cover
Contact Name
Nur Arifin
Contact Email
diskursus@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
diskursus@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Diskursus Islam
ISSN : 23385537     EISSN : 26227223     DOI : -
Jurnal Diskursus Islam adalah jurnal yang diterbitkan oleh Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar yang merefleksikan diri sebagai wadah akademik untuk publikasi artikel ilmiah. Jurnal ini menfokuskan pada kajian/studi islam dalam berbagai aspeknya yang diharapkan dapat memberi referensi bagi pembaca dalam pengembangan wawasan akademik dan keilmuan.
Arjuna Subject : -
Articles 368 Documents
TEOLOGI ASWAJA NAHDHATUL ULAMA DI ERA MODERN : Studi atas Pemikiran Kyai Hasyim Asy’ari Muhaemin, Muhaemin
Jurnal Diskursus Islam Vol 1 No 2 (2013)
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v1i2.6634

Abstract

Artikel ini mengelaborasi teologi ahlu sunnah wal jamaah yang kemudian disingkat menjadi aswaja dalam konteks kemodernan yang sekaligus merupakan karakter dari organisasi NU dan khususnya di bawah kepemimpinan Kyai Hasyim Asy’ari. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif-analisis dengan menggambarkan obyek penelitian yang sebenarnya dan menganalisis fakta-fakta yang ditemukan. Pergumulan Kyai Hasyim dalam menawarkan pemikiran-pemikiran segar tampak dalam upaya mendialogkan pemikiran teologi Islam dalam kehidupan modern terutama dalam menghadapi imperialisme. Perbedaan pandangannya dengan kelompok modernis yang tergambar dalam upayanya untuk membersihkan tradisi umat Islam pada waktu itu yang dianggap sudah melenceng dari koridor ajaran Islam. Inilah salah satu alasan kemunculan NU sebagai organisasi yang mewadahi kepentingan kelompok tradisional. NU di bawah kepemimpinan Kyai Hasyim mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam berbagai hal. Misalnya dalam upaya memodernisasi pengelolaan lembaga pendidikan Islam, ekonomi, dan dalam aspek politik, NU menerapkan teori menolak sambil menerima terhadap imperialisme. Menolak dalam arti tidak secara prontal, tetapi menerima tidak dengan apa adanya.ABSTRACTThis article elaborates theological insights of ahlu sunnah wal jamaah, further shortened as aswaja, in the context of modernity as the character of Nahdhatul Ulama (NU) organization under the leadership of Kyai Hasyim Asy’ari. This article will apply descriptive-analysis method by describing the actual research object and by analyzing the findings. The activities of Kyai Hasyim in delivering his fresh thoughts were apparently seen in his efforts to share his Islamic theological insights in this modern world against imperialism. The difference of his thought from the other modernist movement during his life time might be seen from the latter’s perspective towards Muslim tradition at that time, which the latter considered such tradition as having deviated from the true teachings of Islam. NU was then established in order to defend these sorts of practices and to fulfill the needs of traditional organizations. NU under the leadership of Kyai Hasyim had shown a significant progress and impact within Muslim community at that time. In its efforts to modernize the management of its educational, economic and political institutions, NU applied the theory of refusing but receiving imperialism. This means that NU softly refused to fully deal with imperialism, while at same time, it partly received the idea with criticism. 
RELIGIOUS FUNDAMENTALISM AND VIOLENCE: IS THERE ANY DIRECT CORRELATION BETWEEN FUNDAMENTALISM AND VIOLENCE? Mujahiduddin, Mujahiduddin
Jurnal Diskursus Islam Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v1i1.6589

Abstract

Tuilsan ini membahas tentang hubungan antara fundamentalisme agama dan kekerasan. Pertanyaan yang ingin diangkat ialah apakah ada hubungan langsung antara fundamentalisme agama dengan kekerasan?. Untuk menjawab pertanyaan ini, maka tulisan ini akan mengemukakan tiga aspek, yaitu, pertama; mendefinisikan istilah fundamentalism dan menjelaskan kerakteristiknya. Kedua, menjelaskan makna dan kategori kekerasan yang digunakan sebagai kerangka teoritis dalam menganalisa hubungan antara fundamentalisme agama dan kekerasan. Ketiga adalah menganalisa hubungan tersebut dan mencoba melihatnya dari perpektif gerakan radikal Islam. Tulisan ini mengasumsikan bahwa kehadiran gerakan fundamentalisme agama tidak selalu punya kaitan dengan kekerasan. Penggunaan kekerasan oleh gerakan fundamentalis sangat tergantung dengan fakto eksternal seperti respon Negara.ABSTRACTThis essay examines the correlation between religious fundamentalism and violent acts. The prominent question addressed in this paper is about is there any direct correlation between fundamentalism and violence?. To answer this inquiry, this writing is going to elaborate three points. First, it defines the term fundamentalism and describes its shared characteristic features. Secondly, it will describe the meaning and categories of violence used in analyzing correlation between religious fundamentalism movements and the utilization of violent actions such as bombing attacks, assassination, kidnapping etc. Thirdly, this article also tries to analyze the links between fundamentalism and violence and how these links are understood in the study of ‘fundamentalist Islam’ and ‘violent political Islam’. This essay argues that the presence of religious fundamentalism such as radical Islamic group does not always connote to violent.  Whether or not a religious fundamentalism group will be advocating violent means in its movement is more likely depending on some intermediary factors such as state’s response.
MANAJEMEN DAKWAH JEJARING DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT : Studi Manajemen Networking Learning Assistance Program for Islamic School (LAPIS) Samad, Muh. Ishaq
Jurnal Diskursus Islam Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v1i1.6579

Abstract

LAPIS is an institution established on Australian government’s cooperation with the Indonesian Government. But, in practice, LAPIS plays a role as a non-governmental and independent organization in helping madrasah, particularly the underdeveloped madrasah both in terms of human resources and infrastructures surrounding the madrasah.  Such activities of educational development and dakwah is more interesting to be explored, mainly related to LAPIS’ capability of managing cooperation with its partners as well as of employing the modern management in empowering society. The management of networking dakwah is a methodological approach which is essentially a Muslim awareness of the importance of extensive and organized networking so as to be able to transform society, especially madrasah inhabitants, into better quality of life. LAPIS terbentuk atas kerjasama pemerintah Australia dengan pemerintah Indonesia. Namun dalam prakteknya LAPIS berperan sebagai lembaga non pemerintah dan independen (mandiri) dalam membantu madrasah Islam, khususnya madrasah yang terbelakang, baik dari sisi sumber daya manusia yang pengelolanya maupun infrastrukturnya yang melingkupi madrsah tersebut. Aktivitas pembinaan pendidikan dan dakwah seperti tersebut di atas, sangat menarik untuk ditelusuri, terutama terkait dengan kemanpuan pengelola LAPIS untuk berjejaring dengan mitranya serta menggunakan manajemen modern dalam memberdayakan masyarakat. manajemen dakwah jejaring merupakan sebuah pendekatan metodologi yang pada hakekatnya adalah sebuah penyadaran umat Islam akan pentingnya berjejaring luas dan terorganisir agar mampu membawa masyarakat, khususnya warga madrasah ke arah kualitas hidup yang lebih baik.
PENDIDIKAN ISLAM MASA RASULULLAH SAW. B, Chaeruddin
Jurnal Diskursus Islam Vol 1 No 3 (2013)
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v1i3.6639

Abstract

Sistem pendidikan Islam mengacu kepada nilai-nilai Islam. Fondasi pendidikan Islam terletak pada sikap atau pandangan terhadap hidup itu sendiri, dimana Islam menganggap hidup bukan suatu akhir dari segalanya tetapi alasan untuk mencapai tujuan-tujuan spritual setelah hidup. Pada zaman Rasulullah saw.,  pendidikan Islam dilaksanakan pada dua periode yaitu periode Makkah dan periode Madinah. Periode Makkah sebagai fase awal pembinaan pendidikan Islam dan ber-pusat di Makkah, sedangkan periode Madinah sebagai fase lanjutan pembinaan pendidikan Islam dan sebagai pusat kegiatannya.ABSTRACTIslamic education system refers to the values of Islam. Islamic educational foundation located in attitude or outlook on life itself, which Islam considers life is not an end of all but ground to achieve spiritual goals after life. At the time of the Prophet, Islamic education implemented in two periods, Mecca period and Medina period. Mecca period as the initial construction phase of Islamic education and based in Makkah, and Madinah period as the center of Islamic learning and activities.
MEDIASI PERSPEKTIF HUKUM ISLAM : Studi Kasus di Wilayah Pengadilan Tinggi Agama Makassar Wirhanuddin, Wirhanuddin
Jurnal Diskursus Islam Vol 1 No 2 (2013)
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v1i2.6626

Abstract

Tulisan ini mengangkat tiga permasalahan yaitu: Bagaimana efektifitas mediasi dalam menyelesaikan perkara di Pengadilan Agama wilayah Pengadilan Tinggi Agama Makassar, Hambatan apa yang mempengaruhi pelaksanaan mediasi di Pengadilan Agama wilayah Pengadilan Tinggi Agama Makassar, Bagaimana pandangan hukum Islam terhadap penerapan mediasi di wilayah Pengadilan Tinggi Agama Makassar. Penelitian ini bertujuan mengungkap efektivitas mediasi dalam penyelesaian perkara secara damai di Pengadilan Agama wilayah Pengadilan Tinggi Agama Makassar, hambatan yang mempengaruhi pelaksanaan mediasi di Pengadilan Agama wilayah Pengadilan Tinggi Agama Makassar, serta pandangan hukum Islam terhadap penerapan mediasi di Pengadilan Agama. Pendekatan yang dipergunakan untuk melihat dan memecahkan permasalahan adalah filosofis syar'i, filosofis yuridis, analisis sosiologis sempiris, serta maslahat. Ditemukan fakta bahwa mediasi belum efektif menanggulangi tumpukan perkara di wilayah Pengadilan Tinggi Agama Makassar, profesionalisme hakim yang menjalankan fungsi mediator sangat lemah dan mempengaruhi keberhasilan mediasi di Pengadilan Agama wilayah Pengadilan Tinggi Agama Makassar, serta penerapan mediasi di Pengadilan Agama tidak bertentangan dengan hukum Islam. Masyarakat pencari keadilan di Pengadilan Agama sangat bermanfaat mempergunakan mediasi dalam menyelesaikan perkaranya sehingga berimplikasi terhadap keutuhan keluarga dan terpeliharanya harta yang dipersengketakan dari kehancuran. Perlunya pelaksanaan pelatihan mediator secara berkesinambungan dengan memperhatikan bakat sebagai mediator, para ahli negosiasi yang ada dilingkungan akademisi diharapkan berpartisipasi dengan mendaftarkan diri di Pengadilan Agama Tingkat Pertama. Implikasi terhadap penerapan mediasi di Pengadilan Agama dikemukakan dua sudut pandang yaitu dari sudut politik ekonomi global dunia dimana Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari percaturan politik ekonomi internasional, dari sudut kasus keluarga Islam di Indonesia yang masuk di Pengadilan Agama memerlukan penanganan dan penyelesaian secara konprehensif.ABSTRACTThe article raises three questions; first, how is the effectiveness of mediation in resolving the case in the Religious High Court of Makassar; second, what barriers affect the implementation of mediation in the Religious High Court of Makassar; and third, how to view the application of Islamic law in the Religious High Court of Makassar. This study aims to reveal the effectiveness of mediation to gain peaceful settlement in the Religious High Court of Makassar, to detect barriers that affect the implementation of mediation in the Religious High Court of Makassar, as well as to show the views of Islamic law on the application of mediation in the Religious High Courts. The approach used to answer and solve these problems is philosophical one by considering shar'i, judicial philosophy, empirical sociological analysis, as well as beneficiaries. The result shows that mediation has not effectively tackled piles in the Religious High Court cases. The professionalism of the judges as mediators is very weak and it in turn affects the success of mediation in the Religious High Court of Makassar. Though, the application of mediation in the Religious is not contrary to Islamic law. People seeking justice in the Religious Courts are advised to obtain benefits of using mediation to resolve their cases, so that the implication for the integrity of the family and the preservation of the disputed property from destruction may occur. There is an urgent need for continuous training as mediators with regard to their potentials as mediators and negotiation experts from academicians are expected to participate by enrolling in the Religious Courts. Implications for the application of mediation in the Religious Courts present two perspectives; first, considering the global economy in terms of world politics in which Indonesia cannot escape the politics of international economics; and second, from Muslim family cases in Indonesia, the Religious Courts are required to accurately handle and comprehensively settle the cases.
SISTEM SANKSI PERDAGANGAN ANAK MENURUT HUKUM ISLAM Sukirno, Sukirno; Kara, Sitti Aisyah; Jumadi, Jumadi
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 2 (2018): August
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i2.6738

Abstract

Sistem sanksi terhadap tindak pidana perdagangan anak di Indonesia dan hukum Islam, yaitu di Indonesia di atur dalam Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Sedangkan dalam hukum Islam, hukuman bagi pelaku perdagangan orang bisa termasuk jarimah hudud, qishahsh, dan ta’zir tergantung kepada akibat yang ditimbulkan terhadap korban. Kejahatan perdagangan manusia terutama perempuan dana anak berkembang karena adanya berbagai faktor pendorong, satu diantaranya yaitu faktor kemiskinan. Masyarakat miskin yang berada di daerah-daerah terpencil dijanjikan pekerjaan yang gajinya besar mendorong anak-anak tersebut terdorong untuk mengikuti ajakan dari para pelaku. Kondisi tingkat kemiskinan tersebut semakin mudah untuk dipengaruhi dika dibarengi dengan tingkat pendidikan yang rendah. Masyarakat tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk menganalisis ajakan dari para pelaku yang menawarkan gaji yang besar jika tingkat pendidikan yang dimiliki oleh seseorang tersebut tidak ada.
PELAKSANAAN QUALITY CONTROL PROSES PEMBELAJARAN PADA PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR Yani, Ahmad; Arsyad, Azhar; Syamsudduha, Syamsudduha; S, Arifuddin
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 3 (2018): December
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i3.6739

Abstract

Hasil penelitian terkait quality control terhadap proses pembelajaran menunjukkan bahwa pelaksanaan quality control pada perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran telah dilaksanakan sesuai standar yang ditetapkan baik internal maupun berdasarkan standar nasional pendidikan tinggi (SNPT), dengan indikator tersedianya program tahunan maupun semester, dan kalender akademik yang menjadi acuan dalam proses pembelajaran, penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran, dan tersedianya RPS/Silabus. Adapun program yang dilakukan Pascasarjana terkait dengan quality control, yakni: 1) pelaksanaan rapat edukasi setiap awal tahun akademik berjalan yang bertujuan untuk mengevaluasi pembelajaran yang telah terlaksana sekaligus mendengarkan masukan-masukan dan aspirasi dosen dalam rangka peningkatan mutu dan proses penyelenggaraan pendidikan, 2) control terhadap kehadiran dosen kegiatan pembelajaran, 3) control pelaksanaan tugas dosen dengan mekanisme penilaian course evaluation survey yang terintegrasi dengan sistem informasi akademik, 3) control yang dilakukan oleh pengelola program studi terkait dengan terhadap pelaksanaan pembelajaran baik secara langsung di ruangan, maupun melalui absensi setelah perkuliahan dilaksanakan, 4) control yang dilakukan oleh ketua program studi terkait kesesuaian materi yang diberikan oleh dosen dengan silabi yang telah dibuat dan disetujui melalui instrumen jurnal perkuliahan, 5) kontrol pelaksanaan evaluasi terkait ujian yang dilaksanakan baik ujian semester maupun ujian lainnya seperti ujian kualifikasi proposal, hasil tutup maupun ujian terbuka (promosi). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat dinyatakan bahwa pelaksanaan quality control di Pascasarjana Universitas Islam Alauddin Makassar dilaksanakan dengan menerapkan konsep mutu yang lebih mengacu pada standar-standar, baik itu standar nasional pendidikan tinggi maupun standar mutu internal yang ditetapkan olen lembaga, dan belum sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan pasar serta keinginan konsumen (stakeholders). Hal ini menguatkan teori mutu yang dikemukakan oleh Philip B. Crosby yang menyatakan bahwa mutu adalah kesesuaian dengan yang dipersyaratkan/distandarkan. Penelitian ini diharapkan dapat berimplikasi terhadap upaya peningkatan mutu layanan administrasi akademik melalui penguatan sistem dan kebijakan pengelolaan pendidikan yang bermutu dan berdaya saing.
FENOMENA TRADISI ZIARAH PADA KUBURAN PETTA BETTA’E PADA MASYARAKAT KABUPATEN BONE Taufik, Taufik; Katu, Samiang; Santalia, Indo; Ahmad, La Ode Ismail
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 1 (2018): April
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i1.6758

Abstract

Ziarah pada kuburan Petta Betta’E merupakan kuburan yang keberadaannya menjadi kepercayaan yang telah turun temurun diyakini sebagai tempat keramat, karena yang bersemayam merupakan arwah leluhur yang dianggap memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Dalam melihat persepsi masyarakat Palakka terhadap tradisi ziarah kuburan Petta Betta’E secara garis besar mejadi sebuah wadah dalam mengespresikan kepercaan mereka, adanya aggapan dengan menziarahi dapat memberikan kemanfaatan bagi kehidupan. Adanya kepercayaan demikian telah mengotori konsep ziarah itu sendiri sebagai wadah seseorang untuk mengingat akan kematian, karena sesungguhya sesorang yang telah meninggal, tidaklah mampu memberikan kemanfaatan. Dalam upaya tokoh Agama setempat dalam meluruskan kepercayaan masyarakat Palakka,  dengan memberikan nasihat-nasihat keagamaan dengan berlahan tanpa menyakiti perasaan masyarakat dan menjalin hubungan interaktif dengan masyarakat sehingga dapat terjalin kekeluargaan, seta memberikan wujud pembinaan kepada masyarakat dengan pembinaan harian dan pembinaan mingguan. Dari pembinaan harian berusaha memupuk masyarakat dengan bekal ilmu agama, sedangkan pembinaan mingguan dilakukan sebagai wujud penanaman pemahaman masyarakat dalam menyikapi persoalan keagamaan. sehingga dengan kedua proses tersebut secara berlahan dapat mengubah kepercayaan masyarakat sedikit demi sedikit.
FENOMENA FACEBOOK SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI BARU Muhlis, Muhlis; Jasad, Usman; Halik, Abdul
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 1 (2018): April
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i1.6759

Abstract

Tulisan ini akan mengurai tentang fenomena media sosial dalam hal ini facebook sebagai media komunikasi baru yang deskripsi fokusnya mencakup facebook, media komunikasi baru dan partisipasi pengguna facebook. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yakni menganalisis dan menggambarkan tentang realitas proses dakwah di media sosial. Lokasi penelitian ini adalah media sosial terkhusus facebook dengan objek penelitian yang akan diteliti meliputi aspek-aspek dakwah di media sosial yang terdiri dari dai dan bentuk dakwah. Pendekatan penelitian ini adalah studi fenomenologi dalam arti peneliti menghimpun data berkenaan dengan konsep, pendapat, pendirian, sikap, penilaian dan pemberian makna terhadap situasi atau pengalaman dalam kehidupan. Sumber data dalam penelitian ini adalah dai, facebooker dan aktif berdakwah di facebook sebagai sumber data primer yang diperoleh dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai literatur seperti buku, majalah, karya ilmiah yang relevan dengan penelitian. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dan jenis instrumen lain yang mencakup pedoman wawancara, pedoman observasi, dan alat dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah model interaktif Miles dan Huberman yakni analisis data dilakukan saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah pengumpulan data dalam periode tertentu, sebagai berikut: a) Reduksi Data; b) Display atau Penyajian Data; dan c) Verifikasi atau kesimpulan Fenomena yang sedang sangat digemari di era tahun 2000-an ini yaitu sebuah jejaring sosial facebook, dapat dikatakan sebagai sebuah revolusi cara berkomunikasi untuk mendapatkan teman. Dalam kehidupan normal sehari-hari selayaknya mendapatkan teman biasanya secara langsung tatap muka dan bisa akrab dengan teman juga secara tatap muka. Tetapi dengan jejaring sosial facebook, mendapatkan teman dan berbincang dengannya secara leluasa hanya sekali klik, maka semua deskripsi tentang teman baru bisa didapatkan.
MANAJEMEN PENGADAAN GERAKAN SERIBU BUKU DI UIN ALAUDDIN MAKASSAR Rusadi, La Ode
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 1 (2018): April
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i1.6764

Abstract

Proses manajemen pengadaan buku GSB UIN Alauddin Makassar ada beberapa tahapan, yang dimulai dari tahap pembentukan panitia GSB UIN Alauddin Makassar, pembukaan pendaftaran GSB UIN Alauddin Makassar, seleksi dan verifikasi berkas pendaftar GSB UIN Alauddin Makassar, pengumuman kelulusan pendaftaran GSB UIN Alauddin Makassar, dan tahap kontrak perjanjian. Tahapan manajemen pengadaan buku GSB UIN Alauddin Makassar menunjukkan sudah cukup baik dan terarah, akan tetapi masih perlu ada upaya-upaya evaluasi dan perbaikan, misalnya dari segi membangun hubungan kerjasama dan koordinasi di antara panitia, tim independen, dan penulis maupun evaluasi dan perbaikan yang sifatnya tekhnis.

Page 8 of 37 | Total Record : 368