cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
ISSN : -     EISSN : 24600059     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Gigi Klinik or abbreviated to MKGK is a scientific periodical written in Indonesian language published by Dentistry Faculty of Gadjah Mada University twice a year on every June and December. The process of manuscript submission is open throughout the year
Arjuna Subject : -
Articles 182 Documents
Veneer direk dengan pasak fiber pada insisivus maksila pasca perawatan saluran akar Alberta Vianney Rahardjo; Yulita Kristanti
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 4, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65717

Abstract

Gigi nekrosis dengan tumpatan yang mengalami perubahan warna memerlukan perawatan saluran akar dan restorasi yang dapat mengembalikan estetik dan kekuatan gigi tersebut. Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk menginformasikan hasil perawatan saluran akar yang diikuti restorasi veneer direk resin komposit dengan pasak fiber pada gigi insisivus sentralis kiri maksila. Pasien wanita berusia 21 tahun ingin memperbaiki tambalan pada gigi depan atasnya yang berubah warna. Sekitar satu tahun yang lalu gigi tersebut pernah nyeri spontan dan pasien hanya minum obat untuk meredakan nyeri. Berdasarkan pemeriksaan subjektif, objektif, dan radiografis diperoleh diagnosis gigi insisivus sentralis kiri maksila nekrosis pulpa dengan lesi periapikal. Perawatan saluran akar dilakukan dengan teknik preparasi step back. Satu minggu setelah obturasi, dilakukan kontrol dan pemasangan pasak fiber yang dilanjutkan dengan restorasi veneer direk resin komposit. Hasil evaluasi klinis pada waktu kontrol menunjukkan restorasi masih utuh, tidak ada perubahan warna, tidak ada rasa nyeri pada perkusi dan palpasi. Kesimpulan perawatan saluran akar dan veneer direk dengan pasak fiber efektif untuk merawat gigi insisivus maksila nekrosis pulpa dengan lesi periapikal.
Toxic epidermal necrolysis dipicu oleh parasetamol dan kloramfenikol Hamdatun Rakhmania; Riani Setiadhi
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 4, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65718

Abstract

Toxic epidermal necrolysis (TEN) adalah peradangan sistemik akut yang melibatkan kulit, membran mukosa, epitel pernafasan dan pencernaan. Dalam banyak kasus, obat-obatan merupakan penyebab utama TEN akan tetapi dapat juga disebabkan oleh infeksi dan faktor resiko lain. Membran mukosa (rongga mulut, konjungtiva dan anogenital) adalah bagian tubuh yang paling awal terlibat pada TEN. Tujuan dari studi kasus membahas mengenai Toxic epidermal necrolysis yang dipicu oleh parasetamol dan kloramfenikol serta manajemen terapinya. Seorang wanita berumur 34 tahun mengeluh, empat hari sebelum rawat inap merasa pusing dan nyeri menelan, ia minum obat parasetamol dan kloramfenikol untuk mengobatinya. Tiga hari kemudian timbul luka pada kelopak mata dan bibir sehingga terasa nyeri saat membuka mata dan mulut. Pada bibir ditemukan krusta serosanguis yang mudah berdarah dan epidermolysis 32% pada kulit serta di mukosa oral terdapat lesi erosif, pseudomembran, eritem dan edema. Berdasarkan gambaran klinis, ditegakkan diagnosis TEN yang dipicu oleh parasetamol dan kloramfenikol. Terapi yang diberikan pada kunjungan pertama adalah kompres bibir dengan NaCl 0,9 %, 3 hari kemudian ditambahkan obat kumur chlorhexidine gluconate 0,1%. Mulai hari ke-7 ditambahkan terapi deksametason racikan dalam bentuk salep dan obat kumur. Setelah 10 hari menjalani perawatan, perih serta luka pada bibir dan rongga mulut sudah mengalami perbaikan, nyeri menelan pun berkurang. Kesimpulan: Tanda awal TEN adalah ruam dan lepuh pada mulut sehingga dokter gigi memiliki peranan penting dalam deteksi dini kelainan ini. Dokter gigi harus tanggap dan segera merujuk ke dokter spesialis kulit jika ditemukan tanda awal TEN, sehingga dapat segera diterapi sejak dini.
Retraksi kaninus segmental pada kasus gigi anterior maksila yang berjejal berat Katlya Anggraini; Soekarsono Hardjono; Sri Suparwitri
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 4, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65719

Abstract

Retraksi kaninus merupakan salah satu tahapan dari perawatan ortodonti pada kasus pencabutan, yang umumnya dilakukan setelah tahap levelling selesai dilakukan. Namun pada kasus gigi anterior yang berjejal berat, retraksi kaninus segmental seringkali diperlukan untuk menyediakan ruang demi tercapainya kesejajaran gigi-gigi anterior. Laporan kasus ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas retraksi kaninus segmental pada penanganan kasus gigi anterior maksila yang berjejal berat. Seorang pasien perempuan usia 13 tahun datang dengan keluhan gigi-geligi rahang atas dan bawah yang berjejal dan terdapat gigi depan kiri atas yang tumbuh lebih ke depan. Pemeriksaan objektif menunjukkan bidental protrusi, crowding rahang atas dan rahang bawah, open bite, cross bite, dan scissor bite. Pasien memiliki Maloklusi Angle Kelas II divisi 1 dengan relasi skeletal kelas II, bidental protrusi, open bite pada gigi 13 terhadap 43, dan 24 terhadap 34, cross bite pada gigi 15 terhadap 45, scissor bite pada gigi 25 terhadap 35, dan malposisi gigi individual. Pasien dirawat menggunakan alat ortodontik cekat teknik Edgewise dengan retraksi kaninus yang dilakukan secara segmental. Setelah 17 bulan perawatan, crowding rahang atas dan rahang bawah terkoreksi, malposisi gigi individual terkoreksi, cross bite terkoreksi, scissor bite terkoreksi namun open bite belum terkoreksi dan perawatan pada pasien masih berlangsung hingga saat ini. Retraksi kaninus segmental efektif untuk penanganan kasus gigi anterior maksila yang berjejal berat.
Pasak customized fiber dengan mahkota jaket komposit pada gigi fraktur Ellis kelas III Dyah Tri Kusumawati; Diatri Nari Ratih
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65720

Abstract

Gigi fraktur Ellis kelas III merupakan kasus fraktur mahkota dengan terbukanya pulpa. Fraktur mahkota yang luas dengan pulpa terbuka mengakibatkan terjadinya nekrosis pulpa sehingga memerlukan perawatan saluran akar. Laporan kasus ini bertujuan untuk mengevaluasi perawatan gigi fraktur Ellis kelas III dengan perawatan saluran akar dan restorasi pasak customized fiber reinforced composite (FRC) disertai mahkota jaket resin komposit. Pasien wanita, 17 tahun datang ke Klinik Konservasi FKG UGM untuk merawat gigi depan kanan atas yang patah 3 tahun lalu. Diagnosis gigi 11 Fraktur Ellis kelas III dengan nekrosis pulpa disertai lesi periapikal. Pasien dirawat dengan perawatan saluran akar multi kunjungan (meliputi pembersihan dan pembentukan, sterilisasi serta pengisian saluran akar), kemudian gigi direstorasi dengan restorasi pasak customized FRC disertai mahkota jaket resin komposit. Kesimpulan dari hasil evaluasi klinis dan radiografis saat kontrol tidak ada keluhan dan pasien merasa puas.
Custom split dowel core pada gigi posterior pasca perawatan saluran akar Elvina Dewi; Wignyo Hadriyanto
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65721

Abstract

Perawatan saluran akar bukan sekedar melakukan perawatan untuk menyelamatkan gigi yang rusak namun mempertimbangkan juga bagaimana agar setelah dirawat gigi tersebut dapat bertahan lama menjalankan fungsinya didalam rongga mulut. Pada gigi pasca perawatan saluran akar dengan kerusakan yang luas diperlukan pemasangan pasak untuk memperkuat struktur gigi yang tersisa. Laporan kasus ini bertujuan untuk mengevaluasi gigi dengan kerusakan yang luas dan anatomi saluran akar distal yang lebar, pasca perawatan saluran akar dan crown lengthening dengan restorasi mahkota porselin fusi metal dan custom split dowel core. Seorang wanita berusia 22 tahun datang ke klinik Konservasi Gigi RSGM UGM Prof. Soedomo untuk memeriksakan gigi geraham bawah kirinya yang sudah ditambal sejak sekitar 2 tahun yang lalu. Satu tahun setelah ditambal, gigi tersebut kadang muncul rasa sakit jika digunakan untuk mengunyah makanan dan merasa kurang nyaman ketika minum minuman yang hangat. Diagnosis gigi #37 adalah karies profunda dengan nekrosis pulpa. Perawatan yang dipilih pada kasus ini adalah perawatan saluran akar dan crown lengthening dilanjutkan dengan restorasi mahkota porselin fusi metal dengan custom split dowel core. Hasil pemeriksaan pada kontrol 1 bulan, menunjukkan hasil restorasi yang baik, pasien tidak menunjukkan adanya keluhan. Kesimpulan perawatan ini adalah penggunaan custom split dowel core efektif memperkuat gigi karena pasak tersebut mampu mengisi sesuai bentuk saluran akar yang ada serta menyediakan ferrule yang cukup untuk restorasi akhirnya nanti.
Perawatan perforasi bifurkasi dengan Mineral Trioxide Aggregate (MTA) dan restorasi resin komposit desain preparasi onlei Enny Yuliati; Tunjung Nugraheni
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65722

Abstract

Perforasi dapat terjadi karena karies yang dalam, proses resorpsi maupun kejadian iatrogenik pada saat dan setelah perawatan saluran akar. Pemakaian Mineral Trioxide Aggregate (MTA) pada penutupan perforasi furkasi memberikan kerapatan yang lebih baik dibandingkan material penutup yang lain. Studi kasus ini melaporkan penutupan perforasi bifurkasi menggunakan MTA pada perawatan saluran akar gigi molar satu kiri mandibula nekrosis pulpa dilanjutkan restorasi resin komposit kavitas kelas II desain preparasi onlei dan pasak fiber prefabricated. Pasien perempuan berusia 45 tahun datang ke klinik Konservasi RSGM Prof. Soedomo atas rujukan dari puskesmas dengan keluhan ingin merawat gigi belakang kiri bawahnya yang sakit dan bengkak dua minggu yang lalu. Diagnosis kasus ini adalah gigi 36 nekrosis pulpa disertai lesi periapikal dan perforasi bifurkasi. Preparasi saluran akar dengan teknik crown down menggunakan protaper hand use. MTA diaplikasikan diatas area perforasi. Obturasi saluran akar dengan teknik single cone. Enam bulan setelah penutupan perforasi bifurkasi dan perawatan saluran akar, dilanjutkan restorasi resin komposit kavitas kelas II desain preparasi onlei dan pasak fiber prefabricated. Kasus gigi molar satu kiri bawah yang mengalami perforasi bifurkasi dapat disembuhkan dengan penggunaan MTA sebagai bahan penutup perforasi. Evaluasi pasca pengaplikasian MTA dilakukan setelah 6 bulan menunjukkan hasil yang cukup memuaskan dengan ditandai area radiolusensi yang mengecil di bawah bifurkasi dan bagian apikal akar mesial.
Penatalaksanaan gigi fraktur ellis kelas III dengan pulpektomi dan restorasi resin komposit dengan penguat pasak fiber prefabricated I Gusti Ayu Fienna Novianthi Sidiartha; Wignyo Hadriyanto
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65723

Abstract

Seorang wanita usia 18 tahun datang ke klinik Konservasi RSGM UGM Prof. Soedomo dengan keluhan gigi depan atas sakit saat menggigit makanan. Gigi depan atas fraktur oleh karena terjatuh sejak 6 tahun yang lalu. Fraktur melibatkan ½ panjang mahkota gigi dan sudah mencapai pulpa berdasarkan gambaran radiograf dan diklasifikasi sebagai fraktur Ellis kelas III. Tujuan studi kasus adalah untuk mengevaluasi keberhasilan perawatan pulpektomi dan restorasi resin komposit dengan pasak fiber pada gigi yang mengalami trauma. Riwayat ditambal tiga kali namun selalu terlepas. Saat ini dilakukan perawatan pulpektomi dilanjutkan restorasi resin komposit dengan pasak fiber prefabricated. Pemilihan pasak fiber prefabricated karena memiliki fleksibilitas dan elastisitas yang menyamai dentin, serta mampu mengisi saluran akar secara tiga dimensi. Seminggu kemudian restorasi berhasil dengan baik dan tidak ada keluhan saat menggigit makanan. Gigi fraktur ellis kelas III dapat dilakukan restorasi resin komposit dengan penguat pasak fiber prefabricated setelah pulpektomi.
Crown lengthening disertai perawatan saluran akar dengan restorasi pasak parallel self threading dan mahkota penuh fusi metal Ilma Yudistian; Tri Endra Untara
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65724

Abstract

Mahkota klinis pendek menimbulkan permasalahan pembuatan restorasi mahkota kurang adekuat sehingga perlu dilakukan tindakan operatif, disebut fungsional crown lengthening. Tujuan laporan kasus ini untuk menginformasikan hasil perawatan crown lengthening agar didapat ferrule effect untuk restorasi mahkota penuh porselin fusi metal disertai pasak radix anchor. Pasien laki-laki 17 tahun datang ke RSGM UGM Prof. Soedomo untuk menambalkan gigi belakang kanan bawah berlubang dengan riwayat sakit spontan, saat datang tidak sakit. Pemeriksaan klinis, gigi 45 nekrosis, kavitas permukaan distal subgingiva. Radiograf menunjukkan kavitas mencapai pulpa, dasarnya hampir sejajar puncak tulang alveolar disertai lesi periapikal. Awalnya, dilakukan crown lengthening pada daerah distal, seminggu setelahnya dilakukan perawatan satu saluran akar multi kunjungan, kemudian dilakukan preparasi dan insersi radix anchor menggunakan semen resin, sekaligus pembuatan core, dilanjutkan preparasi mahkota penuh, kemudian dicetak dengan tehnik double impression. Mahkota penuh PFM diinsersikan dengan semen resin. Hasil evaluasi enam bulan, tidak ada keluhan dari pasien, dan adaptasi tepi restorasi baik. Dengan pemilihan kasus dan diagnosis yang tepat serta prosedur perawatan dan restorasi adekuat maka perawatan saluran akar dapat berhasil dan tahan lama.
Teknik sementasi ekstraoral untuk mencegah kelebihan semen di sekitar implan Setyawan Bonifacius; Ira Komara; Dyah Nindita Carolina
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 5, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65725

Abstract

Pembersihan kelebihan semen yang tidak adekuat dapat menginisiasi terjadinya proses inflamasi sekitar implan. Pemilihan jenis koneksi dan teknik sementasi implan dan restorasi adalah dua aspek yang harus diperhatikan untuk menunjang keberhasilan implan. Teknik sementasi restorasi yang dilakukan ekstraoral dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk mencegah terjadinya kelebihan semen di sekitar implan. Studi kasus ini bertujuan untuk menunjukkan metode dalam mengurangi risiko kelebihan semen yang terakumulasi di sekitar implan. Pasien laki-laki, usia 50 tahun datang dengan keluhan kehilangan gigi regio 35 dan 36, ingin dibuatkan protesa implan untuk mengganti gigi 35 dan 36. Hasil radiograf CBCT tidak ada kontraindikasi untuk implan dan pasien tidak ada riwayat penyakit sistemik. Bedah implan dilakukan di regio 35 dan 36. Fase pemasangan restorasi mahkota pada implan dilakukan dengan teknik sementasi ekstraoral pada gigi 35 dan 36. Manfaat utama dari sementasi ekstra oral adalah untuk menghilangkan secara langsung kelebihan semen di sekitar margin. Teknik ini mengurangi risiko terjadinya inflamasi pada jaringan lunak dan kehilangan tulang di sekitar implan. Teknik sementasi ekstraoral dapat menjadi salah satu alternatif untuk mencegah terjadinya kegagalan implan yang disebabkan karena kelebihan semen yang tertinggal di sekitar implan.
Perawatan bedah regeneratif periodontal pada kasus periodontitis Dyah Nindita Carolina; Ina Hendiani; Agus Susanto; Nunung Rusminah
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 5, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65726

Abstract

Kerusakan tulang alveolar pada kasus periodontitis membutuhkan perawatan bedah regeneratif periodontal dengan bahan bone graft untuk merangsang pertumbuhan tulang alveolar, dikombinasikan dengan Platelet Rich Fibrin (PRF) atau membran alloplastik sebagai Guide Tissue Regeneration (GTR). Studi kasus ini bertujuan untuk menunjukan perawatan koreksi defek tulang alveolar pada kasus periodontitis dengan bedah regeneratif periodontal. Pasien wanita berusia 50 tahun mengeluhkan gigi belakang rahang atas kanan dan kiri terasa goyang dan sakit. Temuan klinis dan radiograf terdapat poket dengan rata-rata kedalaman 7 dan 8 mm pada bagian bukal mesial dan distal pada gigi 16, 15 dan 26, kegoyangan gigi derajat 1, dan kerusakan tulang vertikal mencapai 1/3 tengah akar gigi 16,15 dan 26. Pasien mendapatkan perawatan scaling inisial, penghalusan akar, dan penyesuaian oklusi, dilanjutkan bedah periodontal gigi 16, 15 dan 26. Pada prosedur flap dilakukan debridemen poket dan eliminasi jaringan granulasi dilanjutkan pemberian bone graft dengan PRF pada gigi 16, 15 dan pemberian bone graft dengan membran alloplastik (periosteum) pada gigi 26. Penutupan flap dengan penjahitan interdental interrupted. Bedah periodontal regeneratif dilakukan untuk menghasilkan terbentuknya pertumbuhan jaringan periodontal yang baru dan mengembalikan perlekatan jaringan ikat pada gigi. Evaluasi sesudah bedah regeneratif periodontal terlihat bahwa pada kombinasi bone graft dengan PRF atau membran alloplastik (periosteum) menunjukkan penurunan Clinical Attachment Loss (CAL) dan radiograf menunjukkan bertambahnya ketinggian tulang alveolar. Perawatan bedah regeneratif periodontal kombinasi bone graft dengan PRF atau membran alloplastik (periosteum) dapat meningkatkan perlekatan jaringan periodontal pada kasus periodontitis.

Page 9 of 19 | Total Record : 182