cover
Contact Name
Retno Winarni
Contact Email
retno.winarni@unej.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Publika Budaya
Published by Universitas Jember
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Terbit tiga kali dalam setahun pada bulan Maret, Juli, November. Berisi tulisan yang diangkat dari hasil karya ilmiah mahasiswa yang berupa gagasan konseptual, kajian dan aplikasi teori dari karya ilmiah skripsi mahasiswa gelar S-1 di Bidang Budaya dan Media
Arjuna Subject : -
Articles 133 Documents
Reclaiming Nyunyur’s Plantation by Soso’s Village Society District Gandusari Blitar Regency 1964-2014 Binti Itaul Khasanah; Nurhadi Sasmita
Publika Budaya Vol 2 No 3 (2014): Nopember
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

    ABSTRACT This article discusses the social movement of the Soso society in the land dispute between Nyunyur Plantation with PT. Kismo Handayani by employing collective behaviour theory of Neil J. Smelser the author used the shape and strategy of social movement observed in Soso society. About 25 years, they have tried to reclaim 100 hectares of land subject to land reform, which was controlled by PT Kismo Handayani. The land was obtained by Soso society by decree of the Minister of Agriculture and Agrarian Number: 49 / Ka. / 1964. They have done a variety of procedural actions such as demonstrations, mediation, hearing and etcetera they it did not work. Finally Soso society took reclaiming as the final strategy. Previously, the land has been given a replacement, but not too small. Negotiations with various parties were always deadlocked. The government never took the initiative to resolve the dispute through it. As a result, the people do reclaiming as a way to exploit the land. The reclaimed lands were used for farming and housing. During took the plantations occupy land occupation, they did not yet feel successful and safe but still haunted by the fear of getting evicted or repressive measures of the government, because according to the law the lands were not yet legally theirs and the dispute was not yet over. Keywords: Nyunyur's Plantation, reclaiming, Soso society
ANALISIS KRITIS ASPEK SOSIAL NOVEL MEMANG JODOH KARYA MARAH RUSLI (CRITICAL ANALYSIS OF SOCIAL ASPECT IN THE NOVEL MEMANG JODOH BY MARAH RUSLI) Siti Fatimah; Sri Mariati; Titik Maslikatin
Publika Budaya Vol 2 No 3 (2014): Nopember
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The novel of Memang Jodoh is one of Marah Rusli’s masterpieces. It describes about the tight customs and traditions of Padang in wedlock and marriage, also there are some rules becoming the tradition that must be obeyed by society. These customs and traditions are not quit of society social life. Padang society has customs and traditions for marriage and matrilineal lineage. This article aims to describe social aspect in Novel of Memang Jodoh by Marah Rusli. Based on the aim of it, the method of qualitative is used. As for the approach of aspect social are applied. The theory of sociology is conducted in social aspect including structure social, social processes, social change, and social problem. The result of this novel analysis of Memang Jodoh is society social structure of Padang which is very closely with customs and traditions caused the society conflict. Key words: customs and traditions for marriage and matrilineal lineage, social aspect ABSTRAK Novel Memang Jodoh adalah salah satu karya Marah Rusli. Novel ini menceritakan tentang adat- istiadat Padang yang sangat ketat dalam hal perjodohan dan perkawinan, serta banyak aturan yang sudah menjadi tradisi dan harus dipatuhi oleh masyarakatnya. Adat-istiadat tidak terlepas dari kehidupan sosial masyarakat. Masyarakat Padang mempunyai adat-istiadat dalam hal perkawinan dan garis keturunan yang matrilineal. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan aspek sosial yang terdapat dalam novel Memang Jodoh karya Marah Rusli. Berdasarkan tujuan tersebut, metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan aspek sosial. Aspek sosial yang digunakan adalah teori sosiologi yang mencakup struktur sosial, proses sosial, perubahan sosial dan masalah sosial. Hasil analisis novel Memang Jodoh berupa struktur sosial masyarakat Padang yang sangat erat dengan adat-istiadat menimbulkan pertentangan antarmasyarakat. Kata kunci: adat-istiadat, perkawinan, gars keturunan matrilineal, aspek sosial.
SPEECH ACTS ANALYSIS OF THE MAIN CHARACTER IN SHREK MOVIE SCRIPT ANALISIS (TINDAK TUTUR PADA TOKOH UTAMA DI DALAM NASKAH FILM SHREK) Fifin Dwi Isnawati; Syamsul Anam; Sabta Diana
Publika Budaya Vol 3 No 1 (2015): Maret
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the study of language, what people do by saying something is called speech acts. Speech acts is not only found in everyday life but also in the film. This research concerns with speech acts produced by the main character in Shrek movie script. The aims of this research are to describe the types of speech acts and to analyze the most dominant speech acts produced by the main character. Besides, the aim of this research is also to know and describe the purposes of Shrek as the main character to use speech acts. The objects of this research are texts in the form of movie script. Austin’s (1962) theory of speech acts is applied in this research as the major theory. The types of research in this study are qualitative and quantitative research. Qualitative research is applied to analyze the data in the form of the text. Quantitative research is used to count the member of speech acts used by Shrek to conclude which types of speech acts is dominantly used. There are 50 utterances to be analyzed. The result of this research shows that the four types of speech acts produced by Shrek are directives, representatives, expressives, and commissives. This study shows that the dominant speech acts used is directives. It reaches 44%. It indicates that Shrek uses directives because he wants to make the hearer do something. Besides, Shrek also wants to be admitted by the people that he is actually a kind ogre. Keywords: directives, Shrek, speech acts, types of speech acts. . ABSTRAK Dalam ilmu bahasa, apa yang dilakukan seseorang melalui ucapannya disebut tindak tutur. Tindak tutur tidak hanya ditemukan di dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga di dalam sebuah film. Penelitian ini merujuk pada tindak tutur yang digunakan oleh tokoh utama di dalam naskah film Shrek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjabarkan tipe-tipe tindak tutur dan untuk menganalisa tipe tindak tutur yang paling dominan digunakan oleh tokoh utama. Selain itu, tujuan dari penelitian ini adalah juga untuk mengetahui dan menjabarkan tujuan Shrek sebagai tokoh utama dalam menggunakan tindak tutur. Objek dari penelitian ini adalah teks dalam bentuk naskah film. Teori tindak tutur oleh Austin (1962) digunakan dalam penelitian ini sebagai teori utama. Tipe penelitian di penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif digunakan untuk menganalisis data dalam bentuk teks. Penelitian kuantitatif digunakan untuk menghitung jumlah tindak tutur yang digunakan oleh Shrek untuk menyimpulkan tindak tutur mana yang paling dominan dipakai. Ada 50 tutur kata yang dianalisis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat empat tipe tindak tutur yang digunakan oleh Shrek: directives, representatives, expressives, dan commissives. Penelitian ini menunjukkan bahwa tindak tutur yang paling dominan digunakan adalah directives. Tipe ini mencapai 44%. Hal ini mengindikasikan bahwa Shrek menggunakan directives karena dia ingin membuat pendengarnya melakukan sesuatu. Selain itu, Shrek juga ingin diakui oleh orang-orang bahwa dia sebenarnya adalah raksasa yang baik. Kata kunci: directives, Shrek, tindak tutur, tipe-tipe tindak tutur.
KEHIDUPAN DIASPORA DALAM NOVEL THE BEAUTIFUL THINGS THAT HEAVEN BEARS KARYA DINAW MENGESTU Yuyun Wahyuni; Ikwan Setiawan; Irana Astutiningsih
Publika Budaya Vol 3 No 2 (2015): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakThe Beautiful Things That Heaven Bears adalah novel pertama dari Dinaw Mengestu yang menggambarkan kondisi komunitas diaspora Afrika di Amerika Serikat. Pengarang melukiskan kesulitan-kesulitan yang hadapi oleh subjek diaspora dari Ethiopia yang hidup di Amerika Serikat yang terinsspirasi dari pengalamannya karena dia juga merupakan bagian dari komunitas diaspora. Pembahasan ini diharapkan mampu untuk mengatahui kondisi dari subjek diaspora Afrika di Amerika Serikat, rintangan-rintangan yang mereka hadapi dan strategi bertahan yang mereka terapkan dengan tujuan untuk dikenal dan diterima oleh masyarakat dominan. Permasalahan-permasalahan tersebut akan dianalisa melalui teori poskolonial tentang hibriditas dari Homi K. Bhabha. Teori ini sesuai untuk mendiskusikan topik pembahasan karena hidup dalam diaspora menyebabkan masyarakat to memiliki identitas ganda. Di samping itu, analisis poskolonial tidak hanya membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan negara penjanjah dan negara jajahan, tetapi juga dapat diterapkan untuk membahas hubungan antara masyarakat minoritas dan mayoritas. Hasil dari pembahasan ini menujukkan bahwa menjadi hibrid di tengah-tengah budaya dominan bagi subjek-subjek diaspora adalah suatu keharusan dengan tujuan agar dapat diterima oleh masyarakat dominan. Dalam pembahasan ini menjadi hibrid berarti subjek diaspora dapat mengadaptasi budaya dominan tanpa kehilangan budaya lokal seluruhnya. Konstruksi hibriditas dalam kasus ini menjadikan budaya Amerika sebagai yang lebih dominan dan orientasi ideal bagi subjek diaspora yang direpresentasikan dalam novel. The Beautiful Things That Heaven Bears adalah suara dari Mengestu untuk menyampaikan bagaimana kondisi subjek diaspora Africa di Amerika Serikat.
KAJIAN PSIKOLOGI WANITA TOKOH UTAMA NOVEL AIR MATA TUHAN KARYA AGUK IRAWAN M.N. Zeni Ernawati; Sri Mariati; Titik Maslikatin
Publika Budaya Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractA novel entitled Air Mata Tuhan as a study of woman psychology was focused on the main character. This research aimed to know the forms of women’s personality, and to describe the linkage between structural elements and psychology aspect contained on the main character in the Novel entitled Air Mata Tuhan written by Aguk Irawan M.N. The used research method was qualitative by using literature study. The data contained in the Novel entitled Air Mata Tuhan were also analyzed. The research result indicated that structural elements included title, theme, characterization, character, and conflict has the linkage. The analysis of woman psychology showed that (1) the woman characteristic was beauty included beauty of inside and outside, tenderness, humility, nurturing, easily disappointed and rise up again; (2) woman and family, included woman as a wife, woman as a partner of life; and (3) woman and depression. Those characteristics were belonged to the main character in the Novel entitled Air MataTuhan named Fisha.
WOMEN TRAFFICKING IN SOMALY MAM’S THE ROAD OF LOST INNOCENCE: GENETIC STRUCTURALISM ANALYSIS Fatin Amar; Dina Dyah Kusumayanti
Publika Budaya Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/pb.v5i2.6153

Abstract

AbstractThe Road of Lost Innocence is the only one Somaly Mam's novel that was published in 2008, which set in the Cambodian twentieth century. This novel is focused on the perception of binary opposition between the trafficking and the anti-trafficking actions. The trafficking action belongs to the traffickers who are pro to women trafficking and the other one belong to the victims who are contra with the women trafficking practice. There are three goals of this study. The first is to find out about the women trafficking that are portrayed in The Road of Lost Innocence novel. This step will be focused on the binary opposition between the trafficking action in the life of lower class with the anti-trafficking action that are depicted in the novel. The second is to know about the social condition of Cambodian society in the twentieth century. The third is to know about the world view of the author that is represented in the novel. This article begins with the analysis of the novel and uses genetic structuralism theory. By applying Goldmann theory of genetic structuralism, we can analyze the structure of the text and Cambodian social structure as well as the world view of the collective subject of the author. The result of the study show that the binary opposition between master and victim thoughts in the trafficking practice that is represented in the novel intertwines with social-cultural condition in Cambodia in the twentieth century. The world view of the collective subject that the writer represents in the novel is anti-trafficking practice by resisting the existence of trafficking practice and struggle for humanity for all people.
ISTILAH-ISTILAH YANG DIGUNAKAN PADA ACARA RITUAL PETIK PARI OLEH MASYARAKAT JAWA DI DESA SUMBERPUCUNG KABUPATEN MALANG (KAJIAN ETNOLINGUISTIK) Bebetho Frederick Kamsiadi; Bambang Wibisono; Andang Subaharianto
Publika Budaya Vol 1 No 1 (2013): November
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menjelaskan bentuk, makna, dan penggunaan istilah-istilah yang digunakan pada ritual petik pari oleh masyarakat Jawa di Desa Sumberpucung Kabupaten Malang. Figur Dewi Sri menjadi simbol dan kerangka acuan berpikir bagi orang Jawa khususnya petani Jawa di dalam prosesi siklus hidup yaitu perkawinan, memperlakukan rumah dan tanah pertaniannya. Untuk melaksanakan tradisi petik pari terdapat beberapa tahapan. Tahapan-tahapan tersebut antara lain, nyiapne weneh terdapat istilah kowen, ngekum pari dan ngentas pari; bukak lahan terdapat istilah tamping, ngisi banyu, mbrojol, mopok, nglawet, nggaru dan ndhadhag; tandur terdapat istilah ndhaut, nas atau geblake dina, ngerek dan tandur; ngrumat terdapat istilah lep, kokrok, ngemes dan matun; petik pari terdapat istilah uborampen, sega ingkung, sega gurih, sega tumpeng atau sega gunungan, sega golong, iwak, kulupan, gedhang raja, bumbu urap dan cok bakal yang berisi bumbu pepek, wedhi, dhedhek lembut, kaca, suri, wedhak, janur kuning, kembang telon, menyan, dhuwit receh dan badhek; dan panen terdapat istilah ngerit, nggeblok, nyilir, nampeni dan ngiteri ghabah. Istilah-istilah yang terdapat dalam setiap tahapan tersebut mengalami perluasan makna, penyempitan makna dan tidak mengalami perubahan makna. Analisis etnolinguistik dalam penelitian ini membandingkan istilah pertanian yang digunakan masyarakat Jawa di Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang dengan istilah pertanian yang digunakan masyarakat Madura di Kabupaten Jember.
REALITAS SOSIAL DAN REPRESENTASI FIKSIMINI DALAM TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA Kartikasari Ratih; Anoegrajekti Novi; Maslikatin Titik
Publika Budaya Vol 2 No 1 (2014): Maret
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fiksimini merupakan karya sastra 140 karakter dan berkembang di media sosial. Penelitian ini bertujuanmendeskripsikan aspek masyarakat, pengarang dan karya sastra dalam Fiksimini. Penelitian ini menggunakanmetode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ditemukan bahwa Fiksimini merepresentasikan perubahan sosialdan realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat serta pengaruh hubungan antara karya sastra dan masyarakatpengguna internet terhadap perkembangan bentuk Fiksimini.Kata Kunci: Fiksimini, sosiologi sastra, media sosial, internet.
KAJIAN PSIKOLOGI HUMANISTIK NOVEL MERPATI BIRU KARYA ACHMAD MUNIF Friesca Ardi Martha Prahayu; Titik Maslikatin; B. M. Sri Suwarni Rahayu
Publika Budaya Vol 2 No 2 (2014): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Novel menggambarkan kehidupan nyata yang terjadi dalam kehidupan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan unsur-unsur intrinsik dan mendeskripsikan nilai-nilai psikologi humanistik empat tokoh dalam novel Merpati Biru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua tokoh dalam novel Merpati Biru memiliki lima macam kebutuhan dan dua tokoh lainnya memiliki empat macam kebutuhan. Judul novel memiliki arti konotatif. Tema mayor dalam novel Merpati Biru memunculkan beberapa konflik. Watak beberapa tokoh berubah terkait dengan tema-tema yang ada dalam novel. Kata Kunci: kebutuhan, judul, konflik, tema.
BANJIR BANDANG DI KODYA SEMARANG TAHUN 1990 (THE MUNICIPALITY OF SEMARANG IN 1990) Eko Hari Priyanto; Nawiyanto Nawiyanto
Publika Budaya Vol 2 No 3 (2014): Nopember
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan, menganalisis dan mengungkap bencana banjir bandang di Kodya Semarang pada tahun 1990. Dalam penggarapannya metode ini menggunakan sejarah lingkungan dengan memanfaatkan sumber-sumber yang di dapat baik tertulis maupun lisan, yang berkaitan dengan topik bahasan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bencana banjir bandang mencerminkan rusaknya keseimbangan lingkungan khususnya di Kodya Semarang yang dimana kejadian akibat rusaknya lingkungan dari arah gunung pati, dan juga rusaknya hutan lindung yang berubah menjadi hutan produksi sehingga sistem vegetasi tidak mampu menyerap air ketika hujan. Perubahan lingkungan tersebut bisa dilihat dari kondisi ekologis, demografis, ekonomi, dan sosial budaya yang ada di Kodya Semarang. Proses terjadinya banjir bandang tidak serta merta datang begitu saja curah hujan tinggi yang berkepanjangan, sistem topografi, kapasitas volume air yang tidak cukup menampung air bah. Sehingga banjir meluluh-lantakkan pemukiman warga pada Jum’at dinihari 26 Januari 1990. Dampak banjir bandang tidak hanya terletak pada dampak ekonomi saja, melainkan berdampak pada kondisi sosial masyarakat Semarang. Beberapa daerah yang terkena dampak banjir bandang di Semarang meliputi, komplek Sampangan dan Bongsari yang paling parah. Bencana banjir bandang mengundang respons dan tanggapan dari pemerintah dan masyarakat untuk segera mengatasi bencana tersebut dan dapat meringankan beberapa para korban banjir. Kata Kunci : Lingkungan, Banjir Bandang, Semarang ABSTRACT This study is aimed to describe, analyze and uncover the flood disaster in the Municipality of Semarang in 1990. In executing the research, the study uses the historical method by utilizing resources that can be either written or oral, relating to the topic. The results of this study indicate that the flood disaster reflected the damage of environmental balance, especially in the Municipality of Semarang where the incident took place due to the damage of environment from Pati Mountain. It was also clue to the destruction of protection forest which turned into production forest, thus the vegetation system cannot absorb water when it rains. The changes in environment, be seen from ecologic condition, demographic, economic, and social culture in the Municipality of Semarang. The process of flood did not suddenly come. Because of high rainfall, topography system, and the capacity of water volume which is not enough to accommodate the flood, the flood destroyed the residential area on Friday morning January 26th, 1990. The impacts of the flood were not only in the economic but also on the social conditions of Semarang people. Some of the areas affected by floods in Semarang include, Sampangan residence and Bongsari was the most severe. Flood disaster provoked responses from the government and society to immediately overcome the disaster and can ease the burden of the flood victims. Keywords: environment, floods, Semarang

Page 10 of 14 | Total Record : 133