cover
Contact Name
Achmad Zainal Arifin, Ph.D
Contact Email
achmad.arifin@uin-suka.ac.id
Phone
+6281578735880
Journal Mail Official
sosiologireflektif@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Laboratorium Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Jl. Adisucipto 1, Yogyakarta, Indonesia, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Reflektif
ISSN : 19780362     EISSN : 25284177     DOI : https://doi.org/10.14421/jsr.v15i1.1959
JSR focuses on disseminating researches on social and religious issues within Muslim community, especially related to issue of strengthening civil society in its various aspects. Besides, JSR also receive an article based on a library research, which aims to develop integrated sociological theories with Islamic studies, such as a discourse on Prophetic Social Science, Transformative Islam, and other perspectives.
Articles 282 Documents
Exploring Kuntowijoyo’s Concept of Prophetic Leadership and Its Relevance in Indonesian Muslim Society Syihabuddin, Muhammad; Huda, Luthfi Nurul
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/cme5rn08

Abstract

Exploring the concept of prophetic leadership as proposed by Kuntowijoyo and its significance in today's Indonesian Muslim holds immense value, given its enduring relevance and the deep interest it generates within the Indonesian Muslim community. The notions of liberation, humanization, and transcendence play a crucial role in establishing societal stability. This research seeks to elucidate Kuntowijoyo's idea of prophetic leadership and its contextualization within Muslim communities in Indonesia. The research methodology employed is qualitative-descriptive, involving a comprehensive review of literature pertaining to Kuntowijoyo's ideas. The findings demonstrated that the principles of liberation, transcendence, and humanization, which emerged as significant elements in Kuntowojoyo's prophetic leadership, were very applicable within the social and cultural milieu of Indonesia. The importance of understanding and implementing morality in leadership is emphasized by these ideals, with the goal of promoting stability and prosperity within the Indonesian Muslim community. Gagasan kepemimpinan profetik oleh Kuntowijoyo telah lama menjadi perhatian masyarakat Muslim di Indonesia, sehingga upaya untuk menggali konsep kepemimpinan profetik Kuntowijoyo dan relevansinya dalam masyarakat muslim saat ini menjadi sangat penting. Khususnya pada bagaimana liberasi, humanisasi, dan transendensi menjadi konsep kunci dalam menciptakan stabilitas masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep kepemimpinan profetik Kuntowijoyo dan bagaimana kontektualisasinya dalam masyarakat Muslim di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-destriptif dengan melakukan studi literatur terkait pemikiran Kuntowijoyo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai liberasi, transendensi, dan humanisasi yang menjadi konsep penting dalam kepemimpinan profetik Kuntowojoyo sangat relevan dalam konteks sosial dan budaya Indonesia. Nilai-nilai ini menjadi penegasan akan pentingnya pemahaman mendalam terhadap moralitas dan implementasinya dalam kepemimpinan, guna menciptakan stabilitas dan kesejahteraan dalam masyarakat Muslim Indonesia.
Examining Peacebuilding Strategies Amid Socio-Religious Conflicts: The Case of Pesantren Waria in Yogyakarta Salsabila, Astrid Syifa
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/5s2qy843

Abstract

The establishment of Pesantren Waria in Yogyakarta has faced various challenges, reflecting broader tensions between religious conservatism and the rights of transgender individuals in Indonesia. Since its founding, the pesantren has provided a safe space for waria (trans women) to practice their faith. However, it has encountered significant opposition, including its forced closure by the Front Jihad Islam (FJI) in 2016. This study aims to examine the conflict between Pesantren Waria and FJI and to identify appropriate peacebuilding interventions. The research focuses on understanding the socio-economic and religious dimensions of the conflict and how these factors have contributed to its escalation. This study employs a qualitative approach, including a literature review, interviews, and the use of Johan Galtung's ABC Triangle of Conflict and Lisa Schirch's peacebuilding model. The findings reveal that the conflict was driven not only by religious factors but also by socio-economic motivations, particularly FJI's desire to control local resources. While religious interpretation played a role, the conflict extended beyond theological debates. The study highlights the importance of involving local authorities, particularly the Yogyakarta Palace, in fostering sustainable peace. Effective interventions must consider the interests of all parties and the local context, rather than focusing solely on religious reconciliation. Pendirian Pesantren Waria di Yogyakarta menghadapi berbagai tantangan, hal ini mencerminkan ketegangan yang lebih luas antara konservatisme agama dan hak-hak individu transgender di Indonesia. Sejak awal pendiriannya, pesantren ini menyediakan ruang aman bagi waria (trans perempuan) untuk beribadah. Namun mendapat perlawanan signifikan, termasuk penutupannya secara pak sa oleh FJI (Front Jihad Islam) pada tahun 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konflik antara Pesantren Waria dan FJI serta menemukan intervensi perdamaian yang tepat. Fokus penelitian adalah memahami dimensi sosial-ekonomi dan agama dari konflik tersebut serta bagaimana faktor-faktor ini mempengaruhi eskalasinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berupa tinjauan literatur, interview, serta menggunakan kerangka analisis konflik Segitiga ABC Johan Galtung dan model perdamaian Lisa Schirch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik ini dipicu tidak hanya oleh alasan agama, tetapi juga faktor sosial-ekonomi, terutama keinginan FJI untuk mengendalikan sumber daya lokal. Sementara interpretasi agama berperan, konflik ini melampaui perdebatan teologis. Studi ini menekankan pentingnya keterlibatan otoritas lokal, khususnya Keraton Yogyakarta, dalam menciptakan perdamaian yang berkelanjutan. Intervensi yang tepat harus mempertimbangkan kepentingan semua pihak dan konteks lokal, bukan hanya berfokus pada rekonsiliasi agama.  
Preserving Cultural Identity Through Tahlilan: Strengthening Social Solidarity in Madura Jailani, Mohammad
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/8rsyag46

Abstract

The tahlilan tradition in Madura serves not only as a religious ritual but also as a significant social and cultural mechanism that strengthens communal bonds. In the context of Madura, tahlilan goes beyond prayer, representing solidarity, empathy, and social cohesion among community members. This study aims to analyze how tahlilan influences social solidarity and harmony within Madurese society, focusing on its role in community integration and the maintenance of social ties. A qualitative case study method was employed, involving interviews with local religious leaders, community figures, and participants in the tahlilan rituals, along with observations of religious practices in Pasean, Pamekasan. The results show that tahlilan plays a crucial role in reinforcing collective identity and social harmony in Madura. It fosters a sense of belonging and mutual support across social classes, while also serving as a mechanism for collective grieving and emotional expression. However, financial pressures related to hosting tahlilan can lead to social strain, particularly among lower-income families. This study highlights the cultural significance of tahlilan and its impact on social dynamics but acknowledges that further research is needed to explore economic challenges and evolving practices in different socio-economic contexts. Tradisi tahlilan di Madura tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai mekanisme sosial dan budaya yang memperkuat ikatan komunal. Dalam konteks Madura, tahlilan melampaui doa, mencerminkan solidaritas, empati, dan kohesi sosial di antara anggota masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana tahlilan memengaruhi solidaritas sosial dan harmoni dalam masyarakat Madura, dengan fokus pada peran tradisi ini dalam integrasi komunitas dan pemeliharaan hubungan sosial. Metode yang digunakan adalah studi kasus kualitatif, melibatkan wawancara dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan peserta tahlilan, serta observasi langsung terhadap praktik keagamaan di Pasean, Pamekasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahlilan berperan penting dalam memperkuat identitas kolektif dan harmoni sosial di Madura. Tradisi ini mendorong rasa memiliki dan saling mendukung di berbagai lapisan masyarakat, serta menjadi mekanisme untuk meredakan duka bersama. Namun, tekanan finansial terkait pelaksanaan tahlilan dapat menimbulkan beban sosial, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah. Penelitian ini menekankan pentingnya tahlilan secara budaya dan pengaruhnya terhadap dinamika sosial, namun diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi tantangan ekonomi dan perubahan praktik dalam konteks sosial-ekonomi yang berbeda.
Analyzing the Philosophy of Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul in Promoting Social Solidarity and Addressing Social Inequality Nando, Fikri; Arifudin, Arifudin; Qilya Alrizis, Muhamad Omar
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/szfryh83

Abstract

Social disintegration resulting from discrimination and social inequality remains a persistent issue in various societies, including within the context of Javanese communities. The philosophy of Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul (whether we eat or not, what matters is to gather) represents a cultural value that can strengthen social solidarity and address the problem of social segregation. This study aims to analyze this philosophy through the lens of social solidarity and explore its potential as an alternative social movement for the lower-class communities. This research employs a qualitative approach using hermeneutic methods to interpret Javanese cultural texts within their socio-historical context. Data were gathered from primary sources such as journals and books, as well as secondary literature relevant to the research topic. The data analysis is grounded in Marx’s dialectical historical materialism and Neo-Marxist theory, specifically focusing on social solidarity and grassroots movements. The findings reveal that the philosophy of Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul plays a crucial role in promoting social solidarity within Javanese society, particularly in response to economic and social pressures. This philosophy not only fosters communal unity but also emphasizes the importance of equality and cooperation in confronting social injustice. As such, it holds significant potential to be developed as an inclusive social movement, centered on community values and collective welfare. Disintegrasi sosial akibat diskriminasi dan ketimpangan sosial masih menjadi persoalan di berbagai masyarakat, termasuk dalam konteks masyarakat Jawa. Filosofi Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul menjadi salah satu nilai budaya yang dapat memperkuat solidaritas sosial dan mengatasi masalah segregasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis filosofi tersebut dalam perspektif solidaritas sosial, serta mengeksplorasi potensi filosofi ini sebagai gerakan sosial alternatif di kalangan masyarakat kelas bawah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode hermeneutik untuk memahami teks-teks budaya Jawa dalam konteks sosial-historis. Data dikumpulkan melalui kajian pustaka, baik dari sumber primer seperti jurnal dan buku, maupun sumber sekunder yang relevan dengan topik penelitian. Analisis dilakukan melalui pendekatan dialektika materialisme historis Marx dan teori Neo-Marxisme, khususnya terkait solidaritas sosial dan gerakan masyarakat akar rumput. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filosofi Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul memainkan peran penting dalam mempromosikan solidaritas sosial di kalangan masyarakat Jawa, khususnya dalam menghadapi tekanan ekonomi dan sosial. Filosofi ini tidak hanya memperkuat kebersamaan dalam komunitas, tetapi juga menekankan pentingnya kesetaraan dan kerjasama dalam menghadapi ketidakadilan sosial. Dengan demikian, filosofi ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bentuk gerakan sosial yang inklusif, berfokus pada nilai-nilai komunitas dan kesejahteraan bersama.
Book Review: Religion, Conflict, and Peacebuilding the Role of Religious Leadership Bosnia and Herzegovina: A Review Essay Fithriya, Dwi Nur Laela
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/32p9hp52

Abstract

The book Religion, Conflict, and Peacebuilding by Stipe Odak examines the role of religion in conflicts and peacebuilding efforts, focusing on Bosnia and Herzegovina. This book emerges amidst the rise of religiously motivated violence, such as the events of 2014, and addresses a critical question: Can religion be part of the solution when it is often perceived as part of the problem? In terms of substance, Odak explores how religious leaders can either exacerbate or mitigate conflicts and how they serve as agents of change in the peace process. The book is based on interviews with religious leaders and in-depth case studies, discussing strategies for interfaith dialogue and faith-based peace initiatives. Odak highlights two contrasting realities: violence fueled by religious beliefs and the substantial efforts by religious individuals and institutions to foster peace. Criticism of the book centers on its narrow geographic focus, which may lead readers to feel that its findings are confined to the Balkan context. Additionally, the book lacks a deeper critical analysis of the potential biases of religious leaders in their approaches. Nevertheless, it makes a significant contribution to the literature on religion, conflict, and peacebuilding, particularly for those interested in the dynamics of religion-based conflicts. Buku Religion, Conflict, and Peacebuilding karya Stipe Odak mengkaji peran agama dalam konflik dan upaya perdamaian, dengan fokus pada Bosnia dan Herzegovina. Buku ini muncul di tengah meningkatnya kekerasan bermotif agama, seperti yang terjadi pada tahun 2014, dan menyoroti pertanyaan penting: Dapatkah agama menjadi bagian dari solusi ketika sering kali dianggap sebagai penyebab masalah? Secara substansi, Odak mengeksplorasi bagaimana pemimpin agama dapat memperburuk atau mengurangi konflik dan bagaimana mereka berperan sebagai agen perubahan dalam proses perdamaian. Buku ini didasarkan pada wawancara dengan pemimpin agama dan studi kasus yang mendalam, serta membahas strategi dialog antar iman dan inisiatif perdamaian berbasis agama. Odak menunjukkan dua realitas yang bertentangan: kekerasan yang didorong oleh keyakinan agama dan upaya besar dari individu dan lembaga agama dalam membangun perdamaian. Kritik terhadap buku ini berfokus pada pendekatannya yang sempit secara geografis, sehingga pembaca mungkin merasa bahwa temuan buku ini terbatas untuk konteks Balkan saja. Selain itu, analisis kritis terhadap bias yang mungkin dimiliki oleh para pemimpin agama dalam pendekatan mereka belum digali secara mendalam. Meskipun demikian, buku ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam literatur tentang agama, konflik, dan resolusi perdamaian, terutama bagi mereka yang tertarik pada dinamika konflik berbasis agama.
Narratives, Symbols, and Rituals: Oral Tradition in Indigenous Resistance to Development Structuralism in West Papua, Indonesia Rupiassa, Dominggus Alexander Agusto; Lattu, Izak Y. M; Therik, Wilson M.A
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/z1s1th71

Abstract

Development projects that disregard Indigenous rights often provoke resistance, particularly in West Papua, Indonesia, where the Indigenous Kaimana people uniquely employ covert resistance through oral traditions to safeguard their rights. This study aims to understand how the Kaimana Indigenous community utilizes orality as a form of resistance against developmental structuralism. Employing a realist ethnographic method, this research directly observes the daily lives of the Indigenous community and documents forms of hidden resistance embedded in their oral traditions. Data were collected through in-depth interviews, focus group discussions (FGDs), observation, and documentary analysis of symbolic resistance activities. The findings reveal that Kaimana's Indigenous resistance is conveyed through three principal elements: storytelling, symbolism, and ritual. First, storytelling serves as a medium of resistance by recounting their spiritual connection to nature as a way of upholding ancestral rights. Second, symbols such as bamboo and sago leaves are used in road blockades, representing life and resistance. Third, traditional rituals involving everyday symbols are believed to possess mystical power and are used to protect Indigenous lands. These three elements illustrate that while the Kaimana community does not wholly oppose development, they demand that their customary rights be respected throughout the process. Pembangunan yang mengabaikan hak-hak masyarakat adat sering kali memicu resistensi, terutama di wilayah Papua Barat, Indonesia, di mana masyarakat adat Kaimana memiliki cara unik dalam mempertahankan hak mereka melalui resistensi tertutup berbasis Oral Traditions. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana masyarakat adat Kaimana menggunakan kelisanan sebagai bentuk perlawanan terhadap strukturalisme pembangunan. Dengan menggunakan metode etnografi realis, penelitian ini mengamati langsung kehidupan sehari-hari masyarakat adat dan mendokumentasikan bentuk-bentuk perlawanan yang tersembunyi dalam tradisi lisan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus (FGD), observasi, dan studi dokumentasi terkait aksi perlawanan simbolis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resistensi masyarakat adat Kaimana dilakukan melalui tiga elemen utama: cerita, simbol, dan ritual. Pertama, cerita menjadi sarana perlawanan dengan mengisahkan hubungan spiritual mereka dengan alam sebagai cara mempertahankan hak leluhur. Kedua, simbol-simbol seperti bambu dan daun sagu digunakan dalam aksi pemalangan sebagai lambang kehidupan dan perlawanan. Ketiga, ritual adat yang melibatkan simbol-simbol sehari-hari dianggap memiliki kekuatan magis dan digunakan untuk melindungi wilayah adat. Ketiga elemen ini memperlihatkan bahwa masyarakat adat Kaimana tidak sepenuhnya menolak pembangunan, namun menuntut agar hak-hak adat mereka dihormati dalam proses tersebut.
Empowering Youth in Islamic Philanthropy: Addressing Challenges and Enhancing Sustainable Engagement Suryana, Yayan
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/46bq6768

Abstract

Youth play a vital role in the sustainability of Islamic philanthropic organizations in Indonesia, serving as drivers, influencers, and beneficiaries. However, challenges such as career instability and limited understanding of Islamic philanthropy often hinder their long-term involvement in philanthropic activism. This study aims to analyze the strategic role of youth in Islamic philanthropic activism in Indonesia, identify the challenges they face, and explore solutions to enhance their sustainable engagement. The research employs a qualitative descriptive approach, examining three Islamic philanthropic organizations in Indonesia: Daarut Tauhiid (DT) Peduli, Dompet Dhuafa, and Rumah Amal Salman. Data were collected through observations and document analysis. The findings reveal that youth are significant in managing technology and social media-based philanthropic programs. They also act as influencers, encouraging other young people to participate in philanthropic activities. However, their status as volunteers, without stable career prospects, often results in temporary involvement. To promote more sustainable participation, institutional reforms are needed to provide professional development opportunities for youth in philanthropy. Kaum muda memiliki peran penting dalam keberlanjutan lembaga filantropi Islam di Indonesia, baik sebagai penggerak, influencer, maupun penerima manfaat. Namun, tantangan yang dihadapi kaum muda dalam aktivisme filantropi, seperti kurangnya stabilitas karier dan keterbatasan pemahaman tentang filantropi Islam, sering kali menghambat keterlibatan jangka panjang mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran strategis kaum muda dalam aktivisme filantropi Islam di Indonesia dan mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, serta solusi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan keterlibatan mereka secara berkelanjutan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan mengkaji tiga lembaga filantropi Islam di Indonesia: Daarut Tauhiid (DT) Peduli, Dompet Dhuafa, dan Rumah Amal Salman. Data dikumpulkan melalui observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kaum muda memiliki peran signifikan dalam pengelolaan program filantropi berbasis teknologi dan media sosial. Mereka juga berfungsi sebagai influencer untuk menarik generasi muda lainnya agar berpartisipasi dalam kegiatan filantropi. Namun, status mereka sebagai volunteer tanpa jaminan karier yang stabil membuat keterlibatan mereka dalam lembaga filantropi sering bersifat sementara. Untuk meningkatkan partisipasi yang lebih berkelanjutan, diperlukan reformasi sistem kelembagaan yang memungkinkan kaum muda berkembang secara profesional di dalam dunia filantropi.
One Village, Three Houses of Worship: Exploring the Dynamics of Religious Tolerance in Indonesia Maryono, Maryono; Nur Anna, Dian; Musthofa, Muhammad Wakhid
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/qmhr0v26

Abstract

Indonesia has a long history of religious tolerance, yet the recent increase in incidents of intolerance reflects that this value requires renewed attention from scholars. This study aims to explore how the people of Sayidan interpret and practice tolerance in their daily lives, examining the mechanisms and social structures that have allowed this harmony to persist. Understanding how tolerance is embedded in the life of the Sayidan community is crucial for uncovering broader strategies to sustain religious tolerance in Indonesia.This research employs a phenomenological approach to uncover the meaning and structure of lived experiences related to religious tolerance. The Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) method was applied to analyze data gathered from interviews with community leaders, RT/RW heads, religious figures, and youth representatives. The analysis involved several stages, including data familiarization, initial coding, theme development, and interpretative analysis. The findings reveal that tolerance in Sayidan is shaped by strong social and religious elements, further reinforced by economic interactions and a shared political struggle. While the study is limited in terms of generalizing to other contexts, the insights from Sayidan offer important lessons on how religious harmony can be maintained. Indonesia memiliki sejarah panjang toleransi beragama, peningkatan insiden intoleransi dalam beberapa tahun terakhir merefleksikan bahwa hal ini perlu mendapatkan perhatian dari akademisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana masyarakat Sayidan menafsirkan dan mempraktikkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari, dengan menelaah mekanisme dan struktur sosial yang memungkinkan kerukunan tersebut bertahan. Memahami bagaimana toleransi tertanam dalam kehidupan komunitas Sayidan penting untuk mengungkap strategi yang lebih luas dalam mempertahankan toleransi beragama di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologis untuk mengungkap makna dan struktur pengalaman hidup yang terkait dengan toleransi beragama. Metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) diterapkan untuk menganalisis data yang diperoleh dari wawancara dengan tokoh masyarakat, kepala RT/RW, pemimpin agama, dan perwakilan pemuda. Analisis dilakukan melalui tahapan pengenalan data, pengkodean awal, pengembangan tema, dan analisis interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toleransi di Sayidan terbentuk melalui elemen-elemen sosial dan agama, serta didukung oleh interaksi ekonomi dan perjuangan politik bersama. Meskipun studi ini memiliki keterbatasan dalam hal generalisasi ke konteks lain, temuan dari Sayidan memberikan wawasan penting tentang bagaimana kerukunan beragama dapat dipertahankan.
Religious Commodification in Branding: A Semiotic Analysis of Instaperfect’s Instagram Content Tridifa, Meira
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/r0sp0a35

