cover
Contact Name
Mohammad Rizki
Contact Email
mohammadrizki.md@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.kedokteran.unram@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram Jl. Pendidikan No. 37 Mataram, Nusa Tenggara Barat
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran
Published by Universitas Mataram
ISSN : 23015977     EISSN : 25277154     DOI : -
Core Subject : Health,
The Unram Medical Journal managed by the Medical Faculty of Mataram University is a scientific journal to publish the results of the latest research in the field of medical and health related. This journal promote medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community research to integrate researches in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and also case reports.
Articles 408 Documents
KORELASI ANTARA USIA DENGAN EKSPRESI BCL-2 PADA PASIEN KARSINOMA NASOFARING WHO TIPE III Putra, Putu Arthana; Kadriyan, Hamsu; Aryani, Gusti Ayu Trisna; Djannah, Fathul
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 3.1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Karsinoma nasofaring adalah karsinoma pada mukosa nasofaring dan paling banyak terjadi pada usia 40-49 tahun. Kegagalan apoptosis merupakan mekanisme dasar terjadinya karsinoma tersebut. Salah satu faktor yang berkaitan dengan abnormalitas apoptosis yang terjadi pada karsinoma nasofaring adalah Bcl-2 Tujuan: Mengetahui korelasi antara usia dengan ekspresi Bcl-2 pada pasien Karsinoma Nasofaring WHO tipe III Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan design cross sectional. Penelitian ini menggunakan data rekam medik pasien karsinoma nasofaring WHO tipe III dari Rumah Sakit Umum Provinsi NTB dan hasil pemeriksaan laboratorium yang mendeteksi ekspresi Bcl-2 pada blok paraffin pasien tersebut. Usia pasien dikategorikan menjadi <45 tahun dan ≥45 tahun. Pemeriksaan imunohistokimia pada penelitian ini mengelompokkan hasil ekspresi Bcl-2 menjadi 4 kategori (ekspresi Bcl-2 negatif, positif 1, positif 2, dan positif 3). Sampel penelitian ini ditentukan dengan teknik consecutive sampling. Data dianalisis dengan uji korelasi lambda. Hasil: Pasien karsinoma nasofaring WHO tipe III di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB yang berusia <45 tahun 26 pasien dan yang berusia ≥45 tahun 18 pasien. Hasil pemeriksaan imunohistokimia, dari 44 sampel yang diteliti, 15 orang mengekspresikan Bcl-2 negatif, 13 orang mengekspresikan Bcl-2 positif 1, 1 orang mengekspresikan Bcl-2 positif 2, dan 15 orang mengekspresikan Bcl-2 positif 3. Hasil uji korelasi lambda menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi yang signifikan antara usia dengan ekspresi Bcl-2 pada pasien karsinoma nasofaring WHO tipe III (p = 0,562). Kesimpulan: Tidak terdapat korelasi yang signifikan antara usia dengan ekspresi Bcl-2 pada pasien Karsinoma Nasofaring WHO tipe III di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB
HUBUNGAN PEMBERIAN MP-ASI (NASI TIM) TERHADAP STATUS GIZI BALITA USIA 8-12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MUJUR KABUPATEN LOMBOK TENGAH Muna, Nilnal; Nurbaiti, Lina; Cholidah, Rifana
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 3.1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: MP-ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung zat gizi, yang diberikan pada bayi atau anak usia 6-24 bulan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI. Ketepatan usia pemberian MP-ASI dapat berpengaruh terhadap status gizi. Secara nasional, Nusa Tenggara Barat (NTB) termasuk salah satu provinsi yang mengalami gizi buruk dan gizi kurang tertinggi. Penilaian masalah status gizi ini menurut WHO dapat diukur menggunakan indikator berat badan menurut umur (BB/U), berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dan tinggi badan menurut umur (TB/U). Tujuan: Mengetahui hubungan pemberian MP-ASI (nasi tim) terhadap status gizi balita usia 8-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Mujur Metode: Penelitian ini merupakan deskriptif analitik, dengan rancangan penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu consecutif sampling dengan jumlah sampel 51. Uji statistik yang digunakan yaitu chi-square. Hasil: Pemberian MP-ASI (nasi tim) pada balita usia 8-12 bulan tidak berhubungan dengan status gizi balita dengan nilai (p ≥ 0,05). Hasil dari uji chi-square didapatkan tingkat pengetahuan dan pekerjaan ibu tidak berhubungan dengan frekuensi, porsi, komposisi pemberian MP-ASI (nasi tim) dengan nilai p ≥ 0,05, sedangkan tingkat pendidikan berhubungan dengan frekuensi pemberian MP-ASI nasi tim (r = 0,95, p = 0,023). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan pemberian MP-ASI (nasi tim) terhadap status gizi balita usia 8-12 bulan.
PENGARUH LAMA PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL RAMUAN KENCING MANIS DARI LOMBOK TERHADAP KADAR SGOT DAN SGPT PADA TIKUS (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI NIKOTINAMID DAN STREPTOZOTOCIN Syafitri, Anna Yulfa; Nurhidayati, Nurhidayati; Padauleng, Novrita; Widiastuti, Ida Ayu Eka Widiastuti Eka
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 3.1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Diabetes melitus merupakan salah satu gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia puasa dan sewaktu. Ramuan kencing manis dari Lombok ini merupakan kombinasi dari lima tanaman dan dipercaya dapat menurunkan kadar glukosa darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama pemberian ekstrak ramuan kencing manis dari Lombok terhadap fungsi hepar yang dinilai dari kadar SGOT dan SGPT pada tikus diabetik. Metode: Penelitian ini merupakan studi eksperimental. Penelitian ini menggunakan 16 ekor tikus unit replikasi (Rattus norvegicus L.) jantan galur wistar yang telah diinduksi nikotinamid dan streptozotocin. Kelompok penelitian terdiri atas 4 kelompok, 2 kelompok perlakuan (P1 dan P2) dan 2 kelompok control (K1 dan K2). P1 diberikan ramuan kencing manis dari Lombok dengan dosis 73,4mg/200kgBB selama 7 hari. P2 diberikan ramuan dosis 73,4mg/200kgBB selama 14 hari. K1 tanpa diberikan ramuan selama 7 hari, K2 tanpa diberikan ramuan selama 14 hari. Sampel darah diambil secara intrakardiak dan dilanjutkan dengan pemeriksaan kadar SGOT dan SGPT. Analisis data dilakukan dengan uji statistik komparatif non parametrik Mann-whitney dan Wilcoxon. Hasil: Tidak ada perbedaan pada kadar SGOT dan SGPT kelompok perlakuan dengan kontrolnya, serta kelompok 7 hari dengan 14 hari. Kesimpulan: Tidak ada pengaruh lama pemberian ekstrak etanol ramuan kencing manis dari Lombok terhadap kadar SGOT dan SGPT hepar.
Nilai Rerata Jarak Tempuh Uji Jalan 6 Menit Pada Anak Sehat Usia 10-14 Tahun Di Bandung dan Hubungannya dengan Panjang Tungkai Lindawati, Lindawati; Shanti, Marietta; Damiati, Tri
Jurnal Kedokteran Vol 5 No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Uji jalan 6 menit (6MWT) merupakan uji latih submaksimal, dengan variabel utama yang diukur adalah jarak tempuh dalam 6 menit. Jarak tempuh 6 MWT akan dipengaruhi oleh kecepatan jalan yang akan meningkat seiring dengan pertumbuhan anak, terutama disebabkan karena peningkatan panjang langkah. Pertambahan panjang tungkai akan memengaruhi pertambahan panjang langkah. Metode: deskriptif analitik dengan desain cross-sectional. Hasil: Jarak tempuh 6MWT di lintasan 15 meter pada anak laki-laki usia 10, 11, 12, 13 dan 14 tahun adalah 485,5 (395-585) m, 521 (432-660) m, 524 (431-694,2) m, 560 (449-675) m, dan 540 (439-664,5) m. Jarak tempuh 6MWT pada lintasan 15 meter untuk anak perempuan usia 10, 11, 12, 13, dan 14 tahun adalah 497 (353-742) m, 553 (420-662) m, 559 (428,1-658) m, 551,3 (373-685) m, dan 545,6 (464-600) m. Panjang tungkai berkorelasi bermakna dengan jarak tempuh 6MWT (p<0,001). Berdasarkan uji regresi didapatkan rumus prediksi jarak tempuh 6MWT untuk anak sehat usia 10-14 tahun pada lintasan 15 m yaitu 6,872 x panjang tungkai (cm). Kesimpulan: Panjang tungkai memiliki korelasi dengan jarak tempuh 6MWT, dan dapat digunakan untuk memprediksi jarak tempuh 6MWT pada anak sehat usia 10-14 tahun di lintasan 15 m.
Profil Probabilitas Stroke Iskemik Di Kota Malang Dan Batu: Aplikasi Skor Risiko Stroke Framingham Harahap, Herpan Syafii; Arisetijono, Eko; Afif, Zamroni
Jurnal Kedokteran Vol 5 No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Stroke saat ini merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama di dunia, dimana 85% kasus merupakan stroke iskemik. Dengan mengetahui faktor-faktor risiko stroke iskemik, dapat dilakukan prediksi risiko untuk mengalami stroke iskemik dengan menggunakan skor risiko stroke Framingham. Tujuan: Untuk mengetahui profil probabilitas stroke iskemik di Kota Malang dan Batu menurut skor risiko stroke Framingham. Metode: Penelitian deskriptif cross-sectional ini menggunakan teknik consecutive random sampling untuk pengambilan sampel penelitian. Dilakukan pengukuran persentase dan stratifikasi skor risiko stroke Framingham terhadap 109 orang menurut jenis kelamin (n=109). Dalam penelitian ini juga dilakukan pengukuran parameter indeks massa tubuh (IMT), lingkar perut, rasio lingkar panggul-perut, dan kadar kolesterol total dan asam urat serum untuk dikorelasikan dengan persentase skor risiko stroke Framingham. Hasil: Sebanyak 72 orang (66,06%) memiliki risiko stroke iskemik yang rendah, 20 orang (18,34%) memiliki risiko sedang, dan 17 orang (15,60%) memiliki risiko tinggi. Hasil uji korelasi menunjukkan persentase risiko stroke memiliki korelasi negatif dengan IMT (p=0,030;r=-0,208) dan korelasi positif dengan kadar asam urat serum (p=0,018;r=0,244). Tidak didapatkan korelasi antara persentase skor risiko stroke Framingham dengan lingkar perut (p=0,120), rasio lingkar perut-panggul (p=0,070), dan kadar kolesterol total serum (p=0,208). Kesimpulan: Sepertiga sampel penelitian yang memiliki risiko stroke iskemik sedang-berat berdasarkan skor risiko stroke Framingham.
Hubungan Antara Onset Kejadian Preeklamsia dengan Kejadian Bayi Lahir Berat Lahir Rendah (BBLR) di RSUD Provinsi NTB Primayanti, Ika; Affarah, Wahyu Sulistya; Harahap, Ida Lestari; Syari, Mayuarsih Kartika; Wilmayani, Ni Ketut
Jurnal Kedokteran Vol 5 No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Preeklamsia merupakan salah satu komplikasi obstetrik yang dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas baik maternal maupun perinatal. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu komplikasi perinatal yang dapat terjadi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik chi square. Hasil: terdapat hubungan yang signifikan antara onset kejadian preeklamsia dengan kejadian BBLR (p= 0,000). Kesimpulan: Penurunan perfusi uteroplasenta pada preeklamsia menyebabkan berkurangnya aliran darah plasenta sehingga pertumbuhan janin menurun dan meningkatnnya risiko bayi berat lahir rendah
Gambaran Konsumsi Garam Iodium dan Kadar Iodium Urin pada Anak Sekolah Dasar di Pulau Lombok Ekawanti, Ardiana; Lestarini, Ima Arum; Cholidah, Rifana; Fathana, Prima Belia; Yuliyani, Eka Arie
Jurnal Kedokteran Vol 5 No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Defisiensi iodium masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Dari pemeriksaan iodium yang diekskresikan melalui urine, didapatkan defisiensi iodium pada 36,4% anak di seluruh dunia, dan daerah Asia Tenggara didapatkan 39,8% anak usia sekolah mengalami defisiensi iodium. Nusa Tenggara Barat adalah provinsi dengan konsumsi garam iodium yang terendah di seluruh Indonesia dan belum ada penelitian tentang kadar iodium urin dan factor yang mempengaruhinya. Tujuan: Mencari data dasar tentang epidemiologi defisiensi iodium , selain itu penelitian ini juga bisa memberi manfaat tentang gambaran kadar iodine masyarakat secara umum.. Metode: Rancangan penelitian ini adalah rancangan potong lintang dengan populasi terjangkau kelas 5 dan 6 siswa SD di dataran rendah dan dataran tinggi Pulau Lombok. Faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi garam didapatkan dengan menggunakan kuesioner. Kadar iodium urin dinyatakan dengan median iodium urin yang didapatkan dengan menggunakan metode acid digestion. Hasil: Median iodium urin di dataran rendah didapatkan 218 mg/L dan di dataran tinggi 236 mg/L. Iodium Urine Excretion di dataran rendah dan tinggi juga menunjukkan kecukupan tingkat konsumsi garam iodium. Kesimpulan: Median iodium urin di dataran rendah didapatkan 218 mg/L dan di dataran tinggi 236 mg/L. Iodium Urine Excretion di dataran rendah dan tinggi juga menunjukkan kecukupan tingkat konsumsi garam iodium.
Tingkat Kepuasan Pasien Jamkesmas Terhadap Pelayanan Rawat Jalan Pusat Kesehatan Masyarakat Ampenan Tahun 2013 Astuti, Anies Dyaning; Gerudug, I Komang; Syamsun, Arfi
Jurnal Kedokteran Vol 5 No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Puskesmas merupakan pelayanan kesehatan lini pertama yang menyelenggarakan upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan, kemampuan hidup sehat setiap penduduk. Upaya kesehatan tersebut diselenggarakan dengan menitik beratkan pada kualitas pelayanan. Salah satu indikator kualitas pelayanan kesehatan adalah tingkat kepuasan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis tingkat kepuasan pasien Jamkesmas terhadap pelayanan rawat jalan di Puskesmas Ampenan. Metode: Desain penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel diambil dengan consecutive sampling terhadap 70 pasien yang termasuk kriteria inklusi. Alat pengumpul data menggunakan kuesioner yang telah diuji validasi terlebih dahulu. Hasil: Hasil penelitian secara umum menunjukkan tingkat kepuasan pasien pada variabel tangible didapatkan hasil tidak puas 4,3%, cukup puas 64,3%, puas 28,6%, sangat puas 2,9%. Berdasarkan variabel empathy didapatkan hasil tidak puas 1,4%, cukup puas 35,7%, puas 38,6%, sangat puas 24,3%. Berdasarkan variabel reliability didapatkan hasil tidak puas 1,4%, cukup puas 21,4%, puas 62,9%, sangat puas 14,3%. Berdasarkan variabel responsiveness didapatkan hasil tidak puas 1,4%, cukup puas 22,9%, puas 70%, sangat puas 5,7%. Berdasarkan variabel assurance didapatkan hasil tidak puas 1,4%, cukup puas 21,4%, puas 68,6%, sangat puas 8,6%. Kesimpulan: Secara umum tingkat kepuasan pasien Jamkesmas adalah sudah merasa puas (53,74%) terhadap pelayanan rawat jalan di Puskesmas Ampenan.
Profil Penanganan Luka pada Pasien Trauma di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat Zuhan, Arif; Rahman, Hadian; Januarman, Januarman
Jurnal Kedokteran Vol 5 No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Luka terbuka mempunyai resiko untuk terjadinya infeksi yang serius dan dapat menyebabkan kematian. Penanganan luka yang sesuai sangat penting untuk mengurangi terjadinya infeksi pada luka. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskritif prospektif dengan metode cross-sectional tentang profil penangan luka pada pasien trauma di IGD RSUP NTB. Subjek penelitian ini adalah pasien yang mengalami luka akibat trauma dan ditangani di IGD RSUP NTB. Penelitian ini menggunakan total sampling. Pengambilan data dilakukan dari bulan Juli sampai September 2015. Hasil: Didapatkan 90 pasien luka akibat trauma yang terdiri dari 73% laki-laki dan 27% perempuan. Tindakan disinfeksi luka dilakukan pada 100% pasien, anestesi luka pada 65,6% pasien dan irigasi luka pada 97% pasien. Debridement luka dilakukan pada 13% pasien, penjahitan luka pada 61% pasien dan dressing luka pada 77% pasien. Antibiotik profilaksis diberikan pada 26% pasien dan antitetanus profilaksis diberikan pada 28% pasien. Kesimpulan: Tindakan disinfeksi luka terutama menggunakan povidon iodin. Tindakan anestesi luka menggunakan Lidocain dan irigasi luka menggunakan NaCl 0,9%. Tindakan penjahitan luka terutama menggunakan jahitan simple suture. Antibiotik profilaksis terutama menggunakan Amoxicilin dan antitetanus profilaksis terutama menggunakan ATS.
Oftalmopati pada Penyakit Graves Farida, Siti; Sakti, Pandu Tridana
Jurnal Kedokteran Vol 5 No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Graves Oftalmopati juga dikenal dengan, Tyroid Associated Ophtalmopathy (TAO) , penyakit mata tyroid, dan penyakit Basedow’s (dalam bahasa Jerman), orbitopaty dystiroid, orbitopaty tiroid adalah gangguan inflamasi autoimmune dengan pencetus yang berkesinambungan. Dengan gambaran klinis karakteristiknya satu atau lebih gambaran berikut yaitu retraksi kelopak mata, keterlambatan kelopak mata dalam mengikuti gerakan mata (lid lag), proptosis, myopati ekstraokuler restriksi dan neuropaty optik progresif. Laporan kasus: penulis melaporkan 1 laporan kasus oftalmopati pada penyait graves pada pasien perempuan berusia 31 tahun. Pasien mengeluhkan kedua mata menonjol, mata kering, benjolan pada leher, mudah lelah, mudah lapar dan haus, berkeringat, tubuh terasa panas, dan berdebar-debar. Pada pemeriksaan fisik didapatkan proptosis pada kedua mata denan menggunakan eksoftalmometer hertel. Pasien juga dilakukan pemeriksaan kadar TSH. Pasien ditatalaksana dengan pemberian artificial tears dan kelopak diplester waktu tidur serta tatalaksana untuk kondisi hipertiroidnya.