cover
Contact Name
Dinia R Dwijayanti,
Contact Email
biotropika@gmail.com
Phone
+62341-575841
Journal Mail Official
biotropika@gmail.com
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA UB, Jalan Veteran, 65145, Malang, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Biotropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23027282     EISSN : 25498703     DOI : 10.21776/ub.biotropika.
Biotropika: Journal of Tropical Biology invites research articles, short communication, and reviews describing new findings/phenomena of biological sciences in tropical regions, specifically in the following subjects, but not limited to biotechnology, biodiversity, microbiology, botany, zoology, biosystematics, ecology, and environmental sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 544 Documents
Uji Potensi Bakteri Penghasil Hormon IAA (Indole Acetic Acid) dari Tanah Rhizosfer Cengkeh (Syzigium aromaticum L.) Sukmadewi, Desak Ketut Tristiana; Suharjono, Suharjono; Antonius, Sarjiya
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.932 KB)

Abstract

ABSTRAK Tanaman cengkeh (Syzygium aromaticum L.) merupakan salah satu komoditi perkebunan yang memiliki peranan penting bagi pendapatan devisa negara. Perkebunan cengkeh rutin mengunakan pupuk kimia sintetik dalam proses pertumbuhannya. Permintaan produk pertanian dan perkebunan yang bebas akan bahan kimia semakin meningkat. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari potensi isolat  bakteri penghasil hormon IAA dari tanah rhizosfer tanaman cengkeh. Tahapan penelitian meliputi pengambilan sampel tanah, isolasi bakteri penghasil hormon IAA dan analisa hormon IAA. Bakteri yang berpotensi menghasilkan hormon IAA tertinggi adalah isolat TCKI 5 (32,84 ppm) dari Karangasem. Hasil tertinggi ini didapatkan pada waktu inkubasi 48 jam. Berdasarkan nilai OD terlihat bahwa isolat TCKI 5  pada waktu inkubasi  48 dan 72 jam memiliki nilai OD yang  sama yang  merupakan  fase stasioner   Kata kunci: bakteri, tanaman cengkeh, Indole Acetic Acid (IAA), rhizosfer 
Diversitas dan Uji Potensi Bakteri Kitinolitik dari Limbah Udang Setia, Imanda Nurul; Suharjono, Suharjono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.549 KB)

Abstract

ABSTRAK Proses pengolahan udang dari industri akan menghasilkan limbah cair dan padat sebanyak 30 – 75 % dari berat udang. Limbah udang mengandung 20 – 60 % kitin sehingga dapat menjadi sumber bakteri kitinolitik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui diversitas bakteri kitinolitik dan mengetahui potensi bakteri yang memiliki aktivitas kitinolitik yang tinggi pada limbah udang. Tahapan penelitian meliputi isolasi bakteri pada media CCA (Colloidal Chitin Agar), penghitungan diversitas bakteri kitinolitik, dan seleksi isolat berdasarkan indeks kitinolitik. Diversitas bakteri kitinolitik dihitung menggunakan indeks diversitas Simpson. Penelitian uji potensi kitinolitik menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali ulangan. Data indeks kitinolitik dianalisis menggunakan analisis ragam dilanjutkan uji Games-Howell (α = 0,05). Indeks diversitas limbah padat lebih tinggi (0,646) daripada limbah cair (0,213). Dua dari 18 isolat yaitu isolat PBK 2 (berasal dari limbah cair) dan SA 1.2 (berasal dari limbah padat) memiliki indeks kitinolitik tertinggi yaitu secara berturut-turut sebesar 2,069 dan 2,084. Kata kunci : bakteri kitinolitik, limbah cair, limbah padat, kitin, udang ABSTRACT Shrimp processing from industrial activity produce solid waste and wastewater 30 – 75 % from shrimp weight. Shrimp waste contains 20 – 60 % chitin and possible to be source of chitinolytic bacteria. The objectives of this research was to observe diversity of chitinolytic bacteria and to analyze potency of bacteria which have high activity of chitin degradation in shrimp waste. The research consist of isolation of bacteria using Colloidal Chitin Agar (CCA) medium, quantification of chitinolytic bacteria diversity, and screening of bacteria based on chitinolytic index. Diversity of chitinolytic bacteria quantified with Simpson diversity index. Chitinase assay carried out according Complete Randomized Design with three replications. Diameter of clear zone data was analyzed using analysis of variance continued with Games-Howel test (α = 0.05). Diversity index of solid waste more higher (0.646) than wastewater (0.213). Only two of eighteen isolates of chitinolytic bacteria (PBK 2 and SA 1.2 isolates) showed highest chitinolytic index. Key words: chitinolytic bacteria, chitin, shrimp, waste
The Effect of Different Media Content on Protease Activity Bacillus subtilis Nurkasanah, Siti; Widodo, Nashi
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.648 KB)

Abstract

ABSTRACT Enzymes were protein molecules that synthesized cells to accelerate biochemical reactions. One of the microorganisms that produce a protease was Bacillus subtilis. B. subtilis used in this research consisted of isolate 1 and isolate 2. Methods used include thequalitative assay of protease activity through theclear zone on skim milk agar and calculation of protease activity on production media such as NB (Nutrient Broth) and TSB (Tryptic Soy Broth). Based on the results revealed that the clear zonediameter isolate 2 better than the isolate 1 after 24hours and 48 hours incubation periods. It showed both isolates having the possibility in different strains but within a species. The highest protease activity calculation obtained from TSB production media respectively  0,14 Unit /ml unit and 0.12 Unit/ml. Keywords:B. subtilis, clear zone, protease, TSB
Modulasi Sel T CD4+ dan CD8+ pada Spleen Ayam Arab Putih (Gallus turcicus) dengan Ransum yang Mengandung Daun Pepaya (Carica papaya L.) Febrianty, Herminah; Djati, Muhammad Sasmito
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.323 KB)

Abstract

ABSTRAK Usaha peternakan ayam arab (Gallus turcicus) saat ini telah berkembang pesat di Indonesia. Ayam ini memiliki berbagai macam keunggulan, salah satunya adalah produktivitas telur yang tinggi. Penggunaaan feed additive merupakan kebutuhan yang hampir tidak terpisahkan dalam pemeliharaan ayam yang umumnya berguna sebagai Antibiotic Growth Promote (AGP). Konsumsi ransum dengan feed additive sintetis dapat menyebabkan residu antibiotik di dalam hasil produksi seperti telur dan daging, karena proses ekskresi yang tidak sempurna. Daun pepaya (Carica papaya L.) yang memiliki senyawa flavonoid dan alkaloid untuk memodulasi aktivitas sistem imun. Tujuan percobaan ini untuk mengetahui pengaruh pemberian daun pepaya dalam ransum terhadap modulasi jumlah sel T CD4+ dan CD8+ pada spleen ayam arab putih. Metode penelitian diantaranya pembuatan ransum kontrol (0 %), dosis 1 (6 %) dan dosis 2 (12 %) dari daun pepaya, dengan bahan lain yaitu jagung, bekatul dan konsentrat. Pembedahan dilakukan setelah perlakuan selama 2 bulan. Sel limfosit diisolasi dari spleen dan diinkubasi dengan antibodi rat-anti-CD4+PE dan rat-anti-CD8+FITC dengan pengenceran PBS (1:100 μl), masing-masing sebanyak 50 μl, kemudian dilakukan running pada flowcytometer, selanjutnya dilakukan analisis jumlah relatif sel limfosit T CD4+ dan CD8+ menggunakan SPSS 16 for Windows dengan α=0,05. Hasil menunjukkan bahwa pemberian pakan dengan tambahan daun pepaya secara signfikan dapat memodulasi jumlah relatif sel limfosit, terutama pada sel T CD4+. Perlakuan dengan kemampuan paling baik dalam meningkatkan jumlah relatif sel T CD4+ secara signifikan adalah ransum daun pepaya 6 % yakni sebesar 2,39 %, sedangkan perlakuan kontrol sebesar 0,58 % dan dosis 12 % sebesar 0,50 %. Sedangkan jumlah relatif CD8+ memiliki nilai yang tidak berbeda nyata dari semua perlakuan. Sehingga dapat dibuktikan bahwa daun pepaya mampu berperan sebagai imunomodulator dalam sistem imunitas ayam arab. Kata kunci : ayam  arab, CD4+, CD8+, daun  pepaya
The Effect of Dexamethasone Treatment to Humoral Immunity in BALB/C Mice Models Ardiana, Ovi
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.655 KB)

Abstract

ABSTRACT Glucocorticoids (GCs) are a class of steroid hormones which regulate a variety of essential biological functions. The profound anti-inflammatory and immunosuppressive activity of synthetic GCs, combined with their power to induce lymphocyte apoptosis place them among the most commonly prescribed drugs worldwide. Endogenous GCs also exert a wide range of immunomodulatory activities, including the control of T cell homeostasis. Dexamethasone is kind of glucocorticoid which is used to control some deseases. The purpose of this experiment is to know the effect of dexamethasone on B220. There are three different doses of treatments applied: 0.0 mg/kg BW (control), 0.5 mg/kg BW, and 10 mg/kg BW.  Each treatment uses 6 mice (2 weeks old) with intraperitoneal injection. The treated mice were observed for 7 days and spleen cells were isolated for flow cytometric immunophenotyping . The data were analyzed by BD CellQuest and tested using One-way ANOVA (p<0,05) then Tukey’s test with SPSS 16.0 for Windows program. The result of this experiment showed that the dose of 0.5 mg/kg BW did not decrease B220 cell number significantly, but the dose of 10 mg/kg BW did. Keyword : B220, Dexamethasone, Glucocorticoids
Daya Repelensi Biopestisida Terhadap Walang Sangit (Leptocorisa oratorius, Fabricus) di Laboratorium Sihombing, Maic Audo Eybi Mayer; Samino, Setijono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.41 KB)

Abstract

Biopestisida adalah pestisida organik yang dipakai untuk mengendalikan populasi hama di bawah batas ambang ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi efektif biopestisida yang dapat mengusir walang sangit dewasa, baik pada kondisi gravid dan non gravid (kondisi campur) dan non gravid. Walang sangit dewasa diaklimatisasi selama satu minggu di laboratorium. Konsentrasi biopestisida yang digunakan adalah 0 %, 1,79 %, 3,57 %, 7,14 %, 14,29 %, dan 50 %. Uji repelensi dilakukan dengan menggunakan olfaktometer empat lengan yang dimodifikasi menjadi binary choice. Data dianalisis dengan uji T tidak berpasangan, SPSS 16 untuk Windows. Seluruh konsentrasi biopestisida efektif untuk mengusir walang sangit dewasa dalam kondisi campur (P>0,05) dengan daya repelensi berkisar antara 70-90 %. Konsentrasi efektif biopestisida untuk mengusir walang sangit dewasa dengan kondisi non gravid yaitu 14,29 % dan 50 % dengan daya repelensi berturut-turut yaitu 83,33 % dan 90,91 %. Durasi waktu yang dibutuhkan oleh walang sangit dewasa kondisi campur bervariasi untuk setiap konsentrasi efektif (50 % : 23,13 detik;   14,29 % : 27,67 detik; 7,14 % : 27,11 detik; 3,57 % : 23,50 detik;  1,79% : 45,70 detik). Durasi waktu yang dibutuhkan oleh walang sangit dengan kondisi non gravid pada konsentrasi efektif yaitu 13,91 detik dan 18,70 detik. Kata kunci: Biopestisida, Leptocorisa oratorius, Fabricus, Olfaktometer Binary Choice, Repelensi
Keberhasilan Hidup Beberapa Tumbuhan Riparian Lokal yang Ditanam di antara Biomassa Kangkung yang Tumbuh Terapung di Kolam Fitoremediasi Mufarida, Lailatul; Arisoesilaningsih, Endang
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.902 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keberhasilan hidup dan pertumbuhan beberapa tumbuhan riparian lokal yang ditanam terapung di antara biomassa Ipomoea aquatica Forsk. (kangkung). Eksperimen semu ini menggunakan tumbuhan riparian lokal Acorus calamus L. (dlingo), Coix lacryma-jobi L. (Jagung jali), Colocasia esculenta (L.) Schott (Talas), Cyperus alternifolius L. (Bintang air), Fimbristylis globulosa (Retz.) Kunth. (Mendong), Hedychium coronarium J. Koenig. (Gandasuli), Ipomoea crassicaulis (Benth.) B. L. Rob. (Kangkungan), Limnocharis flava L. (Genjer), Monochoria vaginalis (Burm. f.) C. Presl ex Kunth. (Eceng padi). Sembilan spesies ditanam di antara biomassa I. aquatica, masing-masing sebanyak sepuluh individu secara monokultur di kolam fitoremediasi air irigasi. Keberhasilan hidup ditunjukkan oleh pertumbuhan tunas dan anakan. Pertumbuhan tunas dan anakan diamati satu bulan sekali. Analisis data menggunakan Ms. Excel, PAST dan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua tanaman riparian berhasil hidup sebagai tanaman terapung di antara biomassa I. aquatica, namun F. globulosa, A. calamus dan L. flava merupakan spesies yang mampu membentuk tunas dan anakan. Sebaliknya keterbatasan pertumbuhan tunas dan anakan diamati pada H. coronarium dan C. alternatifolius. Sedangkan keberhasilan hidup C. lacryma-jobi, I. crassicaulis, M. vaginalis dan C. esculenta termasuk kelompok sedang. Kata Kunci: Biomassa kangkung,  keberhasilan hidup, terapung, tumbuhan riparian lokal
ATTRACTION OF ARTHROPODS IN REFUGIA BLOCKS (Ageratum conyzoides L., Capsicum frustecens L., and Tagetes erecta L.) WITH THE APPLICATION OF LIQUID ORGANIC FERTILIZER AND BIOPESTICIDE IN APPLE CROPS IN PONCOKUSUMO Muhibah, Tria Irma; Leksono, Amin Setyo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.998 KB)

Abstract

The objective of this research was to know the community structure of arthropods and to know visiting patterns of arthropods in refugia blocks. The method used in this research was Visual Encounter in fruiting season and flowering season. The observation was held four times in each season and four times a day. The observation was held on the refugia blocks that were applied a liquid organic fertilizer and biopesticide (POCB) and Control. Measurement of abiotic factors was done including temperature, humidity and light intensity. The result was analyzed using important value (INP) and Shannon-Wienner Index (HI). Overall the total abundance of arthropods was 32 family in flowering season and 33 family in fruiting season. All of the refugia blocks were dominated by family Muscidae in flowering season and dominated by family Apidae in fruiting season. The Diversity of arthropods in flowering season and fruiting season is quite high with the value was ranged from 3 to 4. Arthropods visiting patterns on the refugia block showed an increase in the abundance of arthropods in period 2 that was during 9:00 to 10:30 am.   Key word : Arthropods, Biopesticide, Flowering Season, Fruiting Season, Liquid Organic Fertilizer, Refugia Blocks, Visual Encounter
ANALISIS KADAR LUTEINIZING HORMONE (LH) PADA SERUM SAPI FRIESIAN HOLSTEIN POST PARTUM DENGAN PENAMBAHAN SELENIUM DAN VITAMIN E Prasetiani, Ririn Dwi; Rahayu, Sri; Soewondo, Aris
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.791 KB)

Abstract

ANALISIS KADAR LUTEINIZING HORMONE (LH) PADA SERUM SAPI FRIESIAN HOLSTEIN POST PARTUM DENGAN PENAMBAHAN SELENIUM DAN VITAMIN E   Ririn Dwi Prasetiani1), Sri Rahayu2), Aris Soewondo3) 1),2),3) Laboratorium Biomolekuler dan Seluler, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang 65145, Jawa Timur, Indonesia. E-mail: ririndwi68@yahoo.com ABSTRAK Sapi Friesian Holstein (FH) merupakan bangsa sapi yang memiliki produksi susu tertinggi dibandingkan bangsa-bangsa sapi perah lainnya. Banyak peternak yang menginginkan peningkatan produktifitas sapinya dengan asumsi setiap 1 ekor sapi setidaknya melahirkan 1 ekor anak sapi setiap tahun. Namun banyak masalah yang ditimbulkan pada sapi postpartum, salah satunya akibat peningkatan radikal bebas pada tubuh sapi postpartum, sehingga asumsi tersebut tidak terpenuhi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian selenium dan vitamin E secara intramuskular terhadap kadar Luteinizing Hormone (LH) serum sapi FH postpartum. Hewan coba yang digunakan adalah 6 ekor sapi bunting 7 bulan yang dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing 3 ekor untuk kelompok kontrol (P0/ tidak diinjeksi selenium dan vitamin E) dan perlakuan (P1/di injeksi sodium selenite 1,5 mg/ml + vitamin E 50 mg/ml). Injeksi dilakukan 5 kali yaitu saat sapi bunting 7 bulan, 8 bulan, saat 2 minggu sebelum melahirkan, 7 hari dan 14 hari setelah melahirkan. Pengambilan serum untuk pengujian kadar LH dilakukan dua kali dari masing-masing hewan coba, yaitu pada 25 hari dan 45 hari postpartum. Pemeriksaan kadar LH dilakukan dengan teknik ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian sodium selenite 1,5 mg/ml + vitamin E 50 mg/ml cenderung menyebabkan peningkatan LH serum sapi FH pada 25 dan 45 hari postpartum.   Kata kunci: LH, sapi FH, selenium, vitamin E ABSTRACT Holstein Friesian dairy cows (FH) is a group of cows that have the highest milk production compared to other dairy cattle groups. Many farmers want to increase the productivity of the cow with the assumption that every one cow give birth to at least 1 cow each year. But many problems caused in postpartum cows, one of which is due to the increase of free radicals in the postpartum cows body, so the assumptions are not met. This study was conducted to analyze the effect of selenium and vitamin E intramuscularly in LH levels serum of dairy cow FH postpartum. There are 6 cows divided into two groups, 3 cows for each group. First group is control (P0) which no administration of sodium selenite and vitamin E, and second group is treatment (P1) that intramuscularly injected of sodium selenite 1.5 mg/ml + vitamin E 50 mg/ml). Injection of selenium and vitamin E conducted 5 times when 7 months, 8 months cows gestation, two weeks before calving, seven days after calving and 14 days after calving. Serum sampling for testing levels of LH take in 25 days and 45 days postpartum on each cows. The level of LH was conducted by ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay). The results showed that administration of sodium selenite 1.5 mg/ml + vitamin E 50 mg/ml causes increased LH levels serum that taken 25 days, 45 days postpartum.   Keywords: dairy cow FH, LH, selenium, vitamin E
Struktur Embrio Porang (Amorphophallus muelleri Blume) dari Berbagai Variasi Ukuran Biji Dewi, Dita Fitriana Kusuma; Azriyaningsih, Rodliyati; Indriyani, Serafinah
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.706 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi dan penyebaran embrio pada berbagai ukuran biji porang, mengetahui pengaruh ukuran (kriteria) biji terhadap ukuran embrio, dan mengetahui ukuran biji yang paling baik sebagai bibit porang. Metode yang dilakukan meliputi, pengambilan sampel biji porang dari tongkol yang berasal dari lapang (Desa Rejosari Kecamatan Bantur) berumur 32 minggu, pengukuran berat biji porang, pengamatan anatomi embrio biji porang, pengukuran panjang dan lebar embrio porang, dan analisis data. Biji porang diklasifikasikan menjadi tiga kriteria, yakni besar (0,2 < x ≤ 0,3 g), sedang (0,1 < x ≤ 0,2 g), dan kecil (0,01 < x ≤ 0,1 g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa embrio porang pada berbagai ukuran biji berada pada posisi atau bagian proksimal dari biji porang, bukan pada bagian distal dari biji porang. Uji ANOVA yang dilakukan menunjukkan bahwa ukuran biji tidak menunjukkan adanya pengaruh terhadap ukuran embrio (panjang x lebar). Biji berukuran besar mempunyai rata-rata panjang embrio tertinggi, yakni sebesar 1,0±0,8 mm sedangkan biji berukuran sedang mempunyai rata-rata lebar embrio tertinggi, yakni sebesar 0,7±0,4 mm. Biji poliembrio menunjukkan persentase sebesar 17,65±1,64 % dengan penyebaran embrio secara mengelompok atau berdekatan antara embrio satu dengan embrio lainnya. Biji berukuran sedang mempunyai potensi viabilitas tertinggi dalam perkecambahan karena menunjukkan biji poliembrio sebesar 38,46±17,55 % dan tidak ada biji yang tidak mengandung embrio (00,00±00,00 %).   Kata kunci: Anatomi, biji porang, embrio, porang