cover
Contact Name
Achmad Zainal Arifin, Ph.D
Contact Email
achmad.arifin@uin-suka.ac.id
Phone
+6281578735880
Journal Mail Official
sosiologireflektif@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Laboratorium Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Jl. Adisucipto 1, Yogyakarta, Indonesia, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Reflektif
ISSN : 19780362     EISSN : 25284177     DOI : https://doi.org/10.14421/jsr.v15i1.1959
JSR focuses on disseminating researches on social and religious issues within Muslim community, especially related to issue of strengthening civil society in its various aspects. Besides, JSR also receive an article based on a library research, which aims to develop integrated sociological theories with Islamic studies, such as a discourse on Prophetic Social Science, Transformative Islam, and other perspectives.
Articles 282 Documents
Nurturing the Earth through Islamic Ethical Practices and Community-Based Permaculture in Indonesia Ummi Hanik Esaputri; Nada Nadhifa; Hanif Budiman; Putu Ayu Pramanasari Agustiananda
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/5mjcq856

Abstract

The global environmental crisis, marked by climate change, deforestation, and ecosystem degradation, has brought widespread social impacts, including economic inequality, health crises, and food insecurity. In Indonesia, environmental pressures have intensified due to unsustainable agricultural practices, rapid urbanization, and extractive industries, necessitating new development models that prioritize environmental regeneration and social resilience. This study aims to explore how Islamic ecological principles are operationalized through permaculture practices at the Bumi Langit Institute and Kedai Teh Umran in Yogyakarta. This research employed a qualitative method with an interpretive approach. Data were collected through semi-structured interviews, participant observation, and document analysis conducted at both research sites. The data were then analyzed using thematic analysis techniques based on Groat and Wang’s six-phase framework. The findings reveal that the principles of khilafah (stewardship), barakah (blessing), and mizan (balance) have been effectively embodied in agroforestry systems, waste-to-resource cycles, and community development initiatives grounded in Islamic ethics. The study implies that faith-based and community actors play a vital role in addressing contemporary ecological crises and highlights the need for stronger partnerships between religious institutions, academic bodies, and environmental practitioners to advance spiritually grounded innovations in the Anthropocene era.  Krisis lingkungan global yang ditandai oleh perubahan iklim, deforestasi, dan degradasi ekosistem telah membawa dampak sosial yang luas, termasuk ketidaksetaraan ekonomi, krisis kesehatan, dan kerawanan pangan. Di Indonesia, tekanan lingkungan semakin meningkat akibat praktik pertanian tidak berkelanjutan, urbanisasi cepat, dan industri ekstraktif, sehingga diperlukan model pembangunan baru yang berfokus pada regenerasi lingkungan dan ketahanan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana prinsip-prinsip ekologi Islam dioperasionalkan melalui praktik permakultur di Bumi Langit Institute dan Kedai Teh Umran di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interpretatif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan analisis dokumen di Bumi Langit Institute dan Kedai Teh Umran. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis tematik berdasarkan kerangka enam fase Groat dan Wang. Temuan penelitian menunjukkan bahwa prinsip khilafah, keberkahan (barakah), dan keseimbangan (mizan) telah berhasil diwujudkan dalam sistem agroforestri, siklus limbah, dan pengembangan komunitas berbasis etika Islam. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa aktor berbasis agama dan komunitas memiliki peran vital dalam mengatasi krisis ekologi kontemporer, serta mendorong perlunya kemitraan antara lembaga keagamaan, akademisi, dan praktisi lingkungan untuk memperkuat inovasi berbasis nilai spiritual di era Antroposen.
Faith Blocks Fiber: The Effect of Religiosity on Internet Adoption among Indonesia’s Digital Immigrants Yanti, Mery
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/sns1dg53

Abstract

Indonesia has experienced a rapid increase in internet adoption over the past decade, including among older adults often labeled as digital immigrants. Despite this growth, limited research has explored how sociocultural factors, particularly religiosity, shape digital engagement among this demographic. This study investigates the extent to which religiosity affects internet adoption among digital immigrants in Indonesia, while controlling for welfare, happiness, education, gender, and employment status. Adopting a quantitative design, the research employs data from the fifth wave of the Indonesian Family Life Survey (IFLS 2014–2015), focusing on individuals aged 35 to 69. Core variables were operationalized using validated survey instruments and analyzed through binary logistic regression via STATA 15. The finding reveals a significant negative correlation between religiosity and internet use, indicating that higher levels of religious commitment may inhibit digital engagement. Conversely, education, welfare, and happiness exhibit positive associations, with formal education emerging as the most robust predictor. The implication of this finding is that digital inclusion initiatives must be attuned to cultural and religious contexts to promote equitable and meaningful access to digital technologies. Penggunaan internet di Indonesia meningkat pesat dalam satu dekade terakhir, termasuk di kalangan digital immigrant, yaitu orang dewasa yang mulai mengenal teknologi di usia lanjut. Meski jumlah pengguna dari kelompok usia ini terus bertambah, faktor-faktor sosial budaya yang memengaruhi keterlibatan mereka dalam dunia digital, khususnya aspek religiusitas masih jarang diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana religiusitas memengaruhi penggunaan internet di kalangan digital immigrants di Indonesia, dengan mempertimbangkan juga faktor kesejahteraan, kebahagiaan, pendidikan, jenis kelamin, dan status pekerjaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data dari Indonesian Family Life Survey (IFLS) tahun 2014–2015, yang mencakup responden berusia 35 hingga 69 tahun. Variabel-variabel kunci dianalisis menggunakan regresi logistik biner dengan bantuan STATA 15. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat religiusitas yang tinggi berkaitan dengan kemungkinan lebih rendah untuk menggunakan internet. Sebaliknya, pendidikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan berhubungan positif dengan penggunaan internet, dengan pendidikan menjadi faktor paling kuat. Implikasi dari temuan ini adalah bahwa strategi perluasan akses digital sebaiknya mempertimbangkan nilai-nilai budaya dan agama sehingga dapat mendorong pemanfaatan teknologi yang lebih inklusif dan diterima masyarakat.
Proliferasi Pemikiran Sosial Kritis: A Review Essay Gunawan Wibisono
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/46c6tz11

Abstract

Extract The genealogy of critical social thought finds its constitutive locus in the long-standing debates surrounding social science methodologies, from positivism to postmodernism and poststructuralism. This book delineates the framework of critical humanities knowledge while simultaneously engaging with a wide array of contemporary social issues. Although grounded in sociological reasoning, the book adopts an interdisciplinary perspective, addressing themes such as medical regimes, the political economy of higher education, and the vulnerabilities of digital subjects. These include challenges such as data concentration, surveillance capitalism, algorithmic power, and the logic of sharing economies within digital capitalism. The urgency of this publication lies in its potential to balance discourses of development with emancipatory and democratic ideals while also providing an academic impetus to strengthen civil supremacy in society. 
Ecotheology in Action: The Strategic Role of Religious Identity in FNKSDA’s Environmental Movement Nur Anis Rochmawati
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 20 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rhkaya21

