cover
Contact Name
Hero Patrianto
Contact Email
jurnal.atavisme@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.atavisme@gmail.com
Editorial Address
Balai Bahasa Jawa Timur, Jalan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo 61252, Indonesia
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
ATAVISME JURNAL ILMIAH KAJIAN SASTRA
ISSN : 1410900X     EISSN : 25035215     DOI : 10.24257
Core Subject : Education,
Atavisme adalah jurnal yang bertujuan mempublikasikan hasil- hasil penelitian sastra, baik sastra Indonesia, sastra daerah maupun sastra asing. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses penelaahan oleh mitra bestari dan penyuntingan oleh redaksi pelaksana. Atavisme diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Juni dan Desember.
Articles 284 Documents
RADIKALISASI MAKNA PEREMPUAN JAWA DALAM ”NGAMEN LIMA”: SUATU ANALISIS DEKONSTRUKSI Rohman, Saifur
ATAVISME Vol 26, No 2 (2023): ATAVISME
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v26i2.890.92-101

Abstract

Penelitian ini bertujuan menunjukkan adanya radikalisasi makna perempuan Jawa dalam lirik lagu dangdut koplo “Ngamen Lima” (2012). Praktik radikalisasi ini diawali dari konstruksi lama menuju konstruksi baru yang bersifat radikal. Konstruksi lama direpresentasikan dalam novel Pengakuan Pariyem (1981) karya Linus Suryadi Ag yang diteliti oleh Bakdi Sumanto (1999). Data primer berbentuk teks yang ditranskripsi dari lirik lagu. Sumber data adalah pertunjukan musik dangdut pada 2014 di internet. Dengan metode dekonstruksi yang telah dijelaskan oleh Derrida (1999) dan Rohman (2014), hasil analisis menunjukkan telah terjadi dekonstruksi makna perempuan Jawa. Hal itu meliputi lima aspek, yakni dari sikap ingresif menjadi agresif, dari tindakan pasif menjadi aktif, dari perasaan impulsif menjadi obsesif, dan relasi yang semula hierarkis menjadi egaliter. Rekomendasi, radikalisasi perempuan ini menjadi titik ekuilibrium dari gerakan kesetaraan perempuan untuk menemukan ruang-ruang baru dalam wacana penafsiran.
INOVASI DAN KONVENSI TEATER TRADISIONAL BANYUWANGI Anoegrajekti, Novi; Iskandar, Ifan; Attas, Siti Gomo; Macaryus, Sudartomo
ATAVISME Vol 26, No 2 (2023): ATAVISME
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v26i2.913.80-91

Abstract

Teater tradisional sebagai hasil konstruksi dan kreasi berpeluang melakukan inovasi agar tetap diminati pendukungnya. Pelaku seni, penanggap, penikmat, dan pemerintah merupakan ekosistem yang saling menguatkan. Di Banyuwangi terdapat dua teater tradisional yang hingga saat ini masih terus dihidupi dan dikembangkan oleh masyarakat, yaitu barong dan janger. Teater barong memiliki lakon yang tetap dan dipertahankan oleh kelompok Barong Tua dan Barong Cilik. Sementara itu, inovasi banyak dilakukan untuk Barong Lancing oleh grup Barong Sapu Jagat dengan anggota para pemain yang masih muda. Pengembangan lakon yang dilakukan oleh Sucipto menjadikan Barong Sapu Jagat memiliki kemiripan dengan teater tradisional janger yang diciptakan secara khusus untuk memberikan hiburan kepada masyarakat. Analisis data pustaka dan data lapangan diperoleh melalui observasi, partisipasi, wawancara mendalam dengan informan terseleksi, dan diskusi terpumpun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi lakon dilakukan Barong Sapu Jagat dan inovasi janger cenderung mengikuti selera pasar. Pemanfaatan dilakukan youtuber dengan mengunggah hasil perekamannya di media sosial youtube.
The Impact of Instability of Gossip’s Meaning to The characterizations in Julia Quinn’s Bridgerton: The Duke and I Novel: A Derridean Deconstruction Perspectives Rusdianti, Alisya
ATAVISME Vol 26, No 2 (2023): ATAVISME
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v26i2.934.65-79

