cover
Contact Name
Dara Fatia
Contact Email
darafatia@usk.ac.id
Phone
+6285260959380
Journal Mail Official
jsu@usk.ac.id
Editorial Address
Gedung FISIP, Universitas Syiah Kuala Jl. Teuku Nyak Arief, Darussalam, Banda Aceh, Aceh - Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Sosiologi USK: Media Pemikiran & Aplikasi
ISSN : 22525254     EISSN : 26548143     DOI : 10.24815
Core Subject :
Jurnal Sosiologi USK: Media Pemikiran & Aplikasi (JSU) is an international, open-access, and double-blind peer-reviewed journal committed to fostering critical sociological inquiry and empirical research. The journal serves as an academic forum for researchers, academicians, and practitioners to disseminate original studies, theoretical reflections, and critical perspectives on contemporary social dynamics. JSU prioritizes manuscripts that demonstrate a strong sociological orientation by integrating theory, methodology, and empirical evidence to analyze social structures, relations, and transformations. Interdisciplinary approaches are welcomed, provided that sociology remains the primary analytical framework. Accredited SINTA3, JSU maintains rigorous editorial standards and ethical publishing practices, contributing to the development of contextual, policy-relevant, and internationally engaged sociological knowledge.
Arjuna Subject : -
Articles 52 Documents
Navigating Institutional Pressure and Individual Resistance in Online Game Consumption: Demographic and Playing Characteristics Perspective Andika Mahardika; Mohamad Dian Revindo; Arthur Josias Simon Runturambi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 1 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i1.44958

Abstract

The integration of computing technology and its widespread adoption by society has transformed online games from solitary and individualistic activities into socially embedded environments. This transformation is driven by institutional pressures that shape consumption behavior, while also eliciting varying levels of individual resistance. These patterns of social interaction are significantly influenced by demographic and individual playing characteristics. This study aims to examine how these characteristics affect consumption behavior in online games. Adopting principal component analysis and regression methods based on previous research, the study found that institutional influence is strongly associated with playing duration and the desire to become a professional player. Meanwhile, individual resistance is influenced by age, playing time, and the same desire. Conducted in Jakarta, the findings reveal that structural pressure is primarily shaped by playing characteristics, while resistance is affected by both demographics (specifically age) and individual playing characteristics. Abstrak Integrasi teknologi komputasi yang didukung oleh adopsi luas di masyarakat telah mengubah permainan daring dari aktivitas yang sebelumnya bersifat mandiri dan individualistis menjadi lingkungan yang melekat secara sosial. Transformasi ini didorong oleh tekanan institusional yang membentuk perilaku konsumsi, sekaligus memunculkan tingkat resistansi individu yang beragam. Pola interaksi sosial tersebut secara signifikan dipengaruhi oleh karakteristik demografis dan karakteristik bermain individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana karakteristik tersebut memengaruhi perilaku konsumsi dalam permainan daring. Dengan menggunakan analisis komponen utama (principal component analysis) dan regresi berdasarkan penelitian sebelumnya, studi ini menemukan bahwa pengaruh institusional sangat dipengaruhi oleh durasi bermain dan keinginan menjadi pemain profesional. Sementara itu, resistansi individu dipengaruhi oleh usia, durasi bermain, dan keinginan yang sama. Penelitian yang dilakukan di Jakarta ini menunjukkan bahwa tekanan struktural terutama dibentuk oleh karakteristik bermain, sedangkan resistansi dipengaruhi oleh demografi (khususnya usia) dan karakteristik bermain individu.
Dinamika Partisipasi Masyarakat: Transformasi Komoditas Jeruk Untuk Mendukung Pembangunan di Desa Warjabakti, Kabupaten Bandung Prilia Dwi Putri; Wahyu Gunawan; Aditya Candra Lesmana; Farah Putri Firsanty
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 1 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i1.44699

Abstract

The community development program in Warjabakti Village aims to improve local welfare through economic diversification, particularly by transforming agricultural commodities from coffee to citrus. However, the program’s implementation faces various challenges related to community participation dynamics and actor interactions, which influence its sustainability. This study explores the roles of local and external actors in the citrus commodity transformation, analyzes community participation, and identifies supporting and inhibiting factors for program success. Employing a qualitative approach with descriptive methods, this research applies Norman Long’s Actor Perspective Theory as an analytical framework. Primary data were collected through non-participatory observation and semi-structured interviews, while secondary data were obtained from literature and document studies. The findings reveal that although farmers initially supported diversification, limited trust in seed quality, insufficient assistance, and weak marketing channels have triggered resistance. Conversely, some local actors actively negotiate with external facilitators to adapt strategies that align with local conditions. This study highlights the importance of a participatory and dialogical approach where communities act as active subjects rather than passive policy recipients. The results are expected to serve as a reference for improving community development policies based on negotiated relationships between structure and agency, aiming to sustain commodity transformation in rural areas. Abstrak Program pembangunan masyarakat merupakan salah satu upaya untuk memberikan peluang pada peningkatan pendapatan dan pencapaian kesejahteraan masyarakat. Salah satu upaya dalam pembangunan masyarakat dalam sektor pertanian desa yaitu melakukannya diversifikasi ekonomi lokal. Namun, dalam proses pelaksanaan program pembangunan seringkali ditemukan dinamika yang melibatkan keberlangsungan program. Penelitian ini membahas mengenai dinamika partisipasi masyarakat dalam mendukung pembangunan melalui transformasi komoditas jeruk dan mengkaji keberhasilan kegiatan pembangunan yang dapat dilihat melalui partisipasi masyarakat, menganalisis dinamika aktor, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menentukan keberlanjutan program pembangunan di tingkat masyarakat. Pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif menjadi dasar dalam penelitian ini, serta digunakannya teori Perspektif Aktor Norman Long sebagai kerangka analisis penelitian. Teknik pengumpulan data primer diperoleh melalui metode observasi non partisipatoris dan wawancara semi terstruktur, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi literatur dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menerangkan bahwa petani selaku aktor lokal tidak hanya berperan sebagai objek melainkan juga subjek pembangunan. Pemberdaya (aktor eksternal) memberikan upaya program diversifikasi komoditas untuk mengukur kesiapan petani beradaptasi dan melihat partisipasi masyarakat dalam merspon program. Sedangkan petani (aktor lokal) beranggapan hasil panen yang diberikan komoditas jeruk berlangsung cepat dan menghasilkan pendapatan yang lebih dari kopi. Oleh karena itu, dinamika yang terjadi minimnya partisipasi masyarakat dan terdapat tantangan bagi petani (aktor lokal) dalam menciptakan keberlanjutan program.
Peran Kampung Batik Panca Mukti sebagai Agen Pelestarian Batik Sungai Lemau di Kabupaten Bengkulu Tengah Yopan Tri Agustian; Heni Nopianti; Ika Pasca Himawati
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i2.449

Abstract

This study aims to analyze the preservation efforts of Sungai Lemau Batik undertaken by Kampung Batik Panca Mukti as an agent of local cultural preservation. The research employs a descriptive qualitative approach and was conducted in Panca Mukti Village, Pondok Kelapa District, Central Bengkulu Regency. Data were collected through non-participant observation, in-depth interviews, and documentation. The analysis is guided by Anthony Giddens’ structuration theory, particularly the concept of agency, which conceptualizes agents as social actors with reflexive capacities to reproduce and transform social structures. The findings indicate that the preservation of Sungai Lemau Batik is carried out through various strategies, including the maintenance of traditional production techniques, the use of natural materials, community-based batik training, the development of educational tourism, and promotion through social media, exhibitions, and bazaars. Batik artisans are not merely economic actors but also cultural agents who consciously maintain authenticity, philosophical values, and local cultural identity. Therefore, the preservation of Sungai Lemau Batik can be understood as the outcome of sustained and adaptive agential practices in response to ongoing socio-cultural dynamics. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis upaya pelestarian Batik Sungai Lemau yang dilakukan oleh Kampung Batik Panca Mukti sebagai agen pelestarian budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan lokasi di Desa Panca Mukti, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah. Data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis penelitian mengacu pada teori strukturasi Anthony Giddens, khususnya konsep agensi yang memandang agen sebagai aktor sosial yang memiliki kapasitas reflektif dalam mereproduksi dan mentransformasikan struktur sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelestarian Batik Sungai Lemau dilakukan melalui berbagai strategi, antara lain mempertahankan teknik produksi tradisional, penggunaan bahan alami, pelatihan membatik bagi masyarakat, pengembangan wisata edukasi, serta promosi melalui media sosial, pameran, dan bazar. Pengrajin batik tidak hanya berperan sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai agen kultural yang secara sadar menjaga keaslian, nilai filosofis, dan identitas budaya lokal. Dengan demikian, pelestarian Batik Sungai Lemau merupakan hasil dari praktik agensi yang berlangsung secara berkelanjutan dan adaptif dalam menghadapi dinamika sosial budaya.
Alih Komoditas sebagai Strategi Otonomi Petani dalam Peralihan Tembakau ke Cabai Rawit Merah di Desa Munggangsari Kabupaten Temanggung Desita Wulandani; Gunawan Gunawan
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i2.450

Abstract

This study aims to analyze the impacts of agricultural commodity switching from tobacco to red chili pepper on the economic dynamics and social structure of rural society in Munggangsari Village. This transition emerged as a response by farmers to structural inequalities embedded in the tobacco trading system, characterized by price monopolization by middlemen and graders, an oligopsonistic market structure, and farmers’ dependence on external capital. These conditions positioned farmers in a structurally subordinate role in price determination and profit distribution. This research employs a qualitative descriptive approach using participant observation, in-depth interviews, focus group discussions, literature review, and documentation. The study was conducted in Munggangsari Village, Ngadirejo Sub-district, Temanggung Regency, Central Java, from January to April 2025, involving 12 informants. The findings show that the shift to red chili pepper cultivation has led to significant changes in production patterns and labor arrangements while reducing farmers’ dependence on tobacco middlemen. This transition has also reshaped patron–client relations, increased household financial autonomy, and altered the roles and positions of agricultural laborers. Socially, commodity switching has produced a more fluid configuration of power relations and expanded farmers’ capacity to negotiate livelihood strategies. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak alih komoditas pertanian dari tembakau ke cabai rawit merah terhadap dinamika ekonomi dan struktur sosial masyarakat Desa Munggangsari. Alih komoditas ini muncul sebagai respons petani terhadap ketimpangan struktural dalam tata niaga tembakau yang ditandai oleh dominasi juragan dan grader, sistem pasar oligopsoni, serta ketergantungan petani pada permodalan eksternal. Kondisi tersebut menempatkan petani pada posisi lemah dalam penentuan harga dan distribusi keuntungan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik observasi partisipatoris, wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, studi literatur, dan dokumentasi. Penelitian dilaksanakan di Desa Munggangsari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, pada Januari–April 2025 dengan melibatkan 12 informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peralihan ke komoditas cabai rawit merah mendorong perubahan signifikan dalam pola produksi dan sistem kerja, serta mengurangi ketergantungan petani terhadap juragan tembakau. Pergeseran ini juga mengubah relasi patron-klien, meningkatkan kemandirian pengelolaan keuangan rumah tangga petani, dan memengaruhi posisi serta peran buruh tani. Secara sosial, alih komoditas membentuk konfigurasi relasi kekuasaan yang lebih cair dan membuka ruang negosiasi yang lebih besar bagi petani dalam menentukan strategi penghidupan mereka.
Dominasi Perempuan dalam Praktik Peribadatan Mingguan Komunitas Katolik di Banda Aceh Mutiara Asyukkati; Hasan Basri M. Nur; Khairil Fazal; Juwaini Juwaini; Mawardi Mawardi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i2.458

Abstract

This study aims to analyze the forms and meanings of women’s dominance in the weekly worship practices at the Sacred Heart Catholic Church in Banda Aceh. This phenomenon is particularly noteworthy as it occurs in a region where the majority of the population is Muslim, yet the Catholic community continues to exhibit distinct internal dynamics in its religious life. The research employs a qualitative approach with a descriptive-analytical method. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews with church leaders and congregants, and documentation of worship activities. The findings reveal that women’s dominance in worship is not only quantitative but also qualitative, encompassing leadership roles in the choir, liturgical activities, and church-based social services. This dominance stems from historical, social, and spiritual factors, in which women play a vital role in sustaining the faith community amid the limited number of believers. The study highlights that the religious roles of women in Banda Aceh reflect a form of religiosity that is inclusive, resilient, and contextually attuned to local culture. This research contributes to the broader discourse on gender and religious practice within minority communities in Indonesia. Abstrak Artikel ini mengkaji dominasi perempuan dalam praktik peribadatan mingguan di Gereja Katolik Hati Kudus Yesus, Banda Aceh. Fenomena ini berlangsung dalam konteks sosial Banda Aceh sebagai wilayah dengan mayoritas penduduk Muslim, sementara komunitas Katolik berada dalam posisi minoritas dengan dinamika keagamaan yang khas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pemimpin gereja dan jemaat, serta dokumentasi kegiatan peribadatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dominasi perempuan dalam kehidupan peribadatan tidak hanya terlihat dari aspek kuantitatif, tetapi juga kualitatif, yang tercermin dalam kepemimpinan paduan suara, keterlibatan dalam liturgi, dan peran aktif dalam pelayanan sosial gereja. Dominasi tersebut terbentuk melalui faktor historis, sosial, dan spiritual, di mana perempuan berperan penting dalam menjaga keberlanjutan komunitas iman di tengah keterbatasan jumlah umat. Studi ini menunjukkan bahwa praktik keagamaan perempuan Katolik di Banda Aceh merefleksikan religiositas yang inklusif, resilien, dan kontekstual terhadap budaya lokal.
Fatwas as Political Articulation: The Role of the MPU in Shaping Local Democracy in Aceh Muhammad Ridha Firdausy; T Wildan
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i2.463

Abstract

This article examines the role of ulama in local democracy in Aceh through an analysis of electoral-related fatwas and taushiyahs issued by the Aceh Ulama Consultative Assembly (Majelis Permusyawaratan Ulama, MPU) between 2004 and 2024. Employing a qualitative approach based on document analysis, the study examines religious texts related to elections, political leadership, and public participation. The findings show a significant shift in the character of MPU’s religious rulings, from taushiyahs that primarily offered general moral guidance to fatwas that are more normative, specific, and institutionally embedded. This shift is evident in the use of legal-religious terminology, the formulation of leadership criteria, the regulation of voter participation, and the explicit prohibition of political practices considered contrary to Islamic principles. These developments indicate that democracy in Aceh is accepted conditionally, insofar as it operates within the framework of Islamic values. In this context, ulama function not only as moral authorities but also as institutional actors who actively shape and frame local democratic practices. Abstrak Artikel ini mengkaji peran ulama dalam demokrasi lokal di Aceh melalui analisis fatwa dan taushiyah pemilu yang dikeluarkan oleh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh selama periode 2004–2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis dokumen terhadap seluruh produk keagamaan MPU yang berkaitan dengan pemilu, kepemimpinan politik, dan partisipasi masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk keagamaan MPU mengalami pergeseran penting, dari taushiyah yang bersifat imbauan moral dan etis menuju fatwa yang lebih normatif, spesifik, dan terlembagakan. Pergeseran ini tampak dalam penggunaan diksi hukum, penetapan kriteria kepemimpinan, pengaturan partisipasi pemilih, serta penegasan larangan terhadap praktik politik yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam. Temuan ini memperlihatkan bahwa demokrasi di Aceh diterima secara bersyarat, yakni sepanjang dijalankan dalam kerangka nilai-nilai syariat. Dalam konteks tersebut, ulama tidak hanya berperan sebagai otoritas moral, tetapi juga sebagai aktor institusional yang membingkai dan mengarahkan praktik demokrasi lokal.
Governmentality dan Relasi Kuasa di Pelantar Privatter: Praktik Konsumsi Konten Pornografi di Kalangan Perempuan Gen-Z Sayyidah Awwaliyah Rahmah; Medhy Aginta Hidayat
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i2.592

Abstract

This article examines the operation of governmentality in the consumption of pornographic content by Generation Z women through the Privatter platform. Employing a qualitative netnographic approach, the study involved informants selected through purposive sampling. Data were collected from digital archives, online interviews as collaborative data, and participatory observation of Alternate Universe (AU) content consumption within closed digital spaces. The data were analyzed thematically, with validity ensured through source triangulation. The findings indicate that the consumption of narrative pornography among Generation Z female AU readers is not merely transgressive, but operates through subtle mechanisms of governmentality. The normalization of pornographic content circulation within AU reading cultures, voluntary compliance through password-seeking practices, the use of content warnings by authors as a form of self-governance, tendencies toward hyperconsumption, and the interrelated power relations among platforms, authors, and readers collectively reflect an internalized process of self-regulation. Abstrak Artikel ini mengkaji cara kerja governmentality dalam praktik konsumsi konten pornografi oleh perempuan Generasi Z melalui platform Privatter. Dengan menggunakan metode kualitatif berpendekatan netnografi, penelitian ini melibatkan informan yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui arsip digital, wawancara daring sebagai data kolaboratif, serta observasi partisipatif terhadap aktivitas konsumsi konten Alternate Universe (AU) di ruang digital tertutup. Analisis data dilakukan secara tematik dengan pengujian keabsahan melalui triangulasi sumber. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pornografi naratif di kalangan pembaca AU perempuan Gen-Z tidak semata-mata bersifat transgresif, melainkan beroperasi melalui mekanisme governmentality yang subtil. Normalisasi distribusi konten pornografi dalam budaya membaca AU, praktik pencarian kata sandi sebagai bentuk kepatuhan sukarela, penggunaan peringatan konten oleh penulis sebagai strategi pengelolaan diri, kecenderungan hiperkonsumsi, serta relasi kuasa yang saling terkait antara platform, penulis, dan pembaca merepresentasikan proses regulasi diri yang terinternalisasi.
Peliyanan (Othering): Sebuah Praktik Kekerasan Kultural terhadap Perempuan Pekerja Migran Kabupaten Indramayu Jawa Barat Arifah Rahmawati; Dody Wibowo; Akhmad Jauhari; Nobertus Mario Baskoro
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i2.660

Abstract

This qualitative study examines othering as a form of cultural violence experienced by Indonesian women migrant workers. Othering is conceptualized as a social practice that constructs women as different and inferior, thereby producing stigma, labeling, and unequal gender relations, including among women themselves. Despite their significant contribution to household economies through remittances, women migrant workers continue to face degradation, suspicion, and social control both in their home communities and in destination countries. Data were collected through in-depth interviews with women migrant workers in three villages in Indramayu Regency, focus group discussions with non-migrant women, and field observations and documentation. The analysis centers on power relations, identity construction, and the control of knowledge and technology as key arenas through which othering operates. The findings demonstrate that othering functions through the normalization of stigma, social surveillance, and the restriction of access and agency, systematically lowering the social position of women migrant workers. Conceptually, this study affirms othering as a cultural mechanism that reproduces gender inequality in the context of labor migration. Abstrak Penelitian kualitatif ini menganalisis peliyanan atau othering sebagai bentuk kekerasan kultural yang dialami perempuan pekerja migran Indonesia. Peliyanan dipahami sebagai praktik sosial yang mengonstruksi perempuan sebagai pihak yang berbeda dan inferior sehingga melahirkan stigma, pelabelan, serta relasi gender yang timpang, termasuk di antara sesama perempuan. Meskipun remitansi mereka berkontribusi signifikan terhadap ekonomi keluarga, para pekerja migran tetap menghadapi perendahan martabat, kecurigaan, dan kontrol sosial di kampung asal maupun di negara tujuan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan perempuan pekerja migran di tiga desa di Kabupaten Indramayu, diskusi kelompok terarah dengan perempuan nonmigran, serta observasi dan dokumentasi lapangan. Analisis difokuskan pada relasi kuasa, konstruksi identitas, serta penguasaan pengetahuan dan teknologi sebagai arena kerja peliyanan. Temuan menunjukkan bahwa peliyanan beroperasi melalui normalisasi stigma, pengawasan sosial, dan pembatasan akses serta agensi yang secara sistemik menurunkan posisi sosial perempuan pekerja migran. Secara konseptual, penelitian ini menegaskan peliyanan sebagai mekanisme kultural yang mereproduksi ketimpangan gender dalam konteks migrasi kerja.
Symbolic Interaction and Student Self-Identity Formation in Child-Friendly Schools: A Meadian Analysis Fritz Hotman Damanik; Oman Sukmana
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 20 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v20i1.852

Abstract

This article examines the construction of symbolic meaning in teacher-student interactions within child-friendly schools (Sekolah Ramah Anak/SRA) in Indonesia, analyzed through the lens of George Herbert Mead's Symbolic Interactionism. The child-friendly school paradigm positions educational spaces not merely as sites of cognitive transfer but as environments where students actively construct their sense of self through communicative encounters. Drawing on qualitative sociological analysis, this study explores how teachers and students engage in symbolic exchanges — including gestures, language, praise, and spatial arrangements — that contribute to the formation and negotiation of student identity. Mead's conceptual triad of mind, self, and society provides the analytical scaffolding for understanding how the “I” and “Me” of student selfhood emerge from internalized role-taking processes embedded in everyday classroom interaction. The findings suggest that child-friendly school policies, when meaningfully implemented, generate a rich symbolic environment that affirms student agency, cultivates positive self-concepts, and fosters prosocial identity formation. However, disparities in implementation quality reveal that institutional intent does not always translate into transformative symbolic practice. This article contributes to sociological understandings of education by foregrounding the micro-interactional dynamics that underpin macro-level educational reform and child rights frameworks. Abstrak Aktivitas Artikel ini mengkaji konstruksi makna simbolik dalam interaksi guru-siswa di Sekolah Ramah Anak (SRA) di Indonesia, dianalisis melalui perspektif Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead. Paradigma sekolah ramah anak memposisikan ruang pendidikan tidak sekadar sebagai tempat transfer kognitif, melainkan sebagai lingkungan tempat siswa secara aktif membangun konsep dirinya melalui interaksi komunikatif. Dengan menggunakan analisis sosiologis kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana guru dan siswa terlibat dalam pertukaran simbolik — meliputi gestur, bahasa, pujian, dan penataan ruang — yang berkontribusi pada pembentukan dan negosiasi identitas siswa. Triad konseptual Mead tentang pikiran (mind), diri (self), dan masyarakat (society) menjadi kerangka analitis untuk memahami bagaimana “I” dan “Me” dalam diri siswa muncul dari proses pengambilan peran (role-taking) yang terinternalisasi dalam interaksi kelas sehari-hari. Temuan menunjukkan bahwa kebijakan sekolah ramah anak, ketika diimplementasikan secara bermakna, menghasilkan lingkungan simbolik yang kaya, yang menegaskan agensi siswa, menumbuhkan konsep diri yang positif, serta mendorong pembentukan identitas prososial. Namun, kesenjangan kualitas implementasi memperlihatkan bahwa niat institusional tidak selalu terwujud menjadi praktik simbolik yang transformatif. Artikel ini berkontribusi pada pemahaman sosiologis tentang pendidikan dengan menonjolkan dinamika mikro-interaksional yang melandasi reformasi pendidikan tingkat makro dan kerangka hak anak.
Modal Sosial dalam Membentuk Ketahanan Pangan pada Masyarakat Miskin Perkotaan di Kecamatan Panjang, Bandar Lampung Anita Damayantie; Dewi Ayu Hidayati; Teuku Fahmi; Imam Mahmud
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 20 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v20i1.1220

Abstract

Food security defined as the availability, quality, quantity, nutritional value, and accessibility of food for individuals and nations to lead healthy, active, and productive lives sustainably, is a critical human need. Social capital is a crucial factor in achieving food security. While social capital, typically in the form of kinship, family ties, and cooperation, is often perceived as exclusive to rural communities with strong values and norms, urban communities in Panjang District, Bandar Lampung City, demonstrate high social capital in addressing various issues, including food security. This study aims to deeply examine how social capital shapes food security for the urban poor in Panjang District, Bandar Lampung. The research employed a descriptive qualitative approach using, interviews, observation, and documentation for data collection. Data processing involved reduction, presentation, conclusion drawing, and data verification. The findings reveal that food security among the urban poor in Panjang District is achieved through the development of bonding social capital, bridging social capital, and linking social capital relationships. This study contributes both theoretically by offering a novel perspective on food security formation in urban poor communities through the development of bonding, bridging, and linking social capital (distinguishing it from previous research), and practically by serving as a guide for various stakeholders, including the community, local government, NGOs, and corporate social responsibility (CSR) initiatives, in designing more effective and integrated interventions and empowerment programs to enhance urban food security. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana modal sosial membentuk ketahanan pangan di kalangan masyarakat miskin perkotaan di Kecamatan Panjang, Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk pengumpulan data. Pengolahan data meliputi reduksi, penyajian, penarikan kesimpulan, dan verifikasi data. Temuan menunjukkan bahwa ketahanan pangan masyarakat miskin di Kecamatan Panjang terbentuk melalui interaksi tiga bentuk modal sosial, yaitu bonding, bridging, dan linking social capital. Modal sosial pengikat muncul melalui solidaritas internal keluarga dan tetangga, modal sosial penghubung berkembang melalui jejaring antarwarga lintas agama dan etnis, sedangkan modal sosial penghubung vertikal tercermin dalam akses masyarakat terhadap program bantuan pangan pemerintah dan dukungan donatur. Secara teoritis hasil penelitian memperkaya kajian sosiologi perkotaan dengan menjelaskan mekanisme relasional yang menghubungkan modal sosial dan ketahanan pangan dalam konteks masyarakat urban miskin yang sebelumnya lebih banyak dikaji pada konteks pedesaan. Secara praktis temuan penelitian memberikan dasar bagi pemerintah daerah, LSM, serta program CSR dalam merancang intervensi berbasis komunitas yang lebih terintegrasi untuk memperkuat ketahanan pangan perkotaan.