cover
Contact Name
Wakhidah Kurniawati
Contact Email
ruang@live.undip.ac.id
Phone
+6224-7460054
Journal Mail Official
ruang@live.undip.ac.id
Editorial Address
Gedung A lantai 3, Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro, Jl. Prof Soedarto, Tembalang, Kota Semarang, 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Ruang
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 18583881     EISSN : 23560088     DOI : 10.14710/ruang
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 185 Documents
Identifikasi Peran Kelembagaan dalam Kegiatan Pariwisata Kabupaten Tabalong Romi Alfianor; Nur Annadia Safitri; Afifatul Hidayati
Ruang Vol 6, No 1 (2020): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.6.1.11-18

Abstract

Kabupaten Tabalong memiliki 35 objek wisata. Jenis-jenis wisata yang ada terdiri dari wisata alam, wisata buatan dan wisata budaya. Setiap objek wisata memiliki lembaga yang berbeda, lembaga dalam mendukung kegiatan pariwisata di Kabupaten Tabalong terdiri dari pemerintah daerah, sektor wisata, dan masyarakat sekitar pariwisata. Pemerintah daerah memiliki peran mengatur, menyediakan danmengalokasikan berbagai infrastruktur terkait kebutuhan pariwisata. Sektor swasta memiliki peran dalam membantu pemerintah, pemeliharaan dan pendanaan dalam meningkatkan kualitas pariwisata. Masyarakat memiliki peran sebagai lembaga yang tidak resmi. Berdasarkan hasil analisis jejaring sosial hubungan antar lembaga dapat diketahui bahwa masyarakat sebagai lembaga yang paling berpengaruh terhadap kegiatan wisata di Kabupaten Tabalong
Kajian Kelayakan Pengembangan Kawasan Industri di Mijen, Semarang - Indonesia Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 6, No 1 (2020): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.6.1.51-59

Abstract

Wilayah Mijen yang terletak di bagian Barat Laut Kota Semarang, adalah daerah yang memiliki tanah bergelombang, tetapi daerah ini ditetapkan sebagai kawasan pengembangan industri dalam Rencana Tata Ruang Kota Semarang 2011-2031. Pengertian pengembangan industri menurut Direktorat Jenderal CiptaKarya Departemen Pekerjaan Umum, yaitu pengembangan kawasan dengan penekanan utama pada kegiatan industri, baik di perkotaan maupun perdesaan, yang pada dasarnya untuk mewujudkan kondisi perkotaan dan pedesaan yang layak huni, aman, nyaman, damai, sejahtera dan berkelanjutan. Untukmengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, perlu dilakukan kajian kemampuan lahan di wilayah Mijen yang direncanakan sebagai area pengembangan industri tsb, sehingga tidak terjadi pengembangan industri yang salah menempati suatu lahan.Maka dari itu, tujuan penelitian ini adalah untuk menilai kesesuaian lahan untuk industri di Mijen Semarang, yang merupakan kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan pengembangan industri,analisis yang digunakan adalah analisis SWOT dengan pendekatan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa Mijen cukup cocok dan layak untuk dikembangkan sebagai kawasan pengembangan industri, potensi utamanya adalah bahwa kawasan ini merupakan kawasan fungsi budidaya. Sedangkan yang paling melemahkan adalah kondisi lahan yang bergelombang
Green Space Conceptual Design for the Neighbourhood of Settlements along Martapura River in Banjarmasin Hanny Maria Caesarina
Ruang Vol 6, No 1 (2020): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.6.1.1-10

Abstract

Banjarmasin still struggles to improve the environmental quality of the settlements in some riparian areas that built directly above Martapura river. The settlements are densely populated with limited pathways without any open space. The local government implemented waterfront development to improve the environmental quality, such as a green village concept by installing some greeneries along the settlements to create a greener neighbourhood. The main problem was there were no available land for greenspace. The aim of this research was to design a conceptual design for green space along the river based on the evaluation of the existing condition after the green village concept already implemented. Series of field observations, interviews, and literature review was done to get an actual condition of the study area. The data analyzed with a descriptive-qualitative approach and resulted that the quality of the green space in the neighbourhood can be improved with a special green space design for the limited space. We produce a conceptual design that fulfil the criteria of green space for settlements along the Martapura river which are vertical garden, floating communal space and floating garden These concepts may suitable for green space in limited space and connected with the river as blue space
Persepsi Kenyamanan Pejalan Kaki Terhadap Pemanfaatan Jalur Pedestrian di Jalan Protokol Kota Semarang (Studi Kasus Jalan Pandanaran) Selviana Indira Wopari; Djoko Suwandono
Ruang Vol 6, No 1 (2020): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.6.1.40-50

Abstract

Kawasan Jalan Pandanaran, merupakan kawasan jalan yang banyak dilalui oleh pengguna jalan, termasuk pejalan kaki. Sejak awal tahun 2013 penyediaan fasilitas jalur sirkulasi yang dibangun oleh Pemerintah Kota Semarang di kawasan ini berupa jalur pedestrian, kurang memberikan kenyamanan bagi penggunanya yang disebabkan jalur pedestrian yang digunakan aktivitas pedagang kaki lima yang sedang melakukan aktivitas perdagangan dan juga parkir mobil ataupun motor sembarangan pada jalurpedestrian di sepanjang Jalan Pandanaran. Hal ini yang menyebabkan ketidaknyamanan pada jalur pedestrian di jalan pandanaran karena jalur pedestrian mempunyai fungsi ganda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat kenyamanan jalur pedestrian di Jalan Pandanaran melalui persepsi masyarakat, dengan sasaran yaitu : 1) identifikasi kondisi eksisting dan fasilitas jalur pedestrian di Jalan Pandanaran yang berkaitan dengan aspek kenyamanan pengguna; 2) identifikasi karakteristik penggunajalur pejalan kaki di Jalan Pandanaran; 3) analisis kondisi eksisting kaitannya dengan fasilitas penunjang jalur pedestrian di Jalan Pandanaran kaitannya dengan aspek kenyamanan penggunanya; 4) tingkat kenyamanan jalur pedestrian di Jalan Pandanaran melalui persepsi masyarakat sebagai pejalan kaki. Metodologi dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kuantitatif dan metode purposive sampling yang di pilih dalam kriteria tertentu, dengan metode analisis deskriptif kuantitatif juga analisis standar jalurpedestrian. Hasil dari penelitian ini yaitu kenyamanan Jalur Pedestrian di Jalan Pandanaran dimana pada dimensi jalur pedestriam di Jalan Pandanaran sudah memenuhi standar minimum tentang pejalan kaki sebagai sebuah jalur pedestrian di perkotaan dan persepsi para pejalan kaki mengenai tingkat kenyamanan terdapat 2 aspek dari keseluruhan aspek kenyamanan seperti kebisingan kendaraan dan juga aroma tidak sedap, yang tidak memenuhi kriteria tingkat kenyamanan dengan capaian nilai persentase dari responden yaitu 52% > Persen > 36%. Dengan demikian perlu adanya pengelolaan lebih lanjut dan juga penegasan aturan mengenai sirkulasi dan pemanfaat jalur pedestrian serta mengevaluasi penataan PKL dan menambah petugas kebersihan yang dapat tetap menjaga kebersihan dan keindahan jalur pedestrian
Analisis Perubahan Kerapatan Vegetasi dan Bangunan di Kota Banda Aceh Pasca Bencana Tsunami Rahmat Nanda Trinufi; Sri Rahayu
Ruang Vol 6, No 1 (2020): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.6.1.29-39

Abstract

Pesatnya pembangunan di suatu kota akan berdampak pada kerapatan bangunan yang semakin tinggi dan menyebabkan kerapatan vegetasi terus berkurang. Kota Banda Aceh pasca bencana tsunami mengalami perkembangan yang cukup pesat terutama pada perubahan lahan. Perubahan lahan tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap perubahan kerapatan vegetasi dan bangunan. Tujuan penelitian ini untuk mengkajiperubahan kerapatan vegetasi dan bangunan di Kota Banda Aceh pasca bencana tsunami. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data citra landsat (2005 dan 2011) dan citra sentinel (2019) dan menggunakan software QGIS dengan metode NDVI untuk mengetahui perubahan kerapatan vegetasi dan NDBI untuk mengetahui perubahan kerapatan bangunan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui telah terjadi perubahan kerapatan di Kota Banda Aceh. Perubahan paling signifikan terjadi pada periode 2005- 2011, perubahan kerapatan vegetasi paling besar terjadi pada kelas cukup rapat sebesar 10,81% (647.55 Ha). Sedangkan perubahan kerapatan bangunan paling besar terjadi pada kelas kerapatan rendah sebesar 9,53% (571,06 Ha). Sementara itu, pada periode 2011-2019 perubahan kerapatan vegetasi paling besar terjadi pada kelas vegetasi jarang yaitu sebesar 10,08% (603.80 Ha). Sedangkan pada kerapatan bangunan, kelas yang mengalami perubahan paling besar terjadi pada kelas kerapatan sangat tinggi sebesar 2,53% (168,19 Ha). Perubahan kerapatan vegetasi dan bangunan cenderung terjadi di daerah pinggiran Kota Banda Aceh
Analisis Satuan Kemampuan Lahan Untuk Pengembangan Kawasan Pariwisata di Kabupaten Tabalong Erlangga Kautsar; Misha Dwina Irani Sobba; Nurul Pertiwi; Trisha Agustine
Ruang Vol 6, No 1 (2020): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.6.1.19-28

Abstract

Kabupaten Tabalong berada diantara Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Kabupaten Tabalong memiliki potensi menjadi kawasan pariwisata yang terbagi menjadi 3 jenis wisata yaitu wisata alam, buatan, budaya, dan buatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian lahan dan daya dukung kawasan wisata tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode analisis deskriptif kuantitatif untuk mengolah dan menafsirkan data yang diperoleh dan metodeanalisis spasial untuk melihat kemampuan lahan. Hasil penelitian menunjukkan Kabupaten Tabalong didominasi oleh lahan dengan kemampuan pengembangan wisata rendah, selanjutnya diikuti oleh lahan dengan kemampuan pengembangan wisata sedang. Hanya sebagian kecil wilayah di Kabupaten Tabalong dengan kemampuan pengembangan wisata sangat rendah. Kesimpulan dari penelitian ini diketahui bahwa Kabupaten Tabalong tergolong dalam kemampuan lahan pengembangan rendah, dan terdapat 13 objek wisata yang memiliki kesesuaian lahan dan fisik, serta terdapat 10 objek daya tarik wisata yang tidak sesuai dengan kemampuan lahan
Analisis Kebutuhan Air Baku Kecamatan Samboja Tahun 2020 Sri Riani; Ajeng Nugrahaning Dewanti; Asri Prasaningtyas
Ruang Vol 6, No 2 (2020): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.6.2.85-92

Abstract

Menurut Permen PU No 122 Tahun 2015 tentang sistem penyediaan air minum pemanfaatan kapasitas dikatakan optimal ketika memiliki pelayanan 80% dan untuk kebutuhan minimal setiap orang akan air baku untuk air bersih per hari  adalah 60  liter atau 0,06 m3. Hingga saat kini PDAM merupakan pemasok layanan air baku yang paling banyak digunakan masyarakat. Namun tidak seluruh masyarakat terlayani oleh pelayanan air baku dari PDAM, masih banyak wilayah yang tidak terlayani oleh pelayanan air baku hal tersebut dikarenakan terbatasnya cakupan pelayanan, kondisi sumber air baku dan sebagainya.Jangkauan pelayanan PDAM Tirta Mahakam Samboja baru menjangkau 30% dari keseluruhannya. Dan untuk penduduk hanya 10.470 jiwa yang telah terlayani oleh PDAM Samboja dari total jumlah penduduk sebesar 63.128 penduduk dengan jumlah sambungan sebesar 3.346 sambungan. Sehingga jangkauan pelayanan air baku tersebut hanya memenuhi 20% dari total jumlah penduduk Kecamatan Samboja. Teknik analisis yang digunakan pada penelitian ini berupa analisis kuantitatif dimana metode analisis yang digunakan ialah berupa analisis kebutuhan air domestik dan non domestik. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan Kecamatan Samboja memerlukan total jumlah air baku sebesar 6.127.008 liter, dan untuk kebutuhan air non domestik diperlukan kebutuhan air total sebesar 786.528 liter air dari seluruh sarana yang berada di Kecamatan Samboja.
Penentuan Daerah Penyangga Kawasan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara Desy Ariyani; Elin Diyah Syafitri; Rahmi Yorika
Ruang Vol 6, No 2 (2020): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.6.2.93-101

Abstract

Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto merupakan kawasan konservasi yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan 1231 tahun 2017 memiliki luas 64.814,98 Ha, dari total luasan terdapat pemanfatan lahan pertambangan dengan luas 956 Ha, perkebunan seluas 52 Ha, permukiman atau lahan terbangun seluas 173 Ha dan petanian dengan luas 16.915 Ha. Dimana terdapat 21,29%  dari total luas Taman Hutan Raya Bukit Soeharto dan daerah penyangga yang dipergunakan untuk pertambangan, pertanian lahan kering campuran, pertanian lahan kering, tanah kosong /terbuka, pemukiman, tambak/perikanan dan perkebunan. Hal ini dikarenakan masyarakat tidak mengetahui batasan wilayah untuk memanfaatkan sumberdaya hutan sehingga terjadi pemanfataan lahan yang tidak seharusnya. Selain itu, masyarakat juga tidak mengetahui bahwa kawasan konservasi tidak boleh dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk  menentukan wilayah yang berfungsi sebagai daerah penyangga kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto. Penelitian menggunakan metode overlay peta dengan alat analisis Arcgis 10.7 dengan parameter penentuan fungsi kawasan adalah  kemiringan lahan, jenis tanah dan curah hujan. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa terdapat wilayah dengan luas sebesar 2.2 Ha yang memiliki fungsi sebagai daerah penyangga. Wilayah tersebut termasuk dalam wilayah administrasi Kelurahan Sungai Merdeka, Wonotirto, dan Karya Jaya
Studi Kasus: Strategi Perencanaan Kawasan Perkotaan Pancur-Pamotan Grandy Loranesssa Wungo
Ruang Vol 6, No 2 (2020): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.6.2.57-66

Abstract

Pancur dan Pamotan merupakan kawasan agropolitan dan memiliki sektor unggulan berupa industri pengolahan berbasis pertanian, dan pertambangan yang tentu mempengaruhi dalam perkembangan aktivitas ekonomi, sosial, dan lingkungan. Namun, terdapat juga permasalahan yang terjadi yaitu menurunnya produktivitas pertanian dan kurangnya ketersediaan infrastruktur menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini bertujuan memahami isu perencanaan perkotaan secara komprehensif di kawasan perkotaan Kecamatan Pancur dan Pamotan.Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran dengan sampling 280 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner secara daring dan observasi lapangan sebagai data dalam penelitian dengan menggunakan content analysis yang meliputi 7 sektor utama digunakan untuk menggambarkan isu kawasan perkotaan Pancur dan Pamotan, kemudian dengan SWOT Analysis untuk menentukan strategi. Hasil penelitian menunjukan bahwa isu utama dari kawasan perkotaan Pancur dan Pamotan ialah mundurnya perkembangan di sektor pertanian yang terbentur dengan kondisi fisik alam, sehingga diperlukan strategi dalam pengembangan sektor lain seperti sektor pariwisata.
Analisa Risiko Banjir untuk Mendukung Pembangunan Bekelanjutan di Kawasan Pesisir Pantai Kota Semarang Desyta Ulfiana; Undayani Cita Sari
Ruang Vol 6, No 2 (2020): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.6.2.102-111

Abstract

Fenomena degradasi lingkungan menyebabkan meningkatnya frekuensi banjir di beberapa wilayah, salah satunya adalah kawasan pesisir pantai Kota Semarang. Kecamatan Genuk, Kecamatan Tugu, Kecamatan Semarang Utara, dan Kecamatan Semarang Barat merupakan empat wilayah yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Kondisi topografi dan karakteristik wilayah empat kecamatan tersebut menyebabkan empat kecamatan tersebut rawan mengalami bencana banjir. Untuk mengatasi fenomena tersebut perlu adanya penyesuaian perencanaan pembangunan berkelanjutan. Agar perencanaan tersebut efektif maka diperlukan analisa untuk menentukan faktor utama penyebab permasalahan banjir di wilayah tersebut. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan analisa tingkat risiko banjir menggunakan metode AHP TOPSIS untuk menentukan faktor utama penyebab banjir di masing-masing kecamatan. Kriteria yang digunakan dalam analisa terdiri dari curah hujan, tata guna lahan, kemiringan lahan, dan ketinggian. Berdasarkan hasil analisa, didapatkan bahwa Kecamatan Semarang Utara dan Semarang Barat memiliki tingkat risiko paling tinggi terhadap bencana banjir. Faktor dominan penyebab tingginya risiko banjir di dua kecamatan tersebut dibanding dua kecamatan lainnya adalah curah hujan. Sedangkan faktor utama penyebab banjir di kawasan pesisir pantai Kota Semarang adalah ketinggian