Articles
241 Documents
The Role of The Appreciation of History Education, the Internalization of Pancasila Ideology and Religious Values on Creating the Nationalism Attitude
Na’im, Mohamad
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 13, No 2 (2012): Local History in History Learning
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (283.727 KB)
|
DOI: 10.17509/historia.v13i2.6211
The purpose of this Research is to review the contribution level and the significance of the appreciation of history education, the internalization of Pancasila ideology and the internalization of religious values on creating the nationalism attitude. This research uses two approaches, which are quantitative and qualitative with concurrent embedded strategy. The primary in this research design is quantitative and qualitative as the secondary. The result of this research indicates the appreciation of history education, the internalization of Pancasila and the internalization of religious values. The importance of these roles can be discovered from 78.2% of contribution coefficient. The appreciation of history education contributes 27.84%, the internalization of Pancasila produces 14.39%, and the internalization of religious values brings 35.97%. The role of religious values on the appreciation of the building of nationalism attitude has a huge impact, bigger than the appreciation of history education and the internalization of Pancasila. Those three variables have role in the building of nationalism attitude which utilize as input material, that improving the student’s nationalism attitude can be conducted by enhancing the appreciation of history education, the internalization of Pancasila and the internalization of religious values about the life of society, nationhood, and statehood.
Mengembangkan Nilai Nasionalisme, Patriotisme, dan Toleransi Melalui Enrichment dalam Pembelajaran Sejarah tentang Peranan Yogyakarta Selama Revolusi Kemerdekaan
Winarti, Murdiyah
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 1, No 1 (2017): Pembelajaran Sejarah lokal
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (179.921 KB)
|
DOI: 10.17509/historia.v1i1.7004
Kemerdekaan yang diproklamasikan sejak Agustus 1945 merupakan modal bagi bangsa Indonesia memulai perjuangan untuk mengisi kemerdekaan dengan membangun rakyatnya agar sejahtera dengan menanamkan perasaan persatuan dan kesatuan sebagai bangsa. Sejarah merupakan mata pelajaran yang paling penting, tanpa bermaksud mengesampingkan pelajaran lainnya, untuk melahirkan perasaan kuat tentang itu, menyangkut nilai-nilai nasionalisme, patriotisme, dan toleransi dalam mewujudkan integrasi bangsa. Salah satu topik yang menurut peneliti sangat penting untuk dipelajari oleh generasi muda (siswa), namun tidak banyak disinggung dalam buku pegangan mereka yakni tentang masa revolusi kemerdekaan di Yogyakarta tahun 1945-1950. Peristiwa ini sarat dengan nilai-nilai kehidupan bagi generasi muda untuk mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya, seperti yang telah ditorehkan oleh generasi sebelumnya.  Â
Prinsip Non-Interference ASEAN dalam Perang Dingin (1970-1990)
Airlangga, Turin
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 3, No 2 (2020): Pembelajaran Sejarah dan Kearifan Lokal
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (173.334 KB)
|
DOI: 10.17509/historia.v3i2.23126
Sejak didirikan pada tahun 1967 melalui Deklarasi Bangkok, Asosiasi Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) telah berkembang dari sekelompok lima negara menjadi seperangkat mekanisme regional yang kuat dan kohesif. Namun, salah satu kritik fundamental terhadap ASEAN adalah prinsip saling tidak menginterfensi (non-interference) yang sangat dipegang kuat oleh semua negara anggota; pengkritik berpendapat bahwa prinsip non-interference merupakan hambatan bagi para negara anggota dalam mencapai integrasi regional. Kenapa prinsip non-interference begitu mengakar kuat dalam dinamika antar negara-negara anggota ASEAN? Artikel ini berpendapat bahwa pelembagaan prinsip non-interference didorong oleh dua faktor penting. Pertama, negara anggota ASEAN dihadapkan pada ketegangan dinamika Perang Dingin di mana kedua negara adidaya terlibat dalam perjuangan untuk mendapatkan pengaruh di kawasan Asia Tenggara. Selanjutnya, perpecahan Sino-Soviet pada pertengahan 1950-an ditambah dengan dominannya kehadiran AS melalui teori domino di Asia Tenggara menghasilkan konstelasi regional yang sangat kompleks di antara negara Asia Tenggara. Kedua, situasi domestik antara negara anggota ASEAN yang komunis dan non-komunis menyebabkan ketidakpercayaan yang mendalam di antara negara-negara yang tinggal di kawasan yang sama. Terlepas dari perkembangan politik yang kompleks di ASEAN selama Perang Dingin, konflik militer belum pernah terjadi di kawasan Asia Tenggara selama lima dekade terakhir berkat ketangguhan dan dibangunnya kepercayaan anatara negara anggota ASEAN. Meskipun prinsip non-interference dikritik secara luas, karakter unik regionalisme ASEAN telah memungkinkan ASEAN sebagai suatu institusi untuk menjelma menjadi salah satu pemain penting di dunia global saat ini.
Membangun Komunitas Belajar Melalui Lesson Study Model Transcript Based Learning Analysis (TBLA) dalam Pembelajaran Sejarah
Mutiani, Mutiani;
Warmansyah Abbas, Ersis;
Syaharuddin, Syaharuddin;
Susanto, Heri
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 3, No 2 (2020): Pembelajaran Sejarah dan Kearifan Lokal
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (236.663 KB)
|
DOI: 10.17509/historia.v3i2.23440
Lesson study sebagai satu solusi untuk membangun komunitas belajar (Learning Community) antar guru, peserta didik, maupun akademisi. Secara khusus membantu mengkonstruksi peristiwa pada saat transkrip dialog. Model TBLA diyakini mampu membuka permasalahan yang terjadi berdasarkan masukan mendalam berdasarkan dialog yang terjadi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan lesson study pada mata pelajaran sejaran di SMA. Pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan hasil penelitian. Tiga tahapan pengumpulan data dilalui oleh peneliti sebagai prosedur dari human instrument penelitian. Sepuluh narasumber didapat untuk memberikan keabsahan data berdasarkan analisis model interaktif Miles Huberman dan uji keabsahan data dengan teknik triangulasi. Hasil penelitian memaparkan peningkatan nampak dari kualitas percakapan yang terjadi antara guru dan peserta didik. Peningkatan kualitas pembelajaran mengindikasikan kemampuan berpikir historis peserta didik. Kemampuan ini nampak pada saat peserta didik mampu menyampaikan materi dengan analogi serta pemaparan secara kronologis dan kontekstual. Kondisi ini menjadikan situasi belajar tidak hanya menjadi dominasi guru melainkan meningkatnya partisipasi peserta didik dalam diskusi. Perihal ini menjadi indikasi bahwa aktivitas pembelajaran membuka ruang terbuka pada komunitas belajar.Â
Implementasi Pembelajaran Sejarah Peminatan Berbasis Nilai Kearifan Lokal Topi Bambu Tangerang di SMAN 16 Kabupaten Tangerang
Permana, Rahayu;
Suhaili, Ahmad
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 3, No 2 (2020): Pembelajaran Sejarah dan Kearifan Lokal
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (141.121 KB)
|
DOI: 10.17509/historia.v3i2.23835
Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan sumber sejarah lokal tentang topi bambu Tangerang secara  khusus di kaelas XI IIS pada SMAN 16 Kabuaten Tangerang. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi dan wawanca. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Perlunya mendesain pembelajaran sejarah peminatan pada kurikulum 13 dengan pendekatan sumber belajar kearifan lokal topi bambu secara khusus. 2) Dalam pelaksanaan implemnetasi sejarah peminatan di kelas, guru memnyampaikan materi dengan baik dan sistematis, sehingga peserta didik merasa nyaman dan termotivasi untuk menyimak materi kearipan lokal topi bambu Tangerang. 3) Hasil yang didapatkan dalam implementasi pembelajaran sejarah peminatan berbasis kearifan lokal topi bambu, peserta didik dapat mengenal, mengetahui dan memahami tentang nilai kearifan lokal topi bambu Tangerang.
Pikukuh : Kajian Historis Kearifan Lokal Pitutur dalam Literasi Keagamaan Masyarakat Adat Baduy
Sujana, Ahmad Maftuh
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 3, No 2 (2020): Pembelajaran Sejarah dan Kearifan Lokal
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (199.357 KB)
|
DOI: 10.17509/historia.v3i2.24347
Perilaku individu dan sosial digerakkan oleh kekuatan dari dalam yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran agama yang menginternalisasi sebelumnya. Tradisi masyarakat adat Baduy diwarnai oleh agama yang dianutnya agama Sunda Wiwitan, melahirkan ajaran tersendiri yang disebut pikukuh. Pikukuh tersebut disampaikan secara turun temurun secara lisan menjadi aturan adat mutlak yang harus ditaati. Pelanggaran terhadap aturan adat mutlak tersebut memunculkan konsekuensi, yang harus di terima oleh komunitas masyarakat adat Baduy. Berbagai makna filosofis hidup (kedamaian, kejujuran, kesederhanaan, kasih sayang) dijadikan landasan hidup masyarakat Baduy, mereka akan selalu menjaga dan mengamalkan pikukuh tersebut sampai kapanpun. Dengan melaksanakan pikukuh masyarakat Baduy akan dilindungi oleh Batara Tunggal sebagai kuasa tertinggi dalam keyakinan masyarakat Baduy melalui para guriang (utusan Batara Tunggal) yang dikirim oleh Karuhun (leluhur). Demikian juga, penderitaan hidup yang dialami adalah hukuman dari karuhun dan Batara Tunggal karena tidak patuh kepada pikukuh. Kepatuhan masyarakat dalam memegang kepercayaan agama dengan menaati pikukuh yang dianut oleh masyarakat Baduy, telah menjadikan kunci untuk merekatkan keutuhan masyarakat.
Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Biografi Bupati R.A.A. Kusumadiningrat (1839-1886) sebagai Sumber Belajar Sejarah
Sofiani, Yulia;
Nurfadillah, Cici
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 3, No 2 (2020): Pembelajaran Sejarah dan Kearifan Lokal
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (191.753 KB)
|
DOI: 10.17509/historia.v3i2.24049
Dewasa ini, sistem pendidikan membutuhkan nilai-nilai kearifan di dalam kehidupan dan lingkungan. Pembelajaran tidak hanya terbatas pada daya kognitif peserta didik, tetapi juga melibatkan daya afektif dan psikomotorik. Kearifan lokal (daerah) sebagai gagasan setempat, memberikan sinerginats keilmuan antara pengembangan kognitif dengan ranah afektif peserta didik. Hal ini dikarenakan, kearifan lokal mengandung nilai-nilai kebijaksanaan di dalam kehidupan. Kearifan lokal dapat dihubungkan ke dalam dunia pendidikan melalui pembelajaran sejarah. Dalam dimensi sejarah lokal yang akan terintegrasi ke dalam pembentukan sejarah nasional. Di Indonesia, terdapat kearifan lokal yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Kearifan lokal tersebut salah satunya termuat dalam biografi seorang bupati R.A.A. Kusumadiningrat. Biografi R.A.A. Kusumadiningrat mengandung nilai-nilai kearifan lokal, mengenai hubungannya dengan manusia dan alam. Beberapa kebijakan yang diterapkan mengandung nilai-nilai kearifan untuk menjaga ekosistem alam dan penguatan ikatan sosial antar manusia. Kebijakan tersebut seperti tradisi bubujeng, marak, onom, tradisi memakai minyak gaharu dan kebijakan penanaman kitri bagi rakyat yang hendak menikah. Ke-enam tradisi ini memiliki makna-makna kearifan dalam kehidupan.
Higher Order Thinking in the Content Knowledge of History Lesson in Malaysia
Dahalan, Shakila Che;
Ahmad, Abdul Razak;
Seman, Ahmad Ali
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 3, No 2 (2020): Pembelajaran Sejarah dan Kearifan Lokal
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (158.073 KB)
|
DOI: 10.17509/historia.v3i2.23560
This study investigating student’s achievement on the higher order thinking content knowledge in history lesson. A total of 200 upper secondary school students were given 40 objectives questions on higher order thinking content knowledge. The higher order thinking content knowledge was analysis using SPSS 24.0. The results showed that student’s application (f=54.8, %=75.1), analysis (f=40.8, %=55.9) and evaluation (f=40.2, %=55.0). The findings indicate that student’s achievement on the higher order thinking content knowledge (application, analysis and evaluation) in medium level. Therefore, the findings highlight the important of teacher in improving their pedagogy of teaching and change their focusing to higher order thinking in history education.
Kehidupan Sosial Budaya Masa Pergerakan Nasional di Indonesia (1900-1942) dari Sudut Pandang Novel Sejarah
Fauzi, Wildan Insan;
Santosa, Ayi Budi
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 3, No 2 (2020): Pembelajaran Sejarah dan Kearifan Lokal
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (177.83 KB)
|
DOI: 10.17509/historia.v3i2.21675
Novel-novel sejarah membantu dalam mengisi kekurangan dalam menggali fakta fakta sosial atau fakta-fakta mental yang tidak terekam dalam sumber-sumber dokumen. Sebagai rumusan masalah dalam penelitian ini secara makro adalah “Bagaimana narasi pergerakan nasional Indonesia (1900-1942) dari sudut pandang novel sejarah?â€. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti akan mendeskripsikan gambaran apa adanya terhadap realitas masa Pergerakan Nasional di Indonesia (1900-1942) dari Sudut Pandang Novel Sejarah. Peneliti memilih metode historis sebagai metode penelitian dan studi litelatur sebagai teknik penelitian. Hasil penelitian menunjukan setting sosial dan budaya yang digambarkan pada novel sejarah antara lain: modernisasi, westernisasi, romantisme, arogansi Barat, pers dan gagasan, rasa rendah diri bangsa terjajah, stratifikasi social dan diskriminasi, pendidikan, suasana politik etis, munculnya Jepang sebagai kekuatan ekonomi, serta munculnya sentiment anti-tionghoa
Heritage of the Past: Addressing Philippines Ecological Footprint and Local Wisdom Through Copra-Making Practice
Avila, Roel V
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 3, No 2 (2020): Pembelajaran Sejarah dan Kearifan Lokal
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (185.144 KB)
|
DOI: 10.17509/historia.v3i2.23836
This article emerged from the author’s apprehension regarding the lack of social sensitivity caused by the failure to connect the environment to the school lessons. Furthermore, creating balance and harmony within society and environment seemed impossible to realize in this sense. As in the Philippines in this case, schools often negated the significance to connect the environment to schools. From author point of view, the fact that the Philippines has strong ecological footprints and the local wisdom which can be traced through copra-making industry should not be discharged. The author examined this ecological intelligence which manifested inherently among the kinfolk of copra-makers by elaborating the indigenous cultural practices of the rural folks in the Philippines and making sense of those practices with metaphorization to advocate and conduct more connection in the classroom. As a result the highlighted indigenous processes that provided as a model in contextualizing sociological, cultural, and historical accounts as an ethno-pedagogical strategy of integrating nationalism in social sciences teaching.