cover
Contact Name
Rizky Abdulah
Contact Email
r.abdulah@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
editorial@ijcp.or.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia
ISSN : 23375701     EISSN : 2337 5701     DOI : -
Core Subject :
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy (IJCP) is a scientific publication on all aspect of clinical pharmacy. It published 4 times a year by Clinical Pharmacy Master Program Universitas Padjadjaran to provide a forum for clinicians, pharmacists, and other healthcare professionals to share best practice, encouraging networking and a more collaborative approach in patient care. Indonesian Journal of Clinical Pharmacy is intended to feature quality research articles in clinical pharmacy to become scientific guide in fields related to clinical pharmacy. It is a peer-reviewed journal and publishes original research articles, review articles, case reports, commentaries, and brief research communications on all aspects of Clinical Pharmacy. It is also a media for publicizing meetings and news relating to advances in Clinical Pharmacy in the regions.
Arjuna Subject : -
Articles 540 Documents
Hubungan Karakteristik Pasien BPJS Kesehatan dan Waktu Tunggu dengan Tingkat Kepuasan terhadap Pelayanan Resep di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Purwakarta Yulanda, Zella; Mutmainah, Siti Saidah; Pasha, ED Yunisa Mega
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2024.13.1.24

Abstract

Kesehatan merupakan kebutuhan utama bagi masyarakat, yang dapat dipenuhi dengan memperoleh pelayanan prima. Tuntutan masyarakat terhadap kesehatan meningkat seiring dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat. Namun, tingginya minat masyarakat untuk menjadi peserta BPJS Kesehatan tidak diiringi dengan kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan yang didapatkan, sehingga berpengaruh terhadap kualitas pelayanan. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan karakteristik pasien BPJS Kesehatan dan waktu tunggu dengan tingkat kepuasan terhadap pelayanan resep di instalasi farmasi rumah sakit. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian diperoleh bahwa gambaran tingkat kepuasan pasien dimensi tangibles dengan skor 59,8%, reliability 75,2%, responsiveness 62%, assurance 71,4%, dan empathy 66,4%. Hasil analisis hubungan diperoleh jenis kelamin (p=0,989), umur (p=0,192), pendidikan (p=0,132), pekerjaan (p=1,000), waktu tunggu (p=0,161). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu tingkat kepuasan pasien BPJS Kesehatan Rawat Jalan dengan pelayanan resep di instalasi farmasi rumah sakit Purwakarta yaitu puas (66,96%) dan tidak terdapat hubungan antara karakteristik pasien dan waktu tunggu dengan tingkat kepuasan.
Cost-Effectiveness Analysis Terapi Antibiotik pada Pasien Infeksi Saluran Kemih di Rumah Sakit Nurjahan, Nurjahan; Rahayuningsih, Nur; Idacahyati, Keni
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2024.13.3.53543

Abstract

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu infeksi bakteri paling umum yang dapat memengaruhi berbagai kelompok usia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas biaya (cost-effectiveness) terapi antibiotik pada pasien ISK di rumah sakit berdasarkan kajian literatur terhadap 39 artikel yang diperoleh dari Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect (2015–2024). Penelusuran dilakukan dengan kata kunci  “cost-effectiveness analysis”, “infeksi saluran kemih”, dan “antibiotik” menggunakan operator Boolean “AND”. Hasil menunjukkan bahwa perempuan lebih rentan terhadap ISK akibat faktor anatomi dan hormonal, terutama pada usia di atas 56 tahun, dengan durasi rawat inap rata-rata 3–5 hari. Dari analisis, ceftriaxone lebih cost-effective dibandingkan cefotaxime, dengan nilai ACER Rp854.787 vs. Rp963.867. Sebaliknya, levofloxacin lebih efektif tetapi memiliki biaya lebih tinggi dibandingkan cefoperazone. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemilihan antibiotik yang tepat memengaruhi biaya total dan efektivitas terapi pasien secara signifikan. Studi ini merekomendasikan penggunaan antibiotik seperti ceftriaxone dan levofloxacin yang lebih cost-effective untuk pengelolaan ISK di rumah sakit. Rekomendasi ini mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti dalam pengelolaan farmakoekonomi ISK di fasilitas layanan kesehatan.
Assessing the Impact of Adherence on the Cost of Illness among Schizophrenia Outpatients Suri, Nurma; Rony, Farras Qanitah
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2025.v14i1.58908

