cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2024)" : 15 Documents clear
Pematahan dormansi benih cabai lokal tiung tanjung asal tabalong Kalimantan Selatan Hasimi, Muhammad Hasbi; Agustina, Eva; Miskiah, Nur Yohaniz; Fadhiel, Muhammad Ihsan; Nadia, Nadia; Jawak, Gani
Jurnal AGRO Vol 11, No 1 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/35866

Abstract

Tiung Tanjung seeds pepper are believed to have dormant properties that can be detrimental to farmers during planting. The aim of this study was to find out the correct method of breaking the dormancy on Tiung Tanjung pepper. The study was designed with a two-stage nested design, the first stage was the seed storage time of 1, 3, 5, 7, 9, and 11 weeks. The second stage was a dormant breakdown method consisting of 8 treatments namely control, aquades, warm water (40 °C), ionic water, IAA 100 ppm, IAA 200 ppm, KNO3 0,1% and KNO3 0.5%. Each unit of experiment used 3 repetitions with 25 seeds planted using Top of Paper method (TP). Parameters observed were the vigor index, growth speed, germination,maximum germination potential, fresh seed, seed mortality rate, and growth performance. The results of the study showed that the treatment of Tiung pepper seed immersed in 0.5% KNO3 for 24 hours was able to break the dormancy at 7 weeks after storage with germination values increased to 80%. Treatment with 0.1% KNO3 could break the dormancy in the 9th week. Dormancy breakdown treatments with aquades, warm water (40 °C), ionic water, IAA 100 ppm, and IAA 200 ppm had not been able to break the dormancy of Tiung pepper seeds up to 11 weeks of storage. Benih cabai Tiung Tanjung diyakini memiliki sifat dormansi yang dapat merugikan petani saat penanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui metode pematahan dormansi yang tepat pada cabai Tiung Tanjung. Penelitian dilaksanakan dengan rancangan tersarang dua tingkat, tingkat pertama adalah lama masa simpan benih yaitu 1, 3, 5, 7, 9, dan 11 minggu simpan dan tingkat kedua adalah metode pematahan dormansi yang terdiri dari 8 perlakuan yaitu kontrol, akuades, air hangat (40 °C), air ion, IAA 100 ppm, IAA 200 ppm, KNO3 0,1% dan KNO3 0,5%. Setiap satuan percobaan menggunakan 3 ulangan. Setiap ulangan menggunakan 25 benih yang ditanam dengan metode uji di atas kertas (UDK). Parameter yang diamati adalah indeks vigor, kecepatan tumbuh, daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, benih segar tidak tumbuh, dan tingkat kematian benih, dan performa kecambah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perendaman benih cabai Tiung dalam KNO3 0,5% selama 24 jam mampu mematahkan dormansi pada 7 minggu setelah simpan dengan nilai daya berkecambah mencapai 80%. Perlakuan dengan KNO3 0,1% dapat mematahkan dormansi pada minggu ke-9. Perlakuan pematahan dormansi dengan akuades, air hangat (40 °C), air ion, IAA 100 ppm dan IAA 200 ppm belum mampu mematahkan dormansi benih cabai Tiung hingga 11 minggu simpan.
Yield components and seed attribute of nine varieties of open-pollinated chili. Azmi, Chotimatul; Sembiring, Asma; Kurniawan, Helmi
Jurnal AGRO Vol 11, No 1 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/23133

Abstract

Many studies related to chili varieties and productivity have been conducted. However, studies on the potential of seed production based on seed rendements to fulfil the need for chilli seeds are still limited. The study aimed to present rendement results, yield, and quality of the nine open-pollinated chilli seed varieties owned by the Indonesian Vegetable Research Institute (IVegRI), i.e. were Tanjung-2, Lembang 1, Ciko, Lingga, Kencana, Prima Agrihorti, Rabani Agrihorti, Carvi Agrihorti, and Branang, planted in a screen house. This study was conducted from January to December 2019. Cultivation techniques and seed certification followed the applicable Procedures. Data were analysed using descriptive methods. Observations were made on harvested fruits for yield and quality of seeds produced. The study revealed that Branang had the highest chili productivity (34.15 gm-2). Meanwhile, the highest seed rendement was Lembang 1 (5.48%). All varieties had good germination, namely above 75%. Based on the results, the breeders are expected to obtain information related to seed productivity from chili varieties owned by the Indonesian Vegetable Crops Research Institute (IVegRI). Penelitian terkait varietas dan produktivitas cabai telah banyak dilakukan. Akan tetapi, penelitian tentang potensi produksi benih berdasarkan rendemen benih untuk memenuhi kebutuhan benih cabai masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan hasil rendemen, daya hasil, dan mutu sembilan varietas benih cabai menyerbuk terbuka milik Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) yaitu Tanjung-2, Lembang 1, Ciko, Lingga, Kencana, Prima Agrihorti, Rabani Agrihorti, Carvi Agrihorti, dan Branang yang ditanam di rumah kaca. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Desember 2019. Teknik budidaya dan sertifikasi benih mengikuti Prosedur yang berlaku. Data dianalisis dengan metode deskriptif. Pengamatan dilakukan terhadap buah yang dipanen untuk mengetahui daya hasil dan mutu benih yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Branang memiliki produktivitas cabai tertinggi (34,15 gm-2). Sementara itu, rendemen benih tertinggi adalah Lembang 1 (5,48%). Semua varietas memiliki daya berkecambah yang baik, yaitu di atas 75%. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan para pemulia tanaman dapat memperoleh informasi terkait produktivitas benih dari varietas cabai yang dimiliki Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa).
Front Cover and Preface Jurnal Agro 11 (1) AGRO, Jurnal
Jurnal AGRO Vol 11, No 1 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/38095

Abstract

Respons tanaman bawang merah terhadap pemberian plant growth promoting rhizobacteria dan pupuk NPK 15-10-12 Sumarna, Ade; Irianto, Irianto; Ichwan, Budiyati
Jurnal AGRO Vol 11, No 1 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/34157

Abstract

Shallots are a horticultural commodity with high economic value. The high demand is reversed to the low production. The continuous and excessive use of NPK fertilizer in shallot cultivation will have an impact on decreasing land productivity. Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) is an alternative to reduce this impact. The research aimed to examine the response of shallot plants to application of PGPR and several dosage levels of NPK 15-10-12 fertilizer, and to obtain the best treatment. The research was carried out from July to September 2023 in Sandaran Galeh Village, Sungai Penuh City, Jambi Province at an altitude of 836 m above sea level using a Randomized Block Design. The experiment used several concentrations of PGPR and doses of NPK 15-10-12 i.e. No PGPR and No NPK, NPK 525 kg ha-1, PGPR 5 mL L-1 + NPK 400 kg ha-1, PGPR 10 mL L-1 + NPK 275 kg ha-1, PGPR 15 mL L-1 + NPK 150 kg ha-1, and PGPR 20 mL L-1. Data were analyzed using ANOVA and DMRT test at the 5% level. The results showed that PGPR 15 mL L-1 + NPK 150 kg ha-1 produced the best growth response and yield in an effort to reduce the use of NPK 15-10-12 fertilizer. The PGPR can be applied to promote eco-green in shallot productivity. Bawang merah (Allium ascalonicum L.) termasuk komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi tinggi. Namun, permintaan yang tinggi tidak diiringi dengan produksi yang optimum. Penggunaan pupuk NPK dalam budidaya bawang merah secara terus-menerus dan berlebihan akan berdampak menurunnya produktivitas lahan. Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) menjadi alternatif dalam mengurangi dampak tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji respon tanaman bawang merah terhadap pemberian beberapa konsentrasi PGPR dan beberapa taraf dosis pupuk NPK 15-10-12, serta mendapatkan perlakuan terbaiknya. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juli hingga September 2023 di Desa Sandaran Galeh Kota Sungai Penuh Provinsi Jambi dengan ketinggian 836 m dpl dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Perlakuan yang digunakan yaitu beberapa konsentrasi PGPR dan dosis NPK 15-10-12, yaitu tanpa PGPR dan tanpa NPK, NPK 525 kg ha-1, PGPR 5 mL L-1 + NPK 400 kg ha-1, PGPR 10 mL L-1 + NPK 275 kg ha-1, PGPR 15 mL L-1 + NPK 150 kg ha-1, dan PGPR 20 mL L-1. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan PGPR 15 mL L-1 + NPK 150 kg ha-1 menghasilkan respon pertumbuhan dan hasil terbaik dalam upaya pengurangan penggunaan pupuk NPK 15-10-12. PGPR dapat diaplikasikan untuk mendukung produktivitas bawang merah yang ramah lingkungan.
Pengaruh aplikasi zinc pada jagung terhadap pertumbuhan, produksi, mutu benih, dan kandungan zinc dalam benih Agustiansyah, Agustiansyah; Timotiwu, Paul B; Hadi, M Syamsoel; Maharani, Devi; Pramudya, Galuh M
Jurnal AGRO Vol 11, No 1 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/35351

Abstract

Functional food corn has the potential to be developed because it has complete nutritional content. However, the nutritional value needs to be increased. One of the nutrients that needs to be improved because it is needed for plant growth and human nutritional needs is zinc. Agronomic biofortification techniques using priming and spraying leaves are believed can increase growth, production, seed quality and nutritional content in corn seeds. The aim of this research was to determine the effect of Zinc application on growth, production, seed quality and Zinc concentration levels in corn seeds. The research was arranged in a Randomized Block Design and was repeated three times and there were five treatments in this study, namely (1) control; (2) Zinc priming 0.5%; (3) Zinc priming 0.5% + spraying 0.5% Zinc 30 Days After Planting (DAP); (4) Zinc priming 0.5% + spraying 0.5% Zinc 45 DAP; (5) Zinc priming 0.5% + spraying 0.5% Zinc 50 DAP. The research results showed that the combination of seed priming and Zinc spraying had a significant effect on the variables of chlorophyll content, chlorophyll index, plant dry weight, and the number of seeds per cob of Srikandi Ungu corn variety. Zinc biofortification treatment through Zinc priming 0.5% + 0.5% Zinc spraying 50 DAP is the best treatment in increasing growth, production, seed quality and zinc content in Srikandi Ungu cord seeds compared to other treatments. Jagung pangan fungsional berpotensi untuk dikembangkan karena memiliki kandungan nutrisi yang lengkap. Namun nilai kandungan nutrisinya perlu ditingkatkan. Salah satu nutrisi yang perlu ditingkatkan kandungannya karena sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman maupun kebutuhan nutrisi manusia adalah Zinc . Teknik biofortifikasi agronomi dengan priming dan penyemprotan daun diyakini dapat meningkatkan pertumbuhan, produksi, hingga mutu benih dan kandungan nutrisi pada benih jagung. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh aplikasi Zinc terhadap pertumbuhan, produksi, mutu benih, dan kadar konsentrasi Zinc dalam benih jagung. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang sebanyak tiga kali. Terdapat lima perlakuan pada penelitian ini, yaitu (1) kontrol; (2) priming Zinc 0,5%; (3) priming Zinc 0,5% + penyemprotan 0,5% Zinc 30 Hari Setelah Tanam (HST); (4) priming Zinc 0,5% + penyemprotan 0,5% Zinc 45 HST; (5) priming Zinc 0,5% + penyemprotan 0,5% Zinc 50 HST. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi priming benih serta penyemprotan Zinc berpengaruh nyata terhadap variabel kandungan klorofil, indeks klorofil, bobot kering tanaman, dan jumlah biji per tongkol jagung varietas Srikandi Ungu. Perlakuan biofortifikasi Zinc melalui priming Zinc 0,5% + penyemprotan 0.5% Zinc pada 50 HST merupakan perlakuan terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan, produksi, mutu benih, dan kadar zinc pada benih jagung varietas Srikandi Ungu dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Penampilan agronomi tanaman bawang merah varietas lokananta hasil induksi mutasi kolkisin pada beberapa media tanam Pramesti, Nanda Dwi; Faozi, Khavid; Fatichin, Fatichin; Hidayat, Ponendi; Nurchasanah, Siti
Jurnal AGRO Vol 11, No 1 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/29677

Abstract

Shallot (Allium ascalonicum L) is an important horticultural sub-sector commodity and potential to be developed. Nevertheless, the production fluctuates due to the use of vegetative seeds in cultivation. Currently, there are still a few true seed shallot (TSS) varieties circulating for production. TSS diversity is needed by the colchicine mutation supported by a proper planting media composition. The experiment aimed to determine the effect and obtain the best colchicine concentration with media composition on the performance of Lokananta shallot. The experiment used a randomized group design with two factors. The first factor was colchicine concentrations i.e. 0%, 0.25%, 0.50%, and 0.75%. The second factor was the composition of media i.e. soil + goat manure), soil + husk charcoal, and soil + husk charcoal + manure. The observations were the percentage of growing seeds (%), growth, and yield characteristics. The results showed that the concentration of colchicine and planting media affected on plant height, leaf area, number of leaves, dry plant weight, dry bulb weight, escaped dry bulb weight, number of tillers, and number of bulbs. Colchicine concentration with media composition only interacted on fresh plant weight with 0.75% colchicine with planting media soil + manure (1:1). Bawang merah merupakan komoditas hortikultura penting dan berpotensi dikembangkan sebagai tanaman obat. Produksi bawang merah masih fluktuatif karena menggunakan benih vegetatif pada budidayanya. Saat ini, masih sedikit varietas true seed shallot (TSS) yang beredar di masyarakat. Diperlukan keragaman TSS melalui mutasi dengan kolkisin dan didukung komposisi media tanam yang tepat. Percobaan bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan memperoleh konsentrasi kolkisin dengan komposisi media terbaik terhadap penampilan bawang merah Lokananta. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 2 faktor. Faktor pertama konsentrasi kolkisin yang terdiri dari konsentrasi 0%, 0,25%, 0,50%, dan 0,75%. Faktor kedua komposisi media tanam yang terdiri atas tanah + pupuk kandang kambing, tanah + arang sekam, dan tanah + arang sekam + pupuk kandang kambing. Variabel pengamatan yaitu persentase benih tumbuh (%), karakter agronomi dan hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi kolkisin dan komposisi media tanam berpengaruh terhadap tinggi tanaman, luas daun, jumlah daun, bobot tanaman kering, bobot umbi kering, bobot umbi kering eskip, luas daun, jumlah anakan, dan jumlah umbi. Konsentrasi kolkisin dengan komposisi media hanya berinteraksi pada bobot tanaman segar. Pemberian kolkisin 0,75% dengan komposisi media tanam tanah + pupuk kandang kambing (1:1) mampu meningkatkan bobot tanaman segar.
Produksi tanaman kopi liberika hasil penyambungan intra- dan inter- spesifik pada aplikasi mikoriza dan pupuk anorganik di lahan gambut Kartika, Elis; Duaja, Made Deviani; Gusniwati, Gusniwati
Jurnal AGRO Vol 11, No 1 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/34002

Abstract

Increasing the production of Liberica coffee plants in peatlands can be achieved by applying mycorrhiza and using superior plants resulting from intra- and inter-specific grafting. This research aimed to determine the interactions between intra- and inter-specific grafted Liberica coffee plant with combination of mycorrhiza and inorganic fertilizers in peatlands. The experiment was conducted for 6 months on 2-year-old coffee plants used a Split-Plot Design with two treatment factors. The first factor (main plot) consisted of two levels, namely the Liberica coffee plant grafted with Liberica coffee (intra-specific) and Liberica coffee plants grafted with Robusta coffee (inter-specific). The second factor (sub-plot) was the treatment combination of mycorrhiza (Glomus sp-1a and Glomus sp-3c isolate) and inorganic fertilizer, which consisted of six levels: without mycorrhiza + 100% inorganic fertilizer, mycorrhiza + without inorganic fertilizer, mycorrhiza + 25% inorganic fertilizer, mycorrhiza + 50% inorganic fertilizer, mycorrhiza + 75% inorganic fertilizer, and mycorrhiza + 100% inorganic fertilizer according to recommendations. The results showed that there was an interaction between grafted Liberika coffee plants and a combination of mycorrhiza and inorganic fertilizers on the production of Liberika coffee plants. Combining mycorrhiza and 50% inorganic fertilizer was the best combination for producing intra- and inter-specific grafted of Liberica coffee plant in peat land. Peningkatan produksi tanaman kopi Liberika di lahan gambut dapat dilakukan melalui aplikasi mikoriza dan penggunaan tanaman unggul hasil sambung intra- dan inter- spesifik. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan interaksi antara tanaman kopi liberika hasil sambung intra- dan inter- spesifik dengan kombinasi mikoriza dan pupuk anorganik di lahan gambut. Percobaan dilakukan selama 6 bulan pada tanaman kopi berumur 2 tahun menggunakan Rancangan Petak Terbagi faktorial dengan dua faktor perlakuan, yaitu faktor pertama (petak utama), perlakuan jenis tanaman kopi hasil penyambungan terdiri dari dua taraf, yaitu tanaman kopi Liberika hasil penyambungan dengan kopi Liberika (intra-spesifik) dan tanaman kopi Liberika hasil penyambungan dengan kopi Robusta (inter-spesifik). Faktor kedua (anak petak) adalah perlakuan kombinasi mikoriza (isolat Glomus sp-1a dan Glomus sp-3c) dan pupuk an-organik yang terdiri atas enam taraf yaitu tanpa mikoriza + 100% pupuk an-organik, mikoriza + tanpa pupuk an-organik, mikoriza + 25% pupuk an-organik, mikoriza + 50% pupuk an-organik, mikoriza + 75% pupuk an-organik serta mikoriza + 100% pupuk an-organik sesuai rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi antara jenis tanaman kopi Liberika hasil sambung dengan kombinasi mikoriza dan pupuk anorganik terhadap produksi tanaman kopi Liberika. Kombinasi mikoriza dan 50% pupuk anorganik merupakan kombinasi terbaik untuk produksi tanaman kopi Liberika hasil sambung intra- dan inter-spesifik di lahan gambut.
Role of bokashi fertilizer in increasing growth and yield components of groundnut on marginal dry land in southeast Sulawesi Rahni, Nini Mila; Hervina, Wa Ode; Alam, Syamsu
Jurnal AGRO Vol 11, No 1 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/34980

Abstract

The low growth and production of groundnuts in Southeast Sulawesi are caused by land dominated by marginal dry land and low soil fertility. One of the efforts to overcome these problems is converting secondary vegetation into bokashi fertilizer, effectively improving soil's physical, chemical, and biological properties on marginal land. This study aims to determine the effect of bokashi fertilizer on the growth and yield of several ecotypes of groundnut plants on marginal dry land in South Konawe. This research was conducted in Baito-South Konawe. Laboratory analysis was conducted at the Agrotechnology Laboratory, Faculty of Agriculture, Halu Oleo University, Kendari. The design used a randomized block design with a factorial pattern of two factors, the first factor was groundnut ecotype, and the second factor was bokashi fertilizer. Parameters observed were relative growth rate, leaf area index, net assimilation rate, productive branches, number of young pods, seed weight per plant, the weight of 100 seeds, and plant production. The results showed that there was an interaction effect between the local groundnut ecotype Muna and bokashi fertilizer on the relative growth rate, leaf area index, net assimilation rate at 56 DAP, productive branches, number of young pods, seed weight per plant, the weight of 100 seeds and production. The application of bokashi fertilizer 15 t ha-1 showed the best response of groundnut plants to the ecotypes of Wadaga, Parigi, and Lasehao. Rendahnya pertumbuhan dan produksi tanaman kacang tanah di Sulawesi Tenggara disebabkan oleh lahan yang didominasi lahan kering marginal dengan kesuburan tanah yang rendah. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan pemanfaatan limbah pertanian menjadi pupuk bokashi yang efektif memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pupuk bokashi terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa ekotipe tanaman kacang tanah pada lahan kering marginal. Penelitian lapangan dilaksanakan di Kecamatan Baito, Kabupaten Konawe Selatan. Penelitian laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Agroteknologi Universitas Halu Oleo, Kendari. Desain penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua faktor yaitu pertama faktor ekotipe kacang tanah dan kedua faktor dosis pupuk bokashi. Parameter yang diamati yaitu laju tumbuh relatif, indeks luas daun, laju asimilasi bersih, cabang produktif, jumlah polong muda, bobot biji per tanaman, dan bobot 100 biji tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara ekotipe kacang tanah lokal Muna dan pupuk bokashi dalam mempengaruhi laju tumbuh relatif, indeks luas daun, laju asimilasi bersih pada umur 56 HST, cabang produktif, jumlah polong muda, bobot biji per tanaman, dan bobot 100 biji. Pemberian pupuk bokashi 15 t ha-1 menunjukkan respon tanaman kacang tanah terbaik pada ekotipe Wadaga, Parigi dan Lasehao.
Respons jagung manis sebagai tanaman sela kelapa sawit belum menghasilkan terhadap pupuk kandang ayam Bukri, Bukri; Mariyani, Anis Tatik; Nusifera, Sosiawan; Riduan, Ahmad; Irianto, Irianto
Jurnal AGRO Vol 11, No 1 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/34056

Abstract

Sweet corn is a horticultural commodity that considerably has the development potential between immature oil palms (2 years). The experiment aimed to determine the response of sweet corn’s variety as an intercrop in immature oil palms to various doses of chicken manure. The research was conducted in Muhajirin Village, Muaro Jambi Regency in February-April 2023. The experiment was arranged in a factorial pattern group randomized design repeated three times. The first factor was sweet corn varieties consisting of "Perkasa", "Exotic" and "Bonanza", the second factor was the dosage of chicken manure namely 0 t ha-1, 10 t ha-1, 20 t ha-1, 30 t ha-1, and 40 t ha-1. The observation variables were plant height, number of leaves, leaf area,cob length, cob diameter, cob weight, and sweetness level. Variance’s data were analyzed followed by LSD test at 5% level. The optimum dose was obtained by regression analysis. The results showed differences in the sweetness level of corn varieties “Exotic” and “Bonanza” to chicken manure. Chicken manure independently affected all variables except cob diameter. The optimum dose of chicken manure has not been detected due to the variety of responses to the dose of chicken manure still showed a linear trend. Jagung manis merupakan komoditas hortikultura dengan potensi yang cukup besar untuk dikembangkan di sela tanaman kelapa sawit TBM 2. Percobaan bertujuan mengetahui respons varietas jagung manis sebagai tanaman sela pada kelapa sawit TBM 2 terhadap pupuk kandang ayam. Penelitian telah dilakukan di Desa Muhajirin, Kabupaten Muaro Jambi pada Februari-April 2023. Percobaan disusun dengan Rancangan Acak Kelompok pola faktorial yang diulang tiga kali. Faktor Pertama adalah varietas jagung manis yaitu “Perkasa”, “Exotic” dan “Bonanza”. Faktor kedua adalah lima taraf dosis pupuk kandang ayam yaitu 0 t ha-1, 10 t ha-1, 20 t ha-1, 30 t ha-1, dan 40 t ha-1. Variabel pengamatan adalah tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang tongkol, diameter tongkol, bobot tongkol, dan tingkat kemanisan. Data dianalisis dengan analisis varians yang dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%. Dosis optimum diperoleh menggunakan analisis regresi. Hasil memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan respons varietas jagung terhadap pupuk kandang pada variabel tingkat kemanisan. Pupuk kandang hanya berpengaruh terhadap tingkat kemanisan pada “Exotic” dan “Bonanza”. Pupuk kandang secara mandiri berpengaruh pada semua variabel kecuali diameter tongkol. Dosis terbaik pada penelitian ini adalah 40 t ha-1. Sedangkan, dosis optimum pupuk kandang ayam belum terdeteksi pada penelitian ini disebabkan respons varietas masih memperlihatkan trend linier.
The influence of ameliorant, nutrient solution and bioferilizer on soil P, plant P uptake, and yield of red chili. Fitriatin, Betty Natalie; Dupa, Putri Siska Ekayanti; Fauziah, Nicky Oktav; Wong, Mui-Yun; Simarmata, Tualar
Jurnal AGRO Vol 11, No 1 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/35886

Abstract

The productivity and quality of red chili are greatly influenced by soil conditions and the availability of nutrients. Nutrients play a critical role in the growth and development of red chili plants. This experiment aimed to determine the combination of ameliorant, nutrient solution, and biofertilizer on the population of phosphate-solubilizing bacteria (PSB), available P, P-uptake, and red chili production in Inceptisols. The experiment was conducted at the experimental field of the Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. The experiment used a Randomized Complete Block Design (RCBD) with seven treatments and four replications, consisting of control, NPK, and nutrient solution (NS) with doses of 0, 6, and 12 kg ha-1 biofertilizers. The dosage used in a single application was 15 g plant-1 of NPK fertilizer and 300 mL plant-1 of nutrient solution. The base fertilizer consisted of manure in the control treatment and an ameliorant in other treatments at a dose of 4 t ha-1. The results showed that the combination of ameliorant + NPK + 6 kg ha-1 biofertilizer increased PSB population (4.93 x 106 CFU mL-1), available P (15.4 ppm), and P-uptake (0.74 g plant-1). Meanwhile, the combination of ameliorant + nutrient solution + 6 kg ha-1 biofertilizer increased fruit diameter (15 mm), and length of red chili (17.3 cm). Correlation analysis indicated positive correlation between red chili production with stem diameter and fruit length, but a negative correlation with P-uptake. Regression analysis indicated that stem diameter and PSB population had the most dominant effect on red chili yield. Produktivitas dan kualitas cabai merah sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah dan ketersediaan unsur hara. Unsur hara memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai merah. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi amelioran, larutan hara dan biofertilizer terhadap populasi bakteri pelarut fosfat (BPF), P tersedia, serapan P, dan produksi cabai merah pada tanah Inceptisols. Percobaan dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan tujuh perlakuan dan empat kali ulangan, terdiri dari: kontrol, NPK dan Larutan Hara dengan dosis 0, 6, dan 12 kg ha-1 pupuk hayati. Dosis yang digunakan dalam satu kali aplikasi adalah pupuk NPK 15 g tanaman-1 dan larutan hara 300 mL tanaman-1. Pupuk dasar berupa pupuk kandang pada perlakuan kontrol dan amelioran pada perlakuan lain dengan dosis 4 t ha-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi amelioran + NPK + 6 kg ha-1 pupuk hayati mampu meningkatkan populasi BPF (4,93 x 106 CFU mL-1), P tersedia (15,4 ppm), dan serapan P (0,74 g tanaman-1). Sementara itu, kombinasi amelioran + larutan hara + 6 kg ha-1 pupuk hayati mampu meningkatkan diameter buah (15 mm), dan panjang cabai merah (17,3 cm). Analisis korelasi menunjukkan korelasi positif antara produksi cabai merah dengan diameter batang dan panjang buah, tetapi korelasi negatif dengan serapan P. Analisis regresi menunjukkan bahwa diameter batang dan populasi BPF memiliki pengaruh paling dominan terhadap hasil cabai merah.

Page 1 of 2 | Total Record : 15