Articles
522 Documents
Signifikansi Brain Based Learning Pendidikan Anak Usia Dini
Jazariyah, Jazariyah
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 11, No 1 (2017): Pendidikan Anak
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2017.11.1.982
This study based on the reality of learning in the early childhood level and the system has not noticed the potential of the brain learners. The potential and the working system of the brain is very important in early childhood. This paper aims to reveal the importance of brain-based learning in Early Childhood Education (ECD). The problem in this study are what the nature of early childhood education and how to use the potential and work system of the brain in early childhood learning. This study used library research. From the discussion showed that the brain-based learning was important for use in teaching and learning of young children. One of aplication, brain-based learning use quantum learning by optimizing learning with active learning strategies so that potential students can be optimized. This research had contribution to brain based learningAbstrakKajian ini dilatarbelakangi oleh realitas masih adanya pembelajaran di jenjang PAUD yang belum memperhatikan potensi dan system kerja otak peserta didik. Padahal potensi dan system kerja otak sangat penting dalam pembalajaran di PAUD. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan pentingnya brain based learning pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Rumusan masalah pada kajian ini adalah seperti apa hakikat Pendidikan Anak Usia Dini dan bagaimana penggunaan potensi dan system kerja otak dalam pembelajaran anak usia dini. Penelitian ini menggunakan metode library research Dari hasil pembahasan menunjukkan bahwa brain based learning penting untuk digunakan dalam proses belajar mengajar anak usia dini. Salah satu pelaksanaan pembelajaran berbasis otak ini dapat menggunakan pembelajaran quantum dengan mengoptimalkan pembelajaran dengan strategi pembelajaran aktif sehingga potensi anak didik dapat dioptimalkan. Penelitian ini memiliki kontribusi pada pembelajaran berbasis otak.
Human Resource Procurement in Pesantren? Insight from Pesantren Sirojuth Tholibin
Sholihah, Baqiyatush
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2020.14.2.6487
Human resource procurement is one of the essential stages of organizational decision-making. The scope of procurement consists of planning, recruitment, selection, placement, and orientation of new personnel. Human resources studied in this research are situated in Pesantren comprising of the committee or board; teachers of kitab kuning (classical Arabic Islamic textbook) either with sorogan or bandongan methods; teachers of reciting and memorizing Al-Qur’an; persons in charge of media such as website, Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, magazines, and newsletters of Sirojuth Tholibin both. Sirojuth Tholibin commonly used a bottom-up approach in human resources planning. As a part of the planning process, The institution usually combines unstructured interview and observation methods in job analysis. In recruitment and selection, Sirojuth Tholibin pays more attention to behavioral competencies over technical competencies. Recruitment of committee and teachers usually carried out through the employee referral method. Those recruited and selected are recommendations from previous administrators who understand the background of potential candidates. The placement of new human resources is made based on their respective competencies. Orientation is the responsibility of each department, and the duration is according to the speed of each new individual in capturing new knowledge related to their jobs. The weakness of human resources procurement in Sirojuth Tholibin has no formal written job description and job specification. There is also a lack of management information systems of human resource procurement.
Tantangan Pengembangan Pendidikan Keguruan di Era Global
Oviyanti, Fitri
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 7, No 2 (2013): Inovasi Pendidikan
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2013.7.2.562
Globalization barrage pass major changes to the world order as a whole. This era is characterized by the process of life worldwide, the advancement of science and technology, especially in the field of communication as well as the transformation and cross-cultural. Changes brought about by globalization are also experienced by the world of education with teachers as practitioners. Challenges faced by teachers in the global era, such as the development of science and technology are so rapid and fundamental; moral crisis that swept the nation and thestate, social crisis and a crisis of identity as a nation. All that obviously requires prospective teachers and qualified professionals. Teacher education programs must be able to provide excellent service to the students so that they can esta-blish qualified teacher. Improving the quality of education will foster public confidence that still exist in the future? AbstrakGlobalisasi mewariskan rentetan perubahan besar pada tatanan dunia secara menyeluruh. Era ini ditandai dengan proses kehidupan mendunia, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama dalam bidang transformasi dan komunikasiserta terjadinya lintas budaya. Perubahan yang dibawa oleh globalisasi ini juga dialami oleh dunia pendidikan dengan guru sebagai praktisinya. Tantangan yang dihadapi guru di era global, seperti perkembangan ilmu pengetahuan dan tekno-logi yang begitu cepat dan mendasar; krisis moral yang melanda bangsa dan negara, krisis sosial dan krisis identitas sebagai bangsa. Semua itu jelas menuntut calon guru yang profesional dan bermutu. Program pendidikan guru harusmampu memberikan pelayanan prima kepada mahasiswa sehingga mampu mencetak guru yang berkualitas. Peningkatan mutu pendidikan ini akan menumbuhkan kepercayaan masyarakat sehingga tetap eksis di masa datang.
Konsep Pendidikan Islam dengan Paradigma Humanis
Subaidi, Subaidi
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 10, No 1 (2016): Pendidikan Islam dan Humanisme
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2016.10.1.900
Education is a rehumanisme, that was oriented to form individuals who able to understand the reality itself and the surrounding communities. The aim of education is to create significant social change in the life of mankind. One of the contents of the national education goals is to appreciate the reality of humanity and the potential that owned learners (human). Islam in its victorius was a center of the study of various discipline. It was proved by the emergence of Muslim scientists. But over time, the Islamic intellectualism began to decline along with cultural understanding and taqlid, whereas al-Qur`an have many signaled to examines all disciplines, not limited to the religious sciences. It can be seen from the verses of al-Qur`an that ordered to examine the verses kauniyah. Thus Islamic comprehensive assessment is a paradigm of Humanist Islamic Education or in other words, humanize human accordance with the primary task of man as a khalifah on earth.Abstrak:Pendidikan merupakan pemanusiaan kembali manusia (humanisasi) yang berorientasi pada bentuknya individu yang mampu memahami realitas dirinya dan masyarakat sekitarnya serta bertujuan untuk menciptakan perubahan sosial secara signifikan dalam kehidupan umat manusia. Salah satu isi dari tujuan pendidikan nasional adalah menghargai realitas kemanusiaan dan berbagai potensi yang dimilki peserta didik (manusia). Islam pada masa kejayaannya menjadi pusat kajian berbagai disiplin ilmu, hal ini terbukti dengan bermunculannya para ilmuwan muslim. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, intelektualisme Islam itu mulai redup seiring dengan pemahaman dan budaya taqlid, padahal al-Qur`an banyak memberikan isyarat agar mengkaji semua disiplin ilmu, tidak terbatas ilmu-ilmu agama saja. Hal ini bisa dilihat dari ayat-ayat al-Qur`an yang memerintahkan untuk mengkaji ayat-ayat kauniyah. Dengan demikian Pengkajian Islam secara komprehenshif baik ilmu agama maupun umum adalah sebagai Paradigma Pendidikan Islam Humanis atau dengan kata lain memanusiakan manusia sesuai dengan tugas utama manusia sebagai khalifah di muka bumi.
The Relevance of Al-Ghazali’s Tazkiyatun-Nafs Concept With Islamic Education in The Millennial Era.
Musrifah, Musrifah
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 13, No 1 (2019): Islamic Education and Liberation
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2019.1.1.3899
This study aims to know the relevance of Al-Ghazali’s tazkiyatun-nafs concept to Islamic education. This study uses the library research method with content analysis. The results showed that there were two relevance of al Ghazali's thinking about tazkiyatunnafs towards Islamic Education, namely first, that the purity of soul (tazkiyatun nafs) in Islamic education became a basic and very important thing for students to acquire useful knowledge. Science comes from Allah Swt The Most Holy. Second, A healthy soul as a result of tazkiyatun-nafs is the key to the success of students amid the millennial life that has a very rapid change through information technologyAbstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui relevansi konsep tazkiyatun-nafs Al-Ghazali dengan pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan content analysis.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Relevansi pemikiran al Ghazali tentang tazkiyatunnafs terhadap Pendidikan Islam di era millennial ada dua yaitu pertama, kebersihan jiwa (tazkiyatun nafs) al Ghazali dalam pendidikan Islam menjadi hal yang bersifat dasar dan sangat penting untuk dimiliki anak didik agar memperolah ilmu yang bermanfaat. Karena Ilmu itu datangnya dari Allah Swt yang Maha Suci, shalatnya jiwa, dan peribadatannya batin kepada Allah Swt. Kedua, jiwa yang sehat hasil dari tazkiyatun-nafs merupakan kunci bagi kesuksesan anak didik ditengah kehidupan millennial yang mempunyai sifat perubahan yang sangat cepat melalui teknologi informasi
The Effect of Academic Background and Religious Orientation to Religious Fundamentalism among University Students
Fihris, Fihris
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 14, No 1 (2020): Islamic Education and Radicalism
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2020.14.1.6118
This paper discusses influence of the religious orientation and educational background of students to fundamentalism. This study involved 291 students of the UIN Walisongo and Diponegoro University (UNDIP). Data were collected using a Likert scale questionnaire and analyzed by multiple regression. The results showed that religious orientation significantly affected student religious fundamentalism with value of f = 17.523. On the other hand, educational background does not significantly affect student religious fundamentalism with a value of f = 2.430. Likewise, the interaction of religious orientation and educational background did not significantly affect student religious fundamentalism with a value of f = 10.010. AbstrakPenelitian ini membahas pengaruh orientasi agama dan latar belakang pendidikan mahasiswa terhadap fundamentalisme agama. Penelitian ini melibatkan 291 mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo dan Universitas Diponegoro (UNDIP). Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner skala likert dan dianalisis dengan regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orientasi keagamaan signifikan mempengaruhi fundamentalisme agama pada mahasiswa dengan nilai f = 17,523. Sebaliknya latar belakang pendidikan tidak signifikan mempengaruhi fundamentalisme agama pada mahasiswa dengan nilai f = 2,430. Demikian juga interaksi orientasi keagamanan dan latar belakang pendidikan tidak signifikan mempengaruhi fundamentalisme agama pada mahasiswa dengan nilai f = 10,010.
Pengembangan Standarisasi Pondok Pesantren
Sidiq, Umar
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 7, No 1 (2013): Pendidikan Islam Unggul
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2013.7.1.544
Pesantren as a forerunner to the original Indonesian educational institution just legally recognized in 2003 through the National Education Law No. 20/ 2003. The pesantren educations that were initially oriented only on deepen-ing religious knowledge have begun to include general subjects. The inclu-sion of these subjects is expected to expand the horizons of students’ thought in which they will also take the national examination held by the govern-ment. The informal education outcomes are appreciated to be equivalent to formal education after passing the assessment of equivalency process con-ducted by agencies appointed by the government or local authorities by ref-erence to national education standards. The pesantren has a special place and position in the national education system. Therefore, the pesantren should always make improvements and increase its education quality.AbstrakPesantren sebagai cikal bakal lembaga pendidikan yang asli Indonesia baru mendapat pengakuan secara yuridis pada tahun 2003 melalui UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Pendidikan pesantren yang pada mulanya hanya berorientasi pada pendalaman ilmu agama semata-mata mulai memasukkan mata pelajaran umum. Masuknya mata pelajaran ini diharapkan untuk memperluas cakrawala berpikir para santri dan biasanya pula para santri mengikuti ujian negara yang diadakan oleh pemerintah. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. Posisi pesantren dalam sistem pendidikan nasional memiliki tempat dan posisi yang istimewa. Karena itu, sudah sepantasnya jika kalangan pesantren terus berupaya mela-kukan berbagai perbaikan dan meningkatkan kualitas serta mutu pendidikan di pesantren.
Signifikansi Paradigma Pendidikan Kritis dalam Dunia Posrealitas
Gianto, Gianto
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 6, No 2 (2012): Signifikansi Pendidikan Profetis
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2012.6.2.588
New world as a result of the development of science and technology mutakhir makes sign no longer reflect reality. Representation is no longer associated with the truth. The new world was built by various forms of distortion of reality, free game mark, meaning irregularities and artificiality meaning. The new world was built by many reality distortions, the free sign game, the deviation and appear-ance of meaning. A new reality world draws a metamorphosis which is got by human, from what mentioned as a reality condition, turn to post-reality. The post-reality will not effect at all to human if the critical awareness of human is kept on. Yet, if the critical awareness of human has been eroded, the human has artificial awareness. Actually, the post-reality is not a threat for human’s life if the critical awareness is kept on. Yet, if the critical awareness of human is erod-ed, human will be pressed and dominated by post-reality world.AbstrakDunia baru akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir menjadikan tanda tidak lagi merefleksikan realitas. Representasi tidak lagi berkaitan dengan kebenaran. Dunia baru itu dibangun oleh berbagai bentuk dis-torsi realitas, permainan bebas tanda, penyimpangan makna dan kesemuan mak-na. Dunia realitas baru tersebut melukiskan sebuah metamorfosis yang dialami oleh manusia, dari apa yang disebut sebagai kondisi realitas, ke arah apa yang disebut sebagai kondisi posrealitas (post-reality). Realitas dunia posrealitas ter-sebut tidak akan berdampak apa-apa terhadap manusia jika fakultas kesadaran kritis manusia tetap terjaga, akan tetapi jika fakultas kritis manusia telah terde-gradasi maka yang akan terjadi adalah manusia yang berkesadaran artifisial. Sebenarnya posrealitas bukanlah sebuah ancaman bagi kehidupan manusia se-jauh fakultas kritis manusia masih terjaga dengan baik, akan tetapi jika fakultas kritis manusia telah terdegradasi maka yang terjadi adalah manusia yang tertin-das dan terdominasi oleh dunia posrealitas.
Internalization of Tolerance Values in Islamic Education
Nugroho, Puspo
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 12, No 2 (2018): Islamic Education and Humanization
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2018.12.2.2397
The purpose of this paper is to know the internalization process of religious tolerance values such as tauhid, rahmah, musawah in educational institutions. This study took place in the SMP Muhammadiyah Salatiga, the Junior High School, which using a qualitative approach. The results of this study are that first, to put tolerance values into the curriculum, second, to develop vertical relationships in Allah SWT and horizontal fellow humans, third, to emphasize the implementation of tolerance values in the daily lives of students in realizing Islam rahmatan lil alamin, Fourth,  the teacher gives examples of tolerance behavior in the learning process.AbstrakTujuan tulisan ini ingin mengetahui proses internallisasi nilai-nilai toleransi beragama seperti tauhid, rahmah, musawah di lembaga pendidikan. Penelitian ini mengambil lokasi di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Salatiga dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini adalah  pertama memasukkan nilai-nilai toleransi ke dalam kurikulum, kedua : membangun hubungan vertikal pada Allah SWT dan horizontal sesama manusia, ketiga: menekankan pelaksanaan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari siswa dalam mewujudkan Islam rahmatan lil alamin. Ke empat: guru memberi contoh prilaku toleransi dalam proses pembelajaran.Â
Moderation of Islamic Education as an Effort to Prevent Radicalism (Case Study of FKUB Singkawang City, Kalimantan, Indonesia)
Widodo, Asrip
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 13, No 2 (2019): Islamic Education and Trancendence
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2019.13.2.5086
Radicalism threatens harmony and unity. We need a holistic deradicalization effort by various elements of the nation. One element that has a strategic role is the Forum for Religious Harmony (FKUB). The study was conducted to reveal the role of FKUB Singkawang City in campaigning for moderation of Islamic education for the community as an effort to prevent radicalism, thus delivering this city as the number one most tolerant city in Indonesia. The method used is a qualitative field (Field Research), researchers go directly to the field to obtain data and information from data sources. Data were collected through direct interviews with the Chairperson of FKUB Singkawang City, FKUB documentation, Social Media and direct observation to the research location. The results showed that FKUB was able to realize moderation of Islamic education outside of educational institutions with dialogue and advocating strategic.Radikalisme mengancam harmoni dan persatuan. Kita membutuhkan upaya deradikalisasi holistik oleh berbagai elemen bangsa. Salah satu elemen yang memiliki peran strategis adalah Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Studi ini dilakukan untuk mengungkap peran FKUB Kota Singkawang dalam mengkampanyekan moderasi pendidikan Islam bagi masyarakat sebagai upaya mencegah radikalisme, sehingga menjadikan kota ini sebagai kota nomor satu yang paling toleran di Indonesia. Metode yang digunakan adalah bidang kualitatif (Field Research), peneliti pergi langsung ke lapangan untuk memperoleh data dan informasi dari sumber data. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan Ketua FKUB Kota Singkawang, dokumentasi FKUB, Media Sosial dan observasi langsung ke lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FKUB mampu mewujudkan moderasi pendidikan Islam di luar lembaga pendidikan dengan dialog dan advokasi strategis.