cover
Contact Name
Amirullah
Contact Email
amirullah8505@unm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.pattingalloang@unm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pattingalloang : Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Penelitian Kesejarahan
Jurnal Pattigalloang adalah Publikasi Karya Tulis Ilmiah dan Pemikiran Kesejarahan dan ilmu-ilmu sosial.
Articles 334 Documents
Kesenian Reog di Desa Cemandi: Sejarah, Makna dan Upaya Pengembangan sebagai Edukatif Kultural di Sidoarjo Sunariyadi Maskurin; Adella Afra Azzahra
Jurnal Pattingalloang Vol. 10 No. 2, Agustus 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp3k.v10i2.37897

Abstract

Edukatif kultural adalah suatu proses pendidikan yang berbasis budaya. Maksudnya edukatif kultural akan mempelajari hal-hal kependidikan yang berkaitan dengan kebudayaan dengan memanfaatkan hasil budaya tersebut sebagai sarana belajar. Satu diantara kesenian yang dapat dijadikan sebagai edukatif kultural adalah kesenian Reog Cemandi. Selain di Ponorogo, kesenian reog juga terdapat di Sidoarjo, tepatnya di Desa Cemandi Sedati. Kesenian reog tersebut dikenal sebagai reog Cemandi. Reog Cemandi pada awalnya digunakan sebagai media perjuangan warga Cemandi untuk mengusir pasukan Belanda. Pada perkembangan kesenian tersebut digunakan untuk pengiring pernikahan, ruwatan, dan turut memeriahkan festival budaya di Sidoarjo. Reog Cemandi sebagai bentuk kearifan lokal yang memerlukan pelestarian melalui edukatif kultural, yaitu pengenalan yang dimulai dari lingkungan sekolah. Pengenalan dapat berupa media pembelajaran, sarana ekstra kulikuler serta kegiatan kesenian lainnya. Kata Kunci : Kesenian, Reog Cemandi dan Edukatif Kultural  Abtract Cultural education is a cultural-based educational process. This means that cultural education will study about educational matters related to culture by utilizing the results of the culture as a learning tools. One of the arts that can be used as cultural education is the art of Reog Cemandi. Apart from Ponorogo, reog also found in Sidoarjo, precisely in Cemandi Sedati Village. This reog is known as Reog Cemandi. Reog Cemandi was originally used as a confrontation medium for Cemandi to expel the Dutch troops. over the years, this art was used for wedding accompaniments, rituals, and to enliven the cultural festival in Sidoarjo. Reog Cemandi as a form of local wisdom that requires preservation through cultural education, namely the introduction that starts from the school environment. The introduction can be in the form of learning media, extracurricular facilities and other art activities. Keywords : Art; Reog Cemandi and Cultural Education
Urgensi Kurikulum Berbasis Kearifan Lokal Di Sulawesi Utara: Sebuah Kajian Diversifikasi Kurikulum Eka Yuliana Rahman
Jurnal Pattingalloang Vol. 10 No. 2, Agustus 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan kurikulum yang mempersiapkan peserta didik untuk mengembangkan potensi daerah belum berjalan secara baik di masing- masing tingkat satuan pendidikan, hal ini ditandai dengan belum memasyarakatnya kurikulum muatan lokal yang mengembangkan potensi masing-masing daerah dan masih banyaknya muatan lokal yang seragam antara sekolah yang satu dengan yang lain. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan studi fenomenologi dan menggunakan pendekatan pustaka sebagai pendukung dalam mengumpulkan sumber bahan bacaan dan literatur yang relevan juga menggunakan studi lapangan untuk  melakukan observasi dan wawancara mendalam terhadap informan. Riset awal ini berangkat dari permasalahan yang penulis amati dilapangan. Berdasarkan pengambilan data wawancara bersama tenaga pendidik yang ada di Sulawesi Utara yang melihat potensi luar biasa yang dimiliki oleh suku Minahasa sebagai salah satu suku yang eksis di Sulawesi Utara dengan menginginkan adanya upaya pengembangan kurikulum yang menyesuaikan dengan potensi budaya yang dimiliki. Mengembangkan kurikulum nasional menjadi muatan kurikulum dengan kearifan lokal dalam bentuk diversifikasi kurikulum merupakan hal yang penting untuk dilakukan sebab kondisi dan siatuasi lingkungan sekolah, serta keragaman karakter peserta didik memerlukan pendekatan yang heterogen. Diperlukan asesmen diagnostik atau penelitian dan observasi yang massif terhadap kondisi peserta didik serta lingkungan tempat mereka belajar.Kata Kunci :  Diversifikasi Kurikulum 2; Kearifan Lokal 3; Sulawesi Utara AbtractAbstrak Curriculum development that prepares students to develop regional potential has not gone well at each level of the education unit, this is indicated by the not yet socialized local content curriculum that develops the potential of each region and there are still many uniform local content between one school and another. another. This study used a qualitative method using phenomenological studies and using a literature approach as a support in collecting relevant sources of reading material and literature as well as using field studies to conduct observations and in-depth interviews with informants. This initial research departs from the problems the author observes in the field. Based on data collection from interviews with educators in North Sulawesi who saw the extraordinary potential possessed by the Minahasa tribe as one of the tribes that exist in North Sulawesi, they wanted efforts to develop a curriculum that adapted to their cultural potential. Developing the national curriculum into curriculum content with local wisdom in the form of curriculum diversification is an important thing to do because the conditions and situations of the school environment, as well as the diversity of students' characters require a heterogeneous approach. Diagnostic assessment or research and massive observation of the conditions of students and the environment in which they learn are needed.Keywords : Curriculum Diversification 2; Local Wisdom 3; North Sulawesi
Pemanfaatan Media Pembelajaran Kahoot dalam Mata Pelajaran Sejarah di SMAN 68 Jakarta Randi Syah; Junia Siburian; Ardin Yuli Pratama; Muhammad Safani
Jurnal Pattingalloang Vol. 10 No. 2, Agustus 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp3k.v10i2.47002

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pemanfaatan media pembelajaran Kahoot dalam mata pelajaran Sejarah di SMA N 68 Jakarta. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan melibatkan guru Sejarah serta siswa sebagai partisipan. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara dengan guru, dan analisis dokumen terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan Kahoot dalam pembelajaran Sejarah memberikan manfaat yang signifikan. Penggunaan Kahoot meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa dalam pembelajaran, sambil mendorong interaksi sosial dan kolaborasi antara siswa. Guru juga melaporkan bahwa Kahoot membantu mereka dalam menyampaikan materi pembelajaran dengan cara yang menarik dan interaktif. Namun, ada beberapa tantangan yang dihadapi, termasuk keterbatasan akses teknologi. Dengan demikian, penelitian ini merekomendasikan pengembangan dan perluasan penggunaan Kahoot sebagai media pembelajaran yang efektif dalam mata pelajaran Sejarah di SMA N 68 Jakarta.Kata Kunci : media pembelajaran, Kahoot, Sejarah, SMA AbstractThis research aims to investigate the utilization of Kahoot as a learning media in the History subject at SMA N 68 Jakarta. The study adopts a qualitative descriptive approach and involves History teachers and students as participants. Data were collected through classroom observations, teacher interviews, and document analysis. The findings indicate that the use of Kahoot in History learning provides significant benefits. It enhances student engagement and motivation, while fostering social interaction and collaboration among students. Teachers also reported that Kahoot helps them deliver the learning materials in an interesting and interactive manner. However, there are challenges, including limited technological access. Therefore, this research recommends the development and expansion of Kahoot as an effective learning media in the History subject at SMA N 68 Jakarta.Keywords: learning media, Kahoot, History, high school
Kebijakan Kolonial Belanda dan Pengaruhnya Terhadap Komoditas Lada dan Kopi di Lampung awal Abad ke-19 Ahmad Benny Syahputra; Sudrajat sudrajat
Jurnal Pattingalloang Vol. 10 No. 2, Agustus 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp3k.v10i2.46825

Abstract

Abstrak  Lampung merupakan salah satu provinsi di Indonesia, terletak di ujung selatan Pulau Sumatera dengan batas administratif sebelah utara dengan Provinsi Sumatera Selatan, sebelah timur dengan Laut Jawa sebelah selatan dengan Selat Sunda, dan sebelah barat berbatasan dengan Samudera Indonesia. Sebagai salah wilayah yang ada di Indonesia, Lampung memiliki keunikan sejarahnya tersendiri. Dalam tulisan ini penulis tertarik untuk mengkaji Kebijakan Pemerintahan Kolonial Belanda dan Pengaruhnya Terhadap Komoditas Perdagangan Lada dan Kopi di Lampung Abad ke-19. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ilmiah ini adalah metode historis dengan pendekatan studi pustaka atau literature review melalui berbagai sumber, dimana penulis dapat mengkaji secara mendalam atas penelitian yang dibuat dan posisi peneliti juga berada dalam posisi tertinggi sebagai  penganalisa. Adapun  lima tahap penelitian historis menurut Kuntowijoyo yakni, pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan penulisan sejarah. Hasil dari penulisan artikel ini adalah dinamika pertumbuhan komoditas Lada dan Kopi di Lampung tidak terlepas dari adanya berbagai pihak diantaranya terdapat kebijakan  dari Pemerintahan Kolonial Belanda.Faktor penyakit tanaman, konstelasi politik dan ekonomi yang tidak stabil, demografi yang rendah, dan infrastruktur masih tradisional turut mempengaruhi hasil dari produksi Lada dan Kopi pada masa Kolonial Belanda. Kata kunci: Lampung, Sejarah, Kolonial, Perdagangan.Abstract  Lampung is one of the provinces in Indonesia, located at the southern tip of Sumatra Island with an administrative boundary to the north with the Province of South Sumatra, to the east by the Java Sea, to the south by the Sunda Strait, and to the west by the Indonesian Ocean. As one of the regions in Indonesia, Lampung has its own unique history. In this paper, the writer is interested in studying the Dutch Colonial Government Policy and Its Effect on the Pepper and Coffee Trading Commodities in 19th Century Lampung. The method used in writing this scientific article is the historical method with a literature review approach or literature review through various sources, where the author can examine in depth the research made and the position of the researcher is also in the highest position as an analyst. According to Kuntowijoyo, the five stages of historical research are topic selection, heuristics, verification, interpretation, and historical writing. The result of writing this article is that the dynamics of the growth of Pepper and Coffee commodities in Lampung can not be separated from the existence of various parties including the policies of the Dutch Colonial Government. Plant disease factors, unstable political and economic constellations, low demographics, and traditional infrastructure also influence the result of the production of Pepper and Coffee during the Dutch Colonial period. Keywords: Lampung, History, Colonial, Trade.
Pergerakan PNI Baru Menentang Ordonansi Sekolah Liar Tahun 1932-1933 Ilham Nur Utomo; Sulistya Putri
Jurnal Pattingalloang Vol. 10, No. 1, April 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v10i1.43574

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pergerakan PNI Baru dalam menentang Ordonansi Sekolah Liar yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial pada tahun 1932. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah, yang mencakup empat tahapan, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Ordonansi Sekolah Liar secara resmi diberlakukan pada 1 Oktober 1932, yang memberi kewenangan kepada pemerintah kolonial untuk mengawasi dan mengeluarkan keputusan terhadap sekolah-sekolah partikelir yang dianggap memberikan pengajaran tidak representatif dan menyemai benih-sbenih nasionalisme. PNI Baru dalam menentang Ordonansi Sekolah Liar berfokus pada tiga cara, yaitu melalui tulisan-tulisan yang diterbitkan dalam majalah internal PNI Baru, menggelar rapat umum, dan melakukan aksi protes secara terbuka bersama dengan organisasi nasionalis lainnya. Selain itu, PNI Baru memberikan dukungan terhadap pergerakan Ki Hajar Dewantara yang dikenal sebagai pendiri Taman Siswa dan tokoh penting dalam gerakan menentang Ordonansi Sekolah Liar. Aksi-aksi penentangan yang terus disuarakan pada akhirnya berhasil mendorong pemerintah kolonial  mencabut pemberlakuan Ordonansi Sekolah Liar pada 13 Februari 1933. Kata Kunci : PNI Baru; Ordonansi Sekolah Liar; Pergerakan Nasional Indonesia. AbstractThis research aimed to find out the movement of PNI Baru in opposing the Wild School Ordinance issued by the colonial government in 1932. The method used in this research was the historical method. It consists of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography stages. The Wild School Ordinance was officially enacted on October 1, 1932. It gave the colonial government the authority to monitor and issue decisions on private schools deemed to provide unrepresentative teaching and sow the seeds of nationalism. PNI Baru in opposing the Wild School Ordinance focused on three ways; through writings published in the PNI Baru internal magazine, holding public meetings, and conducting open protests together with other nationalist organizations. Besides, the PNI Baru gave support to the movement of Ki Hajar Dewantara, who is known as the founder of Taman Siswa and an important figure in the movement against the Wild School Ordinance. Opposition actions that continued to be conducted in the end succeeded in encouraging the colonial government to revoke the implementation of the Wild School Ordinance on February 13, 1933. Keywords : PNI Baru; Wild School Ordinance; Indonesian National Movement..
Telaah Perubahan Stratifikasi Sosial Masyarakat Banten Sebelum Pemberontakan tahun 1888 Kristoforus Bagas Romualdi; Miftahuddin Miftahuddin
Jurnal Pattingalloang Vol. 10 No. 2, Agustus 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp3k.v10i2.45315

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah perubahan stratifikasi sosial pada masyarakat Banten sebelum terjadinya pemberontakan petani tahun 1888 di wilayah tersebut. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode sejarah. Sumber-sumber yang digunakan dalam metode sejarah ini adalah sumber dokumen berupa buku dan artikel penelitian yang relevan. Hasil dari penelitian memperlihatkan bahwa stratifikasi sosial di Banten sebelum pemberontakan tahun 1888 terbagi menjadi stratifikasi tradisional dan berubah ke kolonial. Perbedaan dari dua stratifikasi tersebut, yakni terletak pada posisi, fungsi, pengaruh, hak, dan kewajiban kelompok yang menempati lapisan atas, menengah, dan bawah. Stratifikasi masa kolonial yang cenderung menindas menjadi penyebab munculnya pergolakan hingga pemberotakan petani Banten tahun 1888.Kata Kunci : Sejarah, Stratifikasi Sosial, BantenAbtractThis study aims to examine changes in social stratification in Banten society before the 1888 peasant revolt in the area.. The research approach used was qualitative with historical methods. The sources used in this historical method are document sources in the form of books and relevant research articles. The results of the study show that social stratification in Banten before the revolt in 1888 was divided into traditional stratification and changed to colonial. The difference between the two stratifications lies in the position, function, influence, rights, and obligations of groups occupying the upper, middle and lower layers. The stratification of the colonial period which tended to be oppressive became the cause of the emergence of upheavals until the revolt of Banten Peasant’s in 1888.Keywords : History, Social Stratification, Banten
Menelusuri Dinamika Musik Keroncong di Indonesia Shantika, Tia; Mumthahanah, Alifia; Hidayat, Angga Pusaka
Jurnal Pattingalloang Vol 11, No. 1, April 2024
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v11i1.59803

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri sejarah salah satu ragam musik yang berkembang di masa lalu yakni musik Keroncong. Musik menjadi salah satu sarana hiburan yang banyak diminati oleh orang dari berbagai kalangan. Musik merupakan suatu karya seni yang berupa irama yang mewakili perasaan, imajinasi, serta menggambarkan suatu budaya yang pernah berkembang di suatu masa. Musik Keroncong merupakan salah satu musik tradisional Indonesia. Muncul dan berkembangnya musik Keroncong tentunya memberikan dampak serta pengaruh terhadap aliran musik yang berkembang hingga saat ini. Selain itu musik Keroncong juga berperan sebagai wujud ekspresi budaya dan identitas nasional dari bangsa Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode sejarah yang didalamnya menggunakan beberapa tahapan heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui sejarah awal kemunculan musik Keroncong sebagai musik yang terpengaruh oleh berbagai budaya berikut perkembangannya di Indonesia.
Revealed Karakteristik Sosio Histories Bugis Barru Ismail, Ashari
Jurnal Pattingalloang Vol 11, No. 1, April 2024
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v11i1.63155

Abstract

Masyarakat Bugis Makassar, yang ada di Sulawesi Selatan,  walaupun secara  sosio kultural, memiliki pola budaya yang sama, --- bersumber dari  pangngaderreng,   tetapi secara “sektoral kedaerahan”, memiliki perbedaan yang menjolok antara daerah yang satu dengan lainnya. Hal demikian disebabkan oleh konstruksi kultural   -- struktural,  pola budaya  dilangsungkan.  Riset ini, dilaksanakan  di Barru,  dengan menggunakan metode deskriptif dan histories. Melalui metode  ini,  berupaya menelusuri karakteritik pada masyarakat Bugis Barru, pada satu dasawarsa terakhir. Hasil rilset menunjukkan bahwa : karakteristik masyarakat Bugis Barru pada pada satu dasawarsa  terakhir ....adalah   masyarakat yang memiliki dinamika sosiokultural, yang demikian dinamis. Indikasi hal ini, tercermin dari peningkatan infrastrukur,  budaya (pendidikan, spritualitas), dan berbagai  aspek lainnya,  yang menunjukkan “kemajauan”, dan mampunya mempertahankan pola budaya  yang mereka anut, dalam tatanan masyarakat, ditengah pangaruh global.Kata Kunci :  Revealed, Karakteristik Sosio Histories. AbstractThe Makassar Bugis community, in South Sulawesi, although socio-culturally, has the same cultural pattern, --- originating from panngaderreng, but from a "regional sector" perspective, there are striking differences between one region and another. This is caused by cultural construction - structural, cultural patterns are carried out. This research, carried out in Barru, used descriptive and historical methods. Through this method, we attempt to trace the characteristics of the Bugis Barru community in the last decade. The research results show that: the characteristics of the Bugis Barru community in the last decade ... is a society that has sociocultural dynamics, which are very dynamic. Indications of this are reflected in improvements in infrastructure, culture (education, spirituality), and various other aspects, which show "progress" and the ability to maintain the cultural patterns they adhere to, in the social order, amidst global influences.Keywords: Revealed, Characteristics of Socio Histories.
Inklusivitas Etnis Tionghoa di Lasem Tahun 1967 – 1999 Muslimin, Muhammad Khoirul; Wijayati, Putri Agus
Jurnal Pattingalloang Vol 11, No. 1, April 2024
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v11i1.64778

Abstract

Lasem tumbuh sebagai daerah yang memiliki keragaman etnis dan mozaik budaya yang menarik. Hal ini tidak terlepas dari sikap penduduk lokal yang inklusif dan toleran terhadap keberadaan etnis lainnya, salah satunya adalah etnis Tionghoa. Tulisan ini mengkaji sikap inklusif penduduk lokal terhadap keberadaan etnis Tionghoa. Kajian ini diawali tahun 1967 – 1999, didasarkan argumentasi bahwa pada periode tersebut dijumpai tindakan yang meminggirkan etnis Tionghoa, baik tindakan represif maupun melalui undang-undang. Pertanyaan yang perlu dihadirkan dalam artikel ini di antaranya; 1) hal-hal apa saja yang memengaruhi proses inklusivitas penduduk lokal dengan etnis Tionghoa? 2) bagaimana proses inklusivitas yang berlangsung? 3) bagaimana proses inklusivitas mampu menghadirkan kehidupan yang harmonis? Artikel ini menggunakan metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi.  Adapun sumber-sumber yang digunakan terdiri dari sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer mengambil dari surat kabar Suara Merdeka, surat kabar Daulat Rakyat, laporan statistik BPS Kabupaten Rembang Tahun 1967-1999. Sementara sumber sekunder mengambil dari kepustakaan dan literatur hasil dari kajian sejarawan sebelumnya. Hasil penulisan ini menunjukkan bahwa masyarakat Lasem bersikap inklusif dan tolong menolong untuk menjaga stabilitas pemukiman Tionghoa agar tidak terkena tindakan represif dan diskriminasi dari pemerintah maupun oknum masyarakat lainnya.
Perdagangan Pakaian Bekas di Makassar 2012-2022 ; Studi Kasus Pasar Terong dan Pasar Toddopuli Qaidah, Nur; Jumadi, Jumadi; Amirullah, Amirullah
Jurnal Pattingalloang Vol 11, No. 1, April 2024
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v11i1.26733

Abstract

Kota Makassar merupakan salah satu kota dengan penjualan pakaian bekas impor dengan jumlah pedagang yang sangat besar dan tersebar di beberapa pusat perbelanjaan. Fokus penelitian dilakukan di di Pasar Terong dan Pasar Toddopuli Makassar. Pengumpulan datanya dilakukan dengan metode penelitian sejarah yang terdiri dari beberapa tahap mulai dari: heuristik (mengumpulkan data), kritik, interpretasi, dan historiografi. Dalam proses pengumpulan data melibatkan 16 orang informan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: pelaksanaan perdagangan pakaian bekas ini diawali oleh orang bugis yang mendapatkan barang tersebut di Kota Pare-pare. Perkembangan perdagangan pakaian bekas memiliki faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pejualan pakaian bekas terhadap tingkat pendapatan pedagang adalah modal, harga, kualitas barang, tempat,pandemi covid-19, larangan pemerintah dan keluhan dari pelanggan. Dan dampak sosial ekonomi pakaian bekas terhadap pedagang dan masyarakat Makassar sangat berpengaruh terhadap tingkat perekonomian pedagang, dapat membantu roda perekonomian masyarakat kecil, dan membatu masyarakat menengah kebawah untuk mendapatkan pakaian berkualitas dan harga yang sangat terjangkau.Kata Kunci: Perdagangan Pakaian Bekas, Pasar Terong, Pasar Toddopuli. Abstract.Makassar City is one of the cities that sells imported used clothing with a very large number of traders spread across several shopping centers. The focus of the research was carried out at the Eggplant Market and Toddopuli Market, Makassar. Data collection was carried out using historical research methods which consisted of several stages starting from: heuristics (collecting data), criticism, interpretation, and historiography. The data collection process involved 16 informants. The results of this research show that: the implementation of the used clothing trade was initiated by Bugis people who obtained the goods in Pare-pare City. The development of the second-hand clothing trade has supporting and inhibiting factors in selling second-hand clothing on traders' income levels, namely capital, price, quality of goods, location, the Covid-19 pandemic, government restrictions and complaints from customers. And the socio-economic impact of used clothing on traders and the people of Makassar has a big influence on the economic level of traders, can help the economy of small communities, and help lower middle class people get quality clothes at very affordable prices.Keywords: Used Clothing Trade, Eggplant Market, Toddopuli Market.