Abstract

This research explored characterizations instabilities towards impacts of gossip in Julia Quinn’s Bridgerton: The Duke and I novel. The impacts of gossip portrayed significantly towards the characterization of the main characters and the society in the novel. The gossip, for instance became contemplating materials, livelihood, and entertainment in the society, thus the characterizations in the novel became unstable and dinamic due to the attachment between gossip and society. This researh applied Derrida’s Deconstruction as theory and method. The results of this research indicated the impact of gossips to the characterization in the novel resemblanced the undecidability of text. The text is independent and fluid, thus the impact of text characteristics could be represented by the undecidablity of characterization—based on the conflict embedded to the characters. Thus, the conclusions in this research show that the meaning of gossip in the novel is undecidable and the characterization continues to move and develop as the conflict in the novel develops which is caused by the movement of the meaning of gossip.
PERTENTANGAN KELAS SOSIAL DALAM MASYARAKAT BELITONG PADA NOVEL LASKAR PELANGI KARYA ANDREA HIRATA: ANALISIS TEORI MARXISME Laksono, Prayitno Tri; Romadhon, Sahrul; Sugerman, Sugerman
ATAVISME Vol 26, No 2 (2023): ATAVISME
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v26i2.850.117-128

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan sosial yang kontras atau stratifikasi soial dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Tidak sedikit simbol perlawanan kelas yang menonjolkan perjuangan kelas kaum bawah dalam menghadapi kaum penguasa di tengah masyarakat Belitong. Tema pertentangan kelas sosial dalam karya tersebut sekaligus sebagai cermin moral dan sosial masyarakat Belitong di era 1970-an. Menelaah novel Laskar Pelangi dari perspektif teori sastra Marxis diharapkan dapat mengungkap pertentangan kelas sosial yang keras dalam kelompok masyarakat Belitong. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data penelitian ini berupa kalimat-kalimat deskripsi, narasi, serta dialog antartokoh di dalam novel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam novel Laskar Pelangi antara kaum borjuis dan proletariat. Strata kelas kaum borjouis adalah segelintir masyarakat yang bekerja pada PN Timah dan mayoritas bukan orang asli Belitong. Sementara itu, strata kelas kaum proletariat adalah masyarakat asli Belitong yang tidak memiliki kewenangan lebih dalam mengelola hasil timah di wilayahnya sendiri.
HUMAN RELATIONSHIP WITH NATURE IN MATA DAN RAHASIA PULAU GAPI NOVEL BY OKKY MADASARI Atikah, Atikah
ATAVISME Vol 27, No 1 (2024): ATAVISME
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v27i1.738.59--63

Abstract

Abstrak: Alam dan manusia memiliki relasi dengan tokoh dan latar tempat. Tidak hanya sebagai latar, karya sastra mampu menghadirkan tokoh sebagai makhluk ekologis. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan interaksi tokoh dan alam dalam novel Mata dan Rahasia Pulau Gapi karya Okky Madasari. Penelitian ini memanfaatkan metode kualitatif dengan mekanisme kerja deskriptif analitik. Pendekatan yang diterapkan adalah pendekatan ekokritik sastra. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi. Kegiatan analisis data terdiri atas reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya paradigma antroposentrisme dan ekosentrisme yang mendeskripsikan bentuk interaksi antara tokoh dan alam. Terdapat tokoh manusia dan hewan yang merefleksikan kepedulian terhadap pusaka Pulau Gapi. Paradigma antroposentrisme tercermin dari tokoh para penjajah yang melakukan perusakan di tanah Ternate dan para pekerja proyek yang ingin merobohkan benteng peninggalan Portugis. Kekayaan alam Ternate menjadi salah satu pemicu ekspansi dan eksploitasi yang dilakukan oleh satu negara ke negara lain.Abstract: Nature and humans have a relationship with characters and place settings. Not only as a background but literary works can also present characters as ecological creatures. This research aims to describe the interaction between characters and nature in Mata dan Rahasia Pulau Gapi's novel by Okky Madasari. This study uses qualitative methods with a descriptive-analytic working mechanism. The approach applied is the literary ecocritical approach. The data collection technique used is documentation. Data analysis activities consist of data reduction, data presentation, and concluding/verification. The result shows that there are fulfillments and violations of the principles of the environmental movement, which describe the form of interaction between characters and nature. There are human and animal figures who reflect concern for the heritage of Gapi Island. The anthropocentrism paradigm is reflected in the colonizers' figures who carried out the destruction of the land of Ternate and the project workers who wanted to demolish the heritage fortress of the Portuguese. Ternate's natural wealth is one of the triggers for expansion and exploitation carried out by one country to another.
ANALISIS STRUKTUR NARATIF VLADIMIR PROPP TERHADAP CERITA RAKYAT “PULAU SIMARDAN” Syarfina, Tengku; Batubara, Nisa Anggraini
ATAVISME Vol 27, No 1 (2024): ATAVISME
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v27i1.909.1--12

Abstract

This article aims to analyze the Indonesian folktale "Pulau Simardan" based on the narrative function proposed by Vladimir Propp. The analysis focuses on the actor's function. The research method uses qualitative descriptive, namely describing, explaining, and describing the narrative structure in the Indonesian folktale "Pulau Simardan" in the Tapanuli community. Based on the analysis, there are 31 actor functions in the Indonesian folktale "Pulau Simardan". By using Propp's theory, it is obtained in detail (1) the actor's function which has been explained for each function, a brief definition of each function in one word, along with symbols; (2) the distribution of functions among actors; (3) the story movement scheme. From Propp's theory, it is also known that there are fixed elements and changing elements. The fixed element is the act or action, while the changing element is the actor or sufferer.
ARKETIPE ROMAN SEBAGAI RESOLUSI SIMBOLIK DALAM NOVEL THE HANDMAID’S TALE KARYA MARGARET ATWOOD Fitri, Nurliana
ATAVISME Vol 27, No 1 (2024): ATAVISME
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v27i1.936.13--21

Abstract

Abstrak: The Handmaid’s Tale merupakan novel sains fiksi dengan tema dystopia yang ditulis oleh Margaret Atwood. Novel ini menceritakan kehidupan seorang perempuan yang bernama Offred dan menjadi seorang handmaid; sebutan untuk perempuan yang memegang peran sebagai mesin pencetak bayi di bawah pemerintahan rezim Gilead. Penelitian ini mengurai arketipe roman dari Northrop Frye untuk mengungkap resolusi simbolik dalam novel The Handmaid’s Tale melalui empat alur pergerakan naratif arketipe roman yang dikembangkan oleh Northrop Frye. Berdasarkan hasil analisis disimpulkan bahwa struktur formal naratif, The Handmaid’s Tale memiliki struktur naratif roman dan merupakan resolusi simbolik dari kontradiksi sosial yang tidak dapat diselesaikan.  Adapun resolusi simbolik tersebut merupakan bentuk wish fulfilment dari penulis Margaret Atwood yang menginginkan agar rezim otoriter dapat menghilang di masyarakat.Abstract: The Handmaid’s Tale is a science fiction novel with a dystopian theme written by Margaret Atwood. The novel narrates the life of a woman named Offred, who becomes a handmaid, a term for women serving as baby-making machines under the rule of the Gilead regime. This research deconstructs Northrop Frye’s archetypal romance to reveal the symbolic resolution in The Handmaid’s Tale through the four narrative movement archetypes of romance developed by Northrop Frye. Based on analysis, it is concluded that by examining its formal narrative structure, The Handmaid’s Tale possesses a romantic narrative structure that represents a symbolic resolution of unresolved social contradictions. This symbolic resolution embodies the wish fulfillment of the author, Margaret Atwood, who desires the disappearance of authoritarian regimes from society. 
RAGAM CERITA DEWI SEKARDADU; ANTARA PROYEK IDENTITAS DAN KOMODIFIKASI WISATA RELIGI , S.S.,M.A., Mashuri
ATAVISME Vol 27, No 1 (2024): ATAVISME
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v27i1.1018.49--58

Abstract

Abstrak: Tulisan ini menelisik proyek identitas dan komodifikasi cerita-cerita Dewi Sekardadu di empat makam tersebut. Konsep yang digunakan yaitu proyek identitas dan komodifikasi dalam kerangka industri wisata religi. Metode penelitiannya adalah etnografi, wawancara mendalam dan studi pustaka. Hasil penelitian, yaitu meskipun posisi cerita Dewi Sekardadu marjinal dalam narasi besar Jawa tetapi hampir semua babad atau kronik Jawa menyinggung Dewi Sekardadu dengan alur yang jelas. Namun, pada empat makam Dewi Sekardadu di Jawa Timur, terdapat cerita Dewi Sekardadu dalam tradisi lisan yang memiliki versi berbeda. Terdapat perubahan dan modifikasi cerita di empat makam Dewi Sekardadu yang berkecenderungan kuat sebagai proyek identitas dengan menasbihkan cerita Dewi Sekardadu sebagai tokoh daerah tempatan dan terjadi pasca-Reformasi 1998. Realitas tersebut merupakan tarik ulur antara proyek identitas dan komodifikasi cerita-cerita Dewi Sekardadu untuk kepentingan wisata religi. Komodifikasi cerita-cerita Dewi Sekardadu dalam kerangka wisata religi yang merupakan tarik ulur antara agama dan industri pariwisata –yang menekankan pada aspek-aspek ‘hiburan’ agamis dan pasar yang dalam kadar tertentu terkesan mengesampingkan aspek auratik, warisan pengetahuan, dan kesejarahan. Abstract: This article examines the identity project and commodification of Dewi Sekardadu's stories in the four tombs. The concepts used are identity projects and commodification within the framework of the religious tourism industry. The research methods are ethnography, in-depth interviews and literature study. The results of the research are that, although the position of Dewi Sekardadu's story is marginal in the great Javanese narrative, almost all Javanese chronicles or chronicles mention Dewi Sekardadu with a clear plot. However, in the four graves of Dewi Sekardadu in East Java, there are stories of Dewi Sekardadu in oral tradition which have different versions. There are changes and modifications to the stories at the four tombs of Dewi Sekardadu which have a strong tendency to act as identity projects by establishing Dewi Sekardadu's stories as local regional figures and occurred after the 1998 Reformation. This reality is a tug-of-war between the identity project and the commodification of Dewi Sekardadu's stories for tourism purposes religion. With the commodification of Dewi Sekardadu's stories within the framework of religious tourism, which is a tug-of-war between religion and the tourism industry --which emphasizes aspects of religious and market 'entertainment' which to a certain extent seems to ignore the auratic, heritage of knowledge and historical aspects.
TENTANG TOTO SUDARTO BACHTIAR DAN PEMBELAJARAN APRESIASI PUISI “RUMAH” Nugraha, Dipa
ATAVISME Vol 27, No 1 (2024): ATAVISME
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v27i1.1006.22--48

