat di Kampung Wisata Bandar Kidul, Kota Kediri. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui triangulasi sumber dan dianalisis dengan model interaktif Miles & Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial berupa partisipasi generasi muda, solidaritas komunitas, serta dukungan pemerintah dan lembaga menjadi faktor pendukung utama dalam menjaga keberlanjutan tradisi tenun ikat. Sebaliknya, tantangan yang dihadapi mencakup sikap konservatif sebagian warga, keterbatasan dana, dan penurunan jumlah pengrajin. Temuan ini menegaskan bahwa modal sosial merupakan elemen kunci dalam menghubungkan dimensi budaya dan pembangunan komunitas secara berkelanjutan. The preservation of local culture relies not only on material heritage but also on the strength of social relations within communities. This study analyzes the role of social capital in sustaining and developing the traditional ikat weaving industry in the cultural tourism village of Bandar Kidul, Kediri City. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through source triangulation and analyzed using the interactive model of Miles & Huberman. The findings indicate that social capital manifested through youth participation, community solidarity, and support from government and external institutions serves as a key driver in preserving the ikat weaving tradition. Conversely, challenges include conservative attitudes among some residents, limited financial resources, and the declining number of weavers. These findings highlight the strategic function of social capital in connecting cultural heritage preservation with sustainable community-based development.
Stigma, Citra Diri, dan Performatifitas Sosial Perempuan Perokok Iswara, Artamevia; Martiana, Aris
Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi Vol. 14 No. 2 (2025): Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi
Publisher : Departemen Pendidikan Sosiologi FISHIPOL UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/dimensia.v14i2.82384

Abstract

Konstruksi sosial masyarakat masih memandang perilaku merokok sebagai tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh perempuan, menghasilkan stigma yang membatasi ekspresi diri perempuan perokok. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana perempuan perokok di Kabupaten Sleman membentuk dan menegosiasikan citra dirinya dalam menghadapi tekanan sosial tersebut. Dengan pendekatan kualitatif studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap sepuluh informan menggunakan teknik purposive dan snowball sampling. Analisis data dilakukan dengan metode interaktif Miles dan Huberman. Hasil menunjukkan bahwa meskipun menghadapi stigma, para informan menunjukkan keyakinan terhadap citra diri positif melalui rasa percaya diri dan penampilan. Namun, dalam konteks sosial tertentu, mereka mengadopsi strategi “front stage” untuk menyesuaikan diri dengan ekspektasi sosial dan menghindari sanksi simbolik. Studi ini menunjukkan bahwa praktik merokok perempuan tidak hanya bersifat personal, tetapi juga merupakan arena negosiasi identitas dalam ruang sosial yang normatif. Social constructions in society continue to view smoking as an inappropriate behavior for women, producing stigma that limits female smokers’ self-expression. This study aims to analyze how women smokers in Sleman Regency construct and negotiate their self-image in the face of such social pressures. Using a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews and observations with ten informants selected through purposive and snowball sampling techniques. Data analysis employed the interactive model of Miles and Huberman. The findings reveal that despite the stigma, informants exhibit strong confidence and maintain a positive self-image through their appearance and demeanor. However, in certain social settings, they adopt a “front stage” strategy to conform to societal expectations and avoid symbolic sanctions. This study demonstrates that women’s smoking practices are not merely personal choices, but also a site of identity negotiation within normative social spaces.
Mengintegrasikan Nilai Kesetaraan Gender melalui Komik: Inovasi Media Pembelajaran di SMA Ignatius Global School Khairunnisak, Khairunnisak; Simanjuntak, Rosella Arylia Tiara; Valent, Graceshyela
Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi Vol. 14 No. 2 (2025): Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi
Publisher : Departemen Pendidikan Sosiologi FISHIPOL UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/dimensia.v14i2.82837

Abstract

Budaya patriarki yang mengakar dalam masyarakat masih menjadi penyebab utama ketidakadilan gender. Upaya menumbuhkan kesadaran akan kesetaraan gender di kalangan remaja memerlukan pendekatan edukatif yang kontekstual dan menarik, salah satunya melalui literasi berbasis media visual. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji kelayakan Komik Gender sebagai media pembelajaran literasi kesetaraan gender bagi peserta didik SMA Ignatius Global School Palembang. Penelitian menggunakan metode research and development dengan model ADDIE pada tiga tahap awal: analisis, desain, dan pengembangan. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas XI dan XII yang dipilih secara purposive. Instrumen yang digunakan meliputi angket analisis kebutuhan dan angket kelayakan. Komik yang dikembangkan kemudian diunggah ke platform daring untuk aksesibilitas yang lebih luas. Hasil uji menunjukkan bahwa komik dinilai layak oleh ahli materi dan sangat layak oleh ahli media. Temuan ini menunjukkan bahwa Komik Gender efektif sebagai media untuk meningkatkan kesadaran kesetaraan gender di kalangan pelajar. Patriarchal culture remains a key factor contributing to gender inequality in society. Efforts to raise gender equality awareness among adolescents require engaging and contextually relevant educational approaches, including visual literacy media. This study aims to develop and evaluate the feasibility of Gender Comics as an educational tool for promoting gender equality literacy among students at Ignatius Global School Palembang. The study employed a research and development method using the ADDIE model at the initial three stages: analysis, design, and development. The research subjects were 11th and 12th-grade students selected through purposive sampling. Data collection instruments included a needs analysis questionnaire and a feasibility assessment. The developed comic was uploaded to a digital platform for wider accessibility. The results showed that the comic was rated feasible by a content expert and highly feasible by media experts. These findings suggest that Gender Comics is effective in fostering gender equality awareness among high school students.
Relational Trauma and Distrust: The Impact of Violence and Infidelity on Women’s Readiness for Marriage Ghufron, Salma Nuha; Raihana, Siti Nazla
Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi Vol. 14 No. 2 (2025): Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi
Publisher : Departemen Pendidikan Sosiologi FISHIPOL UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/dimensia.v14i2.83901

Abstract

Kekerasan dalam rumah tangga dan perselingkuhan merupakan faktor krusial yang memengaruhi kesejahteraan psikologis perempuan, kepercayaan interpersonal, serta kesiapan mereka membangun hubungan jangka panjang, termasuk pernikahan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana pengalaman sebagai saksi atau korban peristiwa tersebut membentuk persepsi perempuan tentang kepercayaan, relasi interpersonal, dan kesiapan menikah. Menggunakan pendekatan fenomenologi kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap sepuluh perempuan berusia 18–28 tahun yang pernah mengalami atau menyaksikan KDRT dan perselingkuhan dalam keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman tersebut memicu ketidakpercayaan yang mendalam, rasa takut terhadap hubungan romantis, dan pandangan negatif terhadap institusi pernikahan. Informan juga mengalami kesulitan menjalin relasi yang sehat serta menunjukkan gejala ketidakstabilan emosional dan kecemasan. Pola pikir yang terbentuk dari pengalaman traumatis cenderung mendorong penghindaran terhadap pernikahan atau terjebak dalam relasi yang tidak sehat. Studi ini menekankan pentingnya intervensi psikososial untuk mendukung pemulihan dan ketahanan relasional perempuan.   Domestic violence and infidelity are critical factors influencing women’s psychological well-being, interpersonal trust, and readiness for long-term relationships, including marriage. This study explores how experiences of witnessing or being victimized by such events shape women’s perceptions of trust, relationships, and marital readiness. Employing a qualitative phenomenological approach, data were collected through semi-structured in-depth interviews with ten women aged 18–28 who had experienced or witnessed domestic violence and infidelity within their families. The findings reveal that these experiences often lead to deep-seated trust issues, fear of romantic relationships, and negative perceptions of marriage. Participants reported difficulties forming healthy interpersonal bonds and displayed symptoms of emotional instability and anxiety. Traumatic pasts were also found to influence cognitive patterns, leading to either avoidance of marriage or repeated entry into unhealthy relationships. These findings highlight the urgent need for psychosocial interventions to mitigate long-term impacts and support women in rebuilding trust and relational resilience.
Dinamika Negosiasi antara Petani Buah Naga dan Tengkulak di Pedesaan Banyuwangi Indriani, Mita; Hidayat, Nurul; Rosa, Dien Vidia
Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi Vol. 14 No. 3 (2025): Vol. 14 No. 3 (2025): Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi
Publisher : Departemen Pendidikan Sosiologi FISHIPOL UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji perilaku negosiasi antara petani buah naga dan tengkulak di Desa Buluagung, Kecamatan Siliragung, Banyuwangi. Interaksi sosial di antara keduanya membentuk sistem kepercayaan, di mana tengkulak tidak hanya membeli hasil panen tetapi juga menyediakan modal bagi petani. Negosiasi terjadi sebelum dan sesudah panen untuk mencapai kesepakatan harga yang adil. Dengan pendekatan kualitatif etnografi, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap informan yang dipilih secara purposif. Analisis menggunakan Teori Pertukaran Sosial George Homans untuk memahami hubungan timbal balik yang didasari kepercayaan, keuntungan, dan ikatan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negosiasi dipengaruhi oleh kepercayaan, rasa kekeluargaan, profesionalisme, dan keuntungan, sedangkan pengingkaran dari salah satu pihak menjadi penghambat utama. Hubungan petani–tengkulak merefleksikan sistem pertukaran sosial yang menyeimbangkan rasionalitas ekonomi dengan nilai moral dan kekeluargaan, menegaskan pentingnya jaringan kepercayaan dalam praktik ekonomi lokal. This study explores negotiation behavior between dragon fruit farmers and middlemen in Buluagung Village, Siliragung, Banyuwangi. Their social interactions form a system of mutual trust, as middlemen not only purchase harvests but also provide production capital. Negotiations occur before and after harvest to achieve fair pricing and mutual benefit. Using a qualitative ethnographic approach, data were collected through purposive sampling from key informants via observation, interviews, and documentation. The study applies George Homans’ Social Exchange Theory to interpret reciprocal relations based on trust, profit, and social ties. Findings show that negotiations are influenced by trust, kinship, professionalism, and profit motives, while conflicts or denial from either party hinder the process. Overall, the farmer–middleman relationship reflects a social exchange system balancing economic rationality with moral and familial values, demonstrating how local economic practices are embedded within community-based trust networks.
Mencipta Harmoni dalam Dominasi: Habitus Cina Benteng di Permukiman Kalipasir Tangerang Atfal, Faesa Raud; Sari, Rosnida; Paramitha, Nurina Adi
Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi Vol. 14 No. 3 (2025): Vol. 14 No. 3 (2025): Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi
Publisher : Departemen Pendidikan Sosiologi FISHIPOL UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menelaah bagaimana subkultur Cina Benteng membangun harmonisasi sosial di tengah dominasi budaya Sunda Muslim di Kalipasir, Tangerang. Fokus utamanya adalah adaptasi kelompok minoritas tanpa kehilangan identitas budaya. Dengan pendekatan kualitatif dan metode etnografi berbasis teori Bourdieu, penelitian ini mengungkap tiga proses habituasi. Pertama, internalisasi nilai dominan melalui adaptasi tradisi Peh Cun dengan unsur Sunda Muslim, partisipasi dalam ritual lokal, serta akulturasi seni Gambang Kromong dan Tari Cokek. Kedua, reflektivitas hegemoni budaya tampak dalam penggunaan bahasa Sunda oleh komunitas Cina Benteng. Ketiga, pembentukan habitus melalui interaksi sosial intens dan jejaring lintas kelompok yang memperkuat kohesi sosial. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun hidup dalam hegemoni budaya, Cina Benteng berhasil menciptakan hubungan harmonis berbasis kolaborasi dan toleransi. Studi ini memperkaya pemahaman tentang dinamika keberagaman dan strategi adaptasi budaya dalam masyarakat multikultural Indonesia. This study examines how the Cina Benteng subculture sustains social harmony amid the cultural dominance of the Sunda Muslim community in Kalipasir, Tangerang. It focuses on how minority groups adapt while maintaining their cultural identity. Employing a qualitative ethnographic approach grounded in Bourdieu’s theory, the research identifies three habituation processes. First, dominant value internalization is seen in adapting Peh Cun traditions with Sunda Muslim elements, engaging in local rituals, and acculturating Gambang Kromong and Cokek Dance. Second, cultural hegemony reflexivity appears through the community’s use of the Sundanese language. Third, habitus formation develops via intensive social interactions and intergroup networks fostering social cohesion. The findings reveal that despite dominant culture, the Cina Benteng community achieves harmony through collaboration and tolerance. This study contributes to a deeper understanding of cultural diversity and adaptive strategies within Indonesia’s multicultural society.
Reimagining Political Islam: The Habaib Group's Vision and Political Participation in Surakarta Muflih, Abdullah Yusuf; Akbar, Rezza Dian
Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi Vol. 14 No. 3 (2025): Vol. 14 No. 3 (2025): Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi
Publisher : Departemen Pendidikan Sosiologi FISHIPOL UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/dimensia.v14i3.84219

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran politik Habaib, keturunan Nabi Muhammad, yang jarang dibahas dalam diskusi tentang keterlibatan politik Islam. Seringkali pembahasan terfokus pada pembentukan negara Islam berdasarkan hukum Syariah atau keterlibatan dengan politik sekuler. Sebaliknya, Habaib mempengaruhi politik melalui otoritas agama, pengaruh sosial, dan kepemimpinan moral. Penelitian ini berfokus pada Surakarta, menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara semi-terstruktur kepada enam informan, observasi lapangan, dan tinjauan pustaka. Temuan menunjukkan bahwa Habaib memandang politik Islam sebagai sarana untuk menyebarkan nilai-nilai Islam, bukan untuk mendirikan negara Islam atau terlibat langsung dalam politik. Partisipasi mereka lebih pada mendukung pemimpin yang mengedepankan prinsip-prinsip Islam tanpa ambisi menduduki jabatan politik. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang keterlibatan politik Islam di Indonesia, dengan menggeser pemahaman dualistik antara Islamisme dan sekularisme. This study examines the political role of the Habaib, descendants of Prophet Muhammad, whose influence has been largely overlooked in discussions about Islamic political involvement. While debates often center on establishing an Islamic state based on Sharia law or engaging with secular politics, the Habaib exert political influence through religious authority, social standing, and moral leadership. Focusing on Surakarta, the research uses qualitative methods, including semi-structured interviews with six informants, field observations, and a literature review. Findings reveal that the Habaib view political Islam as a means to promote Islamic values rather than to establish an Islamic state or participate directly in politics. Their involvement is marked by indirect support for leaders who uphold Islamic principles, not by seeking political office. This study offers new insights into Islamic political engagement in Indonesia, moving beyond the traditional dichotomy of Islamism versus secularism.
Eksibisionisme Digital dan Krisis Norma Sosial: Analisis Sosiologis atas Perilaku Menyimpang di Ruang Maya Shafika, Aulia; Rahmawati, Cindy Ardhita; Sari, Novita
Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi Vol. 14 No. 3 (2025): Vol. 14 No. 3 (2025): Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi
Publisher : Departemen Pendidikan Sosiologi FISHIPOL UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/dimensia.v14i3.86592

Abstract

Penelitian ini mengkaji eksibisionisme digital sebagai bentuk penyimpangan sosial baru di era digital, di mana media sosial memungkinkan individu menampilkan aspek pribadi secara terbuka kepada publik. Eksibisionisme tidak lagi terbatas pada ruang fisik, tetapi meluas ke ruang virtual yang dibentuk oleh kebutuhan validasi sosial, algoritma media, dan melemahnya kontrol moral. Berdasarkan perspektif sosiologis tentang penyimpangan, kontrol sosial, dan konstruksi realitas sosial, studi ini menyoroti perubahan norma dan pembentukan identitas dalam interaksi daring. Individu terdorong menampilkan tubuh, kehidupan pribadi, atau konten seksual demi perhatian, pengakuan, atau kepuasan diri, yang menunjukkan keterkaitan antara teknologi, budaya, dan kondisi anomie. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan menganalisis literatur akademik, regulasi hukum, dan teori-teori sosiologi yang relevan. Secara keseluruhan, eksibisionisme digital menggambarkan bagaimana ruang digital mengaburkan batas antara privasi dan konsumsi publik, serta menormalisasi perilaku yang menantang tatanan moral dan sosial masyarakat kontemporer. This study examines digital exhibitionism as a new form of social deviance emerging in the digital era, where social media enables individuals to publicly display private aspects of their lives. No longer limited to physical spaces, exhibitionism now extends to virtual realms shaped by social validation, algorithmic exposure, and weakened moral control. Drawing on sociological perspectives of deviance, social control, and the social construction of reality, this paper argues that digital exhibitionism reflects a shift in social norms and identity formation in online interactions. Individuals often expose their bodies, intimate lives, or sexualized content in pursuit of attention, recognition, or self-gratification, revealing the intersection of technology, culture, and anomie. The study adopts a library research method, analyzing scholarly literature, legal frameworks, and sociological theories to interpret the phenomenon. Ultimately, digital exhibitionism illustrates how the digital sphere blurs boundaries between privacy and publicity, normalizing behaviors that challenge moral and social order in contemporary society.
Makna Volunteering bagi Mahasiswa: Studi Kasus di Universitas Jenderal Soedirman Abidah, Anisa Shifa Nur; Hariyadi; Widyastuti, Tri Rini
Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi Vol. 14 No. 3 (2025): Vol. 14 No. 3 (2025): Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi
Publisher : Departemen Pendidikan Sosiologi FISHIPOL UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna volunteering sebagai bentuk kepedulian sosial bagi mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif daan teknik analisis tematik, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap mahasiswa yang memiliki pengalaman volunteering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan volunteering bukan hanya menjadi sarana pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga sebagai ruang untuk mengenali diri, membentuk empati, dan membangun relasi sosial yang bermakna. Volunteering menjadi proses belajar yang melibatkan refleksi diri dan interaksi sosial yang mampu membentuk kesadaran baru terhadap peran sosial mereka. Temuan ini juga turut menegaskan bahwa stereotip generasi Z sebagai generasi apatis dan individualistis tidak sepenuhnya tepat karena generasi Z menunjukkan kepedulian yang nyata melalui keterlibatan sukarela. This research aims to understand the meaning of volunteering as a form of social care for students of Universitas Jenderal Soedirman. This research uses a qualitative-descriptive approach and thematic analysis techniques, data collected through in-depth interviews with students who have volunteering experience. The results showed that student involvement in volunteering activities is not only a means of community service, but also a space to recognize themselves, form empathy, and build meaningful social relationships. Volunteering becomes a learning process that involves self-reflection and social interaction that can form a new awareness of their social role. This research also confirms that the stereotype of Generation Z as an apathetic and individualistic generation is not entirely correct because Generation Z shows real concern through volunteer involvement.
Habitus Membentur Field yang Berubah: Sikap Pedagang Kaki Lima Malioboro terhadap Relokasi dalam Kerangka Bourdieu Wicaksono, Ridwan
Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi Vol. 14 No. 3 (2025): Vol. 14 No. 3 (2025): Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi
Publisher : Departemen Pendidikan Sosiologi FISHIPOL UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/dimensia.v14i3.87907

Abstract

Penelitian ini berangkat dari teka-teki sosiologis mengenai respons terbelah pedagang kaki lima Malioboro terhadap kebijakan relokasi. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka teori Pierre Bourdieu, penelitian ini menganalisis benturan antara habitus kolektif pedagang dengan perubahan field spasial yang dipaksakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan sikap ini berakar pada tingkat hysteresis atau ketidaksesuaian antara kebiasaan lama dan kondisi baru, yang dialami secara tidak setara. Kelompok Tri Dharma mengalami hysteresis parah akibat kondisi relokasi yang tidak stabil sehingga memicu resistensi, sementara kelompok Pemalni menunjukkan adaptasi lebih baik di lokasi yang permanen. Penelitian ini menegaskan bahwa relokasi adalah peristiwa sosial-politik yang kompleks, dan menggarisbawahi pentingnya kebijakan tata ruang untuk mempertimbangkan habitus komunitas terdampak demi mencegah terciptanya ketimpangan baru. This study begins with a sociological puzzle regarding the divided responses of street vendors in Malioboro toward the relocation policy. Employing a qualitative approach and Pierre Bourdieu’s theoretical framework, it analyzes the clash between the vendors’ collective habitus and the enforced changes in spatial fields. The findings indicate that these differing attitudes are rooted in varying levels of hysteresis, or misalignment between long-standing practices and new conditions, experienced unequally among the groups. The Tri Dharma group suffers severe hysteresis due to unstable relocation conditions, leading to resistance, while the Pemalni group shows better adaptation in a more permanent location. This research asserts that relocation is a complex socio-political event and highlights the importance of spatial policies that consider the habitus of affected communities to prevent the emergence of new inequalities.