cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
ISSN : -     EISSN : 24600059     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Gigi Klinik or abbreviated to MKGK is a scientific periodical written in Indonesian language published by Dentistry Faculty of Gadjah Mada University twice a year on every June and December. The process of manuscript submission is open throughout the year
Arjuna Subject : -
Articles 182 Documents
Allergenic food as a triggering factor of oral pemphigus vulgaris recurrence Dewi Puspasari; Irna Sufiawati
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.54469

Abstract

chronic autoimmune disease with blisters and erosions in the skin and or mucous membranes as its clinical manifestation. The ruptured blisters, followed by erosions and ulcerations, in oral mucous can be painful and interferes the oral function. Spices and seasoning, rich in thiols and isothiocyanates group (garlic, red chillies, black pepper, coriander and cumin seeds), able to trigger the recurrence of pemphigus vulgaris. This case report discussed the allergenic food to tigger the oral lesions in a 49 years old male patient with the diagnosis pemphigus vulgaris who was referred from The Dermatolgy Department. Since about 4 days before admitted to the hospital, the patient complained of painful ulcerations and blisters in the oral cavity that appeared after consuming the spices and seasoning food. Oral lesions caused difficulty in speaking, eating, and drinking, thus led to weight loss. The patient was uncooperative during treatment. Extraoral examination revealed painful erosions and crust on lips which tend to bleed easily. Intraoral examination revealed painful multiple erosions which interfered oral function. The oral lesions showed improvement after being treated using topical corticosteroid, topical antiseptic, antifungal suspension, and multivitamin. Pemphigus vulgaris caused by acantholysis due to autoantibodies IgG against desmogleins 1 and or 3. Tiol and isothiocyanates compound in spices and seasonings of food is one of the triggering factor of recurrence in oral lesions of pemphigus vulgaris
Tooth exposure using closed eruption modification techniques in orthodontic treatment in postgnatoplasty patients Miftah Dharma Yanthi; Cahya Yustisia Hasan; Bambang Dwirahardjo
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.54470

Abstract

Cleft lip, alveolar cleft, and cleft palate are the most common disorder of all congenital abnormalities of the face, with an incidence of 65%. The initial treatment for this patient are labioplasty and palatoplasty that can affect the growth and development of the jaws. The next treatment are alveolar cleft closure and orthodontics treatment that are needed to obtain optimal results. Orthodontics treatment of patient with cleft lip, alveolar cleft, and cleft palate is difficult due to the lack of growth in the vertical and anteroposterior direction, abnormal shape and position of the teeth, impacted and disability of the teeth to erupt spontaneously. Thus, surgical treatment to support the success of orthodontics treatment is needed. Twelve year old female patient with a history of cleft lip, alveolar cleft, and cleft palate was presented. A labioplasty, palatoplasty, and gnatoplasty surgery (alveolar cleft closure procedure) was performed in 2013, when a bone graft from the patients’ iliac bone was placed on the alveolar cleft area. Radiographic examination showed transposition of canine (23) with premolar (24) thus spontaneous eruption was impossible. Surgical intervention of tooth exposure using closed technique modification to move the canine into the expected place was performed. The canine was successfully erupted and moved to its mesial position. This predictable result was found 6 months after surgery
A Case of third molar autotransplantation into first molar recipient site with periapical granuloma Yuni Rahmawati; Maria Goreti Widiastuti; Poerwati Soetji Rahajoe
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.54471

Abstract

Autotransplantation of molar is a potential treatment option to restore perfect occlusion and to improve mastication following a substantial loss of molars. A succesful transplantation depends on the general patient condition, the donor tooth, and the recipient site. An ideal recipient site should have sufficient alveolar bone support, periodontal, and tissue and absence of chronic inflamation. We reported a case of third molar autotransplantation to first molar with periapical granuloma as recipient site with one year follow-up. Autotransplantation process started with an adequate curettage of the recipient site immediately, followed by atraumatic donor tooth extraction. The result of clinical and radiological examination showed no pain, no tooth mobility, and no inflammation at periapical first molar region. Periapical granuloma at the recipient site is not an absolute contraindication of autotransplantation. Extra-alveolar period and atraumatic extraction of the donor tooth during autotransplantation affected the condition of periodontal ligament
Pendekatan Psikologis pada Penatalaksanaan Burning Mouth Syndrome Akibat Konsumsi Pil Kontrasepsi Rita Wardhani; Tenny Setiani Dewi
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.34142

Abstract

Burning Mouth Syndrome (BMS) merupakan suatu kumpulan gejala dengan karakteristik rasa panas dan sakit pada satu atau beberapa struktur mulut dengan mukosa normal tanpa adanya gejala klinis yang ditemukan. Faktor penyebab BMS ini diketahui ada tiga yaitu faktor lokal, sistemik, dan psikogenik, ketiga faktor ini dapat digali melalui anamnesis. Seorang wanita, 54 tahun, dikonsulkan dari RS.Swasta, dengan keluhan rasa panas dan perih pada lidah dan mulut. Berdasarkan anamnesis diketahui pasien merasa takut terjadi kanker mulut dan takut hamil sehingga menggunakan pil kontrasepsi  tanpa konsultasi dengan dokter. Pemeriksaan ekstra oral terdapat  bibir kering dan pemeriksaan intra oral ditemukan depapilasi lidah pada 1/3 anterior dorsum lidah,eritema, dan sakit. Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan klinis pasien didiagnosa dengan BMS diduga akibat penggunaan pil kontrasepsi. Terapi dari Ilmu Penyakit Mulut (IPM) diberikan obat kumur Sodium Chlorite, Vitamin B12, dan Asam Folat,  edukasi tentang penggunaan obat, dan dikonsulkan ke Bagian Obsetri dan Ginekologi dan diinstruksikan untuk menghentikan pil kontrasepsi. Setelah dilakukan terapi di IPM selama 6 minggu pasien merasakan perbaikan pada rongga mulutnya. Insidensi BMS sering terjadi pada wanita dengan populasi usia premenopause dan menopause. Depresi dan kecemasan merupakan permasalahan yang sering timbul pada pasien BMS yang mengalami menopause, pada kondisi pasien dengan kecemasan tinggi penting bagi dokter gigi untuk memberikan informasi dan edukasi serta dukungan terhadap pasien. Konsultasi yang baik dapat menimbulkan pengertian yang lebih dalam  sehingga pasien dapat mengeliminasi rasa cemasnya. Keberhasilan pendekatan psikologis dan medis akan membantu dalam penatalaksanaan yang tepat pada pasien BMS.
Rehabilitasi pasien pasca hemimaksilektomi dengan obturator resin akrilik Mohammad Faid Fahlevy; Haryo Mustiko Dipoyono; Esti Tjahjanti; Endang Wahyuningtyas
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 4, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.46252

Abstract

Hemimaksilektomi merupakan operasi pengangkatan sebagian dari palatal dan maksila yang mengakibatkan defek pada integritas rongga mulut. Defek menyebabkan terjadinya hubungan antara rongga hidung dan mulut serta malformasi palatum dan agenese gigi. Penutupan defek dilakukan dengan menggantikan jaringan keras, lunak, dan gigi yang hilang menggunakan protesa maksilofasial intraoral yaitu obturator. Laporan kasus ini bertujuan mengkaji rehabilitasi obturator resin akrilik. pada pasien pasca hemimaksilektomi. Pasien pria, 55 tahun datang ke RSGM Prof. Soedomo dengan keluhan defek pada palatal yang mengakibatkan suara sengau. Pemeriksaan menunjukkan terdapat defek pada bagian kanan palatum durum, defek gingiva labial dexter, serta kehilangan gigi 12, 13, 14, 15, 16, dan 17. Tatalaksana perawatan: Pasien dibuatkan obturator resin akrilik untuk menutup defek pada palatum pasca hemimaksilektomi dan menggantikan gigi yang hilang. Pencetakan menggunakan hidrokoloid irreversible yang diberi kain kassa pada defek untuk menahan bahan cetak agar tidak masuk ke hidung. Insersi obturator menunjukkan penutupan defek palatum oleh obturator resin akrilik menutup dengan baik. Retensi, stabilisasi dan oklusi pada pemakaian obturator baik, suara sengau berkurang, sayap labial menutup defek gingiva labial. Pada kontrol 1 minggu tidak ada keluhan, pasien merasa puas, suara sengau berkurang, estetis, pengunyahan dan penelanan baik. Kesimpulan: Obturator resin akrilik dapat merehabilitasi defek palatal pasca hemimaksilektomi dan mengembalikan fungsi bicara, penelanan, pengunyahan, dan estetik.
Perawatan gigi tiruan sebagian lepasan immediate pada pasien dengan periodontitis kronis Adi Kristanto Tandadjaja; Haryo Mustiko Dipoyono; Suparyono Saleh; Endang Wahyuningtyas
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 4, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.55744

Abstract

Periodontitis kronis merupakan masalah masyarakat di banyak negara berkembang. Periodontitis kronis termasuk penyakit peradangan pada jaringan periodontal yang disebabkan oleh bakteri spesifik pada subgingiva yang dapat menimbulkan respon inflamasi gingiva, dan berlanjut ke struktur jaringan penyangga gigi, sehingga menyebabkan kegoyangan gigi. Gigi tiruan yang proses pemasangannya dilakukan langsung setelah pencabutan gigi dalam mulut pasien disebut gigi tiruan sebagian immediate. Tujuan studi pustaka adalah untuk mengkaji perawatan gigi tiruan sebagian lepasan immediate pada pasien dengan periodontitis kronis untuk mengembalikan efektifitas pengunyahan pasien segera setelah pencabutan gigi. Seorang laki-laki, 40 tahun datang dengan keluhan gigi molar kedua atas kanan dan molar pertama bawah kiri mengalami periodontitis kronis disertai kegoyangan derajat 3. Pasien merasa kesulitan mengunyah dan kurang percaya diri karena banyak gigi geliginya hilang. Pada pemeriksaan intra oral didapatkan gigi 14, 15, 16, 18, 21, 24, 25, 26, 27, 28, 35, 36, 45, 46, 47, 48 telah hilang. Anamnesa, pemeriksaan klinis, dan rehabilitasi protesa gigi tiruan sebagian lepasan dengan immediate pencabutan gigi 17 dan 36 dengan hasil insersi: gigi tiruan retentif dan stabil, tidak ada traumatik oklusi, dan baik secara estetik. Pada kontrol pertama, 24 jam pasca insersi, tidak ada keluhan, tidak ada pendarahan, gigi tiruan tidak menekan luka. Pada kontrol kedua, luka telah menutup dengan sempurna dan pasien merasa puas karena fungsi pengunyahannya telah kembali. Perawatan gigi tiruan sebagian lepasan immediate pada pasien dengan periodontitis kronis dapat mengembalikan efektifitas pengunyahan, estetik dan fonetik pasien segera setelah pencabutan gigi serta meningkatkan kenyamanan pasien.
Penggunaan cu-sil denture sebagai gigi tiruan transisi pada kasus periodontitis kronis Edwin Tandra; Endang Wahyuningtyas; Erwan Sugiatno
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 3, No 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.60116

Abstract

Cu-Sil denture merupakan gigi tiruan yang memanfaatkan gasket elastis yang mengelilingi gigi penyangga sebagai retensi gigi tiruan. Gigi tiruan Cu-Sil digunakan pada penderita penyakit periodontal dengan kehilangan gigi, kegoyahan sisa gigi, dan kurangnya dukungan pada gigi untuk ditempatkan cengkram konvensional. Bahan elastis Cu-Sil mengelilingi servikal gigi penyangga, mencegah masuknya cairan dan makanan, sebagai bantalan dan memeganggigi asli dari plat gigi tiruan. Laporan kasus ini mengkaji penggunaan Cu-Sil denture sebagai gigi tiruan transisi pada kasus periodontitis untuk mempertahankan gigi penyangga, mengembalikan fungsi bicara, pengunyahan, penelanan dan estetik. Pasien laki- laki berusia 67 tahun datang dengan keluhan kehilangan banyak gigi rahang atas dan bawah, dan gigi yang tersisa pada rahang atas mengalami kegoyahan yaitu gigi 13, 12, dan 25. Pasien mengeluh kesulitan saat mengunyah makanan dan merasa penampilannya terganggu. Pasien ingin mempertahankan gigi yang masih ada. Tata laksana pasien terdiri dari anamnesa, pemeriksaan klinis, pencetakan model studi, pencetakan model kerja dengan alginat, menentukan relasi maksila-mandibula, penyusunan gigi, try in gigi tiruan Cu-Sil. Insersi menunjukkan retensi dan stabilisasi dan estetik baik. Dilakukan penambahan soft liner pada gigi tiruan ditempat gigi penyangga berada. Pada saat kontrol, gigi tiruan dapat dipakai mengunyah makanan, bicara pasien menjadi jelas, dan penampilan pasien sudah lebih baik. Cu-Sil denture sebagai gigi tiruan transisi pada kasus periodontitis dapat mempertahankan gigi penyangga,menambah retensi dan stabilisasi, mengembalikan fungsi bicara, pengunyahan, penelanan dan estetik.
Angiografi dan embolisasi pre-operasi pada hemangioma lidah tipe kavernosum Ridwan Daomara Silitonga; Sudarmanta Sudarmanta; Muhammad Masykur Rahmat; Rahardjo Rahardjo
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 3, No 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.60117

Abstract

Hemangioma adalah tumor jinak pembuluh darah yang ditandai dengan pembentukan vaskularisasi baru dan dilatasi pembuluh darah. Karakteristik alamiah hemangioma adalah fase proliferasi sel endotelial saat pertumbuhannya yang diikuti fase involusi secara bertahap. Sifat biologis ini akan mempengaruhi waktu dan tipe perawatannya, meskipun 10% sampai 20% lesi yang telah involusi komplit meninggalkan sisa jaringan vaskular yang signifikan menyebabkangangguan estetik dan fungsional. Pembedahan bertujuan untuk mengambil seluruh lesi, tetapi disisi lain adanya potensi resiko perdarahan sedang sampai berat pada intra dan post operasi yang dapat mengancam nyawa pasien.Pemeriksaan angiografi berguna untuk identifikasi feeding vessel, dan dilanjutkan embolisasi untuk menutup aliran darah dari feeding vessel ke tumor, sebelum dilakukan terapi eksisi yang agresif. Tujuan dari laporan ini untuk menjelaskan kolaborasi perawatan hemangioma kavernosum pada lidah bersama bagian radiologi intervensi RSUP Dr. Sardjito. Perpaduan ilmu dan pengalaman antara kedua bidang spesialis ini sangat bermanfaat meningkatkan hasil perawatan pasien. Pasien wanita umur 17 tahun dengan benjolan kebiruan pada permukaan lateral lidah, yang didiagnosis dengan hemangioma. Pasien telah dilakukan pemeriksaan radiologi intervensi pre operasi yaitu angiografi transarterial, lalu dilanjutkan embolisasi pada arteri lingualis sinistra sebagai feeding vessel. Pada kasus ini pasien telah dilakukan operasi eksisi hemangioma di bawah pembiusan umum. Kehilangan darah saat operasi minimal dan tepi lesi saat operasi lebih tegas. Penyembuhan luka post operasi baik, dan hasil akhir secara histopatologis dikonfirmasi sebagai hemangioma kavernosum. Pengambilan seluruh lesi hemangioma memberikan penyembuhan paling baik. Lesi vaskular seperti hemangioma membutuhkan tindakan embolisasi pre operasi, untuk menutup sementara aliran darah ke lesi untuk mengurangi resiko perdarahan yang berlebihan.
Persepsi dan harapan dokter gigi layanan primer terhadap sistem kapitasi (studi di wilayah Sleman di Yogyakarta) Rosa Amalia
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 3, No 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.60119

Abstract

Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Indonesia dengan skema pembayaran kapitasi pada pelayanan kesehatan tingkat pertama merupakan sistem baru bagi dokter gigi. Evaluasi model pembiayaan kapitasi perlu dilakukanuntuk mengetahui apakah dokter gigi puas terhadap sistem pembiayaan kapitasi yang telah ditetapkan pemerintah. Jenis penelitian adalah observasi deskriptif. Subjek penelitian ini adalah dokter gigi Puskesmas Kabupaten Sleman Yogyakarta. Instrumen pengukuran berupa kuesioner persepsi dan harapan terkait pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional di Puskesmas dengan skala biner. Secara umum sebagian besar dokter gigi masih melihat pembiayaan secara kapitasi dalam program JKN membawa potensi konflik yang besar. Walau demikian, para dokter gigi menyadari bahwa sistem ini menekan biaya kesehatan masyarakat. Secara mutlak seluruh dokter gigi mengharapkan adanya perhitungan ulang risiko dan meningkatnya peran organisasi profesi untuk negosiasi kapitasi dengan pihak Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Penelitian ini menunjukkan bahwa para dokter gigi sudah dapat menerima sistem kapitasi dengan baik tetapi tidak puas dengan pelaksanaannya.
Terapi non-bedah pada lesi nodular akibat iritasi kronis di rongga mulut Shelly Lelyana
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 3, No 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.60121

Abstract

Pertumbuhan jaringan yang berlebihan dapat terjadi di rongga mulut sebagai respon terhadap iritasi kronis. Penyebab lesi ini dapat dikaitkan dengan iritasi lokal seperti plak, kalkulus, tepi tambalan yang berlebih, trauma oklusi, dan alat-alat dental. Iritasi kronis dapat menyebabkan inflamasi jaringan. Fibrous hyperplasia (traumatic fibroma atau fibroma iritasi) merupakan hasil akhir dari hiperplasia akibat inflamasi. Pengobatan konvensional kondisi fibroma iritasi adalah eksisi bedah yang seringkali membuat pasien takut. Makalah ini akan membahas dua kasus lesi nodular akibat iritasi kronis yang diberi terapi non-bedah. Diagnosa klinis dari kedua kasus ini adalah fibroma iritasi. Penggunaan anti-inflamasi topikal dan menghilangkan sumber iritasi ternyata dapat mengurangi ukuran lesi. Kesimpulan studi kasus ini adalah lesinodular akibat iritasi kronis dapat diatasi dengan terapi non-bedah.

Page 7 of 19 | Total Record : 182