Abstract

Schizophrenia imposes a significant economic burden on both patients and their families. This study aims to evaluate the costs incurred by outpatient schizophrenia patients and examine their relationship with adherence to monthly hospital visits. An observational study was conducted at the Mental Health Hospital of Lampung Province from February to September 2023, utilizing both primary and secondary data. Primary data were collected through questionnaires assessing direct and indirect costs from the patient’s perspective, while secondary data from medical records provided information on patient demographics and hospital visit adherence. To analyse the relationship between sociodemographic variables and patient adherence, a bivariate analysis was performed using the chi square test. Meanwhile, the association between cost variables and adherence was examined using the Mann Whitney U test. The study involved 100 subjects, revealing an average total cost of illness of IDR 258,586 per patient per month or IDR 3,103,032 per year. The mean direct medical cost was IDR 123,774.26, while direct nonmedical costs and indirect costs amounted to IDR 111,277.23 and IDR 22,376.23 per patient, respectively. The analysis indicated a significant association between patient adherence and sociodemographic factors, including insurance status, the presence of a companion, and place of residence. Additionally, the patience adherence—reflected in regular hospital visits—was positively associated with both direct nonmedical costs and total illness costs. These findings suggest that reducing direct nonmedical costs, such as transportation, food, and accommodation, may help lower the overall cost of illness and ultimately improve patient adherence to regular hospital visits.
Karakteristik Pasien dan Penggunaan Obat Hipertensi di Beberapa Sarana Kesehatan Wildan, Muhammad Maulana; Rahayuningsih, Nur; Salasanti, Citra Dewi
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 14, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2025.v14i3.59824

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang serius, dengan prevalensi tinggi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Penting untuk memahami karakteristik demografis pasien serta penggunaan obat antihipertensi yang tepat alam upaya untuk mengelola hipertensi secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pasien hipertensi dan penggunaan obat di Indonesia berdasarkan tinjauan literatur yang ada. Literatur yang dianalisis dipilih melalui pencarian sistematis menggunakan database Google Scholar dengan kata kunci “drug-related problems (DRPs)” dan “hipertensi”, menggunakan operator Boolean “AND” untuk mempersempit hasil pencarian. Artikel yang ditinjau memenuhi kriteria inklusi, yaitu penelitian observasional dan artikel asli yang diterbitkan dalam rentang tahun 2014–2024. Dari 23 artikel yang ditemukan, sebanyak 16 artikel dipilih untuk dianalisis menggunakan pendekatan simplified approach guna mengidentifikasi tren penggunaan obat antihipertensi dan permasalahan terkait terapi. Penelitian ini menemukan bahwa amlodipin adalah obat antihipertensi yang paling banyak diresepkan, dengan prevalensi tinggi di berbagai lokasi. Mayoritas pasien hipertensi adalah perempuan, terutama di atas usia 60 tahun, yang menunjukkan perlunya perhatian khusus terhadap kelompok ini. Penelitian ini juga mengidentifikasi adanya potensi masalah terkait obat DRPs yang dapat memengaruhi kepatuhan pasien terhadap terapi. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun amlodipin efektif sebagai terapi utama, perhatian terhadap karakteristik pasien dan masalah terkait obat sangat penting untuk meningkatkan kepatuhan dan mencegah komplikasi jangka panjang. Rekomendasi berbasis bukti diperlukan untuk strategi pengelolaan hipertensi yang lebih efektif di masa depan.
Pengaruh Edukasi Melalui Video tentang Vaksinasi terhadap Pengetahuan, Sikap, dan Praktik Orang Tua di Kota Jayapura Provinsi Papua Seseray, Yuliana Ludia; Supadmi, Woro; Suwantika, Auliya Abdurrohim
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2024.13.3.37059

Abstract

Pada tahun 2017, sebanyak 1,5 juta kematian anak disebabkan oleh penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi. World Health Organization (WHO) melalui Global Vaccine Action Plan (GVAP) merekomendasikan setiap negara mencapai ≥90% cakupan imunisasi. Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 proporsi cakupan imunisasi dasar lengkap pada anak sekitar 57,9% dari target 93%. Upaya peningkatan pengetahuan, sikap dan praktik orang tua terhadap vaksinasi anak diperlukan sebagai bentuk promosi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap praktik vaksinasi anak, serta pengaruh edukasi media video vaksinasi terhadap tingkat pengetahuan dan sikap orang tua di Kota Jayapura, Provinsi Papua. Desain penelitian ini pre-eksperimental dengan one-group pre-test post-test study. Pengambilan data dilakukan pada bulan September–Oktober 2021 dengan teknik purposive sampling. Jumlah sampel ditentukan dengan rumus Lameshow diperoleh 290 orang tua dengan memberikan intervensi edukasi media video. Kuesioner tentang pengetahuan, sikap dan praktik terhadap vaksinasi yang telah divalidasi diberikan sebelum dan sesudah intervensi. Analisis statistik dilakukan dengan uji Spearman dan Wilcoxon signed rank. Hasil penelitian dari data sebelum intervensi menunjukkan tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan praktik vaksinasi anak (p>0,05), namun terdapat hubungan signifikan (p<0,05) antara sikap dengan praktik vaksinasi anak. Terdapat pengaruh edukasi media video terhadap tingkat pengetahuan dan sikap orang tua terkait vaksinasi anak  (p<0,05). Kesimpulan, edukasi video vaksinasi meningkatkan pengetahuan dan sikap orang tua di Kota Jayapura Provinsi Papua. Penelitian ini bermanfaat sebagai bukti ilmiah bahwa media edukasi video dapat mempromosikan pemahaman orang tua tentang vaksinasi anak di Kota Jayapura, Provinsi Papua.
Hubungan Rasionalitas Penggunaan Obat Antihipertensi terhadap Outcome Klinis Pasien Krisis Hipertensi di RSUD Kota Bogor Setiani, Lusi Agus; Toha, Oktaviana Zunnita; Fauzi, Egi Mochammad; Burmanajaya, Bram
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2025.v14i1.58844

Abstract

Krisis hipertensi adalah kondisi medis yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah ≥180/120 mmHg, terbagi menjadi hipertensi emergensi (disertai kerusakan organ target) dan hipertensi urgensi (tanpa kerusakan organ target). Rasionalitas penggunaan obat antihipertensi berperan penting dalam mencapai outcome klinis yang optimal pada pasien krisis hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara rasionalitas terapi antihipertensi dengan outcome klinis menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross-sectional secara retrospektif. Populasi terdiri dari 105 pasien krisis hipertensi yang menjalani pengobatan di IGD RSUD Kota Bogor pada tahun 2022. Kriteria inklusi meliputi pasien krisis hipertensi berusia 18–90 tahun, termasuk pasien dengan penyakit penyerta. Kriteria eksklusi meliputi data rekam medis yang tidak terbaca atau tidak lengkap, pasien yang dipindahkan ke rumah sakit lain, dan yang meninggal dunia selama pengobatan. Jumlah sampel dihitung menggunakan rumus Slovin dengan teknik purposive sampling, sehingga diperoleh 63 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Rasionalitas terapi dinilai berdasarkan ketepatan obat, pasien, indikasi, dosis, dan cara pemberian, dengan analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil menunjukkan pada hipertensi emergensi, ketepatan obat, pasien, dan dosis mencapai 100%, sementara ketepatan indikasi dan cara pemberian masing-masing 89,5%. Pada hipertensi urgensi, semua parameter mencapai 100%, kecuali cara pemberian (90,9%). Outcome klinis didefinisikan sebagai penurunan tekanan darah ≤160/100 mmHg, dengan 52,6% pasien hipertensi emergensi menerima terapi rasional dan 100% mencapai outcome klinis, sementara pada hipertensi urgensi, 88,6% menerima terapi rasional dengan 97,7% mencapai outcome klinis. Analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan signifikan pada hipertensi urgensi (p=0,749; p>0,05). Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi faktor lain yang memengaruhi keberhasilan terapi.
Penghambat Reseptor Angiotensin Neprilysin (ARNi): Artikel Tinjauan Pangestu, Lauren; Yohanes, David Christianto; Sumiwi, Sri Adi
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2024.13.3.54718

Abstract

Angiotensin receptor neprilysin inhibitor (ARNi) saat ini digunakan untuk pengobatan gagal jantung dengan penurunan fraksi ejeksi (HFrEF). Selain gagal jantung, obat golongan ARNi telah banyak diteliti potensinya untuk menangani berbagai kondisi penyakit. Sacubitril/valsartan merupakan obat golongan ARNi pertama yang disetujui oleh FDA. Penelitian ini adalah studi literatur yang dilakukan dengan mengumpulkan jurnal ilmiah menggunakan kata kunci “angiotensin receptor-neprilysin inhibitor (ARNi)”, “sacubitril/valsartan”, “heart failure”, “hypertension” menggunakan mesin pencarian Google Scholar dan PubMed dalam rentang waktu 10 tahun terakhir. Hasil yang diperoleh yaitu kombinasi mekanisme kerja dari obat ini telah menunjukkan manfaat klinis yang signifikan dalam pengobatan berbagai penyakit kardiovaskular. Studi klinis menunjukkan efikasi ARNi dalam mengurangi morbiditas dan mortalitas pada pasien dengan HFrEF, serta berpotensi untuk menangani berbagai kondisi kardiovaskular lainnya seperti hipertensi, infark miokardium, dan aritmia. Namun, beberapa efek samping seperti hipotensi, hiperkalemia, dan angioedema mungkin dapat terjadi sehingga dalam pemberian obat ARNi diperlukan pertimbangan berdasarkan karakteristik pasien dan faktor risiko yang terkait, serta pemantauan selama pengobatan.
Fasciitis Necroticans pada Diabetes Melitus: Sebuah Laporan Kasus Cahyanti, Reni Ika; Martiniani, Endang; Wibisono, Sony; Herawati, Fauna
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2025.v14i2.58295

Abstract

Fasciitis necroticans (FN) adalah penyakit langka penyebab nekrosis jaringan lunak secara cepat dan berpotensi menyebabkan sepsis akut hingga kematian. Diabetes merupakan salah satu faktor risiko terjadinya FN. Laporan kasus ini membahas diagnosis dini dan terapi pasien FN dengan diabetes. Seorang pria 54 tahun dengan diabetes selama 3 tahun, rutin mengonsumsi obat antidiabetes oral, dan memiliki riwayat amputasi jari kelingking kiri, didiagnosis FN pada kaki kiri. Diagnosis ditegakkan pada hari pertama perawatan dengan skor LRINEC 9. Pasien mendapat terapi injeksi seftriakson 1 gram tiap 12 jam dan metronidazol 500 mg tiap 8 jam, disertai kultur pus. Setelah 5 hari pengobatan, kadar leukosit tetap tinggi, dan kondisi belum membaik. Kultur pus sensitif terhadap seftriakson, tetapi pada hari ke-9 nilai leukosit meningkat menjadi 21,96 x 103/µL, sehingga antibiotik diganti menjadi injeksi sefoperazon sulbaktam 1 gram tiap 12 jam. Dua kali injeksi berhasil menurunkan leukosit menjadi 9,04 x 103/µL, suhu tubuh normal, dan nyeri berkurang, menunjukkan sensitivitas seftriakson bersifat intermediate dibanding sefoperazon-sulbaktam. Pembedahan dan perawatan luka bertekanan negatif tinggi meningkatkan perbaikan klinis. Pasien menolak amputasi dan meminta pulang. Pasien datang kontrol 5 hari kemudian dan direncanakan untuk rawat luka ulang. Namun, pasien meninggal sebelum jadwal kontrol berikutnya. Diagnosa dini, pemberian antibiotik, dan tindakan pembedahan dengan rawat luka intensif sangat penting untuk manajemen keberhasilan terapi FN dan merupakan tantangan yang perlu dipelajari lebih lanjut.
Pengaruh Faktor Usia, Polifarmasi, dan Komorbiditas terhadap Drug-Related Problems pada Pasien Diabates Melitus Tipe 2 Durotulailah, Lela; Alfian, Sofa Dewi; Puspitasari, Irma Melyani; Silanas, Ilman
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 12, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2023.12.3.61902

