cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,211 Documents
Ijtihad dalam Kemantapan Hidup Bermadzhab (Dari Halaqah-Halaqah Di Pesantren sampai dengan Munas Alim Ulama NU Di Bandar Lampung) Malik Madany
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 51 (1993)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1993.051.21-33

Abstract

Sebagaimana telah diberitakan secara luas dalam berbagai media massa, di Bandar Lampung pada tanggal 16 s/d 20 Rajab 1412 H yang bertepatan dengan tanggal 21 s/d 2 Januari 1992 telah berlangsung Musyawarah Nasional (MUNAS) Alim Ulama dan Konperensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU). Sesuai dengan kata pengantar pengurus besar Nahlatul Ulama (PBNU) dalam setiap buku materi MUNAS dan KONBES, forum ini merupakan ajang permusyawaratan yang amat penting bagi NU, khususnya untuk konsolidasi organisasi, kebijakan dan program. Secara lebih terinci dinyatakan bahwa forum ini bertujuan untuk membahas dan merumuskan berbagai pandangan dan etika keagamaan serta ketentuan hukum agama yang menyangkut kehidupan masyarakat, bangsa dan negara; serta menegaskan partisipasi NU bagi kemajuaan dan keberhasilan pembangunan nasional; merumuskan garis kebijaksanaan jam’iyyah dalam rangka mendorong dan memayungi kepentingan ekonomi, politik dan budaya secara luas, terutama bagi masyarakat lapisan bawah yang menjadi akar kehidupan NU. Selain itu, forum Munas dan konbes akan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap berbagai permasalahan organisasi, intern maupun ekstern.
Hasbullah Bakry and The Refutation of Christianity in Post-Colonial Indonesia Ismatu Rofi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 60 (1997)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1997.3560.273-284

Abstract

Hubungan Islam-Kristen di Indonesia sedikit banyak telah menarik perhatian para sarjana Barat maupun sarjana lndonesia sendiri. Salah satunya adalah Hasbullah Bakry. Pria kelahiran 25 Juli 1926 di Palembang ini berasal dari keluarga terpelajar yang agamis yang mengelola sebuah pesantren di Muaradua, Palembang Sumatra Selatan. Pemahaman Hasbullah Bakry terhadap Kristen merupakan pemahaman seorang Muslim yang selalu mengkaitkan dan mendasarkan persepsi intelektualnya kepada ayat-ayat Qur'an tentang Kristen. Hasbullah Bakry telah berusaha mengetengahkan pandangannya  tentang Kristen melalui tulisan-tulisannya yang berbeda cara pandangnya dengan para pemikir sebelumnya. Salah satu pendapatnya antara lain menguraikan eratnya hubungan keluarga antara nabi Ismail yang dianggap pembentuk bangsa Arab dengan Nabi Ya'kub, yang dianggap bapak bangsa Israel. Tulisan ini berusaha menggambarkan perkembangan Kristen di Indonesia sejak pertama kali datang di Indonesia sampai saat ini serta hubungan Islam-Kristen yang pada kenyataannya sangat kompleks. Tanpa mengesampingkan pembahasan mengenai polemik yang terjadi diantara pemeluk Islam dan Kristen terutama para sarjananya, Hasbullah Bakry telah berusaha memberikan solusi yang mungkin dapat diterima kedua belah fihak mengenai persepsi umat Islam terhadap ajaran-ajaran Kristen yang banyak menimbulkan polemik maupun persoalan hubungan keagamaan yang kompleks antar pemeluk Islam dan Kristen.
Taha Husain Pandangan dan Teorinya Tentang Puisi Arab Jahiliah Sugeng Sugiono
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 44 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.044.1-21

Abstract

Sejak awal karirnya sebagai sastrawan Arab, Taha Husain telah menyuguhkan kritik-kritik sastra kontemporer yang cukup mencengangkan dunia sastra Arab pada umumnya. Hal tersebut cukup dibuktikan dengan banyaknya komentar dan tanggapan terhadap berbagai pemikiran dan karyanya. Taha Husain bukan saja sosok kritikus unggulan Mesir pada jamannya, namun juga dikenal sebagai sejarawan besar untuk sastra Mesir pada khususnya. Dari Sejarah Klasik yang ditekuni, Taha Husain kemudian beralih kepada Sastra Arab, yaitu dimulai pada tahun 1925, pada saat Universitas Mesir berubah statusnya menjadi universitas negeri. Di bawah bimbingan Taha Husain inilah, berawalnya satu periode di mana studi tentang Sastra Arab mulai menyemarak, seiring dengan munculnya tokoh-tokoh lain semisal Ahmad Amin, Abd al-Wahhab Azzam, Amin al-Khulli, Muhammad Khalafallah Ahmad dan Ahmad as Sayib yang juga melahirkan kritik-kritik sastra sejalan dengan semaraknya studi mengenai sastra pada umumnya. Sebagai penulis yang cukup prolifik, karya-karya Taha cukup banyak, baik yang berbentuk essay, historiografi, autobiografi, tulisan-tulisan fiksi, terjemahan, karya-karya kumpulan dan karya-karya kolaborasi. Taha Husain juga merupakan polemis andalan, terbukti ketika masih menjadi mahasiswa, dia telah dengan berani mempublikasikan sanggahannya yang cukup pedas terhadap gurunya, Al-Mahdi, dan juga terhadap Ar-Rafi, Yang terakhir ini juga tidak kalah serunya dalam membalas Taha Husain dengan jalan melontarkan kritikan terhadap karya Taha yang berjudul Fi asy-Syi' ir al Jahilly, terbitan tahun 1926. Taha Husein juga terlibat polemik dengan Zakki Mubarak, sekretarisnya dan dengan sastrawan-sastrawan kontemporer lainnya semacam Haykal, Taufiq al-Hakim, Mansur Fahmi, al-Aqqad dan al Mazini.
Tata Nilai Dalam Epistemologi Islam Achmad Charris Zubair
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 57 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.3257.87-92

Abstract

Manusia menurut dienul Islam adalah makhluk terbaik yang diciptakan Allah, memiliki kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk, sebagaimana firman Allah:  "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempuma atas kebanyakan makhluk yang telali Kami ciptakan" (Al Isma : 70). Serta memiliki bentuk yang sebaik-baiknya, Allah berfirman:   "Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik­ baiknya" (At Tiin:4). Penciptaan manusia merupakan salah satu rahasia Allah, karena menjadikan manusia sebagai makhluk yang memiliki kelebihan dibandingkan makhluk lain. Dengan kewajiban dan hak yang berbeda dengan makhluk lainnya. Allah memberikan karunia akal dan pengetahuan yang merupakan kualitas keutamaan sebagai pembeda antara manusia dengan makhluk lain. Sehingga manusia mempunyai hak untuk. mendapatkan penghormatan dari makhluk lainnya. Sesuai dengan martabatnya, manusia diberi tugas muliasebagai khalifatullah fil ardhi, sebagaimana firmanNya:  "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi'. Mereka berkata: 'Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?' Tuhan berfirman: 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui'. 'Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda­benda) seluruhnya, kemudian mengemukakan kepada para malaikat lalu berfirman: 'Sebutkanlah kepada Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!". Mereka menjawab: 'Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". Allah berfiman: 'Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini'. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah  berfirman: 'Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan'. Dan (ingatlah) ketika Kami berfiman kepada para malaikat: 'Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabur dan ia adalah termasuk golongan orang­orang yang kafir' (Al Baqarah: 30-34)
John G. Finch Symposium ‘’Obat-obat Bius dan Pengalaman Keagamaan” (suatu Refleksi Qur’ani) Syamsuddin Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 54 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.540.82-110

Abstract

Penelitian tentang gejala-gejala keagamaan merupakan salah satu kepentingan psikologi Amerika sejak G. Stanley Hall. Penelitian tentang itu menarik perhatian banyak sarjana terkemuka, namun tidak banyak kemajuan yang dicapai. Di antara sebab-sebabnya ialah keraguan sarjana psikologi untuk memasuki daerah yang dianggap "keramat" itu dan juga karena kurangnya upaya-upaya eksperimental untuk meneliti agama. Keberanian Walter Houston Clark yang istimewa dalam bidang ini disamping gembira. Keterlibatannya yang lama dalam bidang ini membuahkan hasil dengan terbitnya The Psychology of Religion dalam tahun 1958. Terbitannya setelah itu ialah Chemical ecstacy: psychedelic Drugs arul Religion (l%9). Kemudian,pada tahun 60-an John G. Finch merasakan perlunya pembekalan bagi tenaga-tenaga psikoterapis yang berwawasan Kristiani.Tetapi Finch melihat tidak ada kurikulum yang mengarah ke wawasan itu di Amerika Serikat. Akhirnya, dalam suatu rangkain ceramah di Fuller Theological Seminary, dia mengusulkan pendirian suatu School of Psychology yang akan menghubungkan agama dan psikologi bagi pembekalan tenaga-tenaga psikologi klinis. Atas peranannya, 2 tahunkemudian dibukalah Graduate School of Psychology pada tahun 1965. 
Sistematika dan Keragka Pengembangan Studi Ilmu Kalam Kusmin Busyairi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 45 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.045.55-64

Abstract

Tulisan ini disajikan karena tidak jarang timbul sikap mempertanyakan sekitar keberadaan dan efektivitas fungsi Ilmu Kalam –sebagaimana keadaannya sampai sekarang- bagi kehidupan sosial kaum muslimin khususnya. Sikap mempertanyakan keberadaan dan fungsi Ilmu Kalam itu sangat mungkin disebabkan oleh kenyataan konsepsi-konsepsi  didalamnya, yang selain hanya memiliki relevansi intelektual juga terbatas dan tidak pernah bergeser dari orientasinya yang serba ke atas. Hal tersebut lebih terasa lagi pada kurun waktu terakhir ini. Konsepsi teologis yang demikian keadaannya itu, memang tidak akan menyentuh dan mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial, dan akibatnya terasa adanya kondisi saling dan ketersendirian dan keterasingan antara konsepsi teologis itu sendiri dengan kenyataan sosial sekitamya. Selain dari kemungkinan tersebut di atas, di dalam sikap mempertanyakan itupun tentu terkandung harapan akan adanya aktivitas perumusan dan pengembangan Ilmu Kalam; dan tentu saja yang mampu menjawab kenyataan-kenyataan  sosial. Sejarah mencatat, bahwa para teolog klasik (mutakallimin) pada umumnya tampil sedemikian energik dan responsif terhadap setiap permasalahan moral dan keagamaan yang timbul ketika itu. Dengan sikap yang demikian itu, maka Ilmu Kalam tumbuh pesat baik dalam arti kualitatif  maupun kuantiatif. Aktivitas mereka yang demikian itu dengan mudah dapat dilihat dalam literatur-literatur Ilmu Kalam pada umumnya yang di dalamnya terdapat penuh perdebatan dan silang pendapat antar mereka. Namun pada periode dan abad-abad berikutnya kegiatan tersebut mereda dan pertumbuhan ilku kalam pun mulai kehilangan semangatnya. Situasi dan kondisi yang demikian itu terus berlangsung dan diwarisi oleh generasi berikutnya bahkan dampaknya pun terasa sampai sekarang. Dengan kalimat lain, perumusan dan pengembangan konsepsi teologis (llmu Kalam) hampir dapat dikatakan tidak mengalami perkembangan bila dibandingkan dengan perubahan dan perkembangan kehidupan masyarakat. Karena inilah eksistensi dan efektivitasfungsinya mulai dipertanyakan.
Penyelarasan Diberlakukannya Hukum Acara Perdata Peradilan Umum Sebagai Hukum Acara Peradilan Agama Khusus di Segi Pembuktian Zina Roihan A. Rasyid.
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 52 (1993)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1993.052.23-37

Abstract

Alat dari Badan-badan Peradilan untuk menjalankan fungsinya dalam menegakkan hukum dan keadilan atau untuk melaksanakan tugas pokoknya dalam menerima, memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan perkara, adalah Hukum Acara Peradilan yang dalam kaitan ini adalah Hukum Acara Peradilan Agama. Sejak berlakunya U.U. No. 7 tahun 1989 (29 Desember 1989), tentang Peradilan Agama, dinyatakan oleh pasal 54 bahwa Hukum Acara yang berlaku pada Peradilan dalam lingkungan Peradilan Agama adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam Iingkungan Peradilan Umum, kecuali yang telah diatur secara khusus dalam U.U. tersebut. Hukum pembuktian adalah merupakan bagian yang penting dan tidak bisa dipisahkan dari Hukum Acara Peradilan akan tetapi karena ketentuan dalam pasal 54 tersebut tidak memberikan rumusan atau penjelasan lain maka asumsi hukum tentulah bahwa hukum pembuktian yang berlaku di Peradilan Umum akan berlaku pula bagi Peradilan Agama (Peradilan Khusus). Hukum pembuktian itu sangat Iuas karenanya penulis akan membatasi di sini hanya pembuktian zina yang sekaligus sebagai uji terapan atas pasal 54 U.U. No. 7 tahun 1989 di segi itu dan pula merupakan masukan bagi Peradilan Agama dalam penyelesaian perkara perceraian karena zina.
The Image of The Prophet In Ibn Sīnā’s Thought Fatimah Husein
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 60 (1997)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1997.3560.82-103

Abstract

Artikel ini menganalisa gambaran tentang Nabi Muhammad dalam pandangan salah seorang filosof Muslim terbesar, Ibn Sinā. Penelitian tidak dimaksudkan untuk mendiskusikan pemikiran tersebut secara menyeluruh sebagaimana yang dapat kita temukan dalam karya-karya lbn Sinā, tetapi hanya dibatasi pada dua karyanya, yaitu Fī Ithbāt al-Nubuwwat  dan Metaphysics x (al-Ilāhiyyāt) dalam at-shifā’,dengan merujuk pada beberapa tulisannya yang terkait. Kedua karya tersebut menyajikan dua ekspresi yang berbeda atas Nabi. Dalam karyanya yang pertama, Ibn sinā menggunakan terma-terma yang sangat filosofis untuk menggambarkan sosok Muhammad, walaupun dia juga tidak menafikan bahasan agamis. Memang benar bahwa tujuan ditulisnya risalah ini adalah untuk menjawab pertanyaan seseorang tentang argumentasi logis dan bukti dialektis atas eksistensi Nabi sehingga terkesan bahwa bisa jadi Ibn Slna sendiri tidak percaya akan bukti atas kenabian secara filosofis. Tetapi jika kita cermati lebih jauh, kondisi Ibn Sinā sendiri sebagai Muslim yang sekaligus seorang filosof sebenarnya ikut membentuknya untuk menghadirkan gambaran tentang Muhammad secara filosofis sekaligus Islamis. Gambaran Nabi sebagai seorang manusia biasa yang memiliki kelebihan yang diberikan oleh Tuhan kepadanya dan sebagai pemelihara hukum Allah bagi kesejahteraan manusia nampak secara jelas dalam karyanya yang kedua. Dengan merujuk pada kehidupan sosial, Ibn Sinā menggambarkan bahwa Muhammad harus menentukan hukuman dan larangan untuk mencegah ketidak taatan terhadap hukum Tuhan, serta membina kehidupan moral. Jelaslah bahwa figur Nabi di sini digambarkan secara lebih relijius. Pertanyaan yang mungkin timbul adalah mengapa sosok Muhammad muncul secara berbeda pada dua risalah tersebut. Kita melihat bahwa definisi tradisional tentang peran Nabi tidak dapat memuaskan Ibn Sinā sebagai seorang filosof, sehingga dalam tulisan yang pertama ia lebih menghadirkan figur Muḥammad secara filosofis. Dalam tulisan kedua" nampak bahwa sebenarnya Ibn Sinā tidak dapat melepaskan diri dari kenyataannya sebagai seorang Muslim, sehingga ia perlu menjelaskan pada dirinya sendiri dan pada ummat Islam pada umumnya tentang peran Nabi sebagai seorang pemimpin sosial. Terlebih lagi lingkungan Islamnya "memaksa" Ibn Sinā untuk mengharmoniskan antara penyelidikan rasionalnya dengan ajaran-ajaran Islam.
Organisasi Konperensi Islam A. Munir Umar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 48 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.048.1-25

Abstract

Dalam kesempatan ini saya ingin memperkenalkan suatu organisasi internasional yang sudah cukup terkenal yang bernama Organisasi Konperensi Islam (The Organization of the Islamic Conference) Yang disingkat Dengan OKI. Untuk ini saya mempergunakan karya 'Abdullah al-Ahsan yang berjudul OIC The Organization of the Islamic Conference yang diterbikan pada tahun 1988 oleh The International Institute of Islamic Thought, Hemdon, Va.USA. Dr. Abdullah al Ahsan, dilahirkan di Pakistan pada tanggal 15 Januari 1950, dan sebagai ahli masalah-masalah Timur Tengah, dan karya-karyanya mengenai Islam mendapat pujian secara luas di kalangan para ahli. Usianya relatif masih muda, namun dia telah banyak menulis karya-karya ilmiah. Pendidikan yang dijalaninya ialah: 1. Pada tahun 1976, menyelesaikan studinya di Quaid-i-Azarn University di Islamabad Pakistan, dengan memperoleh gelar M.Sc. dalam bidang sejarah. 2. Pada tahun 1981, menyelesaikan studinya di McGill University, Montreal Canada dengan memperoleh gelar M.A. dalam bidang Islamis Studies. 3. Pada tahun 1985 menyelesaikan program doktornya di University of Michigan. Karya-karyanya banyak yang sudah ditebitkan, termasuk tulisan-tulisan mengenai Dunia Islam dewasa ini dan mengenai masalah-masalah Timur Tengah, yang antara lain dimuat dalam majalah ilmiah The American Journal Of Islamic Social Sciences (AJISS) Dan di dalam Journal Of the Institute of MusIim Minority Affairs. Adapun penerbit karyanya yang kita perkenalkan sekarang ini ialah The lnternational Instinrte of Islamic Thought yang berkedudukan di Washingon, DC.
Etika Penelitian (Suatu Langkah Awal Mencari Dari Sudut Pandang Keislaman) Alef Theria Wasim
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 58 (1995)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1995.3358.106-109

Abstract

Dasar penelitian adalah mencari kebenaran. Kata kebenaran itu sendiri mempunyai dua pengertian yaitu kebenaran mutlak (yang sering disebut dengan kebenaran doktriner, kebenaran teologis, dan kebenaran qaṭ’iy dan kehenaran Sunnatu 'l-Lāh. Dari dua pengertian ini masih dapat dibedakan lagi pada sifat keduanya. Mencari kebenamn mutlak lebih berhubungan dengan masalah yang sifatnya ghayh dan mencari kebenaran sunnatu 'l-Lāh lebih berhubungan dengan masalah yang sifatnya shahadah, fenomenal. Dari literatur klasik -- dilihat dari dimensi manusia --ada dua ilmu yaitu  'ilm al-ghayh dan 'ilm al-shahādah. Corak keduanya ini juga berbeda. 'llm al-ghayb mempunyai corak wahyuwi (corak revelatif) dan 'ilm al-shahādah mempunyai corak selain alam (natur) juga sosial/ humaniora (sering disebut sebagai ilmu sosial dan budaya).

Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) More Issue