cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Nadwa : Jurnal Pendidikan Islam
ISSN : 19791739     EISSN : 25028057     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 522 Documents
Menangkal Radikalisme Atas Nama Agama Melalui Pendidikan Islam Substantif Susanto, Nanang Hasan
Nadwa Vol 12, No 1 (2018): Islamic Education and Peace
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2018.12.1.2151

Abstract

The increase of Islamic radicalism in Indonesia are the fact on social reality in Indonesia at present day. Therefore it is necessary to trace the basic substance of Islamic education. Through literature study and descriptive analysis, this study concludes that Islamic radicalism can be prevent by understanding the basis fundamental of islamic education in the form of 3 main points, namely: First, not mistaken in interpreting the Holy Qur'an, Second, not be trapped in the formalization of religion. The efforts of religion groups to establish the Khilafah Islamiyah (Islamic Empire) which is often triggered violence’s in making it happen are categorized as a trapped on the formalization of religion. Third, implement a religious life with Hanif, that is to implement a religious life with a right attitude, Sincere and passionate truth, in accordance with what is exemplified by Prophet Ibrahim as the father of monotheis, and in accordance with the content of QS Ar-Rum verse 30.Abstrak.Menguatnya gerakan Islam radikal  merupakan  fakta yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menelusuri substansi mendasar pendidikan Islam. Melalui studi pustaka dan analisis deskriptif, penelitian ini menawarkan sebuah gagasan, bahwa radikalisme atas nama agama dapat ditangkal dengan memahami substansi mendasar pendidikan agama Islam berupa 3 hal pokok, yakni Pertama, tidak salah dalam menafsirkan kitab suci Al-Qur’an, Kedua, beragama tidak terjebak pada formalisasi agama. Upaya berbagai kelompok untuk mendirikan Khilafah Islamiyah yang seringkali disertai kekerasan dalam mewujudkannya, dikategorikan sebagai bentuk keterjebakan pada formalisasi agama. Ketiga, menjalankan kehidupan beragama dengan hanif, yakni menjalankan kehidupan beragama dengan sikap yang lurus, tulus dan bersemangat kebenaran, sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi Ibrahim sebagai bapak monotheis, dan sesuai dengan kandungan Q.S. ar-Rum ayat 30.
The Leadership of the Head Madrasah Based Quality wahyudi, wahyudi; Sugiharto, DYP; Masrukhi, Masrukhi; Rifai Rc, Ahmad
Nadwa Vol 12, No 1 (2018): Islamic Education and Peace
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2018.12.1.2450

Abstract

The research focus is to discuss about a leadership of the head madrasah-based quality in Madrasah Aliyah Al Mukmin Muhammadiyah, Tembarak, Temanggung, Central Java. It was used qualitative research. The result shown that the head of the madrasah had a strong desire to realize the vision and mission of the madrasah. He strongly built the quality culture of madrasah based on five principles. There are (1). always being a mukmin and Muslim everywhere and anytime. (2). always friendly in service. (3). having a high professionalism in carrying out administrative duties and adoring the work. (4). creative, dynamic, and innovative in scientific development, and (5). Behave and trustworthy manner, akhlaqul karimah and be role model to other academic community.Abstrak Fokus penelitian adalah untuk membahas tentang kualitas kepemimpinan kepala madrasah di Madrasah Aliyah Al Mukmin Muhammadiyah, Tembarak, Temanggung, Jawa Tengah. Metode penelitian menggunakan penelitian kualitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa kepala madrasah memiliki keinginan yang kuat untuk mewujudkan visi dan misi madrasah. Dia sangat membangun budaya kualitas madrasah berdasarkan lima prinsip. (1). selalu menjadi seorang mukmin dan Muslim di mana saja dan kapan saja. (2). selalu ramah dalam pelayanan. (3). memiliki profesionalisme yang tinggi dalam menjalankan tugas-tugas administrasi dan mengagumi pekerjaan. (4). kreatif, dinamis, dan inovatif dalam pengembangan keilmuan, dan (5). berperilaku dan dapat dipercaya, akhlaqul karimah dan menjadi teladan bagi komunitas akademis lainnya. 
Model Pendidikan Akhlaq Santri di Pesantren dalam Meningkatkan Akhlaq Siswa Di Kabupaten Bireuen Rizal, Muhammad; Iqbal, Muhammad; MA, Najmuddin
Nadwa Vol 12, No 1 (2018): Islamic Education and Peace
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2018.12.1.2232

Abstract

 The research was conducted begins on government policy on implementation of Islamic sharia in Aceh. Pesantren’s education pattern has emphasized more on strengthen professional fields simultanously and strengthenIislamic scope dan akhlakul karimah (character education). Qualitative method was used in this study with descriptive approach. Result showed that curriculum currently used in pesantren is refer to dayah salafi (traditional pesantren) in Aceh, which used Kitab as main source of knowledge in teaching process. While media used in teaching process were Arab’s Kitab, video, playback of religious lectures, and wall magazines. The methode used in teaching process were advice, teacher exemplary, teaching and counseling, habituation of religious practice, motivation straightening, coordination with santri’s parents, and coordination with dayah’s stakeholder, morals coaching output, and reward and punishment methods.AbstrakPenelitian dilakukan berawal dari kebijakan Pemerintah terhadap implementasi syariat Islam di Aceh. Pola pendidikan pesantren memiliki tradisi dan kultur akademik yang lebih menekankan pada penguatan bidang profesional secarasi simultan, serta penguatan pada bidang-bidang keislaman dan pendidikan akhlakul karimah. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum yang berlaku di pesantren semuanya mengacu kepada kurikulum dayah salafi di Aceh dengan menjadikan kitab sebagai sumber utama dalam proses belajar mengajar. Media yang digunakan pada proses pembelajaran adalah kitab-kitab Arab, tayangan vidio, pemutaran ceramah agama dan pemanfaatan madding. Sedangkan metode yang digunakan meliputi metode nasehat, keteladanan guru, bimbingan dan pendampingan, praktek dan pembiasaan amalan ibadah, pelurusan motivasi, koordinasi dengan wali santri, koordinasi dengan stakeholder dayah, out put pembinaan akhlak dan reward serta punisment. 
Learning Development Based On Multicultural In Inclusion School Wahid, Abdul; Sugiharto, DYP.; Samsudi, Samsudi; Haryono, Haryono
Nadwa Vol 12, No 2 (2018): Islamic Education and Humanization
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2018.12.2.2744

Abstract

The aim of the study was to describe the development of multicultural-based inclusion learning in TK Talenta Semarang. This type of research is qualitative descriptive. The findings in this study are that first, multicultural-based inclusion learning is more emphasized in the implementation and evaluation of learning, second, multicultural values grow in students through activities in religious centers that emphasize social piety respecting differences, third: differences in institutions inclusive education is a miniature of diversity in ethnicity, race and religion.AbstrakTujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan pengembangan pembelajaran inklusi berbasis multikultural di TK Talenta Semarang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Temuan dalam penelitian ini adalah bahwa pertama, pembelajaran inklusi berbasis multi kultural lebih ditekankan pada pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran, kedua, Nilai-nilai multikultural tumbuh dalam pribadi siswa melalui kegiatan di sentra agama yang menekankan kesalehan sosial menghormati perbedaan, ketiga : perbedaan yang ada di lembaga pendidikan inklusi merupakan miniatur dari keragaman suku, ras dan agama. 
Model of Religious Culture Education and Humanity Abdullah, Muhammad Luthfi; Syahri, Akhmad
Nadwa Vol 12, No 2 (2018): Islamic Education and Humanization
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2018.12.2.2756

Abstract

This study aims to find out how the model of religious cultural education to create human character. This study uses a qualitative method. The research subjects were students at the Darut Tauhid Islamic boarding school in Bandung. The results of the study show that there are 8 (eight) religious cultures implemented in education and become a spirit to form human values, namely TSP (Resistant to littering, storing garbage in its place, picking up garbage insha Allah blessing); Bebaskomiba (Messing, Wet-Drying, Dirty-Cleaning, Leaning, Dangerous)); three M, five K, profit concept, five S, five don't, seven B.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana model pendidikan budaya berbasis agama untuk membentuk nilai-nilai kemanusiaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Subjek penelitiannya adalah mahasiswa di pesantren Darut Tauhid Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 8 (delapan) budaya agama yang diimplementasikan dalam pendidikan dan menjadi semangat untuk membentuk nilai-nilai kemanusiaan yaitu TSP (Tahan dari buang sampah sembarangan, Simpan sampah pada tempatnya,Pungut sampah insya Allah berkah); Bebaskomiba (Berantakan-rapikan, Basah-keringkan, Kotor-bersihkan, Miring-luruskan, Bahaya-amankan); tiga M, lima K, konsep untung, lima S, lima jangan, tujuh B.  Kata Kunci: Model Pendidikan; Budaya Agama; Nilai Kemanusiaan Islam; Program Pesantren Mahasiswa; Daarut Tauhiid
Islamic Education in Supporting De-radicalization: A Review of Islamic Education in Pondok Pesantren Haryani, Tiyas Nur; Amin, Muhammad Ikhsanul; Arifah, Nur Hidayatul; Husna, Arina Mardhiyana
Nadwa Vol 12, No 2 (2018): Islamic Education and Humanization
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2018.12.2.2581

Abstract

This article present of the result of research about pondok pesantren (Islamic religious boarding school) education in confronting radicalism, focusing in researching the efforts of Pondok Pesantren Darusy Syuhadah in confronting radicalism. Collecting qualitative data through observation, documentation, and purposively sampled interviews. The result shows that pesantrens have a significant role in overcoming radicalism through its management of education model and curricula. Pondok Pesantren Darusy Syuhadah with Salaf education model build teaching and education to create generation of da’i (Islamic missionaries) and teachers of Islamic religion, so the curriculum prioritizes politeness and away from radicalism. AbstrakArtikel ini mempresentasikan hasil penelitian tentang pendidikan pondok pesantren dalam menghadapi radikalisme, memfokuskan pada upaya yang dilakukan pesantren Salaf di Pondok Pesantren Darusy Syuhadah dalam menghadapi radikalisme. Data kualitatif dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara purposive sampeling. Hasilnya menunjukkan bahwa pesantren memiliki peran yang signifikan dalam mengatasi radikalisme melalui pengelolaan model pendidikan dan kurikulumnya. Pondok Pesantren Darusy Syuhadah dengan model pendidikan Salaf membangun pengajaran dan pendidikan untuk menciptakan generasi da'i dan guru agama Islam, sehingga kurikulumnya mengutamakan kesantunan dan jauh dari radikalisme. 
The Importance of Problem Based Learning in Islamic Higher Education Kholis, Nur
Nadwa Vol 12, No 2 (2018): Islamic Education and Humanization
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2018.12.2.2532

Abstract

This article aims to explain the importance of applying the Problem Based Learning (PBL) method in Islamic Religious Colleges (PTKI). this study uses literature review. The results of the study indicate that PBL is a constructive learning method that uses problems as a trigger for the learning process. This method is important for students in Islamic higher education in constructing their own learning experiences and knowledge, to improve critical thinking skills, problem solving, train communication skills, and improve student learning outcomes. AbstrakArtikel ini bertujuan memaparkan tentang pentingnya penerapan metode Problem Based Learning (PBL) di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). penelitian ini menggunakan kajian kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PBL adalah metode pembelajaran konstruktivistik yang menggunakan masalah sebagai pemicu proses pembelajaran. Metode ini penting untuk mahasiswa di pendidikan tinggi Islam dalam mengkonstruk pengalaman belajar dan pengetahuan sendiri, untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, melatih keterampilan komunikasi, dan meningkatkan hasil belajar mahasiswa. 
College Students’ Perception about the Implementation of Democratic and Humanist Learning Model in State Islamic Institute (IAIN) Sultan Amai Gorontalo Asiah.T, Siti; Anwar, Herson
Nadwa Vol 12, No 2 (2018): Islamic Education and Humanization
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2018.12.2.2713

Abstract

This research aims to analyse the perception of students of Islamic Education Management Study Program at Faculty of Teacher Training and Education, Islamic State University (IAIN) Sultan Amai Gorontalo about the implementation of democratic and humanist learning model. The sample used in the research was 98 respondents. The data analysis technique used was descriptive statistic by using Weighted Means Score (WMS) formula. The research result about student perception showed that lecturers at Islamic Education Management Study Program had already been applied democratic and humanist learning model perfectly in the interactive learning condition. To realize a democratic and humanist learning model, lecturer figure is needed that has the knowledge and ability to develop a model of democratic and humanist learning. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis persepsi mahasiswa Prodi Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Sultan Amai Gorontalo tentang penerapan model pembelajaran yang demokratis dan humanis. Jumlah sampel adalah 98 responden. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif dengan rumus Weighted Means Score (WMS). Hasil penelitian mengenai persepsi mahasiswa menunjukkan bahwa model pembelajaran demokratis dan humanis sudah diterapkan dengan baik dalam suasana pembelajaran yang interaksi dan interaktif. Untuk mewujudkan model pembelajaran yang demokratis dan humanis, diperlukan sosok dosen yang memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengembangkan model pembelajaran demokratis dan humanis
The Growth of Learning Enthusiasm at the Emeyodere Muslim Minority Education Institution in West Papua Wekke, Ismail Suardi; Ruaidah, Fitri; Wardi, Moh.
Nadwa Vol 12, No 2 (2018): Islamic Education and Humanization
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2018.12.2.2690

Abstract

The purpose of this study was to find out what factors could trigger the enthusiasm of the Emeyodere foundation students. This study uses a qualitative descriptive research method. The results showed that first, the leadership factor of the foundation, the foundation aim was to elevating the Kokoda tribe from educational backwardness. Second, motivation factor. Third, aid factor, the foundation provides assistance or donations such as books, stationery for every semester, school uniforms for disadvantaged students, and supplementary meals every two weeks.AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat memicu semangat peserta didik yayasan Emeyodere. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, Faktor kepemimpinan yayasan, yayasan ini didirikan dengan tujuan untuk mengangkat derajat suku Kokoda dari keterbelakangan pendidikan. Kedua, faktor motivasi, ketiga, faktor bantuan, pihak yayasan memberikan bantuan atau sumbangan berupa buku-buku dan alat tulis pada setiap semester, seragam sekolah bagi peserta didik yang  kurang mampu, dan makanan tambahan setiap dua minggu sekali.
The Cultivation of Tolerance Value in Madrasah through Tahfidh Hadits Musyafiq, Ahmad
Nadwa Vol 12, No 2 (2018): Islamic Education and Humanization
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2018.12.2.2938

Abstract

This article will analyze the content and learning process of the tahfidh hadith in Integrated Madrasah Ibtidaiyah (MIT) Nurul Islam Ngaliyan Semarang related to the cultivation of tolerance values. This study uses content analysis and in-depth interviews. The results of this study are that first, most of the contents of the tahfid hadith package contain ghairu mahdlah (social) worship which reaches 83%, in which there is a tolerance value, while the hadith about worship is 17%. Second, the tahfidh learning process uses a variety of methods, namely writing, reading, memorizing, translating and monitoring the application of the values contained in the hadith in everyday life. AbstrakArtikel ini akan menganalisa isi dan proses pembelajaran tahfidh hadis  di Madrasah Ibtidaiyah Terpadu (MIT)  Nurul Islam Ngaliyan Semarang terkait dengan penanaman nilai-nilai toleransi. Penelitian ini menggunakan analisis isi dan wawancara mendalam. Hasilnya adalah bahwa pertama, sebagian besar isi paket hadis tahfidh memuat ibadah ghairu mahdlah (sosial) yang mencapai 83%, yang di dalamnya terdapat nilai toleransi, sedangkan hadits tentang ibadah mahdhah 17%. Kedua, Proses pembelajaran tahfidh hadits menggunakan berbagai variasi metode yaitu menulis, membaca, menghafal, menerjemah dan pemantauan penerapan nilai-nilai yang terkandung dalam hadits dalam kehidupan sehari-hari . 

Filter by Year

2012 2025