cover
Contact Name
Dinia R Dwijayanti,
Contact Email
biotropika@gmail.com
Phone
+62341-575841
Journal Mail Official
biotropika@gmail.com
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA UB, Jalan Veteran, 65145, Malang, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Biotropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23027282     EISSN : 25498703     DOI : 10.21776/ub.biotropika.
Biotropika: Journal of Tropical Biology invites research articles, short communication, and reviews describing new findings/phenomena of biological sciences in tropical regions, specifically in the following subjects, but not limited to biotechnology, biodiversity, microbiology, botany, zoology, biosystematics, ecology, and environmental sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 554 Documents
Eksplorasi Ektoparasit Pada Ikan Famili Cyprinidae Di Kolam Rumah Makan Wilayah Malang Raya Karina hanum wardany; Nia Kurniawan
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ectoparasites were common found on fishes. Ectoparasites often infect parts of the fins, scales, operculum and gills in fish. This research aims to determine the types of ectoparasites on fish family Cyprinidae and the influence of environmental conditions on the number of ectoparasites. This research was conducted in three pools restaurant in Malang Raya region, then measured abiotic factors of pool water. Fish as the host of ectoparasites, taken using nets and anesthetized by using 3 phenol chloroform. Fish scales and fins were observed. Ectoparasites that attach to the parts taken and put in 70% alcohol. Ectoparasites observed and identified under a microscope. Measurement data of water quality and quantity ectoparasites were analyzed using SPSS 16 program. Argulus japonicus is a species of ectoparasite was founds in B Batu restaurant and I Dau restaurant. While ectoparasites found in G Malang restaurant was Lernaea cyprinacea. Argulus japonicus and Lernaea cyprinacea were exotic species from Japan. The entry of ectoparasites caused by introduction of Koi fish to Indonesia. The results showed that there were significant differences in the number of ectoparasites I Dau with B Batu and G Malang restaurants respectively. The correlation result between the number of ectoparasites and the physico-chemical factors were showed that the pool water DO levels were positively correlated to the number of ectoparasites.   Key word: Ectoparasites, fish family Cyprinidae, restaurant pond at Malang Area, SPSS 16
DNA Barcoding Ikan Introduksi Khas Telaga Sari, Kabupaten Pasuruan Dwi Anggorowati Rahayu; Endik Deni Nugroho; Dwi Listyorini
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2019.007.02.2

Abstract

Telaga Sari terletak di Purwodadi, Kabupaten Pasuruan yang memiliki kelimpahan jenis ikan introduksi dari Famili Poeciliidae. Anggota Poeciliidae merupakan ikan yang berukuran kecil, live-bearers, memiliki dimorfi seksual dari segi ukuran tubuh dan pola warna. Ikan jantan memiliki gonopodium yang merupakan modifikasi sirip anal, dan ikan betina bunting dan melahirkan. Ikan ini terintroduksi di perairan Indonesia sebagai ikan hias, pengontrol perkembangan nyamuk malaria dan dewasa ini diketahui sebagai model pembelajaran dalam studi biologi. Identifikasi cryptic species menjadi tantangan dalam pengelolaan ikan introduksi baik untuk tujuan konservasi dan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk identifikasi molekuler berdasarkan DNA Barcode COI. Amplifikasi gen target dilakukan dengan menggunakan primer barcode. Analisis identifikasi molekuler melalui kekerabatan pohon filogenetik, similaritas, variasi sekuen DNA, jarak genetik, dan BOLD System. Hasil identifikasi molekuler menunjukkan terbentuk dua klaster besar yang terdiri atas dua klad, spesies yang teridentifikasi sesuai karakter morfologi, yaitu Poecilia reticulata dan Poecilia mexicana dengan indeks kesamaan 90-100%, sedangkan satu spesies teridentifikasi sebagai Poecilia reticulata (100% identik berdasarkan BOLD System) yang seharusnya secara morfologi adalah Xiphoporus helleri. Hasil analisis karakter nukleotida diagnostik ditemukan empat nukleotida untuk Poecilia reticulata, tujuh nukleotida untuk Xiphoporus helleri dan 23 untuk Poecilia mexicana. Diversitas haplotype basa nukleotida sebesar (0,00566) yang terbagi menjadi sembilan haplotype dengan empat haplogroup. Ketepatan identifikasi spesies ikan menjadi kunci utama dalam budidaya, perdagangan, manajemen, konservasi, dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Peta Persebaran Porang (Amorphophallus muelleri Blume) Berdasarkan Topografi Wilayah di Malang Raya Faldy Alifianto; Rodliyati Azrianingsih; Brian Rahardi
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Porang (Amorphophallus muelleri Blume) merupakan salah satu tumbuhan lokal Indonesia yang banyak tersebar di Pulau Jawa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan porang di wilayah Malang Raya dan mengonstruksi peta persebaran porang berdasarkan topografi wilayah. Metode penelitian terdiri dari kegiatan eksplorasi porang dan pembuatan peta persebarannya. Eksplorasi dilakukan di Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu. Porang yang ditemukan dicatat koordinat lokasi dan kelimpahannya, kemudian dibuat peta persebaran porang dengan menggunakan software Quantum GIS. Berdasarkan hasil eksplorasi di Malang Raya, porang ditemukan di 12 lokasi dan tersebar di 8 kecamatan di Kabupaten Malang. Porang yang ditemukan berupa porang liar (9 lokasi) dan porang budidaya (3 lokasi).  Satu lokasi populasi porang dapat memiliki plot (1x1 meter) berjumlah 2 – 111 plot dan setiap plot dapat ditemukan 1 – 24 individu porang. Berdasarkan topografi wilayah, setiap lokasi memiliki ketinggian bervariasi antara 34 – 931 meter di atas permukaan laut. Kemiringan lokasi antara 6° - 30,75° dan terklasifikasi dalam area agak miring hingga curam (kelas C - F). Namun porang banyak ditemukan di daerah lereng miring (kelas D). Di Malang Raya, porang umumnya tumbuh di bawah tegakan bambu dan jati. Peta persebaran porang di Malang Raya ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi tersedianya informasi lokasi dan kondisi keberadaan porang di suatu wilayah di Pulau Jawa.   Kata kunci: Malang Raya, pemetaan, porang, topografi
Regenerasi In Vitro Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Alfian Dwi Kurniawan; Wahyu Widoretno
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh yang ditambahkan pada media terhadap induksi kalus dan regenerasi tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) secara in vitro. Kalus diinduksi dari eksplan cakram /basal stem menggunakan media Murashige dan Skoog (MS) dengan penambahan 2,4-D konsentrasi 1, 2, 3 dan 4 mg/L. Kalus dikultur pada media MS dengan penambahan NAA 0,1 mg/L dan beberapa konsentrasi  kinetin (2, 3 dan 5 mg/L) untuk induksi tunas. Tunas disubkultur pada media MS + IBA 2 mg/L untuk membentuk plantlet. Penambahan 2,4-D pada media kultur mampu menginduksi pembentukan kalus pada eksplan, tetapi konsentrasi 2,4-D yang tinggi pada media menghambat pembentukan dan pertumbuhan kalus serta menyebabkan terjadi pencoklatan pada eksplan. Penambahan kinetin yang dikombinasikan dengan NAA pada medium mampu menginduksi tunas bawang merah dari eksplan kalus. Peningkatan konsentrasi kinetin berpengaruh terhadap jumlah tunas yang terbentuk pada kalus. Konsentrasi kinetin 2 mg/L mampu menghasilkan tunas lebih banyak dibandingkan dengan kinetin pada konsentrasi yang lebih tinggi (3 dan 5 mg/L). Plantlet bawang merah diperoleh setelah tunas disubkultur pada media yang mengandung IBA 2mg/L, akar mulai muncul setelah 6-8 minggu kultur.
Siklus Estrus Induk Kambing Peranakan Boer F1 Dengan Perlakuan Penyapihan Dini Pada Masa Post Partum Muhammad Rizar Zakaria; Agung Pramana W.M; Gatot Ciptadi
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penyapihan dini pada masa post partum terhadap siklus estrus induk kambing peranakan Boer F1 (Crossbreed Boer dan PE). Selama post partum, regulasi siklus estrus akan dihambat oleh prolaktin dan oksitosin yang dipengaruhi oleh mekanisme suckling. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 9 ekor induk kambing dalam 3 kelompok yakni kelompok penyapihan selang waktu 42 hari post partum (PP), 56 hari post partum (PP), dan 91 hari post partum sebagai kontrol. Pengamatan siklus estrus dengan menggunakan vaginal smear. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis dengan pendekatan kualitatif secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, interval siklus estrus kedua pasca sapih pada induk kambing kontrol  saat fase proestrus adalah 2 hari, fase estrus selama 2 hari, fase metestrus selama 2 - 3 hari, dan fase diestrus terjadi selama 14 - 15 hari. Selain itu siklus estrus pertama pasca sapih pada perlakuan penyapihan 42 hari (6 minggu), 56 hari (8 minggu), dan kontrol pada selang 91 hari (13 minggu) post partum adalah berkisar 16,7 ± 2,65 hari, 17,7 ± 1,53 hari , dan 10,3 ± 3,06 hari. Sedangkan siklus estrus kedua pasca sapih secara berturut – turut adalah berkisar 18 ±  1 hari, 19 ± 1,73 hari, dan 20,7 ± 1,58 hari. Hasil uji analisis menunjukkan bahwa tidak ada beda nyata (p>0,05) antar semua kelompok pada siklus estrus pertama pasca sapih. Kesimpulannya, interval siklus estrus kedua pasca sapih pada kelompok induk kambing sapih 42 hari PP adalah 18 hari dan sapih 56 hari PP adalah 19 hari dan kontrol rata – rata berkisar 20,7 hari. Kata kunci : Estrus, Post partum, Vaginal Smear
Effect of Elephantopus scaber.L and Polyscias obtusa Leaf Extract for CD8+ and CD8+CD62L+ T Cell Modulation in Balb/c Mice Nurul Faizah; Muhammad Sasmito Djati
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Medicinal herbal is highly recommended especially for pregnant women with bacterial infection to reduce the consumption of synthetic antibiotics that are harmful to their body and also fetus. E. scaber and P. obtusa are believed to increase the number of imunocompetent cells such as CD8+ and CD8+CD62L+ T cell cause both plants have biochemical compound such as saponin and flavonoid. These plants good for immune system, but optimum dose of mixture extracts from both leaves to increase the number of CD8+ and CD8+CD62L+ T cell in mice is doesnt know yet. This study to determine effect of E. scaber and P. obtusa leaf extract by compared the number of CD8+ and CD8+CD62L+ T cell between control mice and treated mice. E. scaber and P. obtusa leaf extract can not reduce relative number of CD8+ T cells compared with control mice after 14 days treatment and 18 days. Even it show little different number but it was not significantly different, whereas the number of CD8+ decreased in K2 control mice also not significantly different than other treatments. K1 group is always show the highest number of CD8+ T cell compared to other treatments. CD8+ was decreased by increasing the doses of P. obtusa leaf extract. Key word: E. scaber, CD8+ T cell, CD8+CD62L+ T cell, P. obtusa, Salmonella typhimurium.
Potensi Fraksi Etanol Benalu Mangga (Dendrophthoe pentandra) sebagai Agen Anti Kanker Kolon pada Mencit (Mus musculus Balb/c) setelah Induksi Dextran Sulvat (DSS) danAzoxymethane (AOM) Moch Hardi Baramada Wicaksono; Sofy Permana
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Dendrophthoe pentandra dalam memperbaiki perubahan jaringan akibat kanker kolon. Fraksi etanol benalu manga diberikan pada tiga kelompok mencit dengan dosis 0,125 mg/gram BB, 0,250 mg/gram BB dan 0,500 mg/gram BB yang sudah diinduksi kanker kolon dengan 10 mg/kg AOM dan 5 % DSS dan setelah 11 minggu organ kolon diisolasi dan dibuat preparat jaringan dengan metode parafin H&E. Parameter yang diamati meliputi jumlah sel goblet dan abnormalitas struktur jaringan (dysplasia). Data diuji secara statistik menggunakan uji normalitas dan uji homogenitas.Hasil penelitian menunjukan terjadi perbaikan sel goblet pada perlakuan dosis fraksi etanol benalu mangga 0,500 mg/gram BB.Fraksi etanol benalu mangga mampu memperbaiki abnormalitas jaringan kolon yang ditunjukkan dengan tidak terjadinya dysplasia pada perlakuan fraksi etanol benalu mangga 0,250 mg/gram BB dan 0,500 mg/gram BB.Benalu mangga berpotensi sebagai agen anti kanker kolon. .Kata kunci :AOM, benalu mangga, DSS, kanker kolon,nitrotyrosine, sel goblet
Diversitas Arthropoda Tanah sebagai Bioindikator Lahan Perkebunan dan Hutan Sekunder di Wana Wisata Rawa Bayu, Desa Bayu, Banyuwangi Galih El Fikri; Bagyo Yanuwiadi
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keanekaragaman jenis Arthropoda tanah dan karakteristik Arthopoda tanah, memetakan diversitas hewan tanah di lahan perkebunan dan hutan sekunder   dan mengetahui  presepsi  masyarakat  sekitar  Wana  Wisata  Rawa  Bayu  tentang arthropoda tanah. Hal ini perlu dilakukan karena belum ada penelitian tentang Arthropoda tanah di Rawa Bayu. Penelitian ini dilakukan pada 15-17 Oktober   2015, di Wana wisata Rawa Bayu, Kecamatan Sanggon,  Kabupaten Banyuwangi. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga tempat yang berbeda yaitu agroforestri sederhana (kebun ketela pohon), agroforestri kompleks (hutan pinus), hutan sekunder dengan metode pitfall trap dan handsorting. Setiap metode dilakukan   di tiga lokasi dan untuk  masing-masing  lokasi  dilakukan  tiga  ulangan.    Analisis data  keanekaragaman  Arthropoda dengan mencari data kelimpahan, frekuensi, indeks nilai penting (INP) dan Indeks Shannon-Wiener (H') yang dilakukan di Laboratoriun Ekologi dan Diversitas Hewan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa terdapat 22 taxa yang ditemukan dalam penelitian kali ini dengan karakteristik taxa dominan, selanjutnya persebaran 22 taxa tersebut tidak merata yang ditunjukkan dengan hasil pemetaan. Family paling dominan adalah Formicidae. Hasil analisis cluster menunjukan pada indeks kesamaan tidak ada yang lebih dari 0,8.  terdapat  dominasi  dan  kodominasi  untuk  masing-masing  tempat  dan  masing-masing metode.
Efektivitas Pemberian Ekstrak Ethanol Daun Polyscias obtusa dan Elephantopus scaber terhadap Modulasi Sel T CD4+ dan CD8+ pada Mencit Bunting BALB/c Roffico Roffico; Muhammad Sasmito Djati
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tanaman yang memiliki potensi untuk digunakan sebagai obat dalam pengobatan tradisional adalah Kedondong Laut (Polyscias obtusa) dan Tapak Liman (Elephantopus scaber. L). Tanaman ini mengandung senyawa aktif yang dapat mempengaruhi mekanisme pertahanan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana efek dari ekstrak ethanol daun Polyscias obtusa dan Elephantopus scaber. L terhadap ekspresi sel T CD4+ dan CD8+ pada mencit bunting BALB/c. Hasil menunjukkan bahwa jumlah relatif sel T CD4+ dan CD8+ tidak berbeda nyata (p> 0,05) dapat diketahui dari peningkatan dan penurunan yang terjadi pada setiap perlakuan dibandingkan dengan kontrol. Hal ini berarti, rata-rata jumlah relatif sel T tidak berbeda secara nyata untuk perlakuan yang diberikan pada mencit bunting BALB/c. Berdasarkan hasil output Tukey Test dan subset yang terbentuk terlihat bahwa jumlah relatif sel T tidak berbeda nyata untuk perlakuan yang diberikan pada mencit bunting BALB/c. Hasil juga menunjukkan jumlah relatif sel T memang berbeda secara nyata (p< 0,05) untuk waktu pembedahan. Namun, setelah dilakukan Tukey Test subset yang terbentuk menunjukkan bahwa jumlah relatif sel T tidak berbeda nyata (p> 0,05) terhadap waktu pembedahan. Kenaikan dan penurunan jumlah sel T CD4+ dan CD8+, kemungkinan karena aktivitas biologis senyawa yang terkandung dalam P. obtusa yaitu panaxidol dan stiqmasterol dalam E. scaber yang dapat bertindak sebagai imunosupresan dan imunomodulasi. Dosis optimum ekstrak ethanol daun P. obtusa dan E. scaber dalam peningkatan sel limfosit belum dapat ditentukan. Kata kunci: Elephantopus scaber, limfosit, Polyscias obtusa
Karakterisasi Fenotip dan Indeks Similaritas Isolat Actinomycetes yang Memiliki Kemampuan Antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Wahyu Nur Sulistyanto; Guntur Trimulyono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2019.007.03.4

Abstract

Eksplorasi kandidat mikrobia penghasil antibiotik semakin meningkat sebagai solusi banyaknya bakteri resisten terhadap antibiotik yang telah ada. Pada penelitian sebelumnya telah didapatkan empat isolat Actinomycetes yaitu ACB34a, ACB44c, ACB54c dan ACB55c yang memiliki kemampuan antibakteri, sehingga diperlukan identifikasi jenis isolate sampai tingkat Genus. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis isolat yang terpilih (ACB34a, ACB44c, ACB54c dan ACB55c) berdasarkan karakteristik fenotip, dan menentukan indeks similaritas antarisolatnya. Identifikasi isolat dilakukan menggunakan karakter fenotip yang meliputi morfologi, fisiologi, biokimia dan dilanjutkan pengolahan numerik. Analisis data secara deskriptif dan numerik menggunakan Clad97. Hasil penelitian menunjukkan dua isolat Actinomycetes (ACB34a dan ACB55c) memiliki kemiripan dengan Genus Actinomadura. Sedangkan dua isolate berikutnya, yaitu ACB44c dan ACB54c masing-masing mirip dengan Genus Nocardia dan Streptomyces. Nilai indeks similaritas antara isolat ACB34a dan ACB55c adalah 0,856, selanjutnya isolat ACB54c dan ACB44c memiliki kesamaan 0,788, dan isolat ACB55c dan ACB34a memiliki kesamaan sebesar 0,7788.