cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
ISSN : -     EISSN : 24600059     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Gigi Klinik or abbreviated to MKGK is a scientific periodical written in Indonesian language published by Dentistry Faculty of Gadjah Mada University twice a year on every June and December. The process of manuscript submission is open throughout the year
Arjuna Subject : -
Articles 182 Documents
Penatalaksanaan noma pada pasien limfoma non hodgkin Ummi Pratiwi; Tenny Setiany Dewi
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 3, No 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.60123

Abstract

Noma merupakan infeksi oportunis polimikroba yang progresif dan destruktif pada jaringan lunak dan keras orofasial yang dapat menyebabkan gangren orofasial, sepsis, deformitas fasial, hingga kematian. Tujuan studi kasus adalah untuk memaparkan penatalaksanaan noma pada pasien limfoma non Hodgkin. Pasien laki-laki berusia 18 tahun dirujuk dari bagian Ilmu Penyakit Dalam dengan diagnosis Limfoma non Hodgkins (relaps), malnutrisi terkait kanker, dan sepsis.Keluhan pasien meliputi bengkak di bibir atas dan bawah, luka di sudut bibir, serta tidak bisa makan. Keadaan umum  pasien malaise disertai peningkatan respirasi. Ekstraoral ditemukan limfadenopati submandibula, edema, ulserasi, pewarnaan hitam keabu-abuan, dan krusta pada labium superius oris dan inferius oris hingga ke regio perioral dan filtrum. Intraoral ditemukan halitosis, edema pada seluruh margin gingiva dan papila interdental rahang atas dan bawah. Hematologi menunjukkan peningkatan laju enap darah, penurunan kadar hemoglobin, hematokrit, eritrosit, dan trombosit. Pada kultur bakteri ditemukan Pseudomonas aeruginosa dan Klebsiella pneumonia, serta uji sensitivitas antibiotik menunjukkan resistensi multi obat. Lesi bibir didiagnosis sebagai noma. Diberikan terapi nutrisi, rehidrasi, antibiotik lokal dan sistemik spektrum luas, dan obat kumur antiseptik. Pasien mengalami pemulihan lesi disertai defek bibir setelah 3 bulan perawatan bersama multidisiplin terkait dan direncanakan akan dilakukan bedah rekonstruksi bibir. Imunokompromi akibat Limfoma non Hodgkin yang relaps dan komplikasi oral kemoterapi, malnutrisi, serta oral hygiene buruk dapat dipertimbangkan sebagai predisposisi utama terhadap perkembangan noma pada pasien dalam laporankasus ini. Deteksi dini dan akurat dari noma merupakan hal esensial sehingga penatalaksanaan yang tepat dapat dicapai dengan baik melalui kerja sama multidisiplin terkait.
Perawatan saluran akar dengan restorasi resin komposit teknik semi-indirek disertai penguat pita fiber Isyana Ginarsi Kalalembang; Raphael Tri Endra Untara
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.61362

Abstract

Perawatan saluran akar merupakan perawatan konservatif non bedah pada gigi dengan kerusakan atau kematian pulpa. Tahapannya meliputi pembersihan, pembentukan, sterilisasi serta pengisian saluran akar. Laporan kasus ini bertujuan untuk memaparkan keberhasilan perawatan saluran akar dengan restorasi resin komposit teknik semi-indirek disertai penguat pita fiber. Seorang pasien wanita usia 42 tahun datang ke RSGM UGM Prof. Soedomo untuk menambalkan gigi belakang kiri bawah yang berlubang. Terdapat kavitas pada bagian oklusal hingga mesial dengan pulpa terbuka. Gigi pernah sakit spontan, namun saat datang tidak ada rasa sakit. Pemeriksaan radiograf menunjukkan kavitas telah  mencapai pulpa disertai lesi periapikal. Restorasi resin komposit teknik semi-indirek dengan penguat pita fiber dipilih dengan mempertimbangkan sisa jaringan keras gigi yang ada untuk mencegah gigi fraktur, memudahkan contouring serta mengurangi waktu kunjungan. Pencetakan flexible model dengan irreversible hydrocolloid, diisi dengan light body dan putty, aplikasi resin komposit onlei lalu dilakukan polimerisasi. Hasil evaluasi setelah enam bulan menunjukkan adaptasi tepi restorasi baik, tidak terdapat keluhan dan hasil pemeriksaan radiograf menunjukkan lesi periapikal mengecil. Dapat disimpulkan bahwa dengan pemilihan kasus dan diagnosis yang tepat serta restorasi yang adekuat maka perawatan saluran akar dapat berhasil dan tahan lama.
Perawatan saluran akar dengan instrumen putar dan restorasi resin komposit penguat fiber Andina Widyastuti; Pribadi Santosa
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.61407

Abstract

Perawatan saluran akar (PSA) merupakan perawatan dengan prinsip triad endodontic (cleaning and shaping, medikasi dan obturasi saluran akar). Pulpitis ireversibel merupakan salah satu indikasi dilakukannya pulpektomi (PSA pada gigi vital). Restorasi gigi posterior pasca PSA dengan jaringan sehat gigi yang adekuat dapat dilakukan menggunakan resin komposit dengan penguat pasak fiber prefabricated. Studi kasus ini bertujuan untuk menunjukkan keberhasilan PSA pulpitis ireversibel dengan restorasi akhir menggunakan resin komposit yang diperkuat pasak fiber prefabricated. Pasienperempuan berusia 26 tahun datang ke klinik Konservasi Gigi RSGM UGM Prof. Soedomo dengan keluhan nyeri pada gigi geraham kanan bawah setelah mengunyah makanan. Nyeri dirasakan berdenyut dengan durasi semalaman hingga pagi harinya. Gigi tersebut pernah dilakukan perawatan kaping pulpa satu bulan sebelumnya. Pemeriksaan radiografmenunjukkan terdapat kavitas dengan pulpa terbuka pada permukaan distal gigi 46. Diagnosa kasus ini adalah pulpitis ireversibel disertai periodontitis apikalis. Dilakukan perawatan saluran akar multi kunjungan menggunakan instrumen putar (ProTaper NextTM, Dentsply Maillefer, Ballaigues, Switzerland) pada gigi 46. Satu minggu pasca PSA dilakukan tumpatan resin komposit dengan penguat pasak fiber prefabricated. Evaluasi satu minggu pasca restorasi menunjukkan kondisi klinis baik dan tidak ada keluhan yang dirasakan pasien. Perawatan saluran akar dengan instrumen putar disertai restorasi resin komposit dengan penguat pasak fiber prefabricated menunjukkan keberhasilan pada kasus pulpitis ireversibel dengan periodontitis apikalis.
Gigi tiruan lengkap kerangka logam sebagai alternatif perawatan pasien dengan refleks muntah Ardhianing Hardita; Heriyanti Amalia Kusuma; Titik Ismiyati; Erwan Sugiatno
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.61408

Abstract

Refleks muntah merupakan mekanisme pertahanan tubuh yang normal untuk mencegah benda asing masuk ke dalam trakea, faring, atau laring. Ada beberapa tingkatan refleks muntah pada pasien yaitu dari ringan hingga berat. Pasien dengan refleks muntah ringan jika diberi stimulus dapat merasa mual namun dapat mengkontrol respon tersebut. Pasien yang memiliki refleks muntah lebih berat menunjukkan respon yang berlebihan ketika diberi stimulus fisik atau psikologis, pada kategori ini pasien mungkin tidak dapat menerima Tindakan pencetakan, prosedur operatif, atau insersi gigi tiruan. Permukaan basis gigi tiruan akrilik yang halus jika dilapisi oleh saliva mengakibatkan sensasi licin sehingga timbul refleks muntah dan mual pada pasien. Basis gigi tiruan lengkap yang dibuat dari bahan kerangka logam memiliki kekasaran pada permukaan palatal seperti rugae palatina dan lebih tipis sehingga lebih nyaman digunakan oleh pasien. Penggunaan kerangka logam sebagai basis gigi tiruan lengkap dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi refleks muntah pasien. Tujuan laporan kasus ini yaitu mengkaji kemampuan gigi tiruan lengkap kerangka logam untuk mengurangi refleks muntah pada pasien. Kasus: Pasien laki-laki, 58 tahun datang dengan keluhan kesulitan menggunakan gigi tiruan yang lama karena refleks muntah yang dialami pasien. Pemeriksaan intraoral menunjukkan daerah tidak bergigi pada seluruh rahang atas dan bawah pasien. Tata laksana kasus: Anamnesa, pemeriksaan klinis, dan rehabilitasi protesa gigi tiruan lengkap kerangka logam pada rahang atas dan bawah. Kesimpulan: Gigi tiruan lengkap kerangka logam dapat mengurangi refleks muntah pada pasien.
Gigi tiruan sebagian lepasan immediate pada pasien dengan periodontitis agresif Iwa Arya Sakti; Suparyono Saleh; Erwan Sugiatno; Endang Wahyuningtyas
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.61412

Abstract

Gigi tiruan sebagian lepasan immediate adalah gigi tiruan yang proses pemasangannya dalam mulut pasien, dilakukan langsung setelah pencabutan gigi. Periodontitis agresif merupakan salah satu bentuk penyakit periodontal yang memiliki karakteristik berupa kerusakan jaringan periodontal yang parah dan cepat. Biasanya terjadi pada usia muda dengan kesehatan sistemik yang baik. Hal ini menyebabkan terjadinya kegoyahan hingga lepasnya gigi menjadi lebih cepat. Studi kasus ini bertujuan untuk mengkaji penatalaksanaan perawatan gigi tiruan sebagian lepasan immediate paska pencabutan gigi akibat periodontitis agresif untuk mengembalikan estetik, fonetik dan mastikasi. Pasien laki-laki usia 35 tahun datang ke RSGM UGM Prof Soedomo ingin mencabutkan gigi depan yang goyang dan ingin langsung memakai gigi tiruan karena pasien tidak mau terlihat ompong. Pada pemeriksaan intra oral gigi 16, 21, 25, 34, 44 dan 46 sudah hilang, gigi 13, 12, 11 dan 22 goyang derajat 3 serta gigi 14, 23 dan 24 goyang derajat 2. Pada gigi 33, 32, 31, 41, 42 dan 43 sudah dilakukan splinting karena mengalami kegoyahan dan resesi gingiva yang parah. Anamnesa, pemeriksaan klinis, splinting gigi 15, 14, 13, 23 dan 24, pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan immediate, pencabutan gigi 12, 11 dan 22 dilanjutkan pemasangan gigi tiruan sebagian lepasan immediate serta dilakukan pengecekan estetik, fonetik dan oklusi. Pada saat kontrol terlihat estetik pasien menjadi lebih baik, pengucapan menjadi lebih jelas serta proses mastikasi menjadi lebih baik. Gigi tiruan sebagian lepasan immediate dapat memperbaiki estetik, fonetik dan mastikasi paska dilakukan pencabutan secara langsung pada pasien dengan periodontitis agresif.
Gambaran CBCT osteomyelitis dan osteoradionecrosis Anak Agung Gede Dananjaya Agung; Lusi Epsilawati; Merry Anissa Damayanti
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.61413

Abstract

Osteomyelitis adalah peradangan yang terjadi pada tulang termasuk pada tulang rahang. Inflamasi ini menyebar dengan melibatkan sumsum pada spongios tulang bahkan sampai ke korteks dan periosteum. Osteomielitis disebabkan adanya invasi dari organisme piogenik yang masuk menginfeksi tulang dari berbagai macam cara. Osteoradionekrosis merupakan kondisi kematian jaringan tulang dikarenakan bebrapa hal seperti penggunaan radioterapi. Radioterapi merupakan salah satu penyebab umum dikeranakan radioterapi dapat merusak jaringan veskularisasi dan darah pada tulang, sehingga tulang menjadi kekurangan nutrisi yang akhirnya mengarah ke kondisi nekrosis. Untuk menganalisis kedua kondisi ini, biasa digunakan cone beam computed tomografi (CBCT). Tujuan dari penulisan studi kasus ini adalah untuk memberikan gambaran spesifik antara osteomielitis dan osteonekrosis pada CBCT. Wanita berusia 48 dan 55 tahun datang ke RSGM UNPAD Bandung dengan keluhan adanya pembengkakan di regio mandibula disertai rasa sakit luar biasa. Kondisi umum compos mentis akan tetapi sangat lemah, lalu dirujuk untuk pemeriksaan CBCT. Pemeriksaan CBCT terlihat lesi nekrotik pada mandibula dengan tingkat keparahan antara kedua pasien berbeda. CBCT memberikan gambran spesifik yang membedakan antara kedua kasus, sehingga diagnosa dapat ditegakkan secara pasti. Jenis osteomiletis yang merupakan kondisi inflamasi pada rahang mampu didefinisikan dengan baik melalui CBCT.
Apeksifikasi dan restorasi veneer direk resin komposit pada insisivus sentralis maksila Pita Adinegara; Tunjung Nugraheni
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65656

Abstract

Trauma pada gigi permanen immature dengan pulpa terbuka dapat menyebabkan inflamasi pulpa akibat terjadi perubahan sirkulasi darah pulpa, yaitu terjadi dilatasi pembuluh darah kapiler, diikuti edema pulpa. Laporan kasus ini bertujuan untuk memaparkan keberhasilan penggunaan MTA (Mineral Trioxide Aggregate) sebagai bahan apeksifikasi, dilanjutkan restorasi veneer direk resin komposit pada gigi insisivus sentralis kanan dan kiri maksila. Pasien wanita berusia 19 tahun dirujuk ke RSGM Prof. Soedomo oleh dokter gigi sebelumnya untuk merawatkan gigi depan atas yang patah 10 tahun yang lalu karena terbentur benda keras. Seminggu yang lalu gusi pada gigi tersebut bengkak dan sakit. Berdasarkan pemeriksaan subjektif, objektif, dan radiografis ditetapkan diagnosis gigi insisivus sentralis kanan maksila dan gigi insisivus sentralis kiri maksila adalah fraktur Ellis Kelas I, nekrosis pulpa disertai abses periapikal dan apeks terbuka. Rencana perawatan pada kasus ini yaitu dilakukan trepanasi,preparasi saluran akar teknik konvensional, apeksifikasi dengan MTA, obturasi dengan guta perca, dan dilanjutkan restorasi veneer direk resin komposit sesuai analisis estetik serta hasil mock up. Prognosis kasus ini adalah baik. Hasil evaluasi klinis pasca perawatan, pasien menyatakan tidak ada keluhan bengkak dan sakit, serta merasa puas dengan perawatan yang telah dilakukan. Kesimpulan hasil perawatan yaitu tindakan apeksifikasi dengan MTA dapat mempersingkat waktu kunjungan karena terbentuknya barier apikal, sehingga restorasi akhir dapat segera dilakukan.
Fraktur Ellis kelas III dengan restorasi mahkota jaket porselin dan pasak fiber prefabricated Prisca Bernadeti Sri Widayanto; Wignyo Hadriyanto
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65682

Abstract

igi anterior memiliki fungsi estetika yang penting, sehingga ketika trauma terjadi perawatan harus segera dilakukan. Fraktur koronal gigi anterior adalah bentuk umum dari trauma gigi yang sering terjadi pada anak-anak dan dewasa. Mayoritas trauma gigi melibatkan gigi anterior, terutama gigi insisivus maksila. Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan penatalaksanaan fraktur Ellis kelas III dengan perawatan saluran akar dan restorasi mahkota jaket porselen yang diperkuat pasak fiber prefabricated. Pasien wanita berusia 22 tahun datang dengan keluhan gigi depan atas patah 2 bulan yang lalu, gusi bagian belakang bengkak 3 minggu yang lalu dan terasa sakit, saat ini gigi tersebut tidak terasa  sakit (gigi 22). Pemeriksaan radiografis menunjukkan bahwa fraktur pada gigi 22 telah menyebabkan pulpa terbuka dan terdapat area radiolusen di daerah apikal berdiameter 5 mm. Restorasi akhir pada kasus ini adalah mahkota jaket porselen e.max dengan teknik stop. Hasil pemeriksaan pada kontrol 3 minggu, pasien tidak menunjukkan adanya keluhan, lesi periapikal mengecil, dan hasil restorasi yang baik.
Overdenture kaitan magnet pada rahang atas dengan torus palatinus Ricky Novianto; Murti Indrastuti; Haryo Mustiko Dipoyono; Heriyanti Amalia Kusuma
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65684

Abstract

Torus palatinus dapat menjadi masalah bagi retensi gigi tiruan lengkap. Overdenture merupakan gigi tiruan lengkap atau sebagian yang didukung oleh mucoperiosteum dan beberapa gigi atau akar gigi asli yang telah mengalami perawatan endodontik. Penambahan kaitan magnet pada gigi penyangga overdenture dapat meningkatkan retensi gigi tiruan. Laporan kasus ini bertujuan untuk memberi informasi tentang penatalaksanaan perawatan prostodonsia pada rahang atas dengan torus palatinus menggunakan gigi tiruan lengkap kerangka logam dengan overdenture kaitan magnet. Wanita 49 tahun datang ke klinik prostodonsia RSGM UGM Prof.Soedomo dengan keluhan ingin dibuatkan gigi tiruan. Pasien mengeluh banyak gigi atas dan bawah yang telah dicabut karena karies sehingga kesulitan dalam mengunyah. Hasil pemeriksaan pada rahang atas menunjukkan adanya torus palatinus, dan hanya tersisa gigi 23 dengan kondisi non vital dan telah dilakukan perawatan endodontik. Pasien kehilangan gigi 37,36,34,44,45,46,47 pada rahang bawah. Anamnesa, pemeriksaan klinis, pencetakan model studi, gigi 23 dipertahankan sebagai penyangga overdenture magnet, dipreparasi berbentuk dome shaped, dilakukan pengambilan guta perca sesuai dengan panjang keeper, sementasi keeper. Pencetakan model kerja, pembuatan kerangka logam gigi tiruan lengkap rahang atas dengan plat palatal yang terbuka di bagian torus palatinus dan kerangka logam gigi tiruan sebagian rahang bawah, penyusunan gigi dan pasang coba penyusunan gigi pada pasien, prosesing laboratorium, lalu insersi seluruh gigi tiruan, dilakukan pengecekan estetis, fonetik dan oklusi lalu pada gigi tiruan rahang atas dilakukan pemasangan kaitan magnet pada permukaan fitting surface. Penggunaan overdenture dengan kaitan magnet dapat meningkatkan retensi pada gigi tiruan lengkap rahang atas dengan torus palatinus.
Penatalaksanaan defek residual rigde posterior mandibula dengan overdenture kaitan magnet Sradha Putra; Titik Ismiyati; Suparyono Saleh; Heriyanti Amalia Kusuma
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65685

Abstract

Overdenture merupakan perawatan yang dapat diterima oleh pasien lanjut usia dengan satu gigi atau lebih yang tersisa dalam rongga mulut. Kehilangan dimensi vertikal oklusi pasien dapat menyebabkan gigi posterior yang tersisa menekan residual rigde pada rahang antagonis sehingga terjadi defek tulang alveolar. Defek residual rigde rahang bawah mengganggu retensi gigi tiruan. Kaitan magnet pada overdenture dapat menambah retensi gigi tiruan. Tujuan laporan ini memberikan pemilihan perawatan mengenai defek residual rigde posterior mandibula akibat tekanan gigi 16 dengan menggunakan overdenture kaitan magnet. Pasien perempuan berusia 64 tahun datang ke klinik Prostodonsia RSGM Prof. Soedomo untuk dibuatkan gigi tiruan. Pasien kehilangan gigi 17, 15, 14, 11, 21, 22, 24, 25, 26, 27 pada rahang atas. Pada rahang bawah, hanya tersisa gigi 45 dan terjadi kehilangan oklusi gigi posterior yang menyebabkan gigi 16 meninggalkan defek residual rigde pada regio 46 posterior mandibula kanan. Tatalaksana kasus perawatan saluran akar gigi 45, dekaputasi mahkota gigi berbentuk dome shaped, penggambilan guta percha sesuai dengan panjang keeper, sementasi keeper. Setelah insersi gigi tiruan dilakukan pemasangan kaitan magnet pada permukaan fitting surface. Kesimpulan overdenture kaitan magnet dapat meningkatkan retensi gigi tiruan pada defek residual rigde pada posterior mandibula.

Page 8 of 19 | Total Record : 182