Abstract

Diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan salah satu penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat secara global. International Diabetes Federation (IDF) melaporkan bahwa lebih dari satu dari sepuluh individu dewasa di seluruh dunia menderita DM. Penyakit ini tidak hanya memberikan beban morbititas dan mortalitas tinggi, tetapi juga berkontribusi terhadap timbulnya berbagai kondisi penyerta (komorbiditas) yang kompleks. Kombinasi antara usia lanjut, polifarmasi, dan komorbiditas tersebut meningkatkan risiko terjadinya masalah terkait obat (drug-related problems/DRPs) pada pasien DM tipe 2, yang pada akhirnya dapat memengaruhi efektivitas pengobatan dan kualitas hidup pasien. Tujuan artikel review ini adalah mengidentifikasi pengaruh usia, polifarmasi, dan komorbiditas terhadap DRPs pada pasien DM tipe 2 baik di pelayanan rawat inap maupun rawat jalan. Penelitian ini menggunakan metode review dengan mengacu pada artikel-artikel yang diterbitkan dalam sepuluh tahun terakhir. Strategi pencarian artikel menggunakan data berbasis elektronik yaitu PubMed, Medline, dan Scopus. Hasil penelusuran artikel yang memenuhi kriteria inklusi diperoleh sebanyak 6 artikel.  Artikel yang terpilih menunjukkan bahwa faktor usia, polifarmasi, dan komorbiditas memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian DRPs pada pasien dewasa dengan DM tipe 2 di layanan kesehatan sehingg diperlukan manajemen pengobatan yang cermat dan pemantauan yang ketat oleh tenaga kesehatan terutama apoteker untuk mengidentifikasi, mencegah, dan menyelesaian DRPs secara dini, untuk mencapai perbaikan dalam kualitas hidup pasien.
Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antipsikotik Tipikal (Haloperidol) dan Atipikal (Risperidon) pada Pasien Skizofrenia di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Syahrina, Nadira Alvi; Barliana, Melisa Intan; Zakiyah, Neily; Iskandar, Shelly
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2024.13.2.61455

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan mental kronis yang membutuhkan terapi jangka panjang serta melibatkan biaya perawatan kesehatan yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas biaya antara penggunaan risperidon dibandingkan dengan haloperidol pada terapi skizofrenia, serta menganalisis faktor utama yang memengaruhi nilai efektivitas biaya pada rawat inap di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS) pada 2017–2018. Data dikumpulkan secara retrospektif dari perspektif penyedia layanan kesehatan, mencakup total biaya medis langsung baik yang ditanggung rumah sakit maupun oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Nilai efektivitas diukur dalam penurunan penurunan skor PANSS. Hasil menunjukkan bahwa nilai average cost-effectiveness ratio (ACER) risperidon adalah Rp527.002 per satuan penurunan PANSS, sedangkan haloperidol Rp357.374. Berdasarkan perhitungan incremental cost-effectiveness ratio (ICER), haloperidol menunjukkan nilai Rp486.809 per satuan penurunan PANSS dibandingkan risperidon. Meskipun ICER haloperidol lebih tinggi dari risperidon, hasil tersebut masih berada dalam ambang batas willingness to pay yang ditetapkan di Indonesia (berdasarkan 1–3 kali PDB per kapita), sehingga terapi haloperidol dapat dikategorikan sebagai cost-effective. Dari sisi efisiensi biaya, haloperidol menghasilkan penghematan sekitar Rp378.737 dibandingkan risperidon. Dengan demikian, terapi haloperidol lebih dominan secara ekonomi dan layak dipertimbangkan sebagai pilihan pengobatan yang lebih efisien bagi pasien skizofrenia rawat inap di RSHS Bandung.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 3 (2025) Vol 14, No 2 (2025) Vol 14, No 1 (2025) Vol 13, No 3 (2024) Vol 13, No 2 (2024) Vol 13, No 1 (2024) Vol 12, No 3 (2023) Vol 12, No 2 (2023) Vol 12, No 1 (2023) Vol 11, No 4 (2022) Vol 11, No 3 (2022) Vol 11, No 2 (2022) Vol 11, No 1 (2022) Vol 10, No 4 (2021) Vol 10, No 3 (2021) Vol 10, No 2 (2021) Vol 10, No 1 (2021) Vol 9, No 4 (2020) Vol 9, No 3 (2020) Vol 9, No 2 (2020) Vol 9, No 1 (2020) Vol 8, No 4 (2019) Vol 8, No 3 (2019) Vol 8, No 2 (2019) Vol 8, No 1 (2019) Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7, No 1 (2018) Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 4 (2017) Vol 6, No 4 (2017) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 4 (2016) Vol 5, No 4 (2016) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 4 (2015) Vol 4, No 4 (2015) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 4 (2014) Vol 3, No 4 (2014) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 4 (2013) Vol 2, No 4 (2013) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 1, No 4 (2012) Vol 1, No 4 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue