cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ternak Tropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 25031007     EISSN : 25031007     DOI : -
Core Subject :
TERNAK TROPIKA, Journal of Tropical Animal Production (JTAP) provides for rapid publication of full-length papers, short communication and review articles describing of new finding or theory in Animal Production area. TERNAK TROPIKA has 1 volume with 2 issues per year. TERNAK TROPIKA is published by Department of Animal Priduction, Faculty of Animal Husbandry, Brawijaya University Indonesia in collaboration with Indonesian Society of Animal Science (ISPI
Arjuna Subject : -
Articles 314 Documents
Utilization of Fermented Water Hyacinth as an Alternative Feed to Improve the Production Performance of Muscovy Ducks Hamiyanti, Adelina Ari; Putri, Ardyah Ramadhina Irsanti; Ciptadi, Gatot
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 26 No. 2 (2025): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2025.026.02.5

Abstract

Muscovy duck is a poultry commodity that has the potential to breed. In Indonesia, various types of Muscovy duck are local and imported. These types of wild ducks have different morphological characteristics. This type has more or less influenced the potential development of muscovy livestock. Entok or in Indonesia, known as Muscovy ducks, are domesticated livestock. This study aimed to evaluate the effect of fermented water hyacinth (Eichhornia crassipes) supplementation on the growth performance and body morphometric traits of Muscovy ducks (Cairina moschata). The research used 90 ducks aged four weeks, arranged in a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and three replications. The treatments consisted of P0 (100% commercial feed), P1 (80% commercial feed + 20% fermented water hyacinth), P2 (70% commercial feed + 30% fermented water hyacinth), and P3 (60% commercial feed + 40% fermented water hyacinth). The fermentation process involved adding 2 mL EM4 and 5% bran per kilogram of wilted water hyacinth, fermented anaerobically for 14 days. Growth data were collected weekly for eight weeks and analyzed using ANOVA at a 95% confidence level. The results showed that the addition of 30% fermented water hyacinth (P2) produced the highest final body weight (2,650 ± 58 g), average weekly gain (225.0 ± 4.8 g/week), body length (43.7 ± 1.2 cm), and chest circumference (35.5 ± 0.8 cm). Higher inclusion levels (≥40%) resulted in reduced growth performance, likely due to excessive fiber content that limited nutrient digestibility. It is concluded that fermented water hyacinth can replace up to 30% of commercial feed without negatively affecting growth, making it a sustainable, low-cost, and environmentally friendly feed alternative for Muscovy duck production.
Korelasi Litter Size Terhadap Bobot Lahir, Bobot Sapih, Dan Mortalitas Ternak Babi Di Peternak Rakyat Kabupaten Kediri Harianto, Eirene; Ciptadi, Gatot; Putri, Ardyah Ramadhina Irsanti
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 26 No. 2 (2025): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2025.026.02.8

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara litter size (jumlah anak babi yang lahir) dengan berat lahir, berat sapih, dan mortalitas anak babi pada peternak rakyat di Kabupaten Kediri. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data 10 ekor induk babi persilangan Landrace × Duroc yang dipelihara dalam skala peternak rakyat. Variabel yang diamati meliputi jumlah anak babi yang lahir (litter size), berat lahir, berat sapih, dan tingkat mortalitas pra sapih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata litter size adalah 8-14 anak babi, dengan rata-rata berat lahir 1,45 ± 0,28 kg dan rata-rata berat sapih 9,08 ± 1,08 kg. Analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa litter size tidak berhubungan nyata dengan berat lahir (r = –0,0267, dengan penentuan R2 = 0,0556; maupun dengan berat sapih (r = 0,3047 dengan penentuan R2 = 0,0929). Selama periode penelitian, tidak ditemukan kasus kematian (0%), pada seluruh unit pengamatan sehingga tidak dapat diolah secara statistik. Disimpulkan bahwa pada peternak rakyat Kabupaten Kediri, litter size tidak berkorelasi signifikan terhadap performa anak babi. Rendahnya koefisien determinasi mengindikasikan bahwa factor manajemen dan lingkungan lebih dominan mempengaruhi bobot lahir dan bobot sapih dibandingkan dengan jumlah anak sekelahiran.
Evaluasi Kualitas Silase Berdasarkan Jenis Hijauan Pakan Ternak Dan Pemberian Molase Winarti, Atik; Muarifah, Hanum; Wahyuni, Rini Dwi; Ardilla, Yohana Nanita Nansy; Helmi, Muhammad; Meirantika, Ruping
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 26 No. 2 (2025): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2025.026.02.7

Abstract

Ketersediaan pakan yang stabil merupakan tantangan utama dalam peternakan, dan silase adalah metode pengawetan yang efektif melalui fermentasi. Kualitas silase ditentukan oleh bahan baku dan aditif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi secara kualitatif pengaruh kombinasi hijauan pakan ternak dan tingkat penambahan molase terhadap kualitas silase. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 16 perlakuan P1 (rumput gajah), P2 (rumput gajah + molase), P3 (tebon jagung), P4 (tebon jagung + molase), P5 (gamal), P6 (gamal + molase), P7 (lamtoro), P8 (lamtoro + molase), P9 (rumput gajah + gamal), P10 (rumput gajah + gamal + molase), P11 (tebon jagung + gamal), P12 (tebon jagung + gamal + molase), P13 (rumput gajah + lamtoro), P14 (rumput gajah + lamtoro + molase), P15 (tebon jagung + lamtoro), dan P16 (tebon jagung + lamtoro + molase) dan 2 ulangan. Silase diinkubasi secara anaerob selama 21 hari. Parameter yang dianalisis meliputi warna, aroma, tekstur, kontaminasi jamur, dan pH. Data dianalisis secara deskriptif pada variabel organoleptik dan menggunakan RAL untuk variabel kuantitatif. Seluruh perlakuan menunjukkan proses fermentasi yang optimal. Aroma seluruh sampel adalah asam segar, warna berubah konsisten menjadi hijau kecokelatan dan tekstur berubah dari segar/keras menjadi layu/lunak. pH seluruh perlakuan turun secara signifikan dari netral (6,7–7,4) menjadi asam (3,9–4,9), menunjukkan fermentasi yang efektif oleh BAL. Jenis hijauan dan penambahan molase tidak memengaruhi aroma, warna, tekstur, maupun pH akhir silase. Kontaminasi jamur pasca-fermentasi terjadi pada 75% sampel, namun sebagian besar terbatas pada salah satu ulangan (68,75%), dengan hanya 6,25% (P6) yang terkontaminasi pada semua ulangan. Seluruh perlakuan menghasilkan silase berkualitas baik dengan ciri-ciri fisik dan kimia yang seragam (aroma asam segar, hijau kecokelatan, pH rendah, tekstur lunak).
Pengaruh Durasi Stimulasi Termal Terhadap Perkembangan Embrio Ayam Persilangan Andri, Faizal; Afrianto, Achmad; Marwi, Filoza; Arif, Ani Atul; Prayogi, Heni Setyo; Hamiyanti, Adelina Ari; Sudjarwo, Edhy
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 26 No. 2 (2025): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2025.026.02.9

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi pengaruh stimulasi termal dengan durasi yang berbeda terhadap perkembangan embrio hasil persilangan ayam Bangkok dan ayam layer strain Lohmann Brown yang meliputi panjang embrio, bobot dan persentase embrio, serta bobot dan persentase yolk sac. Penelitian ini menggunakan 200 butir telur fertil yang didistribusikan secara acak pada percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan stimulasi termal. Perlakuan yang diberikan yaitu P0: penetasan pada suhu standar tanpa stimulasi termal (kontrol), P1: penetasan dengan stimulasi termal selama 2 jam/hari, P2: penetasan dengan stimulasi termal selama 4 jam/hari, dan P3: penetasan dengan stimulasi termal selama 6 jam/hari. Suhu standar yang digunakan adalah 37,5 °C, sedangkan suhu penetasan pada saat stimulasi termal ditingkatkan menjadi 39,5 °C pada umur embrio 10-18 hari. Data dianalisis menggunakan analysis of variance. Stimulasi termal dengan durasi yang berbeda (0, 2, 4, dan 6 jam/hari) pada umur embrio 10-18 hari tidak menunjukkan pengaruh yang nyata (P > 0,05) terhadap panjang embrio, bobot dan persentase embrio, serta bobot dan persentase yolk sac. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa stimulasi termal dapat diterapkan dengan aman tanpa mengganggu perkembangan embrio ayam persilangan.

Filter by Year

2007 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 26 No. 2 (2025): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 26 No. 1 (2025): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 25 No. 2 (2024): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 25 No. 1 (2024): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 24 No. 2 (2023): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 24 No. 1 (2023): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 23 No. 2 (2022): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 23 No. 1 (2022): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 22, No 2 (2021): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 22, No 1 (2021): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 21, No 2 (2020): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 21, No 1 (2020): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 2 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 1 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 19, No 2 (2018): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 19, No 1 (2018): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 18, No 2 (2017): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 18, No 1 (2017): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO) Vol 17, No 2 (2016): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO) Vol 17, No 1 (2016): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO) Vol 16, No 2 (2015): TERNAK TROPIKA Vol 16, No 1 (2015): TERNAK TROPIKA Vol 15, No 2 (2014): TERNAK TROPIKA Vol 15, No 1 (2014): TERNAK TROPIKA Vol 14, No 2 (2013): Ternak Tropika Vol 14, No 1 (2013): Ternak Tropika Vol 13, No 1 (2012): Ternak Tropika Vol 12, No 2 (2011): Ternak Tropika Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika Vol 11, No 2 (2010): Ternak Tropika Vol 11, No 1 (2010): Ternak Tropika Vol 9, No 2 (2008): Ternak Tropika Vol 7, No 2 (2007): Ternak Tropika Vol 6, No 2 (2007): Ternak Tropika More Issue