Abstract

The escalating ecological crisis driven by capitalist expansion has prompted new approaches to environmental activism, including those rooted in religious traditions. In Indonesia, structural failures in natural resource governance have further marginalized rural communities, prompting faith-based responses. This research explores how the Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) strategically mobilizes religious identity and cultural practices to advance ecological justice. Using a qualitative, descriptive-interpretative method, the research gathers data through library research and online ethnographic observation, including organizational publications and digital media. Analysis combines interpretive tracing of ecotheological thought and descriptive mapping of FNKSDA's advocacy strategies. The findings show that FNKSDA integrates progressive Islamic values with Nahdliyyin cultural traditions, including pesantren, silaturahmi, and istighāthah, to build grassroots solidarity and mobilize resistance. Religious identity functions not only as a moral framework but also as a strategic resource in socio-ecological movements. The implication of this research is that religious traditions can play a transformative role in environmental activism, offering alternative frameworks of resistance beyond secular and legal-political approaches. Krisis ekologi yang semakin meningkat akibat ekspansi kapitalisme telah mendorong lahirnya pendekatan-pendekatan baru dalam aktivisme lingkungan, termasuk yang berakar pada tradisi keagamaan. Di Indonesia, kegagalan struktural dalam tata kelola sumber daya alam semakin meminggirkan komunitas pedesaan, sehingga mendorong munculnya respons berbasis agama. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) secara strategis memobilisasi identitas keagamaan dan praktik budaya dalam memperjuangkan keadilan ekologis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-interpretatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dan observasi daring terhadap publikasi FNKSDA dan media digital. Analisis dilakukan dengan menelusuri pemikiran ekoteologis FNKSDA secara interpretatif serta memetakan strategi advokasinya secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FNKSDA mengintegrasikan nilai-nilai Islam progresif dengan tradisi budaya Nahdliyyin—termasuk pesantren, silaturahmi, dan istigasah—untuk membangun solidaritas akar rumput dan mengorganisasi perlawanan. Identitas keagamaan tidak hanya berfungsi sebagai kerangka moral, tetapi juga sebagai sumber daya strategis dalam gerakan sosial-ekologis. Implikasi penelitian ini adalah bahwa tradisi keagamaan memiliki potensi transformatif dalam aktivisme lingkungan, menawarkan kerangka perlawanan alternatif di luar pendekatan sekuler dan politik-hukum.
From Fandom to Frontline: Indonesian K-Popers, Islamic-Pop Activism, and Digital Solidarity for Palestine Ni'am, Mohammad Fattahun
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 20 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/s56vt305

Abstract

The recent resurgence of pro-Palestinian activism among Indonesian youth reflects not only growing humanitarian concern but also the evolving role of digital communities in political discourse. Within this landscape, K-pop fandoms—once seen as apolitical entertainment spaces—have emerged as unexpected yet powerful platforms for solidarity movements. This research aims to examine how Indonesian K-Popers, particularly the Xkwavers community, construct digital solidarity networks for Palestine. This study employs a qualitative case study approach, utilizing digital data collection techniques through Xkwavers’ online content, virtual participant observation, and in-depth interviews with community members. Data were analyzed using thematic coding, guided by Manuel Castells’ theory of the network society, specifically his four dimensions of power. The findings reveal that Xkwavers operates not only as a fandom collective but also as a religio-cultural movement that mobilizes donations, performs BDS campaigns, and shapes pro-Palestinian narratives through Islamic-pop aesthetics. Symbolic figures such as Fuad Naim serve as authoritative nodes who legitimize religious and political messages, amplified further by algorithmic logics of social media platforms. The study shows that K-pop-based activism is neither spontaneous nor purely cultural; rather, it is the outcome of complex power configurations within digitally mediated networks. The implication of this research is the need to recognize fandom-based digital communities as emerging sociopolitical actors in shaping transnational solidarity and public discourse in the digital age. Meningkatnya kembali aksi dukungan terhadap Palestina di kalangan anak muda Indonesia tidak hanya menunjukkan kepedulian kemanusiaan, tetapi juga peran baru komunitas digital dalam wacana politik. Di tengah fenomena ini, fandom K-pop—yang sebelumnya dianggap sekadar ruang hiburan apolitis—berubah menjadi wadah solidaritas yang aktif dan berpengaruh. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana K-Popers Indonesia, khususnya komunitas Xkwavers, membangun jaringan solidaritas digital untuk Palestina. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berupa studi kasus dengan teknik pengumpulan data secara digital pada konten-konten Xkwavers, observasi virtual partisipatif, dan dilengkapi dengan wawancara mendalam terhadap anggota komunitas. Data dianalisis menggunakan teknik pengodean tematik dengan kerangka teori masyarakat jaringan dari Manuel Castells, khususnya empat bentuk kekuasaan dalam jaringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Xkwavers tidak hanya berperan sebagai komunitas penggemar, tetapi juga sebagai gerakan budaya-religius yang menggalang donasi, melakukan kampanye BDS, dan membangun narasi pro-Palestina melalui estetika Islam-pop. Figur seperti Fuad Naim menjadi simpul otoritatif yang memberi legitimasi religius dan politik, diperkuat oleh algoritma media sosial. Penelitian ini menunjukkan bahwa aktivisme berbasis K-pop bukanlah gerakan spontan atau murni budaya, melainkan hasil dari konfigurasi kuasa yang kompleks dalam jaringan digital. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya mengakui komunitas digital berbasis fandom sebagai aktor sosial-politik baru dalam membentuk solidaritas lintas negara dan wacana publik di era digital.
Sociology of Ereignis: A New Ontological Foundation for Prophetic Social Science Rifqi Khairul Anam
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 20 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/k30v0343

Abstract

In Indonesia’s intellectual landscape, Kuntowijoyo’s Prophetic Social Science emerged as a critical response to the dominance of Western positivism, which has been criticized for its inability to grasp the ethical and transcendental dimensions of social reality. Despite its transformative vision, this framework has long faced a fundamental challenge: the absence of a coherent ontological foundation that could sustain its three pillars—humanization, liberation, and transcendence. This research aims to address that gap by proposing Heideggerian social ontology as a new philosophical basis for Prophetic Social Science. Using a qualitative method of critical conceptual analysis, this research examines key philosophical and sociological texts through a hermeneutic–phenomenological lens. The analysis proceeds through interpretive deconstruction and reflexive engagement to uncover the ontological and epistemological assumptions behind positivism and Heideggerian thought. The findings show that positivism’s ‘flat’ ontology cannot accommodate the prophetic vision, while Heideggerian social ontology provides a more authentic foundation for a Sociology of Ereignis—a framework that centers meaningful events, reflexivity, and disclosure. The implication of this research is that sociological inquiry, especially within Muslim societies, must be reoriented toward ontologically grounded and ethically engaged methodologies that take lived meaning and transcendence seriously. Dalam lanskap intelektual Indonesia, Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo lahir sebagai respons kritis terhadap dominasi positivisme Barat yang sering dianggap gagal memahami dimensi etis dan transendental dari realitas sosial. Meskipun memiliki visi yang transformatif, kerangka ini menghadapi tantangan mendasar berupa ketiadaan landasan ontologis yang kokoh untuk menopang tiga pilarnya—humanisasi, liberasi, dan transendensi. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab celah tersebut dengan mengusulkan ontologi sosial Heideggerian sebagai dasar filosofis baru bagi Ilmu Sosial Profetik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis konseptual kritis, membaca teks-teks filsafat dan sosiologi utama melalui lensa hermeneutik-fenomenologis. Analisis dilakukan melalui proses dekonstruksi interpretatif dan refleksi kritis untuk menyingkap asumsi ontologis dan epistemologis di balik positivisme dan pemikiran Heidegger. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ‘flat’ ontology dalam positivisme tidak mampu menampung visi profetik, sedangkan ontologi sosial Heideggerian menawarkan dasar yang lebih otentik bagi Sosiologi Ereignis—sebuah kerangka yang menempatkan peristiwa bermakna, refleksivitas, dan pengungkapan makna sebagai inti kajian. Implikasi penelitian ini adalah bahwa sosiologi, terutama dalam masyarakat Muslim, perlu diarahkan kembali pada metodologi yang berlandaskan ontologi dan komitmen etis, yang mampu menangkap makna dan dimensi transendensi secara lebih mendalam.
Ethical Politics beyond Power: The Alawiyyin’s Moral Engagement and Non-Electoral Participation in Democratic Indonesia Muflih, Abdullah Yusuf; Ajikontea, Haikal Akmal; Khotir, Tafrikhul
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 20 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/r29bpz03

Abstract

In Indonesia, debates around Islam and politics often revolve around tensions between secular democracy and religious identity, usually spotlighting mass-based movements or populist Islamism. However, the role of religious elites like The Alawiyyin—descendants of the Prophet Muhammad—remains understudied despite their subtle influence on political discourse. This study aims to examine how The Alawiyyin in Surakarta interpret Islamic politics and practice political participation without direct involvement in electoral processes. Employing a qualitative case study approach, it draws on data collected through semi-structured interviews, participant observation, and document analysis. The analysis uses triangulation techniques to ensure validity across multiple sources and methods. The study is framed by Bayat’s post-Islamism, Roy’s depoliticization thesis, Weber’s patrimonial authority, and Tilly’s concept of contentious politics. The findings indicate that for The Alawiyyin, politics is inherently ethical and inseparable from religious duty, where governance and leadership are regarded as moral responsibilities rather than instruments of power. Their participation is expressed through teaching, da’wah, and ethical dialogue, enabling them to influence civic and political values while maintaining independence from partisan agendas. The implication of this study is that Islamic political participation can extend beyond formal institutions, taking the form of ethical leadership and moral engagement that strengthen democratic pluralism in Indonesia. Di Indonesia, perdebatan tentang hubungan Islam dan politik sering berfokus pada ketegangan antara demokrasi sekuler dan identitas keagamaan, dengan sorotan utama pada gerakan massa atau Islamisme populis. Namun, peran elite agama seperti Alawiyyin—keturunan Nabi Muhammad—masih jarang dibahas meskipun mereka memiliki pengaruh halus dalam wacana politik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana komunitas Alawiyyin di Surakarta memahami politik dalam Islam dan bagaimana mereka terlibat dalam politik tanpa terlibat langsung dalam proses elektoral. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Analisis dilakukan dengan teknik triangulasi untuk menjaga validitas dari berbagai sumber dan metode. Penelitian ini menggunakan kerangka teori dari Bayat (post-Islamisme), Roy (depolitisasi Islamisme), Weber (otoritas patrimonial), dan Tilly (politik kontestasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagi komunitas Alawiyyin, politik tidak dapat dipisahkan dari etika keagamaan, di mana kepemimpinan dan tata kelola dipahami sebagai tanggung jawab moral, bukan sebagai sarana untuk meraih kekuasaan. Partisipasi politik mereka diekspresikan melalui pendidikan, dakwah, dan dialog etis yang memungkinkan mereka memengaruhi nilai-nilai sosial dan politik tanpa terikat pada kepentingan partai atau afiliasi politik tertentu. Implikasi penelitian ini adalah bahwa partisipasi politik Islam dapat melampaui batas-batas institusional formal dengan mewujud dalam bentuk kepemimpinan etis dan keterlibatan moral yang memperkuat pluralisme demokrasi di Indonesia.
Faith, Culture, and the River: Socio-Religious Dimensions of Waste Disposal Practices in Indonesia Alimin Alwi
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 20 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/16g92859

Abstract

Environmental degradation caused by poor waste management has become an urgent global issue, particularly in rapidly urbanizing cities like Makassar, Indonesia, where rivers have long been treated as natural dumping sites. This research aims to analyze how socio-cultural practices and Islamic religious values shape community behavior in waste disposal along Makassar’s riverbanks. Using a qualitative approach, the research employed in-depth interviews, observation, and documentation to capture the perspectives of residents, community leaders, and religious figures. Data were analyzed through thematic interpretation and triangulated to ensure validity and depth. The findings reveal that waste management behavior is strongly influenced by generational habits and weak social norms, while religious teachings emphasizing cleanliness as part of faith are not consistently translated into environmental action. The study further shows that collaboration between local government and religious institutions can strengthen environmental awareness and transform these values into concrete practices. The implication of this research is that integrating religious ethics with community-based environmental programs can create sustainable behavioral change and enrich sociological discourse on faith-based environmental movements. Degradasi lingkungan akibat pengelolaan sampah yang buruk telah menjadi isu global yang mendesak, terutama di kota-kota yang berkembang pesat seperti Makassar, Indonesia, dimana sungai sejak lama diperlakukan sebagai tempat pembuangan alami. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana praktik sosial-budaya dan nilai-nilai keagamaan Islam membentuk perilaku masyarakat dalam isu pembuangan sampah di sepanjang bantaran sungai Makassar. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi untuk menggali perspektif warga, tokoh masyarakat, dan pemimpin agama. Data dianalisis secara tematik dan divalidasi melalui triangulasi untuk memastikan kedalaman dan keabsahannya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perilaku pengelolaan sampah sangat dipengaruhi oleh kebiasaan turun-temurun dan lemahnya norma sosial, sementara ajaran agama tentang kebersihan sebagai bagian dari iman belum sepenuhnya diterapkan dalam tindakan lingkungan. Penelitian ini juga menemukan bahwa sinergi antara pemerintah daerah dan institusi keagamaan dapat memperkuat kesadaran lingkungan dan mentransformasikan nilai-nilai tersebut ke dalam praktik nyata. Implikasi penelitian ini adalah bahwa integrasi etika keagamaan dengan program lingkungan berbasis komunitas dapat menciptakan perubahan perilaku yang berkelanjutan serta memperkaya kajian sosiologis tentang gerakan lingkungan berbasis iman.
Fundamentals of Rural Development: A Review Essay Ahmad Mu'is; Lailatul Farida
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 20 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/4jsph511

Abstract

Extract In Fundamentals of Rural Development, Pattanaik examines rural transformation in contemporary India. Drawing on decades of empirical research, the book explores themes such as poverty alleviation, sustainable livelihoods, institutional reform, and participatory governance. Pattanaik integrates insights from development studies, economics, and rural sociology to challenge state-centric approaches, advocating for community-driven models rooted in local contexts. The book is organized into thematic sections covering historical foundations and urgent issues, including environmental degradation, gender disparities, and digital exclusion. Pattanaik engages with global discussions on neoliberal development, globalization, and ecological resilience, presenting a vision for rural futures that emphasizes human agency, equity, and sustainability. Similar to Ariyanto’s (2023) review of Scoones’ framework, this volume rejects technocratic oversimplifications and embraces complexity. As both a scholarly text and a practical guide, Fundamentals of Rural Development is an essential resource for researchers, development practitioners, and policymakers aiming to reimagine rural development beyond market-driven imperatives.
Genealogy, Symbolic Capital, and Power Reproduction in the Bani Qomaruddin Pesantren Community Wajdi, Ahmad Farid; Khabibullah, Muttaqin
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 20 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/13mn9259

Abstract

Genealogical documentation has long been a central tradition in Javanese pesantren communities, serving not only to trace lineage but also to preserve spiritual authority and cultural continuity. In Bani Qomaruddin, genealogy plays a significant role in shaping social relations, moral legitimacy, and institutional leadership. This research aims to examine how genealogical practice is capitalized as symbolic capital in socio-religious, economic, and political domains. Using a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews with key figures across sub-lineages, selected via purposive and snowball sampling. The data were analyzed using Miles, Huberman, and Saldaña’s interactive model, with Bourdieu’s theory of capital and field serving as the theoretical framework. Findings show that genealogy in Bani Qomaruddin operates as a dynamic field where various forms of capital—social, symbolic, economic, and political—are produced, converted, and contested. It also reveals that genealogical legitimacy functions as both a spiritual ethos and a mechanism for structuring authority and resource distribution. The implication of this study is that genealogical practice serves as a key instrument in the reproduction of power, solidarity, and identity within Indonesian Muslim society. Tradisi pencatatan silsilah telah lama menjadi bagian penting dalam masyarakat pesantren Jawa, tidak hanya untuk melacak garis keturunan, tetapi juga menjaga otoritas spiritual dan kesinambungan budaya. Di komunitas Bani Qomaruddin, praktik genealogis berperan besar dalam membentuk hubungan sosial, legitimasi moral, dan kepemimpinan kelembagaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana praktik genealogis dikapitalisasi sebagai modal simbolik dalam ranah sosial-religius, ekonomi, dan politik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap tokoh-tokoh kunci yang dipilih dengan teknik purposive dan snowball sampling. Data dianalisis dengan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña, dan menggunakan teori modal dan ranah dari Pierre Bourdieu sebagai kerangka teoritik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genealogis di Bani Qomaruddin merupakan arena dinamis tempat berbagai bentuk modal diproduksi, dikonversi, dan diperebutkan. Legitimasi genealogis juga berfungsi sebagai etos spiritual sekaligus mekanisme dalam pengelolaan otoritas dan distribusi sumber daya. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa praktik genealogis menjadi instrumen penting dalam reproduksi kekuasaan, solidaritas, dan identitas dalam masyarakat Muslim Indonesia.