cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
PALASTREN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 466 Documents
Pelecehan Seksual Pada Jurnalis Perempuan di Indonesia Suprihatin, Suprihatin; Azis, Abdul Muhaiminul
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 13, No 2 (2020): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i2.8709

Abstract

Penelitian ini hendak menggali informasi dari informan jurnalis perempuan yang pernah menjadi korban pelecehan seksual. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan data tentang jenis pelecehan seksual, pola pelaku, dampak, dan tindak lanjut dari pelecehan yang terjadi. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan focus group discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat korban mengalami pelecehan verbal yang mengarah pada pelecehan fisik. Dari aspek pelaku, ketiga korban mengatakan bahwa pelaku pelecehan seksual adalah narasumber yang hendak diwawancarai, sementara satu informan lain mengatakan bahwa pelaku pelecehan seksual adalah atasannya di kantor. Dari aspek dampak, keempat informan mengatakan bahwa mereka mengalami trauma meski tidak berkepanjangan. Keempat informan juga menyatakan bahwa mereka memilih tidak melanjutkan kasus yang dialaminya ke ranah hukum. 
Gembyangan Waranggana: The Process of Abjection toward Warangganas and Langen Tayub Tradition. Mujahidah, Affaf
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 13, No 2 (2020): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i2.7349

Abstract

The concept of representation of Dewi Sri manifested in the Langen Tayub performance. However, as the massive development in Javanese society, the image of warangganas has gradually derogated. Even waranggana has been synonymous with prostitute, being a waranggana is not similar to be a sexual worker. There are many requirements of being a waranggana. Not only must able to sing obligatory gendhings, a waranggana is required to be a good dancer. Therefore, a waranggana training system was established in Ngrajek, Sambirejo, Tanjunganom, Nganjuk regency, East Java. The procession of graduation from this training has been an annual tourism agenda of Nganjuk regency, called gembyangan waranggana. The existence of training system for waranggana has been an antithesis of pejorative image of warangganas. Therefore, this paper aims to analyze on the existence of waranggana training system in Nganjuk. Refers to Kristeva idea of abjection of women role, this paper will focus on how the negative perception of warangganas has been formulated. Moreover, the discussion of government policies for managing this training system will be another highlight. The first chapter will be an introduction which represented by the history of gembyangan waranggana. The second chapter will explain the process being a good waranggana and skills have to be mastered. Then will continue by the social condition of waranggana and the society’s perception toward them. All chapters will be wrapped up by the last chapter, discussion.
Strategi Pemberdayaan Perempuan Tani Padi Di Desa Karangcangkring, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik Kurniasari, Dwiyana Anela; Krisnadianto, Andri
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 14, No 1 (2021): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v14i1.8842

Abstract

Tujuan Sustainable Development Goals (SDG’s) yang ke-5 yaitu tentang isu gender, meliputi peran perempuan terhadap isu politik dan ekonomi. Pada sektor ekonomi, perempuan memiliki peran dalam bidang pertanian, namun masih banyak dijumpai ketidaksetaraan dan keadilan pemberdayaan gender. Sehingga diperlukan program pemberdayaan perempuan berwawasan gender yang dapat mempersempit kesenjangan dan ketidakadilan gender dalam bidang pertanian subsektor tanaman pangan padi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi perempuan tani padi, menanalisis peran perempuan tani padi berdasarkan Model Harvard, dan merumuskan strategi pemberdayaan perempuan tani padi. Metode penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive yaitu di Desa Karangcangkring, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik. Responden yang digunakan adalah 30 sampel dari populasi perempuan tani padi di Desa Karangcangkring sebanyak 64 orang dengan metode simple random sampling. Metode pengumpulan data adalah observasi, wawancara mendalam dan kuisioner. Metode analisis yang digunakan untuk menjawab tujuan pertama adalah deskriptif kualitatif, tujuan kedua adalah analisis gender Model Harvard, dan tujuan ketiga adalah analsis SWOT
Persepsi Kesetaraan Jender Terhadap Perempuan Anggota DPR pada Jabatan Strategis di DPR Ratnasari, Desy; Panggabean, Hana; Marta, Rustono Farady
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 14, No 1 (2021): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v14i1.8146

Abstract

ABSTRAKKebijakan affirmative action 30% kuota perempuan, merupakan langkah strategis mengatasi diskriminasi dan ketidaksetaraan bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam dunia politik.  Namun demikian perempuan masih menghadapi kendala dominasi kekuasaan laki-laki sebagai pimpinan di struktur Fraksi, yang berperan menentukan siapa yang dapat menduduki jabatan strategis di Fraksi dan DPR.  Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif untuk memahami gambaran persepsi kesetaraan jender terhadap perempuan Anggota DPR pada jabatan strategis di DPR.  Responden penelitian dipilih dengan teknik maximum variation sampling, yaitu laki-laki anggota DPR dari tiga Fraksi yang mewakili tiga ideologi Utama Partai Politik di Indonesia.  Data dianalisa dengan metode analisa induktif dan menunjukkan hasil bahwa laki-laki anggota DPR sudah memiliki persepsi kesetaraan jender yang menjadi prediktor atau landasan untuk memberikan kesetaraan kesempatan bagi perempuan guna meraih jabatan strategis atau pimpinan di DPR, namun hal tersebut disertai dengan beberapa kriteria persyaratan internal dan eksternal diri perempuan yang harus dipenuhi hanya oleh perempuan Anggota DPR.  Pernyataan kriteria persyaratan tersebut berdasarkan pada konstruksi pemikiran laki-laki Anggota DPR yang masih berperan dominan di DPR tentang stereotip jender kemampuan kinerja perempuan dan laki-laki dalam dunia politik yang dipengaruhi orientasi nilai budaya patriarki. Kata kunci: Persepsi kesetaraan jender, stereotip jender, Perempuan Anggota DPR 
Women and Islamic Financial Literacy Amaroh, Siti; Istianah, Istianah
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 13, No 2 (2020): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i2.6523

Abstract

This study aims to understand about Islamic financial literacy of women’s groups. The measurement includes financial goals and concepts, efforts to achieve financial goals, preferences for financial institutions both in product and services, knowledge of Islamic financial literacy, and financial practices. This study used survey method and carried out in 64 female respondents with various professional backgrounds. This research found several findings. The main financial purposes are to fulfill basic need, children’s education costs, and survive. The efforts to achieve financial goals are by working, saving, or reducing expenditure. When respondents have a surplus of money, they choose for saving, pay for the hajj or umrah, or support orphans and the poor. Saving and pension funds will be used to meet requirement in the elderly. Financial security if lack of money or loss of income was by take saving, find a new job, or open a business. Bank is the main choice in carrying out of financial transaction, the pension fund and health insurance. The preferred informal financial institution is social gathering or called as “arisan”. Respondents prefer to choose Islamic financial institutions due to fit with religious values and give an inner peace, however not refuse to choose conventional financial institutions because it is guaranteed by the governance. The knowledge of Islamic finance is quite good (sufficient literate) with a correct answer score at 51% to 75%. While the financial practices that have been carried out are saving, transferring, and paying installments.
PEREMPUAN MUSLIM DAN KETAHANAN EKONOMI KELUARGA: Studi di Kalangan Pelaku Pernikahan Dini di Jetis Karangrayung Grobogan Muzdalifah, Muzdalifah; Syukur, M. Amin; Elizabeth, Misbah Zulfa
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 14, No 1 (2021): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v14i1.9151

Abstract

A common phenomenon among perpetrators of early marriages is the fragility of the marriage structure due to their lack of readiness to lead family life. This doesnot happen in Jetis village. Karangrayung District, Grobogan Regency. Applying qualitative research,  with the technique of data collecting observation, interview and document review, this study resulted that ; 1). Moslem women view that early married life is very difficult both psychologically and economically. However, women in the village have the initiative to maintain their marriage; 2). efforts made by women are trying to solve economic problems, namely by living a simple life, working hard, saving and doing entrepreneurship; 3).  The reason women make various efforts is because of religious motives so that they are able to survive in a crisis or difficulty, so that they are able to rise again in maintaining the family economy, so that a prosperous and noble life can be achieved.    
Srikandi Lintas Iman: Upaya Melawan Intoleransi Beragama di Yogyakarta Sa'idah, Zahrotus
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 13, No 2 (2020): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i2.7532

Abstract

Intolerance has always become serious problem recently, it happens both nationally and internationally.  In Indonesia, some intolerance actions have been found in big cities, including Yogyakarta. The existence of Srikandi Lintas Iman (SRILI) which consists of some active women attempts to fight against intolerance movements in Yogyakarta. This community emerged in Yogyakarta and has been supported by various popular organizations in Yogyakarta’s region, such as Nasyiatul Aisyiyyah, Fatayat NU, and Wanita Katolik Indonesia. Generally, this community stands as a specific organization for various interfaith women who had experienced social conflict. This research tries to focus on how SRILI can fight against religious intolerance in Yogyakarta and how effective is it to deal with this issue.This research uses qualitative approach combined with communication and sociological studies as its perspective. Hopefully, by using both sciences, social phenomenon in Indonesia, particularly ones that relate to how SRILI can deal with those intolerance issues in Yogyakarta can be resolved. The result of this observation as well as questions hopefully can answer on how far SRILI’s contribution as well as effectiveness on dealing with intolerance in Yogyakarta.
Gender Bias Communication Among Santris in Pesantren Nurhidayah, Yayah Yayah; Nurhayati, Eti
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 13, No 1 (2020): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i1.7059

