cover
Contact Name
Agus Chalid
Contact Email
gulid.p@gmail.com
Phone
+6285220013654
Journal Mail Official
gmhc.unisba@gmail.com
Editorial Address
Jalan Hariangbanga No. 2, Tamansari, Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Global Medical and Health Communication
ISSN : 23019123     EISSN : 24605441     DOI : https://doi.org/10.29313/gmhc
Core Subject : Health, Science,
Global Medical and Health Communication is a journal that publishes research articles on medical and health published every 4 (four) months (April, August, and December). Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields of anesthesiology and intensive care, biochemistry, biomolecular, cardiovascular, child health, dentistry, dermatology and venerology, endocrinology, environmental health, epidemiology, geriatric, hematology, histology, histopathology, immunology, internal medicine, nursing sciences, midwifery, nutrition, nutrition and metabolism, obstetrics and gynecology, occupational health, oncology, ophthalmology, oral biology, orthopedics and traumatology, otorhinolaryngology, pharmacology, pharmacy, preventive medicine, public health, pulmonology, radiology, and reproductive health.
Articles 422 Documents
Upaya Pengendalian Aedes aegypti di Desa Cibeusi dan Cikeruh Kecamatan Jatinangor berdasar atas Populasi Nyamuk Lia Faridah; Cica Lavemita; Uun Sumardi; Nisa Fauziah; Dwi Agustian
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.325 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v6i1.2586

Abstract

Masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang umum terjadi dalam beberapa tahun terakhir adalah penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes spp. Salah satu daerah endemis DBD adalah Kecamatan Jatinangor, kasus DBD tertinggi terjadi di Desa Cibeusi dan kasus terendah di Desa Cikeruh pada tahun 2014. Penelitian ini menggunakan rancangan potong lintang (cross sectional) dilaksanakan dari bulan September hingga November 2016. Teknik pengambilan sampel diambil secara sengaja (purposive sampling) dari dalam rumah di Desa Cibeusi dan Cikeruh. Setiap desa dipasang 10 perangkap nyamuk untuk 10 rumah meliputi luas wilayah 100×100 m2. Evaluasi hasil tangkapan dilakukan setiap 3 hari untuk setiap minggu selama 3 bulan. Data yang dicari adalah perbedaan jumlah nyamuk rata-rata dan upaya pengendalian Aedes aegypti di kedua desa. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji t tidak berpasangan. Pada equal variance assumed, Sig. (2-tailed) sebesar 0,711 (p<0,05), hal tersebut menunjukkan bahwa jumlah nyamuk rata-rata di kedua desa tidak berbeda bermakna secara statistik pada probabilitas 0,05. Upaya pengendalian Aedes aegypti yang telah dilaksanakan di Desa Cibeusi pada tahun 2016 adalah larvasidasi, sementara Desa Cikeruh melaksanakan fogging. Simpulan, upaya pengendalian vektor yang dilaksanakan Puskesmas Jatinangor dalam menurunkan angka kejadian DBD masih kurang. ASSESSMENT OF AEDES AEGYPTI CONTROL EFFORT IN CIBEUSI AND CIKERUH VILLAGES JATINANGOR SUB-DISTRICT BASED ON THE POPULATION OF MOSQUITOThe dengue hemorrhagic fever (DHF) is a common public health problem in Indonesia over the past few years which is transmitted by the bite of Aedes spp. One of the DHF endemic area is the Jatinangor sub-district, in 2014 Cibeusi village that had the highest number of DHF cases whereas the lowest number was recorded in Cikeruh village. This study used cross sectional design and it was conducted from September until November 2016. The sampling technique was purposive sampling from the residencies in Cibeusi and Cikeruh village. Each village was set up 10 mosquito traps for 10 houses covering an area 100×100 m2. Evaluation of the catches was done every 3 days per week for 3 months. Data to be found is the difference in mean number of mosquitoes and Aedes aegypti control efforts in both villages. The data collected was analyzed with unpaired t-test. Sig. (2-tailed) value at equal variance assumed was 0.711 (p<0.05), this showed that there was no statistically significant difference in the mean number of Aedes aegypti or it is not significant at 0.05 probability in both villages. Aedes aegypti control efforts on 2016 which have been held in Cibeusi village was larvaciding, while fogging activities in Cikeruh village as a control efforts. In conclusion, there is still lacking of vector control efforts undertaken by Jatinangor Public Health Center in reducing DHF incidence.
Sifilis Laten: Diagnosis dan Pengobatan Rasmia Rowawi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2853.941 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v1i2.1519

Abstract

Sifilis laten merupakan stadium sifilis yang diakibatkan oleh T. pallidum yang masih menetap dalam tubuh, namun tidak menunjukkan gejala dan hanya menunjukkan hasil pemeriksaan serologis yang reaktif. Sifilis laten yang tidak diterapi dapat menetap bertahun-tahun atau seumur hidup dan dapat meningkatkan risiko terinfeksi HIV. Ibu hamil dengan sifilis laten dini akan menyebabkan sekitar 40% bayi yang dilahirkankannya tertular, 20% prematur, 10% lahir mati, dan 4% meninggal pada waktu dilahirkan. Diagnosis sifilis laten dini ditegakkan bila dalam 12 bulan terakhir ditemukan satu atau lebih dari tanda-tanda berikut ini: peningkatan titer VDRL/RPR sebanyak empat kali atau lebih; pada anamnesis didapatkan gejala sifilis primer dan sekunder; riwayat kontak seksual dengan seseorang yang didiagnosis atau diduga menderita sifilis primer atau sifilis sekunder atau sifilis laten dini; serta kontak seksual dengan seseorang dengan tes VDRL atau RPR dan TPHA reaktif. Pengobatan yang direkomendasikan untuk sifilis laten dini adalah benzatin penisilin 2,4 juta UI, IM, dosis tunggal, sedangkan pada sifilis laten lanjut, benzatin penisilin 2,4 juta UI, IM, diberikan 3 kali dengan interval satu minggu. Pemeriksaan tes serologis sifilis nontreponemal (VDRL atau RPR) dilakukan setelah pengobatan 3, 6, 12, dan 24 bulan untuk menilai keberhasilan pengobatan. LATEN SYPHILIS: DIAGNOSIS AND THERAPYLatent syphilis is one of the syphilis stadiums caused by T.pallidum which is asymptomatic however it shows reactive serology. Patient with latent syphilis without treatment will have the disease throughout their whole life and will increase the risk for HIV infection. Pregnant women with latent syphilis will transmit the disease to 40% of the babies, 20% will be  premature, 10% will be still born  and 4% will die during delivery. The diagnosis of early latent syphilis is established when in the last 12 months one or more of the following signs are  found: four times or more  increased titers of VDRL or RPR;  history of symptoms of primary and secondary syphilis; a history of sexual contact with someone who was diagnosed with syphilis or suspected of having primary, secondary syphilis or early latent syphilis; history of sexual contact with someone who has VDRL or RPR and TPHA reactive tests. The recommended treatment for early syphilis is a single dose of 2.4 million IU benzathine penicillin, IM, whereas for late syphilis, three dosis of 2.4 million IU benzathine penicillin, IM administered with the intervals of one week. Examination of non treponemal syphilis serology tests (VDRL or RPR) should be performed at 3, 6, 12, and 24 months after treatment, to assess the treatment outcome.
The Effect of Kerokan to Liver Function of Hepatitis B Patients Hanum, Nur Adiba; Ismalayani, Ismalayani; Juliansyah, Rahmad Aswin; Syokumawena, Syokumawena; Pastari, Marta; Kusuma, Hanna Sari Widya; Arinta, Yukko
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.331 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v7i1.3397

Abstract

Kerokan is an alternative therapy done by rubbing and pressing the skin surface using oil and a blunt object. This treatment has a hepatoprotective effect as it increases heme oxygenase-1, an essential enzyme in heme catabolism. In hepatitis B, heme oxygenase-1 plays a vital role to fight oxidative stress. Hence the damage on liver cells can be reduced or even prevented. Damaged cells indicate by the production of aspartate aminotransferase (AST/SGOT) and alanine aminotransferase (ALT/SGPT) enzymes that accumulated in the bloodstream. This study aimed to investigate the effect of kerokan to liver function by analyzing SGOT and SGPT levels in hepatitis B patients. These were an experimental study with a pre-test post-test control group design conducted in the public health center in Palembang in October 2016. Statistical analysis used the unpaired t test and paired. The research subjects were 30 patients with inactive carrier and chronic hepatitis B. The levels of SGOT and SGPT were determined using the IFCC method. The levels of SGOT in control (19.53±3.44 U/L) and treatment group (20.46±4.53 U/L, Δ=0.93) after 24–48 hours were not statistically different (p=0.53). Also, the levels of SGPT in control (18.66±5.40 U/L) and treatment group (19.80±9.25 U/L, Δ=1.13) after 24–48 hours were also not statistically different (p=0.68) as well. In conclusion, the liver cells of inactive carrier and chronic hepatitis B patients were not damaged (necrosis) after kerokan therapy, and the levels of SGOT and SGPT were still in the normal range. EFEK KEROKAN TERHADAP FUNGSI HEPAR PASIEN HEPATITIS BKerokan merupakan terapi alternatif yang dilakukan dengan menggosok dan menekan permukaan kulit menggunakan minyak dan benda tumpul. Pengobatan ini bersifat hepatoprotektif, yaitu meningkatkan produksi enzim heme oxygenase-1 dalam katabolisme heme. Pada hepatitis B, heme oxygenase-1 berperan penting dalam menangkal radikal bebas sehingga dapat mengurangi atau mencegah kerusakan sel hepar. Kerusakan sel hepar diindikasikan oleh produksi enzim aspartate aminotransferase (AST/SGOT) dan alanine aminotransferase (ALT/SGPT) yang terakumulasi dalam pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kerokan pada fungsi hepar dengan menganalisis kadar SGOT dan SGPT pada pasien hepatitis B. Penelitian eksperimental ini menggunakan desain pre-test post-test control group yang dilakukan di puskesmas di Palembang pada Oktober 2016. Analisis statistik menggunakan uji t berpasangan dan tidak berpasangan. Subjek penelitian meliputi 30 pasien inactive carrier dan kronik hepatitis B. Kadar SGOT dan SGPT diukur dengan menggunakan metode IFCC. Kadar SGOT pada kontrol (19,53±3,44 U/L) dan grup perlakuan (20,46±4,53 U/L; Δ=0,93) setelah 24–48 jam tidak terdapat perbedaan signifikan (p=0,53). Selain itu, kadar SGPT pada kontrol (18,66±5,40 U/L) dan grup perlakuan (19,80±9,25 U/L; Δ=1,13) setelah 24–48 jam tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p=0,68). Simpulan, sel hepar pada pasien inactive carrier dan kronik hepatitis B tidak mengalami kerusakan setelah terapi kerokan, serta kadar SGOT dan SGPT tetap dalam kondisi normal.
Penggunaan Pemutih Gigi Mengandung Hidrogen Peroksida 40% Dibanding dengan Strawberry (Fragaria X ananassa) terhadap Ketebalan Email, Kadar Kalsium, dan Kekuatan Tekan Gigi Yuniarti Yuniarti; Achadiyani Achadiyani; Nani Murniati
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.122 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i1.1855

Abstract

Estetik gigi adalah hal yang penting bagi seseorang. Salah satu hal yang memengaruhi estetik gigi adalah warna gigi. Perubahan warna gigi dapat diperbaiki dengan pemutihan gigi hidrogen peroksida 40% dan strawberry (Fragaria x ananassa). Penelitian eksperimental laboratoris membandingkan gigi kelompok kontrol dengan dua kelompok perlakuan gigi yang diolesi bahan pemutih gigi hidrogen peroksida 40% atau direndam dalam strawberry. Penelitian dilakukan di Laboratorium Histologi Fakultas Kedokteran dan Laboratorium Kimia Universitas Padjadjaran, serta Laboratorium ITMKG Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran periode Agustus 2012–Mei 2013. Kelompok masing-masing memakai sembilan buah gigi premolar permanen yang diukur ketebalan email secara mikroskopis, kadar kalsium memakai spektrofotometer, dan kekuatan tekan memakai universal testing machine. Uji statistik pengukuran ketebalan email adalah uji-t, pengukuran kadar kalsium memakai Wilcoxon dan Mann Whitney, sedangkan hasil pengukuran kekuatan gigi diuji dengan Kruskal Wallis dan Post Hoc Mann Whitney. Hasil uji penurunan ketebalan email kedua kelompok perlakuan dibandingkan dengan kontrol (uji dependent t, p=0,002 dan p=0,0001) dan perbedaan penurunan ketebalan email antara kedua kelompok (uji independent p=0,0375) adalah signifikan. Penurunan kadar kalsium kedua kelompok dibandingkan dengan kontrol (uji Wilcoxon p=0,173 dan p=0,441) dan perbedaan kadar kalsium antara kedua kelompok tersebut (uji Mann Whitney p=0,480) tidak signifikan. Uji kekuatan tekan gigi signifikan antara kontrol dan dua kelompok perlakuan (uji Kruskall Wallis p=0,014), namun bila memakai uji Post Hoc Mann Whitney hanya penurunan kekuatan tekan gigi antara kontrol dan hidrogen peroksida yang berbeda signifikan (p=0,02). Simpulan, hidrogen peroksida 40% menurunkan ketebalan email dan kekuatan tekan gigi lebih besar dibanding dengan strawberry, tetapi tidak menurunkan kadar kalsium lebih besar dibanding dengan strawberry. TEETH BLEACHING HYDROGEN PEROXIDE 40% COMPARED WITH STRAWBERRY (FRAGARIA X ANANASSA) TO ENAMEL THICKNESS, CALCIUM LEVEL AND COMPRESSIVE STRENGTH OF TEETHTeeth esthetics is important for someone. One thing influence teeth estheticsis is colour. Dental bleaching using hydrogen peroxide 40% and strawberry (Fragaria x ananassa) is conservative alternative to restore the esthetics of either stained teeth. This study was an experimental laboratory by comparing control group with  two treatment groups were teeth smeared hydrogen peroxide 40% or soaked in strawberry. This study was done in Histology Laboratory Faculty of Medicine and Chemical Laboratory Universitas Padjadjaran, and ITMKG Laboratory Faculty of Dentistry Universitas Padjadjaran period August 2012–May 2013. Each group used nine permanent premolars, which will be measured email thickness microscopically, calcium levels using spectrophotometer, and compressive stregth using universal testing machine. The statistical test used for thickness measurement results email was the t-test, for measurement of calcium levels using Wilcoxon test and Mann Whitney while for tooth strength measurements were tested using Kruskal Wallis and Post Hoc Mann Whitney. The results obtained for the test email thickness reduction of both treatment groups compared with the control (test dependent t, p=0.002 and p=0.0001) and a decrease in the thickness difference between the two treatment groups email (independent test, p=0.0375) were significant. The results of the impairment test calcium levels both treatment groups compared with controls (Wilcoxon p=0.173 and p=0.441), and the difference in calcium levels between the two groups (Mann Whitney test, p=0480) was not significant. The results of compressive strength test teeth showed significant gains between the control group and two treatment groups (Kruskall Wallis test, p=0.014), However when using Post Hoc Mann Whitney test only decrease the compressive strength of the teeth between the control group and the treatment group were significant hydrogen peroxide (p=0.02). In conclusions, 40% hydrogen peroxide causes a decrease in the thickness of the email and the compressive strength is greater than strawberry but do not cause a decrease in blood calcium level greater than strawberry.
Pengaruh Pemberian Vitamin D terhadap Gambaran Foto Toraks pada Pasien Tuberkulosis Paru Beretnis Batak Debby Mirani Lubis; Yahwardiah Siregar; Bintang Y.M. Sinaga; Seri Rayani Bangun
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.554 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i1.2003

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang sampai sekarang masih menjadi masalah kesehatan dunia. Vitamin D dapat berperan melawan bakteri Mycobacterium tuberculosis melalui mekanisme cathelicidin intraseluler. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian vitamin D terhadap perbaikan foto toraks pada pasien TB paru beretnis Batak. Sebanyak 42 pasien yang memenuhi kriteria inklusi diambil dari beberapa puskesmas di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang selama bulan Januari–Juni 2016. Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan desain eksperimental murni tersamar tunggal (single-blind randomized controlled trial). Pasien dibagi secara acak menjadi kelompok vitamin D dan kelompok plasebo. Kelompok vitamin D diberikan tablet vitamin D oral 100.000 IU (2,5 mg) sebanyak 4 kali pemberian (minggu ke-0, 2, 4, 6). Kedua kelompok diperiksa kadar vitamin D dan foto toraks sebelum dan sesudah pengobatan selama 8 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok dengan pemberian vitamin D menunjukkan kenaikan kadar vitamin D secara signifikan (p=0,00) dibanding dengan kelompok yang diberi plasebo (0,26). Tidak ada perbedaan yang bermakna pada perbaikan foto toraks (p=0,06) antara kelompok vitamin D dan plasebo, tetapi jumlah subjek yang mengalami perbaikan foto zona paru pada kelompok vitamin D lebih banyak dibanding dengan kelompok plasebo (2:1). Simpulan, pemberian vitamin D tidak memengaruhi perbaikan foto toraks pada pasien TB paru beretnis Batak.THE EFFECT OF VITAMIN D ON CHEST X-RAY PROFILE IN BATAK ETHNICITY PULMONARY TUBERCULOSIS PATIENTSTuberculosis is an infectious disease that is still a global health problem. Vitamin D may play a role in fighting the bacteria Mycobacterium tuberculosis through the mechanism of intracellular cathelicidin. This study aimed to determine the effect of vitamin D on the improvement of chest x-ray in patients with pulmonary tuberculosis from Batak ethnicity. As much as 42 patients who met the inclusion criteria taken from several clinics in Medan City and Deli Serdang District in January to June 2016. This is a analytical study using single-blind randomized controlled trial design. Patients divided into groups of vitamin D and placebo groups. Vitamin D group was given vitamin D tablet 100,000 IU (2.5 mg) orally 4 times (0, 2, 4, 6 weeks). Levels of vitamin D and chest x-ray before and after 8 weeks of treatment were examined. The results showed that group with vitamin D levels increased significantly (p=0.00) compared to the placebo group (0.26). There was no significant difference in the improvement of thoracic images (p=0.06) between group with vitamin D and placebo groups. However, the number of subjects who experienced improvement of lung zone images in the vitamin D group more than the placebo group (2:1). In conclusion, vitamin D does not affect the improvement of chest x-ray in patients with pulmonary tuberculosis from Batak ethnicity.
Asuhan Nutrisi dan Stimulasi dengan Status Pertumbuhan dan Perkembangan Balita Usia 12‒36 Bulan Erliana Ulfah; Sri Endah Rahayuningsih; Herry Herman; Hadi Susiarno; Dida Akhmad Gurnida; Uni Gamayani; Hadyana Sukandar
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2141.245 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v6i1.2323

Abstract

Asuhan nutrisi dan stimulasi yang kurang memadai pada masa awal kehidupan anak, terutama anak usia 1–3 tahun berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan yang tidak optimal. Pada usia tersebut anak tumbuh dan berkembang secara pesat. Peran orangtua dalam proses pengasuhan sangat penting, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar anak (asah, asuh, asih), salah satunya adalah asuhan nutrisi dan stimulasi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan asuhan nutrisi dan stimulasi dengan status pertumbuhan dan perkembangan balita usia 12−36 bulan. Penelitian ini menggunakan rancangan mixed method dengan strategi concurrent triangulation. Metode penelitian kuantitatif menggunakan strategi penelitian analitik cross sectional, penelitian kualitatif menggunakan strategi studi kasus. Subjek penelitian adalah 156 orang ibu dan balita usia 12–36 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Cibatu Kabupaten Garut. Pengambilan sampel kuantitatif dengan teknik proporsi, multistage, dan simple random sampling. Sampel kualitatif menggunakan teknik non-probability sampling dengan purposive sampling. Pengujian satatistik menggunakan uji chi-kuadrat dengan kemaknaan berdasar nilai p<0,05. Penelitian dilakukan periode 25 Januari−1 Februari 2017. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan karakteristik responden dengan asuhan nutrisi dan stimulasi, meliputi usia, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, paritas dan pengasuh, kecuali pekerjaan dan penghasilan, terdapat hubungan dengan asuhan nutrisi (p=0,048 dan p=0,01). Tidak terdapat hubungan asuhan nutrisi dengan status pertumbuhan balita (p=0,272) dan status perkembangan balita (p=0,919). Terdapat hubungan stimulasi dengan status perkembangan balita (p=0,027). NUTRITION CARE AND STIMULATION WITH GROWTH AND DEVELOPMENT TODDLERS AGES 12−36 MONTHSInadequate of nutrition care and stimulation in early childhood development, especially children aged 1−3 years, have an impact on growth and development are not optimal. At that age children grow and develop rapidly. The role of parents in the parenting process is very important, especially in meeting the basic needs of children (teaser, foster care, compassion), one of which is the care of nutrition and stimulation. The purpouse of research was to corelation of nutrition care and stimulation with growth status and development toddler ages 12−36 months. This study used a mixed method design with concurrent triangulation strategy. Quantitative research methods using cross sectional analytical research strategy, qualitative research using case study strategy. Subjects were 156 mothers and toddlers aged 12−36 months, in Community Health Center Cibatu Garut regency. Quantitative sampling technique proportions, with multistage sampling and simple random sampling, qualitative sample using non-probability sampling technique, with purposive sampling.  Chi-square test statistics with significance based on the value of p<0.05. This research done periode 25 January−1 February 2017. The results showed there was no correlation characteristics of respondents (age, education, occupation, income, parity and caregivers) with nutritional care and stimulation, but job and income relationship with the care of nutrition (p=0.048 and p=0.01). There was no correlation with the growth of nutritional care toddler (p=0.272) and the development of nutritional care toddler (p=0.919). There was a correlation with the stimulation of early childhood development (p=0.027).
Herpes Genitalis dengan Gambaran Klinis Tidak Khas pada Penderita AIDS Keni Istasaputri; Tony S. Djajakusumah; Rachmadinata Rachmadinata; Rasmia Rowawi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2523.485 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v1i1.1514

Abstract

Dilaporkan sebuah kasus herpes genitalis dengan gambaran klinis yang tidak khas pada seorang laki-laki penderita acquired immuno deficiency syndrome (AIDS) berusia 27 tahun. Penderita datang dengan lesi pada pubis, korpus penis, dan skrotum bagian 1/3 atas, berupa ulkus dangkal multipel, dengan bentuk tidak teratur, tidak terdapat indurasi maupun nyeri tekan. Diagnosis kerja pada saat itu adalah ulkus genital nonspesifik yang ditegakkan setelah diagnosis banding berbagai etiologi disingkirkan melalui berbagai pemeriksaan penunjang. Pada bulan ke-6, tampak lesi baru di sekitar ulkus berupa vesikel, erosi, dan ekskoriasi, sehingga diagnosis kerja menjadi herpes genitalis. Pada pemeriksaan serologis ulang didapatkan hasil IgM antivirus herpes simpleks (VHS) (+), dan Ig G anti-VHS-2 (+). Terapi topikal diberikan kompres, sedangkan untuk terapi sistemik diberikan antibiotik yang sesuai dengan hasil tes resistensi. Terapi asiklovir sistemik dengan dosis 5x400 mg/hari diberikan setelah diagnosis kerja menjadi herpes genitalis. ATYPICAL GENITAL HERPES AND NON SPECIFIC CHARACTERISTIC IN AIDS PATIENTA case of genital herpes with atypical clinical feature in a 27-year-old man with AIDS was reported. The patient presented with multiple shallow ulcers in the pubic area, penile shaft, and 1/3 upper scrotum, with irregular shape, without induration, nor pain. The working diagnosis of nonspecific genital ulcer was made after the differential diagnoses of various etiologies were eliminated through further examination. On the sixth month of follow-up, there were new lesions found around the genital ulcers, which were vesicles, erosions, and excoriations, therefore the working diagnosis turned to genital herpes. Result from second serological examination revealed positive anti-HSV2 IgM, and positive anti-HSV2 IgG. Topical treatment consisted of compress and systemic antibiotic was also given based on resistency test result. Then, 400 mg acyclovir 5 times daily was given after the working diagnosis of genital herpes was established.
Hubungan Preeklamsi Berat dengan Hasil Luaran Janin (Fetal Outcome) di RSUD Al-Ihsan Kabupaten Bandung Dave Orlando Gumay; Hidayat Wijayanegara; Zulmansyah Zulmansyah
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2353.701 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v3i2.1546

Abstract

Preeklamsi merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas pada ibu dan neonatus. Beberapa keadaan hasil luaran janin pada ibu preeklamsi di antaranya small for gestasional age (SGA), asifiksia, prematuritas, dan stillbirth. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan preeklamsi berat dengan hasil luaran janin (fetal outcome) di RSUD Al-Ihsan Kabupaten Bandung periode 1 Januari 2012–31 Maret 2014. Penelitian menggunakan metode rancangan deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penentuan jumlah subjek penelitian didapatkan dari jumlah populasi sebanyak 137 orang. Analisis statistik dilakukan secara bivariat dengan menggunakan metode chi-kuadrat derajat kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini didapatkan hasil luaran janin dari ibu preeklamsi berat sebesar 33 kasus (24,1%) SGA, 73 kasus (53,3%) asfiksia ringan-sedang dan 13 kasus (9,5%) asfiksia berat pada APGAR menit pertama, 18 kasus (13,1%) lahir prematur, serta 1 kasus (0,7%) stillbirth. Terdapat hubungan preeklamsi berat dengan SGA (p=0,001; PR=6,928; 95% IK=2,797–17,162), asfiksia ringan-sedang APGAR 1 menit (p=0,001; PR=2,483; 95% IK=1,504–4,100), asfiksia berat APGAR 1 menit (p=0,001; PR=7,222; 95% IK=1,963–26,567), prematuritas (p=0,010; PR=3,303; 95% IK=1,269–8,597). Simpulan, terdapat hubungan preeklamsi berat dengan variabel hasil luaran janin yakni SGA, asfiksia ringan-sedang dan berat APGAR 1 menit, serta prematuritas. THE CORRELATION BETWEEN SEVERE PREECLAMPSIA AND FETAL OUTCOMES IN RSUD AL-IHSAN BANDUNGPreeclampsia is one of the causes of maternal-neonates morbidity and mortality. Several conditions of fetal outcomes in women with preeclampsia including small for gestasional age (SGA), asphyxia, prematurity and stillbirth. This study aims was to analyze the relationship between severe preeclampsia with fetal outcome in Al-Ihsan Hospital Bandung District period 1 January 2012−31 March 2014. The study used descriptive analytic design and cross-sectional method. Research subjects’ number obtained from a total population of 137 patients. Statistical analysis was performed with bivariat uses chi-square method with  95% confident interval. The result of this study showed that fetal outcomes of woman with severe preeclampsia were 33 cases (24.1%) SGA, 73 cases (53.3%) mild-moderate asphyxia and 13 cases (9.5%) severe asphyxia on APGAR 1 minute, 18 cases (13.1%) were born prematurely, and 1 case (0.7%) stillbirth. There were relation between severe preeclampsia and SGA (p=0.001, PR=6.928, 95% CI=2.797 to 17.162), mild-moderate asphyxia APGAR 1 minute (p=0.001, PR=2.483, 95% CI=1.504 to 4.100), severe asphyxia APGAR 1 minute (p=0.001, PR=7.222 95% CI=1.963 to 26.567) and prematurity (p=0.010, PR=3.303, 95% CI=1.269 to 8.597). In conclusions, there are a relationship between severe preeclampsia and fetal outcomes in terms of SGA, mild-moderate and severe asphyxia APGAR 1 minute and prematurity.
Ekspresi IgA dan Rasio CD4+/CD8+ Sel T Mukosa Usus Tikus Setelah Suplementasi Kerang Darah (Anadara granosa) Netty Ino Ischak; La Ode Aman
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.144 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i2.1816

Abstract

Kerang darah (Anadara granosa) mengandung senyawa glikoprotein yang diperkirakan dapat berperan sebagai zat imunomodulator dengan aktivitas tinggi. Penelitian bertujuan mempelajari potensi kerang darah (Anadara granosa) dalam mekanisme sistem imun tikus (Rattus norvegicus) strain Spraque Dawley. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kimia Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Gorontalo dan Laboratorium Primata Bogor IPB selama periode Maret–Oktober 2015. Peranan itu dijelaskan melalui ekspresi imunoglobulin A (IgA) dan skor histologi rasio CD4+/CD8+ sel T mukosa usus secara imunohistokimia. Metode penelitian adalah eksperimental laboratorik dengan menerapkan randomized post test only control group design terhadap 30 ekor tikus yang dipilih secara simple random sampling. Sampel dibagi dalam lima kelompok: (i) kontrol normal; (ii) dan (iii) adalah sampel malnutrisi yang masing-masing mendapat perlakuan ransum nonprotein sebagai kontrol positif [K.kg(+)] dan ransum standar kasein 20% sebagai kontrol negatif [K.kg(−)]; serta (4) dan (5) adalah sampel malnutrisi yang mendapat perlakuan ransum protein kasein 10% yang dikombinasi dengan tepung kerang darah 10% [P.kg1] dan diberi ransum tepung kerang darah 20% [P.kg2]. Perlakuan terhadap subjek selama 45 hari. Kondisi malnutrisi (kadar albumin<2,7 g/dL) diperoleh dengan pemberian ransum nonprotein. Setelah perlakuan, tikus dinekropsi untuk pengambilan jaringan usus. Pemeriksaan IgA dan skor rasio CD4+/CD8+ sel T jaringan mukosa usus (jejunum dan ileum) dengan metode imunohistokimia. Hasil penelitian menunjukkan kerang darah berpotensi meningkatkan kadar IgA, meningkatkan skor histologi CD4+, dan menurunkan skor histologi CD8+ sehingga memengaruhi peningkatan skor rasio CD4+/CD8+ sel T jejunum dan ileum mukosa usus tikus malnutrisi. Simpulan, terdapat peningkatan jumlah ekspresi IgA pada jejunum maupun ileum mukosa usus kelompok yang diberikan suplementasi kerang darah lebih baik dibanding dengan kelompok tanpa diberi suplementasi. IGA EXPRESSION AND CD4+/CD8+ T CELL RATIO OF RAT INTESTINE MUCOSA AFTER ADMINISTRATION OF ANADARA GRANOSAAnadara granosa contains of glycoprotein that has high activity as immunomodulator. The research objective was to study Anadara granosa’s role on immune system mechanism of rats (Rattus norvegicus) Spraque Dawley strain that described by expression of immunoglobulin A (IgA) and histologic score ratio of CD4+/TCD8+ of intestinal mucosa. The study was held in Chemical Laboratory of Chemical Division of FMIPA Universitas Negeri Gorontalo and Laboratory Primata Bogor IPB during March–October 2015. The method was used experimental laboratory with randomized post test only control group design on 30 rats were selected by simple random sampling and divided into five groups: (1) normal controls, (2) and (3) were malnourished subjects to non-protein food as positive control [K.kg(+)], and food standard with casein 20% as negative control [K.kg(−)], (4) and (5) were malnourished subjects thas treated with casein protein diet 10% combined Anadara granosa flour 10% [P.kg1], and given Anadara granosa flour 20% [P.kg2]. The subjects were treated for 45 days. Malnourished condition (albumin<2.7 g/dL), obtained by non-protein diet. Final step, the samples were operated to get intestinal tissues. IgA examination and CD4+/CD8+ rasio of intestine’s mucosal tissues (jejunum and ileum) by immunohistochemically methods. The results showed that Anadara granosa could potentially increased IgA levels and capable to increase histology score of CD4+ and to decrease histology score CD8+. Increasing of CD4+/CD8+ ratio in jejunum and ileum of rats intestinal mucosa with malnourished after be administrated by Anadara granosa flour. In conclusion, IgA expression increased in jejunum and ileum mucosa of supplementation group is better than non-supplementation.
Efektivitas Latihan Penguatan terhadap Kemampuan Fungsional Anggota Gerak Atas pada Pasien Strok Iskemi Fase Subakut Cice Tresnasari; Andi Basuki; Irma Ruslina Defi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.326 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i3.2231

Abstract

Stroke merupakan suatu penyakit dengan gejala utama kelemahan. Kelemahan anggota gerak atas menyebabkan penurunan kemampuan fungsional anggota gerak atas. Kekuatan adalah salah satu indikator performa fungsional anggota gerak atas. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas latihan penguatan anggota gerak atas dengan pita dan bola elastik terhadap peningkatan kekuatan dan kemampuan fungsional anggota gerak atas pada pasien stroke iskemi fase subakut. Rancangan penelitian adalah eksperimental, dilaksanakan di Rumah Sakit Hasan Sadikin periode Desember 2013-Juli 2014. Subjek terdiri atas 21 pasien stroke iskemi fase subakut berusia 40-59 tahun. Latihan penguatan dengan pita dan bola elastik dilakukan oleh semua subjek, 3 kali seminggu, selama 6 minggu, 2 set setiap latihan, 8 repetisi setiap set. Sebelum, setelah 2 minggu, 4 minggu dan 6 minggu latihan dilakukan penilaian kekuatan dan fungsi anggota gerak atas. Hasil menunjukkan bahwa latihan penguatan meningkatkan kekuatan anggota gerak atas (p<0,001) dan meningkatkan fungsi anggota gerak atas (p<0,001). Simpulan, latihan penguatan anggota gerak atas dengan pita dan bola elastik efektif meningkatkan kekuatan dan fungsi anggota gerak atas pada pasien stroke iskemi fase subakut. THE EFFECTIVENESS OF STRENGTHENING EXERCISES ON UPPER LIMBS FUNCTIONAL ABILITY OF SUBACUTE PHASE ISCHEMIC STROKE PATIENTSStroke is a disease with the primary symptoms of weakness. The weakness of the upper limbs caused a decrease in functional ability. Strength is one indicator of upper limb functional performance. The purpose of this study was to determine the effectiveness of upper limb strengthening exercises to increase strength and functional ability of upper limbs in patients with subacute phase ischemic stroke using elastic band and balls. The study was conducted using experimental method, performed at the Medical Rehabilitation Division, Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from December 2013 to July 2014. Subjects consisted of 21 patients with ischemic stroke subacute phase aged 40–59 years. The strengthening exercises with elastic band and elastic ball were done by all subjects, 3 times a week, for 6 weeks. Each exercise consisted of 2 sets with 8 repetition of each set. Assessment of the strength and upper limbs function done before, after 2 weeks, 4 weeks and 6 weeks of strengthening exercises. Results showed that strengthening exercises increases the strength of the upper limbs (p<0.001) and increases the upper limbs function (p<0.001). Conclusions, upper limbs exercise strengthening with elastic band and elastic ball effectively increased the strength and upper limb function in ischemic stroke subacute phase patients.

Page 10 of 43 | Total Record : 422