cover
Contact Name
Putu Indra Christiawan
Contact Email
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Media Komunikasi Geografi
ISSN : 02168138     EISSN : 25800183     DOI : -
MKG is a journal that facilitates the interests of lecturers, teachers and the academic community to communicate articles from research results and strengthen the exchange of ideas from academic reviews in the field of geography. The academic articles include research and reviews of studies in Human Geography and Physical Geography, population and environmental reviews, regional issue investigations, resource management, disaster management, remote sensing techniques (RS) and the application of geographical information system (GIS) and in-depth discussion on the development of standards in education and geography teaching, both at school and college level.
Arjuna Subject : -
Articles 356 Documents
Analisis Spasial Tingkat Eksposur Wilayah terhadap Bahaya Banjir di Kabupaten Sekadau Muka Franciskus; Suhadi Purwantara; Mohammad Novandy Primanto
Media Komunikasi Geografi Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v27i1.113889

Abstract

Banjir merupakan salah satu ancaman hidrometeorologi yang dominan di Kabupaten Sekadau dan berkaitan erat dengan dinamika hidrologi Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara spasial tingkat eksposur wilayah terhadap bahaya banjir sebagai landasan dalam penyusunan upaya mitigasi yang lebih terarah dan terukur. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) melalui perangkat lunak QGIS. Analisis dilakukan dengan teknik overlay intersect antara peta zona bahaya banjir dari platform InaRISK BNPB dan peta batas administratif kecamatan di Kabupaten Sekadau. Hasilnya menunjukkan bahwa total area yang terpapar banjir mencapai 563.844,48 hektar dengan distribusi yang tidak merata di tujuh kecamatan. Temuan ini menegaskan adanya perbedaan konseptual antara eksposur fisik dan risiko sosial. Secara spasial, Kecamatan Nanga Taman dan Belitang Hulu memiliki eksposur fisik terbesar, masing-masing seluas 127.349,00 Ha (22,58%) dan 115.213,55 Ha (20,43%), yang dipengaruhi oleh kondisi morfologi wilayah berupa zona cekungan hidrologis yang memicu efek penyempitan aliran (bottleneck effect). Di sisi lain, Kecamatan Sekadau Hilir justru menunjukkan tingkat risiko sosial tertinggi dengan jumlah penduduk terdampak mencapai 72.204 jiwa, meskipun luas wilayah terdampaknya berada pada kategori sedang. Kondisi ini dipengaruhi oleh pola permukiman memanjang (ribbon development) di sepanjang bantaran sungai yang meningkatkan kerentanan penduduk. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa besarnya luas paparan secara fisik tidak selalu sejalan dengan tingkat kerentanan sosial. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang mengintegrasikan zonasi risiko secara komprehensif, guna mendukung perumusan strategi adaptasi bencana yang lebih responsif terhadap dinamika hidrologi DAS Kapuas dan pola aktivitas masyarakat.
Perbandingan Luas Area Ekosistem Mangrove Pulau Tanakeke menggunakan Algoritma Random Forest dan Algoritma CART Amal Arfan; Wahidah Sanusi; Muhammad Faisal Juanda; Imam Muhajir Utama; Muhammad Arib Musba Amalul
Media Komunikasi Geografi Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v27i1.113941

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan luas ekosistem mangrove menggunakan Algoritma Random Forest dan Algoritma CART. Data sampel diproses menggunakan teknik fotogrametri dan dimasukkan ke dalam Google Earth Engine (GEE) melalui API. Pengumpulan data dilakukan dengan metode in situ dan menggunakan drone. Teknik pengambilan sampel acak sistematis digunakan untuk memilih titik sampel berdasarkan interval yang teratur. Pengamatan lapangan dilakukan langsung di lokasi mangrove dengan dokumentasi foto dan koordinat GPS. Penggunaan drone mencakup pengambilan foto transek tegak lurus dan miring untuk memastikan representasi visual habitat. Hasil menunjukkan bahwa algoritma Random Forest (RF) lebih unggul daripada CART dalam pemetaan ekosistem mangrove di Pulau Tanakeke. Hasil RF memperkirakan luas mangrove sebesar 807,24 hektar, sedangkan CART menghasilkan perkiraan yang lebih besar, yaitu 1.097,90 hektar, namun lebih rentan terhadap overfitting karena membangun satu pohon keputusan yang sangat spesifik terhadap data latih tanpa mekanisme pengacakan. RF menunjukkan akurasi sebesar 92,99% dengan nilai Kappa yang tinggi, yang menunjukkan kesesuaian yang sangat baik antara prediksi dan kondisi aktual di lapangan. Sebaliknya, meskipun CART mencapai akurasi sebesar 90,05%, nilai Kappa-nya lebih rendah, yang menunjukkan bahwa stabilitas RF dalam menangani variasi data lebih baik daripada CART. Perbedaan estimasi menunjukkan bahwa overestimasi oleh CART dapat memengaruhi perencanaan pesisir, sehingga Random Forest lebih tepat untuk mendukung kebijakan pengelolaan mangrove.
Analisis Multi-Temporal Degradasi dan Fragmentasi Ekosistem Mangrove di Babulu Laut, Kalimantan Timur Tahun 2006–2026 Fransisko Sitanggang; Arum Sekar Kedhaton; Sutriani Sutriani; Djayus Djayus
Media Komunikasi Geografi Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v27i1.114048

Abstract

Ekosistem mangrove memiliki peranan krusial dalam menjaga kestabilan kawasan pesisir, mendukung keberagaman spesies, serta melindungi pantai dari erosi. Namun, peningkatan aktivitas manusia seperti pengembangan budidaya perairan dan perubahan penggunaan lahan pesisir telah menyebabkan penurunan kualitas mangrove di berbagai daerah pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penurunan dan pemisahan ekosistem mangrove di Babulu Laut, Kalimantan Timur, dalam rentang waktu 2006 hingga 2026 dengan memanfaatkan teknik penginderaan jauh multitemporal. Citra satelit Landsat dianalisis menggunakan Indeks Vegetasi Diferensial Normal (NDVI) untuk memperkirakan kepadatan vegetasi mangrove dan Indeks Air Diferensial Normal yang Dimodifikasi (MNDWI) untuk menemukan badan air. Hasilnya menunjukkan bahwa luas mangrove menyusut dari sekitar 435,1 ha pada tahun 2006 menjadi 320,9 ha pada tahun 2026, dengan kehilangan sekitar 114,2 ha, atau 26,2% dari total area mangrove yang ada. Analisis MNDWI menunjukkan adanya peningkatan area badan air yang sejalan dengan berkurangnya hutan mangrove. Temuan ini menekankan pentingnya pengelolaan yang berkelanjutan terhadap hutan mangrove dan pemantauan yang terus menerus menggunakan penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk mendorong perlindungan ekosistem pesisir.
Coastal Flood Inundation Mapping and Hazard Zonation of Bandar Lampung City Using GIS and OpenStreetMap Agung Mahadi Putra Perdana; Meida Cahyo Untoro; Ilyas Ilyas; Mugi Prasetiawan; Amir Faisal
Media Komunikasi Geografi Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v27i1.114173

Abstract

The coastal area of Bandar Lampung City is increasingly exposed to flood inundation from extreme rainfall and tidal flooding associated with sea-level rise, requiring an integrated spatial mapping approach. This study maps coastal flood inundation using Sentinel-1 SAR imagery, develops flood hazard zonation through the Analytical Hierarchy Process (AHP), and disseminates the results through an OpenStreetMap-based WebGIS platform. The methodology combines Random Forest classification of Sentinel-1 dual-polarization imagery (VV/VH) using fourteen feature variables, AHP–Weighted Linear Combination for hazard zonation based on seven physical parameters (CR = 0.047), LSTM-based prediction, and Smart GIS Dashboard development using PostGIS, GeoServer, Leaflet, and MapLibre. The results indicate 1,247 ha of inundated area, representing 13.9% of the 8,956 ha study area, mainly concentrated in Teluk Betung Selatan and Panjang. Hazard zonation identifies 847 ha as high hazard, 1,932 ha as medium hazard, and 6,177 ha as low hazard. High-hazard zones expose 4,312 buildings, 27.3 km of roads, and 23 critical facilities. The Random Forest model achieved 93.7% accuracy, while the WebGIS platform obtained a SUS score of 74.6. Unlike previous isolated mapping approaches, this study integrates machine learning, multi-criteria hazard assessment, asset exposure analysis, and open-source WebGIS dissemination to support coastal mitigation and spatial planning.
Pemetaan Titik Rawan Kecelakaan Lalu Lintas di Jalan Trans Maumere-Ende Kecamatan Paga Kabupaten Sikka Magdalena Dua Nika; Arfita Rahmawati; Tugma Jaya Manalu
Media Komunikasi Geografi Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v27i1.114948

Abstract

Kecelakaan di jalur Trans Maumere-Ende dipicu volume tinggi, infrastruktur kurang, dan perilaku berisiko. Penelitian ini memetakan lokasi rawan, menganalisis faktor penyebab, dan merumuskan mitigasi secara spasial. Metode penelitian campuran, dan dengan menganalisis 39 kejadian (2022–2024) menggunakan Z-Score & Cusum, ditambah observasi, kuesioner (96), dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa black site di Wolowiro (Z=1,43), Lowolabo (Z=0,74), Aebubu (Z=0,05); black spot di tikungan Watas-Woroae, SPBU Umalelu, Jembatan Kaliwajo–Arawawo. Titik rawan mengelompok di kontur ekstrem (>15°), dengan faktor jalan (84%), lingkungan (82%), manusia (57%), kendaraan (56%). Mitigasi: perbaikan jalan, pembersihan vegetasi, rambu/lampu, dan edukasi. Implikasi dari penelitian menekankan bahwa peta risiko menjadi acuan prioritas anggaran, pemeliharaan musiman, dan peringatan dini untuk kebijakan transportasi proaktif dan terintegrasi RTRW.
Kajian Geografis Industri Penyulingan Sopi melalui Perspektif Keruangan di Desa Tapenpah Maria Amanda Bimeni; Agustinus Hale Manek; Vellani Losenni Undra
Media Komunikasi Geografi Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v27i1.115036

Abstract

Industri penyulingan sopi merupakan salah satu industri rumah tangga berbasis sumber daya lokal yang berkembang di Desa Tapenpah, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara. Keberadaan industri ini tidak hanya berperan sebagai sumber mata pencaharian masyarakat, tetapi juga membentuk organisasi ruang pedesaan melalui pemanfaatan sumber daya lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis sebaran spasial lokasi industri penyulingan sopi, mengidentifikasi faktor-faktor geografis yang memengaruhi keberadaan lokasi industri, serta mengkaji dampaknya terhadap aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan visual dan interpretatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, serta pencatatan koordinat lokasi menggunakan Global Positioning System (GPS), kemudian divisualisasikan dalam bentuk peta menggunakan ArcGIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 62 lokasi industri penyulingan sopi yang tersebar di tiga dusun. Keberadaan lokasi industri dipengaruhi oleh kedekatan dengan pohon lontar sebagai sumber bahan baku, ketersediaan kayu bakar, dan kondisi musim yang memengaruhi produksi nira. Distribusi lokasi industri menunjukkan bahwa aktivitas penyulingan berkembang menyatu dengan kawasan permukiman dan kebun lontar sehingga membentuk organisasi ruang industri tradisional yang khas sebagai bentuk adaptasi masyarakat terhadap kondisi lingkungan. Aktivitas penyulingan sopi juga memberikan kontribusi terhadap penguatan nilai sosial dan budaya, peningkatan pendapatan rumah tangga, serta pemanfaatan limbah cair sebagai penyiram tanaman. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan keruangan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara karakteristik wilayah, pemanfaatan sumber daya lokal, dan perkembangan industri tradisional di pedesaan.