cover
Contact Name
Dr. Istiadah, MA
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
egalita@uin-malang.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
EGALITA
ISSN : 19073641     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
EGALITA merupakan Jurnal Kesetaraan dan Keadilan Gender yang menyajikan sejumlah hasil penelitian, pemahaman dan perenungan mendalam tentang problematika gender, baik dalam bangunan intelektual maupun konstruksi sosial yang ada pada masyarakat.
Arjuna Subject : -
Articles 193 Documents
PEMBERIAN REWARD AND PUNISHMENT KEPADA ANAK MENURUT PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Nur Husna
EGALITA Vol 16, No 1 (2021): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v16i1.11810

Abstract

Dalam dunia pendidikan, reward diberikan ketika seorang anak telah berhasil mencapai sebuah tahap perkembangan tertentu, achievement yang bagus, atau tercapainya sebuah target. Sebaliknya, punishment biasanya dilakukan ketika apa yang menjadi target-target tertentu tidak tercapai, atau ada perilaku anak yang tidak sesuai dengan norma-norma yang diyakini oleh sekolah tersebut. Dalam Islam ada istilah basyir (berita gembira) dan nadzir (berita ancaman) yang dianalogikan dengan penghargaan dan hukuman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan reward and punishment dalam pendidikan Islam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitis dengan pendekatan kualitatif induktif, psikologis, dan ilmu pendidikan. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kepustakaan (library research) dimana seluruh data penelitian merujuk pada literatur yang berkaitan dengan objek penelitian . Hasil temuan yang penulis analisis adalah bahwa Reward and Punishment dalam pendidikan Islam tidak bisa dipisahkan dari konsep tujuan pendidikan Islam itu sendiri, yaitu meciptakan manusia insan kamil yang bertakwa seperti Rasulullah. Penerapannya pun tidak lepas dari peneladanan kepada sikap-sikap Nabi, dan cara-cara beliau dalam mendidik umat Islam baik yang terdapat di Al-Qur’an ataupun Sunnah. Pemberian reward dan punishment juga harus diperhatikan agar tidak salah kaprah, mengena, dan memiliki dampak positif terhadap respon anak.
PIDANA PERINGATAN DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK Achmad Ratomi; Rismaya Mutiara Lestari
EGALITA Vol 15, No 2 (2020): December
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v15i2.10895

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dasar pemikiran dianutnya pidana peringatan dalam pemidanaan terhadap anak yang berkonflik dengan hukum sebagaiamana yang terdapat di dalam Pasal 71 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif atau doktrinal yaitu suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi sehingga diperoleh argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa dasar pemikirannya dirumuskannya pidana peringatan sebagai salah satu jenis pidana untuk anak adalah sesuai dengan implementasi dari asas pelindungan, keadilan, kepentingan terbaik bagi Anak, kelangsungan hidup dan tumbuh kembang Anak, proporsional, perampasan kemerdekaan sebagai upaya terakhir dan penghindaran pembalasan. Asas ini merupakan asas dalam penyelenggaraan peradilan pidana anak sebagaimana diatur di dalam Pasal 2 UU SPPA.
MAKNA IBU SEBAGAI MADRASAH PERTAMA DALAM PENDIDIKAN KELUARGA PERSPEKTIF STUDI GENDER Ulil Hidayah
EGALITA Vol 16, No 2 (2021): December
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v16i2.12968

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang analisis dari sebuah maqolah karya Hafiz Ibrahim yaitu “al umm madrsatul ula idza a'dadtaha sya'ban thayyial 'araq” yang artinya ibu adalah madrasah pertama, apabila engkau mempersiapkannya maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik. Makna dalam teks ini banyak dijadikan slogan tentang pengasuhan anak tergantung bagaimana ibunya. Jika ibu memiliki kemampuan yang baik dalam mengasuh dan mendidik anak, maka akan menentukan terhadap kecerdasan dan keberhasilan anak di masa mendatang. Begitu juga sebaliknya apabila sosok ibu tidak mempunyai kompetensi yang baik, maka anaknya tidak akan tumbuh dan berkembang dengan baik juga. Paradigma tentang ibu sebagai madrasah pertama menganggap bahwa ibu adalah peran utama dalam proses pendidikan anak dalam keluarga, dengan mengabaikan peran lainnya, karena stereotip bapak tugasnya adalah menafkahi materi saja. Dalam artikel ini penulis membaca kembali sebuah maqolah karya Hafiz Ibrahim seorang ulama Mesir dengan menggunakan analisis sosial historis dan mengkorelasikannya dengan teori-teori studi gender sehingga menemukan formulasi baru tentang madrasah pertama bagi anak adalah orang yang mengasuh anak dalam keluarga tempat tinggalnya. Ibu bukanlah satu-satunya acuan keberhasilan anak, tetapi Ibu dan bapak secara bersama memiliki peran dan porsi yang sama dalam mendidik anak untuk membangun kecerdasan dan keberhasilan seorang anak.
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT STRES NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN WIROGUNAN YOGYAKARTA Baiti Nur Rizqiyani; Angga Eka Yuda; Galih Fajar Fadillah; Ernawati Ernawati
EGALITA Vol 16, No 2 (2021): December
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v16i2.12876