Abstract

The commodification of religion in branding practices has become a prominent phenomenon in contemporary consumer culture, particularly in how religious symbols promote commercial products. Brands have increasingly adopted religious imagery and values to appeal to specific market segments, especially in Muslim-majority regions. This study examines how Instaperfect, a beauty brand, commodifies Islamic elements in its branding on Instagram, focusing on integrating of religious symbols with commercial ideals. The research employs a descriptive qualitative method with a content analysis approach, using John Fiske’s semiotic framework to analyze eight Instagram posts from Instaperfect, published between January and April 2023. Data was collected through a literature review and visual-textual analysis of the selected posts. The results reveal that Instaperfect blends religious symbols with luxury branding to construct an aspirational identity for Muslim women, thereby commodifying religious values. The study highlights how Islamic values such as halal and modesty are reframed to align with capitalist ideologies, turning religious devotion into a commercialized identity. These findings emphasize the growing intersection of religion and consumerism in digital branding. Komodifikasi agama dalam branding semakin banyak ditemui dalam budaya konsumerisme saat ini, terutama dengan penggunaan simbol-simbol agama untuk menarik perhatian konsumen. Banyak merek yang kini memanfaatkan citra agama untuk menjangkau pasar tertentu, khususnya di negara-negara dengan mayoritas Muslim. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana Instaperfect, sebuah merek kosmetik, mengkomodifikasi elemen-elemen Islam dalam strategi branding mereka di Instagram, dengan fokus pada cara mereka menggabungkan simbol-simbol agama dengan nilai komersial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis konten, serta kerangka semiotika John Fiske untuk menganalisis delapan unggahan Instagram Instaperfect yang dipublikasikan antara Januari hingga April 2023. Data dikumpulkan melalui studi literatur dan analisis visual-teks dari unggahan yang terpilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Instaperfect memadukan simbol agama dengan branding mewah untuk membangun citra aspiratif bagi perempuan Muslim, yang pada gilirannya mengkomodifikasi nilai-nilai agama. Penelitian ini juga mengungkap bagaimana nilai-nilai Islam seperti halal dan kesederhanaan diposisikan ulang untuk sejalan dengan ideologi kapitalisme, menjadikan religiusitas sebagai identitas komersial.
Transforming Heritage: Analyzing Cultural Capital and Value Shifts in Indonesia's Ngunjung Buyut Tradition Arief, Dwi; Komariah, Siti; Wulandari, Puspita
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/z10ewc27

Abstract

Social change and modernization have impacted various traditions in Indonesia, including Ngunjung Buyut, an ancestral homage tradition that holds significant meaning for the Indramayu community, West Java. In the context of changing times, this tradition has undergone a shift in values. This research employs a qualitative approach with a case study method conducted in Penganjang Village, Indramayu Regency. Data collection was carried out through in-depth interviews and participatory observation involving informants from both older and younger generations. Data analysis focuses on identifying forms of cultural capital that have emerged within the Ngunjung Buyut tradition in the contemporary era. Findings indicate that objectified cultural capital, such as ngarak processions and artistic performances, has become the primary attraction for younger participants, shifting the focus away from religious activities like communal prayer. While these supporting activities have successfully increased youth engagement, this shift poses a risk to the internalization of religious values. Additionally, this transformation has created a new dynamic in social solidarity, where recreational aspects now overshadow the tradition’s original spiritual significance. Perubahan sosial dan modernisasi telah memengaruhi berbagai tradisi di Indonesia, termasuk Ngunjung Buyut, tradisi penghormatan leluhur yang penting bagi masyarakat Indramayu, Jawa Barat. Dalam konteks perkembangan zaman, tradisi ini mengalami pergeseran nilai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus di Desa Penganjang, Kabupaten Indramayu. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif yang melibatkan informan dari golongan tua dan muda. Analisis data berfokus pada identifikasi bentuk modal budaya yang terbentuk dalam tradisi Ngunjung Buyut di era sekarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa objectified cultural capital, seperti kegiatan ngarak dan pertunjukan seni, kini menjadi daya tarik utama bagi generasi muda, menggeser fokus dari kegiatan religius seperti doa bersama. Meskipun kegiatan pendukung berhasil meningkatkan partisipasi generasi muda, pergeseran ini menimbulkan risiko berkurangnya internalisasi nilai keagamaan. Selain itu, perubahan ini juga menciptakan dinamika baru dalam solidaritas sosial, di mana aspek rekreatif lebih menonjol dibandingkan dengan makna spiritual awal tradisi.