Abstract

For decades, there has been a biased pattern of communication between genders in society, including among the Al-Ishlah santris (students) in pesantren (Islamic boarding school) in Cirebon - West Java, subject studied by the writers. The communication of male and female santris has unique ways. From the beginning, pesantren offers the different treatment to male and female santris, both in rules, ethics, sanctions, communication, and relationships in general. In addition, the teaching of classic kitabs (books/holy books) still contains a lot of gender biases. This study aims to identify several gender biases and stereotypes in various forms of communication between male and female santris in pesantren. This research used descriptive qualitative methods, data collection techniques using interviews and observations to santris, and data analysis techniques carried out qualitatively in the form of narrative descriptions. The results of the study show there are many gender biases and stereotypes in various forms of communication, such as: communication style, conversation initiatives, intensity of conducting conversation, intensity of interruption, dominance in conversation, intensity of making humor, eye contact, spatial distance, body language, smile, and touch.Keywords: communication, gender bias, pesantren 
Tarik Menarik Faktor-Faktor Sosial Psikologis dalam Terbentuknya Sikap Mahasiswa Terhadap Isu Kesetaraan dan Keadilan Gender Mayasari, Ros; Obaid, Mohammad; Asni, Asni
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 13, No 2 (2020): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i2.6538

Abstract

Gerakan yang menolak isu-isu kesetaraan gender  dengan menggunakan tafsiran terhadap agama sangat gencar dan sistematis disosialisasikan baik melalui kelompok kajian maupun  di media sosial. Di sisi lain, mahasiswa  sangat familiar dengan media sosial dan juga tertarik mengikuti kajian keagamaan yang banyak tersedia belakangan ini. Bagaimana mahasiswa menyikapi ide-ide kesetaraan dan keadilan gender dalam situasi seperti ini? Faktor faktor apa saja yang penting dalam pembentukan sikap mahasiswa tersebut? Dan bagaimana pengaruh sikap tersebut terhadap perilaku mahasiswa? Penelitian ini mencoba menjawab masalah-masalah tersebut   dengan  pendekatan constructive realism.  Untuk menjawab pertanyaan pertama dan kedua, mahasiswa  diminta  mengisi  open-ended questionnaire. Data tersebut kemudian dianalisis isinya untuk mengkategorisasikan  sikap responden terhadap isu-isu kesetaraan dan keadilan gender  dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya. FGD dilakukan untuk memperoleh jawababn tentang dampak sikap terhadap perilaku mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap mahasiswa cenderung setuju dengan ide-ide kesetaraan dan keadilan gender, namun  terdapat differensiasi sikap terhadap semua isu-isu kesetaraan dan keadilan gender yang dipaparkan. Differensiasi sikap itu muncul terutama pada saat menempatkan posisi dan peran perempuan ketika sudah menikah dan memiliki anak. Pengalaman-pengalaman di rumah, di sekolah, di masyarakat dan di perguruan tinggi, saling tarik menarik dalam membentuk sikap tersebut di samping faktor fleksibilitas berpikir individu.  Sikap terhadap isu-isu kesetaraan  dan keadilan gender berperan penting terhadap  aspirasi pendidikan dan karir bagi mahasiswa.  Khusus bagi mahasiswi, sikap setuju secara positif mempengaruhi mahasiswi  untuk mengembangkan diri secara maksimal, namun sebaliknya sikap tidak setuju membawa mahasiswi membatasi peran dan pengembangan dirinya dengan hanya memusatkan peran ideal perempuan sebagai ibu. 
Usaha Kreatif Perempuan dalam Turbulensi Pandemi: Riset Longitudinal Wirausaha Industri Kreatif Perempuan 2018-2020 Rahmawati, Aulia
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 14, No 1 (2021): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v14i1.8970

Abstract

Penelitian ini melihat bagaimana bisnis kreatif perempuan sebelum dan selama pandemi dengan membandingkan fase 2018 dan fase 2020. Duapuluh wirausaha kreatif perempuan telah diwawancarai ditahun 2018 dan kembali diwawancarai ditahun 2020 untuk melihat bagaimanakah kelangsungan bisnis kreatif tersebut. Hampir separuh dari partisipan telah menghentikan bisnis kreatifnya dengan alasan ‘burnout’ atau kelelahan dengan tugas-tugas domestik yang semakin berat saat pandemi, terutama yang berkaitan dengan pengasuhan dan pendidikan anak-anak. Partisipan lain yang masih bertahan menyatakan bahwa omsetnya menurun drastis dengan perkecualian tiga partisipan yang didukung penuh oleh partner rumah tangganya. Riset ini membuktikan dua hal, pertama, ketimpangan dalam pembagian tugas-tugas domestik masih menjadi penghalang terbesar terhadap akses perempuan dalam dunia usaha dan karir profesional. Kedua, masih minimnya usaha-usaha pemerintah maupun insentif yang responsif terhadap gender membuktikan bahwa industri kreatif masih menjadi industri yang masih jauh dari kata sempurna dalam hal pengarusutamaan gender. Beberapa laporan menunjukkan setidaknya membutuhkan waktu enam tahun atau lebih untuk kembali meraih kemajuan-kemajuan pengarusutamaan gender yang telah direnggut selama pandemi.Â