cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Lingua Jurnal Bahasa dan Sastra
ISSN : 18299342     EISSN : 25493183     DOI : -
Core Subject : Education,
Lingua, provides a forum for the full range of scholarly study of the language and literature. Embracing the field of language and literature broadly defined, the editors warmly welcome articles and research reports addressing linguistics and literature.
Arjuna Subject : -
Articles 590 Documents
PILIHAN BAHASA DWIBAHASAWAN SUNDA-INDONESIA BERBAHASA PERTAMA SUNDA DI KABUPATEN BANDUNG Wagiati, Wagiati; Wahya, Wahya; Riyanto, Sugeng
Lingua Vol 14, No 1 (2018): January 2018
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan pemilihan bahasa (language choice) oleh dwibahasawan Sunda-Indonesia berbahasa pertama Sunda di Kabupaten Bandung.Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan analisis data deskriptif.Analisis dibagi menjadi penggunaan bahasa (Sunda dan Indonesia) pada enam ranah komunikasi, yaitu ranah kekeluargaan, ketetanggaan, kekariban, pendidikan, transaksi, dan pemerintahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Sunda digunakan oleh dwibahasawan Sunda-Indonesia berbahasa pertama Sundadi Kabupaten Bandung pada hampir pada semua ranah komunikasi.Dari enam ranah komunikasi yang diteliti, pada empat ranah komunikasi, yaitu kekeluargaan, kekariban, ketetanggaan, dan transaksi, mereka lebih memilih menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa komunikasinya. Dengan skor 20 untuk selalu, skor 10 untuk kadang-kadang, dan skor 0 untuk tidak pernah, skor yang didapat pada empat ranah tersebut memperlihatkan bahwa bahasa Sunda hampir selalu digunakan, yaitu skor 17,55 untuk ranah kekeluargaan, 18,81 untuk ranah kekariban, 17,46 untuk ranah ketetanggaan, dan 16,84 untuk ranah transaksi. Adapun pada ranah pendidikan, sebagian besar dari responden lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasinya. Penggunaan bahasa Sunda pada ranah ini hanya mencapai skor 6,87. Sementara itu, pada ranah pemerintahan, bahasa Sunda dan bahasa Indonesia digunakan dengan intensitas yang hampir seimbang, yaitu dengan skor 11,71 untuk bahasa Sunda.This research describes language choice by Sundanese-Indonesian bilinguals with Sundanese first language in Bandung Regency. The method used is qualitative method with descriptive data analysis. The analysis is divided into the use of language (Sundanese and Indonesian) in the six domains of communication, namely the domain of kinship, neighborhood, closeness, education, transactions, and government. The results show that Sundanese is used by Sundanese-Indonesian bilinguals with Sundanese first language in Bandung Regency in almost all communications spheres. Of the six communication domains studied, in the four domains of communication, namely kinship, closeness, neighborhood, and transactions, they prefer to use Sundanese as the language of their communication. With a score of 20 for always, a score of 10 for sometimes, and a score of 0 for never, the score obtained in these four domains shows that Sundanese is almost always used, namely the score of 17.55 for the familial sphere, 18.81 for the domain of the closeness, 17.46 for neighboring domains, and 16.84 for the transaction domain. As for education, most of respondents prefer to use Indonesian language as its communication language. The use of Sundanese in this domain only reached a score of 6.87. Meanwhile, in the domainof government, Sundanese and Indonesian languages are used with almost equal intensity, i.e. with a score of 11.71 for the Sundanese language.
KAJI ULANG MATA KULIAH DALAM STRUKTUR KURIKULUM BERBASIS KKNI PRODI SASTRA INDONESIA UNESA Savitri, Agusniar Dian; Laksono, Kisyani
Lingua Vol 13, No 2 (2017): July 2017
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian Evaluasi Kurikulum Berbasis KKNI Prodi Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dilatarbelakangi oleh penyusunan kurikulum berbasis KKNI yang didasari oleh Perpres nomor 8 tahun 2012. Kurikulum tersebut telah diterapkan pada tahun ajaran 2015/2016. Salah satu Permasalahannya adalah masih banyak ketidaksesuaian antara komponen-komponen kurikulum, yaitu sebaran dan jenis mata kuliah. Sebab itu, perlu dilakukan kaji ulang terhadap mata kuliah dalam struktur kurikulum Prodi Sastra Indonesia Unesa. Metode yang digunakan untuk mengevaluasi kurikulum tersebut adalah metode observasi yang melibatkan pelaksana dan pengguna kurikulum yaitu dosen dan mahasiswa. Hasilnya yaitu 1) perlu mata kuliah khusus untuk capaian mahir berbahasa secara lisan dan tulis; 2) menyatukan mata kuliah antropologi linguistik dan etnolinguistik; 3) menghapus mata kuliah genolinguistik; 4) mengubah bobot SKS mata kuliah metode penelitian dan metode penelitian bahasa/sastra; 5) memunculkan mata kuliah prasyarat; dan 6) menambah mata kuliah bahasa daerah sebagai mata kuliah pilihan yang dapat menunjang analisis/penelitian bahasa/sastra.The research of KKNI Based Curriculum Structure Evaluation In Indonesian Literature Study Program Of UNESA is backed by the forming of KKNI based curriculum which is constituted by Perpres number 8 year 2012. The curriculum has been implemented in the school year 2015/2016. One of the problems is that there are still many discrepancies between the curriculum components, namely the distribution and type of courses. Therefore, it is necessary to review the courses in Indonesian Literature Study Program Of UNESA. The method used to evaluate the curriculum is the observation method which involves the implementers and users of the curriculum whom is lecturers and students. The result is 1) the needs of special courses to achieve proficiency in language both orally and written; 2) combining linguistic and ethno linguistic anthropology courses; 3) removing the genolinguistic courses; 4) adjusting SKS weight for the subjects of research methods and research methods of language / literature; 5) eliciting prerequisite courses; and 6) adding regional language courses as elective courses that can support the analysis / research of language / literature.
EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK (PROJECT BASED LEARNING) DALAM PENGEMBANGAN KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI GURU Kosasih, E.
Lingua Vol 13, No 2 (2017): July 2017
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan lembaga pendidikan tinggi keguruan (LPTK) di dalam menghasilkan guru yang profesional pertama-tama diukur dari kecakapan untuk melaksakan tugasnya sebagai tenaga kependidikan. Peran guru yang strategis itu menyiratkan makna bahwa upaya untuk menyiapkan tenaga guru yang berkualitas harus dilakukan melalui mekanisme yang berstandar, terkontrol, dan teruji. Oleh karaena itu, kami melakukan penelitian tindakan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis proyek di dalam mengembangkan profesionalisme guru sebagai tenaga pendidik. Melalui model tersebut para guru (peserta pelatian) dapat belajar lebih efektif dan lebih sistematis karena proses yang mereka lakukan langsung berdasarkan masalah dan kebutuhan-kebutuhan nyata yang mereka hadapi di lapangan.The ability of higher education institutions to produce professional teachers is first measured by the ability to perform their duties as educational personnel. Such strategic role of the teacher implies, that the effort to prepare qualified teachers should be done through a standardized, controlled, and tested mechanism. Therefore, we conduct research action using a project based learning model in developing teacher professionalism as an educator. Through the model the teachers (trainees) can learn more effectively and more systematically because the process they do directly based on the problems and real needs they face in the field.
PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS PADA KONTEKS EFL: PEMANFAATAN RECIPROCAL PEERTEACHING UNTUK PEMBELAJARAN KETERAMPILAN MENYIMAK DAN PENGUASAAN SOFT SKILLS Cahyaningrum, Dewi
Lingua Vol 13, No 1 (2017): January 2017
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterampilan menyimak, salah satu keterampilan berbahasa, menyediakan input aural yang berfungsi sebagai dasar untuk pemerolehan bahasa dan memungkinkan peserta didik untukberinteraksi dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Pembelajaran menyimak pada  koteks EFL memiliki tantangan tersendiri karena siswa memiliki kesempatan yang lebih terbatas untuk mendengarkan dan berbicara dalam bahasa Inggris baik di dalam maupun di luar kelas. Mereka memiliki lebih sedikit kebutuhan langsung untuk menggunakan bahasa Inggris (immediate English needs). Situasi ini, mereka membutuhkan latihan yang teratur dan paparan berlimpah untuk bahasa lisan dari waktu ke waktu. Di sisi lain, proses pembelajaran idealnya mampu mengembangkan hard skill dan soft skill secara terintegrasi menjadi sebuah life skill, bekal seseorang untuk berkembang baik di masyarakat. Mencermati uraian diatas, melalui penelitian deskriptif kualitatif ini, peneliti hendak mengungkapkan pemanfaatan keunggulan metode Reciprocal Peer Teaching-Learning Cell  pada pembelajaran menyimak pada konteks EFL dan penguatan soft skill. Metode ini mengkondisikan siswa saling berinteraksi untuk belajar bersama berdiskusi dan bertukar strategi dalam menyimak dalam kelompok kecil untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen/guru. Kegiatan pembelajaran kolaborasi ini juga diarahkan untuk pembiasaan soft skill seperti kerja sama, rasa saling menghargai pendapat, rasa saling memiliki (sense of belonging), rasa tanggung jawab (sense of responsibility), dan juga kepemimpinan agar terinternalisasi menjadi karakter baik mahasiswa.Listening skill is one of language skills providing aural input that serves as the basis for language acquisition and allows learners to interact in oral and written communication. Teaching listening skill in EFL context has its own challenge since students have limited opportunities to speak and listen to English both inside and outside of the class. They also have less immediate English needs. In this situation, they require regular practice and abundant exposure to spoken language over time. Besides, learning process ideally should be able to develop hard skills and soft skills that are integrated into a life skill, the provision of a person to thrive in the society. Concerning this, through a qualitative descriptive study, the researcher describes in detailed ways of accommodating the strength of “reciprocal peer teaching method - learning cell” for teaching listening in EFL context and reinforcement of soft skills. This method conditions student in small groups to learn together, discuss and exchange listening strategies to complete the tasks assigned by the lecturers/ teachers. This collaborative learning activity is also directed to accustom soft skills such as teamwork, mutual respect opinion, a sense of belonging, a sense of responsibility, and leadership as students’ good characters.
PEMEROLEHAN BAHASA ANAK DI SUMATERA BARAT (KAJIAN MEAN LENGTH OF UTTERANCE [MLU]) Marsis, Marsis; Annisa, Witri
Lingua Vol 14, No 1 (2018): January 2018
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia memperoleh bahasa merupakan satu masalah yang unik dan perlu dibuktikan. Berbagai teori dari disiplin ilmu telah dikemukakan oleh para peneliti untuk menerangkan bagaimana proses pemerolehan bahasa di kalangan anak-anak. Salah satu perkembangan bahasa yang unik dialami anak adalah perkembangan sintaksis. Pada periode awal, anak menggunakan kalimat satu kata, kalimat dua kata, kalimat tiga kata, dan seterusnya sampai tahap kalimat lengkap strukturnya (agentaction-object-location). Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi dengan mengamati subjek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa subjek berada pada tahap yang sesuai dengan ketetapan Brown, yaitu subjek YFE dan GFB dengan MLU 1,4 dan 1,54. Namun, subjek AHM, SFZ, dan FNS berada di atas tahap yang ditetapkan Brown dengan MLU 2,96, 2,44, dan 2,72; subjek NLH, BRT, dan ZY berada di bawah tahap yang ditetapkan Brown dengan MLU 3,66, 2,68, dan 3,3.Human language acquisition is a unique problem and needs to be proven. Various theories have been advanced by researchers to explain how the process of acquiring language among children. One of the unique language developments experienced by children is the development of syntax. In the early period, the child uses a one-word sentence, two-words sentence, three-words sentence, and so on until the complete phase of the structure (agent-action-object-location). The method of data collection is done by observing the subject. The results show that some subjects are at the stage consistently with the Brown stipulations, namely the subject of YFE and GFB with MLU 1.4 and 1.54. However, the subjects AHM, SFZ, and FNS are above the established stage of Brown with MLU 2.96, 2.44, and 2.72; the subject of NLH, BRT, and ZY is below the established stage of Brown with MLU 3,66, 2,68, and 3,3.
ANALISIS WACANA PARADIGMA KRITIS TEKS BERITA PENGHINAAN PANCASILA OLEH HABIB RIZIEQ SIHAB PADA SEAWORD.COM DAN LIPUTAN6.COM Sobari, Teti; Hamidah, Ida
Lingua Vol 13, No 2 (2017): July 2017
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu berita yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir atau sorotan beberapa media baik lokal maupun nasional adalah kasus Habib Rizieq yang digugat karena dianggap telah melecehkan bahkan menghina Pancasila.Kasus ini penulis angkat menjadi sorotan, selain karena aktual dan menjadi sorotan berbagai media.Penulis juga ingin mengetahui duduk perkara yang sebenarnyamengenai berita ini dan mengetahui bagaimana pendapat berbagai media mengenai masalah ini. Rumusan masalah penelitian ini adalah 1) bagaimanakah analisis wacana paradigma kritis Van Dijk mengenai berita penghinaan Habib Rizieq terhadap Pancasila dalam Seword.com dan Liputan6.com; 2) apakah perbedaan analisis wacana paradigma kritis Van Dijk dalam berita penghinaan Pancasila dalam Seword.com dan Liputan6.com?dan 3) Apakah terdapat ideologi tertentu dalam berita tentang penghinaan Pancasila oleh Habib Rizieq pada Seword.com dan Liputan6.com? Adapun alat analisis untuk mengurai masalah ini adalah analisis wacana dengan menggunakan paradigma kritis.Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif.Berdasarkan perbandingan terhadap dua teks maka dapat disimpulkan bahwa teks Seword.com cenderung memihak pada ideologi dan hegemoni kaum tertentu yang agak bertentangan dengan segala yang berbau Islam. Hal ini terlihat dari berbagai aspek telaah dalam analisis Van Dijk ini. Sedangkan Liputan6.com lebih cenderung netral, hanya memfasilitasi informasi yang akan disampaikan apa adanya tanpa misi untuk menjatuhkan ideologi tertentu/golongan tertentu.One of the recent news that became the highlight of some media, both local and national is the case of Habib Rizieq who are sued for being considered harassing and even insulting Pancasila. This case the author adopted into the spotlight, because in addition to the case being actual and became the spotlight of various media. The author also wish to know the real phenomenon about this news and find out how the views of various media on the issue. The formulation of this research problem is 1) how to analyze the Van Dijk critical paradigm discourse about the news of Habib Rizieq mockery toward Pancasila in Seword.com and Liputan6.com; 2) what is the difference of Van Dijk critical paradigm discourse analysis in the news of mockery of Pancasila in Seaword.com and Liputan6.com? and 3) Is there a certain ideology in the nows about mockery of Pancasila by Habib Rizieq in Seaword.com and Liputan6.com? The analytical tool to solve this problem is discourse analysis by using critical paradigm. The research method used is descriptive qualitative. Based on the comparison of two texts, it can be concluded that the text in Seaword.com tends to side with the ideology and hegemony of certain people who are somewhat at odds with everything Islamic. This is evident from various aspects of the analysis in the Van Dijk analysis. Whereas Liputan6.com more tends to be neutral, only facilitate the information to be delivered as it is without an intention to bring down certain ideology/groups.
ANALISIS KEMAMPUAN PENGGUNAAN EJAAN DALAM KARANGAN NARASI SISWA KELAS V SDN TLOGOSARI KULON 05 SEMARANG Fransiska, Maria; Listyarini, Ikha
Lingua Vol 13, No 1 (2017): January 2017
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah kemampuan penggunaan ejaan dalam karangan narasi siswa kelas V SDN Tlogosari Kulon 05 Semarang? Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian adalah menganalisis kemampuan penggunaan ejaan dalam karangan narasi siswa kelas V SDN Tlogosari Kulon 05 Semarang yang meliputi penggunaan huruf kapital, penulisan kata, dan penggunaan tanda baca dalam karangan narasi siswa. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yaitu data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Selain itu, semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti. Sampel yang diteliti berupa karangan narasi siswa sebanyak 22 karangan. Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan penggunaan ejaan siswa termasuk dalam kriteria baik karena tingkat persentase kesalahan penggunaan ejaan siswa mencapai 0% - 21,94%. Kemampuan penggunaan huruf kapital termasuk dalam kriteria baik karena tingkat persentase kesalahan mencapai 21,94%, kemampuan penulisan kata termasuk kriteria sangat baik karena tingkat persentase kesalahan mencapai 5,49%, dan kemampuan penggunaan tanda baca termasuk dalam kriteria sangat baik karena tingkat persentase kesalahan mencapai 11,19%. The problem of this research is how is the spelling competence in the narrative text of 5th grade students in SDN Tlogosari Kulon 05 Semarang. The purpose of this research is unveiling the analysis of students’ grammatical spelling competence in the narrative text material of 5th grade students in SDN Tlogosari Kulon 05 Semarang, including the capital characters, words’ spelling, and punctuation marks in their narrative text. The approach of this research was using descriptive qualitative, with collecting words and pictures instead of numbers. Besides, all collected data become the important keys of the research. The samples taken in this research were 22 texts.The result of this research was the understanding of spelling from the students was good since the degree of misspelling percentages was on the range of 0% - 21,94%. The competence of using capital characters of the students was good in the percentage of mistakes in 21,94%, the students’ words spelling was also good in the percentage of 5,49% mistakes, and the competence of students in using proper punctuation was also good in the degree of mistakes of 11,19%.
PERSEPSI PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK TERHADAP PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN MULTILITERASI DALAM PEMBELAJARAN TEKS PROSEDUR BERMUATAN BUDAYA DI SMP Fatmawati, Aristia; Subyantoro, Subyantoro; Mulyani, Mimi
Lingua Vol 14, No 1 (2018): January 2018
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan model pembelajaran merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Model pembelajaran multiliterasi dapat diterapkan dalam pembelajaran masa kini sesuai perkembangan berbagai literasi dan media. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi pendidik dan peserta didik terhadap pengembangan model pembelajaran multiliterasi dalam pembelajaran teks prosedur bermuatan budaya di SMP. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini yaitu menurut persepsi pendidik dan peserta didik, adanya model pembelajaran multiliterasi penting dan bisa menjadi salah satu alternatif pembelajaran. Penerapan model multiliterasi dapat juga melatih kompetensi abad 21 karena sesuai perkembangan masa kini. Selain itu, pembelajaran multiliterasi jika digunakan dalam pembelajaran teks prosedur juga mampu mengubahnya menjadi lebih menarik dan memudahkan peserta didik saat belajar.The use of learning model is one way to improve the quality of learning. Multiliteration learning models can be applied in today’s learning to the development of literacy and media. The purpose of this study was to determine the perceptions of educators and learners on the development of multiliteration learning model in teaching the text of culturally charged procedures in junior high. This research uses descriptive qualitative research design. The result of this research is with perception of educator and learner, existence of multiliteration learning model is important and can become one of alternative learning. The application of multiliteration models can also train the competence of the 21st century as it is according to current developments. In addition, multiliterational learning when used in text learning procedures is also able to transform it into a more attractive and easier for learners while studying.
TINDAKAN SOSIAL TOKOH HUSNA DALAM NOVEL LOVELY HANA KARYA INDRA RAHMAWATI BERDASARKAN PERSPEKTIF MAX WEBE Basid, Abdul; Niswah, Siti Khoirun
Lingua Vol 14, No 1 (2018): January 2018
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan bentuk tindakan sosial tokoh Husna, menjelaskan penyebab munculnya tindakan sosial tokoh Husna, dan mengungkapkan dampak yang diakibatkan karena adanya tindakan sosial tokoh Husna dalam novel Lovely Hana karya Indra Rahmawati berdasarkan perspektif Weber. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca dan teknik catat. Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan teknik Miles dan Huberman yang terdiri atas empat langkah, yaitu pengumpulan data, reduksi data, pemaparan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini adalah: 1) bentuk tindakan sosial tokoh Husna dalam novel Lovely Hana karya Indra Rahmawati berdasarkan perspektif Max Weber adalah tindakan zwecrational dan tindakan afektif; 2) penyebab munculnya tindakan sosial tokoh Husna adalah penolakan Reza atas pinangan Abah Husna dan rasa cemburu Husna kepada Hana; dan 3) dampak yang diakibatkan karena adanya tindakan sosial tokoh Husna adalah membahayakan orang lain, munculnya konflik, semakin berseminya cinta Reza dan Hana, dan penyesalan Husna.The purpose of this study is to describe and to analyze the form of Husna’s social act, its causes, and its effect in novel Lovely Hana by Indra Rahmawati based on Max Weber’s perspective. The type of this research is qualitative research.The primary source of this research is novel Lovely Hana by Indra Rahmawati. The technique of collecting data is reading and noting. To analyze data, researchers use Miles and Huberman model which contains of four steps. They are collecting data, reducting data, displaying data, and drawing conclusion. The results of this research are: 1) the forms of Husna’s social act in novel “Lovely Hana” by Indra Rahmawati based on Max Weber’s perspective are zwecrational act and affective act; 2) the cause of two Husna’s social act is Reza refusal and Husna’s envy; and 3) the effects of two Husna’s social act are putting people in danger, raising a conflict, Reza’ love toward Hana is sprouter, and Husna’s regret.
PENGGUNAAN KATA PENGHUBUNG (SEBALIKNYA, MALAH ATAU MALAHAN, APALAGI, DAN JANGANKAN) DALAM PENULISAN KALIMAT BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 25 MAKASSAR Munirah, Munirah
Lingua Vol 13, No 2 (2017): July 2017
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk memperoleh hasil yang jelas tentang bagaimana penggunaan kata penghubung dalam kalimat bahasa Indonesia pada siswa kelas VII SMP Negeri 25 Makassar.jenis ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik observasi, teknik penugasan, dan dokumentasi. Adapun sampel dari penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 25 Makassar yaitu sebanyak 28 orang siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum bentuk penggunaan kata penghubung dalam kalimat bahasa Indonesia pada siswa kelas VII SMP Negeri 25 Makassar sangat rendah. Dari 25 soal tentang penggunaan kata penghubung yang terdiri atas 13 jenis kata penghubung yang diberikan dalam tugas, seperti kata penghubung dan, dengan, dan atau; namun, sedangkan, dan sebaliknya; malah, hanya, dan lagipula; apalagi, itupun, dan jangankan; serta kata penghubung bahkan yang menunjukkan tingkat penggunaannya yang tertinggi yaitu kata penghubung sebaliknya sebanyak 16 orang siswa menggunakannya, kata penghubung apalagi sebanyak 10 orang siswa menggunakan, dan kata penghubung jangankan sebanyak 12 orang yang menggunakan. Penggunaan kata penghubung di atas dikarenakan siswa kurang memahami fungsi dari tiap-tiap kata penghubung dengan baik, sehingga dalam penggunaan kata penghubung tersebut seringkali tertukar atau salah. Selain itu, masih terdapat siswa yang menghadapi kerancuan dalam memahami makna suatu kata penghubung sehingga penggunaan kata penghubung dalam kalimat menjadi tidak tepat.The purpose of this study was to obtain a clear result of how the use of conjunctions in Indonesian Language sentences by class VII students of SMPN 25 Makassar. The type of research is descriptive qualitative research. Data collection techniques in this study are observation techniques, assignment techniques, and documentation. The sample of this research is class VII students of SMPN 25 Makassar as many as 28 students. The results of this study indicate that in general the use of conjunctions in Indonesian Language sentences by class VII students SMP Negeri 25 Makassar is very low. From 25 questions about the use of conjunctions consisting of 13 types of conjunctions given in the assignment, such as conjunctions dan, dengan, and atau; namun, sedangkan, and sebaliknya; malah, hanya, and lagipula; apalagi, itupun, and jangankan; as well as conjunction bahkan. Which shows the highest level of use is conjunction sebaliknya as many as 16 students use it, conjunction apalagi as many as 10 students use it, and conjunction jangankan as many as 12 students use it. The use of the above conjunctions is because the students do not understand the function of each conjunction well, so that the use of conjunctions is often switched or wrong. In addition, there are still students who face confusion in understanding the meaning of some conjunctions causing the use of the conjunction in the sentence to be inappropriate.