cover
Contact Name
Retno Winarni
Contact Email
retno.winarni@unej.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Publika Budaya
Published by Universitas Jember
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Terbit tiga kali dalam setahun pada bulan Maret, Juli, November. Berisi tulisan yang diangkat dari hasil karya ilmiah mahasiswa yang berupa gagasan konseptual, kajian dan aplikasi teori dari karya ilmiah skripsi mahasiswa gelar S-1 di Bidang Budaya dan Media
Arjuna Subject : -
Articles 133 Documents
KERUSUHAN PASAR GLODOK: STUDI KASUS ETNIS TIONGHOA DI KELURAHAN GLODOK KECAMATAN TAMAN SARI JAKARTA BARAT) GLODOK’S MARKET RIOT: CASE STUDIES OF ETHNIC TIONGHOA AT SUB- DISTRICT GLODOK DISTRICT TAMAN SARI JAKARTA BARAT, 1998-2000 Fuji Titulanita; Siti Sumardiati; Mrr. Ratna Endang W.
Publika Budaya Vol 3 No 1 (2015): Maret
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas tentang faktor- faktor penyebab, dampak, dan penyelesaian kerusuhan di pasar Glodok Jakarta Barat yang bertujuan dapat menjelaskan sebab- sebab terjadinya dan dampak kerusuhan di pasar Glodok. Penulisan ini menggunakan kerangka pendekatan psikologi sosial dengan mewawancarai para korban kerusuhan yang mengalami trauma menganggap peristiwa tersebut sangat menakutkan. Faktor nasional yaitu Krisis Moneter tahun 1998, mengakibatkan sembako naik dan menjadi langka dipasaran. Kepanikan, kesenjangan sosial ekonomi, dan prasangka buruk orang pribumi terhadap warga Tionghoa yang mayoritas pedagang terjadi di kalangan masyarakat. Faktor pendukung lain terjadi aksi demostrasi mahasiswa Trisakti bersamaan dengan kerusuhan massa. Pada tanggal 14 Mei 1998 kerusuhan semakin meluas, hingga pasar Glodok dan Orion Plaza menjadi sasaran penrusakan, penjarahan, dan pembakaran. Dampak dari aksi kerusuhan ini adalah pedagang kehilangan harta benda, kios, dan pekerjaan. Penyelesaian terhadap kerusuhan ini menjelang pergantian presiden mengalami perbedaan. Pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie menerapkan kebijakan perbaikan pasar Glodok dan pembentukan TGPF untuk menemukan, mengungkap fakta, pelaku, dan latar belakang peristiwa kerusuhan Mei 1998, sedangkan Presiden Abdurrahman Wahid memberi kebebasan etnis Tionghoa dibidang sosial budaya, agama, dan politik yang kemudian berpangaruh terhadap perkembangan Glodok, seperti hadirnya tabloid Glodok Standart berbahasa Mandarin. Kata Kunci: Krisis ekonomi, kerusuhan pasar Glodok, kebebasan Tionghoa ABSTRACT This article discusses the causal factors impact, and resolution of riot in the Glodok Market, West Jakarta. It aims to explain the causes and effects of violence in Glodok Market. This writing uses the framework of social psychology approach to in terview the riot victimswho considered the event as very frightening.The national factor was the Monetary Crisis in 1998 causing the rising prices of foodstuff. Monetary Crisis resulting in the price of nine essential commodities more increasingly and become scarce in the market. The panic, the socio economic disparity, and the prejudice indigenous people toward Chinese merchants happening among the public. While other political factor was Trisakti student demonstrations simultaneously with the mass riots.On May 14, 1998 the riots escalated, Glodok Market and Orion Plaza were subjected to vandalism, looting, arson, and rape. The impact of was the loss of property owned by merchants, and employment. Glodok Market riot also had an impact on the national economy untill the reign of President B.J. Habibie implementing corrective policies and the establishment of TPGF to discover, uncover the facts, the perpetrator, and the background of the riots in May 1998. President Abdurahman Wahid gave a freedom tto Chinese in sociocultural, religion, and political aspect, which influenced the development of Glodok Market, such as the presence of Glodok Standard Tabloid in mandarin. Key words : Financial Crisis, Glodok Market riot, Deliberacy of Chinese
PERKEBUNAN KAYUMAS PTPN XII DAN PENGARUHNYA TERHADAP MASYARAKAT DESA KAYUMAS KECAMATAN ARJASA KABUPATEN SITUBONDO TAHUN 1996-2010 (PLANTATION KAYUMAS OF PTPN XII AND THE INFLUENCE TO THE COMMUNITYOF KAYUMAS VILLAGE SUBDISTRICT ARJASA DISTRICT OF SITUBONDO Murni Mulasari; Edy Burhan Arifin
Publika Budaya Vol 3 No 1 (2015): Maret
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas tentang pengaruh perkebunan Kayumas terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat Desa Kayumas Kecamatan Arjasa Kabupaten Situbondo Tahun 1996-2010. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi ekonomi, yaitu mengkaji tentang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Desa Kayumas. Landasan teori yang digunakan adalah teori perubahan sosial, dan metode yang digunakan adalah metode sejarah dari Kuntowijoyo yang terdiri dari lima tahapan, yaitu pemilihan topik, heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Pengaruh adanya perkebunan Kayumas terhadap masyarakat sangat besar, meliputi, memberikan bantuan pemberdayaan Sumber Daya Manusia khususnya terhadap masyarakat yang menjadi karyawan. Selain itu pengaruh dalam bidang ekonomi, memberikan lapangan pekerjaan dan menunjang perekonomian masyarakat Desa Kayumas. Adanya Perkebunan Kayumas ditengah-tengah kehidupan masyarakat melahirkan sebuah tradisi slametan syukuran atas hasil tanam kopi, misalnya tradisi Jaruk Kopi yaitu slametan untuk melindungi kopi sampai masa panen tiba. Adanya Perkebunan Kayumas nantinya memberikan kehidupan yang baik bagi masyarakatnya, selain itu dengan adanya perkebunan menimbulkan lahan- lahan produktif untuk masyarakat yang kemudian bisa dimaksimalkan pemanfaatannya demi kehidupan yang lebih baik. Kata Kunci : Perkebunan, Perubahan sosial-ekonomi-budaya, Desa Kayumas. ABSTRACT This article discusses the influence of the Kayumas plantation on the social, economic and cultural life of Arjasa village, Kayumas District, Situbondo, 1996-2010. The approach used here is economic sociology approach, which examines the social and economic life of the village of Kayumas. The article applies theory of social change and the method used is the historical method of Kuntowijoyo which consists of five stages, namely the selection of topics, heuristics, source criticism, interpretation and historiography. The influence Kayumas plantations on society is great, such as, providing assistance in empowering Human Resources especially for people who become employees. In addition, it provided, jobs and supported the economy of the village of Kayumas. The existence of Plantation Kayumas amid public life gave the birth of a slametan tradition celebration of the coffee crop yields, especially Coffee Jaruk tradition ie slametan to protect coffee until harvest time. The existence of Plantation Kayumas provided a good life for the people, in addition, the plantations created to productive lands for people who could then maximize for the sake of a better life . Keywords : Plantation, socio - economic changes - cultural, Kayumas village.
NASKAH FILM TELEVISI GENRE ROMANCE COMEDY “PEMUDA IDAMAN #NGACA” Rogo Wibowo Bima Aji; Ilham Moch.
Publika Budaya Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis television movie script "Pemuda Idaman #ngaca" romance comedy genre discusses about a set of problems faced by single man (single) in finding his ideal partner. The purpose of producing this work is to provide the moral message about the meaning of the mirroring (preparing ourselves) through television screenwriting "Pemuda Idaman #ngaca." This work describes the story of a single man looking for a woman of his dreams which packaged in a comedy. The reconstruction of the characters in this script uses physical constitution of the psychological theory of Ernst Kretschmern to describe the physical form of the characters in the script. The creator collecting data and facts (news) observation in making this work on the phenomenon of singles in Indonesia and based on personal experienced of the creator in the composing idea, so expected with the moral messages preparing ourselves can be delivered through the television movie script "Pemuda Idaman #ngaca." The result of this work is the screenplay television movie of romance comedy as the genre in the title "Pemuda Idaman #ngaca."
ESTETIKA VISUALISASI TEASER BATIK PARAS GEMPAL DALAM ACARA BANYUWANGI BATIK FESTIVAL 2015 Ivan Bagus Nimoyan; Soekma Yeni Astuti; Denny Antyo Hartanto
Publika Budaya Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTeaser batik paras gempal merupakan karya audio visual, rangkaian dari sebuah kegiatan promosi karya-karya lokal yang digunakan sebagai pembuka acara Banyuwangi Batik Festival (BBF) 2015. Karya audio visual perlu memperhatikan estetika agar pesan dapat tersampaikan dengan baik serta dapat membuat penonton terkesan. Teaser batik paras gempal berfungsi sebagai penarik perhatian pemirsa serta sebagai media yang menginformasikan kepada masyarakat tentang tema BBF 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui estetika dari visualisasi teaser batik paras gempal dalam acara Banyuwangi Batik Festival 2015. Visualisasi yang nampak sebagai berikut, (1) visualisasi kegunaan atau fungsi batik paras gempal, (2) wujud batik paras gempal, (3) proses pembuatan batik, (4) filosofi batik paras gempal, (5) kebudayaan Banyuwangi khususnya suku Using. Seluruh tampilan teaser batik paras gempal sejumlah 29 scene dianalisis dari unsur naratif serta sinematik, selanjutnya dianalisis menggunakan estetika Monroe Breadsley. Seluruh tampilan pada teaser batik paras gempal menyampaikan pesan atau informasi yang jelas tentang batik paras gempal dan tentang budaya Banyuwangi khususnya suku Using, serta dapat mempengaruhi mood penonton sehingga membuat indah.
KONTROVERSI SERTIFIKASI TANAH “KONFLIK TANAH JENGGAWAH” TAHUN 1999-2001 (STUDI KASUS KONFLIK TANAH DI KECAMATAN JENGGAWAH KABUPATEN JEMBER) Mohamad Il Badri; Edi Burhan Arifin; Hendro Sumartono
Publika Budaya Vol 1 No 1 (2013): November
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena yang menonjol pada masyarakat petani di pedesaan adalah masalah yang selalu berkaitan dengan tanah. Di Kabupaten Jember terjadi konflik agraria yang melibatkan petani dan negara, salah satunya konflik tanah Jenggawah. Tanah perkebunan Ajunggayasan Jenggawah yang terletak di Kabupaten Jember, Propinsi Jawa Timur. Pemberian surat tanda bukti hak milik atau sertifikat yang selama ini diperjuangkan oleh petani Jeggawah merupakan ukuran berhasilnya perjuangan yang dilakukan bertahun-tahun. Namun dalam perjalanannya terjadi banyak kontroversi ditengah-tengah masyarakat ketika dikeluarkannya sertifikat. Masyarakat Jenggawah yang telah menerima sertifikat mengganggap bahwa pemerintah masih setengah hati memberikan tanah yang mereka perjuangkan selama ini.
ENGLISH LOANWORDS IN USING COMMUNITIES IN JAMBESARI VILLAGE, GIRI DISTRICT, BANYUWANGI Imam Mahdiyono; Syamsul Anam; Agung Tri Wahyuningsih
Publika Budaya Vol 2 No 1 (2014): Maret
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In this paper, we present an analysis of English loanwords that are spoken by the people of Jambesari villagethat are regarded as their own language. The loanwords also experience some deviations. The term 'loanword'can be defined as a word adopted from another language with little or no modification. As asserted by Methamand Hudson (1969:482) that loanwords are words which have been taken over by one language from anotherand they represent only one phenomenon in the wider context of language contact. This study aims to know theway people got the English loanwords, to know where people use the English loanwords, and to know thechanges of the English loanwords. It can be analyzed by using the concept of language contact and languagechange. The analysis is conducted by using descriptive method. The result shows that people got the Englishloanwords from other people. They also use the English loanwords everywhere according to the context ofsituation. Then, the alterations occur in the kind of pronunciation, spelling, word class, and meaning.Keywords: Loanword, language contact, language change.
INDUSTRIALISASI DI KABUPATEN PASURUAN TAHUN 1992-2007 Tita Agustini; Retno Winarni
Publika Budaya Vol 2 No 1 (2014): Maret
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas tentang proses industrialisasi di Kabupaten Pasuruan, utamanya Pasuruan Industrial EstateRembang (PIER). Permasalahan yang dikaji dalam artikel ini adalah sejarah berdirinya kawasan industri PIER,bagaimana kondisi kawasan PIER dari tahun 1992-2007 dan dampak adanya industri PIER terhadap masyarakatdan Pemda. Data yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah data-data hasil studi pustaka berupa buku,laporan, terbitan khusus, survey lapangan, dan wawancara. Adapun hasil dari analisis data adalah kenyataanbahwa keberadaan kawasan industri PIER berdampak positif baik terhadap masyarakat sekitar kawasan PIERkhususnya maupun masyarakat Pasuruan pada umumnya serta terhadap Pemerintah daerah setempat. Dampakterhadap masyarakat adalah munculnya pusat-pusat ekonomi baru, terserapnya tenaga kerja dan perkembangankota. Sementara dampak bagi Pemerintah daerah adalah peningkatan PAD, baik dari sektor pajak maupun sektoryang lain.Kata Kunci: industrialisasi, perubahan, PIER
A QUESTION OF MAN’S IDENTITY: THE POTRAIT OF SOLDIER IN REBECCA WEST’S THE RETURN OF THE SOLDIER Iin Nurul Hidayati; Supiastutik Supiastutik; Irana Astuti
Publika Budaya Vol 2 No 2 (2014): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article is made to show how gender identity is constructed in England and how the naturalized conception of gender is something unstable. Chris’s portrayal as a dependent man in the hands of women is far from the image of the soldier as the picture of manliness. It confirms that all knowledge including biological knowledge is socially constructed. Thus, the character of Chris Baldry as the symbol of masculinity is questioned in this article. Chris’ deviation occurs after coming home from the battle field because of shell shock. This malaise has made him forget the last fifteen years of his life. In war, his body is assaulted in the name of masculinity: men’s bodies are expected to put up a performance where values such as courage, fierceness, and patriotism are reflected in physical action. When suddenly performance can no longer be sustained, his gender/masculinity becomes vulnerable. Therefore, Judith Butler’s theory is used to conceive how a subject gets and loses his gender identity. This application confirms Butler’s performativity that gender is not something fixed. Key words : Gender identity, Masculinity, Performatifity
SEARCHING CULTURAL IDENTITY IN YANN MARTEL’S LIFE OF PI PENCARIAN IDENTITAS KULTURAL DI DALAM NOVEL LIFE OF PI KARYA YANN MARTEL Ferina Tri Wulandari; Sutarto Sutarto; Irana Astutiningsih
Publika Budaya Vol 2 No 3 (2014): Nopember
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Life of Pi adalah novel yang ditulis oleh Yann Martel. Novel ini menceritakan tentang seorang anak muda bernama Piscine Patel yang hidup di ruang antara. Dia tidak bisa memilih apakah dia orang Timur atau Barat, Kanada atau India. Penelitian ini berfokus pada identitas kultural, suatu hal yang tidak dimiliki langsung sejak lahir. Identitas kultural selalu berproses. Penelitian ini disusun dengan menggunakan cara deskriptif dan penelitian kualitatif untuk mengartikan dan menganalisa yang berhubungan dengan isu postkolonial terutama dalam hal identitas. Sumber utama pengambilan data adalah informasi sumber data dan fakta tentang isu postkolonial melalui perwujudan watak dan peristiwa yang terpilih didalam Life of Pi yang berhubungan dengan identitas dan sumber lain seperti jurnal, thesis, internet, dan buku untuk membantu pengumpulan data. Tujuan dari penelitian ini antara lain untuk mengartikan konsep dari negara berbangsa di saat tidak adanya identitas yang pasti dan untuk mendapatkan pengertian bahwa tidak ada lagi yang lebih hebat antara Timur dan Barat semenjak Kanada sebagai tanah yang menjanjikan terpatahkan. Kata kunci: postkolonial Homi Bhabha, identitas budaya, Yann Martel. ABSTRACT Life of Pi is a novel written by Yann Martel. This novel tells a story of a young indian boy named Piscine Patel who lives "in-between". He does not choose whether he is east or west, Canada or India. This research is focused on cultural identity which is not something already exist. It is always on going process. This research is conducted by using qualitative research and descriptive way to interpret and analyze the data that relates with postcolonial issue especially in identity. The main source of the data is the fact and information about postcolonial issue through selected event and characterization in the Life of Pi which related on identity and other sources such as jurnal, thesis, internet, and the book to help collecting the data. The goals of this research are; to interpret the concepts of nation-state since there is no fixed identity and to get understanding that there is no more superior between West and East since Canada as the promising land is rejected. Keywords : Postcolonial Homi Bhabha, cultural identity, Yann Martel.
PENDIDIKAN PADA MASA PEMERINTAHAN KOLONIAL BELANDA DI SURABAYA TAHUN 1901-1942 (EDUCATION ON DUTCH GOVERNMENT IN SURABAYA AT 1901-1942) Gusti Muhammad Prayudi; Dewi Salindri
Publika Budaya Vol 3 No 1 (2015): Maret
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas tentang pendidikan kolonial di Surabaya pada tahun 1901-1942. Jenjang Pendidikan di Surabaya berawal dari pendidikan tradisional yang bersifat non formal (tidak ada jenjang pendidikan). Setelah Pemerintah Kolonial Belanda (PKB) datang ke Hindia Belanda memperkenalkan sistem pendidikan formal (terdapat jenjang pendidikan). Penelitian dalam artikel ini menggunakan metode sejarah, yaitu proses menguji dan menganalisis peristiwa di masa lampau. Berdirinya sekolah- sekolah Belanda di Surabaya dilatarbelakangi adanya perkembangan peraturan bahwa pendirian sekolah-sekolah Belanda di Hindia Belanda berada di daerah yang terdapat pelabuhan-pelabuhan besar dan perkebunan yang luas. Selain itu juga, anak-anak Belanda yang berada di Surabaya untuk pergi sekolah ke Batavia dibutuhkan dana yang cukup mahal. Pada awalnya pendidikan hanya untuk anak- anak Belanda dan anak-anak priyayi, setelah adanya Politik Etis anak-anak pribumi bisa masuk ke sekolah Belanda dengan persyaratan yaitu keturunan, penghasilan orang tua, dan pendidikan orang tua. Kata Kunci: pendidikan, pemerintah kolonial Belanda, politik etis, elit modern ABSTRACT This article discusses the colonial education in Surabaya in 1901-1942. Education in Surabaya originated from traditional non formal education. After the Dutch Colonial Government (DCG) came to the Dutch East Indies, it introduced formal education system (there were levels of education). The research in this article uses the historical method, including the process of testing and analyzing events in the past. The establishment of Dutch schools in Surabaya had the regulatory developments as its background that the establishment of schools in the Dutch East Indies located in areas that are large ports and vast estates. In addition, Dutch children in Surabaya willing to study for Batavia needed quite large funds. Initially the education was only for children of the Dutch aristocracy, after the Ethical Policy indigenous children could go to school with the requirements of the descendants of the Dutch, parental income, and parental education. Key words : education, Dutch Colonial Government, ethical politic, modern nobles