cover
Contact Name
Agus Chalid
Contact Email
gulid.p@gmail.com
Phone
+6285220013654
Journal Mail Official
gmhc.unisba@gmail.com
Editorial Address
Jalan Hariangbanga No. 2, Tamansari, Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Global Medical and Health Communication
ISSN : 23019123     EISSN : 24605441     DOI : https://doi.org/10.29313/gmhc
Core Subject : Health, Science,
Global Medical and Health Communication is a journal that publishes research articles on medical and health published every 4 (four) months (April, August, and December). Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields of anesthesiology and intensive care, biochemistry, biomolecular, cardiovascular, child health, dentistry, dermatology and venerology, endocrinology, environmental health, epidemiology, geriatric, hematology, histology, histopathology, immunology, internal medicine, nursing sciences, midwifery, nutrition, nutrition and metabolism, obstetrics and gynecology, occupational health, oncology, ophthalmology, oral biology, orthopedics and traumatology, otorhinolaryngology, pharmacology, pharmacy, preventive medicine, public health, pulmonology, radiology, and reproductive health.
Articles 422 Documents
Perbandingan Tingkat Kecemasan Primigravida dengan Multigravida di RSUD Majalaya Iqbal Muhammad Iqbal; Yuliana Ratna Wati; Arief Budi Yulianti
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2795.23 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v3i2.1551

Abstract

Kecemasan adalah respons terhadap situasi mengancam tertentu yang dapat menyebabkan perubahan perilaku, karena terdapat ketidakpastian di masa mendatang serta ketakutan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Kecemasan pada ibu hamil apabila tidak ditanggulangi akan membawa dampak terhadap fisik dan psikis, seperti persalinan lama, preeklamsi dan depresi pascamelahirkan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbandingan tingkat kecemasan antara ibu primigravida dan multigravida di Poli Obstetri dan Ginekologi RSUD Majalaya. Penelitian ini menggunakan rancangan observational analitik dengan pendekatan metode cross sectional periode April–Juni 2014 dengan jumlah sampel sebanyak 42 orang yang telah memenuhi kriteria inklusi. Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner Zung Self-rating Anxiety Scale (ZSAS). Data penelitian dianalisis secara analitik dan diuji menggunakan uji t tidak berpasangan. Dari hasil penelitian didapatkan tingkat kecemasan rata-rata pada primigravida adalah 36,76±5,75, sedangkan pada multigravida 37,43±7,07. Berdasarkan hasil uji statistik tidak terdapat perbedaan tingkat kecemasan antara primigravida dan multigravida (p=0,739). Hal ini diduga karena faktor biologis seperti perubahan hormonal dan faktor dukungan sosial dari keluarga ibu primigravida maupun multigravida sehingga cukup efektif untuk menurunkan tingkat kecemasan. Simpulan, tidak terdapat perbedaan tingkat kecemasan ibu primigravida dengan multigravida di Poli Obstetri dan Ginekologi RSUD Majalaya. COMPARATIVE LEVEL OF ANXIETY BETWEEN PRIMIGRAVIDA AND MULTIGRAVIDA IN RSUD MAJALAYAAnxiety is a response to treated due to threatens the uncertainty of the future and fear that something bad will happen. Pregnancy is growth and development of fetoes intrauterin since conception until the beginning of labour. If anxiety not resolved, it will have an impact on physical and psychological, such as prolonged labour, preeclampsia and postpartum depression. The aim of this study was to assess the anxiety level comparison between primigravida and multigravida in Obstetrics and Gynecology clinic at the General Hospital Majalaya.The method was a cross sectional with number of respondent 42 people who appropriate with inclusion criteria in period April–June 2014. The questionnaires Zung Self-rating Anxiety Scale (ZSAS) used to measure level of anxiety in primigravida and multigravida. The data were analyzed and tested using independent t-test. The results showed the average level of anxiety in primigravida was 36.76±5.75, while the multigravida was 37.4±7.07 (p=0.74). Thus, no differences in anxiety levels between primigravida and multigravida. This is presumably due to biological factors such as hormonal changes and factors of social support from family were given the primigravida and multigravida, so it is quite effective to reduce the level of anxiety. In conclusion, there is no differences occured between primigravida and multigravida in Obstetrics and Gynecology clinic at the General Hospital Majalaya.
Deteksi Disfungsi Endotel pada Gangguan Depresi Mayor dengan Pengukuran Endothelial-Dependent Flow-Mediated Vasodilatation Arlisa Wulandari; Augustine Purnomowati; Tuti Wahmurti
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.938 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i1.1939

Abstract

Gangguan depresi mayor ialah salah satu gangguan jiwa yang mengganggu fungsi kehidupan dan sebagai salah satu penyebab terbesar disabilitas di seluruh dunia termasuk masalah kesehatan masyarakat, baik dalam segi sosial, ekonomi, maupun klinis. Depresi memicu disfungsi endotel yang merupakan proses awal gangguan kardiovaskular dan menjadi faktor risiko independen penyakit jantung koroner. Deteksi disfungsi endotel pada pasien gangguan depresi mayor diharapkan dapat menunjang penatalaksanaan yang komprehensif dan menurunkan risiko gangguan kardiovaskular. Tujuan penelitian mengetahui disfungsi endotel pada gangguan depresi mayor dengan mengukur endothelial-dependent flow-mediated vasodilatation (FMD). Penelitian ini adalah bagian dari penelitian gangguan depresi mayor periode Maret 2015–Maret 2016. Gangguan depresi mayor ditentukan menggunakan Structured Clinical Interview for DSM-IV Axis I Disorder (SCID-I) dan Hamilton Depression Rating Scale-17 item (HDRS-17). Usia dan jenis kelamin subjek disesuaikan, kriteria inklusi penelitian adalah pasien memenuhi kriteria gangguan depresi mayor SCID-I, skor HDRS-17 ≥19, tekanan darah, indeks massa tubuh, profil lipid dan kadar gula darah dalam batas normal, serta tidak sedang menderita atau mempunyai riwayat penyakit kardiovaskular. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan terhadap 15 pasien dari RS Dustira dan RS Salamun yang memenuhi kriteria inklusi dan 15 partisipan sehat. Deteksi disfungsi endotel noninvasif digunakan alat ultrasonografi resolusi tinggi pada arteri brakialis (FMD) yang menggambarkan fungsi vasodilatasi yang endotel-dependen. Pemeriksaan FMD dilakukan di Instalasi Pelayanan Jantung RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung menggunakan alat ekokardiografi merek General Electric tipe Vivid 7 dan dinilai berdasar atas skoring yang berlaku. Nilai FMD pasien gangguan depresi mayor abnormal pada 11 dari 15 pasien. Nilai abnormal pada skoring FMD menunjukkan gangguan respons vasodilatasi pada pasien gangguan depresi mayor yang menggambarkan disfungsi endotel. Simpulan, FMD dapat digunakan sebagai alternatif pemeriksaan fungsi endotel yang noninvasif untuk deteksi dini proses awal gangguan fungsi pembuluh darah.ENDOTHELIAL DYSFUNCTION DETECTION IN MAJOR DEPRESSIVE DISORDER USING ENDOTHELIAL-DEPENDENT FLOW-MEDIATED VASODILATATION ASSESSMENTMajor depressive disorder is a mental disorder that reduce people’s functioned, is the leading cause of disability worldwide and a significant contributor to the global burden of disease. The global burden of depression poses a substantial public health challenge at the social, economic and clinical level. Depressive symptoms may influence the development and progression of cardiovascular diseases by fostering endothelial dysfunction. Depressive symptoms of sufficient severity can serve as independent risk factors for ischemic heart disease. Early detection of endothelial dysfunction will decrease the risk of cardiovascular disorders in major depressive disorder cases. The aim of this study was to detect endothelial dysfunction in major depressive disorder’s patient using endothelial-dependent flow-mediated vasodilatation (FMD). This study was part of a study held from March 2015 to March 2016. Assessment of major depressive disorder was measured using Structured Clinical Interview for DSM-IV Axis I Disorder (SCID-I) and 17 item Hamilton Depression Rating Scale. After controlling for age, sex, mean arterial pressure, body mass index, lipid profile, blood glucose and cardiovascular diseases, 15 patients from RS Dustira and RS Salamun, and 15 healthy participants were assessed. The patients were met the major depressive disorder criteria using SCID-I, had 17 item HDRS score ≥19, and had no diagnosis of other psychiatric disorder. Participants were measured noninvasively by brachial artery endothelial-dependent flow-mediated vasodilatation (FMD) to examine the impact of mood states on endothelial function. FMD was carried out using echocardiography (General Electric, Vivid 7) at Instalasi Pelayanan Jantung RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. The FMD score in major depressive disorder patients were abnormal in 11 out of 15. Abnormal score in the majority of patients represent impairment of the endothelial-dependent vasodilation and sign of an endothelial dysfunction. In conclusion, FMD could be used as a noninvasive endothelial dysfunction assessment, an early detection of vascular diseases in major depressive disorder.
The Association between Risk Factors and Blood Pressure in the Textile Industry Workers Sumardiyono Sumardiyono; Hartono Hartono; Ari Probandari; Prabang Setyono
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.112 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i3.2650

Abstract

Noise exposure is often found in the industrial environment that exposed workers at risk for increasing blood pressure. This study aimed at investigating the association between noise level, duration of noise exposure, age, use of earplugs, and body mass index with blood pressure on textile industry workers. An observational study with the cross-sectional design conducted during August to October 2016. The study population was 180 textile industry workers in Surakarta selected by consecutive sampling method. Statistical analysis used was multiple logistic regression. Results showed that variables associated with systolic blood pressure were the use of earplugs (OR=12.7), noise level (OR=7.2), body mass index (OR=5.3), age (OR=4.4) and duration of noise exposure (OR=3.5). Variables associated with diastolic blood pressure were the use of earplugs (OR=6.9), age (OR=6.6), noise level (OR=6.1), body mass index (OR=4.4), and duration of noise exposure (OR=3.1). In clonclusion, the risk factors for blood pressure increased among industrial workers are the use of earplug, noise level, body mass index, age and duration of noise exposure.ASOSIASI ANTARA FAKTOR RISIKO DAN TEKANAN DARAH PADA PEKERJA INDUSTRI TEKSTILPaparan kebisingan yang mengekspos pekerja sering ditemukan di lingkungan industri sehingga berisiko terjadi peningkatan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat kebisingan, durasi paparan kebisingan, usia, penggunaan sumbat telinga, dan indeks massa tubuh dengan tekanan darah pada pekerja industri tekstil. Penelitian ini menggunakan jenis observasional dengan desain cross-sectional yang dilakukan pada bulan Agustus–Oktober 2016. Populasi penelitian adalah pekerja industri tekstil di Surakarta. Terpilih 180 orang pekerja dengan menggunakan metode sampling konsekutif. Analisis statistik yang digunakan adalah regresi logistik berganda. Variabel yang berhubungan dengan tekanan darah sistole adalah penggunaan sumbat telinga (OR=12,7), tingkat kebisingan (OR=7,2), indeks massa tubuh (OR=5,3), usia (OR=4,4), dan durasi paparan kebisingan (OR=3,5). Variabel yang terkait dengan tekanan darah diastole adalah penggunaan sumbat telinga (OR=6,9), usia (OR=6,6), tingkat kebisingan (OR=6,1), indeks massa tubuh (OR=4,4), dan durasi paparan kebisingan (OR=3,1). Simpulan, faktor risiko peningkatan tekanan darah di kalangan pekerja industri tekstil adalah penggunaan sumbat telinga, tingkat kebisingan, indeks massa tubuh, usia, dan durasi paparan kebisingan.
Knowledge about Byssinosis and the Use of Face-Masks Titik Respati; Ganang Ibnusantosa; Meike Rachmawati
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1600.814 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v1i1.1510

Abstract

The development of textile industry in Indonesia can potentially increase some occupational diseases that caused by waste products. One of those waste products from textile industry is cotton dust, which can cause byssinosis. There are several ways to reduce cotton dust exposure, such as using face mask. This research aim to describe the relationship between employee’s knowledge about byssinosis with face mask utilization in spinning department of a textile factory. This research is a descriptive study with cross sectional approach. The subjects of this research are employees working on Spinning Department. Data gathered using questionnaire about byssinosis and the habit of using face mask. The result of this research shows that 52 (79%) of 66 respondents have excellent knowledge about byssinosis, meanwhile the other 14 (21%) show just enough knowledge. Almost all wear a face mask during working hour (92%). The result of chi-square method showed that the relation between employee’s knowledge about byssinosis and face mask utilization was really weak (p=0.001, contingency coefficient=0.381). The result of this research indicates that besides knowledge of byssinosis, there are other factors that can affect face mask utilization. PENGETAHUAN MENGENAI BISINOSIS DAN PEMAKAIAN MASKERPerkembangan industri tekstil di Indonesia berpotensi meningkatkan beberapa penyakit akibat kerja yang diakibatkan oleh buangan hasil industri. Salah satunya adalah debu kapas yang dapat menyebabkan bisinosis. Terdapat beberapa cara untuk mengurangi paparan terhadap debu kapas ini antara lain dengan menggunakan masker. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan hubungan antara pengetahuan pekerja mengenai bisinosis dengan penggunaan masker pada departemen spinning sebuah pabrik tekstil. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian ini adalah pekerja pada sebuah pabrik tekstil di bagian spinning. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner mengenai bisinosis dan kebiasaan menggunakan masker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52 orang (79%) dari 66 responden mempunyai pengetahuan yang sangat baik mengenai bisinosis, sedangkan sisanya hanya mempunyai pengetahuan yang cukup. Hasil dari perhitungan statistik menggunakan chi-kuadrat menunjukkan kekuatan hubungan antara pengetahuan mengenai bisinosis dan penggunaan masker sangat lemah (p=0,001, contingency coefficient=0,381). Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat faktor lain yang memengaruhi penggunaan masker selain pengetahuan megnenai bisinosis. 
Optimasi Dosis dan Perbandingan Efek Ekstrak Etanol Ceplukan (Physalis angulata) dengan Obat Herbal Imunomodulator Terstandar terhadap Aktivitas Makrofag Intraperitoneal Mencit Jantan Galur DDY Yani Triyani; Irna Herliani; Nurul Patrisia; Sadiah Achmad; Eka Hendyanny; Julia Hartati
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3095.419 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v3i1.1543

Abstract

Angka kejadian penyakit infeksi di Indonesia masih tinggi, dengan angka mortalitas 230 kematian per 100.000 populasi. Dampak hal tersebut adalah penggunaan antibiotik yang tidak terkendali menyebabkan resistensi obat dan multidrug resistant bahkan extensive drug resistant. Konsumsi substansi yang berfungsi imunomodulator menjadi salah satu alternatif pemecahan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ekstrak etanol ceplukan (Physalis angulata) yang memiliki efek imunomodulator berpengaruh pada aktivitas fagositosis makrofag intraperitoneal mencit jantan galur DDY, serta menilai optimasi dosis ekstrak etanol ceplukan dan membandingkan efeknya dengan obat herbal imunomodulator terstandar. Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorik dengan subjek 25 ekor mencit jantan galur DDY yang dibagi lima kelompok. Setiap kelompok diberi perlakuan yang sama selama tujuh hari. Kelompok I (kontrol negatif) tidak diberikan ekstrak etanol ceplukan, kelompok II, III, dan IV diberikan ekstrak etanol ceplukan dengan dosis 12,5%, 25%, dan 50%, serta kelompok V (kontrol positif) diberikan obat herbal imunomodulator terstandar dosis 50 µL. Pada hari ke-8, dilakukan pengukuran aktivitas fagositosis makrofag intraperitoneal dengan melihat jumlah makrofag yang memfagosit biji lateks. Uji statistik yang digunakan adalah Kruskal-Wallis, Mann-Whitney, dan independent t-test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol ceplukan dosis 12,5% (rata-rata: 10, SD: 11,5) dan 25% (rata-rata: 14, SD: 8,5) secara signifikan meningkatkan aktivitas fagositosis makrofag dibanding dengan kontrol negatif. Ekstrak etanol ceplukan dosis 25% tidak berbeda bermakna dibanding dengan obat imunomodulator (rata-rata: 13, SD: 8,26) (p=0,05). Simpulan, ekstrak etanol ceplukan meningkatkan aktivitas fagositosis makrofag intraperitoneal dengan dosis optimum 25% dan memiliki efek yang sama dengan obat herbal  imunomodulator terstandar. DOSSAGE OPTIMATION AND COMPARISON OF ETHANOL EXTRACT OF CEPLUKAN (PHYSALIS ANGULATA) TO STANDARDIZED IMMUNOMODULATOR HERBAL MEDICINE ON INTRAPERITONEAL MACROPHAGE OF MALE MICE DDY STRAINNumber of infection disease are still in Indonesia. There were 230 people died from 100,000 population. The impact is Indonesia still face uncontrolled use of antibiotic which cause multidrug resistant even extensive drug resistant. The use of immunomodulator became the alternative solutions. This study aims was to describe whether there were an ability of Physalis angulata as an immunomodulator for the activity in macropag phagocytosis in DDY male rats. It also aim to identify extract optimation and compare it with the standard herbal immunomodulator. This was an experimental study with 25 male DDY rats divided into 5 groups. Group I as control negative was not given any ceplukan ethanol extract, group II, III and IV were given ceplukan ethanol extract with 12.5%, 25% and 50% dosage respectively and group V acted as positive control fed by standard herbal immunomodulator. On the 8th day intraperitoneal macrophage phagocytosis were measured by counting the number of macrophage which consumed the latex seeds. Statistical analysis used was Kruskal-Wallis, Mann-Whitney, and independent t-test.The resuts from this study showed that ceplukan ethanol extracts with the dosage of 12.5% (mean: 10, SD: 11.5) and 25% (mean: 14; SD: 8.5) significantly increased the phagocyte activity of macrophage compared to negative control. However 25% ceplukan ethanol extracts had no significant difference compared to standar herbal immunomodulator (mean: 13; SD: 8.25, p>0.05). The conclusions are ceplukan ethanol extract increases the phagocyte activity of macrophage with optimum dosage of 25% and possess the same effect with standard herbal immunomodulator.
Gambaran Garis Telapak Tangan pada Siswa SD Negeri 144 Talang Betutu, Palembang, Sumatera Selatan Mitayani Mitayani; Trisnawati Trisnawati
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.953 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i2.1851

Abstract

Garis-garis di telapak tangan dapat digunakan untuk investigasi kelainan genetik dengan cara yang tidak invasif dan untuk menemukan karakteristik antropologis suatu populasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pola garis telapak tangan penduduk Kota Palembang, Sumatera Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain potong lintang pada populasi siswa SD Negeri 144 Talang Betutu, Palembang dengan besar sampel 70 orang. Gambar kedua telapak tangan responden diambil pada bulan Maret 2016 menggunakan kamera lalu dianalisis tanpa dicetak terlebih dahulu. Pola garis telapak tangan siswa SD Negeri 144 Talang Betutu, Palembang, Sumatera Selatan adalah sekitar 90% garis normal, 3% dan 7% garis Simian atau single transverse palmar crease (STPC), dan 1% garis Sydney. Distribusi pola garis telapak tangan normal, STPC, dan Sydney ditemukan merata pada laki-laki dan perempuan. Simpulan, pola garis telapak tangan yang paling banyak ditemukan pada siswa SD Negeri 144 Talang Betutu, Palembang, Sumatera Selatan adalah pola garis normal, meskipun ada sebagian kecil pola garis Simian atau single transverse palmar crease dan garis Sydney. PALMAR CREASES PATTERN AMONG STUDENTS IN PUBLIC ELEMENTARY SCHOOL 144 TALANG BETUTU, PALEMBANG, SUMATERA SELATANPalmar crease identification could be used for investigates the genetic anomalies in a non-invasive way and determines the characteristics of a population. The aim of this study was to identify palmar creases in Palembang population. This study was a descriptive study using cross sectional design in students of Public Elementary School 144 Talang Betutu, Palembang, South Sumatera. Samples size were 70 peoples. The picture of subject’s hands was taken with camera on March 2016 and then being analyzed without printed. Palmar creases distribution on students of Public Elementary School 144 Talang Betutu, Palembang, South Sumatera were about 90% normal crease, 3% and 7% Simian or single transverse palmar crease (STPC), and 1% Sydney crease. Palmar crease distribution was equal between male and female. In conclusion, palmar creases pattern in Elementary Public School students 144 Talang Betutu, Palembang, Sumatera Selatan are normal crease, Simian or single transverse palmar crease, and Sydney crease.
Hubungan Stadium Hipertensi dengan Derajat Perlemakan Menggunakan Indeks Hepatorenal Sonografi Dede Marina; Harry Galuh Nugraha; Leni Santiana; Lanny Noor Diyanti
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.319 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i3.2175

Abstract

Hipertensi merupakan prekursor perkembangan perlemakan hati nonalkoholik. Modalitas pencitraan USG paling banyak digunakan untuk menegakkan diagnosis perlemakan hati nonalkoholik. Saat ini dikembangkan teknik USG menggunakan parameter indeks hepatorenal sonografi yang dihitung dengan program software ImageJ dan digunakan untuk memprediksi derajat perlemakan hati. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara stadium hipertensi dan derajat perlemakan hati nonalkoholik menggunakan indeks hepatorenal sonografi. Penelitian menggunakan studi observasional analitik dengan rancangan cross sectional, pengambilan sampel dilakukan secara consecutive admission. Penelitian dilaksanakan di Bagian Radiologi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Juni–Agustus 2016. Subjek penelitian 50 orang, laki-laki 22 orang, perempuan 28 orang, usia termuda 25 tahun, dan tertua 77 tahun. Hasil penelitian melalui uji statistik chi-square menunjukkan derajat perlemakan hati nonalkoholik ringan lebih banyak pada prehipertensi (9 dari 16), derajat sedang pada hipertensi stadium I (10 dari 19), dan derajat berat pada hipertensi stadium II (8 dari 15) dengan p<0,001. Perlemakan hati nonalkoholik derajat sedang dan berat lebih sering ditemukan pada perempuan dengan hipertensi (p=0,005) Simpulan, terdapat hubungan antara stadium hipertensi dan derajat perlemakan hati nonalkoholik menggunakan indeks hepatorenal sonografi.THE ASSOCIATION OF HYPERTENSION STAGE AND NON-ALCOHOLIC FATTY LIVER DEGREE USING HEPATORENAL SONOGRAPHY INDEXHypertension is considered as a precursor to the development of non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD). Ultrasonography techniques have been developed using sonography hepatorenal index parameter calculated by ImageJ, that can predict the degree of NAFLD. This study aim to determine the relationship between hypertension stage and the degree of NAFLD using sonography hepatorenal index. The research is an observational using cross sectional methods, with consecutive admission sampling method. The study was performed at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung from June to August 2016. A total of 50 subjects, 22 men and 28 women, with the youngest 25 and the oldest 77 years old participated. Results  indicated that the mild degree of NAFLD were higher on prehypertension (9 of 16), the moderate degree on stage I hypertension (10 of 19), while the severe degree found on stage II hypertension (8 of 15), with p<0.001. Moderate and severe degree of NAFLD in hypertensive patient is more common in women (p=0.005). In conclusion, there was a relationship between hypertension stage and the degree of NAFLD. 
Factors Affecting the Incidence of Filariasis in Welamosa Village Ende District East Nusa Tenggara Irfan Irfan; Norma Tiku Kambuno; Israfil Israfil
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.132 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v6i2.3208

Abstract

Filariasis is a chronic communicable disease caused by filarial worms, which consists of three species: Wucherria bancrofti, Brugaria malayi, and Brugaria timori. This disease is transmitted through mosquito bites, infects lymph tissue (lymph) and causes swelling of the legs, breasts, arms and genital organs. Welamosa village, Ende district, located in East Nusa Tenggara (NTT) province is reported as one of the highest cases of 40 cases in 2015. This research aims to analyze the influence of social factor of demography and socio-cultural environment factor to elephantiasis incident in Welamosa village, Ende district. The study was conducted in July–September 2016 in Welamosa village and Wolowaru sub-district, Ende district. The type of research was observational analytic with case-control with 49 people as sampling. The research instrument used questionnaire and check list. The data analysis used statistical test of SPSS program with backward regression logistic test. The results showed five variables as risk factors of elephantiasis occurrence, age (OR=42.518), education (OR=38.248), occupation (OR=8.404), outdoor activity at night (OR=5.097) and sex (OR=0.193). In conclusion, social demographic factors (age, gender, occupation, and education) and environmental and social-cultural factors of attitude (outdoor activities at night) are risk factors for filariasis incidence in Welamosa village, Ende district. FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEJADIAN PENYAKIT FILARIASIS DI DESA WELAMOSA KABUPATEN ENDE NUSA TENGGARA TIMURFilariasis adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh parasit berupa cacing filaria yang terdiri atas tiga spesies, yaitu Wucherria bancrofti, Brugaria malayi, dan Brugaria timori. Penyakit ini menginfeksi jaringan limfe (getah bening) dan menular melalui gigitan nyamuk, serta menyebabkan pembengkakan kaki, tungkai, payudara, lengan, dan organ genital. Desa Welamosa, Kabupaten Ende terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan sebagai salah satu kecamatan dengan kasus filariasis tertinggi, yakni 40 kasus pada tahun 2015. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh faktor sosial demografi dan faktor lingkungan sosial budaya terhadap kejadian filariasis di Desa Welamosa, Kabupaten Ende. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli–September 2016 di Desa Welamosa dan Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Jenis penelitian merupakan analitik observasional dan pengambilan sampel menggunakan case control sebanyak 49 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan ceklis. Analisis data menggunakan uji statistik program SPSS dengan backward regression logistic test. Hasil penelitian menunjukkan lima variabel yang merupakan faktor risiko kejadian filariasis, yaitu usia (OR=42,518), pendidikan (OR=38,248), pekerjaan (OR=8,404), aktivitas di luar rumah pada malam hari (OR=5,097), dan jenis kelamin (OR=0,193). Simpulan, faktor sosial demografi (usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan pendidikan) serta faktor lingkungan sosial budaya sikap (aktivitas di luar rumah pada malam hari) merupakan faktor risiko terhadap kejadian filariasis di Desa Welamosa, Kabupaten Ende. 
Socio Cultural Factors in the Treatment of Pulmonary Tuberculosis: a Case of Pare-Pare Municipality South Sulawesi Titik Respati; Aisyah Sufrie
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3204.954 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v2i2.1532

Abstract

Traditional healers still play an important part in the daily life of people in Pare-pare municipality. This study was to examine the cultural model for the implementation of tuberculosis control program.This study used qualitative research methods. Semi structured in-depth interview were used to collect the data. Respondents of this study were traditional healer, community leader and TB patients. The findings of the study suggest that traditional healers can play an important part in the tuberculosis program, because people tend to visit them the first instance for health care. The understanding and knowledge about tuberculosis of traditional healers is very limited, they believe God caused it, and only God can cure the disease. Based on the findings of the study, recommendations were made for enhancing the problem by including socio cultural factors that influence tuberculosis control program in Parepare municipality. They are strengthening the understand and knowledge about tuberculosis, providing health education with a view to balancing traditional beliefs and eradicating harmful beliefs, improving referrals to health clinics, providing health education and better communication in the community. FAKTOR SOSIO KULTURAL PADA TERAPI TUBERKULOSIS PARU: KASUS DI KOTAMADYA PARE-PARE SULAWESI SELATANDukun tradisional masih memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Pare-pare. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan model budaya dalam implementasi program pencegahan tuberkulosis (TB). Penelititan ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan wawancara terstruktur. Responden pada penelitian ini adalah dukun, tokoh masyarakat, dan penderita TB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukun dapat memegang peran sangat penting dalam program pencegahan TB karena masyarakat biasanya datang ke dukun sebagai penolong pertama untuk orang sakit. Pengertian dan pengetahuan dukun mengenai TB sangat terbatas. Mereka beranggapan bahwa Tuhan yang menjadi penyebab penyakit dan hanya Tuhan yang dapat menyembuhkan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, beberapa rekomendasi perlu diperhatikan untuk meningkatkan program pencegahan dan pemberantasan TB dengan mengikutsertakan faktor sosial budaya dalam aktivitasnya. Beberapa di antaranya adalah dengan memperkuat pengetahuan dan pengertian dukun tenang TB, memberikan edukasi dengan memperhatikan pandangan kepercayaan lokal, dan menghilangkan kepercayaan yang membahayakan. Selain itu, akses terhadap pelayanan kesehatan serta komunikasi dengan petugas kesehatan perlu ditingkatkan.
Mendukung Bangkitnya Kesehatan dan Sains Bangsa Indonesia Menuju Era Global Titik Respati
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.523 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i2.2884

Abstract

Sebuah perjalanan yang cukup panjang telah ditempuh oleh jurnal Global Medical and Health Communication (GMHC) yang berawal di tahun 2012 untuk memberikan ruang bagi para peneliti, dosen, dan pemerhati masalah kesehatan dalam menyampaikan hasil penelitian maupun ide dan metode terbarunya. Diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung, jurnal GMHC telah terakreditasi Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 2/E/KPT/2015 tertanggal 1 Desember 2015. Selain itu, jurnal ini telah terdaftar pula dalam Directory of Open Access Journals (DOAJ) tanggal 9 Mei 2017. Pencapaian ini telah mendapatkan respons positif dari para peneliti dan pemerhati masalah kesehatan terutama di Indonesia terbukti dengan semakin banyak artikel yang dikirimkan. Dibanding dengan awal pendiriannya pada tahun 2012 sampai tahun 2017 ini jumlah artikel yang dikirimkan menjadi tiga kali lipat banyaknya. Sebagai dukungan penyebaran informasi terutama hasil penelitian maka penerbitan GMHC yang sejak tahun 2013 cukup 6 bulan dalam setahun pada tahun 2017 menjadi setiap 4 bulan dalam setahun. Setelah menjadi jurnal terakreditasi nasional, jurnal GMHC mempersiapkan diri untuk berperan lebih di arena global. Jurnal GMHC bertekad dengan dukungan para penulis, pembaca, dan pemerhati untuk mulai menjadi sarana bagi bangsa Indonesia agar dapat berkiprah di tingkat dunia terutama dalam bidang kesehatan.