Abstract

Terputusnya hubungan dengan keluarga dapat mengakibatkan stres pada diri narapidana. Bagi beberapa narapidana keluarga menjadi tempat teraman untuk mengurangi tekanan. Dukungan keluarga memberikan dampak positif tehadap stres yang di alami narapidana. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat stres narapidana menjelang masa bebas tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Wirogunan Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis korelasional. Populasi pada penelitian ini adalah narapidana menjelang masa bebas tahanan yang berjumlah 60 orang. Pengambilan sampel penlitian menggunakan teknik total sampling. Alat pengumpulan data menggunakan skala likert dari dua variabel, yaitu dukungan keluarga dan tingkat stres. Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis korelasi Produt Moment. Berdasarkan hasil pengujian menggunakan analisis korelasi Product Moment, diketahui nilai rxy sebesar -0.288 dan p-value sebesar 0.026 (p 0.05) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan antara variabel dukungan keluarga dan tingkat stres. Semakin tinggi dukungan keluarga yang diterima maka akan semakin rendah tingkat stres yang dialami narapidana menjelang bebas. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah dukungan keluarga yang diterima, maka semakin tinggi pula stresnya. Sedangkan sumbangan efektif dukungan keluarga terhadap stres narapidana menjelang bebas sebesar 8,3% (r = 0,083) yang berarti sebesar 91,7% stres para narapidana mejelang bebas dipengaruhi oleh variabel lain selain dukungan keluarga. Dengan diperoleh dukungan keluarga sedang 42 (70%), rendah 10 (21,67%) dan tinggi  (23,3%) dengan tingkat stres sedang 34 (56,67%), rendah dan tinggi masing-masing 13 (21,17%). Tingkat variabel dukungan keluarga tergolong sedang, tingkat stres juga tergolong sedang. Dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan dukungan keluarga dengan tingkat stres narapidana menjelang bebas masuk dalam kategori sedang. Sedangkan berdasarkan distribusi frekuensi berdasarkan aspek masing-masing variabel dukungan keluarga dan tingkat stres dalam kategori baik.
PENDEKATAN KONSELING LINTAS BUDAYA DALAM MENGATASI STIGMA NEGATIF TERHADAP KELOMPOK MINORITAS GENDER CALABAI Rois Nafi'ul Umam
EGALITA Vol 16, No 2 (2021): December
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v16i2.12911

Abstract

Kelompok Gender Calabai sebagai sebuah kelompok yang memiliki ciri khasnya tersendiri rentan menghadapi stigma negatif dari masyarakat umum berkenaan dengan cara berpakaian maupun berperilaku mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk gambaran umum mengenai kondisi dan stigma negatif yang diarahkan kepada kelompok gender calabai dan merumuskan konsep bimbingan konseling lintas budaya sebagai solusi dalam mengatasi masalah pemberian stigma negatif terhadap kelompok tersebut. Jenis dari penelitian ini adalah penelitian dasar/konseptual dengan metode deskriptif analitis. Teknik pengambilan data dengan studi kepustakaan dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk stigma negatif kepada gender calabai seperti sindiran, perkataan yang kurang pantas hingga ajakan untuk mengucilkan. Konsep bimbingan konseling lintas budaya untuk mengatasi hal ini dengan mengadakan bimbingan kelompok dengan teknik diskusi serta menggunakan pendekatan emik yakni mencari jalan tengah dari perbedaan budaya yang ada diantara kelompok gender calabai dan masyarakat umum.
PENERAPAN DIVERSI PADA ANAK BERHADAPAN HUKUM DITINJAU DARI PERSPEKTIF MASLAHAH MURSALAH Sheila Kusuma Wardani Amnesti; M. Aunul Hakim
EGALITA Vol 16, No 2 (2021): December
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v16i2.14167

Abstract

Diversi merupakan upaya penyelesaian perkara pidana anak yang dilakukan di luar pengadilan dan menjadi prinsip utama yang dianut oleh Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normative dengan pendekatan case approach. Penelitian ini dilakukan dalam rangka mengetahui efektivitas pelaksaan diversi dengan ditinjau dari fiqh Maslahah Mursalah. Dalam pelaksanaan diversi sejauh ini cukup berhasil dimana dari kasus yang sampai pada tingkatan kejaksaan pada kurun waktu 2 tahun selesai pada tahap diversi dan tidak berlanjut pada proses peradilan. Dimana diversi sebagai bentuk perwujudan keadilan restorative di Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan bagaimana prinsip Maslahah Mursalah berlaku dimana mengambil lebih banyak manfaat daripada mudharat dalam penentuan sebuah hukum.
IMPLIKASI HUKUM PERUBAHAN BATASAN USIA PERKAWINAN KARENA PERMOHONAN DISPENSASI KAWIN TERHADAP PENINGKATAN ANGKA PERCERAIAN DI PENGADILAN AGAMA KABUPATEN PASURUAN Ahmad Baihaqi Syamsuddin Saderi
EGALITA Vol 16, No 2 (2021): December
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v16i2.14168

Abstract

Fenomena kawin muda ini tampaknya merupakan “mode” yang terulang. Dahulu, kawin muda dianggap lumrah. Tahun berganti banyak yang menentang perkawinan diusia dini. Fenomena tersebut kembali lagi, kalau dulu orang tua ingin anaknya menikah muda dengan berbagai alasan malah kini banyak remaja sendiri yang bercita-cita kawin muda. Selain itu, beberapa remaja berpandangan menikah muda merupakan pilihan agar mereka terhindar dari melakukan perbuatan dosa, Pada kenyataannya, kematangan seseorang banyak juga bergantung pada perkembangan emosi, latar belakang pendidikan, sosial, dan sebagainya di masyarakat dari tahun ke tahun semakin banyak remaja yang ingin menikah muda dan mengajukan permohonan dispensasi kawin di Pengadilan agama. Mengacu pada paparan latar belakang tersebut, dengan demikian muncul bermacam problematika antara lain: 1. Bagaimana Dampak Pasal 7 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Terhadap Permohonan Dispensasi Kawin Di Pengadilan Agama Pasuruan. 2. Bagaimana Dampak Terhadap Peningkatan Angka Perceraian Di Pengadilan Agama Pasuruan. Metode penelitian yang diterapkan yakni kualitatif dengan jenis penelitian yuridis empiris (field reseach) dan menggunakan Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan konseptual (conceptual approach) dan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Hasil penelitian ini adalah Pembaharuan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 mempunyai dampak besar bagi kenaikan jumlah pengajuan dispensasi kawin di Pengadilan Agama Pasuruan. mengemukakan jika tingkat perceraian di Pengadilan Agama Pasuruan terus meningkat dari rentan tahun 2015-2021 Faktor meningkatnya jumlah perceraian di Pengadilan Pasuruan, meninggalkan salah satu pihak, kekerasan dalam rumah tangga, perselisihan dan pertengkaran terus menerus, dan ekonomi. Di setiap tahunnya, pasangan yang mengajukan perceraian selalu ada dari pasangan yang dahulunya mengajukan dispensasi nikah, kecuali di tahun 2021 (Januari-Februari) untuk pasangan yang mengajukan perceraian belum ada yang pasangan dahulunya mengajukan permohonan dispensasi nikah.
FEMISIDA DAN SANKSI HUKUM DI INDONESIA Siti Zulaichah
EGALITA Vol 17, No 1 (2022): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v17i1.14171

Abstract

Lemahnya perlindungan hukum, membuat keadaan perempuan semakin terpojok. Salah satunya pada permasalahan femisida, yakni dapat diartikan sebagai pembunuhan kepada perempuan yang didasari oleh beberapa faktor, diantaranya, menganggap perempuan sebagai pihak lemah, perempuan sebagai korban dari ketidak adilan, perempuan sebagai layanan pemuas seks, hingga menganggap perempuan sebagai barang komoditi bisa diperjual belikan. Berbagai faktor inilah yang menjadi dasar maraknya perempuan sebagai korban. Penelitian ini bertujuan menemukan instrument hukum guna menekan angka femisida yang semakin meningkat hingga saat ini. Fakta terbaru kasus kekerasan pada perempuan akhir-akhir ini semakin meningkat, data dalam CATAHU pada tahun 2022 terjadi peningakatan sebanyak 50% dari tahun 2020. Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian hukum normatif dengan analisis hukum yang digunakan dalam penelitian ini preskriptip analisis. Dengan maraknya kasus kekerasan yang mengakibatkan kematian perempuan sudah selayaknya pemerintah mengambil sikap atas permasalahan ini.
TAFSIR KESETARAAN DALAM AL-QUR’AN: Telaah Zaitunah Subhan atas Term Nafs Wahidah Abd. Basid; Ruqayyah Miskiyah
EGALITA Vol 17, No 1 (2022): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v17i1.15651

Abstract

Diskusi tentang kesetaraan antara pria dan wanita dari zaman pra-Islam hingga Islam datang terus menjadi perbicangan serius. Dalam Islam, salah satu yang memantik diskusi tersebut adalah kajian atas kata nafs wahidah perihal asal usul penciptaan wanita, yang tersebut dalam QS. al-Nisa’ (4): 1, QS. al-Nisa’ (4): 41, QS. al-A’raf (7): 189, QS. al-Nahl (16): 72, QS. al-Rum (30): 21, QS. al-Zumar (39): 6, dan QS. al-Syura (42): 11. Beberapa ayat-ayat tentang nafs wahidah ini yang dalam pembahasan artikel ini disebut dengan “ayat-ayat kesetaraan” karena menjadi dalil kesetaraan gender antara pria dan wanita. Dari kata nafs wahidah, mufassir klasik cenderung memaknainya bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk pria yang pada akhirnya berimplikasi pada ketimpangan gender. Seiring berjalannya waktu, mufassir dan tokoh modern menggugat terhadap penafsiran mufassir klasik, termasuk di antaranya Zaitunah Subhan yang menjadi fokus penelitian ini. Akan hal itu, penelitian ini ingin menjawab sebuah pertanyaan; bagaimana penafsiran Zaitunah Subhan atas ayat-ayat kesetaraan dalam al-Qur’an?. sebagai langkah metodis, artikel ini menggunakan metode analisis diskriptif dengan bertumpu pada kajian pustaka (library reseach). Pada akhirnya, penelitian ini menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa Zaitunah Subhan memaknai kata nafs wahidah bukanlah Adam (pria) tapi lebih tepatnya adalah “diri yang satu” di mana Hawa (wanita) juga diciptakan darinya. Tidak ada perbedaan antara keduanya kecuali tingkat ketakwaan yang dimilikinya.
PERILAKU KONFORMITAS PADA TEMAN SEBAYA DAN PENGARUHNYA TERHADAP TINGKAT PENERIMAAN DIRI SANTRI PUTRI DI SEKOLAH MULTIPESANTREN Muhammad Rizqi Aufaqi Akrom; Aprilia Mega Rosdiana
EGALITA Vol 17, No 1 (2022): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v17i1.15860

Abstract

Penerimaan diri merupakan proses penting yang dialami oleh setiap individu terlebih pada masa remaja, penerimaan diri pada masa remaja tentu akan sulit karena sering kali dikaitkan dengan kelompok pertemanan atau konformitas teman sebaya yang berkontribusi terhadap sikap dan perilaku remaja. Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh konformitas teman sebaya terhadap penerimaan diri santri putri kelas XII Madarash Aliyah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, populasi yang terdapat dalam penelitian ini sejumlah 134 responden. Berdasarkan perhitungan rumus slovin sampel dalam penelitian ini berjumlah 57 responden. Alat pengumpulan data menggunakan skala penerimaan diri oleh Berger (1952), dan skala konformitas teman sebaya milik Sears (1991). Uji hipotesis menggunakan regresi sederhana melalui SPSS 25.00 for windows.  Hasil penelitian menunjukan konformitas teman sebaya berpengaruh terhadap penerimaan diri (P = 0.00 0,05) pengaruh yang diberikan bersifat negatif -.721 dengan sumbangan pengaruh yang diberikan sebesar 52%. Hal ini berarti semakin tinggi perilaku konformitas teman maka semakin rendah penerimaan diri. Sehingga perlu kiranya remaja putri untuk melakukan penerimaan diri, dan memahami peranan teman sebaya dalam proses penerimaan diri.