cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,193 Documents
Identifikasi Bakteri yang Berperan dalam Pengasaman Kedelai dalam Fermentasi Tempe Berdasarkan Sekuen 16S rDNA Barus, Tati; Widyah, Widyah; Wicaksono, Wisnu Adi; Prasasty, Vivitri Dewi
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 6, No 2 (2021): June 2021
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v6i2.4029

Abstract

Proses fermentasi dalam pembuatan tempe di Indonesia terdiri atas dua tahap. Tahap pertama berupa perendaman kedelai untuk pengasaman kedelai yang penting bagi pertumbuhan kapang. Dalam tahapan ini jenis mikroba yang berperan adalah kelompok bakteri. Namun informasi tentang jenis bakteri tersebut masih terbatas. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis jenis bakteri yang berperan dalam proses pengasaman kedelai saat fermentasi tempe. Isolasi bakteri dilakukan dari tempe yang diambil langsung dari pengrajin tempe di Jakarta. Bakteri ditumbuhkan pada media Plate Count Agar, de Man Rogosa and Sharpe Agar, MacConkey Agar dan Eosin Methylene Blue Agar. Selanjutnya diuji perannya dalam pengasaman kedelai dengan pengukuran pH air rendaman kedelai dan selanjutnya bakteri tersebut diidentifikasi. Ditemukan isolat P211, P3a, Mc4b, B1p, dan Man2b berperan dalam pengasaman dengan menurunkan pH air rendaman kedelai dari 7 menjadi sekitar 4,7 hingga 5,8. Identifikasi berdasarkan sekuen 16S rDNA lima bakteri tersebut masing masing adalah Klebsiella pneumoniae, Enterobacter ludwigii, Enterobacter sp., Lactobacillus agilis, dan Pantoea sp.  dengan kemiripan 98-100%. Selanjutnya, perlu diteliti tentang perannya dalam menentukan kualitas tempe.
Karakteristik Karapas dan Chela sebagai Alat Identifikasi Fosil Kepiting (Decapoda: Brachyura) yang ditemukan di Jawa Yudha, Donan Satria; Parama Putra, Krisogonus Yudha; Eprilurahman, Rury
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 6, No 1 (2021): February 2021
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v6i1.2480

Abstract

Kepiting infraordo Brachyura dikelompokkan ke dalam 53 familia yang tersebar di seluruh dunia. Di Indonesia dapat ditemukan 40 familia kepiting non air tawar dan tiga familia endemik kepiting air tawar, yaitu: Potamidae, Gecarcinudae, dan Parathelpusidae. Karapas dan capit (chela) merupakan bagian tubuh kepiting yang dapat digunakan untuk identifikasi taksonomi. Beberapa fragmen fosil kepiting yang dijumpai di Indonesia biasanya berupa bagian karapas dan capit. Panduan mengenai karakter morfologi karapas dan capit anggota infraordo Brachyura belum tersedia terutama untuk identifikasi fosil kepiting di Indonesia, sehingga perlu dikaji. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakter morfologi karapas dan capit sebagai karakter diagnostik kepiting sehingga dapat dimanfaatkan dalam identifikasi fosil kepiting. Spesimen yang diteliti adalah koleksi dari Laboratorium Sistematika Hewan Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada. Metode yang digunakan yaitu komparasi morfologi dan karakteristik dari karapas dan capit serta studi referensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter karapas dan capit, meliputi: bentuk karapas, ornamentasi karapas bagian lateral dan dorsal, salah satu capit membesar, tuberkula pada gigi capit, dan bentuk capit, dapat digunakan untuk mengidentifikasi jenis kepiting infraordo Brachyura dan dapat dijadikan referensi untuk identifikasi fragmen fosil kepiting yang dijumpai di Indonesia terutama di Pulau Jawa.
Utilization of Used Cardboard and Vegetable Waste as Growth Media for White Oyster Mushroom (Pleurotus ostreatus) Lavenia, Jovita; Prasetyaningsih, Aniek; Ariestanti, Catarina Aprilia
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 6, No 2 (2021): June 2021
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v6i2.4278

Abstract

White oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) is a highly nutritious food with simple cultivation process using sawdust as its main substrate. Nowadays, availability of sawdust become a problem for some mushroom farmers. Cardboard and vegetable wastes are easily found and difficult to maintain. Based on their characteristics, those wastes can be used as mushroom growth media. This study aims to determine the effect of cardboard and vegetable waste on mushroom growth and the best media composition to obtain maximum productivity. Those wastes are used as the main substrate in eleven composition variations with complete randomized design (CRD) analysis method using One-Way ANOVA and simple linear regression statistical test. The results showed, variations in media composition affect the condition of the media which then influence the growth of P. ostreatus. Maximum productivity was found in media composition XI with mycelium growth rate up to 3.91 cm/day, media IX with the biological efficiency up to 45.38%, and media X with the highest total yield up to 97.28 grams. From this study it can be concluded that cardboard and vegetable waste can be an alternative growth substrate for P. ostreatus in urban areas with a maximum concentration of vegetable waste no more than 30% by weight of the media used.
Kandungan Protein Kecap Nira Lontar dengan Variasi Konsentrasi Tepung Tempe Ledo, Mellissa Erlyn Stephanie
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 5, No 2 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v5i2.2970

Abstract

Soy sauce is generally made from soybeans. However, palm oil has the potential to be used as an ingredient in soy sauce which can be combined with tempeh flour. This study aims to assess the protein content of lontar juice with variations in the concentration of tempeh flour. The research method used in this study was an experimental method with a completely randomized design (CRD) factorial, with the treatment of tempeh flour concentrations of 0%, 3%, 5%, 7%, 10%. The results showed that the treatment with the addition of 10% tempeh flour gave the product with the highest protein content compared to other treatments, namely 4.90%. In addition, the organoleptic test of soy sauce which includes color, aroma, taste, and viscosity in the addition of 10% tempeh flour showed the best results.
Pengaruh Ekstraksi Benih Mentimun dengan Sodium Hipoklorit (NaOCl) dan Teknik Pengeringan Benih terhadap Pertumbuhan Vegetatif Mentimun (Cucumis sativus) Kartina, Kartina; Karlina, Wiwik; Mardhiana, Mardhiana
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 5, No 3 (2020): October 2020
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v5i3.4556

Abstract

Kendala dalam penanganan benih mentimun adalah adanya selaput daging berlendir (pulp), yang menyebabkan benih mudah terinfeksi penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstraksi benih mentimun dengan Sodium hipoklorit (NaOCl) dan teknik pengeringan berbeda terhadap pertumbuhan vegetatif benih mentimun. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen, menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial, yang terdiri dari dari 8 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan two way anova, dan disajikan dalam bentuk tabel. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan ekstraksi benih dengan NaOCl dan teknik pengeringan berbeda pada benih mentimun, tidak menunjukkan hasil yang berbeda nyata pada semua parameter, kecuali pada parameter jumlah daun pada tanaman yang berumur 21 dan 28 hari setelah tanam (HST), NaOCl secara umum menekan pertumbuhan vegetatif seperti tinggi tanaman, jumlah daun dan luas daun. Namun pada parameter panjang akar, berat basah dan berat kering tanaman kombinasi perlakuan NaOCl 15% dan pengeringan dengan oven (K3D1) konsisten menunjukkan nilai tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui nilai vigor dan viabilitas benih, serta hasil tanaman yang diperoleh.   
Kualitas Minyak Kelapa Hasil Fermentasi Saccharomyces cereviceae Mursyanti, Exsyupransia
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 10, No 3 (2005): October 2005
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v10i3.2880

Abstract

One aspects of utilization of coconut fruit is its palm oil. Traditionally coconut oil was made by “klentik” method, which was time and energy consuming. The important thing in the production of coconut oil from its xanthan is the separation of protein from oil. One of separation methods is by creating low pH (acid) condition that is near to protein isoelectric point. This research objective was to determine the potency of Saccharomyces cereviceae, that has an optimum growth pH within the range of protein isoelectric point, to produce coconut oil. Three isolates of Saccharomyces were used, i.e. isolate A that was coming from alcohol industry (S. cereviceae strain Kyowa), isolate B that was natural type (isolated from fruits), and isolate C that was S. cereviceae in the form of powder (commercial isolate, Saf-instant). Coconut xanthan used in the research was prepared from old coconut fruits. Research stages including pure culture test of S. cereviceae, starter preparation, xanthan production, fermentation process, oil separation and heating. Quantitative and qualitative analyses were done for oil rendement, water content, free-fatty acid concentration, saponification number, iod number, and organoleptic test (color and aroma). The results showed that the quality of coconut oil produced by fermentation process was better than traditional way in term of rendement value, water content, saponification number, and iod number. This was supported also by organoleptic test that aroma and color of coconut oil from fermentation were more preferred by the panelists. Furthermore, the quality of oil produced by S. cereviceae fulfilled the standart stated by the Indonesian Department of Commerce (SII-1976) except for saponification number.
Uji Biologis Iodium dari Rumput Laut (Eucheuma cottonii L.) dan Pengaruhnya terhadap Kemampuan Belajar Tikus Percobaan Astawan, Made; Wresdiyati, Tutik; Komari, Komari; Lasmiati, Ni Nengah
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 10, No 1 (2005): February 2005
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v10i1.2837

Abstract

Intelligent is one of human quality factors that can be influenced by nutrition. Iodine is one of trace element nutrition that necessary for intelligent level. The purpose of this research was to learn the effect of seaweed as iodine source on rats learning ability. The rats were divided into four groups based on the ratio: A (without potassium iodide/KI-seaweed flour (SF) 0%), B (with KI-SF 0%), C (without KI-SF 5%) and D (without KI-SF 10%). The ratio had no significant effect on rats growth, but significant on iodine retention, neuron cell number and rats learning ability. Iodine retention value had a positive correlation with the neuron cell number. The neuron cell number of group A, B, C and D were 72.83, 89.33, 93.92 and 100.83 cells per view area, respectively. The number of neuron cells gave a significant influence on rats learning ability. Total time needed by the rats in food retrieval test for the group A, B, C and D was 57.84, 38.17, 33.39 and 20.55 seconds, respectively. The more neuron cell number, the more learning ability.
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Alga Merah dari Pantai Luk, Sumbawa terhadap Salmonella thypi dan Staphylococcus aureus Yulianti Yulianti; Asmawati Yunianti Baso Manguntungi
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 3, No 1 (2018): February 2018
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v3i1.1888

Abstract

Indonesia termasuk negara maritim yang memiliki sumber kekayaan alam laut yang melimpah. Salah satunya yaitu alga yang persebarannya hampir di seluruh perairan Indonesia termasuk di kawasan laut Luk, Sumbawa. Jenis alga potensial yang memiliki paling banyak kandungan senyawa metabolit primer dan sekunder adalah alga merah. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak kasar alga merah dari pantai Luk. Penelitian ini meliputi pengidentifikasian alga merah berdasarkan ciri morfologi, dilanjutkan dengan mengekstraksi alga merah menggunakan metode maserasi dengan pelarut akuades yang sebelumnya dilakukan tiga preparasi sampel yaitu pengeringan (27 °C), pemanasan (70-80 °C) dan pendinginan (-10 °C), masing-masing diuji dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80% dan 100% kemudian diuji secara in vitro terhadap Salmonella thypi dan Staphylococcus aureus. Hasil identifikasi dari tiga spesies alga merah yang didapatkan dari pantai Luk yaitu Gracilaria salicornia, Galaxaura sp, dan Halymenia sp. Pengujian antibakteri alga merah menunjukkan  zona hambat yang berbeda pada setiap spesies terhadap kedua bakteri patogen. Masing-masing ekstrak kasar alga merah memiliki metode preparasi ekstrak optimal yang berbeda. Zona hambat terbesar dari ekstrak Gracilaria salicornia terhadap S. thypi pada metode pengeringan dengan konsentrasi 100% dan terhadap S. aureus pada metode pendinginan dengan konsentrasi 60%. Ekstrak Galaxaura sp terhadap S. thypi pada metode pendinginan (100%), terhadap S. aureus pada metode pengeringan (80%). Ekstrak Halymenia sp terhadap S. thypi pada metode pemanasan (40%), terhadap S. aureus pada metode pemanasan (80%).
Kualitas dan Aktivitas Antioksidan Seduhan Teh Rambut Jagung (Zea mays) dengan Variasi Lama Pelayuan dan Usia Panen Giovanni Natasha Hartanto; Franciscus Sinung Pranata Yuliana Reni Swasti
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 3, No 1 (2018): February 2018
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v3i1.1889

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh usia panen rambut jagung dan variasi waktu pelayuan terhadap kualitas dan aktivitas antioksidan pada teh rambut jagung. Pemanfaatan rambut jagung masih sangat minim, sehingga berpotensi untuk diolah menjadi teh celup. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 2 x 3 dengan faktor lama pelayuan (0; 9; 18 jam) dan usia panen (muda, setelah 70 - 80 hari tanam; dan tua, > 110 hari setelah tanam). Parameter yang diuji meliputi kadar air (%), kadar abu (%), kadar serat kasar (%), angka kapang khamir (koloni/g), angka lempeng total (koloni/g), warna, kandungan total fenolik dan aktivitas antioksidan. Teh rambut jagung usia panen muda yang dilayukan 9 jam memiliki kualitas yang paling baik dengan dengan kadar air 4,48%, kadar abu 5,31%, kadar serat kasar 13,66%, total fenolik 19,83 μg/g (40 ppm), aktivitas antioksidan 44,56%, AKK 0 koloni/g, ALT 1,053 x 103 koloni/g yang memenuhi SNI 3836:2013 serta disukai panelis
Ekstrak Etanol Biji Pinang Muda (Areca catechu L) Meningkatkan Apoptosis pada Sel Testikular Mencit (Mus musculus L) Sony Heru Sumarsono; Eka Pasana Pujowati Indra Wibowo Ayda T Yusuf
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 3, No 1 (2018): February 2018
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v3i1.1890

Abstract

Biji pinang memiliki potensi sebagai bahan antifertilitas dan diduga dapat menginduksi apoptosis sel-sel spermatogenik. Penelitian ini membahas tentang perubahan jaringan testikular mencit akibat pemberian ekstrak etanol biji pinang muda. Ekstrak etanol biji pinang muda disiapkan dengan maserasi, penjemuran, perendaman dan evaporasi hingga diperoleh serbuk ekstrak etanol yang kemudian dilarutkan dalam larutan Gum Arab 1% sesuai dosis. Mencit jantan galur Swiss Webster (umur8 minggu, berat 30-35 gram) dibagi dalam 5 kelompok perlakuan: (1) K = Kontrol, (2) KP = Kontrol pelarut (Gum Arab 1%), (3) P1 = Perlakukan 1 (dosis 300 mg/kg berat badan (bb)), (4) P2= Perlakuan 2 (dosis 500 mg/kg bb), dan (5) P3=Perlakuan 3 (dosis 700 mg/kg bb), diberikan secara oral (gavage) selama 17 hari. Mencit ditimbang sebelum perlakuan dan setelah perlakuan. Mencit dibunuh pada hari ke 18 dengan dislokasi leher, testis diisolasi, ditimbang dan difoto untuk mengetahui penambahan berat dan ukuran. Preparat histologi sayatan testis disiapkan dengan pewarnaan HE dan TUNEL (terminal deoxynucleotidyl transferase dUTP nick end labeling) assay untuk mengamati apoptosis. Hasil pengamatan menunjukkan terjadi (1) penurunan berat relatif testis kelompok P3, (2) ukuran testis relatif lebih kecil pada kelompok perlakuan, (3) perbedaan struktur jaringan testis pada kelompok P2 dan P3, al: (a) jumlah tubulus seminiferus lebih sedikit, (b) diameter tubulus seminiferus lebih kecil, (c) jarak antar tubulus seminiferus lebih renggang, (d) penurunan jumlah sel testikular, dan (e) peningkatan jumlah sel yang mengalami apoptosis. Ekstrak etanol biji pinang menyebabkan peningkatan apoptosis dan memiliki potensi sebagai agen alami antifertilitas pria. 

Page 50 of 120 | Total Record : 1193


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2026): February 2026 Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue