cover
Contact Name
Agus Chalid
Contact Email
gulid.p@gmail.com
Phone
+6285220013654
Journal Mail Official
gmhc.unisba@gmail.com
Editorial Address
Jalan Hariangbanga No. 2, Tamansari, Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Global Medical and Health Communication
ISSN : 23019123     EISSN : 24605441     DOI : https://doi.org/10.29313/gmhc
Core Subject : Health, Science,
Global Medical and Health Communication is a journal that publishes research articles on medical and health published every 4 (four) months (April, August, and December). Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields of anesthesiology and intensive care, biochemistry, biomolecular, cardiovascular, child health, dentistry, dermatology and venerology, endocrinology, environmental health, epidemiology, geriatric, hematology, histology, histopathology, immunology, internal medicine, nursing sciences, midwifery, nutrition, nutrition and metabolism, obstetrics and gynecology, occupational health, oncology, ophthalmology, oral biology, orthopedics and traumatology, otorhinolaryngology, pharmacology, pharmacy, preventive medicine, public health, pulmonology, radiology, and reproductive health.
Articles 422 Documents
Penerapan Aplikasi Sayang ke Buah Hati (SEHATI) terhadap Pengetahuan Ibu serta Dampak pada Keterampilan Anak tentang Cara Menyikat Gigi Safitri Safitri; Heda Melinda; Bambang S. Noegroho; Farid Husein; Dewi Marhaeni; Julistio T.B. Djais
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.783 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v6i1.2757

Abstract

Penyakit gigi dan mulut memiliki tingkat prevalensi tertinggi pada anak usia sekolah di Indonesia. Keterampilan cara menyikat gigi yang baik dan benar merupakan faktor yang cukup penting untuk pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Ibu berperan penting dalam mengajarkan cara menyikat gigi pada anak. Aplikasi Sayang ke Buah Hati (SEHATI) diharapkan dapat membantu ibu dalam menerapkan cara menyikat gigi yang benar kepada anak-anaknya. Tujuan penelitian ini menganalisis pengaruh penerapan aplikasi SEHATI terhadap pengetahuan ibu dan menganalisis hubungan antara pengetahuan ibu dan keterampilan anak tentang cara menyikat gigi. Penelitian ini menggunakan rancangan quasi-experiment yang berbentuk one-group pretest-posttest design. Subjek penelitian ini adalah seluruh ibu dan anak SD Uchuwwatul Islam di Kota Bandung berjumlah 33 ibu dan 33 anak yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk kriteria eksklusi. Pengetahuan ibu sebelum dan setelah penerapan aplikasi SEHATI diukur menggunakan kuesioner dan keterampilan anak diukur menggunakan ceklis. Penelitian dilakukan selama 2 minggu terhitung tanggal 22 Februari–7 Maret 2017. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan uji Spearman ro. Hasil penelitian terdapat pengaruh penerapan aplikasi SEHATI berbasis android pada ibu terhadap pengetahuan (p<0,001) dan terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dan keterampilan anak tentang cara menyikat gigi (p<0,001). Simpulan, terdapat peningkatan pengetahuan ibu dan keterampilan anak tentang cara menyikat gigi sebelum dengan sesudah penggunaan aplikasi SEHATI. SAYANG KE BUAH HATI (SEHATI) APPLICATION USAGE ON MOTHER’S KNOWLEDGE AND IMPACT TO THE CHILDREN’S SKILL ABOUT BRUSHING TEETHDental and oral diseases have a high prevalence in children at school age in Indonesia. The skill of appropriately and correctly brushing teeth becomes a somewhat important factor for maintaining dental and oral health. Mothers have an important role in teaching children how to brush teeth. Sayang ke Buah Hati (SEHATI) application is expected to help mothers apply the correct way of brushing teeth to their children. The research aimed at analyzing the effect of the use of SEHATI application on mother’s knowledge and the correlation between mother’s knowledge and children’s skill about how to brush teeth. The quasi-experimental design used was one-group pretest-posttest design. Subjects were all mothers and children at Uchuwwatul Islam Elementary School in Bandung, consist of 33 mothers and 33 children. Mothers’ knowledge before and after the use of SEHATI application was measured using questionnaire, while children’s skill was measured using a checklist. The study was conducted for 2 weeks from 22 February–7 March 2017. The data were analyzed using Wilcoxon test and Spearman rho test. Results of this research show that there was an effect of SEHATI application android-based on mother’s knowledge (p<0.001) and there was a correlation between mother’s knowledge and children’s skill about how to brush teeth (p<0.001). In conclusion, there are differences of mothers’ knowledge and the children’s skill about how to brush teeth before and after SEHATI application usage.
Efek Jus Gel Lidah Buaya (Aloe vera L.) dalam Menghambat Penyerapan Glukosa di Saluran Cerna pada Manusia Diana Krisanti Jasaputra; Fanny Rahardja; Evan Christian
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2113.669 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v2i1.1523

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah. Prevalensi DM di Indonesia menduduki peringkat ke-4 dunia. Pencegahan dan penatalaksanaannya menjadi sangat penting, sehingga diperlukan terapi komplementer alternatif yang salah satunya adalah lidah buaya. Tujuan penelitian ini untuk menilai efek jus gel lidah buaya (Aloe vera L.) dalam menghambat penyerapan glukosa di saluran cerna pada manusia. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Farmakologi Unversitas Kristen Maranatha Bandung selama Desember 2011 sampai Desember 2012. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimental dengan desain penelitian cross over. Penelitian dilakukan pada 10 orang subjek penelitian dan masing-masing memperoleh 3 perlakuan yaitu pemberian akuades, acarbose, dan jus gel lidah buaya yang diberikan saat makan. Kadar glukosa darah diukur pada saat puasa dan 2 jam post prandial. Uji analisis statistik dilakukan dengan menggunakan metode analysis of varians (ANOVA), dengan α = 0,05 dengan Uji lanjut Fisher LSD. Hasilnya menunjukkan adanya kenaikan kadar glukosa darah 2 jam post prandial oleh jus gel lidah buaya sebesar 14,35%, sedangkan akuades 23,91%. Hal ini menunjukkan perbedaan bermakna (p<0,05) yang berarti jus gel lidah buaya menghambat penyerapan glukosa pada saluran cerna. Potensi jus gel lidah buaya ini setara dengan acarbose yang menaikkan kadar glukosa darah 2 jam post prandial sebesar 12,31 % (p>0,05). Simpulan dari penelitian ini adalah jus gel lidah buaya menghambat penyerapan glukosa di saluran cerna pada manusia. THE EFFECT OF ALOE vera L GEL JUICE AS GLUCOSE ABSORPTION INHIBITORS IN GASTROINTESTINAL TRACT ON HUMANSDiabetes mellitus (DM) is a chronic disease characterized by elevated blood glucose levels. The prevalence of DM in Indonesia ranks fourth in the world. Prevention and management are very important, that the necessary complementary alternative such as aloe vera is encouraged. This study aim to assess the effect of aloe vera gel juice in inhibiting the absorption of glucose in the gastrointestinal tract on humans. The study was a quasi experimental study with cross over study design conducted on 10 subjects during December 2011 to December 2012 in laboratory Department of Pharmacology Maranatha Christian University Bandung. Treatments given into 3 categories that are distilled water, acarbose, and the juice of aloe vera gel in meal time. FastingBlood glucose levels and after 2 hours post prandialswere measured. The data was analyzed using analysis of varians (ANOVA), with α=0.05 and the Fisher LSD test. The results showed that an increase in blood glucose levels after 2 hours post prandials was 14.35% in subjects given aloe vera gel juice, and 23.91% for distilled water and show significant differences (p<0.05. It means that aloe vera gel juice inhibited glucose absorption in the gastrointestinal tract. The potential of aloe vera gel juice is equivalent to acarbose which increases blood glucose levels 2 hours post prandials at 12.31% (p>0.05). The conclusion of this study is aloe vera gel juice inhibit glucose absorption in the gastrointestinal tract on humans.
Prescription Writing Errors in Clinical Clerkship among Medical Students Indriyanti, Raden Anita; Yulianto, Fajar Awalia; Andriane, Yuke
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.885 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v7i1.4069

Abstract

Prescription is an instruction written by a medical practitioner to give a drug or device for a patient. The proper prescription will contribute to speedy recovery or healing process for the patient. Clinical clerkship must have an excellent competency to choose the right medication and prescribe the appropriate drugs or therapy. This study aims to analyze the common error in prescription's writing in clinical clerkship among medical students at their final examination to be a medical doctor. This study used the analytic method to 609 sheets of prescription from 180 clerkship students in their last try out on objective structured clinical examination (OSCE) at the Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung in March 2018. Analyzed the component that every prescription should have, which consists of patient identity, superscription, inscription, subscription, and signatures. The result showed that more than half of the clerkship students made an error in subscription (50.25%) and signatures items (55.83%), while most of them had written down properly the patient identity (77.5%), superscription (83.74%), and inscription (78.98%). As a result, with more than half error in a prescription written in subscription and signature item, the failure of giving adequate therapy will cause a low recovery or healing process to the patients. Moreover, it may harm or cause death to the patients. In conclusion, more than half of medical students made common errors in prescription's writing. KESALAHAN PENULISAN RESEP PADA MAHASISWA KOASISTENSI FAKULTAS KEDOKTERANResep merupakan instruksi yang ditulis oleh tenaga medis untuk memberikan obat atau seperangkat alat kepada pasien. Peresepan yang tepat akan membawa proses pemulihan dan penyembuhan terhadap pasien. Mahasiswa kedokteran yang menjalankan masa koasisten harus memiliki kompetensi yang baik untuk memilih dan menuliskan terapi yang sesuai. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesalahan umum dalam penulisan resep pada mahasiswa kedokteran yang akan menghadapi ujian akhir untuk menjadi seorang dokter. Penelitian ini menggunakan metode analitik terhadap 609 lembar resep dari 180 mahasiswa kedokteran yang sedang melaksanakan try out akhir objective structured clinical examination (OSCE) di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung pada Maret 2018. Dianalisis setiap komponen yang harus ada dalam penulisan resep, yaitu identitas pasien, superskripsi, inskripsi, subskripsi, dan signature. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah mahasiswa melakukan kesalahan pada item subskripsi (50,25%) dan signature (55,83%), sedangkan sebagian besar sudah menulis dengan baik pada item identitas pasien (77,5%), superskripsi (83,74%), dan inskripsi (78,98%). Akibatnya, dengan lebih dari setengah jumlah kesalahan dalam penulisan item subskripsi dan signature maka kegagalan dalam memberikan terapi yang adekuat dapat menyebabkan angka kesembuhan yang rendah, terlebih lagi dapat menimbulkan bahaya bahkan kematian terhadap pasien. Simpulan, lebih dari setengah mahasiswa kedokteran melakukan kesalahan umum dalam penulisan resep.
Deteksi Dini Penyakit Parkinson: Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Petani Desa Tanjung Wangi Cicalengka Mengenai Bahaya Pestisida bagi Kesehatan Arief Budi Yulianti; Siska Nia Irasanti; Meta Maulida; Mia Kusmiati; Adhika Putra Rahmatullah
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.876 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i1.1730

Abstract

Pestisida bersifat toksik bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Petani adalah kelompok masyarakat berisiko tinggi terpapar pestisida. Tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku petani mengenai bahaya pestisida sangat diperlukan agar keputusan untuk menggunakan pestisida sesuai dengan jenis, waktu, dan cara menjadi tepat. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Maret–Juli 2015 dan merupakan penelitian observasional dengan subjek penelitian petani Desa Tanjung Wangi. Subjek penelitian diambil secara acak diperoleh 62 subjek penelitian yang terdiri atas 47 laki-laki dan 15 perempuan. Tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku diukur dengan kuesioner yang sudah divalidasi. Pengukuran gejala dini Parkinson menggunakan kuesioner PDQ39 yang sudah dimodifikasi. Diperoleh tingkat pengetahun dan sikap petani mengenai bahaya pestisida skor terendah 0,70 dan tertinggi 0,97 dengan nilai median 0,80 dan modus 0,79. Perilaku pestisida ini mengenai tata cara penggunaan pestisida skor terendah 0,64, tertinggi 1 dengan modus 0,84. Gejala dini Parkinson pada petani di Desa Tanjung Wangi skor tertendah 0,74 dan tertinggi 1 dengan nilai median 0,84 dan modus 0,91. Simpulan, pengetahuan, sikap, dan perilaku petani Desa Tanjung Wangi mengenai bahaya pestisida baik. Hasil yang diperoleh dari kuesioner tidak menggambarkan kondisi petani di lapangan. Hal ini dapat terjadi karena peneliti tidak memasukkan unsur ekonomi sebagai salah satu faktor penentu pengambilan keputusan menggunakan pestisida sehingga diperlukan upaya edukasi petani. DETECTION-EARLY OF PARKINSON'S DISEASE: KNOWLEDGE, ATTITUDES, AND BEHAVIOR FARMER IN DESA TANJUNG WANGI ABOUT PESTICIDES TOXICITIES TOWARD HEALTHPesticides are toxic for human and environment. Farmers are people at high risk of exposure to pesticides. The level of knowledge, attitudes, and behaviors of farmers about pesticides toxicity needed, so the decision to use pesticides be expected right. This research held on March–July 2015, observational method with subjects farmers in Desa Tanjung Wangi were taken randomly. Number of samples were 62 person consisted of 47 men and 15 women. The level of knowledge, attitudes, behaviors and detectionearly of Parkinson’s disease were measured with a questionnaire PDQ39 modified. The lowest score of level knowledge and attitudes about pesticides toxicities was 0.70 and the highest was 0.97 with median and modus 0.80 and 0.79, respectively. The lowest score of behavior regarding the method of pesticides used was 0.64 and the highest was 1 with modus 0.84. The lowest score of detection-early of Parkinson’s disease was 0.74 and the highest was 1 with median and modus 0.84 and 0.91, respectively. In conclusions, farmers knowledge, attitudes and behavior regarding pesticides toxicities are good. But the questionnaire wasn’t describe the really condition in field, especially in economic issues that affecting decisions about pesticides to be used, so educating to understand about pesticides toxicities needs to be done.
Pengaruh Latihan Interval Intensitas Tinggi terhadap Denyut Nadi Mahasiswa Kedokteran Raden Ayu Tanzila; Milla Fadliya Bustan
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.088 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i1.2010

Abstract

Riset dasar kesehatan (2007) menyatakan bahwa 48,2% penduduk Indonesia yang berusia lebih dari 10 tahun kurang melakukan aktivitas fisik dengan kelompok perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang menggunakan program student centered untuk mahasiswanya yang menyebabkan kesibukan belajar yang sangat padat sehingga mahasiswa kurang melakukan aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh latihan interval intensitas tinggi terhadap denyut nadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang selama periode November 2015–Februari 2016. Latihan interval intensitas tinggi ialah bentuk latihan kombinasi latihan intensitas tinggi dengan intensitas sedang atau rendah dalam selang waktu tertentu dengan efek sama dengan latihan intensitas sedang, namun tidak memerlukan waktu yang banyak. Data didapatkan dari pengukuran denyut nadi secara langsung sebelum dan setelah melakukan latihan interval intensitas tinggi pada 60 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang yang memenuhi kriteria inklusi. Data diolah menggunakan uji T-dependent dan uji normalitas Shapirowilk. Didapatkan denyut nadi subjek meningkat setelah latihan interval intensitas tinggi. Denyut nadi rata-rata sebelum latihan 85,33±10,993 dan setelah latihan 152±8,975. Selanjutnya, dengan uji T-dependent didapatkan p=0,000. Simpulan, terdapat pengaruh latihan interval intensitas tinggi terhadap denyut nadi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang.EFFECT OF HIGH INTENSITY INTERVAL TRAINING ON PULSE RATE IN MEDICAL STUDENTSIndonesia basic health research (2007) states that 48.2% of the Indonesian population aged over 10 years have less physical activity with women having less than men. Faculty of Medicine University Muhammadiyah Palembang used student centered learning which required long learning hours that can cause students to have less time for physical exercise. This study aims to determine the effects of high intensity interval training to pulse rate on students of Faculty of Medicine University Muhammadiyah Palembang. Data collected during November 2015 to February 2016. High intensity interval training is a form of exercise that combine high-intensity exercise with moderate or low intensity in a certain time interval. It has the same effect with moderate intensity exercise. However, it does not require a lot of time. The data was obtained from pulse rate measurement directly before and after high intensity interval training to 60 students. The data was processed using T-dependent test and  Shapiro Wilk normality test. The mean of pulse rate before and after the high intensity interval training was 85.33±10.993 and 152±8.975 (p=0.000) respectively. Therefore, there was clearly an increase of pulse rate after high intensity interval training. In conclusion, there was the effect of high intensity interval training to pulse rate on students at Faculty of Medicine of University of Muhammadiyah Palembang.
Efek Gel Kentang Kuning (Solanum tuberosum L.) terhadap Proses Penyembuhan Luka pada Mencit (Mus musculus) Silvana Anggreini Rosa; Sudigdo Adi; Achadiyani Achadiyani; Astrid Feinisa Khairani; Uci Ary Lantika
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (852.381 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v6i1.2417

Abstract

Perawatan luka yang baik diperlukan dalam proses penyembuhan luka. Salah satu metodenya adalah pemberian obat topikal. Gel kentang kuning (Solanum tuberosum L.) memiliki kandungan antosianin yang berperan dalam meningkatkan vaskularisasi, menginisiasi sintesis DNA, dan menstimulus sintesis fibronektin dari fibroblas. Dengan demikian, dimungkinkan gel kentang kuning dapat membantu proses penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan melihat efek gel kentang kuning pada jumlah fibroblas, tebal epitel, dan luas luka eksisi. Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorik dengan rancangan acak lengkap yang dilakukan di kandang hewan Divisi Biologi Sel Departemen Anatomi, Fisiologi, dan Biologi Sel, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran; Laboratorium Patologi Anatomi, Universitas Padjadjaran; dan Laboratorium Farmasi Singaperbangsa, Universitas Padjadjaran, Bandung. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Oktober 2015. Tiga puluh enam mencit (Mus musculus) jantan galur Swiss Webster dieksisi pada kulitnya kemudian dibagi menjadi dua kelompok: kelompok perlakuan (n=18) dan kelompok kontrol (n=18). Dilakukan pengamatan luas luka dan histologi pada hari ke-7, 14, dan 25. Dibuat sediaan preparat histologi untuk menghitung jumlah fibroblas, pembuluh darah, dan tebal epitel. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pemberian gel kentang kuning dapat meningkatkan efektivitas pembentukan fibroblas dan pembuluh darah pada hari ke-7. Selain itu, gel kentang kuning juga berefek pada peningkatan tebal epitel dan penurunan diameter luas luka pada hari ke-7, 14, dan 25. Simpulan, pemberian gel kentang kuning dapat meningkatkan efektivitas penyembuhan luka eksisi. THE EFFECT OF YELLOW POTATO (SOLANUM TUBEROSUM L.) GEL ON WOUND HEALING PROCESS IN MICE (MUS MUSCULUS)Adequate wound care is needed on wound-healing process. Applying topical agent is one of the wound care methods. Yellow potato (Solanum tuberosum L.) gel’s content an anotsianin antioxidant that could improve vascularization, initiation DNA synthesis, and stimulate synthesis of fibronectin. Therefore, it is possible that yellow potato gel could help on wound healing process. This study examined the effect of yellow potato gel on wound healing. This study was laboratory experiment with completely randomized design conducted in Department of Anatomy, Physiology and Cell Biology, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran; Anatomical Pathology Laboratory, Universitas Padjadjaran; and Singaperbangsa Pharmacy Laboratory, Universitas Padjadjaran, Bandung. The study was conducted from May to October 2015. Thirty six male Swiss Webster mice (Mus musculus) were divided into 2 groups: the experimental group, which received a topical application of yellow potato gel and the control group without gel application. The observationsscar width and histological were conducted on days 7, 14, and 25. Histological preparation was made to calculate the fibroblasts, blood vessels, and epithelial thickness. The result of this study showed that topical application of the yellow potato gel evidently increased effectiveness of fibroblasts and blood vessels development on days 7. More over, it was also shown improvement in epithelial thickness and scar width on days 7, 14, and 25. In conclusion, yellow potato gel treatment can improve the effectiveness of wound healing
Community Knowledge and Behavior in the Utilization of Medicinal Plants in Cikoneng Village Bandung District Rahimah, Santun Bhekti; Kharisma, Yuktiana; Nurhayati, Eka; Yuniarti, Yuniarti; Santoso, Shenny Dianathasari; Faridza, Muhammad
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.908 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v7i1.3214

Abstract

The industry of the traditional medicinal made from medicinal plants was currently growing. Effortless cultivation and utilization of medicinal plants were an important step to preserve the traditional medicine of Indonesia. Cikoneng village had abundant natural potential and is an assisted village of the researchers' institution located at the foot of Manglayang mountain Bandung district. Therefore, the researchers implemented the intervention program to educate and socialize the use of medicinal plants to the community of Cikoneng village. After the intervention program, the assessment of the level of knowledge and perceptions of people in the behavior of treatment by medicinal plants utilized was carried out. This study aims to assess the increase in knowledge and perceptions of people in the behavior of cultivation and treatment by using medicinal plants in Cikoneng village. The study used an intervention program and questionnaire with 35 respondents conducted on 22 August–23 September 2016. The results showed that after the intervention program, the level of knowledge of the Cikoneng village community regarding medicinal plants was right. The entire people of Cikoneng village is willing to take advantage of medicinal plants in maintaining family health and will begin to cultivate them in the smallest scope (family). In conclusion, there is an increase in people's knowledge and perception of the behavior of cultivation and treatment by utilizing medicinal plants in Cikoneng village. PENGETAHUAN DAN PERILAKU MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN TANAMAN OBAT DI KAMPUNG CIKONENG KABUPATEN BANDUNGIndustri obat tradisional berbahan baku tanaman obat saat ini semakin berkembang. Upaya budidaya dan pemanfaatan tanaman obat yang optimal merupakan langkah penting untuk menjaga kelestarian obat tradisional Indonesia. Kampung Cikoneng mempunyai potensi alam yang melimpah dan merupakan desa binaan institusi peneliti yang terletak di kaki Gunung Manglayang Kabupaten Bandung. Oleh karena itu, peneliti melaksanakan program intervensi untuk mengedukasi dan menyosialisasikan pemanfaatan tanaman obat kepada masyarakat Kampung Cikoneng. Pada akhir program intervensi, dilakukan penilaian tingkat pengetahuan dan persepsi masyarakat tentang perilaku pengobatan dengan tanaman obat. Penelitian ini bertujuan menilai peningkatan pengetahuan dan persepsi masyarakat tentang perilaku budidaya dan pengobatan dengan memanfaatkan tanaman obat di Kampung Cikoneng. Penelitian menggunakan program intervensi dan kuesioner dengan jumlah responden 35 orang yang dilaksanakan pada 22 Agustus–23 September 2016. Hasil memperlihatkan bahwa setelah program intervensi, tingkat pengetahuan masyarakat Kampung Cikoneng mengenai tanaman obat adalah baik. Seluruh masyarakat Kampung Cikoneng bersedia memanfaatkan tanaman obat dalam menjaga kesehatan keluarga dan akan mulai membudidayakannya dalam lingkup yang paling kecil (keluarga). Simpulan, terdapat peningkatan pengetahuan dan persepsi masyarakat tentang perilaku pengobatan dengan memanfaatkan tanaman obat di Kampung Cikoneng.
Korelasi Disfungsi Seksual dengan Usia dan Terapi pada Benign Prostatic Hyperplasia Dewita Wahyu Kemalasari; Rika Nilapsari; Tinni Rusmartini
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1602.686 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v3i2.1547

Abstract

Benign prostatic hyperplasia (BPH) ialah tumor jinak yang sangat sering terjadi pada pria. BPH dikarakteristikkan dengan pembesaran kelenjar prostat akibat hiperplasia pada stroma dan epitel prostat. Kejadian BPH meningkat seiring dengan pertambahan usia dan mencapai puncak pada usia di atas 80 tahun. Pengobatan yang diberikan pada pasien BPH yaitu alpha blocker, 5 alpha reductase inhibitor, ataupun kombinasi kedua obat tersebut dapat menimbulkan efek samping yaitu disfungsi ereksi, disfungsi ejakulasi, ataupun penurunan libido. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui korelasi kejadian disfungsi seksual dengan usia dan jenis terapi pada penderita BPH. Penelitian ini bersifat analitik observational dengan metode cross sectional mempergunakan data rekam medis pasien BPH di Bagian Urologi RSUD Al-Ihsan Bandung pada bulan Januari sampai Mei 2014. Jumlah sampel yang diteliti sebanyak 42 orang yang dipilih dari 106 pasien BPH dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Analisis statistik menggunakan Uji Kolmogorov Smirnov dan Uji Eksak Fisher. Hasil penelitian ini didapatkan angka kejadian BPH di Bagian Urologi adalah 106 dari 211 pasien yang berobat (50,2%). Puncak kejadian BPH pada rentang usia 61–70 tahun dan hanya 12% yang mengalami disfungsi seksual. Distribusi BPH berdasarkan jenis terapi didapatkan hanya 10% yang menggunakan obat. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat korelasi kejadian disfungsi seksual dengan usia, namun terdapat korelasi antara kejadian disfungsi seksual dan terapi pada pasien BPH (p=0,001). Simpulan, tidak terdapat korelasi kejadian disfungsi seksual dengan usia tetapi terdapat korelasi antara kejadian disfungsi seksual dan penggunaan obat. THE CORRELATION OF SEXUAL DISFUNCTION WITH AGE AND THERAPY OF BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIABenign prostatic hyperplasia is a neoplasma that commonly happened to men. BPH is characterized by the enlargement of prostatic gland, caused by hyperplasia of prostatic stromal and epithelial cells of prostate gland. BPH incidence has increased with age and has reached the highest incidence at above 80 years old. The treatment of BPH are alpha blocker, 5 alpha reductase inhibitor, or the combination of those two drugs. These treatments can cause side effects which are erectile dysfunction, ejaculation dysfunction, or libido decretion. The object of this research was to find the correlation between sexual disfunction and age and also with type of therapies of BPH patients. The research is an observational analytic by using cross sectional method. It has been performed by observing at the medical records of BPH patients. All observations were performed in Urology Department RSUD Al-Ihsan Bandung during January to May 2014. The number of the samples of the research were 42 people and it was chosen from 106 BPH patients by consecutive sampling technic. Statistic analysis of this research used Kolmogorov Smirnov and Fisher’s Exact test. The result of this research showed that the incidence of BPH in Urology Department of all patients was 106 from 211 patients (50.2%). The distribution of BPH based on age showed that it reached the highest incidence at 61–70 years old and there were 12% patients suffered from sexual disfunction. Meanwhile the distribution of BPH based on drugs therapy showed that only 10% who used drugs. The result of statistic analysis showed there was no correlation between sexual disfunction and age, but there was a correlation between sexual disfunction and drugs therapy in BPH patients (p=0.001). In conclusions, there is no correlation between sexual disfunction and age but has correlation with using drugs.
Sinekia Palatum Molle dan Pilar Tonsil ke Dinding Faring Posterior pada Pasien Tuberkulosis Paru Desno Marbun; Sinta Sari Ratunanda; Nur Akbar Aroeman; Agung Dinasti Permana
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.428 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i2.1802

Abstract

Tuberkulosis paru masih merupakan penyakit infeksi yang sering dijumpai dan masalah kesehatan di dunia. Sinekia yang disebabkan oleh infeksi kronik tuberkulosis pada daerah faring merupakan kasus yang jarang terjadi. Pembentukan sinekia ini menyebabkan obstruksi saluran napas bagian atas dan dapat menyebabkan gangguan menelan. Laporan kasus ini dimaksudkan untuk memaparkan penatalaksanaan pasien tuberkulosis paru disertai kelainan sinekia palatum molle dan pilar tonsil ke dinding faring posterior. Seorang pasien laki-laki usia 40 tahun terdiagnosis tuberkulosis milier yang telah mendapatkan pengobatan antituberkulosis 4 bulan datang dengan keluhan hidung tersumbat, suara sengau, dan gangguan menelan sejak 2 bulan sebelum masuk rumah sakit. Dilakukan pelepasan sinekia dengan cara reseksi dan insisi palatum molle pendekatan intraoral dengan panduan endoskopi, didapatkan massa jaringan granuloma pada tepi sinekia tersebut. Hasil pemeriksaan histopatologi berupa jaringan granuloma tuberkulosis. Pascaoperasi pasien dapat bernapas lancar melalui hidung dan gangguan menelan menghilang. Simpulan, operasi pelepasan sinekia diputuskan mengingat gangguan obstruksi saluran napas atas. Penatalaksanaan sinekia palatum molle dan pilar tonsil ke dinding faring posterior dengan operasi memberikan hasil yang baik untuk patensi jalan napas dan fungsi menelan. SINECHIA OF SOFT PALATE AND TONSILLAR PILLAR TO THE POSTERIOR PHARYNGEAL WALL AT PATIENT WITH PULMONARY TUBERCULOSISPulmonary tuberculosis is still a common infection and world health problem. Sinechia at the pharyngeal region due to chronic infection of tuberculosis is a rare case. The sinechial formation causes upper airway obstruction and difficulty of swallowing. This case report was ment to present management of pulmonary tuberculosis with sinechia of soft palate and tonsilar pillar to the posterior pharyngeal wall. A 40-year-old man was diagnosed with milliary tuberculosis that had been undergone four months antituberculosis therapy complained nasal obstruction, hot potato voice and difficulty of swallowing since 2 months ago. Sinechia release had been performed with ressection and incission of soft palate transoral approach guiding endoscopy. We founded masses of granuloma at the edge of sinechia with histopatology result as tuberculosis granuloma. After the procedure, patient can breathed and swallowed normally. In conclusion, operational procedure had been decided due to upper airway obstruction. Operatif management for sinechia of soft palate and tonsillar pillar to the posterior pharyngeal wall brings a good result for upper airway pattency and swallow function.
Identifikasi Virus Hepatitis A pada Sindrom Penyakit Kuning Akut di Beberapa Provinsi di Indonesia Tahun 2013 Eka Pratiwi; Triyani Soekarso; Kindi Adam; Vivi Setiawaty
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.782 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i3.2386

Abstract

Penyakit kuning akut dapat disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A, B, C, dan E dengan Hepatitis A dan E sebagai penyebab utama wabah. Gejala kuning pada kasus infeksi virus hepatitis A (HAV) muncul pada 2−6 minggu setelah pasien terinfeksi. Umumnya infeksi HAV tidak akan berkembang menjadi kronis, namun HAV dapat menyebabkan wabah. Pada tahun 2013 terjadi peningkatan penyakit kuning akut pada empat provinsi, yaitu Banten, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui penyebab penyakit kuning akut yang terjadi pada kejadian luar biasa di empat provinsi tersebut. Pengumpulan data dilakukan dari merebaknya kasus penyakit kuning akut selama tahun 2013 di empat provinsi di Indonesia. Spesimen dikumpulkan dan dikirim ke laboratorium Virologi di Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan (Puslitbang BTDK), Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. Spesimen diuji antibodi IgM HAV menggunakan metode enzyme immunoassay. Puslitbang BTDK menerima 102 spesimen dari tujuh kali laporan peningkatan kasus di empat provinsi, yaitu Banten, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kepulauan Riau. Dari keseluruhan 102 spesimen, 38 spesimen (37%) positif IgM HAV, meliputi Banten 3 (2,9%), Kalimantan Selatan 7 (6,9%), Kepulauan Riau 4 (3,9%), dan Kalimantan Barat 24 (23,5%). Lebih banyak kasus perempuan dibanding dengan laki-laki dan dominan pada usia dewasa. Infeksi HAV adalah penyebab sindrom penyakit kuning akut di empat provinsi di Indonesia.HEPATITIS A VIRUS IDENTIFICATION ON ACUTE JAUNDICE SYNDROME IN SOME PROVINCES IN INDONESIA IN 2013Acute jaundice can be caused by hepatitis A, B, C and E virus. Hepatitis A and E are often as the main cause of the jaundice outbreak. The symptoms of Hepatitis A virus infection (HAV) appear 2−6 weeks after the patient infected. Generally HAV infection will not develop into chronic stages, but HAV can cause an outbreak. In 2013 there was an increase of acute jaudice syndrome in four provinces that are Banten, Riau Islands, West Kalimantan and South Kalimantan. The study aims to determine the cause of acute jaundice syndrome that occurs in extraordinary events in the four provinces. Data collection was conducted from outbreaks of acute cases of jaundice during 2013 in four provinces in Indonesia. Specimens were collected and sent to the Virology Laboratory at the Center for Research and Development of Biomedical and Basic Health Technology (Puslitbang BTDK), National Institute of Health Research and Development, Ministry of Health. The specimens tested using IgM HAV antibody enzyme immunoassay method. Puslitbang BTDK received 102 specimens from seven extraordinary reports in four provinces namely Banten, South Kalimantan, West Kalimantan and Riau Islands. From all 102 specimens, 38 specimens (37%) were positive IgM HAV, including Banten 3 (2.9%), South Kalimantan 7 (6.9%), Riau Islands 4 (3.9%) and West Kalimantan 24 (23.5%). Female cases were more dominant than males. HAV infection is the cause of acute jaundice syndrome in four provinces in Indonesia.