cover
Contact Name
Mohammad Rizki
Contact Email
mohammadrizki.md@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.kedokteran.unram@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram Jl. Pendidikan No. 37 Mataram, Nusa Tenggara Barat
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran
Published by Universitas Mataram
ISSN : 23015977     EISSN : 25277154     DOI : -
Core Subject : Health,
The Unram Medical Journal managed by the Medical Faculty of Mataram University is a scientific journal to publish the results of the latest research in the field of medical and health related. This journal promote medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community research to integrate researches in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and also case reports.
Articles 408 Documents
Efektifitas Tramadol dibandingkan Ketoprofen untuk Mengurangi Nyeri pada Pasien Pasca Operasi Bedah di RS. Bhayangkara menggunakan VAS skor Yasa, I Nengah Putra; Kresnoadi, Erwin; Nandana, Pandu Ishaq
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Nyeri pasca bedah disebabkan oleh adanya rangsangan mekanik luka yang menyebabkan tubuh mengeluarkan mediator-mediator kimia nyeri dan bervariasi mulai dari nyeri ringan sampai nyeri berat namun menurun sejalan dengan proses penyembuhan. Tramadol dan Ketoprofen merupakan obat yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri pasca operasi bedah. Tramadol berkerja dengan menghambat reseptor opioid dan Ketoprofen bekerja dengan penghambatan jalur siklooksigenase dari metabolisme asam arakhidonat. Penelitian ini membandingkan efektifitas Tramadol 100 mg supp. dan Ketoprofen 100 mg supp. dalam mengurangi nyeri pasca operasi bedah. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional. Responden penelitian diobservasi sampai waktu tertentu untuk melihat efek yang timbul pada sampel penelitian. Total 48 pasien, yang terbagi dalam 2 kelompok. Kelompok Tramadol 24 pasien dan Kelompok Ketoprofen 24 pasien. Data disajikan dalam bentuk nilai rerata ± simpang baku, kemudian diuji dengan menggunakan Uji Mann Whitney dan Independent t-Test dengan (a = 0,05). Hasil: Terdapat perbedaan bermakna antara Kelompok Tramadol dan Kelompok Ketoprofen dalam menurunkan derajat nyeri dengan hasil uji statistik p<0,01. Kesimpulan: Pemberian Tramadol 100 mg supp. lebih efektif dibandingkan Ketoprofen 100 mg supp. dalam mengurangi nyeri selama 24 jam pasca operasi.
"Dry Lab" Metode Simulasi Laboratorium Menggunakan Komputer pada Praktikum Spirometri Widiastuti, Ida Ayu Eka; Sari, Dian Puspita; Noviyani, Ni Made Reditya
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Praktikum spirometri merupakan salah satu metode yang dipergunakan untuk menambah pemahaman mahasiswa tentang fisiologi respirasi, yang dalam pelaksanaannya membutuhkan beberapa persiapan, mulai dari peralatan sampai orang coba dengan persyaratan tertentu, yang terkadang sulit terpenuhi sesuai dengan kriteria/kondisi yang diharapkan. Salah satu metode praktikum yang berkembang saat ini adalah metode “dry lab,” yaitu metode yang memanfaatkan perangkat lunak (software). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan metode dry lab dibandingkan metode konvensional serta untuk mengetahui tingkat kepuasan mahasiswa terhadap metode dry lab. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan rancangan randomized pretest and posttest group design. Subjek penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mataram Tahun Ajaran 2014/2015 yang telah menempuh Blok VI (Sirkulasi dan Distribusi) yang memenuhi kriteria penelitian. Subjek penelitian berjumlah 60 orang, dibagi dalam 2 (dua) kelompok, yaitu kelompok 1 dan 2. Pada tahap I, kelompok 1 melakukan praktikum spirometri dengan menggunakan metode dry lab dengan perangkat lunak PhysioEx 9.1 dan kelompok 2, menggunakan metode konvensional dengan alat spirometer digital. Pada tahap II, dilakukan pertukaran, kelompok 1 melakukan praktikum konvensional dan kelompok 2 praktikum metode “dry lab”. Data, berupa nilai pretest dan posttest yang diperoleh pada tahap I dianalisis dengan Uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Seluruh responden mengisi kuesioner kepuasan terhadap metode “dry lab”. Hasil: Hasil penelitian diperoleh bahwa rerata beda nilai pretest dan posttest pada masing-masing kelompok berbeda bermakna, (p < 0,05), dengan rerata peningkatan nilai pada kelompok 1 sebanyak 4,2 (75,9%) sedangkan pada kelompok 2 sebanyak 2,8 (40,7%). Tidak ada perbedaan bermakna antara nilai kelompok perlakuan yang menggunakan metode dry lab dan nilai kelompok perlakuan yang menggunakan metode konvensional (p > 0,05). Metode praktikum spirometri dengan metode “dry lab” maupun metode konvensional meningkatkan capaian nilai responden. Kesimpulan: Metode “dry lab” tidak lebih baik dalam meningkatkan capaian nilai dibandingkan metode konvensional.
Fraktur Monteggia: Tantangan Klinisi dalam Menghadapi Fraktur Dislokasi yang Sering Misdiagnosis Alaydrus, M. Mukaddam
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fraktur Monteggia merupakan salah satu jenis fraktur yang terjadi pada regio antebrachii. Fraktur Monteggia adalah fraktur pada os ulna bagian proksimal disertai dislokasi dari caput radii pada proximal radioulnar joint (PRUJ). Kasus ini sering misdiagnosis meskipun telah dilakukan pemeriksaan X-Ray terutama dalam mengenali dislokasi atau subluksasi dari caput radii. Insidensi kasus tersebut terjadi 13% dari seluruh kasus fraktur pada regio antebrachii. Karena letaknya yang diibaratkan sebagai dua kerucut (cones) yang berdampingan dengan satu sama lain saling menunjuk pada arah yang berlawanan, maka perlu diingat bahwa segala cedera yang terjadi pada regio antebrachii menimbulkan efek pada os radius dan ulna. Mekanisme trauma yang paling sering adalah terjatuh dengan tangan menopang tubuh pada posisi hiperekstensi. Berdasarkan klasifikasi Bado, fraktur Monteggia dibagi menjadi 4 tipe. Gejala klinis yang nampak antara lain bengkak pada siku, deformitas, krepitasi, serta nyeri ketika melakukan gerakan supinasi dan pronasi. Pemeriksaan penunjang berupa X-Ray regio antebrachii posisi AP/ Lateral dapat membantu menegakkan diagnosis. Tujuan tatalaksana adalah mereduksi seakurat mungkin dengan mengembalikan panjang ulna ke ukuran semula, dimana caput radii biasanya akan tereduksi secara otomatis. Namun jika caput radii tidak tereduksi atau tidak stabil maka reduksi terbuka harus dilakukan. Komplikasi yang dapat terjadi berupa cedera nervus, malunion dan non union.
Studi Kefalometri pada Suku Asli di Pulau Lombok Januarman, Januarman; Syamsun, Arfi; Harahap, Ida Lestari; Syari, Mayuarsih Kartika
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Indonesia memiliki beragam suku bangsa dengan budaya dan ciri khas masingmasing. Salah satu ciri yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi suatu suku bangsa adalah ciri fisik. Ciri fisik ini dapat berupa bentuk maupun ukuran tubuh. Ciri fisik berguna untuk identifikasi forensik. Salah satu ciri fisik yang lazim digunakan dalam forensik adalah ukuran kefalometrik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum ukuran kefalometrik pada suku asli di beberapa daerah di Pulau Lombok. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan desain belah lintang dengan purposive sampling. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni sampai dengan November 2016 di Lombok Utara dan Lombok Tengah. Hasil: Penelitian ini melibatkan 50 subjek, sebanyak 25 orang berasal dari Desa Sade dan 25 orang dari Desa Bayan. Subjek dari Desa Sade menunjukkan panjang maksimal kepala sedang pada perempuan dan panjang maksimal pendek pada laki-laki, lebar minimal dahi 10–12,5 cm, lebar hidung 33–45 cm,tinggi hidung 50-58 cm, tinggi morfologi wajah genap pada kategori rendah dan sedang, laki-laki tinggi morfologi wajah genap kategori sangat rendah. Di desa Bayan panjang maksimal kepala laki-laki lebar kepala pendek, sedangkan pada perempuan terbanyak adalah yang memiliki lebar kepala panjang. lebar maksimal kepala laki-laki terbanyak ukuran sedang, perempuan terbanyak ukuran lebar. ukuran lebar minimal dahi 10-14 cm. ukuran bigonial memiliki range antara 8-13,5 cm, ukuran lebar hidung antara 32-44 cm, dan ukuran tinggi hidung antara 38,5-61 cm. Ukuran tinggi morfologi wajah genap laki-laki dan perempuan suku Bayan kurang lebih sama yaitu dengan ukurandalam kategori rendah. Kesimpulan: Kekhasan wajah suku Sasak, yaitu dahi lebar, tonjolan tulang pipi lebih ke depan lateral, hidung lebar, dan rahang bawah lebih sempit.
Hubungan antara Diabetes Melitus dengan Penyakit Arteri Perifer (PAP) Melalui Pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI) pada Pasien Rawat Jalan Rumah Sakit di Mataram Hairu Nurul Mutmainah; Yusra Pintaningrum; I Gede Yasa Asmara
Unram Medical Journal Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v6i3.133

Abstract

Latar Belakang: Penyakit tidak menular (PTM) seperti penyakit kardiovaskuler dan degeneratif saat ini sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat, baik secara lokal, nasional, regional, dan global, salah satunya adalah diabetes melitus. International Diabetes Federation (IDF) menyatakan bahwa lebih dari 371 juta orang di dunia yang berumur 20-79 tahun menderita diabetes. Indonesia merupakan negara urutan ke-7 dengan prevalensi diabetes tertinggi. Salah satu komplikasi dari diabetes melitus adalah komplikasi makrovaskuler yang mempunyai gambaran histopatologis berupa aterosklerosis yang akan menjadi prediktor utama terjadinya penyakit arteri perifer (PAP). Skrining awal PAP sangatlah penting. Keparahan PAP dapat dinilai dengan nilai Ankle Brachial Index (ABI). ABI merupakan prosedur pemeriksaan non invasive dan sederhana untuk mendeteksi kemungkinan adanya PAP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara diabetes melitus dengan nilai ankle brachial index (ABI). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan metode crosssectional. Pengambilan sampel dilakukan di RSUD Provinsi NTB, Rumah Sakit Risa Sentra Medika Mataram dan Rumah Sakit Harapan Keluarga Mataram. Terdapat 105 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi, kemudian dilakukan pengukuran ABI. Kadar gula darah didapatkan melalui hasil pemeriksaan laboratorium. Hasil: Dari 105 sampel terdapat 38 (36,2%) mengalami diabetes melitus, 26 (24,8%) ABI tidak normal. Uji Chi Square diabetes melitus dengan ABI (p = 0,781). Uji Rasio Prevalensi diabetes melitus dengan ABI (RP = 1,102). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara diabetes melitus dengan penyakit arteri perifer melalui pemeriksaan ankle brachial index. Seseorang dengan diabetes melitus memiliki risiko 1,102 kali untuk memiliki nilai ABI yang tidak normal.
Evaluasi Angka Bebas Batu pada Pasien Batu Ginjal yang Dilakukan ESWL Berdasarkan Letak dan Ukuran Batu di Rumah Sakit Harapan Keluarga Mataram Periode 2015-2016 Abdurrosid, Lalu Muhammad Kamal; Maulana, Akhada; Hapsari, Yunita; Nandana, Pandu Ishaq
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Batu saluran kemih adalah batu yang terdapat dalam saluran kemih atau traktus urinarius, dimana lokaisnya dapat berada di organ ginjal, saluran ureter dan uretra, serta kandung kemih atau buli-buli. Prevalensi batu ginjal diperkirakan antara 1%- 15%, dan memiliki variasi menurut usia, jenis kelamin, ras, dan lokasi geografis. Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) merupakan terapi non-invasif yang menjadi tatalaksana pada batu ginjal. Terdapat berbagai faktor yang diduga dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan ESWL, diantaranya lokasi batu dan ukuran batu ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan antara lokasi batu dan ukuran batu dengan tingkat keberhasilan ESWL pada pasien batu ginjal. Metode: Merupakan penelitian non eksperimental menggunakan metode deskriptif analitik dengan desain penelitian cross sectional yang diamati secara retrospektif. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Harapan Keluarga Mataram dengan mengambil 67 data rekam medis tahun 2015-2016 dengan batu ginjal yang sudah dilakukan ESWL. Data kemudian dikelompokkan sesuai dengan kategori ukuran batu (diameter <5 mm, 5-10 mm, 11-20 mm dan >20 mm) dan lokasi batu (kaliks superior, kaliks media, kaliks inferior, pyelum, dan uretero-pelvic-junction), lalu dihitung persentase keberhasilan ESWL dan dianalisis dengan uji koefisien kontingensi untuk melihat kemaknaannya. Hasil: Didapatkan bahwa sampel memiliki rentang usia 13-73 tahun (rerata 45,4 tahun). Persentase keberhasilan ESWL lebih tinggi pada batu ukuran <5 mm (100%), 5-10 mm (100%) dibanding batu ukuran ≥10 mm (94%). Didapatkan juga persentase keberhasilan ESWL lebih tinggi pada batu kaliks superior (100%), kaliks media (100%), pyelum (100%), dan UPJ (100%) dibandingkan kaliks inferior (93%). Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara lokasi dan ukuran batu ginjal dengan tingkat keberhasilan ESWL dengan nilai p berturut-turut 0,556 dan 0,326. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara lokasi dan ukuran batu ginjal dengan tingkat keberhasilan ESWL.
Efek Protektif Vitamin E pada Epitel Jejunum Tikus Putih (Rattus norvegicus) yang Diinduksi Timbal Asetat Harahap, Ida Lestari
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Usus terutama jejunum merupakan organ pertama yang mengalami dampak kerusakan akibat makanan yang terkontaminasi timbal. Dari hasil penelitian sebelumnya diketahui adanya perubahan secara mikroskopis berupa nekrosis epitel dan pemendekan vili jejunum mencit yang diberikan paparan timbal secara per oral. Vitamin E berpotensi melindungi membran lipid epitel usus terhadap stres oksidatif seperti paparan timbal. Untuk itu disusun penelitian ini dengan tujuan menganalisis perbedaan gambaran histopatologik vili jejunum tikus putih (Rattus norvegicus) pada pemberian timbal asetat secara oral yang diproteksi vitamin E. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancang randomized posttest-only control group. Tikus putih jantan dibagi ke 5 kelompok. Kelompok kontrol K(-) diberi akuades dan minyak kelapa. Kelompok kontrol K(+) diberi timbal asetat 75 mg. Kelompok perlakuan ada 3 yaitu P1 (timbal asetat + vitamin E 100IU), P2 (timbal asetat + vitamin E 200IU), dan P3 (timbal asetat + vitamin E 400IU). Dilakukan Uji One-way ANOVA dan LSD (Least Significant Difference) terhadap jumlah erosi epitel dan tinggi vili jejunum tikus putih. Hasil: Hasil Uji One-way ANOVA dan LSD (Least Significant Difference) terhadap jumlah erosi epitel dan tinggi vili jejunum tikus putih menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara kelompok kontrol dan perlakuan (p<0,05). Kesimpulan: Vitamin E menurunkan jumlah erosi epitel vili dan mempertahankan tinggi vili jejunum pada tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi timbal asetat.
Efek Pemberian Jus Tomat terhadap Kecepatan Pemulihan Denyut Nadi pada Mahasiswa Medical Sports Club Fakultas Kedokteran Universitas Mataram Widiastuti, Ida Ayu Eka; Wiguna, Putu Aditya; Buanayuda, Gede Wira
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Dalam suatu aktivitas fisik, manusia akan menghasilkan perubahan dalam konsumsi oksigen, heart rate, temperatur tubuh dan perubahan senyawa kimia dalam tubuh dan untuk menilai beban kerja yang dapat dilakukan dengan metode pengukuran tidak langsung yaitu dengan menghitung denyut nadi selama aktivitas. Pada saat melakukan aktivitas fisik/berolahraga terjadi peningkatan kebutuhan oksigen akibat peningkatan metabolisme tubuh 10-20 kali lipat untuk memenuhi kebutuhan energi yang meningkat. Peningkatan pemakaian oksigen ini akan meningkatkan pula produksi dari radikal oksigen yang dapat menimbulkan stress oksidatif. Lycopene, yang banyak terkandung dalam buah tomat merupakan antioksidan yang potensial dalam melawan radikal oksigen yang meningkat dalam tubuh pada saat berolahaga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek dari pemberian jus tomat terhadap kecepatan pemulihan denyut nadi pada mahasiswa Medical Sports Club Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah One Group Pretest-Posttest Design. Subjek penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mataram yang tergabung dalam UKF Medical Sports Club (MSC), yang berjumlah 19 orang. Subjek memperoleh 2 macam perlakuan; perlakuan 1 diberi minum air putih dan perlakuan 2 diberi minum jus tomat, yang diberikan 30 menit sebelum melakukan latihan treadmill dengan menggunakan protokol Bruce yang dimodifikasi selama 15 menit. Jarak antara kedua perlakuan adalah 2 hari. Data dianalisis dengan menggunakan uji t berpasangan. Hasil: Rerata kecepatan pemulihan denyut nadi pada perlakuan 1 adalah pada menit ke 6,16 sedangkan pada perlakuan 2 adalah pada menit ke 4,26. Hasil analisis dengan uji t berpasangan menunjukkan kecepatan pemulihan denyut nadi setelah latihan treadmill antara perlakuan 1 dan 2berbeda bermakna (p<0,05). Kesimpulan: Rerata kecepatan pemulihan denyut nadi setelah diberikan jus tomat lebih baik dibandingkan dengan setelah diberikan air putih.
Korelasi antara Usia dengan Ekspresi Epstein-Barr Virus pada Kanker Nasofaring Tipe Undifferentiated Carcinoma Pratama, Aditya Agung; Yudhanto, Didit; Kadriyan, Hamsu; Djannah, Fathul
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Karsinoma nasofaring merupakan keganasan sel skuamosa epitel nasofaring yang paling sering terjadi di daerah fossa rosenmuller yang selanjutnya dapat meluas ke struktur anatomi di sekitarnya. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kanker nasofaring antara lain adalah genetik, infeksi Ebstein-Barr virus dan lingkungan. Pemeriksaan imunohistokimia dilakukan untuk mendeteksi Ebstein-Barr virus pada kanker nasofaring terutama LMP1. Kanker nasofaring paling banyak terjadi pada usia 40-49 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antara usia dengan ekspresi Epstein-Barr virus pada pasien Kanker Nasofaring. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Sampel penelitian ini adalah pasien kanker nasofaring yang berada di Rumah Sakit Umum Nusa Tenggara Barat, yang ditentukan dengan teknik consecutive sampling. Pada sampel penelitian ini dilakukan pemeriksaan ekspresiEpstein-Barr viruspada blok paraffin pasien kanker nasofaring menggunakan pemeriksaan imunohistokimia.Data dianalisis dengan uji korelasi koefisien kontingensi. Hasil: Sampel pada penelitian ini berjumlah 44 sampel dengan rentang usia 22-70 tahun. Jumlah sampel terbanyak pada rentang usia 40-49 tahun yaitu sebanyak 13 orang. Jumlah sampel pasien yang berusia ≤45 tahun sebanyak 27 orang (61,36%) dan yang berusia >45 tahun sebanyak 17 orang (38,64%) dengan rata-rata usia 43,29 tahun. Berdasarkan hasil pemeriksaan imunohistokimia, dari 44 sampel yang diteliti, 15 orang (34,09%) mengekspresikan LMP1 positif sedangkan yang negatif sebanyak29 orang (65,90%). Sampel pasien yang berusia ≤45 tahun yang mengekspresikan LMP 1 positif sebanyak 9 orang (33,33%) dan negatif 18 orang (66,66%). Sampel pasien yang berusia >45 tahun yang mengekspresikan LMP 1 positif sebanyak 6 orang (35,29%) dan negatif 11 orang (64,70%). Hasil uji korelasi koefisien kontingensi menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang sangat lemah (r = 0,020) antara usia dengan ekspresi Epstein-Barr virus pada pasien Kanker Nasofaring dan tidak bermakna secara signifikan (p = 0,894). Kesimpulan: Tidak terdapat korelasi yang bermakna secara statistik pada hasil pemeriksaan ekspresi EBV pada sediaan blok parafin pasien kanker nasofaring dengan usia pasien kanker nasofaring.
Pemberian Nutrisi Enteral Secara Dini pada Pasien Sakit Kritis di ICU Kresnoadi, Erwin
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dukungan nutrisi merupakan komponen penting dalam perawatan pasien kritis karena dapat meningkatkan morbiditas, mortalitas, dan lama tinggal. Efek menguntungkan dari nutrisi enteral mencakup pemanfaatan yang lebih baik substrat, pencegahan atrofi mukosa, pelestarian integritas flora usus, dan pelestarian imunokompetensi. Pemberian makanan enteral secara dini mampu mengurangi angka kematian pasien menjadi lebih rendah karena pemberian nutrisi enteral secara dini dapat meningkatkan aliran darah ke saluran pencernaan.

Page 9 of 41 | Total Record : 408