cover
Contact Name
Rizky Abdulah
Contact Email
r.abdulah@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
editorial@ijcp.or.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia
ISSN : 23375701     EISSN : 2337 5701     DOI : -
Core Subject :
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy (IJCP) is a scientific publication on all aspect of clinical pharmacy. It published 4 times a year by Clinical Pharmacy Master Program Universitas Padjadjaran to provide a forum for clinicians, pharmacists, and other healthcare professionals to share best practice, encouraging networking and a more collaborative approach in patient care. Indonesian Journal of Clinical Pharmacy is intended to feature quality research articles in clinical pharmacy to become scientific guide in fields related to clinical pharmacy. It is a peer-reviewed journal and publishes original research articles, review articles, case reports, commentaries, and brief research communications on all aspects of Clinical Pharmacy. It is also a media for publicizing meetings and news relating to advances in Clinical Pharmacy in the regions.
Arjuna Subject : -
Articles 540 Documents
Pola Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Pneumonia Dewasa di Instalasi Rawat Inap RSUD Provinsi NTB Sugiani, Lina; Harahap, Herpan S.; Puspitasari, Candra E.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2022.11.4.309

Abstract

Pneumonia merupakan peradangan akut pada paru yang sebagian besar disebabkan oleh bakteri dan merupakan penyebab kematian terbesar terutama di negara berkembang. Terapi utama pneumonia dengan penyebab bakteri adalah antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia dewasa berdasarkan profil kuman di instalasi rawat inap RSUD Provinsi NTB.Metode pengambilan sampel yaitu total sampling dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Data diperoleh secara retrospektif berdasarkan rekam medis pasien dan dilakukan uji chi square untuk mengetahui hubungan antara pola pemberian antibiotik (monoterapi atau kombinasi) dan jenis antibiotik dengan lama waktu perawatan. Sampel  pada penelitian ini sebanyak 154 orang dengan sebaran pasien berusia >65 tahun (32,5%) dimana jenis kelamin laki-laki mendominasi (56,5%),dan lama perawatan terbanyak adalah 1-7 hari (68,2%). Penggunaan antibiotik monoterapi didominasi oleh golongan sefalosporin generasi III (55,6%) dan kombinasi yaitu golongan sefalosporin generasi III-flourokuinolon (45,9%). Profil kuman penyebab pneumonia antara lain Klebsiella pneumoniae, E coli, Staphylococcus haemolyticus, dan pseudomonas aeroginosa. Hasil analisis menggunakan uji chi square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara pola pemberian antibiotik dengan lama rawat inap dan tidak terdapat hubungan bermakna antara pemberian antibiotik monoterapi dengan lama waktu perawatan, akan tetapi terdapat hubungan bermakna pada pemberian antibiotik kombinasi. Sebagian besar pasien pneumonia dewasa yang dirawat di RSUD Provinsi NTB mendapatkan terapi antibiotik monoterapi.
Therapeutic Effects of Methylprednisolone on Clinical Symptoms in COVID-19 Patients at Dr. R. Goeteng Taroenadibrata Hospital Baroroh, Hanif Nasiatul; Hana, Rifa Khairunnisa; Ekowati, Heny
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2024.13.1.1

Abstract

COVID-19 is a respiratory syndrome disease in humans caused by severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Until now, treatment for COVID-19 has not been found. This study aimed to observed a therapeutic effect of methylprednisolone in COVID-19 patients. Medical records of COVID-19 patients at Dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Hospital were collected retrospectively as part of this descriptive observational study from October 2020 to September 2021. Utilizing the Wilcoxon and Sign Test, a statistical analysis was conducted to determine the therapeutic effect of methylprednisolone on variables such as temperature, respiratory rate, oxygen saturation, cough, and shortness of breath. A total of 132 patients met the inclusion criteria, with 87 patients in mild severity, 22 patients with moderate severity, and 23 patients with severe severity. The clinical symptoms of cough, dyspnea, RR values, and SpO2 improved when methylprednisolone was given to mild COVID-19 patients receiving treatment at RSUD Dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Additionally, clinical symptoms related to cough, SpO2, and temperature parameters improved in patients with moderate severity; in contrast, breathlessness, respiratory distress, SpO2, and temperature parameters improved in patients with severe severity. In conclusion, Goeteng Taroenadibrata Hospital COVID-19 patients report improved clinical symptoms when receiving methylprednisolone.
Attitudes and Behaviour Community Toward Using Vitamin Supplements to Improve the Immunity during the COVID-19 Pandemic Wiyati, Tuti; Maifitrianti, Maifitrianti; Zaid, Liesca Tria Novalita; Bahiah, Faridatul
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2023.12.1.50

Abstract

During the COVID-19 pandemic, the consumption of vitamin supplements has become a new habit. As a result of the epidemic, people's attitudes and behaviours had altered, particularly when it came to consuming vitamin supplements to boost immunity or maintain health. The aim of this study was to analyze the correlation between the attitude and behaviour of the community toward vitamin supplements during the COVID-19 pandemic. A cross-sectional study was conducted in two cities in Indonesia, Jakarta and Pandeglang Banten, in August-October 2021. Each subject filled out an attitude and a behavioural questionnaire, both of which were made by researchers based on many references. All data collected by google form software analyzed the Socioeconomi characteristics by chi Square test, while the correlation of attitude and behaviour tested by Spearman rho test. The characteristics of Socioeconomi such as education, consumption of vitamin supplements during the COVID-19 period, and people's residence were correlated significantly with attitude and behaviour (P<0.005). there was a significant correlation between attitude and behaviour in using vitamin supplements to increase immunity during the COVID-19 pandemic (P=0.001, correlation coef=0.465). The correlation was moderate strength with a positive path correlation. It means that the more support an attitude, the more behaviour will increase to use vitamin supplements during COVID-19 pandemic.       
Analisis Utilitas Biaya Annual Population-Based Screening Dibandingkan dengan Opportunistic Screening Diabetes Melitus di Indonesia Menggunakan Markov Model Budiawan, Erick; Suwantika, Auliya Abdurrohim; Zakiyah, Neily
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2022.11.4.320

Abstract

Prevelensi Diabetes Melitus (DM) di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun dan berdampak pada tingginya biaya perawatan. Salah satu upaya pencegahan DM yang dapat dilakukan adalah melalui deteksi dini atau skrining. Saat ini di Indonesia menerapakan oportunistic screening dan tidak menerapkan population-based screening. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbandingan efektivitas biaya oportunistic screening dan population-based screening DM di Indonesia serta menganalisis faktor yang paling berpengaruh terhadap nilai incremental cost-effectiveness ratio (ICER). Penelitian ini dilakukan di Universitas Padjadjaran pada november 2020 hingga maret 2021. Nilai efektivitas biaya dihitung berdasarkan Markov model dengan siklus 1 tahun dalam time horizon 19 tahun.  Data yang digunakan sebagai input parameter adalah data epidemiologi, biaya (payer perspective) dan utilitas (QALYs). Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan mempertimbangkan probabilitas transisi antar health states. Hasil ICER akan dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) perkapita sebagai cost-effectiveness threshold. Population-based screening memiliki estimasi total biaya Rp8.530.479 per 13,768 QALYs dan oportunistic screening memiliki estimasi total biaya Rp7.115.974 per 13,743 QALYs. Nilai ICER adalah Rp79.502.211 dan nilai PDB perkapita adalah Rp56.938.723. Dapat disimpulkan bahwa population-based screening DM di Indonesia masih cost-effective apabila menggunakan cost-effectiveness treshold 1-3 PDB perkapita. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa biaya skrining, kualitas hidup pasien DM komplikasi dengan early maupun late treatment merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap nilai ICER.
Perbandingan Pemilihan Obat Antihipertensi pada Pasien Penyakit Ginjal Tahap Akhir yang Melakukan Hemodialisis dan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis Wulandari, Wening; Suwantika, Auliya Abdurrohim; Zakiyah, Neily; Rahayu, Cherry; Ramadhani, Sitha Fitri
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2024.13.1.12

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit penyerta yang sering terjadi pada pasien penyakit ginjal tahap akhir (PGTA) yang sedang melakukan hemodialisis (HD) dan continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD). Penggunaan obat antihipertensi yang tepat pada pasien PGTA dengan komorbid hipertensi dapat meningkatkan pengelolaan hipertensi, mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, dan menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pola penggunaan obat antihipertensi pada pasien PGTA yang menjalani HD dan CAPD, serta menganalisis pengaruhnya terhadap kontrol tekanan darah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan observasional, dengan pengumpulan data secara retrospektif melalui rekam medis di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung. Sebanyak 93 pasien yang terbagi dalam dua kelompok (HD=58 pasien; CAPD=35 pasien) berpartisipasi dalam penelitian ini. Masing-masing kelompok dilihat profil penggunaan obat antihipertensi dan efeknya terhadap tekanan darah. Analis statistik yang digunakan yaitu chi-square atau uji Fisher’s exact untuk mengetahui perbedaan antar kelompok HD dan CAPD. Hasil penelitian tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada karakteristik pasien yang meliputi jenis kelamin, durasi dialisis, dan etiologi. Pada penelitian ini ditemukan sebanyak 34% pasien CAPD menggunakan tiga kombinasi antihipertensi, sedangkan 47% pasien HD menggunakan kombinasi dua obat. Amlodipin (46%) dan kandesartan (31%) merupakan obat antihipertensi yang paling sering diresepkan. Rata-rata tekanan darah setelah mengonsumsi antihipertensi yaitu 140/90 mmHg. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun pola penggunaan obat antihipertensi berbeda antara pasien HD dan CAPD, keduanya belum mencapai target kontrol tekanan darah yang optimal, menandakan perlunya pendekatan yang lebih tepat dalam pengelolaan hipertensi pada masing-masing kelompok.
Pharmacokinetics and Pharmacodynamics of Glyburide: Insights for Optimizing Treatment in Type 2 Diabetes Alfaqeeh, Mohammed; Khairinisa, Miski Aghnia; Permana, Hikmat
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2024.13.2.48713

Abstract

Glyburide is a widely used oral antidiabetic agent for managing type 2 diabetes. Despite its long history, evolving insights into its pharmacokinetics (PK) and pharmacodynamics (PD) have highlighted knowledge gaps, especially in the context of genetic variability, drug-drug interactions, and use in special populations. This narrative scoping review synthesizes recent evidence to provide a comprehensive and updated understanding of glyburide’s PK/PD profiles.  A thorough literature search of studies published in English, including manual reference checks, was conducted. Glyburide exhibits complex pharmacokinetics, extensive absorption throughout the gastrointestinal tract, significant plasma protein binding, hepatic metabolism via CYP2C9 and CYP3A4 enzymes, and predominantly renal elimination. Its pharmacodynamic effects involve stimulating insulin secretion and enhancing peripheral insulin sensitivity. Common side effects include hypoglycemia and weight gain, while drug-drug interactions and monitoring are crucial for safe and effective use. Understanding glyburide’s pharmacokinetics and pharmacodynamics is key to optimizing diabetes management. Tailoring dosages based on patient factors can improve efficacy, minimize adverse effects, and enable personalized care. Further research on genetic influences, drug interactions, and its use in special populations is needed to refine treatment strategies and enhance safety and effectiveness.
Pemberian Eritropoietin pada Pasien End-Stage Renal Disease: Nilai Saturasi Transferin dan Ferritin Serum Dasopang, Eva Sartika; Almunadia, Annisa; Hasibuan, Emilia; Sandika, Thalita; Thaharah, Yelda Ratu; Lince, Verawati; Nuzuliai, Nadia; Syarah, Siti
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2025.v14i2.54229

Abstract

Pasien end-stage renal disease (ESRD) sering mengalami anemia akibat penurunan fungsi ginjal, sehingga produksi hormon eritropoietin (EPO) menjadi berkurang. Jenis anemia pada pasien ESRD ditentukan berdasarkan saturasi transferin, ferritin serum, serum iron dan total iron-binding capacity (TIBC). Tujuan penelitian ini yaitu menganalisa pemberian eritropoietin pada pasien ESRD berdasarkan nilai saturasi transferrin dan ferritin serum serta jenis anemia dan nilai hemoglobin (Hb) yang dicapai. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pengambilan sampel secara purposive sampling. Subjek penelitian ini adalah pasien ESRD yang rutin melakukan hemodialisis dan diberikan terapi EPO di RSUD Dr. Pirngadi, Kota Medan periode Januari hingga Desember 2022, yaitu sebanyak 84 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara retrospektif menggunakan rekam medik sesuai dengan kriteria inklusi (kadar Hb, serum iron, TIBC, ferritin serum, saturasi transferrin). Hasil diperoleh anemia yang paling banyak diderita pada pasien ESRD adalah anemia defisiensi absolut sebesar 1,7 kali dari jumlah anemia defisiensi fungsional dan besi cukup dengan nilai Hb rata-rata 7,73 g/dL. Nilai rata- rata saturasi transferrin dan ferritin serum pada pasien ESRD dengan anemia defisiensi absolut, fungsional dan besi cukup secara berturut, yaitu 16,07 % dan 89,51 ng/mL; 13,26 % dan 390,76 ng/mL; 30,65 % dan 394,33 ng/mL. Target nilai Hb hanya dicapai pada pasien ESRD yang mengalami anemia defisiensi fungsional (20%) dan besi cukup (100%) sedangkan pada penderita anemia defisiensi besi absolut, target Hb tidak pernah tercapai meskipun terapi eritropoietin sudah diberikan. Terapi pemberian EPO belum optimal dalam mencapai nilai hemoglobin yang diinginkan pada pasien ESRD.
Efek Samping Kombinasi Doxorubicin dan Cyclophosphamide pada Pasien Kanker Payudara: Studi Kasus Afriano, Reza; Latifah, Nurul; Candradewi, Susan Fitria
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2025.v14i1.58230

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengelola efek samping dari kemoterapi kombinasi doxorubicin dan cyclophosphamide pada pasien kanker payudara di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, yang dilakukan pada Juli 2024. Seorang pasien wanita berusia 71 tahun dengan diagnosis kanker payudara invasif menjalani empat siklus kemoterapi yang terdiri dari doxorubicin dan cyclophosphamide. Selama pengobatan, pasien mengalami beberapa efek samping termasuk mual, penurunan nafsu makan, hiperpigmentasi pada tepi kaki kanan, hilangnya kemampuan mengecap rasa manis dan asin, serta alopesia (rambut rontok). Data dievaluasi menggunakan metode subjective, objective, assessment, and plan (SOAP) dan algoritma Naranjo, yang menunjukkan bahwa sebagian besar efek samping diklasifikasikan sebagai “probable” terkait dengan terapi yang diberikan. Pengelolaan efek samping melibatkan penggunaan dexamethasone dan tropisetron sebagai profilaksis antiemetik, serta ondansetron sebagai terapi rumahan untuk mengatasi mual. Kesimpulannya, meskipun kombinasi doxorubicin dan cyclophosphamide efektif untuk pengobatan kanker payudara, pemantauan dan manajemen yang tepat terhadap efek sampingnya sangat penting untuk menjaga kualitas hidup pasien selama terapi.
Biaya Medis Langsung dan Efek Samping Kemoterapi Pasien Kanker Payudara di Rumah Sakit Swasta Kota Yogyakarta Giatna, Sifak; Supadmi, Woro; Yuniarti, Endang
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2023.12.2.47215

Abstract

Kanker merupakan masalah kesehatan global. Di Indonesia, kanker payudara merupakan kasus terbanyak, yaitu 58.256 kasus dari total 348.809 kasus. Pada tahun 2017, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki jumlah kasus kanker payudara terbanyak, yaitu sebesar 1.564 pasien rawat jalan dan 823 pasien rawat inap. Terapi kanker payudara dapat dilakukan dengan kemoterapi, radiasi, pembedahan dan terapi hormonal. Kemoterapi menimbulkan efek samping neutropenia, anemia, mual muntah, nyeri neuropati. Efek samping akibat penggunaan kemoterapi memengaruhi besarnya biaya perawatan. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan metode pengambilan data secara retrospektif. Subjek penelitian adalah semua pasien kanker payudara yang sesuai dengan kriteria inklusi. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif, yaitu dari Januari 2018 hingga Desember 2019. Data yang dikumpulkan dari rekam medis pasien meliputi biaya medis dari billing tagihan, profil kemoterapi dan efek samping kemoterapi. Efek samping diidentifikasi berdasarkan referensi buku dan artikel terkait. Data diolah menggunakan uji deskriptif untuk melihat gambaran biaya dan efek samping. Jumlah subjek penelitian adalah 53 subjek dengan 9 variasi regimen kemoterapi. Biaya medik langsung tertinggi adalah regimen docetaxel dan carboplatin (DC) 5 siklus sebesar Rp2.967.330, sedangkan terendah adalah regimen 5-fluorouracil (5-FU), adriamycin, cyclophosphamide (FAC) 8 siklus Rp2.024.165. Efek samping kemoterapi yang banyak terjadi adalah mual muntah (100%), neutropenia (86%), neuropati perifer (47%), pusing (42%), mukositis/stomatitis (25%), anemia (19%), diare (13%), infeksi kulit (11,3%), konstipasi (9%), serta penurunan nafsu makan (2%). Regimen 5-FU, adriamycin, cyclophosphamide, taxane (FAC-T) adalah regimen yang paling banyak digunakan (39,6%). Biaya medis langsung obat kemoterapi tertinggi adalah regimen DC. Efek samping yang paling umum adalah mual, muntah dan neutropenia.
Efektivitas Layanan Kesehatan Menggunakan Chatbot dan Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kepuasan Penggunanya: Tinjauan Literatur Noviandhani, Wanda; Mita, Soraya Ratnawulan; Ratnawati, Aini
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2024.13.2.57243

Abstract

Pelayanan kesehatan dituntut dapat memenuhi kebutuhan penggunanya. Inovasi chatbot dalam layanan kesehatan telah mampu meningkatkan efisiensi layanan yang diberikan. Penggunaannya dinilai sebagai solusi untuk mengatasi kesenjangan masalah layanankesehatan. Penelitian dilakukan dengan mengkaji 10 artikel ilmiah dengan kata kunci mengenai penggunaan layanan chatbot dalam bidang kesehatan. Tinjauan literatur ini akan berfokus padaanalisis efektivitas layanan chatbot dalam bidang kesehatan dan faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan pelanggan atau pengguna layanan kesehatan chatbot. Hasil kajian ini menunjukkan efektivitas layanan kesehatan chatbot yang dipengaruhi oleh faktor akurasi, aksesibilitas, penggunaan yang praktis, kualitas informasi dan layanan serta pendekatan emosional yang tepat sehingga mampu memenuhi ekspektasi penggunanya.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 3 (2025) Vol 14, No 2 (2025) Vol 14, No 1 (2025) Vol 13, No 3 (2024) Vol 13, No 2 (2024) Vol 13, No 1 (2024) Vol 12, No 3 (2023) Vol 12, No 2 (2023) Vol 12, No 1 (2023) Vol 11, No 4 (2022) Vol 11, No 3 (2022) Vol 11, No 2 (2022) Vol 11, No 1 (2022) Vol 10, No 4 (2021) Vol 10, No 3 (2021) Vol 10, No 2 (2021) Vol 10, No 1 (2021) Vol 9, No 4 (2020) Vol 9, No 3 (2020) Vol 9, No 2 (2020) Vol 9, No 1 (2020) Vol 8, No 4 (2019) Vol 8, No 3 (2019) Vol 8, No 2 (2019) Vol 8, No 1 (2019) Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7, No 1 (2018) Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 4 (2017) Vol 6, No 4 (2017) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 4 (2016) Vol 5, No 4 (2016) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 4 (2015) Vol 4, No 4 (2015) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 4 (2014) Vol 3, No 4 (2014) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 4 (2013) Vol 2, No 4 (2013) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 1, No 4 (2012) Vol 1, No 4 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue