cover
Contact Name
Dr. Achmad Amzeri, SP. MP.
Contact Email
-
Phone
+6285231168649
Journal Mail Official
agrovigor@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
Department of Agroecotechnology, Faculty of Agriculture University of Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang PO BOX 2, Kamal - Bangkalan 69162
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi
ISSN : 1979577     EISSN : 24770353     DOI : https://doi.org/10.21107/agrovigor
Core Subject : Agriculture,
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi is a scientific paper in the field of science Agroecotechnology which include: plant science, soil science, plant breeding, pest and plant diseases.
Articles 327 Documents
Kandungan Alkalloid dan Steroid Pada Tanaman Kolesom ( Talinumtriangulare (Jacq. )Willd.) Akibat Perbedaan Daerah Asal Tanaman Mariya Ulfa; - Suhartono; Eko Setiawan
Agrovigor Vol 10, No 1 (2017): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.664 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i1.2829

Abstract

Kolesom merupakan salah satu tumbuhan sekulen dari famili portulaceae  yang berkhasiat obat. Tanaman obat di Indonesia berkembang semakin pesat, sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kembali menggunakan bahan-bahan obat alami. Bahan obat alami lebih aman dikonsumsi dan memiiki efek samping yang lebih rendah dibandingkan dengan obat-obat sintetik yang terbuat dari bahan kimia. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui pengaruh perbedaan daerah asal bibit terhadap kandungan alkaloid dan steroid pada tanaman kolesom.  Penelitian ini dilakukan di Universitas Tronojoyo Bangkalan, Madura. Percobaan dilakukan secara non faktorial dengan Rancangan AcakLengkap (RAL). Faktor tersebut yaitu: A1 :  Asal tanaman Kepulauan Kangean, A2 : Asal tanaman Kabupaten Bangkalan, A3 : Asal tanaman Kabupaten Lumajang yang akan diujikan dengan alkaloid dan steroid. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh asal bibit tanaman kolesom terhadap kandungan alkaloid dan steroid pada daun dan umbi. Kata kunci: Tanaman Kolesom, Alkaloid, Steroid.
PENGARUH KOMBINASI MACAM ZPT DENGAN LAMA PERENDAMAN YANG BERBEDA TERHADAP KEBERHASILAN PEMBIBITAN SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz & Pav) SECARA STEK Eko Anang Budianto; Kaswan Badami; Ahmad Arsyadmunir
Agrovigor Vol 6, No 2 (2013): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.233 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v6i2.1485

Abstract

Medicinal plants is one of Indonesia's agricultural potential to be developed and one of the medicinal plants that have bright prospects for the development of red betel, because in addition to be consumed as a medicinal plant, also as an ornamental plant. Effect of combination treatment with a long range of ZPT different immersion able to stimulate root growth in cuttings of red betel. This study aims to determine the effect of PGR combination with a long range of different immersion to the successful breeding of red betel cuttings. The study was conducted at the experimental farm of Agricultural Faculty of the University Trunojoyo Madura, in January to April 2012. The research method used was Randomized Design Group (RAK) single factor with seven treatments and repeated four times. Range of ZPT is used there are two, namely IBA and NAA, while the use of immersion time is one hour, two hours and three hours. The results showed that the IBA with a three-hour long immersion gives a significant influence on the variable root length, root number and root dry weight, whereas NAA with the old one-hour immersion is a very real influence on the observations of variable length and dry weight of leaf buds.Keyword : red betel, ZPT, IBA, NAA
Ketahanan Empat Kultivar Ubi Kayu terhadap Tetranychus kanzawai KISHIDA (Acari: Tetranychidae) Sugeng Santoso; Widi Astuti
Agrovigor Vol 12, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.899 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v12i2.5741

Abstract

Tungau merah (Tetranychus kanzawai Kishida) merupakan hama penting pada ubi kayu. Hama tersebut menyebabkan kehilangan hasil sebesar 95%. Penggunaan kultivar merupakan faktor yang mempengaruhi kehilangan hasil. Kultivar ubi kayu yang tahan terhadap tungau merah dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pengendalian. Penelitian ini bertujuan mengetahui ketahanan kultivar Manggu, Roti, Jimbul, dan Mentega terhadap T. kanzawai. Penelitian di rumah kaca dilakukan untuk mengetahui intensitas kerusakan pada kultivar Mannggu, Roti, Mentega, dan Jimbul. Pengamatan biologi T. kanzawai dilakukan di laboratorium. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa setiap kultivar menunjukkan ketahanan terhadap T. kanzawai yang berbeda-beda. Kultivar Manggu menunjukkan intensitas kerusakan paling rendah dan kultivar Mentega menunjukkan intensitas kerusakan paling tinggi. Pada kultivar Manggu T. kanzawai menunjukkan waktu perkembangan yang lebih panjang dan memiliki keperidian yang lebih rendah.
INOKULASI Azospirillium sp DARI LAHAN KERING MADURA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG Ach. Khoirul Ikhwan; Ahmad Waqik; Mohammad Anwar; Ummu Fitrothul; Dwi Rahmawati; Gita Pawana
Agrovigor 2015: Vol 8, No 2 (2015) SEPTEMBER
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.069 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v0i0.985

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh isolat bakteri Azospirillium sp dari Madura, serta mengkaji kehandalannya dalam menggantikan pupuk N sintetik. Samel tanah diambil dari Kecamatan Galis, Geger dan Tanahmerah, isolasi dilakukan dengan menggunakan media semi solid Nfb, selanjutnya diuji kehandalannya berdasarkan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman jagung. Diperoleh 1 isolat yang terbaik yaitu isolat yang diisolasi dari rhizosper tanaman Graminae di Kecamatan Galis, namun demikian berdasarkan pertumbuhan tanaman jagung belum bisa menggantikan pupun N sintetik.Kata kunci : Azospirillum sp, jagung, nitrogen, isolat madura
Pertumbuhan Bibit Bud Chips dari Nodus Berbeda pada Tanaman Kolesom (Talinum Triangulare (Jacq.) Willd.) Putri Andini Mandasari; Sinar Suryawati
Agrovigor Vol 11, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.218 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i1.4030

Abstract

Kolesom merupakan tanaman yang berpotensi sebagai sayur dan obat. Pemanfaatan potensi kolesom membawa konsekuensi pada perluasan lahan penanaman dan perbaikan teknologi budidaya, diantaranya penggunaan bibit bermutu. Bibit kolesom dapat diperbanyak secara generatif dengan biji dan vegetative menggunakan stek. Penggunaan stek dengan beberapa ruas (banyak nodus) mengakibatkan kebutuhan stek semakin banyak. Oleh karena itu, stek satu mata tunas (bud chips) menjadi alternatif. Tujuan penelitian untuk mempelajari pertumbuhan bibit kolesom asal bud chips dari nodus berbeda. Taraf perlakuan mulai dari bud chip nodus nomor 1 dari pangkal batang (BC1), BC2, BC3, BC4, BC5, BC6, BC7, BC8 sampai BC9. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asal bud chips yang berbeda menghasilkan pertumbuhan yang berbeda pula; waktu pecah mata tunas perlakuan bud chip dari nodus nomor 8 dan 9 lebih cepat dibandingkan nodus nomor 1, 2 dan 3 dari pangkal batang; luas daun, berat kering organ daun, akar dan batang serta berat kering total/tanaman paling tinggi dicapai oleh perlakuan bud chip dari nodus nomor 1 dari pangkal batang.
PERIODE KRITIS KEKERINGAN PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KACANG HIJAU (Vigna radiata L.) Ahmad Arsyadmunir,
Agrovigor Vol 9, No 2 (2016): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.611 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v9i2.2319

Abstract

Mungbean (Vigna radiata L.) is one of the food commodities that consumed by general society be side of rice. One of effect that are not optimal production is drought stress. This research aims to study the critical period due to drought  stress  of mungbean  crop and  its  impact  on  growth  and  the  yield  of production.  This  study  uses  a  Completely  Randomized  Design  (CRD)  non factorial with 4 treatments, A0 (watering until harvest), A1 (without watering at the age of 15 - 28 days), A2 (without watering at the age of 29 - 42 days) and A3 ( without watering at the age of 43 - 56 days). Lowest average value of plant height and number of leaves derived from the treatment A1 with stress time at the age of 15 - 28 days after planting or when the end of the vegetative phase. While the lowest average value of seeds weight per crop and total number of pods derived from treatment A2 with stress time at the age of 29 - 42 days after planting or during pod formation phase.Key words: mungbean, growth, production, drought stress
GROWTH AND PRODUCTION OF Piper sarmentosum Roxb. ex Hunter IN POT WITH DIFFERENT GROWING MEDIA Maya Melati; Melia Fetiandreny
Agrovigor Vol 6, No 1 (2013): MARET
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.032 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v6i1.1476

Abstract

Piper sarmentosum (karuk) dimanfaatkan untuk masakan tradisional; namun tanaman ini juga berpotensi sebagai tanaman obat. Informasi tentang budidaya tanaman P. sarmentosum masih terbatas, oleh karena itu kajian ini diawali dengan pemilihan media tanam yang sesuai. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok lengkap satu faktor dengan perlakuan jenis media yaitu tanah saja, tanah+pasir (3:1, v/v), tanah+arang sekam (3:1, v.v), dan tanah+pupuk kandang sapi (3:1, v/v). Setiap perlakuan diulang 4 kali dan masing-masing terdiri atas 5 tanaman. Analisis data menggunakan sidik ragam. Bahan tanaman berupa stek plagiotrop dengan 3 buku dan polybag warna hitam sebagai wadah. Pupuk anorganik diberikan pada semua perlakuan dengan dosis setara pupuk majemuk N-P-K-Mg 12:12:17:2. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perbedaan media mempengaruhi hampir semua peubah yang diamati. Pemberian pupuk kandang sapi menghasilkan keragaan dan produksi tanaman terbaik (ditunjukkan dengan tajuk dan akar yang lebih lebat serta daun yang lebih hijau dibandingkan tanaman yang mendapat perlakukan lainnya). Meskipun tidak nyata, ada kecenderungan bahwa pertumbuhan tanaman karuk lebih baik pada media tanah saja dibandingkan pada media dengan penambahan pasir atau arang sekam.Kata kunci: pupuk kandang, pot, sayuran fungsional, piperaceae, arang sekam
Pertumbuhan dan Hasil Kedelai, Respon terhadap Pupuk Hayati di Lahan Sawah Kabupaten Pandeglang, Banten Yati Astuti; Resmayeti Purba
Agrovigor Vol 10, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i2.3054

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mempelajari efektifitas pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah desa Mekarsari Kec. Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten dari bulan Agutus hingga Oktober 2016.  Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok faktor tunggal dengan lima perlakuan dan enam ulangan.  Perlakuan adalah  (A). Tanpa pemupukan (kontrol); (B). Pupuk rekomendasi: 25 kg ha-1 Urea + 100 kg ha-1 SP-36 + 100 kg ha-1 NPK Phonska, (C) pupuk hayati Agrimeth 200 gram ha-1 + pupuk rekomendasi (D). pupuk hayati Agrimeth 200 gram ha-1 + Gliocompost 20 kg ha-1 + pupuk rekomendasi (E) pupuk hayati Gliocompost 20 kg ha-1 + pupuk rekomendasi. Parameter pengamatan adalah tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, jumlah bintil akar, jumlah bunga, jumlah polong isi, dan hasil biji kedelai. Data pengamatan dianalisis menggunakan Analysis of Varians (ANOVA) 0,05.  Uji lanjut menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) 0,05 jika antar perlakuan berbeda nyata.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk hayati Agrimeth 200 g ha-1 + pupuk hayati Gliocompost 20 kg ha-1 + pupuk rekomendasi berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman, yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bintil akar, jumlah bunga, jumlah polong isi, dan hasil kedelai.  Pupuk tersebut sebagai rekomendasi karena meningkatkan hasil kedelai dari  0,89 t ha-1 (kontrol) menjadi 2,01 t ha-1.Kata Kunci:  Agrimeth, Gliocompost, kedelai, lahan sawah, pupuk hayati
KAJIAN PENGGUNAAN PUPUK HAYATI UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT AKAR GADA (Plasmodiophora brassicae) PADA TANAMAN SAWI DAGING Diding Rachmawati; Eli Korlina
Agrovigor Vol 9, No 1 (2016): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.217 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v9i1.1527

Abstract

Pada budidaya tanaman sawi daging (pakcoi)  dijumpai berbagai masalah  serius  yang menghambat upaya peningkatan produksi dan kualitas hasil. Salah satu kendala utama adalah penyakit tular tanah yang disebabkan oleh cendawan Plasmopara brassicae Wor . Serangan patogen tular tanah dapat menekan produksi tanaman hortikultura secara significan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengendalikan patogen tular tanah antara lain dengan menggunakan bekterisida sistemik . Salah satu alternatif pengendalian yang paling prospektif adalah dengan menggunakan pupuk hayati yang telah diperkaya dengan mikroorganisme. antara lain bakteri selulotik, Azotobacter sp., Azospirillium sp., Rhizobium sp., Pseudomonas sp., Lactobacillus sp., dan  bakteri pelarut fosfat yang bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah dan mengendalikan penyakit tular tanah. Penelitian dilakukan di kebun percobaan Karangploso BPTP Jatim,  pada bulan Januari sampai dengan April 2014, menggunakan rancangan acak kelompok, 4 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan  terdiri dari  : A = Pupuk hayati dosis 15 kg/ha,   B = Pupuk hayati dosis 30 kg/ha,  C = Pupuk hayati dosis 45 kg/ha, D = Cara petani. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektifitas pupuk hayati dalam mengendalikan penyakit akar gada  P.brassicae  pada tanaman sawi daging. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk hayati dosis 45 kg/ha dapat memberikan pertumbuhan yang baik terhadap tinggi tanaman ( 26,50 cm), jumlah daun (21 helai), lebar tajuk (33,25 cm), panjang akar (14,38 cm) dan bobot/tanaman (380 g/tanaman). Persentase serangan penyakit akar gada terendah juga ditunjukkan oleh pemberian pupuk hayati dosis 45 kg/ha, yaitu sebesar 1,75 % dan penekanan penyakit sebesar 70,83 %.Kata Kunci : Brassica juncea, pupuk hayati, penyakit bengkak akar
PENGARUH PEMANASAN DAN PENYIMPANAN TERHADAP AKTIVITAS INSEKTISIDA EKSTRAK LERAK (Sapindus rarak) PADA LARVA Crocidolomia pavonana (F.) (LEPIDOPTERA: CRAMBIDAE) Gracia Mediana; Djoko Prijono
Agrovigor Vol 7, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.222 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v7i2.1443

Abstract

Hama Crocidolomia pavonana merupakan salah satu kendala biotik penting pada budi daya tanaman sayuran famili Brassicaceae. Salah satu sarana pengendalian hama yang ramah lingkungan ialah insektisida nabati. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh pemanasan dan penyimpanan terhadap aktivitas insektisida ekstrak buah lerak (Sapindus rarak) pada larva C. pavonana. Irisan buah lerak digiling dalam akuades menggunakan blender. Tiga macam ekstrak lerak yang diuji ialah (1) ekstrak tanpa pemanasan dan langsung digunakan, (2) ekstrak yang disiapkan dengan pemanasan pada suhu 40 °C dan langsung digunakan, serta (3) ekstrak dengan pemanasan dan disimpan pada suhu  ruang selama 7 hari. Setiap ekstrak diuji pada enam taraf konsentrasi dengan menggunakan metode perlakuan daun pakan. Larva instar II C. pavonana diberi pakan daun kubis perlakuan selama 2 hari dan daun tanpa perlakuan pada 2 hari berikutnya. Data kematian larva uji dicatat setiap hari sampai hari ke-4 dan diolah dengan analisis probit. Secara umum mortalitas larva C. pavonana pada semua perlakuan meningkat tajam antara 24 dan 48 jam setelah perlakuan (JSP). Berdasarkan LC95 pada 96 JSP, ekstrak lerak dengan pemanasan (LC95 2,53%) sekitar 1,7 kali lebih toksik terhadap larva C. pavonana daripada ekstrak lerak tanpa pemanasan (LC95 4,19%), tetapi toksisitas ekstrak tersebut menurun sekitar 2,9 kali lipat setelah disimpan pada suhu ruang selama 7 hari (LC95 7.43%). Selain mengakibatkan kematian, perlakuan dengan ekstrak lerak juga dapat menghambat perkembangan larva C. pavonana dari instar II ke instar IV.Kata kunci: insektisida nabati, ketahanan simpan, cara penyiapan, toksisitas.

Page 6 of 33 | Total Record : 327