Abstract

Toto Sudarto Bachtiar is one of Indonesia's well-known poets. With different themes, Toto's name is sometimes compared with the names or works of major Indonesian poets such as Chairil Anwar or Sitor Situmorang by several literary critics. This article discusses the life, role, and influence of Toto so that it can emphasize the important position and urgency of Toto's poems in poetry appreciation learning in Indonesia. Apart from that, this article uses close reading in discussing the poetry work entitled "Rumah" so it can become an example on how poetry appreciation is done. 
ETNOBIOGRAFI PENULIS SASTRA JAWA MODERN Saputra, Ardi Wina; Nurhuda, Pradicta; Romadhon, Sahrul
ATAVISME Vol 27, No 2 (2024): ATAVISME
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v27i2.1043.126--143

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan laku hidup penulis novel berbahasa Jawa. Metode penelitian ini adalah metode penelitian etnobiografi. Data dikumpulkan dengan cara wawancara mendalam, pengamatan, penggalian sejarah hidup (life history), studi pustaka, dan diskusi terumpun. Wawancara mendalam dilakukan pada sumber data primer yaitu Tulus Setiyadi. Pengamatan sejarah hidup dilakukan oleh peneliti selama mengenal, mengamati, dan memaknai Tulus Setiyadi. Studi pustaka dilakukan dengan cara melihat literatur mengenai Tulus Setyadi mulai dari media massa, penelitian terhadap karyanya, representasi Tulus melalui media sosial, hingga menyaksikan tayangan yang menyiarkan dirinya pada kanal-kanal youtube yang memuat tentang Tulus. Diskusi terumpun dilakukan dengan cara meminta kesaksian pada sastrawan Madiun lintas generasi yang mengenal Tulus Setiyadi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik induktif. Hasil penelitian ini berupa premis sosiokultural yang membentuk Tulus Setiyadi sebagai penulis novel berbahasa Jawa dan tujuh laku hidup Tulus Setiyadi sebagai penulis novel berbahasa Jawa. Laku hidup ini berkaitan dengan proses kreatifnya sebagai penulis novel. Tujuh laku hidup tersebut juga tercermin dalam karya-karya Tulus.   Abstract: The objective of this research is to provide a detailed account of the life practices of Javanese novelists. This research employs an ethnobiographical methodology. Data were collected through a combination of in-depth interviews, open-ended questioning, life history analysis, literature review, and group discussions. In-depth interviews were conducted with Tulus Setiyadi, the primary data source. The researchers observed Tulus Setiyadi's life history getting to know him, observing his behavior, and interpreting his actions. The literature study was conducted by examining various forms of media related to Tulus Setyadi. This included mass media, academic research on his works, representations of Tulus through social media, and videos on YouTube channels containing stories about him. A group discussion was conducted with Madiun writers from across generations who had known Tulus Setiyadi. The data analysis technique employed was inductive. The findings of this research reveal the sociocultural premises that shaped Tulus Setiyadi as a Javanese language novel writer and Tulus Setiyadi's seven life practices as a Javanese language novel writer. Those life practices relate to his creative process as a novelist. Tulus’ seven life practices are mirrored in his works as well.