cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 25, No 1 (2024): April 2024" : 8 Documents clear
"Manguni," A Minahasan Cultural Identity: The Application of Practice-Based Research on A Program Music Gosal, Clifford Israel; Listya, Agastya Rama; Komalig, Yudi Novrian; Tan, Arwin Quiñones
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i1.12059

Abstract

Manguni is a Minahasan term for a carnivorous, nocturnal bird known as an owl. The manguni has the Latin name otus manadensis. Minahasan people believe that the manguni is a bird that brings news from Opo Wailan Wangko or God Almighty. In the modern era, mangunis have become endangered due to hunting and logging of trees that were mangunis' original habitat. The extinction of these birds has impacted the younger generation's understanding of the manguni as the identity of the Minahasan people, as well as the ancestral cultural values found in this bird. This research aims to introduce and preserve the noble values found in manguni to the younger generation through symphonic works that combine Minahasan and Western musical idioms. The use of orchestral instruments in nationalistic works has also been done by Romantic-era composers such as Bedrich Smetana, Antonin Dvorak, Bela Bartok, Zoltan Kodaly, and others. However, Manguni is the first orchestral composition to capture the magical figure of this bird musically. This research applies a qualitative and practice-based approach that positions the researcher as the vital instrument. Several stages of research include conceptualizing the composition, incorporating leitmotifs, adding extramusical ideas, pouring ideas or creations, composing detailed compositions, and evaluating. The research output is a descriptive programmatic musical work that uses manguni as an extramusical idea. Leitmotifs represent the nature and character of the manguni and its meanings to the Minahasan people. The work adopts Minahasan musical idioms, such as the rhythmic patterns of Kabasaran dance and the modes and ornamentation of Maengket singing. The Manguni movement is written in a sonata form consisting of exposition, development, recapitulation, and coda. The techniques used include polytonal, cluster, quartal, artificial harmony, polychord, sequence, augmentation, diminution, and retrograde.
Strategi Konservasi Musik Angklung Masyarakat Kampung Naga di Kota Tasiklamalaya Jawa Barat Muhtar, Sri Wahyuni; Sunarmi, Sunarmi; Soewarlan, Santosa
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i1.11716

Abstract

Musik Angklung merupakan salah satu kesenian tradisional khas Kampung Naga di kota Tasikmalaya Jawa Barat yang hingga saat ini masih dilestarikan, pertunjukan alat musik tradisional Angklung dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga di berbagai kegiatan. Tujuan penelitian untuk mengungkap kegiatan-kegiatan masyarakat Kampung Naga yang merupakan tindakan nyata pelestarian alat musik tradisional Angklung di era globalisasi saat ini. Bagaimana strategi konservasi musik Angklung yang diterapkan oleh masyarakat Kampung Naga menjadi rumusan masalah penelitian. Teori yang digunakan sebagai pijakan untuk menjawab pertanyaan penelitian adalah teori konservasi oleh Theodore Roosevelt. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan studi literatur. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa strategi konservasi musik Angklung yang diterapkan oleh masyarakat Kampung Naga di Tasikmalaya Jawa Barat ada tiga yaitu pertama, melakukan proteksi musik Angklung melalui pengembangan pertunjukan oleh generasi Kampung Naga secara turun temurun, serta penyebaran pertunjukan musik Angklung pada pentas budaya di berbagai wilayah Indonesia. Kedua, upaya negosiasi masyarakat Kampung Naga berupa penerimaan pengunjung domestik maupun mancanegara ke Kampung Naga. Ketiga, peningkatan respon masyarakat Kampung Naga terhadap situasi pariwisata berupa penyediaan jasa pertunjukan musik Angklung khas Kampung Naga bagi para wisatawan. Penelitian ini didanai oleh Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Kemendikbudristek Tahun Anggaran 2023.
Metafora Konseptual dalam Praktik Musik Keroncong Vernakular Setiawan, Yulius Erie; Aribowo, Widodo; Mibtadin, Mibtadin; May, Adam
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i1.12479

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan (mengonseptualisasikan) praktik musik keroncong vernakular, yaitu sub-genre musik keroncong yang mengakomodasi keberagaman idiom musikal, syair, alat musik, teknik permainan, bentuk musik, dan ekspresi informal lainnya (kostum dan bahasa), yang berbeda dengan ekspresi keroncong asli (pakem). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang mengelaborasikan pendekatan musikologi, etnografi, dan kajian budaya. Analisis dilakukan dengan mengamati keberadaan sebuah kelompok musik asal Malang, yaitu Kos Atos dengan mengamati dua sample rekaman video musik lagu Kita Beda Berbahaya dan Kopi, didukung wawancara klarifikatif dari subjek. Ditemukan hasil: pertama, praktik musik keroncong vernakular yang diusung Kos Atos adalah bentuk artikulasi subjek (tindakan ekspresif dan praktik diskursif) yang bertujuan untuk menemukan segmentasi pendengar keroncong di luar keroncong asli dan mewacanakan nilai pengetahuan baru di bidang musik keroncong; kedua, terdapat beberapa elemen yang dapat dikonseptualisasikan dari praktik musik keroncong vernakular, yaitu ekspresi demotik (ekspresi kerakyatan), lagu yang tidak tersofistikasi (berselera umum), musical mood, dan politik-ekonomi; ketiga, praktik keroncong vernakular dapat dikatakan sebagai bentuk pelestarian keroncong dalam konsep yang lain. Melalui praktik keroncong vernakular, genre musik keroncong dapat dijamin kelestariannya karena dapat lebih mudah diterima masyarakat umum, aktual, serta dekat dengan praktik ekonomi yang menjamin kesejahteraan hidup seniman.
Mendengarkan Gaya Musik Rhythm n Blues dan Pengalaman Relaksasi Djohan, Djohan; Wardani, Indra Kusuma; Zahra, Fifyan Nisrina
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i1.13307

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh mental melalui pengalaman relaksasi seseorang ketika mendengarkan musik dengan gaya aransemen Rhythm n Blues. Selama ini banyak penelitian terkait musik tidak lagi hanya dalam konteks musikologis tetapi sudah berorientasi pada manfaat baik bagi pelaku aktif atau pendengar pasif. Sehingga perspektif musik atau seni pada umumnya saat ini sudah berkembang sedemikian rupa hingga tidak lagi berorientasi pada seni untuk seni. Model tema penelitian ini merupakan bagian dari penguatan dan pengumpulan bukti saintifik guna pengembangan psikoterapi musik yang banyak diimplementasikan dalam bidang terapi musik.Secara teoretis, paparan terhadap musik tidak hanya akan memunculkan familiaritas atas sebuah lagu atau karya musik tanpa lirik, tetapi juga membentuk kegemaran (liking) pendengar sebagai akibat dari respons emosi terhadap musik tersebut. Hal ini tidak terlepas dari peran ekspektasi dari efek kehadiran rasa puas serta kesan plesantness dan unpleasantness bagi pendengar yang memicu efek positif-negatif sebuah musik terhadap emosi. Selain itu, respons emosi seseorang terhadap rangsang stimulus juga tidak terlepas dari kerja sistem saraf pusat yang dapat berimplikasi pada reaksi fisiologis. Salah satu reaksi fisiologis yang sering kali dijadikan acuan dalam aplikasi musik untuk terapi dan bersifat terapeutik adalah kerja sistem saraf otonom (autonomic nervous system; selanjutnya disebut ANS).Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan kuasi eksperimen yang membandingkan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Subjek di kelompok eksperimen adalah mahasiswa musik dari berbagai instrumen mayor, sedangkan subjek di kelompok kontrol adalah mahasiswa non-musik dengan berbagai latar belakang studi dengan total sampel sebanyak N=78. Usia subjek berada di rentang 17-27 tahun (=20,5±1,53). Subjek mendengarkan rekaman repertoar musik Barok yang dimainkan oleh piano dan sudah diaransemen ulang dalam format band-kombo. Kemudian pengukuran kondisi relaksasi dilakukan menggunakan kuesioner yang aitemnya mengukur indikator kerja sistem syaraf parasimpatetik dan indikator psikis berupa state anxiety. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara statistik tidak terdapat perbedaan pengalaman rilaksasi yang signifikan di antara kedua kelompok baik melalui indikator ANS(t­ANS=.502, p=.617) maupun indikator psikir (tpsikis=1.38, p=.172) Kata kunci: gaya musik; rhythm n blues; relaksasi; musikologis; autonomic nervous system ABSTRACTThe aim of this research is to identify the effect of listening to RnB music to the experience of relaxation. Due to the increasing number of research in music and its benefit to the listeners, current researches tent to go over music beyond its trait as an art. These research themes and models are beneficial to be implemented in music theraphy in the long run. Focusing on the comparison between original and arranged music to different group of listeners, the present research explored the observable indicators of relaxation through the symptoms of parasympathetic nervous system and anxiety state. Two groups of subjects ranging of 17-27 years old (mean=20,5±1,53) divided into control and experiment group. The control group listened to the original Minuet in G major by J. S. Bach  meanwhile the experiment group  listened to the arranged version of this piece in RnB style. The data was collected though online survey to collect the demography, anxiet state, and relaxation state both phisically and psychologycally. The result showed no significant difference between the two subject groups in terms of relaxation state both physically (t­ANS=.502, p=.617) and psychologycally (tpsikis=1.38, p=.172)
Bar Sheet: Panduan Sinkronisasi Bunyi Mickey-Mousing Terhadap Visualisasi Animasi Rhapsody Rabbit Fadly, Alvriza Mohammed; Supiarza, Hery; Pawitan, Zakiah; Alfathadiningrat, Danendra
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i1.12611

Abstract

Animasi tradisional pada industri film Hollywood dahulu memiliki proses kreatif yang kompleks karena keterbatasan teknologi dan kerap menyelaraskan rangkaian gambar dengan musik. Istilah proses ini mengacu pada ‘mickey-mousing’, yakni menyinkronkan setiap aksi atau gerakan dengan lantunan musik. Teknik mickey-mousing memiliki kasus dimana musik terlebih dahulu ada sehingga visual menyesuaikan dengan bagian-bagian musik yang dipilih. Tata cara ini dilakukan dengan membuat sebuah bar sheet sebagai panduan bagi animator dan komponis untuk menandakan frame dan musik yang sinkronik. Sebagai contoh, hal ini dapat dilihat pada film animasi Rhapsody Rabbit dari serial Merrie Melodies milik Warner Bros. Teknik mickey-mousing selain menyinkronkan dapat menyelaraskan pula irama antara visual dan bunyi. Oleh karena itu, Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perihal teknis penciptaan teknik mickey-mousing untuk menyelaraskan irama film animasi Rhapsody Rabbit. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis konten. Sumber data primer yakni film animasi Rhapsody Rabbit dan partitur lagu The Hungarian Rhapsody no.2 karya Franz Liszt, sumber data sekunder didapatkan melalui studi literatur berupa tulisan ilmiah yang memiliki topik relevan dengan penelitian ini. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi dan analisis data dilakukan menggunakan metode analisis konten Klaus Krippendorf yang terbagi menjadi 6 tahapan. Hasil yang ditemukan adalah teknik mickey-mousing menyelaraskan irama denga cara mengatur, mengkoordinasi, dan menggambar pose kunci pada frame tertentu yang sinkronik bersamaan musik. Prinsip-prinsip animasi straight ahead and pose to pose dan timing and spacing berperan penting dalam menepatkan suatu unsur dari komposisi dengan sketsa animasi. Implikasi penelitian ini dapat menjadi panduan bagi animator, filmmaker, dan komponis film.
Musik Iringan Tari Pencak Silat Rancak Takasima dalam Koreografi Idiom Baru Rustiyanti, Sri; Listiani, Wanda; Ningdyah, Anrilia E.M.; Dwiatmini, Sriati; Suryanti, Suryanti
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i1.11998

Abstract

The objective of this article is to elucidate the significance of music in complementing the choreography of the innovative Pencak Silat dance form known as Rancak Takasima. In the realm of dance performance, music plays a pivotal role as an accompaniment. While dance accompaniment music can exist independently, the reciprocal is not true – dance cannot be fully actualized without the support of accompanying music. Essentially, dance and music are inseparable counterparts, mutually enhancing and interdependent, akin to the interconnected sides of a coin. In the crafting of a dance performance, the presence of dance accompaniment, specifically in the form of musical compositions, serves as a crucial catalyst. This concept is referred to as external music, encompassing instruments like percussion, strings, and wind instruments employed as accompaniment in dance. In contrast, internal music entails sounds not generated by instrumental music but rather emanating from the dancer or performer, such as vocals, rhythmic footwork, finger snaps, chest and thigh percussion, hand claps, elbow taps, and the use of galembong (a patting technique on wide-legged pants). This research used a qualitative method with a dance ethnographic approach model. This technique research collected data through diverse methods such as observation, demonstration, interviews, and documentation during creating the creative process of choreographing the new idiom of Rancak Takasima. The development of dance accompaniment music and choreography unfolds gradually, originating from initially abstract ideas and taking visual form through Seni Pencak movements and the musicality crafted by the internal body's dancers themselves and using sound of  'serut bambu' props. The research outcomes showcase the Seni Pencak dance accompaniment music model as a valuable contribution to the evolution of Pencak Silat Nusantara dance. This particular dance accompaniment music model integrates seamlessly into the new idiom's choreography, featuring the distinctive ‘serut bambu’ property that generates the accompanying dance music. This research result conducted under Penelitian Terapan Jalur Hilirisasi (PTJH) scheme. For those interested in learning more, the dance accompaniment music and Seni Pencak choreography of Rancak Takasima can be easily accessed through the website https://www.dayaversapasua.tech.
Keroncong Arrangement as an Expression of Freedom Congrock 17 Satria, Dioda; Setiawan, Aris; Darlenis, Teti
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i1.9462

Abstract

This study aims to analyze the results of the arrangement of keroncong music performed by Congrock 17. Congrock 17 is a well-known progressive keroncong music group from Semarang City, Central Java, Indonesia. This study’s two musical works are the object of analysis: Keroncong Pemuda-Pemudi and Perdamaian. This study uses a musicological approach emphasizing the concepts of arrangement, freedom, expression, and musical form. These concepts determine how far Congrock 17 can create new characters and nuances in existing musical works. Musical considerations were made by Congrock 17 by keeping the fundamental nature of keroncong the same, especially in the use of musical instruments such as cak, cuk, bass, violin, and cello. As a result, the arrangement of old works by Congrong 17 was intended so that keroncong would develop more progressively, be liked by the younger generation, and avoid monotony.
Kreativitas Pertunjukan Musik dalam Perspektif Bergsonian Jatmika, Ovan Bagus; Mustikawati, Retno; Wisnumurti, Nikolas Antares Adi Pradana
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i1.12555

Abstract

Penelitian fenomenologi ini mengulas aspek kreativitas pada pertunjukan musik klasik dari perspektif Bergsonian (dan juga Deleuzian). Masalah yang coba dijawab adalah hubungan antara repetisi (praktik dengan tradisi yang berulang) dengan kreativitas (kebaruan yang diproduksi dari praktik yang berulang tersebut). Data penelitian diambil melalui wawancara dengan tiga musisi klasik (pianis Ary Sutedja, gitaris Royke Koapaha, dan dirigen Adrian Prabawa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik repetisi berdampak pada tiga model pengalaman:  repetisi sebagai cara membangun secure, repetisi sebagai kondisi pengalaman yang bergerak diantara dua tendensi, serta pengalaman sensasi. Dari temuan data dapat didiskusikan bahwa repetisi hanya bisa menghadirkan kebaruan sejauh melibatkan intensifikasi sehingga bisa menggeser kesadaran orang dari satu teritori pengalaman ke teritori pengalaman baru. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa musik, sejauh melibatkan praktik intensifikasi, dapat dilihat sebagai praktik pengembangan kedirian dalam arti, bisa membuat orang mengalami kesadaran baru melalui pergeseran kesadaran.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2024 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue