cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Biomedika
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 399 Documents
PENYAKIT FAHR’S DENGAN KEJANG PADA PASIEN KARSINOMA TIROID: SEBUAH LAPORAN KASUS Setiawan, Iwan; Sulistyani, Sulistyani
Biomedika Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v13i1.11796

Abstract

ABSTRAKPenyakit Fahr’s adalah penyakit dengan gangguan neuropsikiatri yang ditandai dengan kalsifikasi di ganglia basalis bilateral dari hasil pemeriksaan pencitraan otak dan biasanya berhubungan dengan gangguan metabolisme fosfor dan kalsium. Artikel ini menyajikan kasus penyakit Fahr’s pada seorang wanita usia 56 tahun dengan karsinoma tiroid dan kejang. Selanjutnya, CT scan kepala menunjukkan adanya kalsifikasi  yang simetris bilateral pada ganglia basalis, dan otak kecil. Manifestasi klinis penyakit Fahr’s bervariasi tergantung usia, letak bagian otak yang mengalami kalsifikasi, dalam hal ini gejala yang dominan adalah jenis kejang berulang berupa bangkitan general tonic clonic. Kejang yang terjadi dalam hal ini bisa jadi akibat perubahan hormon tiroid atau akibat kalsifikasi di otak. Belum ada pengobatan khusus pada penyakit ini,.Gejala kejang yang terjadi mendapatkan terapi dengan sodium valproate dan terapi untuk gangguan perubahan hormon tiroidnya.Kata kunci: Penyakit Fahr’s, Karsinoma Tiroid, Kejang ABSTRAKFahr’s disease is a disease with neuropsychiatric disorder, characterized by bilateral basal ganglia calcification and usually associated with a phosphorus and calcium metabolism disorder. This paper presents a case of Fahr’s disease in a 56-year-old woman with carcinoma thyroid and seizures. Furthermore, CT showed bilateral symmetric basal ganglia and cerebellum calcifications. Clinical manifestations of Fahr’s disease vary depending on age, location of the part of the brain that is calcified, in this case the dominant symptom is recurrent seizures type of the general tonic clonic. Seizures that occur in this case can be resulted of thyroid hormone changes or brain calcification. There is no specific treatment for this disease. The seizures that occur got therapy with sodium valproate and therapy for disorders of thyroid hormone changes.Key words: Fahr’s Disease, Thyroid Carcinoma, WSeizure
DAMPAK PEMBERIAN JUICE BUAH NAGA MERAH PADA PERUBAHAN KARDIORESPIRASI DALAM AKTIVITAS FISIK MAKSIMUM Mursyid, Hafiz Anugrah; Rusip, Gusbakti
Biomedika Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v13i1.10643

Abstract

ABSTRAKAktifitas fisik berkontribusi terhadap stress oksidatif yang dapat mengakibatkan penurunan antioksidan sehingga mempengaruhi kebugaran fisik. Antioksidan diperlukan tubuh untuk menetralisir radikal bebas dan mencegah kerusakan stress oksidatif. Telah diketahui kandungan buah naga merah kaya antioksidan berguna untuk menetralkan stress oksidatif yang terjadi akibat aktifitas fisik. Salah satu cara menilai kebugaran fisik seseorang dengan mengukur nilai VO2 max dan denyut nadi pemulihan. Jenis penelitian adalah quasi experimental dirancang dengan pre – post control group design. Populasi dan sampel penelitian mahasiswa Fakultas Kedokteran UMSU sebanyak 32 orang yang memenuhi kriteria dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kontrol selama 4 minggu. Dilakukan pengukuran VO2 max dan denyut nadi pemulihan. Penelitian ini menunjukkan hasil yang signikan didapati nilai VO2 max sebelum dan sesudah perlakuan dengan nilai p = 0.004 (p 0.05) dan denyut nadi pemulihan sebelum dan sesudah perlakuan dengan nilai rerata dari 80 per menit menurun menjadi 75 per menit. Kesimpulan penelitian, bahwa dengan pemberian jus buah naga merah mempunyai pengaruh terhadap peningkatan fungsi kardiorespirasi, dengan demikian tentunya dapat menunjukan tingkat kebugaran fisik lebih baik.Kata kunci: Buah Naga Merah, VO2 max, Denyut Nadi Pemulihan ABSTRACTPhysical activity contributes to oxidative stress which can result in a decrease in antioxidants that affects physical fitness. Antioxidants are needed by the body to neutralize free radicals and prevent damage to oxidative stress. It is known that the content of antioxidant-rich red dragon fruit is useful for neutralizing oxidative stress triggered by physical activity. One way to assess one's physical fitness is by measuring the VO2 max value and recovery pulse rate. This study was a quasi-experimental study with pre-post test only group design. Research subjects were 32 students, which were divided into 2 groups, the treatment and control group for 4 weeks. VO2 max and recovery pulse measurements were taken. This study showed increased found VO2 max values before and after treatment p = 0.004 (p 0.05) and the recovery rate before and after treatment with a value means of 80 per minute decreased to 75 per minute. Ingestion juice red dragon fruit has an increasing function cardiorespiration, thus certainly can show a better level of physical fitness                                                                                          Keywords: Red Dragon Fruit, VO2 max, Recovery Pulse
ANTIFUNGAL EFFECTIVENESS OF CACAO BEAN SHELLS EXTRACT (Theobroma cocoa L.) ON TRICHOPHYTON RUBRUM GROWTH IN VITRO Hutasoit, Chintya Mei Desia; Setyaningsih, Yuni; Pramono, Andri
Biomedika Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v12i2.10176

Abstract

ABSTRACTTrichophyton rubrum is the most common dermatophytosis etiology. The antifungal agent has several problems such as fungal resistance and therapy side effects. Cacao (Theobroma cocoa L.) bean shells extract contained flavonoids, alkaloids, and saponins which have an antifungal effect. This study aimed to test the in vitro cacao bean shells extract antifungal (especially: Trichophyton rubrum) effectiveness by agar well diffusion method. This was an experimental study with a post-test only control group design. This study used cacao bean shells extract concentration 25%, 50%, 75%, and 100%, ketokonazol as positive control, and aquadest as negative control. The average inhibition diameter of 25%, 50%, 75% and 100% cacao bean shells extract concentration were 10.65 mm, 18 mm, 26.92 mm, and 37.22 mm, respectively, while the ketoconazole inhibition diameter was 51.52 mm. Data were analyzed using the Kruskal-Wallis test and post hoc with Mann-Whitney. The results showed significant differences between each treatment group (p 0.05). Cacao bean shells extract had an antifungal effect in inhibiting the growth of Tricophyton rubrum invitro.Keywords: Trichophyton rubrum, Cacao Bean Shells, Antifungal, Agar Well Diffusion Method,  ABSTRAKTrichophyton rubrum adalah penyebab paling umum dermatofitosis. Obat dermatofitosis (antijamur) memiliki beberapa masalah seperti resistensi dan efek samping terapi. Ekstrak cangkang biji kakao (Theobroma cocoa L.) mengandung flavonoid, alkaloid, dan saponin yang memiliki efek antijamur. Tujuan penelitian ini untuk menguji efektivitas antijamur (khususnya Trichophyton rubrum) ekstrak cangkang biji kakao secara in vitro dengan metode difusi agar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan post-test only control group design. Penelitian ini menggunakan konsentrasi ekstrak cankang biji kakao 25%, 50%, 75%, dan 100%, ketokonazol sebagai kontrol positif, dan aquadest sebagai kontrol negatif. Rata-rata diameter hambat konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100%  secara berturut-turut yaitu: 10,65 mm, 18 mm, 26,92 mm, dan 37,22 mm, sedangkan daya hambat ketoconazole adalah 51,52 mm. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan post hoc dengan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan antara masing-masing kelompok perlakuan (p 0,05). Ekstrak cangkang biji kakao memiliki efek antijamur dalam menghambat pertumbuhan Tricophyton rubrum invitro.Kata kunci: Trichophyton rubrum, Anti-jamur, Cangkang Biji Kaka, Metode Difusi Sumuran Agar
ISOLASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA BAKTERI ASAM LAKTAT DARI BLONDO VIRGIN COCONUT OIL TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus Rasyid, Burhannuddin; Sandi, Ketut Meina; Sudarmanto, I Gede; Karta, I Wayan
Biomedika Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v13i1.11070

Abstract

ABSTRAKBlondo merupakan limbah produksi virgin coconut oil (VCO) dapat menjadi sumber untuk mengisolasi bakteri asam laktat. Bakteri asam laktat mampu menghasilkan zat antimikroba yang dapat dikembangkan untuk mengobati kasus infeksi oleh bakteri Staphylococcus aureus. Bakteri Staphylococcus aureus dapat menyebabkan infeksi mulai dari keracunan makanan, infeksi kulit hingga infeksi sistemik. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan menguji aktivitas antimikroba bakteri asam laktat dari blondo terhadap bakteri Staphylococcus aureus.  Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross-sectional. Sampel blondo diambil dari kelompok wanita tani di Tabanan yang berjumlah 16 sampel dengan pengambilan sampel secara simple random sampling.  Bakteri diisolasi menggunakan media selektif yaitu agar de Man Rogosa and Sharpe (MRS) dan identifikasi dengan uji pewarnaan gram, uji katalase dan uji produksi gas dari glukosa. Uji aktivitas antimikroba bakteri asam laktat dilakukan dengan menggunakan metode difusi sumuran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di dalam sampel blondo terdapat bakteri asam laktat dari genus Lactobacillus dan Streptococcus. Bakteri asam laktat yang diisolasi dari blondo VCO mampu menghambat Staphylococcus aureus dengan terbentuknya zona hambat berupa zona bening dengan rata-rata diameter zona hambat 11,02 mm. Zona hambat yang terbentuk termasuk dalam kategori sedang dan kuat, dengan zona hambat tertinggi yang dihasilkan yaitu 20,8 mm dan terendah yaitu 9,2 mm.  Bakteri asam laktat dari blondo memiliki aktivitas antimikroba terhadap bakteri Staphylococcus aureus.Kata Kunci: Bakteri Asam Laktat, Blondo, Potensi Antimikroba ABSTRACTBlondo is a waste from the virgin coconut oil (VCO) producted which can be used as a source of lactic acid bacteria. Lactic acid bacteria are capable of producing antimicrobial compounds to inhibit the growth of pathogenic bacteria. The purpose of this study was to isolate and test the antimicrobial activity of lactic acid bacteria from blondo against Staphylococcus aureus bacteria. This research is a descriptive cross¬-sectional. Blondo samples were taken at group of farm women in Tabanan Regency, which was 16 samples with simple random sampling. Bacteria were isolated using selective medium de Man Rogosa and Sharpe (MRS) agar and identified with gram staining test, catalase test and gas production test from glucose. The antimicrobial activity test of lactic acid bacteria  was performed by using wells-diffusion method. The results of this study indicated there was lactic acid bacteria from the genus Lactobacillus and Streptococcus in the blondo sample. Lactic acid bacteria isolated from blondo were able to inhibit Staphylococcus aureus by forming a clear zone with an average diameter of inhibition zone was 11.02 mm. There were two antimicrobial potential category, medium and strong category, with the highest resulting inhibit zone was 20.8 mm and the lowest was 9.2 mm. Lactic acid bacteria from blondo had antimicrobials potential against Staphylococcus aureus Keywords: Lactic Acid Bacteria, Blondo, Antimicrobial Potential
SURGICAL TREATMENT OUTCOME OF AMNIOTIC BAND SYNDROME (ABS) INVOLVING THE FINGER AND LEG WITH INFECTION OF A FOUR-MONTHS MALE CHILD: A CASE REPORT Kumara, Hendra Cahya; Utomo, Pamudji; Islami, Umar Kharisma; Pradhana, Adhitya Indra
Biomedika Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v12i2.10562

Abstract

ABSTRACTAmniotic band syndrome is an uncommon congenital disorder without any genetic or hereditary predisposition factor. It involves fetal entrapment in strands of amniotic tissue and causes an array of deletions and deformations. The aim of this article was to report surgical treatment outcome of amniotic band syndrome finger and infected intrauterine leg amputation. A case of four months male child with complaint of incomplete formation and constricting band on his left leg was reported. On the stump of left leg initially there was a small lump. Over time the size of the stump grew bigger and infected wound appeared. Other deformities were constricting band on proximal phalanx of the middle finger of left hand, acrosyndactyly of first and second toe of right foot and congenital scrotalis hernia. We performed a release surgery of constriction ring band of proximal phalanx of the middle finger of left hand with z-plasty incision and below knee amputation for left leg. We followed up patient in one year after operation. The patient complained no pain and no sign of infection. Patient could walk normally and independently with good activity daily living. We concluded that procedure with z-plasty incision had good result and avoided morbidity. Below knee amputation procedure and application of suitable prosthesis provided satisfying outcome on patient activity daily living and ambulation. Key words: Amniotic band syndrome, intrauterine amputation, z-plasty, infectioABSTRAKSindrom amniotic band merupakan kelainan bawaan yang jarang terjadi dan tanpa adanya kecenderungan faktor genetik atau keturunan. Kelainan ini diakibatkan terlilitnya janin dalam untaian jaringan amnion dan menyebabkan berbagai jenis kehilangan dan kecacatan. Tujuan dari artikel ini adalah melaporkan luaran tatalaksana operasi sindrom amniotic band pada jari tangan dan amputasi pada tungkai yang terinfeksi intrauterine. Pasien adalah seorang anak laki-laki empat bulan dengan amputasi tungkai bawah kiri disertai constriction band pada bagian proksimal. Pada ujung tungkai bawah kiri didapatkan benjolan dengan ukuran minimal yang makin lama ukuran sisi distal menjadi lebih besar dan tampak luka dengan nanah. Kelainan bentuk lainnya adalah constricting band pada phalanx proksimal jari tengah tangan kiri, acrosyndactyly jari kaki pertama dan kedua kaki kanan serta congenital hernia skrotalis. Kami melakukan operasi release constriction ring band phalanx proximal jari tengah tangan kiri dengan irisan z-plasty dan below knee amputation tungkai kiri. Follow up pasien setelah operasi satu tahun. Tidak ada keluhan nyeri, tidak ada tanda infeksi, pasien dapat berjalan normal dan aktivitas sehari-hari dengan mandiri. Kesimpulan bahwa prosedur dengan irisan z-plasty memberikan hasil yang baik dan menghidari morbiditas pasien. Prosedur below knee amputation dan penggunaan prosthesis yang tepat memberikan hasil yang memuaskan pada aktivitas sehari-hari dan ambulasi pasien. Kata kunci: Sindrome amniotic band, amputasi intrauterine, z-plasty, infeksi 
GAMBARAN PENGETAHUAN MAHASISWA NON FAKULTAS KESEHATAN TENTANG GINGIVITIS Riolina, Ana; Indarti, Ghinna Yulia
Biomedika Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v13i1.10810

Abstract

ABSTRAKGingivitis merupakan peradangan pada gingiva akibat infeksi bakteri yang dapat menyebabkan periodontitis dan gigi goyah. Gingivitis mempengaruhi 50-90% populasi orang dewasa di dunia, karenanya gingivitis menjadi perhatian dalam pemberian informasi melalui promosi kesehatan pada kelompok usia tersebut. Di negara berkembang, penyampaian promosi kesehatan lebih banyak menggunakan berbagai macam media massa dengan keefektivan yang bervariasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran pengetahuan gingivitis pada mahasiswa S1 non fakultas kesehatan UMS yang telah mendapatkan promosi kesehatan gigi dan mulut melalui media massa. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif observasional. Subjek penelitian ini adalah 394 mahasiswa S1 non fakultas kesehatan UMS. Analisis data menggunakan metode deskriptif survey dengan menguraikan data – data yang disajikan dalam bentuk diagram, grafik maupun tabel. Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa yang mengetahui tentang gingivitis adalah mahasiswa yang mendapat promosi kesehatan melalui internet / sosial media yaitu sebanyak 356 (90,3%), media elektronik 22 (5,6%) dan  media cetak 16 (4,1%) mahasiswa. Tingkat pengetahuan mahasiswa tentang gingivitis baik sebanyak 259 (65,7%) mahasiswa dan yang buruk 135 (34,3%) mahasiswa. Kesimpulan penelitian ini adalah sebagian besar mahasiswa memiliki pengetahuan yang baik tentang gingivitis setelah mendapatkan promosi kesehatan.Kata Kunci: Promosi kesehatan, Gigi dan mulut, Media Massa, Gingivitis ABSTRACTGingivitis is a gingiva inflammation from bacterial infection that can cause periodontitis and wobbly teeth. Gingivitis affects 50-90% of the adult population in the world, because of it gingivitis became an attention on the need for health promotion in adulthood to old. In developing countries, delivering health promotion uses some kind of mass media with varying effectiveness. The purpose of this research is to find out about the knowledge of gingivitis in UMS non – health faculties undergraduate students who are given dental and oral health promotion through mass media. The method of this research is descriptive observational. The subjects of this study were 394 non – health faculties undergraduate students of UMS. Data analysis uses a descriptive survey method by describing the data that presented in the form of diagrams, graphs or tables. The results shows the students who know about gingivitis are the students who find health promotion’s exposure through the internet / social media is 356 (90.3%), electronic media 22 (5.6%) and print media 16 (4.1%) students. The level of good knowledge of students about gingivitis is 259 (65.7%) students and poor knowledge is 135 (34.3%) students. This study concluded that most students have good knowledge about gingivitis. Keywords: Health promotion, Teeth and mouth, Mass Media, Gingivitis
SERAPAN SENYAWA ORGANIK VOLATIL SEBAGAI BIOMARKER PENYAKIT KANKER PARU: SEBUAH MINI REVIEW Apriyanto, Donni Kis; Mitrayana, Mitrayana
Biomedika Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v12i2.10114

Abstract

ABSTRAKUlasan ini merupakan hasil studi literatur yang memberikan tinjauan umum serapan senyawa-senyawa organik volatil yang dianggap sebagai biomarker kanker paru. Senyawa-senyawa ini dapat menyerap pada panjang gelombang tertentu. Senyawa-senyawa organik volatil yang teridentifikasi didaftar dan dijabarkan panjang gelombang yang dapat mereka serap. Studi literatur ini menyajikan kelompok senyawa-senyawa organik volatil dapat menyerap pada rentang panjang gelombang inframerah. Hasil ulasan ini mungkin dapat bermanfaat untuk pengembangan skrinning kanker paru dengan menggunakan alat spektroskopi fotoakustik yang menggunakan sumber laser pada rentang panjang gelombang inframerah atau ultraviolet dengan memanfaatkan serapan panjang gelombang oleh senyawa-senyawa tertentu.Keyword: Biomarker Kanker Paru,Senyawa Organik Volatil, Spektroskopi ABSTRACTThis review is the result of a literature study that provides a general collection of volatile organic compounds (VOC) which are considered as markers for lung cancer. These compounds can absorb certain long waves. The volatile organic compounds identified are listed and described in wavelengths that they can absorb. Literature studies that produce volatile organic compounds in the analysis wavelength range. The results of this review may be useful for the development of lung cancer screening by photoacoustic spectroscopic devices that use laser sources in the range of infrared or ultraviolet wavelengths by utilizing wavelength absorb by certain compounds.Keyword: Lung Cancer Biomarker, Volatile Organic Compounds, Spectroscopy
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN TEMBAKAU (Nicotiana tabacum L.) TERHADAP MORTALITAS LARVA Anopheles aconitus Nurhayani, Nurhayani; Sari, Dhiastika Nanda; Bestari, Rochmadina Suci; Risanti, Erika Diana
Biomedika Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v13i1.11272

Abstract

ABSTRAKAnopheles aconitus merupakan nyamuk pembawa parasit malaria (Plasmodium sp.). Pengendalian  penyakit malaria bergantung pada pengendalian vektornya. Penggunaan larvasida alami perlu dikembangkan untuk mengurangi dampak negatif larvasida sintetis yang dapat mencemari lingkungan. Tanaman yang dapat digunakan untuk larvasida alami salah satunya adalah daun tembakau (Nicotiana tabacum L.) karena mengandung flavanoid, alkaloid, tanin, saponin, dan minyak atsiri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun tembakau terhadap mortalitas larva Anopheles aconitus dan dosis optimal ekstrak daun tembakau sebagai larvasida Anopheles aconitus. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik dengan rancangan post test only with control group design, dengan 4 variasi konsentrasi 0,00875%, 0,0175%, 0,035%, 0,07%, 1 kontrol negatif (aquadest dan CMC) dan 1 kontrol positif (abate), dilakukan 4 kali pengulangan dengan pengamatan tiap 6 jam sekali selama 24 jam. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukan terdapat hubungan antara ekstrak daun tembakau kematian larva Anopheles aconitus (p= 0,000). Hasil uji Post Hoc Mann-whitney, semua konsentrasi memiliki perbedaan yang signifikan dibandingkan kontrol negatif, sedangkan kontrol positif dengan konsentrasi 0,07% tidak berbeda signifikan, menunjukkan bahwa konsentrasi 0,07% memiliki potensi hampir dengan abate sebagai larvasida. Analisis probit LC50 pada 0,025% dan LT50 pada 9,877 jam. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun tembakau efektif dalam membunuh larva Anopheles aconitus.Kata Kunci : Ekstrak Daun Tembakau, Anopheles aconitus, Larvasida, Malaria ABSTRACTAnopheles aconitus is a mosquito carrying malaria parasite (Plasmodium sp.). Malaria control depends on controlling the vector. The use of natural larvicides needs to be developed to reduce the negative impact of synthetic larvicides which can pollute the environment. One of the plants that can be used for natural larvicides is tobacco leaf (Nicotiana tabacum L.) because it contains flavonoids, alkaloids, tannins, saponins, and essential oils. The purpose of this study was to determine the effectiveness of tobacco leaf extract on the mortality of Anopheles aconitus larvae and the optimal dose of tobacco leaf extract as Anopheles aconitus larvae. This study is a laboratory experimental study with post test only with control group design, with 4 concentrations of 0.00875%, 0.0175%, 0.035%, 0.07%, 1 negative control (aquadest and CMC) and 1 positive control (abate) performed 4 repetitions with observations every 6 hours for 24 hours. The Kruskal-Wallis test showed that there was a relationship between tobacco leaf extract and the death of Anopheles aconitus larvae (p= 0,000). Post-Hoc Mann-Whitney test results, all concentrations had significant differences compared to negative controls, while positive controls with a concentration of 0.07% did not differ significantly, indicating that a concentration of 0.07% had the potential to be nearly as abate as larvicide. The LC50 probit analysis was 0.025% and LT50 was 9.877 hours. So it can be concluded that tobacco leaf extract is effective in killing Anopheles aconitus larvae.Keyword: Tobacco Leaf Extract, Anopheles aconitus, Larvasida, Malaria
PERBANDINGAN DETEKSI PROLIFERASI SEL DENGAN IMUNOHISTOKIMIA PCNA DAN BrdU PADA PANKREAS TIKUS Pakaya, David; Setyowati, Wiwit; Susilowati, Rina
Biomedika Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v12i2.10641

Abstract

ABSTRAKPankreas merupakan jaringan labil karena terdiri dari sel-sel asinar yang selalu berproliferasi sepanjang hidupnya untuk menggantikan sel yang rusak. Proliferasi tersebut dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan histologis, yaitu mikroteknik dengan pewarnaan imunohistokmia (IHC). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan deteksi proliferasi sel dengan IHC anti-PCNA dan anti-BrdU pada pankreas. Tikus diinjeksi BrdU secara intraperitoneal sebanyak 4 kali dengan selang waktu 3 jam dengan dosis BrdU 0,125 ml, 0,375 ml, 0,250 ml, dan 0,250 ml dan dibiarkan selama 1 malam. Jaringan pankreas dipotong sepanjang ± 5 mm dan direndam dalam fiksatif paraformaldehid 4%, kemudian dibuat blok paraffinnya. Blok parafin diiris dengan ketebalan 6µm untuk pengecatan hematoksilin eosin (HE) dan 4 µm untuk pengecatan IHC. Pengecatan IHC dengan antibodi anti PCNA (antibodi monoklonal PCNA 1;1000 dalam PBS). Pengecatan IHC dengan antibodi anti BrdU menggunakan antibodi primer (antibodi anti BrdU 1:1000). Pengecatan dianalisis secara kualitatif. IHC menggunakan antibodi anti-PCNA dan anti-BrdU menunjukkan adanya penyebaran warna coklat gelap yang menandakan proliferasi sel aktif, dimana sel yang terekspresi pada BrdU lebih sedikit dibandingkan PCNA.  Penelitian ini menyimpulkan bahwa proliferasi sel pankreas dapat terekspresi melalui perwarnaan IHC dengan antibodi anti PCNA dan anti BrdU.Kata kunci: Imunohistokimia, PCNA, Brdu, Proliferasi ABSTRACT                   The pancreas is a labile tissue because it consists of acinar cells which proliferate throughout their lives to replace damaged cells. The proliferation can be identified by histological examination, that is microtechnics with immunohistochmia (IHC) staining. This study aims to compare the detection of cell proliferation with anti-PCNA and anti-BrdU IHC in the pancreas. The rats were injected BrdU intraperitoneally 4 times with an interval of 3 hours with a dose of BrdU 0.125 ml, 0.375 ml, 0.250 ml, and 0.250 ml and left for 1 night. Pancreatic tissue were necropsy along ± 5 mm and soaked in 4% paraformaldehyde fixative, then made paraffin block. The paraffin block was sliced to a thickness of 6 µm for hematoxylin eosin (HE) and 4 μm for IHC painting. IHC used anti PCNA antibodies (PCNA monoclonal antibody 1; 1000 in PBS) and anti BrdU antibodies (anti BrdU primary antibodies 1: 1000). Staining was analyzed qualitatively. IHC with anti-PCNA and anti-BrdU antibodies showed the spread of dark brown which indicates active cell proliferation, whereas cells expressed in BrdU are less than PCNA. This study concluded that pancreatic cell proliferation can be expressed through the coloring of IHC with anti-PCNA and anti-BrdU antibodies.Keyword: Immunohistochemistry, PCNA, Brdu, Proliferation
COKLAT HITAM MENURUNKAN NYERI DISMENORE Wahtini, Sri; Hidayah, Fristyaningrum; Wahyuntari, Evi
Biomedika Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v13i1.10827

Abstract

ABSTRAKDismenore merupakan rasa nyeri perut bawah pada saat menstruasi yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Dismenore mempengaruhi aktivitas remaja putri khususnya pelajar sebanyak 52%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian cokelat hitam terhadap penurunan angka nyeri dismenore pada mahasiswa.. Jenis penelitian ini menggunakan Quasi –Eksperiment dengan metode pendekatan Non- Equivalent Control Group Design. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebesar 34 responden yang dibagi menjadi kelompok kontrol sebanyak 17 responden dan kelompok intervensi sebanyak 17 responden. Tehnik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Tingkat dismenore primer diukur menggunakan Verbal Rating Scale (VRS) dan uji statistik mengunakan Mann Whitney U Test. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pemberian cokelat hitam terhadap penurunan angka nyeri dismenore pada mahasiswa kebidanan semester VIII. Nilai p value yang didapatkan sebesar 0,000 (p 0,05). Saran dalam penelitian ini yaitu cokelat hitam 100 gram 80% dapat direkomendasikan sebagai pengobatan alternatif dalam menurunkan angka nyeri dismenore primer pada remaja.Kata Kunci:Coklat Hitam, Dismenore, Nyeri ABSTRACTDysmenorrhea is a lower abdominal pain during menstruation that interfere daily activities. Dysmenorrhea affects the activities of young women, especially students as much as 52%. This study aims to determine the effect of dark chocolate administration on decreasing the number of dysmenorrhea pain in the eighth semester Midwifery students. This type of research uses Quasi-Experiment with the Non-Equivalent Control Group Design approach. The number of samples in this study were 34 respondents who were divided into control groups of 17 respondents and the intervention group of 17 respondents. The sampling technique uses purposive sampling. Primary dysmenorrhea levels were measured using Verbal Rating Scale (VRS) and statistical tests using the Mann Whitney U Test. Based on the results of this study it can be concluded that there is an effect of giving dark chocolate to decrease the pain rate of dysmenorrhea in the eighth semester midwifery students.The p value obtained was 0,000 (p 0.05). The suggestion in this study is 100 grams of 80% dark chocolate can be recommended as an alternative treatment in reducing the rate of primary dysmenorrhea pain in adolescents.Keyword: Dark Chocolate, Dysmenorrhea, Pain

Filter by Year

2009 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 2 (2022): Biomedika Agustus 2022 Vol 14, No 1 (2022): Biomedika Februari 2022 Vol 13, No 2 (2021): Biomedika Agustus 2021 Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021 Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020 Vol 12, No 1 (2020): Biomedika Februari 2020 Vol 11, No 2 (2019): Biomedika Agustus 2019 Vol 11, No 1 (2019): Biomedika Februari 2019 Vol 11, No 1 (2019): Biomedika Februari 2019 Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018 Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018 Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018 Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018 Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017 Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017 Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017 Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017 Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016 Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016 Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016 Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016 Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015 Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015 Vol 7, No 1 (2015): Biomedika Februari 2015 Vol 7, No 1 (2015): Biomedika Februari 2015 Vol 6, No 2 (2014): Biomedika Agustus 2014 Vol 6, No 2 (2014): Biomedika Agustus 2014 Vol 6, No 1 (2014): Biomedika Februari 2014 Vol 6, No 1 (2014): Biomedika Februari 2014 Vol 5, No 2 (2013): Biomedika Agustus 2013 Vol 5, No 2 (2013): Biomedika Agustus 2013 Vol 5, No 1 (2013): Biomedika Februari 2013 Vol 5, No 1 (2013): Biomedika Februari 2013 Vol 4, No 2 (2012): Biomedika Agustus 2012 Vol 4, No 2 (2012): Biomedika Agustus 2012 Vol 4, No 1 (2012): Biomedika Februari 2012 Vol 4, No 1 (2012): Biomedika Februari 2012 Vol 3, No 2 (2011): Biomedika Agustus 2011 Vol 3, No 2 (2011): Biomedika Agustus 2011 Vol 1, No 1 (2009): Biomedika Februari 2009 Vol 1, No 1 (2009): Biomedika Februari 2009 Online First More Issue