cover
Contact Name
Rizky Abdulah
Contact Email
r.abdulah@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
editorial@ijcp.or.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia
ISSN : 23375701     EISSN : 2337 5701     DOI : -
Core Subject :
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy (IJCP) is a scientific publication on all aspect of clinical pharmacy. It published 4 times a year by Clinical Pharmacy Master Program Universitas Padjadjaran to provide a forum for clinicians, pharmacists, and other healthcare professionals to share best practice, encouraging networking and a more collaborative approach in patient care. Indonesian Journal of Clinical Pharmacy is intended to feature quality research articles in clinical pharmacy to become scientific guide in fields related to clinical pharmacy. It is a peer-reviewed journal and publishes original research articles, review articles, case reports, commentaries, and brief research communications on all aspects of Clinical Pharmacy. It is also a media for publicizing meetings and news relating to advances in Clinical Pharmacy in the regions.
Arjuna Subject : -
Articles 550 Documents
Tinjauan Literatur: Peran TGF-β3 pada Diferensiasi Preosteoblas untuk Regenerasi Kartilago Naufalia, Alifah Fathina; Surya, Syifanindya Andari; Subekti, Andi Ervina; Amalia, Riezki
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 15, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2026.v15i1.63892

Abstract

Transforming growth factor-β3 (TGF-β3) merupakan salah satu isoform dari keluarga TGF-β yang diketahui memiliki peran penting dalam regulasi diferensiasi dan proliferasi berbagai tipe sel, termasuk sel prekursor tulang dan tulang rawan. Tinjauan ini membahas struktur dan mekanisme pensinyalan TGF-β3, mulai dari proses sintesis hingga aktivasi, serta hubungannya dengan diferensiasi preosteoblas dan regenerasi kartilago. TGF-β3 dapat memengaruhi arah diferensiasi sel mesenkimal, termasuk preosteoblas, melalui aktivasi jalur kanonikal (SMAD-dependent) maupun nonkanonikal (SMAD-independent). Beberapa bukti menunjukkan bahwa TGF-β3 memiliki potensi untuk menghambat diferensiasi osteoblastik dan mengarahkan diferensiasi ke jalur kondrogenik, yang penting dalam regenerasi kartilago. Kartilago sendiri memiliki kemampuan regeneratif yang terbatas sehingga identifikasi faktor-faktor yang mendukung pembentukan kondrosit baru, termasuk TGF-β3, menjadi krusial. Dengan memahami peran TGF-β3 secara lebih mendalam, diharapkan dapat dikembangkan strategi terapeutik yang lebih efektif untuk memperbaiki kerusakan kartilago. Studi lanjutan diperlukan untuk mengungkap mekanisme molekuler spesifik yang mendasari pengaruh TGF-β3 terhadap diferensiasi preosteoblas dalam konteks regenerasi jaringan.
Pengetahuan Orang Tua Mengenai ASI Eksklusif dan MP-ASI di Indonesia Salsabilla, Rifa Alya; Sinuraya, Rano Kurnia; Puspitasari, Irma Melyani
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 15, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2026.v15i1.69032

Abstract

Pemenuhan nutrisi pada seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK) merupakan faktor kunci dalam pencegahan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Pengetahuan orang tua mengenai praktik pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif dan makanan pendamping ASI (MP-ASI) berperan penting dalam memastikan kecukupan gizi anak sejak dini. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat pengetahuan orang tua tentang ASI eksklusif dan MP-ASI di Indonesia serta hubungannya dengan karakteristik demografis dan wilayah tempat tinggal. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan melibatkan 853 responden dari 27 provinsi, menggunakan data High-Frequency Monitoring of COVID-19 Impacts (HiFy) yang dilaksanakan oleh World Bank, ronde ke-8 (Maret–April 2023). Analisis dilakukan dengan pembobotan sampel untuk memperoleh hasil yang representatif secara nasional. Hasil menunjukkan bahwa setelah pembobotan, data mewakili sekitar 17,17 juta orang tua yang memiliki anak usia 0–4 tahun di Indonesia. Sebanyak 52,4% responden mengetahui bahwa ASI eksklusif sebaiknya diberikan selama enam bulan, sedangkan 89,9% memiliki pengetahuan baik mengenai MP-ASI. Namun, masih terdapat kesenjangan pada aspek waktu mulai pemberian MP-ASI (54,8%) dan pemahaman terhadap sumber protein hewani (47%). Uji chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ASI eksklusif maupun MP-ASI dengan wilayah tempat tinggal, wilayah geografis, maupun status pekerjaan (p>0,05). Pengetahuan orang tua mengenai MP-ASI tergolong baik, sedangkan pengetahuan tentang ASI eksklusif relatif lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan dasar gizi anak telah relatif merata di masyarakat, namun masih diperlukan edukasi gizi yang lebih komprehensif, kontekstual, dan berkelanjutan untuk meningkatkan praktik pemberian makan anak di Indonesia.
Identifikasi Drug-Related Problems (DRPs) pada Pasien Program Pengelolaan Penyakit Kronis Hipertensi di Puskesmas Jamanis, Kabupaten Tasikmalaya Wildan, Muhammad Maulana; Rahayuningsih, Nur; Salasanti, Citra Dewi
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 15, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2026.v15i1.64421

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama yang dapat menyebabkan komplikasi serius seperti strok dan gagal ginjal sehingga memerlukan penanganan terapi obat yang tepat dan terkontrol. Meskipun Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Puskesmas Jamanis telah dilaksanakan untuk membantu mengendalikan tekanan darah dan meningkatkan kualitas hidup pasien, masih terdapat kendala dalam pencapaian target terapi. Salah satu kendala tersebut adalah terjadinya drug-related problems (DRPs) yang dapat menurunkan efektivitas terapi hipertensi. Identifikasi DRPs menjadi penting untuk memastikan terapi berjalan optimal dan mencegah komplikasi lanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi DRPs pada pasien Prolanis hipertensi di Puskesmas Jamanis Kabupaten Tasikmalaya. Metode yang digunakan adalah studi observasional analitik dengan pendekatan potong lintang, menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien pada bulan November dan Desember 2024. Pengumpulan data dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, serta meliputi data demografi pasien, penggunaan obat, dan data klinis. Data diskrining dan dikategorikan menggunakan standar Pharmaceutical Care Network Europe (PCNE) versi 9.00, fokus pada domain masalah (P1) dan penyebab (C1-C3). Pengolahan data dilakukan menggunakan uji t, uji chi-square, dan uji regresi linear logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh terapi obat yang tidak optimal (P1.2) merupakan kategori DRPs yang paling dominan dan menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap ketercapaian target tekanan darah pasien (p<0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas terapi obat masih menjadi tantangan dalam pengelolaan pasien hipertensi. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi tenaga kefarmasian dalam mengidentifikasi dan mengatasi DRPs guna meningkatkan keberhasilan terapi dan kualitas hidup pasien.
Evaluasi Kepatuhan Pengobatan Pasien TB Paru Aktif dan TB Paru Laten Menggunakan MARS-5 dan Pill Count di Puskesmas Playen I, Karangmojo I, Karangmojo II, dan Ponjong I, Gunungkidul, Yogyakarta Salamah, Siti Hajar; Faridah, Imaniar Noor; Dania, Haafizah; Kristina, Susi Ari
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 15, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2026.v15i1.65113

Abstract

Penyakit tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan bersifat menular. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kepatuhan dan faktor sosiodemografi yang berhubungan dengan kepatuhan pengobatan pada pasien TB aktif dan TB laten di Puskesmas Playen I, Karangmojo I, Karangmojo II, Ponjong I di Gunungkidul Yogyakarta. Penelitian bersifat observasional analitik menggunakan desain potong lintang. Kriteria inklusi adalah penderita TB paru aktif dan TB paru laten, berusia ≥12 tahun, sedang menjalani pengobatan TB di puskesmas, dan bersedia mengikuti penelitian. Kriteria eksklusi, yaitu pasien TB ekstra paru, pasien TB resisten obat, dan tidak menjawab kuesioner dengan lengkap. Subyek penelitian berjumlah 36 responden (13 pasien TB paru aktif, 23 pasien TB laten) yang dilakukan menggunakan total sampling. Kepatuhan diukur dengan MARS-5 dan pill count, kemudian dianalisis menggunakan uji Fisher’s exact. Hasil menunjukkan tingkat kepatuhan pada TB paru aktif 53,3% dan TB laten 85,7%. Mayoritas faktor sosiodemografi tidak berhubungan signifikan dengan kepatuhan (p>0,05), kecuali jenis kelamin yang menunjukkan hubungan signifikan (p=0,008), di mana perempuan lebih patuh dibanding laki-laki. Perbedaan hasil antara MARS-5 dan pill count disebabkan oleh potensi bias self-report pada kuesioner. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengukuran kepatuhan yang objektif serta intervensi spesifik berdasarkan jenis kelamin untuk meningkatkan keberhasilan terapi TB. 
Perbandingan Efektivitas dan Biaya Terapi Guillain-Barré Syndrome: Literature Review Wijayanti, Emy Puji; Herawati, Fauna
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 15, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2026.v15i1.62329

Abstract

Guillain-Barré syndrome (GBS) merupakan penyakit langka yang menyebabkan kelemahan pada anggota gerak. Prevalensi kejadian GBS di dunia 1–2 per 100.000 orang. Tujuan terapi GBS adalah mengatasi gejala, mempercepat penyembuhan, mengobati komplikasi, dan memperbaiki prognosis. Terapi yang dapat diberikan pada pasien GBS adalah terapi suportif dan imunoterapi. Pemilihan terapi pada pasien mempertimbangkan beberapa faktor, seperti biaya yang mahal serta ketersediaan obat. Di Indonesia, imunoterapi hanya dapat dilakukan di rumah sakit tertentu dengan biaya yang mahal. Di Eropa biaya yang dibutuhkan untuk terapi GBS adalah EUR 15.060, sedangkan di India biaya yang dibutuhkan untuk terapi intravenous immunoglobulin (IVIg) dengan dosis 1.530 gram adalah INR 195.000 dan terapi plasma exchange (PE) adalah INR 89.921. Tujuan penelitian ini digunakan untuk mengetahui pilihan terapi yang tepat untuk pasien GBS sesuai dengan kebutuhan pasien. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pencarian sumber artikel dari situs Pubmed ataupun Google Scholar berupa original artikel, systematic review-meta analysis, atau penelitian randomized control trial (RCT) yang tersedia full text selama rentang 10 tahun terakhir di situs Pubmed dan Google Scholar dengan menggunakan dengan kata kunci “Guillain-Barré syndrome”, “Guillain-Barré syndrome and therapy”, dan “cost-effectiveness therapy Guillain-Barré syndrome”. Berdasarkan hasil pencarian, ditemukan 7 artikel yang menunjukkan bahwa terapi PE dan IVIg efektif untuk mengatasi GBS dan 6 artikel yang berkaitan dengan biaya terapi GBS. Dari segi biaya terapi PE lebih murah dibandingkan IVIg. 
Case Report: Tranexamic Acid-Induced Nausea After Bilateral Concha Reduction Surgery Fakhirah, Maitsa Alya; Wilar, Gofarana; Puspita, Falerina
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 15, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2026.v15i2.66861

Abstract

Tranexamic acid (TXA) is an antifibrinolytic agent widely used to control perioperative bleeding, including in otolaryngologic procedures. Although generally well tolerated, gastrointestinal side effects such as nausea are occasionally reported but often overlooked in clinical practice. This case report presents a 32-year-old female who developed nausea following the administration of intravenous TXA after undergoing bilateral concha reduction surgery in a hospital in Bandung, June 2025. The nausea resolved after discontinuation of the drug but recurred with greater intensity upon re-administration the following day. A causality assessment was performed using the Naranjo Adverse Drug Reaction Probability Scale, resulting in a total score of 6, indicating a probable relationship between TXA and the onset of nausea. No alternative causes were identified, and symptoms subsided spontaneously without antiemetic intervention after TXA was discontinued. This clinical observation suggests that repeated administration of TXA may increase the risk or severity of nausea in susceptible patients. The use of a structured causality assessment provided objective support for the adverse drug reaction. This case emphasizes the importance of clinician awareness regarding the potential for TXA-induced nausea, especially in Ear, Nose, and Throat (ENT) surgery, where repeated doses may be required. Moreover, documentation of such cases contributes to strengthening ENT-specific pharmacovigilance and highlights the need for further research into adverse effects associated with TXA in this surgical population.Keywords: adverse effect, case report, Naranjo algorithm, nausea, tranexamic acid Laporan Kasus: Mual Akibat Asam Traneksamat Pasca Operasi Reduksi Konka BilateralAbstrakAsam traneksamat (TXA) adalah agen antifibrinolitik yang banyak digunakan untuk mengendalikan perdarahan perioperatif, termasuk dalam prosedur otolaringologi. Meskipun umumnya ditoleransi dengan baik, efek samping gastrointestinal seperti mual terkadang dilaporkan tetapi sering terabaikan dalam praktik klinis. Laporan kasus ini menyajikan seorang wanita berusia 32 tahun yang mengalami mual setelah pemberian TXA intravena setelah menjalani operasi reduksi konka bilateral di rumah sakit di Bandung, Juni 2025. Mual tersebut mereda setelah penghentian obat tetapi kambuh dengan intensitas yang lebih besar setelah pemberian kembali keesokan harinya. Penilaian kausalitas dilakukan menggunakan Skala Probabilitas Reaksi Obat yang Merugikan Naranjo, menghasilkan skor total 6, yang menunjukkan kemungkinan hubungan antara TXA dan timbulnya mual. Tidak ada penyebab alternatif yang teridentifikasi, dan gejala mereda secara spontan tanpa intervensi antiemetik setelah TXA dihentikan. Observasi klinis ini menunjukkan bahwa pemberian TXA berulang dapat meningkatkan risiko atau keparahan mual pada pasien yang rentan. Penggunaan penilaian kausalitas terstruktur memberikan dukungan objektif terhadap reaksi obat yang merugikan. Kasus ini menekankan pentingnya kesadaran klinisi mengenai potensi mual akibat TXA, terutama pada operasi Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT), yang mungkin memerlukan dosis berulang. Lebih lanjut, dokumentasi kasus-kasus tersebut berkontribusi pada penguatan farmakovigilans khusus THT dan menyoroti perlunya penelitian lebih lanjut mengenai efek samping yang terkait dengan TXA pada populasi bedah ini.Kata kunci: algoritma Naranjo, asam traneksamat, efek samping, laporan kasus, mual 
Hubungan Intensitas Merokok dengan Kualitas Hidup Pasien Tuberkulosis Paru di RSUD Kota Banjar Auliadewi, Hera; Rahayuningsih, Nur; Salasanti, Citra Dewi
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 15, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2026.v15i2.70611

Abstract

Tuberkulosis (TB) hingga saat ini masih menjadi salah satu penyakit infeksi yang memberikan dampak besar terhadap kesehatan masyarakat di berbagai belahan dunia. Selain mengganggu kondisi fisik, penyakit ini juga dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya, terutama pada individu yang memiliki kebiasaan merokok. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara intensitas merokok dan kualitas hidup pasien TB paru yang menjalani pengobatan di RSUD Kota Banjar. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain potong lintang. Intensitas merokok diukur menggunakan kuesioner Global Adult Tobacco Survey (GATS) dan dihitung berdasarkan Indeks Brinkman, sedangkan kualitas hidup dinilai menggunakan instrumen Functional Assessment of Chronic Illness Therapy–Tuberculosis (FACIT-TB). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Sebanyak 42 pasien TB paru perokok aktif yang memenuhi kriteria penelitian dilibatkan pada periode Januari–Maret 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perokok sedang merupakan kelompok terbanyak, yaitu 19 responden (45%), diikuti perokok berat sebanyak 17 responden (40%). Sebagian besar responden memiliki kualitas hidup kategori buruk sebanyak 19 orang (45%) dan sangat buruk sebanyak 13 orang (31%), terutama pada domain fisik dan emosional. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara intensitas merokok dan kualitas hidup pasien TB paru (p=0,001; r=-0,487). Nilai korelasi tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas merokok, semakin rendah kualitas hidup pasien. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi program berhenti merokok dalam pelayanan TB guna meningkatkan kualitas hidup pasien.Kata kunci: intensitas merokok, kualitas hidup, tuberkulosis paruAssociation of Smoking Intensity on Quality of Life Among Patients with Pulmonary TuberculosisAbstractTuberculosis (TB) remains one of the infectious diseases that poses a major public health burden worldwide. In addition to affecting physical health, the disease can also reduce patients’ quality of life, particularly among individuals with smoking habits. This study aimed to analyze the relationship between smoking intensity and quality of life among pulmonary TB patients receiving treatment at RSUD Kota Banjar. An analytical observational method with a cross-sectional design was employed. Smoking intensity was assessed using the Global Adult Tobacco Survey (GATS) questionnaire and categorized based on the Brinkman Index, while quality of life was evaluated using the Functional Assessment of Chronic Illness Therapy–Tuberculosis (FACIT-TB) instrument. Data were analyzed using Spearman’s correlation test. A total of 42 active-smoking pulmonary TB patients who met the inclusion criteria were enrolled between January and March 2026. The results showed that moderate smokers constituted the largest group, accounting for 19 respondents (45%), followed by heavy smokers with 17 respondents (40%). Most respondents had poor quality of life (19 patients, 45%) and very poor quality of life (13 patients, 31%), particularly in the physical and emotional domains. Statistical analysis revealed a significant relationship between smoking intensity and quality of life among pulmonary TB patients (p=0.001; r=-0.487). The negative correlation indicates that higher smoking intensity is associated with lower quality of life. These findings highlight the importance of integrating smoking cessation programs into TB care to improve patients’ quality of life.Keywords: pulmonary tuberculosis, quality of life, smoking intensity
Uji Aktivitas Antioksidan dengan Metode DPPH dan Antihiperurisemia Ekstrak Rumput Laut (Eucheuma spinosum) pada Mencit Putih Jantan Fathurrahman, Reza; Rahayuningsih, Nur; Zustika, Diana Sri
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 15, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2026.v15i2.70616

Abstract

Meningkatnya kasus hiperurisemia yang berkaitan dengan stres oksidatif mendorong pemanfaatan bahan alami yang memiliki aktivitas antioksidan sekaligus antihiperurisemia. Salah satu bahan alam yang berpotensi dikembangkan adalah rumput laut Eucheuma spinosum karena mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berkhasiat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan antihiperurisemia ekstrak etanol Eucheuma spinosum serta menentukan dosis yang paling efektif dalam menurunkan kadar asam urat. Tahapan penelitian meliputi ekstraksi menggunakan etanol 96%, skrining fitokimia, pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH, serta pengujian antihiperurisemia pada mencit yang diinduksi kalium oksonat. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan fenol. Uji aktivitas antioksidan menunjukkan nilai IC₅₀ sebesar 52,219 ppm yang termasuk kategori antioksidan kuat. Pada pengujian in vivo, ekstrak terbukti mampu menurunkan kadar asam urat secara signifikan dengan efek yang meningkat seiring kenaikan dosis. Dosis paling efektif diperoleh pada pemberian 120 mg/20g BB mencit dengan persentase penurunan sebesar 32,71%, meskipun aktivitasnya masih berada di bawah allopurinol dengan dosis 100 mg sebagai kontrol positif dengan persentase penurunan sebesar 35,16%. Berdasarkan hasil tersebut, ekstrak Eucheuma spinosum memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan alami dalam membantu terapi hiperurisemia. Namun demikian, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk meningkatkan efektivitas ekstrak dan mengkaji mekanisme kerjanya secara lebih mendalam.Kata kunci: antioksidan, antihiperurisemia, DPPH, Eucheuma spinosum, kalium oksonat, stres oksidatif Evaluation of the Antioxidant Activity of Eucheuma spinosum Extract by the DPPH Assay and Its Antihyperuricemic Activity in Male White MiceAbstractThe rising prevalence of hyperuricemia associated with oxidative stress has driven the exploration of natural substances with antioxidant and antihyperuricemic properties. Eucheuma spinosum seaweed is recognized for its bioactive compounds that may serve as potential natural therapeutic agents. This study aimed to evaluate the antioxidant and antihyperuricemic activities of the ethanol extract of Eucheuma spinosum and to identify the most effective dose in reducing uric acid levels. The study procedures included extraction using 96% ethanol, phytochemical screening, antioxidant activity assessment using the DPPH method, and antihyperuricemic testing in potassium oxonate-induced mice. Phytochemical analysis indicated the presence of alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and phenolic compounds in the extract. The antioxidant assay showed that the extract possessed strong antioxidant activity with an IC₅₀ value of 52.219 ppm. In the in vivo experiment, the extract significantly decreased uric acid levels in a dose-dependent manner. The most effective dose was observed at 120 mg/20 g of body weight in mice, resulting in a 32.71% reduction, although its activity was still lower than that of allopurinol at a dose of 100 mg, which served as the positive control and resulted in a 35.16% reduction. These findings suggest that Eucheuma spinosum extract has promising potential as a natural agent for hyperuricemia management. Nevertheless, further studies are required to optimize its effectiveness and to elucidate its mechanisms of action more comprehensively.Keywords: antioxidant, antihyperuricemic, DPPH, Eucheuma spinosum, oxidative stress, potassium oxonate
Hubungan Kepatuhan Terapi terhadap Risiko Memulai Dialisis dan Kualitas Hidup pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis Rawat Inap di Rumah Sakit Salsabila, Arini; Supadmi, Woro; Yuniarti, Endang; Rahajeng, Bangunawati
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 15, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2026.v15i2.69628

Abstract

Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan kondisi progresif yang menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara permanen serta berdampak pada kualitas hidup dan peningkatan risiko memulai dialisis. Prevalensi PGK di Indonesia tercatat sebesar 0,38% berdasarkan Riskesdas 2018 dan diperkirakan masih lebih rendah dari kejadian sebenarnya. Ketidakpatuhan terhadap terapi dapat memperburuk kondisi klinis dan mempercepat progresivitas penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kepatuhan terapi terhadap risiko memulai dialisis dan kualitas hidup pasien PGK rawat inap di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan potong lintang prospektif. Subjek penelitian diambil pada periode Oktober–Desember 2025 sesuai dengan kriteria inklusi. Data diperoleh dari karakteristik pasien dan penggunaan obat berdasarkan rekam medik elektronik. Kepatuhan terapi diukur menggunakan Medication Adherence Report Scale-5 (MARS-5), kualitas hidup menggunakan Kidney Disease Quality of Life-36 (KDQOL-36), sementara risiko memulai dialisis ditentukan berdasarkan rekam medis. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 70 pasien. Sebanyak 38 pasien (54,3%) tergolong patuh terhadap terapi, sedangkan 36 pasien (51,4%) menjalani hemodialisis selama perawatan. Kualitas hidup yang baik ditemukan pada 59 pasien (84,3%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan terapi dengan kualitas hidup (p<0,001), namun tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan terapi dengan risiko memulai dialisis (p=0,278). Kepatuhan terapi berhubungan signifikan dengan kualitas hidup, tetapi tidak berhubungan dengan risiko memulai dialisis pada pasien PGK rawat inap. Oleh karena itu, kepatuhan terapi dapat dipertimbangkan sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan kualitas hidup pasien.Kata kunci: kepatuhan terapi, kualitas hidup, penyakit ginjal kronis, risiko memulai dialisis The Relationship between Therapy Adherence and the Risk of Starting Dialysis and Quality of Life in Hospitalized Chronic Kidney Disease PatientsAbstractChronic kidney disease (CKD) is a progressive condition characterized by irreversible deterioration of kidney function, leading to impaired quality of life and an increased risk of initiating dialysis. According to the 2018 Indonesian Basic Health Research (Riskesdas), the prevalence of CKD in Indonesia was 0.38%, although the actual prevalence is likely higher. Poor medication adherence may worsen clinical outcomes and accelerate disease progression. This study aimed to analyze the association between medication adherence, the risk of initiating dialysis, and quality of life among hospitalized patients with CKD at PKU Muhammadiyah Hospital, Yogyakarta City. A prospective cross-sectional observational study was conducted among eligible patients recruited between October and December 2025. Patient characteristics and medication data were obtained from electronic medical records. Medication adherence was assessed using the Medication Adherence Report Scale-5 (MARS-5), quality of life was measured using the Kidney Disease Quality of Life-36 (KDQOL-36), and the risk of initiating dialysis was determined based on medical records. Data were analyzed using descriptive statistics and Chi-square tests. A total of 70 patients were included in the study. Of these, 38 patients (54.3%) were adherent to therapy, while 36 patients (51.4%) underwent hemodialysis during hospitalization. Good quality of life was reported in 59 patients (84.3%). Medication adherence was significantly associated with quality of life (p<0.001), but not with the risk of initiating dialysis (p=0.278). Medication adherence was significantly associated with quality of life but not with the risk of initiating dialysis among hospitalized patients with CKD. Therefore, medication adherence may be considered an important factor associated with patients’ quality of life.Keywords: chronic kidney disease, risk of starting dialysis, therapy adherence, quality of life
Identifikasi Potensi Interaksi Obat pada Resep Umum di Salah Satu Apotek Kota Bandung Periode Oktober 2025–Maret 2026 Zahra, Citra Aulia; Septyadi, Rendy; Sinuraya, Rano Kurnia
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 15, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2026.v15i2.70822

Abstract

Interaksi obat adalah perubahan efek obat akibat penggunaan dua atau lebih obat secara bersamaan yang dapat meningkatkan risiko efek samping maupun menurunkan efektivitas terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi interaksi obat pada resep umum berdasarkan tingkat keparahan interaksi (mayor, moderat, dan minor) serta mekanisme interaksinya. Penelitian dilaksanakan di salah satu apotek di Kota Bandung pada periode Oktober 2025–Maret 2026 dengan desain noneksperimental menggunakan pendekatan deskriptif analitik secara retrospektif. Sampel penelitian berupa resep yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu resep dengan ≥2 jenis obat. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik total sampling. Analisis potensi interaksi obat dilakukan menggunakan Drug Interaction Checker dari Drugs.com. Dari 2.371 resep yang ditelaah, sebanyak 1.106 resep memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis lebih lanjut. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 687 potensi interaksi obat, terdiri atas 73 interaksi minor (10,63%), 517 interaksi moderat (75,25%), dan 97 interaksi mayor (14,12%). Interaksi moderat menjadi kategori paling dominan, salah satunya kombinasi obat antihiperlipidemia dengan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), yaitu celecoxib dan fenofibrate, yang berpotensi meningkatkan risiko efek samping akibat peningkatan kadar celecoxib dalam plasma. Sementara itu, interaksi mayor ditemukan pada kombinasi sesama obat antihiperlipidemia, yaitu fenofibrate dan rosuvastatin yang berisiko menyebabkan miopati hingga rhabdomiolisis. Potensi interaksi farmakokinetik paling banyak ditemukan pada kombinasi suplemen mineral, yaitu kalsium dan zat besi, sedangkan interaksi farmakodinamik paling sering terjadi pada kombinasi antidiabetes oral, yaitu glimepiride dan metformin. Tingginya potensi interaksi obat pada resep menunjukkan pentingnya peran aktif apoteker dalam mengidentifikasi, memantau, dan mencegah interaksi obat guna meningkatkan keamanan terapi pasien.Kata kunci: apotek, interaksi obat, mekanisme interaksi, resep, tingkat keparahan Identification of Potential Drug Interactions in General Prescriptions at a Pharmacy in Bandung City During the Period of October 2025–March 2026AbstractDrug interactions are changes in drug effects caused by the concurrent use of two or more medications, which may increase the risk of adverse effects or reduce therapeutic effectiveness. This study aimed to identify potential drug interactions in general prescriptions based on severity level (major, moderate, and minor) and interaction mechanisms. The study was conducted at a pharmacy in Bandung City during October 2025–March 2026 using a nonexperimental retrospective descriptive-analytic design. The samples were polypharmacy prescriptions meeting the inclusion criterion of containing ≥2 medications and were collected using a total sampling technique. Potential drug interactions were analyzed using the Drug Interaction Checker from Drugs.com. Of the 2,371 prescriptions reviewed, 1,106 prescriptions met the inclusion criterion and were further analyzed. The results identified 687 potential drug interactions, consisting of 73 minor interactions (10.63%), 517 moderate interactions (75.25%), and 97 major interactions (14.12%). Moderate interactions were the most common, including the combination of celecoxib and fenofibrate, which may increase the risk of adverse effects due to elevated plasma levels of celecoxib. Major interactions were found between fenofibrate and rosuvastatin, which may increase the risk of myopathy and rhabdomyolysis. Pharmacokinetic interactions were most commonly observed with calcium and iron supplements, whereas pharmacodynamic interactions were most frequently identified between glimepiride and metformin. The high prevalence of potential drug interactions in polypharmacy prescriptions highlights the important role of pharmacists in identifying, monitoring, and preventing drug interactions to improve patient safety.Keywords: drug interactions, pharmacy, polypharmacy, prescriptions, severity level

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2026) Vol 15, No 1 (2026) Vol 14, No 3 (2025) Vol 14, No 2 (2025) Vol 14, No 1 (2025) Vol 13, No 3 (2024) Vol 13, No 2 (2024) Vol 13, No 1 (2024) Vol 12, No 3 (2023) Vol 12, No 2 (2023) Vol 12, No 1 (2023) Vol 11, No 4 (2022) Vol 11, No 3 (2022) Vol 11, No 2 (2022) Vol 11, No 1 (2022) Vol 10, No 4 (2021) Vol 10, No 3 (2021) Vol 10, No 2 (2021) Vol 10, No 1 (2021) Vol 9, No 4 (2020) Vol 9, No 3 (2020) Vol 9, No 2 (2020) Vol 9, No 1 (2020) Vol 8, No 4 (2019) Vol 8, No 3 (2019) Vol 8, No 2 (2019) Vol 8, No 1 (2019) Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7, No 1 (2018) Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 4 (2017) Vol 6, No 4 (2017) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 4 (2016) Vol 5, No 4 (2016) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 4 (2015) Vol 4, No 4 (2015) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 4 (2014) Vol 3, No 4 (2014) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 4 (2013) Vol 2, No 4 (2013) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 1, No 4 (2012) Vol 1, No 4 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue